Berantakan sudah hidup Diaz Hanafiah, cowok dingin berdarah Indonesia-Meksiko. Setelah selama ini dirinya merasa tidak nyaman berada di antara para sepupu yang kaya, berada, dan bagian dari socialite Jakarta, ternyata pacarnya yang cantik, Anggia, juga mengkhianatinya.
Lalu datang Sisy. Mungil, cantik, dan masih duduk di bangku SMA.
Seperti siraman air dingin yang menyejukkan sekaligus mengejutkan, Diaz terpesona dengan kepolosan—dan ketulusan—teman barunya, dan pada saat bersamaan menyadari: mungkin ia tidak setulus itu. Mungkin ia memiliki agenda lain.
Mungkin bersama Sisy, ia jadi mampu bersikap lebih hangat kepada wanita. Kekurangan yang selama ini melekat pada dirinya—dan selalu Anggia keluhkan.
Sitta Karina Rachmidiharja merupakan penulis kelahiran Jakarta, 30 Desember 1980 yang karya-karyanya diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama, Mizan, dan Lentera Hati Group.
Sebagian besar karyanya akan dirilis ulang oleh penerbit Buah Hati (Lentera Hati Group) mulai 2013, termasuk serial keluarga besar Hanafiah dan Magical Seira.
Ia pernah menjadi juri pada ajang apresiasi sastra Khatulistiwa Literary Award 2008, pengajar pada Coaching Cerpen Kawanku 2009 dan 2010, serta menjadi kontributor cerita dan feature article pada majalah remaja kenamaan seperti CosmoGIRL! , Gogirl!, Spice!, Kawanku, dan lainnya.
Selain menulis, Sitta sangat menyukai fashion, kopi, dan olahraga.
-----------------------------
Serial Magical Seira (akan rilis ulang bertahap 2012-2013):
Magical Seira 1: Seira and The Legend of Madriva Magical Seira 2: Seira and Abel's Secret Magical Seira 2.5: The Sand Castle Magical Seira 3: Seira and The Destined Farewell
OK, Sitta Karina punya bahasa Inggris bagus, dan mungkin juga sedikit bahasa Spanyol. Tapi, selain jual mimpi, aku nggak tau buku ini mau kasih pesan apa buat pembaca? Cinta itu bohong? Hujan itu romantis? Cewek bertampang biasa, tapi sangat lembut hati, serba sempurna dan dicintai semua orang? Hello..., Sanchai banget ya??? Deskripsi tentang 'high-society' nya juga masih setengah-setengah dan terkesan 'pandangan orang luar'. Yah mungkin satu-satunya kelebihan buku ini adalah, Sitta dengan brilian memasukkan berbagai brand-brand terkemuka, sehingga buku yang ringan kayak kerupuk ini, akan dengan mudah diterjemahkan menjadi skenario -Oh, I'm sure bakalan banyak produser yang berebut bikin film dari cerita enteng ini- yang dengan tanpa kesulitan mengakomodasi berbagai brand lifestyle yang mau menjadi sponsor.
mungkin setelah reviu ini saya akan dimusuhin para penyuka sitta karina, maaf ya. tapi jujur, saya sukar masuk ke dalam cerita Lukisan Hujan karena terlalu banyak kebetulan. Terutama bagian Sisy yang punya track record tiga kali 'nyaris' diperkosa. Entahlah... tiga kali? Dan si Sisy-nya tidak terlihat trauma ato apa gitu. Plotnya rada lambat, jadi ada kesan dipanjang-panjangkan. Plus, terlalu banyak tokoh-tokoh yang dijelaskan. Saya kira ini tokoh penting, nggak taunya hanya figuran.
Saya baca LH setelah baca Pesan Dari Bintang. Dari segi setting, PDB jauh lebih baik daripada Lukisan Hujan. Di LH, Sitta kurang mengeksplor tempat-tempat fiktif yang menjadi setting novelnya (mis: Karlu, Taman Chitrakala). Bahkan, buat saya yang berdomisili di Jakarta sekalipun, tetap sulit membayangkan tempat-tempat di Lukisan Hujan.
Dulu, saat pertama kali membaca novel ini, saya rasanya jatuh cinta sekali pada sosok Diaz dan Sisy. Tapi sekarang, saat membaca ulang bertahun-tahun kemudian, saya tidak mendapatkan interest yang sama. Semuanya terasa, maaf, dangkal. Dan kekanak-kanakan. Too much drama. Kok rasanya tokoh Diaz nggak sedewasa yang saya ingat dulu ya? Atau mungkin saja selera dan cara pandang saya yang berubah. Kebanyakan, novel-novel yang dulu saya suka, sekarang tidak lagi membuat saya berpendapat sama.
Dua bintang, untuk keindahan cerita yang dulu saya kenang.
Sebenarnya aku agak terganggu dengan kenyataan bahwa sebagian besar pembaca memberi rating yang bagus untuk buku ini tapi anehnya aku bahkan nggak bisa masuk ke dalam cerita, apalagi menyukai tokoh-tokohnya. Mungkin ada yang salah denganku. Awalnya kupikir itu karena mood bacaku yang lagi gak bagus karena sebetulnya ide cerita serial keluarga Hanafiah ini cukup menjanjikan. Makanya kuputuskan untuk mendiamkan novel ini selama beberapa bulan. Tapi setelah dua kali berhenti dan mencoba lagi, hasilnya sama aja.
