Jump to ratings and reviews
Rate this book

The Ho[S]tel

Rate this book
Petualangan menarik ternyata tidak hanya bisa kita dapat dari sebuah perjalananan, melainkan juga dari tempat kita istirahat & melepas lelah. Ariy, seorang travel writer dan Sony, akademisi penikmat traveling membuktikannya.

Berbagai kejadian “tak biasa” kerap menghampiri mereka ketika menginap di hotel maupun hostel. Hingga akhirnya mereka percaya setiap pintu penginapan adalah gerbang untuk memasuki pengalaman yang tidak terduga.

Yuk, buka pintu The Ho[S]tel! Temukan petualangan seru, sial, dan aneh yang mereka alami.

190 pages, Paperback

First published September 1, 2013

1 person is currently reading
15 people want to read

About the author

Ariy

4 books3 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
3 (6%)
4 stars
14 (29%)
3 stars
27 (56%)
2 stars
4 (8%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 18 of 18 reviews
94 reviews3 followers
January 2, 2017
Tak dapat dipungkiri bahwa tempat menginap selalu menjadi pertimbangan dalam agenda traveling. Sony lebih sering mengunjungi tempat- tempat di kawasan Eropa dan Australia, tempat menginap pun lebih sering di hotel – walaupun terkadang dia menginap juga di hostel. Sedangkan Ariy lebih sering berpergian ke negara- negara di benua Asia dan lebih sering menginap di hostel ketimbang hotel.
Keduanya lalu memutuskan untuk membagi pengalaman mereka menginap di hotel dan hostel yang tertulis dalam buku ini. Buku ini dibagi menjadi dua bagian, Hotel dan Hostel. Tidak hanya pengalaman menyenangkan , tetapi pengalaman kurang mengenakkan hingga pengalaman yang menyeramkan juga dialami oleh penulis.
Seperti Sony yang ‘hampir’ mandi berjamaah di hostel di Picadilly, Ariy yang mendapatkan kamar dengan harga murah yang sayangnya memiliki sejarah yang seram, hingga dituduh mencuri asbak hotel. Semuanya mereka rangkum dalam buku ini.
Dari pengalaman yang dibagi melalui The Ho[s]tel, pembaca akan lebih teliti dan lebih aware saat menentukan tempat menginap saat traveling nanti. Apalagi saya berencana untuk menginap di hostel untuk perjalanan selanjutnya, jadinya bisa lebih selektif dan lebih rajin googling mengenai informasi hostel yang akan saya tempati.
Membaca buku ini juga membuat saya teringat perjalanan saya ke Jogja beberapa bulan silam, saat saya memesan kamar sebuah guesthouse yang akhirnya membuat saya ketakutan dan segera check out dari guesthouse tersebut. Memang ada saja kejadian yang akan kita temui selama perjalanan kita. Oleh karena itu, sebagai traveler, kita harus selalu bersiap akan segala kemungkinan yang akan terjadi. Perjalanan tidak melulu tentang hal- hal indah, namun pengalaman- pengalaman tak terduga yang kita dapatkan akan membuat perjalanan kita lebih bermakna. Selamat berpetualang ^^


