Di zaman yang serba kekurangan, di kala Semarang jadi rebutan para penjajah, penduduk sudah tidak bebas lagi berbuat sekehendak hati. Mereka hidup dalam kekangan. Dalam Langit dan Bumi Sahabat Kami ini, Dini mengisahkan kembali peristiwa-peristiwa yang dialaminya pada masa itu : kekurangan makanan, musim yang kering, keadaan yang memprihatikan, dan lain-lain. Semua itu dihadapi keluarga Dini dengan tabah dan tawakal. Seperti kata Ibu Dini, "Sabar dan dermawanlah seperti bumi. Dia kauinjak, kauludahi. Namun tak hentinya memberimu makanan dan minuman."
Nh. Dini (Nurhayati Sri Hardini Siti Nukatin) started writing since 1951. In 1953, her short stories can be found in most of national magazines like Kisah, Mimbar Indonesia, and Siasat. She also writes poems, radio play, and novel.
Bibliography: * Padang Ilalang di Belakang Rumah * Dari Parangakik ke Kampuchea * Sebuah Lorong di Kotaku * Jepun Negerinya Hiroko * Langit dan Bumi Sahabat Kami * Namaku Hiroko * Tirai Menurun * Pertemuan Dua Hati * Sekayu * Pada Sebuah Kapal * Kemayoran * Keberangkatan * Kuncup Berseri * Dari Fontenay Ke Magallianes * La Grande Borne
Benar-benar sebuah cerita kenangan yang apik. Berlatar masa penjajahan Belanda. jadi ingat cerita-cerita simbah putri, kalau zaman itu semua yang masih bisa dikunyah dimakan. (Bonggol pisang, inti pohon pepaya, dll) Terimakasih Eyang Nh Dini, sudah mengajari kami bagaimana memperlakukan hidup. Sederhana asal tidak menyusahkan orang lain, kalau berlebih selalu berbagi.
Langit dan Bumi Sahabat Kami berisi kebangkitan naluri artistik dan kesadaran tentang hubungan laki-perempuan dalam diri seorang anak perempuan, kesulitan ekonomi, dan lika-liku gerakan bawah tanah dan pengaruhnya terhadap orang-orang terdekat mereka pada masa pendudukan Sekutu di Semarang.
Buku ini membahas musabab kebangkitan naluri artistik dan fungsi ekspresi artistik dengan menggunakan Dini, penceritanya, sebagai contoh kasus. Pada masa pendudukan Sekutu Dini tidak bisa berhubungan dengan orang-orang yang dekat secara emosional dengannya: Mariam, kakaknya, dan Edi, sepupunya. Hubungannya dengan anak-anak tetangga pun hanya selintas saja. Dini sendiri bukan anak yang suka berbicara walaupun tidak berarti tidak punya pendapat tentang apa-apa yang terjadi di sekitarnya. Dia sudah bisa membaca. Bapaknya mengajarinya membaca dengan buku Rabindranath Tagore. Dia juga sering diajarkan lagu-lagu yang lazim dinyanyikan anak-anak pada masa itu. Dalam keadaan semacam itulah tumbuh perlahan nalurinya untuk mengekspresikan perasaannya, terutama kerinduannya pada dua orang tadi. Pada awalnya dia hanya mengubah lirik-lirik lagu yang diketahuinya dengan hal-hal yang mengekspresikan kerinduannya itu. Lama-lama dia menuliskannya. Ekspresinya itu membuatnya bisa bertahan dalam kesepian itu. Di sini naluri menulis muncul dari kesepian dan pertama-tama digunakan untuk melipurnya.