Dua tokoh utamanya labil, banyak adegan yang berputar di bagian itu-itu saja jadi menurutku seharusnya jumlah halamannya gak perlu setebal ini. Sejumlah adegan dan percakapan antara Diaz dan Sisy membuatu mengernyit beberapa kali dan nyeletuk "apaaaan sih?".
Novel ini tertolong dengan gaya bercerita Mb Sitta Karina yang luwes dan mengalir dengan baik. Mungkin aku masih akan mencoba baca serial hanafiah yang lain, bagian Reno dan Nara kayaknya menarik untuk diikuti. 2.5 Bintang
Cerita cinta Diaz, si salah satu pewaris grup Hanafiah yang diceritakan kaya raya, tajir melintir. Namun berbeda dengan semua sepupunya , Diaz dididik dengan sederhana oleh orang tuanya. Gaya hidup lingkungan glamor membuatnya susah cari temen yang beneran tulus termasuk cari pacar. Sampai ia bertemu si Sisy, tetangga barunya.
Biasa aja sih ceritanya, tapi ya ala ala rangkaya gitu deh. Terlalu panjang menurutku untuk jadi 500an halaman gini. Kalo baca zaman SMA kurasa aku dah suka banget ini buku.
Masih belom lanjutin dr hal. 123 krn banyak bgt telling walau gue oke2 aja sama gaya nulisnya.
Lukisan Hujan bertokoh utamakan cowok kuliahan dan cewe SMA. Dari segi usia dan konflik sebenernya cerita ini lebih cocok masuk teenfic atau mungkin YA. Tapi dari segi nuansa memang terasa lebih dewasa ala novel romance. Neski begitu, karena tokoh2nya masih remaja dan remaja-dewasa, novel ini rasanya jd kayak novel romance nanggung. Gue pikir cerita Sisy-Diaz saat masih muda cuma sebentar, terus ntar skip time saat mereka udh dewasa di pertengahan cerita. Tapi ternyata skip time kisah mereka saat dewasa baru ada di buku lanjutannya (Kesatria Hujan dan Putri Malam kalo ga salah). Gue mau coba baca dg cara skimming karena mau cepet tau inti ceritanya (dan krn tellingnya banyak beut), tapi gue cukup menikmati gaya nulisnya Sitta jd merasa sayang kalo cuma skimming. Cuma telling bgt sih ceritanya gmn dong huhuhu.
Hal lain yg bikin gue gak semangat baca novel ini adalah: gue gak nangkep masalah hidup tokoh2 utamanya selain cinta tuh apa. Like, ok I got it, Sisy masih remaja dan Diaz masih kuliah, jd wajar kalau konflik hidup mereka masih sederhana. Tapi, bener2 berasa kek gaada masalah hidup selain cinta asmara gitu.
Satu lagi yg bikin gue ga semangat baca: gue gatau goals and fears karakternya ini apa. Goals and fearsnya yg lebih esensial (dibanding cuma asmara tok) itu apa? Gue cuma nangkep Diaz diem2 naksir Sisy dan sebaliknya, tapi goalsnya Diaz dan Sisy bukan jadian melainkan ttp jd abang-adek yg memendam rasa (?) trus mereka abang-adekan. Diaz gak punya ketakutan, Sisy paling takut mantannya dateng lagi tp konflik ini udh diselesaikan dg si Diaz jd abang2an dia supaya mantannya Sisy takut. Sure, gue emg cuma baca sampe halaman 120-an tapi sampe halaman itu masa iya sih belom ada show ttg goals and fears karakter2 utamanya itu apa?
Walau demikian, berlembar-lembar kisahnya masih bisa gue nikmati krn pembangunan nuansanya masuk selera gue. Gue suka krn nuansanya cenderung elegan alih2 rom-com-ish vibes atau fun.
But idk, mungkin buku ini bukan my type of book walau gue suka sama gaya nulisnya. Aneh juga sih gue. Gue tuh dulu pdhal ya gak masalah sama telling2 yg banyak. Buku2 yg dulu gue suka, yg even gue kasih bintang 4 pun skrg setelah gue baca jd terasa b aja krn tellingnya banyak. Makanya dlm waktu dekat gue belom ada niat utk melanjutkan buku ini. I think I might drop it here so, DNF.
Naikkan jadi tiga bintang dari bintang sebelumnya karena usaha perbaikannya Sitta Karina terhadap seri ini. Di beberapa tempat lebih suka yang dulu, scenes-nya berasa lebih padu dan mengalir sementara yang sekarang di beberapa tempat terasa rushed hingga mengandalkan telling dimana-mana. Padahal poin utama saya menyukai Sitta Karina mau se-teen apa pun ceritanya itu karena jalinan kalimatnya yang ngepop tanpa mengurangi unsur keindahan tata bahasanya, yang sayangnya nggak terlalu kelihatan di versi yang ini. Di sisi lain, ada perkembangan juga soal masalah membuat Lukisan Hujan jadi in line dengan seri Hanafiah yang terakhir. Ada banyak fakta ditambahkan yang jadi hints untuk ke depannya, menjadikan LH semacam kickstarter untuk seri Hanafiah, di saat versi sebelumnya hanya seperti cerita seri lepasan. I like that.
