Lahir di Bojonegoro pada 17 Desember 1965. Pendidikan formalnya ditempuh di SD-SMA di Bojonegoro, Jawa Timur. Gelar Sarjana Kedokteran Hewan diperoleh di Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor, 1989. Magister dalam Hubungan Internasional dengan konsentrasi studi Politik Timur Tengah diperoleh di Program Pasca Sarjana Universitas Jayabaya, dengan tesis berjudul Pragmatisme Politik Luar Negeri Israel. Sedangkan gelar doktor dalam bidang Peradaban Islam diraihnya di International Institute of Islamic Thought and Civilization -- Internasional Islamic University Malaysia (ISTAC-IIUM), dengan disertasi berjudul “Exclusivism and Evangelism in the Second Vatican Council: A Critical Reading of The Second Vatican Council’s Documents in The Light of the Ad Gentes and the Nostra Aetate.
Rujukan awal yang penting dalam memahami wacana falsafah ilmu daripada pandangan alam Barat dan Islam. Penulis-penulis makalah dalam buku ini ialah anak murid Prof Syed Muhammad Naquib al-Attas yang kini menjadi barisan hadapan sarjana yang berdepan dengan kelompok liberalis dan pluralis di Indonesia. Persoalan sekularisasi ilmu dan tradisi ilmu Islam secara epistemologi serta metodologi disentuh dengan tunas dalam buku ini tanpa melupakan konsep adab dan ta'dib yang memang menjadi persoalan utama ditekankan oleh guru mereka itu. Walaupun saya mengambil masa lama untuk menghabiskan buku ini termasuk perlu mengulang kembali, pembacaannya benar-benar bermanfaat sehingga boleh diulang rujuk pada masa depan.
Buku ini mengandungi 12 artikel yang ditulis oleh 8 orang ahli akademik yang kini berkhidmat di Indonesia. Empat daripada mereka merupakan graduan ISTAC, anak murid Prof Syed Muhammad Naquib Al Attas. 9 artikel membahaskan secara khusus tentang ilmu dari segi sekularisasi ilmu, konsep ilmu dalam islam, prinsip-prinsip epistemologi Islam, metodologi ilmiah manakala dua lagi artikel khusus tentang makna adab dan ilmu dan adab dalam Islam dan satu lagi artikel tentang Islamisasi Ilmu.
Buku ini mengumpulkan artikel yang sangat berkualiti, membahaskan setiap tajuk dengan sangat komprehensif dengan rujukan yang banyak. Boleh dikatakan, setiap artikel dalam buku ini akan memetik pandangan Prof Syed Muhammad Naquib Al Attas. Pandangan daripada Prof Wan Mohd Noor Wan Daud juga sangat banyak dipetik.
Malah buku ini juga dalam kata pengantar editor disebut bahawa buku ini diterbitkan bagi mengatasi beberapa masalah serius yang terkandung dalam buku-buku rujukan tentang Filsafat Ilmu yang diajarkan di univeristi-universiti di Indonesia. Sebagai contohnya, teori positivisme Comte yang diangkat dalam buku Filsafat Ilmu Fakulti Filsafat Univeristi Gadjah Mada, Yogjakarta, yang menurut Dr Adian Husaini sangat bermasalah kerana meletakkan agama sebagai jenis pengetahuan yang paling primitif dan akan punah saat manusia memasuki era positivisme dan empirisme.
Maka ternyata buku ini benar-benar melakukan perbandingan yang jelas antara worldview filsafat ilmu antara Islam dan Barat. Saya paling suka artikel Dr Adian Husaini bertajuk Urgensi Epistemologi Islam kerana membentangkan secara intensif tentang tujuan ilmu, tentangan kepada filsafat ilmu sekular, dan mengemukakan juga dari segi perspektif sejarah.
Saya juga sangat suka dengan tulisan Dr Syamsuddin Arif bertajuk Mendefinisikan Dan Memetakan Ilmu dan artikel bertajuk Prinsip-prinsip Dasar Epistemologi Islam. Selain itu dua artikel tentang makan sebenar Adab dalam Islam juga sangat baik.
Secara kesimpulannya, saya berpuas hati dan terasa 'kenyang' selepas membaca buku ini dari kulit ke kulit. Buku ini pastinya akan terus menjadi rujukan saya berkaitan topik Filsafat Ilmu ini kerana topik-topik penting telah dihuraikan dengan baik. Bonus lagi dapat terus dibandingkan dengan perspektif Barat.
Buku ini berisi 12 tulisan para murid Prof. Syed Muhammad Naquib Al-Attas yang berhimpun di Indonesia. Beberapa di antaranya seperti Dr. Adian, Dr. Syamsuddin Arif, Dr. Adnin Armas, dan Dr. Nirwan Syafrin tergabung dalam wadah organisasi INSISTS. Sebagai sebuah kumpulan tulisan (antologi), tantangan bagi buku ini adalah menampilkan bahasan yang runut, sistematis, dan komprehensif perihal satu isu (filsafat ilmu).
Tantangan itu bagi saya terjawab dengan baik. Tulisan demi tulisan yang tersaji dalam buku ini cukup berhasil menyajikan uraian yang seimbang, yakni menyentuh aspek fundamental dan praktikal sekaligus.
Pada bagian awal, buku ini dibuka dengan penjelasan yang ringkas tapi padat tentang bagaimana peradaban Barat mendefinisikan "ilmu" dari waktu ke waktu. Penelaahan dimulai sejak peradaban Yunani Kuno hingga peradaban Barat modern.
Bagian pertengahan buku ini menjabarkan tentang bagaimana konsep-konsep ilmu dalam peradaban Islam dan perbedaan asasinya dengan peradaban Barat. Tak lupa, pada bagian ini juga dijelaskan krisis masyarakat dan dunia modern akibat kelirunya konsep "ilmu" dalam peradaban Barat.
