"Dengan bekal kebodohan ini izinkan aku merindukan-Mu."
***
Bekal Prie GS berhaji bukanlah ilmu maupun harta, melainkan rindu. Ya, dia rindu dengan Rumah Allah (Baitullah) yang sekian lama dipendamnya. Dia mencari kesempatan kapan bisa menuntaskan rindunya itu. Tak dinyana, kesempatan itu datang tiba-tiba. Tempat ia bekerja telah membiayai keberangkatannya.
Di tanah suci ia mengalami banyak hal yang tak terduga. Pelbagai kejutan pun kerap kali dia jumpai. Beberapa peristiwa “aneh” yang dia alami membuatnya termenung: mungkinkan ini adalah akumulasi hidupnya semenjak kanak-kanak? Apakah itu sebuah berkah atau musibah?
Buku ini basah dengan kisah yang membuat kita tertawa, sedih, dan bahagia. Tulisan ringan, bersahaja, dan lucu.
Supriyanto atau lebih dikenal dengan nama populernya yaitu Prie GS (Prie Great Spirit), lahir di Semarang pada tanggal 2 Februari 1965. Ia menyelesaikan sekolah menengahnya di SMA PGRI Kendal, kemudian melanjutkan studi perguruan tinggi pada Program Diploma III Seni Musik IKIP Semarang. Tetapi saat ini ia lebih dikenal sebagai seniman dan budayawan. Pada tahun 1987 bergabung dengan harian Suara Merdeka sebagai kartunis. Dalam dunia kartunis, beberapa kali ia menjadi pemenang lomba kartun, baik nasional maupun internasional. Prie GS juga pernah diundang Japan Foundation untuk pameran dan berdiskusi tentang kartun di Tokyo, Jepang. Selain itu, ia juga memperdalam ilmu jurnalistiknya di Lembaga Pers Dr. Sutomo Jakarta. Beberapa karya berupa buku yang telah ditulisnya antara lain, Nama Tuhan di Sebuah Kuis (Solo, 2003) dan Merenung Sampai Mati (Solo, 2004). Di pertengahan tahun 2005, Prie GS mengeluarkan tiga karyanya; More Than Love (novel remaja), Just for Love (novel remaja), dan Mari Menjadi Kampungan (catatan harian seorang budayawan). Jauh sebelum menulis buku, Prie GS sudah dikenal sebagai kolumnis. Tulisan-tulisan kolomnya sering dimuat di beberapa media, di antaranya Surat Kabar Harian Suara Merdeka dan Tabloid Keluarga Cempaka Minggu Ini. Selain menulis karya, sehari-hari Prie GS adalah Pimpinan Redaksi Tabloid Keluarga Cempaka Minggu Ini yang masih seinduk dengan Suara Merdeka Group. Ia juga menjadi penulis Skesa Indonesia dan Smartorial sebagai salah satu tajuk dalam Radio Smart FM, Host Obrolan Simpang Lima di TVRI, Walikota Silaturahmi di TV Borobudur. Prie GS juga dikenal sebagai mentor emosional, yang sering diminta memberikan dorongan secara emosi dan membangun mental kalangan yang menekuni dunia entrepreneur agar bangkit dan tidak menyerah. Dengan beberapa pengusaha Semarang, ia juga mendirikan wadah komunitas para 40 pelaku dunia usaha yang bernama Senity (Smart Entrepreneur Community). Saat ini, Prie GS, sedang menyiapkan film komedi parodi satir politik yang bertajuk Negara Kata-Kata untuk dipublikasikan. Intensitas pertemuannya dengan banyak komunitas membuatnya kaya akan pengalaman menghadapi berbagai macam jenis orang dengan kepribadian yang bermacam-macam pula. Hal tersebut secara langsung memberikan pelajaran-pelajaran berharga baginya sehingga mendorong kematangan emosinya. Saat ini ia menetap di kota yang amat dicintainya, Semarang.