Di tengah keadaan itu Dini mendapatkan kesadaran tentang hubungan antara laki-perempuan. Yu Kin melahirkan. Dia mengeluhkan keadaan fisik bayinya pada Yu Saijem, mantu pembantu keluarga Dini. Yu Saijem berkata soal “suami-istri campur” saat menjelaskan persoalan Yu Kin. Dini, seorang anak yang rasa ingin tahunya besar, yang menjadi saksi percakapan itu kemudian bertanya lebih lanjut pada Yu Saijem. Itulah pertama kalinya dia mendapatkan penjelasan yang sangat gamblang tentang persetubuhan laki-perempuan. Lebih jauh lagi, Dini kemudian mengetahui pelacuran lewat Yu Saijem. Kang Marjo, suami Yu Saijem, ditangkap tentara Sekutu. Keadaan ekonomi sedang sulit. Pada masa itu Dini sering melihat Yu Saijem jalan dengan lelaki yang berbeda-beda. Rasa ingin tahu itu mengantarkannya pada pengetahuan tentang pelacuran. Dalam menerima dua pengetahuan ini, Dini bersikap reseptif, atau lebih tepatnya polos. Meskipun demikian, kecenderungannya untuk merenung justru membuat dia tidak bersikap menghakimi atas persoalan semacam itu. Dia menilainya dengan mempertimbangkan kebutuhan ekonomi dan kebutuhan seksual seseorang.
Pada masa pendudukan Sekutu di Semarang barang-barang kebutuhan serba sulit karena jalan-jalan ke luar kota diblokade. Sumber-sumber air pun kering atau kotor. Bahan makanan yang beredar di pasaran berkualitas buruk karena terlalu lama ditimbun. Harga-harga mahal di pasaran umum, apalagi di pasar gelap. Dampaknya, apa pun yang bisa dijadikan bahan makanan gratis diperebutkan. Tumbuhan dan pohon di tanah kosong di tangsi polisi dekat rumah Dini dihisap habis oleh orang-orang. Pada masa-masa ini kemampuan masak ibu Dini menyelamatkan perut keluarga. Bahan-bahan yang kurang enak diolah jadi bisa diterima lidah. Segala sumber daya diusahakan diamankan, terutama dari tentara Sekutu yang suka seenaknya mengambil barang-barang di rumah warga. Keluarga Dini menyembunyikan ayam agar telurnya bisa dijual, ditukar, atau dimakan sendiri. Barang-barang dijual supaya dapat modal untuk membeli kebutuhan. Sistem barter pun digunakan lagi. Sering keluarga Dini bolak-balik ke Pasar Johor untuk membarter barang dengan apa-apa yang dijajakan di sana. Pada masa ini Dini mendapatkan pelajaran etika tentang kepemilikan, berbagi, dan sikap politis. Palang Merah Belanda memberikan bantuan pada warga. Bapak Dini menolak menerimanya karena tidak mau bekerja sama dengan kubu Sekutu, sedangkan ibunya justru menerimanya. Mereka berdebat. Pembelaan ibu Dini adalah barang-barang ini bisa diberikan pada kenalan-kenalan yang membutuhkan. Saat itu keluarga mereka bisa mencukupi kebutuhan-kebutuhannya. Tidak apa-apa melakukan tindakan itu kalau demi menolong orang lain, apalagi keluarga mereka sudah bisa mencukupi kebutuhan-kebutuhannya, sebagaimana pernah dilakukan saat mereka memasang pompa air.
Bapak Dini terlibat dalam gerakan bawah tanah. Dini sering mendapati dia berunding sembunyi-sembunyi dengan orang-orang tidak dikenal di kebun sekitar rumahnya pada malam hari. Pak Sarosa, paman Dini, masuk ke Semarang dengan menyamar dan melalui jalan-jalan tikus. Anak-anak dilarang berbicara tentang kehadirannya di rumah pada orang lain. Saat situasi memanas, bapak Dini, Kang Marjo (suami Yu Saijem), dan beberapa orang lelaki yang tinggal di rumah mereka ditangkap Sekutu. Penangkapan ini kemudian berdampak buruk pada kesehatan bapak Dini secara umum. Sementara itu, ada warga yang mendadak menjadi kaya tanpa dijelas sebabnya. Menjelang pendudukan berakhir rumah warga itu dibakar. Mereka inilah yang dianggap mata-mata yang terlibat dalam penangkapan bapak Dini dan yang lainnya. Teguh, kakak Dini, menyukuri-nyukuri nasib sial yang menimpa mereka. Pada saat inilah Dini mendapatkan etika untuk bersikap adil. Bapaknya menegur Teguh karena sikapnya. Situasi perang yang mendesak orang untuk menjadi kolaborator musuh atau tetap memberontak merembetkan rasa permusuhan atau rasa persahabatan, bergantung pada kepentingannya.
