Kumpulan 15 cerita pendek (cerpen) Kuntowijoyo, salah seorang sastrawan Indonesia paling menonjol dari masa akhir abad ke-20 dan awal abad ke-21. Bukan sekadar rangkuman karya, tapi sebuah antologi mahakarya, masterpieces, yang beberapa di antaranya sempat dimahkotai penghargaan sastra dari dalam dan luar negeri.
Seperti yang juga bisa ditemukan dalam novel-novelnya, salah satu kekhasan sekaligus kekuatan cerpen-cerpen Kuntowijoyo terletak pada kerapnya digunakan bahasa percakapan, colloquialism, yang sekaligus menunjukkan posisi etnisitasnya sebagai orang Jawa yang tetap njawani dalam berbahasa Indonesia.
Cerpen-cerpen yang pernah muncul di harian Kompas antara pertengahan tahun 1990-an hingga awal 2000-an ini merupakan karya-karya Kuntowijoyo yang abadi, yang akan selalu layak dibaca dan dinikmati sepanjang masa.
Kuntowijoyo was born at Sanden, Bantul, Yogyakarta. He graduated from UGM as historian and received his post-graduated at American History by The University of Connecticut in year 1974, and gained his Ph.D. of history from Columbia University in year 1980.
His father was a puppet master (dalang) and he lived under deep religious and art circumstances. He easily fond of art and writings and became a good friend of Arifin C. Noer, Syu'bah Asa, Ikranegara, Chaerul Umam, and Salim Said.
His first work was "Kereta Api yang Berangkat Pagi Hari".
Laki-laki yang Kawin dengan Peri ★★☆☆☆ Lurah ★★☆☆☆ Pistol Perdamaian ★★★☆☆ Sampan Asmara ★★★☆☆ Ramon Fernandez ★★★☆☆ Anjing-anjing Menyerbu Kuburan ★★★★☆ Rumah yang Terbakar ★★★☆☆ Jangan Dikubur Sebagai Pahlawan ★★☆☆☆ Perang Vietnam di Storss ★★☆☆☆ Gigi ★★★☆☆ Abe Smitt ★★★☆☆ Tawanan ★★★★☆ Jl Kembang Setaman, Jl Kembang Boreh, Jl Kembang Desa, Jl Kembang Api ★★★☆☆ Pelajaran Pertama bagi Calon Politisi ★★☆☆☆ RT 03 RW 22, Jalan Belimbing atau Jalan “Asmaradana” ★★★☆☆
Lanjut dalam rangka membaca buku-bukunya Kuntowijoyo. Kali ini kumpulan cerpen.
Di awal saya merasa kok kayaknya cerpen di sini ceritanya biasa saja ya, tapi makin ke belakang makin enak ceritanya. Tentu yang paling saya suka sesuai dengan judul buku ini yaitu Pelajaran Pertama Calon Politisi. Tambah satu lagi deh saya suka juga, yang judulnya amat panjang yaitu JL Kembang Setaman, JL Kembang Boreh, JL Kembang Desa, JL Kembang Api.
Yang ada di benak saya ketika mendengar Kuntowojiyo adalah sastra-profetik. Ini akibat pertanyaan saya beberapa tahun lalu, seperti apa sih sastra profetik. Yang saya tanya menjawab, kamu harus membaca cerita-cerita Kuntowijoyo.
Sampai saya selesai membaca buku ini, di hari yang sama saya membaca Surga Sungsang, saya bertepuk tangan. Banyak cerpenis muda zaman sekarang lupa tujuan menulis cerita itu apa. Kuntowijoyo mengingatkan saya bahwa saya menulis cerita hanya karena ingin bercerita.
Cerita-cerita di kumpulan cerita ini begitu hidup dan mengalir. Saya seperti melihat sosok yang sedang bercerita, detil, ada sindirian kecil dan besar di sana-sini, dan perenungan yang mendalam dari sebuah kesederhanaan bercerita.