Pada bagian akhir, tulisan-tulisan dalam buku ini menguraikan konsep "adab" dan bagaimana relevansinya terhadap bangunan epistemologi Islam. Dan tulisan yang menjadi penutup buku ini mengambil tema utama, yaitu urgensi dan konsepsi fundamental perihal Islamisasi Ilmu.
Buku ini direkomendasikan bagi Anda yang menggemari kajian filsafat ilmu, khususnya dalam konteks pemikiran Islam dan Oksidentalisme (ilmu yang membahas dunia Barat).
Semoga Allah merahmati segenap penulisnya dan menjadikan buku ini bermanfaat bagi umat Islam. Amiin yaa rabbal alamiin.
Akhirnya setelah bersusah payah membacanya, saya berhasil menyelesaikannya. Buku ini berisi 13 artikel mengenai pemikiran filsafat dalam konteks Islam dan Barat. Setelah menengok para penulisnya, maka jangan kaget kalau saya terkagum-kagum; tulisan yang bernas, tidak lain tidak bukan membawa wacana filsafat Islam ke arah permukaan. Beberapa di antara para penulis adalah Adnin Armas, Adian Husaini, Syamsudin Arif, dan Nirwan Syafrin. Mereka adalah para pelopor berdirinya INSISTS (Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations) dan juga murid-murid langsung dari filsuf kenamaan Islam kontemporer, yaitu Syed Muhammad Naquib Al-Attas. Dari sekilas latarbelakang penulisnya, kita akan sedikit tahu akan dibawa ke arah mana melalui buku tersebut; akan belajar dan merenungi apa.
Secara umum, 13 tulisan tersebut membahas tentang konteks keilmuan dari sudut padang filsafat Islam. Tema-tema yang diangkat mencakup epistemologi Islam, adab, metode dan lain-lain. Namun, yang menarik bagi saya adalah tiga tulisan yang ditulis oleh Adnis Armas dan Dinar Dewi Kania di awal berjudul "Sekularisasi Ilmu", Adnin Armas di pertengahan berjudul "Metodologi Ilmiah dalam Islam" dan Budi Handrianto di akhir berjudul "Islamisasi Ilmu Pengetahuan". Tiga tulisan tersebut, menurut saya, ditulis dengan begitu kaya dan bersahaja; dengan runutan yang jelas mulai dari perbandingan dengan filsafat Barat dan filsafat Islam hingga pada titik kita perlu merenungi sebenarnya pijakan mana yang perlu kita tempuh untuk belajar filsafat.
Pada tulisan awal "Sekularisasi Ilmu", penulis banyak menggambarkan kondisi keilmuan modern yang cenderung menghindari hal-hal berbau wahyu maupun kepercayaan agama. Tulisan tersebut diawali dengan penggambaran beberapa aliran filsafat klasik yang meninggikan substansi ilmu pengetahuan secara positif, kemudian diajak kepada pemikir modern. Namun, yang masih menjadi pergulatan bagi saya adalah kerangka sekulerisasi ini apakah "lagi-lagi" atau "selalu" dalam sejarah membawa teologi Kristen saja. Ingin saja saya mendapatkan gambaran tentang realitas sekulerisasi di dunia Islam itu sendiri.
Tulisan lain yang ingin saya bagikan dalam review ini adalah "Islamisasi Ilmu Pengetahuan" dari Budi Handrianto. Sekilas, tulisan tersebut banyak membawa misi Islamisasi pada berbagai ranah ilmu pengetahuan. Yang cukup menyenangkan bagi saya adalah tulisan tersebut banyak menyajikan nama-nama baru; ilmuwan-ilmuwan Islam kontemporer yang menambah sudut pandang saya dalam melihat filsafat Islam sebagai pijakan awal untuk belajar filsafat. Selebihnya, tulisan-tulisan lain cukup menarik dan layak dipertimbangkan untuk menjadi bahan bacaan yang berbobot sekaligus reflektif.
Pembahasan cukup komprehensif dan to the point. Buku ini merupakan buku pertama yang saya baca tentang perbandingan pandangan filsafat epistemologi antara Barat dan Islam, dan mampu memuaskan sedikit tanda tanya saya. Meski begitu, kekurangan buku ini adalah tidak fokusnya tema khusus kajian pembahasan. Dapat dimaklumi karena isinya adalah kumpulan makalah dari beberapa penulis. In a nutshell, this book's a recommended read buat para pemikir dan penikmat samudera filsafat.
mungkin buku ini bisa mnjawab kebingungan saya, knp bnyk orang2 yg katanya kaum "intelektual" , scientist , cenderung pemikirannya "kebablasan" bebas , liberal. menolak sesuatu kalau blm bisa dibuktiin scr science yg pdhl , bbrp teori science mnrt mereka yg "ilmiah" itu, tidak lebih dari spekulasi2..
bagian yang terlupakan dari peradaban saat ini, adalah dominasi para ilmuwan islam. sehingga khazanah keilmuan saat ini dikuasai ketidaktahuan akan keberadaan Tuhan, its very recommended book. jika anda mencintai ilmu, anda wajib membacanya :D
Buku ini memperkenalkan poin-poin yang menjadi fokus perdebatan antara kedudukan dan karakteristik ilmu menurut perspektif Barat dan Timur (dominasi budaya Islam) Buku ini tidak bertujuan menjawab apakah ilmu itu bebas atau sarat nilai, apakah peneliti terbebas atau terikat tanggung jawab moral, dll tapi pemikiran sejumlah peneliti, dengan argumennya masing-masing patut dipertimbangkan