Lalu.... selanjutnya rant(?) pribadi soal Nara.
Merasa beruntung jatuh cinta sama Nara-nya udah dari dulu, karena kalau pembaca baru dan baca versi ini, walau secara kuantitas Nara sering nongol, tapi secara kualitas dia tidak sememikat (elaaah) dulu lagi, terutama karena lines yang saya suka dari Nara, yang memberi kesan kalau dia itu slick and sly dihapus dan malah diganti dengan memberitahu pembaca secara gamblang kalau dia slick and sly. Nope. Give Nara his lines back and that'll do more effective than many descriptions of his haughtyness. Dan ini kayaknya bukan cuma Nara, tapi juga berimbas ke banyak karakter lain, kecuali Anggia yang justru jadi lebih dieksplor di sini.
Setelah sekian lama menantikan kelanjutan seri Hanafiah, akhirnya muncul juga remake Lukisan Hujan. Ya, buku yang bbaru dirilis ini merupakan remake dari buku berjudul sama karangan Sitta Karina tapi dengan penerbit yang berbeda. Serunya lagi, Sitta Karina pun menambahkan isi ceritanya menjadikan cerita ini lebih detail dan jelas dari sebelumnya.
Pertama kali baca buku ini waktu SMA saya sudah sangat jatuh hati dengan gaya penulisan ringgan Sitta Karina. Alur cerita yang mudah dipahami dan tidak berbelit-belit membuat saya terus mengikuti seri ini.
Beda dari buku sebelumnya, banyak adegan manis antara Sisy dan Diaz yang ditambahkan tanpa merusak alur cerita. Juga tambahan-tambahan informasi yang membuat pembaca yang kurang paham dulu, bisa lebih memaham pendalaman cerita dan karakter.
Saya sendiri sebenarnya tidak pernah punya masalah saat membaca buku ini, tapi saya tahu ada teman-teman yang mengkritik buku ini. Tidak realistis, dan terlalu banyak kebetulan yang dipaksakan dalam beberapa adegan. BEgitulah komentar beberapa teman saya. Cowoknya terlalu sempurna dan ceweknya biasa saja. beberapa bilang begitu. Well, tentu saja tidak mungkin sereakistis hidup kita, itu sebabnya disebut fiksi roman. Tuntutan pasar tentunya untuk membuat cerita yang manis yang bisa menbuat pembacanya iri setengah mati pada para tokoh dalam cerita.
Dan saya acungkan jempol untuk Sitta Karina yang berhasil membuat saya jatuh cinta setengah mati pada para pria-pria Hanafiah. Juga untuk pengetahuannya soal kehidupan sosialita dan nama-nama brand terkenal. Soal selera saja seberapa kita menyukai buku ini. KArena menurut saya, membaca buku itu membuat kita bisa mengeksplor lebih jauh dunia baru. Sehingga kita bisa bertemu tokoh-tokoh yang kelewat seksi sampai yang baca pun merasa berdosa, setajir raja-raja dan punya perawakan yang ngga kalah sama dewa-dewa Yunani. Kita memanjakan imajinasi kita melalui cerita-cerita indah macam ini, makanya disebut novel fiksi.
Tak sabar menunggu buku selanjutnya di remake lagi. I adore your work!! ^^
Pertama kali saya membaca novel Lukisan Hujan adalah jaman SMU, dan kesan pertamanya begitu hebat karena saya percaya waktu itu LH adalah teenlit yang ‘beda’. Beda dalam artian lebih manis, lebih berisi, dan lebih ‘wah’. Makanya sewaktu LH versi baru ini keluar, saya langsung buru-buru beli, meskipun baru sempat menyentuhnya beberapa saat yang lalu.
Awalnya agak skeptis dengan penulisan ulang Lukisan Hujan, sebetulnya sih dalam hati bertanya-tanya, kenapa pula harus ditulis ulang? Kenapa nggak nulis kisah baru tentang Reno atau Nara, sih? (secara dua itu favorit saya!)
Dan kesan setelah membacanya : plus minus memang tetap ada di versi baru ini.
Poin plusnya, para sepupu Hanafiah digambarkan lebih jelas di sini. Terutama Nara dan Sword’s Tears-nya (iya, ini bias. Saya suka Nara soalnya). Beberapa bagian juga dielaborasi lebih lanjut, jadi lebih mengena. Ada beberapa tambahan bab pula yang membuat novel ini nggak terlalu sinetroniyah dan sedikitnya reasonable. Hmm, dan saya makin suka dengan Inez-Niki!