Kumpulan cerpen di dalam buku ini terdiri dari cerpen-cerpen Kuntowijoyo yang pernah dimuat di harian Kompas sejak 1990-an hingga 2000-an awal. Berisi kritik sosial dan juga gambaran kehidupan sehari-hari yang "relatable", karya-karyanya terasa"nJawani", kadang 'gelap', namun tetap penuh makna, dengan setidaknya satu kalimat atau satu paragraf di setiap cerita yang bisa membuat pembaca tersenyum dan bahkan tertawa.
Sebagian cerpennya menyorot kehidupan politik pejabat, meski bukan pejabat tingkat tinggi. Seperti dalam cerpen berjudul "RT 03 RW 22 Jalan Belimbing atau Jalan 'Asmaradana'", tokoh utamanya yang seorang Ketua RT menjadi sorotan dengan segala tingkah warganya. Kutipan yang paling saya ingat dari cerpen itu:
"Dia pasti tidak tahu bahwa pekerjaan Ketua RT itu jabatan paling konkret di dunia ... . Presiden bisa diam, Ketua RT tidak."
Atau bagaimana tokoh Sutarjo dalam cerpen "Pelajaran Pertama bagi Calon Politisi" yang melakukan segala macam hal untuk kampanye dalam rangka mencalonkan diri menjadi lurah, bahkan hingga menggeser ke-Muhammadiyah-annya menjadi 'lebih toleran'. Ketika akhirnya gagal menjadi lurah, dia menghibur diri dengan bilang, ""Alhamdulillah, tidak jadi lurah, tidak usah korupsi."
Yang menarik, dalam sejumlah cerpen di dalam buku ini, Kuntowijoyo tak segan menunjukkan beberapa fenomena nyata yang di mata Islam tentunya dikategorikan kesyirikan, dan tokoh-tokoh di dalam cerita tersebut tak segan pula meneriakkan protes. Mulai dari yang secara harfiah berteriak, "Syirik!", sampai yang mengutip isi kitab suci, "[Syirik] Memang mudah. Syirik itu seperti semut hitam, berjalan di atas batu hitam, di waktu malam," seperti di dalam cerpen berjudul "Tawanan".
Politik itu ngga harus selalu serius dan kaku kawan. Kadang, justru lewat cerita-cerita sederhana kita bisa lihat gimana si politik bisa turut andil di kehidupan sehari-hari masyarakat.
Buku Pelajaran Pertama bagi Calon Politisi karya Kuntowijoyo ini bukan buku teori politik biasa, tapi kumpulan cerpen yang nyentil, cerdas, dan penuh makna. Dari yang absurd sampai yang satir, cerpen-cerpen di buku ini nunjukin gimana politik meresap ke dalam kehidupan masyarakat, sering kali dengan cara yang ngga kita sadari. Gue baca ini kaya ngaca, banyak yang bikin ketawa, tapi juga nyelekit! Ada juga yang buat gue mikir keras, ini maksudnya apaan??? 🧠
Karya-karya Kuntowijoyo yang selalu abadi sepanjang masa. Cerpennya selalu khas, ada unsur kepercayaan jawa, sejarah dan hal-hal sepele namun bermakna. Salah sati cerpen yang menarik berjudul "Anjing-anjing Menyerbu Kuburan". Cerpen ini menceritakan orang yang ingin cepat kaya melalui jalan pintas, seperti: pesugihan. Tujuan agar kaya, sangatlah sederhana, seperti: membelikan sepatu anaknya untuk ke sekolah, membayar SPP, membeli truk agar ponakannya tidak usah ke kota, dll. Bukankah hal tersebut hal yang wajar bagi rakyat yang tinggal di desa?
This entire review has been hidden because of spoilers.
Kali pertama membaca karya Kuntowijoyo. Cerita di dalamnya cukup banyak yang menarik. Ringan, bahasa sederhana dan endingnya sering mengejutkan. Cukup menghibur meskipun buat saya, tidak terlalu berkesan kecuali judulnya
Buku kumpulan cerita pendek dengan judul nyentrik ini cocok buat dibaca pada saat panas-panasnya dunia politik Indonesia. Hal yang membanggakan ketika membaca buku ini adalah Prof. Kuntowijoyo sejarawan sekaligus pengarang merupakan almamater UGM. Sejumlah penghargaan di bidang sastra menjadi jaminan bagi karya beliau. Terakhir Kuntowijoyo dianugerahi Anugerah Kesetiaan Berkarya di bidang penulisan Cerpen dari harian Kompas di tahun 2002.
