Ada kebohongan dan kejujuran yang senantiasa mengelilingi kita. Begitu indahnya, sehingga kita tak tahu mana lagi batasan jelasnya. Antara diterima atau ditolak, semua abu-abu.
Ada skenario di antara sandiwara. Semua yang kita lihat dengan mata kepala sendiri, justru tidak pernah mencapai realita sesungguhnya. Ada sekenario dan ada sandiwara. Skandal.
Aku rapuh untuk menyadari semuanya. Aku terlanjur masuk ke dalam permainan ini. Sekarang hanya tinggal aku, menyelamatkan diri atau menjadi aktor yang akan menyelesaikan skenario ini. Tentu, dengan lebih banyak intrik atau justru bohong yang dipercaya
Realitas yang terbungkus di novel ini, berhasil menggelitik kagum saya dengan twisting ending khas Dodi. 4 Thumbs up!!!
Anastasia Praditha - Top 15 Miss Indonesia, Miss Banten 2012, News Anchor TVRI, Author of Magic Box
Ada realita yang luput dalam keseharian kita dan tergambar jelas dalam Rapuh. Gaya bertutur tokoh utama, membawa kita mendengar lebih jelas. Bukan hanya apa yang ada dalam pikiran-pikirannya, tapi sesuatu yang lebih jujur dari hati.
Robin Wijaya - Penulis Versus, Roma, Menunggu, dan Before Us
Dodi Prananda, lulus dari Universitas Indonesia, jurusan Ilmu Komunikasi. Menekuni dunia menulis sejak bergabung di Sanggar Sastra Remaja Pelangi, di Padang, Sumatera Barat. Buku yang ditulis: Waktu Pesta (2013), Rapuh (2013), Jendela (2014), Rumah Lebah (2014), Perantau Anti Galau (2018), Bintang Jatuh (2018), Besok Kita Belum Tentu Saling Mengingat (2019), EX (2020), Di Halaman Berapa Kau Menyimpan Namaku?(2022), dan Piknik Hujan (2025). Saat ini bekerja sebagai pekerja kreatif di Jakarta.
Judul: RAPUH Penulis: Dodi Prananda Penerbit: Wahyumedia, Jakarta, 2013 Tebal: viii + 168 halaman; 12,7 x 19 cm
Bian, seorang mahasiswa yang memiliki permasalahan hidup yang rumit, sangat erat kaitannya dengan apa yang disebut jujur dan bohong. Semua bermula dari ketertarikannya pada sosok gadis cantik, Sonia. Perjalanan cinta mereka barjalan dengan baik. Mama dan Gesa (adik Bian) sangat menyukai Sonia, cantik dan berkepribadian baik. Berbeda dengan Gesa, ia berpacaran dengan Bagas, laki-laki yang memiliki sejarah tidak baik sebagai murid yang selalu bermasalah. Bian sangat khawatir dengan hubungan Gesa dan Bagas. Ia selalu memperingatkan adiknya untuk memikirkan kembali hubungannya dengan Bagas, namun Gesa tidak pernah mendengar apa yang dikatakan kakaknya. Sekian lama berpacaran, Sonia menunjukan sikap yang tidak seperti biasanya, sulit dihubungi dan selalu tidak meluangkan waktu bersama dengan berbagai alasan, ia bukan lagi sosok seperti dulu, banyak terjadi perubahan padanya. Hubungan mereka makin lama kian tak jelas. Mayang, seorang pekerja rumah tangga yang dipekerjakan mama Bian, sangat disayang oleh Mama karena melakukan semua pekerjaannya dengan baik. Dibalik itu semua, ternyata Mayang telah meneteskan noda pada kain putih kepercayaan. Kebohongan, dusta, dan pengkhianatan mulai terbongkar. Gesa akhirnya menyadari bahwa Bagas yang disebut pacarnya itu bukan pria yang baik, ia dikecewakan dengan janji yang tak kunjung datang. Sonia telah lama menghilang