Sisi minusnya, pada penulisan awal rasanya tulisan khas Sitta kurang berasa, nggak sih? Kemudian perubahan karakter Diaz (yang lebih labil), dan Sisy (yang lebih annoying) sejujurnya membuat saya kurang menikmati interaksi di antara mereka. Juga dengan Igo yang lebih ‘jahat’ dan Mireille yang lebih ‘dangkal’. Entahlah, dulu saya merasa Diaz itu keren. Apa karena sekarang umur saya lebih tua dari Diaz maka penilaian saya ikut berubah? Mungkin.
Overall, tetap bacaan yang bagus. Meskipun saya lebih suka versi lamanya. Jadi, kalau dulu saya berikan 4 bintang, maka untuk versi barunya 3 bintang aja. Membuat total keseluruhan 3,5/5 :D
Ps. Plus, di edisi baru ini, saya jadi lebih suka sama Adry! Dan menurut saya quote yang paling ngena: “Forever is one schizophrenic thing” – Adry Kielsten.
Maaf buat fans Sitta Karina, tapi saya agak kecewa sama buku yang ini. Saya penggemar kisah Klan Hanafiah, tentu, terutama Nara (Naraaaaaaa! *huggles*), tapi saya sendiri menyatakan bahwa saya bukan penggemar romansa yang manis dan... pure romansa. Menurut saya kisah ini konfliknya terlalu klise dan sangat teenlit. Remaja SMP atau SMA mungkin akan tergila-gila dengan keromantisannya--dan sialnya saya baca ini waktu kelas 3 SMA dan saya nggak tergila-gila--tapi untuk orang yang lebih dewasa dan pemikirannya lebih kompleks, cerita ini jadi terlalu datar dengan hanya mempermainkan romansa antara Sisy dan Diaz sebagai main theme and the only conflict.
Hal yang membuat saya kasih 2 bintang adalah: 1. Saya suka kisah Klan Hanafiah--as I said above. 2. Saya suka gaya bahasa Sitta Karina 3. Personally saya suka Sitta Karina-nya sendiri. LOL.
But sorry, Mbak Sitta, I love your other (Hanafiah) stories, but this...
This is the second book of Lukisan Hujan that I read. Well, actually this is the new version with new cover as well. The story is not that different with the old version but there are some details in this version. Overall, the story is as sweet as what I remember. The new cover is just so cute too. But unfortunately in this version, there’s no Sitta Karina’s painting like the old version. I just love Sitta Karina’s painting because it’s so simple yet so beautiful. But still, I loved to read the story of Diaz-Sisy again. Such a nice story to read.
Well, i found this book when Kak Arie came to my school at Tangerang. Talkshow about not afraid of being a writer. Pertamanya sih, saya nanya, Sitta Karina itu siapa? Karena memang novel indo bacaan saya cuma sedikit, dan saya cuma nyentuh terbitan terrant itu Eiffel I'm In Love. Jadi, dimulailah perkenalan dengan great writer satu ini di sekolah saya. Menang kuis, dapet Pesan Dari Bintang (PDB), saya masih belum puas. Karena tahu, ini cerita serial walau main characternya beda. Jadilah, saya beli yang paling pertama, yaitu Lukisan Hujan.
Kisahnya, inspiratif, romantis, dan mengingatkan saya dengan diri saya waktu SMP. Dimana saya juga ber-abang-adik dengan kakak kelas saya dulu. Jadi, untuk menyelami ceritanya, cukup mudah. Ditambah dengan penggunaan bahasa spanyol dibeberapa konversasi yang terjadi. Saya, yang memang penyuka latin, langsung tergugah begitu saja. Cerita mengalir bagai air, dan imajinasi saya mulai jalan. Membayangkan Diaz Hanafiah, walau seorang sosialita tapi kelasnya lebih pinggir. Tampan, tinggi, kulit putih sedikit tan, khas campuran latin mexico. Oh yeah, saya pecinta telenovela, jelas. Dan sisy, kecil, real teenager, walau bayangan saya, dia agak sedikit chubby, dan rapuh.
Memang, khas teenlit. Tapi dengan selipan beberapa qoute dan lukisan handmade oleh kak Arie, novel ini menjadi sesuatu yang luar biasa buat saya. Ringan, Santai, namun bermakna dalam. Salut untuk Kak Arie! (berasa telat banget baru review di goodreads sekarang ini)
This entire review has been hidden because of spoilers.
Pertama kali membaca buku ini sekitar 12 tahun yang lalu. Dan seiring dengan banyaknya buku yang saya baca, menjadikan buku ini tidak se'wah' yang saya kira pada awalnya.
Untuk edisi ini, saya merasa ada beberapa kejadian yang seperti terpaksa ditambahkan (persekongkolan Nara+Fey menurut saya sih ga penting dan agak lebay karena maksud dan tujuan Nara juga ga jelas2 amat). Ada pula urutan waktu kejadian yang tidak urut sehingga agak membingungkan. Penggambaran beberapa hal juga terlalu 'lebay' dan terlalu 'deramak'.
Tapi, saya tetap suka dengan dinamika para sepupu Hanafiah. Membeli ulang buku inipun karena dijanjikan kemunculan Nara (Kalo kata Yuu Sasih "apalah kita ini, beli ulang cuma demi Nara") (Walau tetap penasaran dengan Sigra).