Perdana baca buku Prie GS. Tulisan-tulisan di buku ini lebih berisi kontemplasi penulis akan perjalanan haji yang dijalaninya beberapa tahun lalu. Menarik sekali membaca bagaimana seorang tipe Pemikir diributkan kepalanya oleh berbagai kekhawatiran jelang ibadah haji. Ini juga bisa menjadi bayangan bagi kita yang mungkin kelak juga mendapat panggilan untuk berhaji
Jujur saya belum familiar dengan penulis. Saya randomly membeli buku dengan topik "berhaji" karena saya mempunyai target untuk menunaikan ibadah haji sebelum saya berumur 35tahun. Semoga Allah Swt. menghendaki. Aamiin.
Kembali kepada Pak Prie GS dalam bukunya saya jujur, kadang bingung. Beliau ini sangat genuine sekali menulisnya. Menyampaikan perasaannya tanpa men-delete sedikitpun. Sangat genuine. Bahkan yang menurut saya sangat berkesan adalah beliau menuliskan ketidaksukaan beliau akan sesuatu, suasa hati, dan berbagai kekesalan-kekesalannya. Tidak banyak dari kita yang berani mengutarakan hal tersebut. Apalagi dalam sebuah buku yang akan dibaca oleh ribuan bahwan jutaan orang mungkin.
Bagi saya, membaca buku Pak Prie GS bukan hanya memberikan insight dan pengetahuan mengenai haji, gambaran bagaimana 'berat'-nya ibadah haji, tetapi beyond dari itu semua. Pak Prie GS berhasil mendidik saya bahwa, kesenangan itu akan diikuti oleh ketidaksenangan, dan sebaliknya. Jadi belajarlah untuk membiasakan diri untuk biasa saja dalam dua kondisi tersebut. Karena mereka sejatinya silih berganti.
Pak Prie GS, terima kasih atas nasihatnya. Alhamdulillah, saya sedang belajar menerapkannya dan merasakan manfaatnya dari menjadi 'biasa saja' tersebut.
Pak Prie, kok lucu banget sih, Pak? Buku ini buku yang sederhana, jujur, dan bermakna. Membaca lembar demi lembarnya seperti diajak naik haji bareng si penulis, dan ikut merasakan apa yang dialami oleh si Bapak, mulai dari kegalauan beliau ketika terpilih jadi salah satu peserta haji, bahagianya shalat berjamaah di Masjid Nabawi (saya juga mau banget, Paaaak), sampai nyari batu kerikil untuk melempar setan (noted, kalo naik haji mesti bawa batu dari Indonesia :p ). Bermacam-macam pengalaman tak terlupakan diceritakan secara jujur dan apa adanya oleh Pak Prie di buku ini. Serasa baca catatan pribadi si penulis. Dan saya pun tak kuasa menahan haru ketika si Bapak berhasil melaksanakan semua ritual ibadah haji dan pulang ke Indonesia dengan selamat, alhamdulillah. Saya ikutan degdegan Pak, suer! XD
This entire review has been hidden because of spoilers.
"Saya merasakan penderitaan setapak demi setapak. Doa-doa lenyap dari mulut saya, kecuali doa, "Selamatkan aku dengan kandung kemihku agar aku tidak ngompol!" Sungguh betapa malunya jika wartawan gaul, intelektual, ngobrok di situ". Buku yang menceritakan catatan perjalan Prie GS selama menunaikan ibadah rukun iman yang kelima. Dari hal-hal yang lucu sampai yang dapat menjadi perenungan untuk kita. nb: jangan lihat buku ini dari sampulnya (no offense untuk pembuat sampulnya)
Selain bercerita perjalanan dan proses berhaji Pak Prie GS, buku ini juga berisi beberapa 'keluhan' dan 'kesulitan' pak Prie selama menjalankan ibadah Haji. Dari semua kesulitan dan keluhannya itu selalu ada hikmah yang bisa diambil :p
buku yg melihat dan menjelaskan berhaji dari sudut pandang personal kang prie gs. Buat yg belum pernah berhaji bisa jadi panduan tidak resmi bagaimana cara mempersiapkan fisik dan mental sebelum menunaikan Ibadah Haji.