Langit dan Bumi Sahabat Kami mengajukan persoalan etika ekonomi, politik, dan seks dalam situasi perang, dan menyatakan pendapat tentang suatu faktor-faktor yang mempengaruhi kebutuhan akan sastra.
Zaman perang yang dilalui Dini pada masa kecilnya di Semarang. Zaman susah dimana-mana rakyat mengalami situasi serba kekurangan.
Pada masa itu terjadi pendudukan Belanda, Jepang dan kedatangan kembali Sekutu. Terjadi pengekangan kebebasan, kekurangan pangan, kekurangan air bersih bahkan kemerosotan tata nilai masyarakat.
Dini memperoleh banyak pelajaran menghadapi kehidupan. Ibu dan ayah Dini adalah orang tua luarbiasa dalam membesarkan anak-anaknya dalam situasi sulit. Ayah dan ibu Dini yang penuh kasih sayang. Dalam kekurangan, mereka masih memikirkan orang lain. Dalam kekurangan, mereka tidak hilang akal untuk memenuhi kebutuhan anak-anaknya. Dalam kemiskinan mereka tidak kehilangan prinsip untuk bergabung sebagai pegawai pemerintah kolonial.
I read this book when i was 9 or 10 years old. The first Indonesian Literature Novel for me. Since that time i start to love indonesian literature and Nh. Dini masterpieces especialy her memories series. Love how she can describe the atmosphere, about what she felt, even when her wise mother cooked the banana steam and fried cheese (can you imagine).
My first book of Nh. Dini. This is what I'm looking for, a slice of life story but back in revolutionary era of Indonesia. The fear, the stability to keep things under control back then portrayed well in this book.
cerita kenangan masa kecil yang dikemas dengan apik. Buku eyang nh dini yang pertama kali kubaca. Setiap detailnya membuat kita terasa seperti berada dalam cerita, jadi ga sabar buat baca buku-buku lainnya
Sejak kota Semarang selalu beralih pemerintahan dari satu tangan ke tangan lain, para penduduk dan segala tempat menjadi kehilangan mobilitasnya.
Di sini diceritakan bahwa kakak dari Dini yaitu Heratih dan Maryam tidak bisa pulang selama 4 tahun dikarenakan keadaan yang tidak menentu oleh karena tentara sekutu. Perjalanan yang semula direncanaka ke Solo harus tertahan di rumah paman sang ayah.
Sang ayah juga tidak bekerja karena menolak bekerjasama dengan pemerintahan pendudukan.
Kang Marjo dan Yu Saijem menjadi pengungsi di rumah mereka serta Yu Kin (keluarga dari pihak Ibu) yang mengandung bayi dibolehkan tinggal karena suaminya di penjara.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Buku ini masih memukau saya sebagaimana dua buku yang terdahulu. Kisah berlatar perang yang biasanya mencekam dan berdarah-darah kini dilihat dari sudut pandang seorang gadis kecil polos menjadi kisah keluarga sederhana yang berjuang untuk bertahan hidup di tengah kecamuk perebutan kekuasaan. Saya kira buku ini pantaslah dimasukkan ke dalam kurikulum pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah-sekolah; bahasanya sederhana namun indah dan penuh nilai-nilai moral yang mendidik.
Cerita di zaman perang. Keluarga Dini yang saat itu berusia 10 tahun. Keluarga yang hebat, mengajarkan banyak hal baik yg bisa dicontoh. Ibaratnya zaman dulu juga ada keluarga cemara 😁
Kata ibu, sabar dan dermawanlah seperti bumi. Dia kauinjak dan kauludahi. Namun tak hentinya memberimu makanan dan minuman.
“Sebuah perayaan karunia Tuhan yang bersifat spiritual nan khusyuk ketimbang ibadah. Kegigihan dalam menghadapi kesulitan hidup serta senantiasa mengutamakan azas kedermawanan merupakan nilai luhur manusia yang saban hari kian memudar. Manis sekali.”
Yang kami makan di zaman revolusi itu semuanya bubuken penuh ulat. Serangga yang terdapat dalam bahan makanan itu membentuk sarang, sehingga menggumpal merupakan sulur kotoran dan serbuk yang memuakan.