dari kehidupan Bian tanpa kabar jelas, Bian mencium ada sesuatu yang membuat Sonia menjauh seperti ini. Setelah diselidiki, ternyata apa yang dicurigai benar terjadi. Sonia telah meneteskan noda pekat pada punggung pria yang mempercayainya. Skenario dan sandiwara para pembohong yang hanya diketahui Bian membuatnya dilema, menjadi serba salah dan tak tahu apa yang harus dilakukan. Pada akhirnya memilih menyelesaikan semua dengan jalannya sendiri. Dodi Prananda, dengan gaya bahasanya yang puitis namun dapat dipahami oleh pembaca, menghadirkan kisah romantis, unik, menggelitik, dan ending yang sangat miris. Kisah dalam novel ini sangat menarik, memberikan pesan moral kepada pembaca tentang arti penting sebuah kejujuran dan akibat dari kebohongan yang diperbuat, betapa banyak yang tersakiti olehnya. Kisah yang ringan dan dapat kita temui dalam kehidupan sehari-hari membuat pembaca seakan larut menjadi bagian dalam novel ini. Bagian awal (konflik) dan klimaks pada novel ini menyajikan alur cerita yang sangat menarik, namun pada bagian akhir (penyelesaian masalah) penulis justru memberikan akhir yang buruk (sad ending). Disinilah letak keunikan novel karya Dodi, Mahasiswa Ilmu Komunikasi UI. Disamping itu, penulis harus lebih memperhatikan penegasan peran dan status setiap tokoh, pembaca sering dibuat bingung dengan status tokoh di dalamnya, seperti tokoh Mayang yang tidak jelas sejak kapan mulai bekerja. Saat Mayang memergoki Bian sedang berciuman di kamarnya sewaktu SMA, membuat tokoh Mayang menjadi tidak jelas karena pada awal cerita, Mayang mulai bekerja saat Bian sudah kuliah. Tidak sedikit bahasa yang terkesan vulgar disajikan penulis, sehingga novel ini tidak dianjurkan untuk anak di bawah umur. Namun begitu, novel yang dibungkus dengan sampul cantik berwarna orange ini membuat saya tertarik membelinya. Terlebih penulis menggunakkan font dan size font yang nyaman dibaca. Novel ini amat layak dibaca karena dapat memberikan motivasi dan menggambarkan betapa pentingnya sebuah kejujuran.
Ahmad Hudzaifi Mahasiswa Sosiologi UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
Buku ini sebenanya mempunyai narratif yang sederhana dengan twist tambahan. Walaupun dengan cerita yang sedemikian polos dan biasa, yang pasti saya menangkap maksud dari Dodi yang ingin menggambarkan dan mencoba memberi tahu pembaca bahwa bagaimana disekeliling kita masih terdapat 'kebohongan' yang unik dan nyata
Politik itu kebohongan yang dianggap kejujuran. Namun tidak semua pelakunya demikian, masih ada diantara mereka yang berperilaku baik dan terbuka untuk mengatakan kejujuran.
Saya menyelesaikan buku ini dengan dramatis, membanting buku ini (untungnya ke kasur) dan berteriak penuh kekesalan. Frankly, saya membenci semua ide tentang penyimpangan seksual meskipun saya mempelajarinya di bangku kuliah. Apalagi jika ide itu dituangkan dalam bentuk novel, or worst, epilog novelnya.
Waktu pertama saya baca sinopsisnya, saya merasa novel ini menarik dan gue banget. Tapi begitu saya membuka halaman pertama, err.. holy cow. Saya langsung pusing membaca monolognya yang... ah sudahlah.