http://ertalin.blogspot.co.id/
http://gelembungcerita.blogspot.co.id/
Profile Image for Rizki Utami.
212 reviews21 followers
November 6, 2016
Baru kali ini baca traveling book. menarik banget, seru..
Buku ini bercerita mengenai pengalaman menginap dua pria yang sering traveling ke luar kota ataupun luar negeri. Ceritanya dibagi menjadi 3 bagian, The Hotel, The Hostel dan 'The Hotel' (menceritakan pengalaman menginap di luar penginapan, seperti kereta). Setiap tempat menginap mereka punya kesan yang berbeda, makanya.. diakhir chapter penulis sering menyisipkan tips-tips untuk kita amalkan kelak saat traveling. Banyak kejadian lucu yang diceritakan sampai bikin aku ngakak, misalnya pas chapter A Room With A View. Ada juga kejadian yang sama yang pernah aku alamin waktu traveling dulu di salah satu cottage pinggir pantai di jabar, horror sih... tapi masih kalah horror dari pengalaman author yang pernah nginep di kamar bekas pembunuhan WHAT?!? serem..
Profile Image for Haryadi Yansyah.
Author 14 books64 followers
October 22, 2013
Akomodasi atau penginapan adalah salah satu komponen penting dalam sebuah perjalanan. Mau itu perjalanan high class atau ala backpacker kere sekalipun, setiap tempat yang digunakan untuk melepas lelah setelah seharian mengelilingi suatu tempat/kota tentulah menyimpan cerita tersendiri. Hal-hal seru seputar pengalaman menginap di sebuah hostel atau hotel inilah yang coba diangkat oleh duo penulis Ariy & Sony. Sebagai traveler yang telah mendatangi berbagai tempat di dalam dan luar negeri, mereka berdua berkolaborasi menulis cerita seputar pengalaman mereka menginap di suatu tempat. Maka… jadilah The Ho[s]tel ini sebagai sebuah wadah dari duo penulis untuk berbagai pengalaman seru seputar tempat-tempat yang mereka inapi selama di perjalanan.

Buku ini dibuka dengan pengalaman mengerikan yang dialami Ariy ketika menginap di sebuah hotel di kota Surabaya. Tidak ada yang salah dengan hotel itu sebenarnya. Namun entah mengapa Ariy merasakan sesuatu yang aneh dan bikin tidak nyaman. “Biasanya, kalau saya traveling dan merasa capek, langsung saja pelor… nempel bantal molor. Namun, entahlah, pagi buta itu saya resah sekali.” Hal.7. Lalu ada apa sebenarnya yang terjadi di hotel itu? Apakah hotel tersebut setipe dengan hotel di film Hotel Transylvania? :)


hotel_planet_433995
Mau nginep di hotel seperti ini? :) Gambar diambil dari situs caricatures-ireland

>Di kisah yang lain, Sony bertutur mengenai pengalamannya mengirim surat cinta ke manajer hotel. Heh? Apakah manajernya cantik? :D Jadi, sebetulnya surat cinta yang dikirim bukanlah surat cinta biasa *kayak lagu ya? Hehe* Surat cinta yang dimaksud adalah laporan komplain dari pelayanan hotel yang tidak maksimal. Jadi Sony komplain dengan beberapa hal yang menyangkut fasilitas pelayanan. Maklum, hotelnya berbintang. Hasilnya? ‘surat cinta’ itu gayung bersambut. Sony mendapatkan keuntungan dari hal itu. Apa sih? Hmm mungkin bisa tergambar dari kalimat ini ya. “Kaget banget. Susah payah saya menahan emosi supaya keterkejutan saya nggak terlalu tampak di wajah. Malu, dong, kalu mas room-boy ini mengira saya ndeso.” Hal. 19. Nah loh? Ada apa Sony dengan mas-mas room-boy? :D

Pengalaman menyeramkan nampaknya begitu setia nyantol ke Ariy. Ketika trip ke China, lagi-lagi Sony dihadapkan dengan penginapan yang auranya mistis. Hwhw. Namun ntah mengapa, kesialan Ariy menjadi hiburan tersendiri buat pembaca. Haha. “Saya tidak membayangkan pocong, kuntilanak ataupun tuyul. Saya sadar tengah berada di China. Pikiran saya tiba-tiba roaming, ketakutan saya cuma satu, ada sosok laku-laki menggunakan baju cheongsam hitam menjuntai, bertopi bulat dengan rambut panjang dikelabang tengah meloncat-loncat ke arah saya dengan dua tangan menjulur ke depan. Vampir China, itu paling menakutkan saya!” Hal.49.