Begitulah NH. Dini, menceritakan kehidupan dirinya dan keluarganya ketika penjajahan Jepang berakhir dan digantikan serdadu Sekutu. Selain karena sulit sekali mendapatkan makanan di pasar, seringkali tentara Sekutu merampas harta benda penduduk termasuk rumahnya keluarga Dini. Dini mengenang masa-masa dimana dirinya dan keluarganya kesulitan untuk mendapatkan makanan. Beruntung Ibunya lihai mengolah berbagai macam jenis makanan yang sebelumnya tidak pernah terbayangkan dapat dimakan misalnya krokot dan kremah yang biasa dipergunakan sebagai makanan jangkrik, bonggol pisang,bayam tanah, jagung, gaplek, dll. Dini Juga mengenang masa dimana keluarganya berusaha mengelabui serdadu Sekutu yang datang pada saat ayahnya berusaha menyembunyikan barang-barang berharga yang tersisa. Di masa sulit tersebut, orang tua Dini masih bisa membatu saudaranya Kang Marjo dan Yu Saijem juga Yu Kim mengungsi di rumahnya juga Ayahnya Dini masih dapat memberikan kejutan manis kepada anak-anaknya.
Keadaan bertambah sulit karena tidak ada listrik sama sekali juga karena kekeringan yang melanda. Maka Dini sekeluarga harus mandi, mencuci di sungai yang jauh dari rumahnya. Selain itu Teguh,Nugroho dan Kang Marjo bergantian mengangkut air dari sungai tersebut. Keperihatinan Dini sekeluraga juga tetangga-tetangga terdekatnya berakhir ketika ayahnya berhasil menjual burung perkutut kesayangannya untuk membuat sumur baru. Keadaan keluarga Dini semakin membaik ketika perbatasan kota dibuka sehingga bisa terjadi proses barter antara petani yang membawa hasil ladang dan ternak dengan penduduk kota yang mempunyai pakaian dan barang-barang berharga. Mulai saat itulah, keluarga Dini bisa merasakan makanan yang nikmat kembali, berbagai kebahagiaan seperti kebahagiaannya memanen berbagai jenis hasil kebun dan kebahagiaan akan hadirnya anggota keluarga baru. Dalam usianya yang sepuluh tahun, Dini merasa dianggap orang dewasa oleh Yu Saijem karena Dini menjadi tempat curhatnya Yu Saijem. Dalam buku ini diceritakan kisah pencidukan ayahnya oleh serdadu Sekutu karena bekerjasama dengan para pemberontak. Ayahnya memang menolak bekerja pada pemerintah pendudukan dan membantu para pejuang gerilya. Bagaimana kondisi Ayahnya setelah diciduk oleh Sekutu dan kondisi Heratih serta Suami juga Maryam yang terpisah selama masa pendudukan Sekutu digambarkan di akhir buku ini. Berkat keluarganyalah, Dini menyadari bakatnya sebagai penulis.
Dibandingkan dengan kedua buku sebelumnya, buku ini tak hanya berkisar tentang diri Dini dan keluarga tetapi juga memotret kondisi di sekelilingnya. Hal ini mungkin dikarenakan Dini sudah cukup besar, dikatakan dalam buku ini dia berusia sepuluh tahun. Selain itu, Dini juga lebih banyak mengingat petuah-petuah dari Ibu Bapaknya juga berbagai situasi yang membentuk cara pandangnya di kemudian hari. Dengan membaca buku ini, saya semakin bersyukur akan kenikmatan yang saya dapatkan selama ini. Kenikmatan yang tidak semua orang merasakannya, meskipun saat ini negeri ini telah meredeka.
Petuah-petuah dari Ibu dan Bapaknya NH. Dini yang saya suka:
Ya, Ibu kami mengingatkan bahwa selagi kami makan makanan yang pantas, bersih dan tidak busuk, di daerah-daerah yang lain barangkali masih banyak orang yang hanya memiliki jagung dan menir berulat seperti makanan kami dua hari yang lalu. Bahkan barangkali banyak orang yang sama sekali tidak mempunyai sesuatupun untuk pengisi perut.