Sebanyak 15 mahakarya cerpen pak Kuntowijoyo selama 1 dekade (1994-2004) dibukukan untuk memuaskan kenangan para pembaca Kompas di periode tersebut maupun generasi baru seperti saya. Pemilihan bahasa (Indonesia yang disisipi bahasa jawa) dan cerita yang menarik adalah salah satu keunggulan buku ini. Dari semua cerpen yang ada bagi saya semuanya menghibur dan memberikan warna tersendiri seperti berada di jaman pengejaran anggota PKI di "Tawanan", cerita Sangadi sang jagoan yang berakhir tragis di "Jangan Dikubur sebagai Pahlawan", juga twist menarik di "Perang Vietnam di Storrs". Realita pemilu Pilih aku!
Bagi saya 2 cerpen terakhir yang sangat berkesan, pertama adalah Pelajaran Pertama bagi Calon Politisi dan RT 03 RW 02 Jalan Belimbing atau Jalan "Asmaradana". Benar adanya, faktor terbesar saya membeli dan membaca buku ini adalah judul buku tersebut. Disini diceritakan pertarungan Sutarjo pengusaha konveksi yang ingin jadi kepala desa dengan seorang pensiunan kapten TNI. Bak pertarungan politik diantara kaum sipil dan militer, hal ini diperkuat dengan simbol "Padi" buat pak Sutarjo dan "Senapan" buat lawannya. Mulailah berbagai cara dilakukan oleh kedua pihak buat merebut suara pemilih. Pak Tarjo yang ingin meraih hati rakyat dengan pendekatan yang lurus dan agamis, sudah merasa puas untuk bisa meraih suara rakyat, namun kursi kades itu begitu prestis sehingga dirinya harus berhadapan dengan langkah-langkah tidak etis seperti mengundang warga dengan imbalan sosok rupawan penyejuk mata, politik uang, bahkan menggunakan isu keamanan berupa kasus tawuran dan penembak misterius. Intrik politik seperti itu mengingatkan kita pada fakta pemilu saat ini bukan? Singkat cerita, hasil akhir sudah barang tentu dimenangi oleh sosok yang lebih lihai mengatur strategi dan memanfaatkan kondisi. Pihak yang kalah merasa tidak puas dan terus ingin mencoba berbuat sesuatu yang bisa mengubah hasil kemenangan.
Di dalam cerita ini penulis menyisipkan opininya tentang dunia politik. Penulis ingin mengingatkan bahwa seseorang harus kenal dunia politik dengan segala tetek bengeknya. Politisi harus fleksibel dengan realita yang ada, bukankah ada ungkapan tidak ada perkawanan yang abadi, yang abadi hanyalah kepentingan. Menarik untuk dicermati makna politik bagi penulis seperti yang diungkapkan oleh penasihat Pak Sutarjo, bila jaman sekarang mungkin konsultan politik yang jasanya em-eman buat jasa polesan citra hingga urusan pemenangan di lapangan.
"Politik itu the art of the possible, tidak harus lurus, tapi boleh bengkok-bengkok. Jangan lugu begitu. Politik itu seperti silat, balikkan kelemahan jadi kekuatan." (hal 129).
Sekali lagi penulis ingin memberi tahu pembaca yang ingin terjun di dunia politik kudu siap mental. Para petarung sudah harus siap dengan segala konsekuensi, akhirnya hanya ada satu pemenang sehingga harus siap menang sekaligus siap kalah. Berikut ini nasihat terakhir dari sang penulis untuk para calon politisi.