Bertemu dengan pengalaman kehilangan ketika menginap? Dua hal ini sama-sama dialami oleh Ariy dan Sony. Ketika traveling bersama beberapa temannya di Singapura, Ariy ketiban sial karena menginap di hostel yang rawan tindak pencurian. Lebih naasnya lagi, kemungkinan besar tindakan pencurian itu dilakukan oleh ‘orang dalam’. “Persoalannya, kunci serep dipegang oleh pihak hostel. Kalau pintu tidak rusak, tentu pencuri masuk dengan cara normal. Jadi, mempunyai kunci.” Hal 145. Alhasil, karena kejadian ini beberapa barang hilang. Seperti sepatu dan tas. Dan, hingga sekarang barang itu tak juga ditemukan. Janji tanggung jawab pengelola hostel pun hanya tinggal kenangan. *kayak lagu (lagi)* :D

hotel-cartoon Gambar diambil dari situs toonpool

Lalu, kejadian kecurian apa yang dialami Sony? Nah, beda dengan Ariy yang kecurian, Sony malah dituduh ‘mencuri’. Benda yang dituduhkan pun nggak penting-penting amat sebetulnya. Apa sih? Ngg… anu… Asbak. :) “Saya lemparkan tas ransel saya ke meja resepsionis. Bongkar tas saya! kalau Anda bisa menemukan asbak di situ, saya bayar sepuluh kali harga asbak yang hilang itu,” timpal Sony emosi. Hal.37. Trus asbaknya ada dimana sih sebenernya? Hehe, cari tahu aja sendiri ya :)

Itu adalah secuil kisah seru seputar penginapan yang ditawarkan oleh The Ho[s]tel ini. Masih banyak lagi kisah menarik lainnya. Seperti pengalaman menginap di hostel dengan kamar mandi umum yang terbuka. Salah masuk kamar hotel dan mendapati wanita yang menjerit histeris hwhw. Atau juga pengalaman kurang menyenangkan dengan lansia di sebuah kereta. Semuanya menggoda untuk segera dibaca :D

The Ho[s]tel adalah pengembangan dari buku traveling yang cukup segar. Jika dalam buku-buku lain pengalaman menginap di sebuah tempat hanya sekedar tempelan, di buku ini, hal itu menjadi sajian utamanya. Duet Ariy dan Sony juga berhasil. Walaupun masing-masing punya gaya menulis tersendiri, namun ketika dibaca secara menyeluruh, ‘napas’ diksi mereka terasa menyatu. Kelebihan lainnya ialah terdapat tips yang ditulis secara jenaka yang ada pada tiap akhir cerita. Jelas sudah bahwa The Ho[s]tel adalah buku yang menyenangkan dan menghibur. Selamat untuk Ariy dan Sony ;)
Profile Image for Indah Threez Lestari.
13.5k reviews270 followers
November 26, 2013
770 - 2013

So far fine-fine aja sih selama menginap di hotel (biasanya abidin alias atas biaya dinas, jarang banget yang atas biaya sendiri).

Tapi yang paling seru memang pengalamanku pada bulan Juli 2006, di sebuah hotel di tepi pantai Pangandaran, pada waktu mengikuti pelatihan dari Bank Indonesia Tasikmalaya. Aku check in pada hari Senin siang, rencananya akan menginap sampai hari Jumat. Dan aku mendapat kamar di lantai 2.

Seperti kebiasaanku waktu itu, apabila menginap di hotel dalam waktu yang cukup lama, aku mengeluarkan semua pakaian kerja yang sedianya akan dipakai pada hari-hari berikutnya dari koper, dan menggantungkan semuanya di lemari, agar pakaian cukup rapi untuk dikenakan. Yah, walaupun cuma beberapa hari anggap saja sudah di kamar sendiri :)

Sore hari acara dimulai di restoran hotel yang terletak di lantai 2. Kebetulan bentuk restorannya terbuka tanpa dinding dan kaca, sehingga pemandangan laut terhampar dengan indahnya. Para peserta pelatihan masih saling memperkenalkan diri sambil menikmati teh atau kopi dan makanan kecil. Nah, sambil ngobrol ngalor ngidul, kami melihat minuman di cangkir kami bergoyang.