Untuk yang menyukai cerita romantis remaja/new adult yang sederhana tapi bak dongeng, buku ini sangat cocok.
Hal yang menarik saya untuk membeli buku ini adalah covernya (cetakan pertama) yang benar-benar cocok dengan judulnya "Lukisan Hujan". Setelah membacanya, saya jatuh cinta pada cara bertutur Sitta yang terasa enak, ringan, dan mengalir. Setelahnya, saya selalu penasaran dengan buku-buku karangannya, bisa dibilang 'love at first sight'.
Ceritanya, sih, ABG, 'tinggi', dan mimpi abis. Siapa juga yang nggak ingin menjadi bagian dari keluarga Hanafiah, beserta intriknya? Semua anak cewek juga bakalan iri sama Sisy, kekekeee... Akan tetapi, untungnya, Sitta secara implisit menyisipkan pesan moral dan nasihat tanpa berkesan menggurui dalam ceritanya. Dan, saya suka banget sama apa yang jadi tagline buku ini: amor es mentira (cinta itu bohong).
novel yg romantis. susah bgt sbenernya bikin cerita cinta yg nyentuh dan romantis, tapi seorang Sitta Karina membuktikannya dgn baik!!! simple, unique, and perfect. itu komen yg saya bisa berikan terhadap novel ini.
menceritakan tentang seorang cewek SMA bernama Sisy dan seorang mahasiswa bernama Diaz Hanafiah. Mereka bertemu di komplek rumah mereka. cerita cinta mereka dimulai ketika Diaz menjadi 'abang'-nya Sisy. intinya novel ini bagus. aq susah nyritainnya. harus beli dan baca. A must read book dee pokoknya!!!
Pertama aku ngeliat putri hujan dan ngeliat cuplikannya kynya bagus bgt gitu. Since itu buku kedua, aku cari buku pertamanya. Jd I read this book with some high expectations. Well, juz 2 sentences to describe: First, too idealist and second, too good to be true. Rasanya seperti di videoklip lagu lama yg bintang klip-nya jalan2 di pantai dgn rambut berkibar2 ditiup angin. Too good to be true lah.. tp tetep kebaca ampe abis kok, so i guess its not too bad;o) ps.the second book is way better kok;
saya suka sis gaya nulisnya Sitta Karina,,,kesannya emang kaya bgt ya,,hedonis & terasa kek nyata...tapi yg buat saya engga jadi ngasih bintang 5 yaitu soal umurnya Sisy yang bagiku terlalu muda,,,,well saya emang bukan pecinta teenlit...tapi cerita ini pengecualian lah (karyanya Esti Kinasih juga dim :v ) soalnya Sitta Karina nulisnya oke bgt. Biasanya saya bosan loh ya baca novel kalau tokohnya under 20 tahun hihihihihi..Sitta Karina sama Esti Kinasih emang juaranya teenlit bagiku wkkwkw.
Mengetahui pacar yang benar-benar dicintainya selingkuh sama orang lain, membuat hidup Diaz menjadi kacau. Dia nggak tahu apa salahnya, dia selalu mencoba memahami Anggia. Sifatnya yang serius, cuek, nggak bisa diajak bercanda membuat orang disekitarnya gerah karena sering marah, uring-uringan akan kandasnya hubungan asmaranya, Diaz nggak mudah deket sama cewek, sekalinya deket Diaz akan bener-bener serius ngejalaninnya, sekalinya terluka makan akan sakit banget. Kemudian datang lah sang penyelamat, gadis mungil, little diva yang diidolakan anak-anak komplek, yang juga sepupu Fey, teman satu komplek Diaz. Gadis itu membawa keceriaan, warna yang baru bagi hidup Diaz.
Pertemuan pertama mereka kala hujan, kala dengan sembrononya Sisy mengenderai mobil dan hampir menabrak Diaz, dengan sifatnya yang galak, dingin, temperamental, nggak segan-segan Diaz langsung memarahi dan menceramahi Sisy. Sisy yang sadar akan kesalahannya pun rela kena semprot, bahkan dia sok-sokan ngerti akan masalah yang melanda mobil Diaz, yang hampir ditabraknya, yang membuat Diaz tertawa lepas.
Mereka bertetangga, memudahkan mereka untuk sering bertemu dan menjadi ‘dekat’. Keceriaan Sisy menular pada Diaz, sedikit demi sedikit gadis mungil dan polos itu menyembuhkan hati Diaz, mereka sering ngobrol, Sisy sering bercerita tentang hidupnya dan Diaz lebih ke tugas kampusnya. Sisy suka memasak buat Diaz, Diaz sering mengajari pelajaran yang nggak Sisy bisa, contohnya fisika. Sisy pernah bercerita kalau dia pernah punya kakak laki-laki yang kini dikangenin. Tanpa berpikir terlebih dahulu Diaz menawarkan sebuah hubungan baru diantara mereka, abang-adik. Diaz ingin menjaga dan melindungi Sisy, sedangkan Sisy ingin menjaga perasaan Diaz, ingin Diaz nggak kesepian lagi. Kalau mereka nggak mendeklarasikan sebagai abang-adik, orang-orang akan berpikiran kalau mereka adalah pasangan yang sedang dimabuk cinta.