"Ya, itulah politik. Sekali menang, sekali kalah. Sekali timbul, sekali tenggelam. Sekali datang, sekali pergi. Begitu ritmenya, tanpa henti. Hadapi ritme itu dengan humor tinggi. Jangan kalau menang senang, kalau kalah susah. Jangan. Berbuatlah sesuatu hanya pada waktu yang tepat. Ketika momentumnya datang, pada sanggatnya. Kalau bisa ciptakan momentum itu. Tetapi, jangan ngege mangsa (terlalu cepat), tapi juga jangan terlambat." (hal 136)
Menutup resensi ini perkenankan saya meminjam penyataan Bakdi Soemanto di bab pengantar berjudul "Di antara Sejarah dan Fiksi": cerita pendek Kuntowijoyo dalam kumpulan ini bisa menjadi karya abadi yang akan selalu dibaca kembali di masa datang. Buku ini layak dibaca dan dinikmati oleh semua kalangan yang ingin menikmati cerpen berkelas dari penulis Indonesia.
Kumpulan cerpen, Pelajaran Pertama bagi Calon Politisi, karya sasterawan besar Indonesia, Kuntowijoyo, menghimpunkan 15 karya yang dihasilkannya dalam tempoh sedekad sebelum meninggal dunia pada 2005.
Karya dalam kumpulan ini mengungkapkan komentar sosial dan politik yang dihantar dengan bahasa polos sehingga pembaca seolah-olah mendengar Kuntowijoyo sendiri menyampaikan kisah demi kisah secara berjenaka.
Penyampaian yang menggunakan bahasa percakapan itu seperti ditegaskan rakan akrabnya, Bakdi Soemanto, dalam pengantar buku ini bertepatan dengan cara orang Jawa berbahasa, meskipun beliau menulis dalam bahasa Indonesia.
Langgam yang digunakan Kuntowijoyo itu menjadikan pembacaan lebih lancar dan mudah untuk menjiwainya, tambahan pula isu yang diangkat oleh Penerima Anugerah Penulisan Asia Tenggara (SEA Write) 1999 ini sebenarnya mudah difahami warga Timur dunia ketiga.
Cerpen Lurah umpamanya mengangkat persoalan keadilan dan birokrasi, tetapi dengan latar politik desa, apabila Pak Pei cuba menyelesaikan misteri najis yang ditemui di hadapan rumahnya dan pada masa sama mengesyaki ia perbuatan calon parti lawan.
Cerpen, Pelajaran Pertama bagi Calon Politisi yang diangkat sebagai judul kumpulan ini tidak kalah menggelikan hati apabila Sutarjo mencalonkan diri untuk bertanding jawatan kepala desa, tetapi terpaksa berdepan kapten tentera yang bersara sehingga brlaku persaingan sengit.
Sebenarnya tanpa disedari, Kuntowijoyo mengungkapkan komentar sosial dan politiknya terhadap pergelutan hidup bangsanya dalam perjalanan sejarah Indonesia moden khususnya pada zaman mantan Presiden Suharto.
Pada cerpen lain, beliau menyorot manusia Indonesia yang berada di bumi asing, tetapi membawa jati diri bangsa yang diper temu dengan watak rakyat negara luar sehingga ada kalanya mengalami pertembungan nilai hidup manusia dari dua wilayah berbeza.
Dalam cerpen, Ramon Fernandez, watak `saya' dihadapkan dengan nilai hidup manusia kelas rendah Amerika Syarikat (AS) dengan sorotan yang sederhana, manakala Gigi pula menjalin hubungan manusia Indonesia dengan Korea di kota kosmopolitan, New York yang mengalami asimilasi budaya baru.
Sejarah ternyata sangat kental dalam kepengarangan Kuntowijoyo sehingga tidak hairanlah Bakdi dalam pengantar yang sama juga menyifatkan rakannya itu sebagai pengarang yang juga sejarawan sehingga kekuatan beliau dalam renungan sejarah bangsa tidak dapat dinafikan.
Sejarah bagi Kuntowijoyo tidak boleh ditelan bulat-bulat sehingga dalam cerpen Jangan Dikubur Sebagai Pahlawan, beliau menyorot perjalanan hidup Sangadi yang sebenarnya memiliki sisi hitam yang disembunyikan termasuk oleh watak pengarangnya.