Waktu itu gempa Jogja belum lama berlalu, dan gempa di Aceh sendiri masih segar dalam ingatan. Tapi melihat teh dan kopi bergoyang itu, kami malah bercanda siapa tahu ada gempa dan mungkin tsunami. Eh, siapa sangka, sepuluh menit kemudian kami menyaksikan sendiri datangnya gelombang besar yang menghempas ke arah kami. Setelah terpana beberapa detik, barulah kami semua berlarian ke lantai tiga.

Tsunami di Pangandaran tidak setinggi tsunami Aceh, sehingga meskipun kami tidak lari dari lantai 2 pun sebenarnya tidak apa-apa. Tapi tetap saja, bagaimana kalau BI mengadakan pertemuan pertama di restoran lantai 1 seperti rencana awal mereka? Bagaimana kalau BI jadi memesan cottage sebelah (yang kemudian diketahui luluh lantak), sebagaimana yang kami ketahui kemudian? Bencana apapun yang terjadi, selalu tetap ada saja hal-hal yang bisa kita syukuri.

Salah satu yang kusyukuri juga adalah kamar yang kuperoleh. Karena mendapat kamar di lantai 2, barang-barang bawaanku masih utuh dan aman. Ketika tsunami sudah reda tapi dikhawatirkan ada gempa dan tsunami susulan, panitia memutuskan untuk mengungsikan semua peserta, aku tidak pulang hanya bawa diri. Tapi memang sih, agak repot juga mengepak kembali semua pakaian yang sudah kutata rapi di lemari itu dalam kondisi kamar gelap gulita dan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya.

Sejak peristiwa itu, aku tidak pernah lagi menata pakaianku lagi di lemari hotel meskipun menginap dalam jangka waktu yang cukup lama. Siapa tahu terjadi sesuatu dan lain hal yang membuatku perlu siap setiap saat untuk meninggalkan hotel.

Eh, tunggu... ini mana review bukunya ya? Ah, sudahlah. Aku membeli beli buku ini karena ada teman BBI yang ikut kompetisi menulis Kisah Perjalanan Ho[S]tel 2 bersama Ary. Jadi, kalau nanti kepingin baca buku 2, sepertinya perlu baca buku pertamanya dulu.

Alasan beli dan baca buku memang ada bermacam-macam sih :P
Profile Image for Lila Cyclist.
856 reviews71 followers
March 23, 2016
Petualangan dua backpacker di perhotelan dan perhostelan yang kadang bikin manggut manggut, kadang bikin mangap karena ga nyangka, dan banyak kali bikin ngikik. Dari sedikit saya melakukan perjalanan, memang akomodasi yang murmer selalu menjadi pilihan utama, tapi kenyamanan tetap nomor satu. Saya jadi ingat satu perjalanan saya dengan seorang teman, yang saking kepingin ngicip sensasi petualangan yang berbeda, kami menolak untuk menginap di satu penginapan yang sudah dijanjikan oleh guide yang bakal menyambut sekaligus menemani kami selama di Lasem. Kami pingin tidur dimana saja kami pingin, yang jelas di dalam mobil, entah itu di rest area atau di alun2 setempat. Pilihan kami adalah alun2. Tapi belum ada 10 menit kami nongkrong di dalam mobil, kami sudah mulai merasa panik dengan banyaknya cowok cowok ga jelas yang menurut teman yang matanya lebih awas, sudah mulai jelalatan memandang ke arah mobil. Ga tahan lama, teman saya langsung ngacir dari tempat parkir alun2 setempat. Saat itu sekitar pukul 22.00 atau lebih ya... Serem ih...