Bagai menelan buah simalakama, mungkin itu yang dirasain Diaz, awalnya dia menawarkan hubungan itu untuk berlatih agar bisa membuka diri terhadap wanita, Sisy adalah teman berlatih yang pas, dengan keceriaannya membuat Diaz bisa menjadi dirinya sendiri. Sayangnya, lama-kelamaan Diaz nggak bisa berpisah dari Sisy dan cemburu ketika sahabatnya, Igo, dekat dengan Sisy. Diaz ingin terus melindungi Sisy.
Lain lagi dengan Sisy, gara-gara mendengar teman-temannya curhat gimana cara mengatasi cowok yang sering jutek, BT, moody dan akhirnya marah-marah yang artinya sedang kesepian dan tertekan, Sisy langsung teringat akan abangnya. Dia pun meminta Inez Hanafiah, sepupu Diaz untuk mencarikan cewek yang pas buat Diaz. Sisy ingin Diaz mendapatkan cewek yang sempurna, dia ingin ‘abang’nya bahagia, dia ingin melihat Diaz nggak marah-marah lagi, nggak merasa ‘hilang’ lagi.
Hubungan Sisy dan Diaz mulai merengang ketika Diaz dekat dengan artis pendatang baru yang cantik banget, Mirelle Stockton, yang masih keturunan bangsawan Inggris, sesuai harapan Sisy, mereka adalah pasangan yang sempurna. Imbasnya pada hubungan mereka adalah mereka jarang bertemu, Sisy lebih banyak jalan sama Igo. Belum lagi pacar lama Diaz, Anggia, ingin kembali bersama Diaz yang dalam hal ini ada konspirasi antara Igo dan Anggia. Yang paling parah, nggak lama lagi keluarga Sisy akan pindah ke San Fransisco.
Kisah hanafiah pertama yang saya baca adalah Putri Hujan dan Ksatria Malam, sekuel dari buku ini. Awalnya saya nggak tahu kalau berseri, soalnya Putri Hujan dan Ksatria Malam langsung saya srobot di toko buku ketika saya menemukannya, yang emang susah baget di dapet. Kenapa saya bisa tergila-gila akan kisah hanafiah ini? Bahkan mencarinya sampai ke penjuru toko buku?
Pertama, saya suka ide akan semua keluarga di ceritakan. Dulu banget saya pernah membaca karya Nora Robert dengan seri MacGregor-nya, yang membuat saya tergila-gila, lalu saya menemukan versi Indonesianya dalam seri Hanafiah ini, ada pohon keluarga dan semua diceritakan di buku yang berbeda dengan benang merah yang kuat. Saya selalu suka cerita seperti ini. Kedua, ceritanya sendiri, masing-masing buku mempunyai konflik yang seru, terlebih konflik antara kedua tokoh utamanya. Dan yang terakhir adalah karakter cowok yang dibuatnya, loveable banget.
Pertama kali baca mungkin Lukisan Hujan ini alurnya terkesan lambat banget, terlalu banyak tokoh figuran, terlalu banyak bahasa Inggris, Spanyol, slang dan berbagai merk branded bertebaran. Tokoh yang diceritakan pun mayoritas kaum hedon, socialite, menengah ke atas. Dikata miskin pun tetep bisa makan atau minum di kafe terkenal, bisa keluar negeri, tetep punya mobil. Dan yang khas adalah ada aksi heroik dari tokoh utamanya, banyak konflik, ada ilustrasi dari penulis. Justru itu yang membuat saya tertarik, menambah wawasan saya, nggak sekadar teenlit, menjadikan itu semua ciri khas dari tulisan Sitta Karina.
Untuk tokoh figuran yang terlalu banyak, bagi yang udah baca sebagian besar bukunya Sitta Karina akan tahu alasannya. Sebagian besar tokohnya punya cerita sendiri. Sitta seperti membuat dunianya sendiri bagi kisah yang dibuatnya, selalu memiliki benang merah antara satu cerita dengan cerita lainnya. Itu sangat menarik, kita jadi tahu lebih dalam akan karakter yang dibuatnya. Kalau masalah orang kaya atau socialite yang selalu mewarnai bukunya, mungkin karena keluarga Hanafiah masuk dalam jajaran tersebut, Sitta ingin ‘menampilkan’ kesannya, menggambarkan gaya hidup kaum tersebut. Sedangkan untuk kategori orang yang nggak mampu, sejauh ini belum ada karakter Sitta yang tergambar seperti itu, kesannya tetep aja mampu. Kalau urusan fashion dan ilustrasi yang selalu ada di bukunya, ketika saya mencari info tentang penulis, kedua hal tersebut merupakan salah dua yang disukai penulis, sehingga nggak jarang dia mencurahkannya ke dalam tulisannya.
Demikian pembelaan pendapat saya akan tulisan Sitta Karina, hahahaha, itu dari kacamata saya aja ya, tiap orang punya selera masing-masing dan Sitta Karina berhasil menyihir saya.