Kuharap anak-anakku tetap rendah hati tetapi tahu harga diri. Menghargai pula apa yang kita punyai hari ini karena itu adalah karunia Tuhan. Jangan ngongso. Kita masing-masing memang diwajibkan berusaha mendapatkan yang lebih baik lagi. Hanya caranya harus baik dan menuruti adat kejujuran.
Banyak orang yang tidak mengerti apa itu kegembiraan dan kebahagiaan. Padahal itu ditemukannya setiap hari, bahkan berkali-kali dalam setiap hari. Umpamanya seseorang yang hampir jatuh, tapi tidak jadi. Dia tidak mengetahui bahwa itulah kebahagiaan. Dia bilang: Untung tidka jatuh! Ya, itu! Perasaan beruntung itulah yang bisa disebut kebahagiaan. Atau tiba-tiba hujan, dia bawa payung. Dia mengatakan: ah, untung bawa payung. Hatinya senang sekali, karena tidak terpaksa menunggu sampai hujan teduh. Nah, itu perasaan amat senang itu dapat disebut kebahagiaan juga.
Tidak ada pekerjaan yang hina selama kita mengerjakan setulus hati, dengan kepercayaan, kejujuran, tanpa mengganggu orang lain. Semua pekerjaan itu baik. Tergantung kepada cara kita menunaikannya dan menempatkan diri di kalangan tugas tersebut.
Ibu memperingatkan anak-anak agar selalu mencintai dan menghormati bumi dan Tuhan penciptanya
Langit dan Bumi Sahabat Kami yang ditulis oleh Nh. DIni, seorang Novelis yang berhasil memenangkan hadiah ( untuk peserta Indonesia) lomba mengarang "Meilleure de langue Francaise" yang diselenggarakan oleh Le Monde dan radio France Internasional sangat menarik perhatian saya. Novel yang diterbitkan oleh Gramedia sebanyak 139 halaman ini, tersusun sistematis dan menarik. Akan tetapi, pada novel ini, tidak ada Kata Pengantar dan Daftar Isi. Sampulnya berwarna hijau tua dan menggunakan font Impact untuk judulnya dan Times New Roman untuk Isinya. Gambar pada cover terlalu simple dan kurang menarik perhatian. Bahasa yang digunakan agak sulit dipahami, karena banyak mengandung kiasan - kiasan yang sulit diartikan.Nilai - nilai yang terkandung cukup banyak. Seperti nilai sosial, nilai moral dan nilai religius. Novel ini membahas tentang kesabaran dan ketabahan seorang Dini dan keluarganya dalam menghadapi lika - liku hidup. Sangat bermanfaat, apabila kita cermat dan teliti dalam membaca novel ini. Karena, novel ini mengandung banyak cara untuk tetap bersabar, memakan makanan yang seharusnya tidak dimakan karena sering diinjak - injak oleh manusia seperti Krokot, yang seharusnya digunakan untuk pakan serangga. Kesabaran yang terus dilakukan tanpa putus asa oleh Dini dan keluarganya menghasilkan keberhasilan untuk hidup seperti sediakala, seperti makan makanan yang bergizi dan lezat. Karena, sebelumnya Dini dan keluarganya menghadapi masalah krisis pangan dalam masa Penjajahan Jepang. Masalah - masalah yang datang tetap bertubi - tubi setelah Penjajahan Jepang berakhir. Karena, Belanda datang kembali untuk menjajah Indonesia, Negara kita tercinta ini. Akan tetapi,Dini dan keluarganya tidak begitu saja mudah terperangkap oleh siasat Belanda.Hidup memang harus penuh kesabaran dan ketabahn seperti yang dilakukan Dini dan keluarganya walaupun jumlah keluarganya tidak lengkap. Karena salah satu saudara kandung Dini pergi keluar Kota. Jadi, dalam hidup kita harus pandai - pandai untuk bersikap sabar seperti Dini dan keluarganya. Sehinnga, dapat membentuk sifat - sifat yang insyallah mendatangkan banyak manfaat bagi orang lain.