Esoknya, setelah perjalanan bersama mas.guide, sore setelah maghrib kami diajak ke rumah yang katanya kosong, dan biasa disewakan untuk pendatang atau tamu yang ia temani. Namun, melihat pintu gerbang yang tinggi, dan teras yang remang remang, dan tempat parkir di halaman yang cenderung gelap, membuat suasana jadi bikin merinding. Si mas guide lagi membuka kan pintu untuk dua kamar bagi kami, tapi tunggu punya tunggu, kok lama. Sementara teman saya berdoa semoga malam ini tak jadi menginap disitu karena bulu kuduknya sudah berdiri semenjak memasuki halaman rumah. Dan doanya pun terjawab: kunci salah satu kamar patah. Malam itu ia berencana membuka kamar untuk kami dan satu untuk dirinya. Jelas saja kami menolak untuk menginap di tempat 'singup' macam itu tanpa dirinya. Akhirnya si mas mengantar kami ke hotel murah pinggir jalan yang terang benderang. Alhamdulillah. Kami ga jadi mengalami malam mencekam di rumah, yang ternyata dulu punya neneknya yang sekarang sudah meninggal.... :@

Membaca kisah kisah di dalam buku tipis ini sebenarnya membangkitkan gairah pengen jalan lagi, terutama ke beberapa negara tetangga, yang pada awal saya punya paspor dulu sempet bertekad memenuhibeberapa lembar paspor dengan stempel beberapa negara, namun apa daya, waktu dan biaya yang sering bikin keder untuk mulai merancang perjalanan lagi...hiks...
Profile Image for Marina.
2,042 reviews359 followers
May 8, 2016
** Books 113 - 2016 **

3 dari 5 bintang!

Saya sudah lama dibuat penasaran dengan buku ini karena salah satunya adalah dosen mata kuliah saya di kampus. Akhirnya pas kemarin mampir di Big Bad Wolf dan menemukan buku ini langsung saya comot untuk dibawa pulang.

Buku ini memuat kisah-kisah pengalaman yang enak dan tidak enak (banyakan gak enaknya sih) antara kedua penulis saat mereka berkunjung ke luar negeri. Hahha cerita favorit saya didalam buku ini antara lain :

Balas dendam pada hotel jahanam
Ketika penulis menginap di salah satu hostel di Medan dan saat mandi airnya mati seketika dan pembayaran hotel belum dianggap lunas *asli ini nyebelin banget =__=a

Kisah sebuah asbak
Ketika penulis menginap di salah satu hotel di Bali dan pas check out dituduh membawa pulang asbak =__=a

Masih banyak lainnya kisah yang lucu dan seru membuat saya antara ikutan kesal dan geli membacanya. Tiba-tiba saya jadi teringat dong pengalaman tidak enak saya menginap di hotel X yang berlokasi di Bukit Bintang, Kuala Lumpur pada Jumat, 19 Februari 2016 Duh bisa-bisanya listrik satu hotel mati dan gelap semua lebih dari setengah jam. Dua kali pula matinya. Saya langsung ilfil sama hotelnya padahal termasuk hotel bintang 3 =___=a

Untungnya kejengkelan itu terbayar sudah ketika pada hari sabtu, 20 Februari 2016 kami semua menginap disalah satu hotel di Penang, Malaysia. Ahhh hostelnya baguss sekalii.. sukaa banget dengan pelayanan dan suasananya.. Saya pasti akan kembali untuk menginap disana *__*

description

description
Profile Image for Indira Iljas.
206 reviews10 followers
October 16, 2013
setelah buku travelling merajai dunia perbukuan indonesia dalam kurun waktu 3 tahun belakangan ini, maka sekarang muncullah buku2 penunjang travelling. salah satunya buku hostel ini. dalam tahun ini ada 2 buku seperti ini yg sudah saya baca, yg pertama hotelicious anna swan dan yang kedua adalah buku ini.
buku ini serasa membuka mata untuk para traveller ternyata banyak hal printil2 yang harus diantisipasi pada saat travelling. budget sudah otomatis hrs diperhitungkan, tp kenyamanan yg lain pun hrs diperhatikan juga.