Cerpen lain yang tidak kalah menariknya ialah Pistol Perdamaian yang memperlihatkan nilai tradisional dan moden Indonesia melalui harta warisan berbentuk senjata, manakala Jl Kembang Setaman, Jl Kembang Boreh, Jl Kembang Desa, Jl Kembang Api, pula membentangkan perjalanan kepercayaan mistik bangsa di sebalik kepesatan perbandaran.
Membaca kumpulan cerpen, Pelajaran Pertama bagi Calon Politisi, sebenarnya memahami jati diri manusia Indonesia dari jalur sejarah dan budaya yang semestinya ada pertindihan dengan pengalaman sejarah serta sosial manusia Melayu.
Kuntowijoyo dilahirkan di Soroboyan, Sanden, Bantul, Yogyakarta, pada 18 September 1943 dan meninggal dunia pada 2005 dengan meninggalkan sumbangan kesusasteraan dalam genre cerpen, novel dan deskriptif.
Antara karya yang dihasilkannya ialah Kereta Api yang Berangkat Pagi Hari diterbitkan pada 1966; Khotbah di Atas Bukit (1976) dan Mantra Pejinak Ular (2000), selain drama Topeng Kayu (2001).
Beliau turut menerima Penghargaan Sastra Indonesia 1986; Anugerah Kebudayaan ASEAN (1997); Satya Lencana Kebudayaan Indonesia (1997);Anugerah SEA Write (1999); Hadiah Penghargaan Majlis Sastera Asia Tenggara (2001) dan Anugerah Kesetiaan Berkarya di Bidang Penulisan Cerpen Harian Kompas (2002).
Boleh juga ternyata kepiawaian Prof. Kunto membangun ketegangan di cerpen "Anjing - Anjing Menyerang Kuburan". Klimaksnya terbangun konsisten. Mirip tulisan-tulisannya Edgar Allan Poe. Seru sangat.
Mahalnya kebijaksanaan saya tangkap di "Rumah yang Terbakar" dan "Jalan Belimbing Jalan Asmaradhana", kedua cerpen ini mengajarkan bahwa nilai-nilai agama, bahwa ketinggian ilmu, kadang bisa sangat tricky saat akan dipakai di kehidupan riil.
Kelucuan berkepanjangan mengalir asyik di cerpen " Jln. Kembang Setaman, Jln. Kembang Boreh, Jln. Kembang Desa, Jln. Kembang Api." Bagaimana penghuni sebuah Perumnas bahu membahu mengusir mahkhluk halus dari sebuah rumah kosong. Kocak. Penuh makna. Ada rasa hangat yang hadir saat membacanya.Di tengah interaksi sosial yang sekarang makin langka dan kaku.
Justru cerpen "Pelajaran Pertama untuk Politisi" yang dijadikan judul buku ini menurut saya bukan yang paling saya favoritkan. Mungkin ini efek over-estimate, merasa inilah cerpen highlightnya, maka sepanjang membaca jadi menunggu-nunggu dengan ekspektasi lebih.
15 cerpen yang pernah dimuat Kompas ini sungguh barang mahal. Dengan membaca berbagai tema, yang durasinya pendek-pendek, seperti makin terlihat bahwa cara Prof. Kunto bercerita itu sangat menghanyutkan, simpel, tidak berakrobat kata, nikmat, dan tenang. Sekali lagi, seperti mendengar dongeng si mbah.
Pertama kalinya saya membaca karya-karya Kuntowijoyo, seorang profesor sejarah yang juga dikenal sebagai sastrawan. Menurut saya antologi cerpen-cerpennya yang juga pernah diterbitkan di koran Kompas ini begitu segar, begitu dekat dan lekat dengan kehidupan kita sehari-hari, meskipun tetap tidak menghilangkan nafas sastra dan juga berupa-rupa hikmah yang dapat kita petik ketika membacanya.
Hal menarik lainnya dari cerpen karangan Kuntowijoyo ini adalah ciri-ciri ke-Jawa-annya yang tidak hilang, bahkan begitu melekat pada setiap latar, dialog, dan juga latar belakang ceritanya.