"Pengalaman hidup yang tidak enak, makan tidak enak dan tidak cukup, ada pula baiknya. Dari sekarang kalian dapat mengerti bagaimana rasanya menjadi orang miskin, dia tidak bisa makan setiap hari dan membeli apa yang diinginkan. Manusia memiliki sifat yang mudah berubah.Kuharap anak-anakku tetap rendah hati tetapi tahu harga diri. Menghargai pula apa yang kita punyai hari ini karena itu adalah kurnia Tuhan. Jangan terlalu ngongso. Kita masing-masing memang diwajibkan berusaha mendapatkan yang lebih lagi, Hanya caranya harus baik dan menuruti adat kejujuran" - Bapak (Halaman 64)
Rasanya mau cepat-cepat lanjut baca Seri Cerita Kenangan NH. Dini keempat yang berjudul Sekayu (Thanks God i own this book!) >__<
Aku suka buku-buku cerita kenangan Nh. Dini, apalagi yang ini, ketika Dini masih berusia 10 tahun. Yang dapat aku simpulkan setelah membaca Kemayoran dan buku ini adalah Dini begitu pandai menceritakan kehidupan antar anggota keluarganya. Jarang aku temukan karya penulis muda jaman sekarang yang bercerita tentang keluarga sedemikian kompleks seperti Nh. Dini, yang ada hanya sisi percintaan antara lelaki dan perempuan melulu yang diutamakan. Aku suka buku yang memiliki latar cerita tentang keluarga seperti buku ini :D
"Sabar dan dermawanlah seperti bumi. Dia kauinjak, kauludahi. Namun tak hentinya memberimu makanan dan minuman."
Masa perang. Kelaparan. Perpisahan. Penangkapan. Di tengah kekacauan dan suka-duka masa revolusi, Bapak dan Ibu Dini tetap memberikan pelajaran terbaik bagi anak-anaknya. Bersyukur, memaafkan, ikhlas, kebahagiaan.
Buku ini mengingatkanku pada kentang hitam dan sayur bobor bayam dengan singkong rebus :D
Kecewa dengan Yu Saijem yang harus menyerah pada keadaan. Berat, tapi dalam hatiku tak bisa kubenarkan.
Buku ketiga dari seri Cerita Kenangan ini banyak menuturkan tentang cara-cara keluarga N.H Dini bertahan hidup pada masa pendudukan Jepang hingga kedatangan serdadu NICA. Bagaimana strategi Ayah (masih gak konsisten penyebutannya, kadang Ayah, kadang Bapak) dan Ibu dalam menyiasati kekurangan bahan pangan yg melanda negeri ini. Sekali lagi, salut dengan kebesaran hati kedua orang tua Dini karena meski serba kekurangan apabila ada rejeki mereka tetap berbagi dengan tetangga dekatnya. Falsafah guyub dan tepa slira mengakar kuat dalam keluarga ini.
berawal suka iseng berantakin buku2 diperpus sekolah...akhirnya aku tertarik pada sampul buku ini.setelah itu kucoba baca sedikit-demi sedikit sampe kubawa pulang. dan kahirnya aku mulai mencinta karya2 beliau.dan akupun mulai bergerilya karya2 nya yang lain. karya non fiksi yang memang mampu membuat saya merasa ada juga dalam setiap peristiwanya.
Karena sudah pernah membaca Putra-putra Naga-nya Pearl S. Buck, saya jadi merasa isi cerita ini mirip benar dengan buku Madam Buck itu! Cuma pindah lokasi, satu di Semarang, lainnya di daratan Cina.
This was my first novel to read when I was so young, maybe in elementary school. This book made me fall in love with READING.. And this book introduced me to NH Dini, what a magic, touching, and down-to-mind series to read!!
Gw selalu suka semua bukunya NH Dini, cara ceritanya asik dan pemahamannya akan makna hidup dan filosofi jawa bisa digambarkan dengan baahsa yang sangat sederhana
Di novel ini, Dini berusaha mengingatkan kita untuk selalu menjaga alam dan menyayanginya. Dini menceritakan kisah hidupnya dengan alam, bahwa alam menyediakan segala kebutuhannya, bahwa tanpa alam entah apa yg akan terjadi, bahwa alam harus disyukuri dengan tidak menyia-nyiakan tiap komponen-komponennya.