Kembali ke Lukisan Hujan. Karena masih ada lanjutannya, buku pertama ini terkesan memperkenalkan para tokohnya, yang jelas sukses buat saya. Saya jadi pengen baca kisah keluarga Hanafiah yang lain, terlebih Reno Hanafiah, sang Casanova. Konflik yang disajikan pun biasa, diselingkuhin-sakit hati-menemukan penyembuh-sang penghancur datang kembali-mulai galau lagi, klise, tapi bumbu penyedapnya sukses membuat cerita ini begitu menarik. Saya suka hubungan Diaz dengan keluarganya, yang memilih miskin (tidak ingin mengambil bagian dari harta Hanafiah), berusaha sendiri, sehingga membuat Diaz harus berusaha keras mendapatkan apa yang diinginkannya, nggak semudah seperti para sepupunya, menjadikan dia serius, pendiam, dan dingin. Hubungan Diaz dengan teman-temannya di komplek Bintaro Lakeside juga membawa angin segar, banyolan mereka, tingkah polah mereka bisa membuat Diaz tersenyum, melupakan sebentar akan masalah yang dihadapinya. Hubungannya dengan Sisy seperti nano-nano, kadang Diaz bisa sangat menjengkelkan, kadang bisa sangat manis dan romantis, kadang bisa membuat Sisy sakit hati, berkebalikan dari sifat Diaz, mereka seperti air dan minyak dengan ajaibnya bisa menyatu.
Bagian yang paling favorit adalah ketika Diaz menolong Sisy dari preman kampung, saya suka banget sama ilustrasi yang dibuat kak Arie, cocok banget. Sama ketika Diaz mengabulkan semua wishlist Sisy, romantis abis :D.
Yang nggak disuka, ehmmm agak susah, kalau baca penulis favorit kita rasanya sempurna aja, ehehehe. Mungkin ke alurnya, berasa lama banget bancanya. Juga ada sedikit typo. Sama masalah karakter orang menegah kebawah, yang saya rasa gagal Sitta bangun.
Quote favorit saya:
“Kadang kita nggak akan tahu ending-nya, kalau nggak dijalanin, Si.” “Orang yang paling bisa bikin kita sakit hati adalah orang yang paling kita sayangi, bukan?”
Buku ini cocok banget dibaca untuk para remaja dewasa dan juga untuk kamu yang suka sama pohon keluarga :D
Plot cerita ini tidak jauh beda dengan versi sebelumnya. Perbedaan yang mencolok adalah diletakkannya remah-remah awal mengenai Nara dan Air Mata Pedang. Di versi baru, Nara menjadi lebih menyebalkan daripada versi lama, tapi untungnya hanya di paruh bagian awal. Plot dan karakterisasi juga masuk akal, membuat buku setebal 500+ halaman ini terbenarkan kepantasannya.
Dari segi narasi, saya jadi harus beradaptasi dengan gaya penulisan Sitta Karina: dibaca perlahan tanpa menghiraukan efektivitas kalimatnya. Kadang-kadang saya merasa dialog dan deskripsinya agak teatrikal untuk cerita berlatar modern, contohnya penggunaan kata pangeran, ksatria, bidadari, dan perisai. Coba bayangin aja, ada orang IRL bilang "seharusnya aku jadi perisaimu", atau "kamu tampan dan mematikan". Tapi karena ini semestanya Sitta Karina, dan terlihat bahwa inspirasinya banyak diperoleh dari serial drama macam Gossip Girls yang membangun atmosfernya, maka ya masuk-masuk aja, hahaha.
Secara umum, saya menikmati buku ini. Meski kadang-kadang saya menggerutu dalam hati tentang ketergantungan Hanafiah oleh barang bermerk alih-alih personal tailored things dengan harga selangit macam old money lain, atau bagaimana bisa ayah Diaz melepaskan privilese Hanafiahnya, atau bagaimana Hanafiah menjalankan gurita bisnisnya yang kalau skalanya sudah sebesar Asia Tenggara pasti kental politik yang cut-throat, dan sedikit-banyak akan merembes pada outlook kehidupan mereka.
Soal tema cerita tentang asmara anak kuliah dan anak SMA... menurut saya masih pantas kok. Diaz ini anak baik-baik, dan pacaran mereka selalu terpantau keluarga dan sahabat-sahabat mereka. Anak usia dewasa muda memacari anak di bawah umur tidak sehitam-putih yang para woke influencers pikir. Menurut saya, selama usia keduanya tidak terpaut terlalu jauh, pacaran beda jenjang pendidikan tidak selalu berakibat grooming jika dilakukan dengan respek dan tanggung jawab.
Pertama kali baca karyanya Sitta Karina karena jujur tertarik sama covernya dan cukup banyak orang yang suka dengan tulisan beliau.