Saya jadi agak bingung bagaimana me-review buku ini. Antara gatel mau membuat list hal-hal yang gak saya suka dari novel ini dan tidak ingin menyakiti hati penulis yang notabene masih senior yang saya segani. Tapi, semoga bangDod dan Wahyu Media membuat revisi novel ini setelah membaca list yang saya buat 1. Monolog sebagai pembuka novel is not a good idea. Entah ini masalah selera atau tidak, tapi saya selalu suka deskripsi sebagai pembuka novel. Deskripsi tokoh utama membuat saya dengan senang hati berimajinasi tentang si tokoh dan jalan ceritanya 2. Terlalu banyak salah ketik. Bahkan sempat ada nama tokoh yang tertukar dan bab 6 yang lenyap entah kemana. Entah ini salah penulis, atau salah editornya. Ada banyak kata "noda" yang berserakan. Saya gak hitung. Apa gak ada padanan kata yang lain? How about lumpur? *kemudian digetok* 3. Tokoh Mayang yang saya tidak tahu apa perannya. Mungkin maksudnya agar si tokoh utama terkesan sebagai secret keeper. Tapi saya malah merasa Mayang ini seharusnya tidak usah ada. Toh tanpa tokoh Mayang, si tokoh utama tetap menjadi secreet keeper kebejatan pacar adiknya yang mesum dan perselingkuhan pacarnya. 4. And worst, as I told before, adegan homoseksual sebagai epilog. Balik lagi, mungkin ini masalah selera. Masalah saya yang membenci semua ide penyimpangan seksual. Masalah saya yang menganggap segala masalah penyimpangan seksual cukup tertulis di jurnal dan buku diktat kuliah. Iya, ini masalah saya -_-
Secara keseluruhan saya menyukai ide ceritanya. Tentang manusia dan kebohonganya. Simpel. Tapi saya kurang menyukai eksekusinya *halah*
1,5 bintang sebenernya tapi.... *and the story goes* Weekend ini gw baca buku keluaran WM lg yang dari judul sama sampul se-Dramatic ceritanya. Sekali lagi gw bersyukur *untung minjem*. cerita di awal buat gw udah kaya nonton komedi puter yang keceptannya diatas ambang maksimal trus yang naek nenek-nenek ama kakek-kakek yang punya riwayat sakit jantung. Hello ini berasa sinetron Indonesia yang predictable dan dibikin slow motion di tiap adegan conversation. Kesalahan besar itu dari typo is everywhere ampe gw pengen coret pake tipeX. cerita dimulai dengan bian yang suka sama Sonia trus punya ade namanya gesa yang punya Pacar namanya bagas which is temen satu sekolah dulu sama bian yang punya track record mesum dan berandalan. Konflik lain yang jd bumbu adalah seorang pembantu bernama mayang yang di halaman 29 udah ada tapi baru dijelasin sosoknya dikemudian halaman yang ternyata seorang 'pemasalah' juga (bikin pembaca tepok jidat ini sopo meneh?). Dari cerita udah bisa ditebak kalo Sonia ama bagas punya hubungan. Yang gak gw abis pikir kenapa endingnya harus bian sama Adam-hell yaw, bian homo? Bisex or what?, ketakutan dia kalo mayang bakalan nyeritain ke keluarganya soal adegan yang dilihat dikamar pas acara lulus2an itu jadi kaya ngalur ngidul (majikan mah raja atuh kang, orang tua bian pasti lebih percaya anaknya lah dari pada pembantu yang udah ada buktinya juga). Mungkin si penulis mau ngasih petunjuk diawal cerita pas bian ngomong sama kaca tapi hey than what Sonia? Atau ngasih surprise dengan memasang adam? give me a break !!!
Tambahan : Dari part atau bab novel ke 5 langsung 7 *ini buku yang gw pinjem doank apa semuanya ya?* ini salah siapa? Apa pembaca juga harus menanggungnya? *nangis darah *lebay *bye
Suka dengan ide,endingnya (paling suka sama adegan Adam-Bian), juga dengan bahasa yang dipakai oleh Dodi, serta beberapa petikan kalimat yang menarik seperti "Apa kamu lupa cara merinduku? Atau sebenarnya memang tidak pernah?"
Sayangnya, saya merasa bahwa Dodi sepertinya terlalu terburu-buru dalam menyelesaikan novel ini. Kalau untuk menulis cerpen, sudah jelas Dodi memang jago. Kalimat-kalimatnya singkat tetapi kuat. Tetapi ini novel, dan menurut saya, sebagai sebuah novel, cerita-cerita dan para tokoh dalam Rapuh, yang seharusnya menarik, kurang dikembangkan.
Namun untuk debut, novel ini cukup baik. Hanya, barangkali Dodi harus membiasakan diri untuk menulis dengan nafas yang panjang.
like those words, penguasaan sastranya cukup indah di umur yg masih belia. lalu setiap detail katanya, sebenarnya, kadang itu yg dirasakan banyak orang, tapi sedikit orang yang peka, hal ini bisa dibuat cerita. tapi, agak sedikit kecewa dengan epilognya, karna dibuat seperti menentukan pilihan, karna dari cerita dari awal sudah diajak mengawang berpikir idealis, mungkin menurutku epilogya bisa dibuat lebih.....berpikir/menggantung...
well, tapi inilah alam berpikir dodi.. nice books :)