Antologi ini dikompilasi dan diterbitkan setelah beliau wafat. Sebuah karya sastra yang sangat layak untuk diapresiasi tinggi dan tetap dikenang.
Kumpulan cerpen karangan Kuntowijoyo ini merupakan rekomendasi dari salah satu dosen saya, Edy A. Effendi. Kemudian saya mencoba menikmati satu demi satu cerpen yang pernah dimuat di Kompas itu. Melalui bahasanya yang sederhana, Kuntowijoyo berhasil menyelipkan pesan moral tentang kehidupan secara tersirat melalui cerpen-cerpennya. Tidak heran jika banyak yang mengagumi karya beliau. Karena hampir selalu di akhir cerita, Kuntowijoyo menghadirkan kisah yang mengejutkan dan malah membuat ceritanya terus terpatri dalam ingatan. Katakan (Rumah yang Terbakar), (Jl Kembang Seteaman, Jl Kembang Boreh, Jl Kembang Desa, Jl Kembang Api), (Anjing-anjing Menyerbu Kuburan) dan (Pistol Perdamaian) menjadi beberapa di antaranya.
Aku selalu suka Kuntowijoyo. Tulisannya menyerempet antara realita dan absurd, terasa nyata sekaligus tidak masuk akal. Hampir seperti Danarto tapi Danarto lebih ekstrim, tulisannya kelewat absurd, sedangkan Kutowijoyo lebih kental unsur mistik-klenik khas 'peradaban' masyarakat Jawa. Di buku ini ada berbagai cerpen yang mengangkat isu-isu sosial di masyarakat Indonesia, baik dalam lingkup dalam negri maupun overseas. Lebih lengkapnya akan kubahas nanti saja, aku cukup lelah lantaran terlalu lama terlena membaca buku ini...
Kuntowijoyo ini pesannya banyak, lugas. Namun, pemakaian bahasa sehari-sehari yang njawani membuat tulisannya segar dan mengalir lancar saat dibaca, ringan. Favoritku adalah saat dia membuat percakapan terjemahan langsung dari bahasa asing, dan membubuhkan ‘to’ di belakangnya, seakan orang-orang ini medok jawa bahasa inggrisnya. Itu sentuhan yang akrab. Aransemen kata-katanya jenaka, menyentil, dan mengalir lancar sepanjang kumpulan cerpen. Easily a masterpiece.
Karya pertama Kuntowijoyo yang saya baca. Cerpen-cerpennya sangat menghibur, menggelitik, dan menarik. Kuntowijoyo memperlihatkan tidak perlu menggunakan banyak majas, ataupun banyak fantasi untuk membuat sebuah cerpen yang bagus. Membaca cerpen-cerpen Kuntowijoyo di kumcer ini seakan-akan Kuntowijoyo bercerita secara langsung pengalaman-pengalaman hidupnya. Cerpen favorit saya dalam kumcer ini adalah cerpen yang berjudul "Jl. Setaman, Jl. Kembang Boreh, Jl. Kembang Desa, Jl. Kembang Api".
Buku ini adalah buku Kuntowijoyo kedua yang saya baca, setelah novel Wasripin & Satinah. Dalam kumcer ini tidak banyak cerpen yang membuat saya terkesan. Namun, saya menyukai dua cerpen berjudul Rumah yang Terbakar dan Pelajaran Pertama bagi Calon Politisi. Overall, tampaknya saya kurang cocok dengan gaya penulisan Kuntowijoyo.
Kuntowijoyo adalah sastrawan sekaligus sejarawan favoritku. Cerpen-cerpennya selalu tampak alami, bernas, mengalir tapi tak pernah mudah ditebak. Pandai memainkan kiasan & realita sehingga mampu memaknai & menyampaikan pesan cerita dengan lugas.
2.5 bintang dari aku. Ini pertama kalinya aku baca tulisan pak Kuntowijoyo dan maaf ya pak, aku ngerasa nggak cocok sama gaya tulisan bapak. Aku susah jelasinnya gimana, intinya aku ngerasa "it's not my cup of tea."