Awal saya baca, buku ini ngasih kesan seru, plotnya ngalir gitu aja, dan ringan. Tapi lama-lama malah ngerasa bosen dan pacenya lambat bgt. Ditambah lagi konflik yang disajikan setengah-setengah, yang saya pikir 'Oh ini akan jadi konflik yang seru', ehh gatunya cuma gitu doang. Terus ada beberapa bagian ketika lagi membahas hal/masalah serius, malah mendeskripsikan yang ga perlu, jadinya yang tadinya fokus ke masalah itu malah buyar. Saya mulai ngerasa bosen banget sejak 2/3 novel ini, dan rasanya berat bgt nyelesaiinnya, jadi malah butuh waktu yang lebih lama daripada perkiraan.
Setelah selesai baca novel ini malah bingung apa yang bisa diambil dari cerita ini. Mungkin yang cukup dihighlight dari cerita ini adalah berani bilang tidak. Selebihnya bingung karena seperti tadi yang saya bilang, konfliknya ngambang. Ga cuma sekali saya dikejutkan dengan 'Kok penyelesaiian konfliknya gini doang?' yang akhirnya kurang mendapat feeling dan valuenya. Saya merasa harusnya novel ini ga ditulis sepanjang ini
Yang saya suka dari novel ini, beberapa percakapan bahasa inggrisnya dituliskan sangat luwes, suka.
Pertama kali baca buku ini di halaman pertama sempat bingung, terlalu banyak tokoh yang di sebut. Dan saya tipikal orang yang suka lupa dengan nama tokoh yang jarang di sebutkan dalam alur cerita. Kelanjutannya mudah di tebak, akan bagaimana dan tidak mudah bikin penasaran. Tapi, ini bisa disebut novel teenlit pertama yang pernah aku baca.
Karakter Dias yang begitu dingin memang sesuai dengan realita yang aku hadapi, tapi tidak dengan sikapnya yang mudah di bodohi Anggia. Aku suka sedikit banyak pesan yang di sampaikan penulis dalam novel ini. Lukisan hujan menggambarkan sikap seorang laki-laki yang bernama Dias yang dingin, dan seorang cewek bernama Sisy penyuka hujan. Tapi sifat emosional Dias sangat jauh dengan makna hujan yang dingin, menurutku.
Dan, kelemahan saya kurang menguasai bahasa Inggris, hampir keseluruhan isi novel tidak diberi footnote untuk memberi arti bahasa Inggris dari suatu kalimat tersebut. Akhirnya, bingung sendiri dengan apa yang dimaksud. Tidak semua pembaca mampu mengartikan bahasa asing yang dimaksud penulis, termasuk bahasa Spanyol dan sejenisnya.
It has some elements that i don't like like long winded plot, too much coincidence etc. Not forget to mention to many brand name scaterred in here and there. It feels like an ad in some points. Regardless, i still enjoy it. It feels like watching opera a/ultra rich tbh. You loathe it, but at same time you like it. It's not snooze-fest, but it's cringey yet i still turn the page to knows what's going on.
Ps : Sissy description is an Ordinary girl with Ordinary face and life. Yet she made 2 handsome men head over heels. Plus from the description of her life style, she is obviously having comfortable life. Her figure doesn't sounds ordinary at all to me.
Udh baca cerita ini dari lama dan br memutuskan nulis review buku ini karna kangen sm cerita ini (aku baru aja namatin bbrp novel dan bagi aku saat ini cm metropop series karangan Sitta yg oke). Aku amat jatuh cinta sm karakter dr semua nya disini. Amat sangat manis dan memorable. Mungkin ini yg Sitta blg kali ya, how she wanted pembaca untuk jatuh cinta dengan karakternya so most of us will forgive them kl suatu saat mereka buat salah heheh. Thumbs up buat Sitta
Entah saya yang kurang bisa masuk ke dalam alur kisahnya atau memang alurnya yang lambat sekali. Kita seperti dibawa muter-muter dulu padahal sebenarnya dari awal sudah tahu akan seperti apa endingnya. Mungkin juga karena saya kurang begitu relate dengan tokoh rekaan sejenis Diaz dan keluarga besar Hanafiah di buku ini. Their lives a lil bit too much. Tapi tidak menutup kemungkinan akan membaca seri yang lain dari Hanafiah.
3,5/5 actually. Still craving for 0.5 stars @ Goodreads.
Sebelumnya udah baca Imaji Terindah sama Pesan dari Bintang. Ketemu Diaz di Lukisan Hujan ini ngebuat aku melihat sisi lain dari Hanafiah, dan pressure yang didapatkan dengan memiliki nama belakang tersebut.
Penasaran sama buku keempatnya—tentu saja mengharapkan reuni Diaz-Sisy yang semoga bisa selamanya...
Besok deh nulis review lengkapnya. Udah tengah malam soalnya hahaha.
Re-read lagi buku ini, dulu jaman smp pinjam punya teman, perasaan bacanya ngga sama kaya dulu hehe feel pas bacanya biasa aja gitu wkwk.
Dulu mungkin mikirnya keren ya punya pacar pas sma udah kuliah, atau masih terpukau dengan standar kaya ala sinetron. Setelah kemunculan crazy rich asian, dan dibandingkan dengan gaya hidup skrg. Diaz dan keluarganya sama sekali ga keliatan kaya jadinya.
Overall tetap bring all those memories back then sih. Jadi aku masih kasih rating bagus