thn ini saya travelling ke 3 negara dgn bocah batita, dan saya lumayan rempong milih hotel utk menginap dan barang2 lainnya yg hrs dibawa. milih hotel aja memakan waktu 2 mingguan krn sy mencari yg ada dapurnya atau minimal kamar yg menyediakan coffe maker, tujuannya buat apa?? yah buat ngerebus botol susu sama dotnya?? penting kan ??? penting bangetlah, krn sesuai standar kedokteran botol susu ama dot stlh di cuci harus di rebus ato di rendem air panasss.... *ngomong apa si gw??? klepak kirikanan*

yah pokoknya ini buku membuka mata qta deh yah iyalah masa buka mulut.... *klepaklagi* ada yg lucu, menjijikan, dll deh :-)
Profile Image for David R Sentika.
4 reviews2 followers
November 22, 2016
Buku ini ditulis oleh dua orang yang berbeda kebiasaan dalam hal pemilihan tempat menginap ketika dalam perjalanan.
Sony, lebih terbiasa dan menikmati kenyamanan diatas harga.
Sedangkan Ariy, lebih memilih tempat menginap yang ekonomis.

Tidak paham atas hal apa pengurutan judul dalam tiap Bab nya. Saya tidak menemukan pola, apakah diurutkan dari waktu, dari tempat, atau memang random. Dari hal yang berbau horor, serangan kepanikan, dsb.

Namun cukup informatif bagi pembaca yang pemula dalam dunia traveling. Apalagi yang belum pernah berhubungan dengan yang namanya penginapan. Baik itu hotel, hostel (dorm/private room), apartment, guesthouse, dsb.
2 reviews
January 5, 2014
menurut saya penulisannya bagus, mudah diterima, dan yang paling membantu, banyak tipsnya :p buku ini bikin saya sadar bahwa printilan-printilan kecil kalau mau cari tempat menginap kadang-kadang bisa jadi masalah juga kalau diabaikan. bagus deh :)
Profile Image for Nadia Qorina.
29 reviews2 followers
February 8, 2014
2.8 deh..
kisah dan infonya keren sih.. cuma terlalu ngebosenin buat dibaca.. apalagi kebanyakan kata SAYA nya.. kurang efektif aja kalimatnya.. padahal diterbitin penerbit terkenal (b first, bentang - grup mizan)..

seolah2 (maaf) royaltinya tergantung sama jumlah kata SAYA-nya..
Profile Image for Nurul Hidayati.
28 reviews
February 13, 2014
ceritanya menarik. Lucu sih tetapi kadang-kadang bikin ilfil juga haha pokoknya bakal senyum-senyum sendiri lah. Seriusan informatif loh
Profile Image for Dhani.
257 reviews17 followers
December 23, 2013
Selesai juga membaca buku ini dan suka. Tulisannya informatif banget buat yang pingin travelling dengan budget yang tidak terlalu besar. Kalau boleh kritik, jumlah halamannya kurang banget..
Profile Image for Nunik Kartikarini.
352 reviews3 followers
July 30, 2015
Cukup bagus, informatif sekaligus menyegarkan. Jarang-jarang ada kumpulan pengalaman menginap yang ditulis dalam bahasa menarik dan kocak
49 reviews
April 6, 2017
Akhirnya selesai baca buku ini!
Berhubung aku suka jalan-jalan, sebenernya buku-buku backpacking gini seringkali masuk dalam list bacaanku.

Tapi entahlah, untuk buku ini aku merasa monoton. Yeah, aku masih menyelesaikan baca sampai akhir, tapi ya udah gitu aja. Sampai akhir bukunya aku masih ngerasa ya udahlah ya. Yang penting kelar bacanya.
Ya, bacaan ringan di sore hari.
Displaying 1 - 18 of 18 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.