Kita tak akan pernah tahu di mana persimpangan akan ditemukan dan ke mana setiap arah akan membawa kita. Seperti Tirta memilih untuk belok kanan atau kiri. Seperti Sasha memilih untuk menyerah dan melawan jarak dengan hati. Seperti Diar memilih untuk berjalan sendiri atau berdua kembali meski pernah tersakiti. Atau seperti Roy saat harus memilih untuk menyatakan isi hatinya sekarang atau tidak sama sekali.
Buku ini mengajak Anda menjelajahi Hanoi, Ha Long Bay, Chicago, Washington, Philadelphia, New York, Roma, Venice, Lucerne, bahkan Paris demi sebuah jawaban. Bisa jadi jawaban itu ada dalam bincang mesra para pelaku buku ini. Atau, pada refleksi keindahan dalam setiap tempat tujuan mereka. Bisa jadi jawaban itu sudah ada dalam hati. Menunggu untuk didengarkan.
---
"Buku ini memang super bikin nyek-jleb! Ini kayak gue baca cerita jalan-jalan yang dibumbui cerita percintaan. Apa percintaan dibumbui cerita jalan-jalan? Ah, apapun itu, Trave(love)ing selalu bikin gue getir saat ngebacanya. Quote, cerita, foto, keren!"
Adis Takdos - Travel comedy writer.
"Surprisingly sweet and entertaining. Cerita para penulis tentang petualangan mereka dalam traveling diselingi kisah cinta, membuat buku ini memiliki nilai plus karena formatnya unik; menghibur sekaligus informatif."
Sudah menulis sejak tahun 2008. Sampai saat ini telah menulis 12 buku, 7 di antaranya buku antologi bersama penulis muda berbakat lainnya.
Lebih suka menulis komedi karena ia suka baca komedi dan beranggapan dunia sudah terlalu berat sehingga diperlukan bacaan yang ringan dan menghibur.
Ia berkeyakinan bahwa menulis bukan hanya soal pencapaian tapi juga tanggung jawab kepada pembaca. Untuk itu ia selalu menulis untuk berbagi nilai atau semangat yang positif.
Lebih lanjut tentang dirinya bisa dilihat pada akun Twitter @saputraroy atau blog pribadinya saputraroy.com.
I have to say, that having 4 excellent writers in one book,is like sipping a cup of jasmine tea accompany with smooth john legend and pisang goreng, while enjoying sunset.
Jadi? Komplit ceritanya..
ada beberapa cerita yang bikin gw berguman..hmm.. been there, done that,and felt like im having a dejavu by reading the book..
Anyway.. two thumbs up for writers.. as i feel like im doing the trip my self, cara deskripsi kalian enak dibaca ya :)
Gw senyum2 baca tulisannya roy dan tirta (which im happy to know that chacha was your 'home'..literally speaking).. sekaligus nyengir gede saat baca cerita sasha dan diar..
Frankly speaking, love it, karena ceritanya sangat membumi, natural and it happens !! Gw gak merasa terganggu sama sekali dengan gaya penulisan yang berbeda, infact, its like having 'sekoteng' while enjoying the rain. Somehow, it blends in harmony. (antara aer ujan dan sekoteng maksudnyahh..)
Yang jelas teknik penggambaran deskripsi tiap destinasinya keren-keren. Terutama yang di Vietnam. Keren juga legenda naga yang turun ke bumi untuk bantu orang Vietnam hadapin penjajahan Cina. Simbolisasi apakah?
Ceritanya bagus juga. Menyisipkan kisah-kisah cinta di sela cerita traveling. Tapi yang masih kurang adalah pada cerita Sasha. Pascs hilangnya barang-barang di New York, kenapa dis seolah biasa aja sewaktu pulsng dari traveling?
Review kali ini ditulis dengan penuh rasa bersalah, karena telah 'menyelingkuhinya' dengan bacaan lain. Kalau dilihat dari tanggal aku klik 'start reading' di Goodreads sampai tanggal aku nulis review ini, hasilnya adalah jeda 8 bulan. Waktu delapan bulan untuk membaca sebuah buku itu sungguh bukan prestasi yang membanggakan. *insert crying emoticon here*
Oke, lupakan dosa masa lalu tadi.
Well, waktu tahu buku Trave(love)ing jilid pertama yang ditulis Roy Saputra,cs akan dibuat lanjutannya, mau nggak mau buku Trave(love)ing 2 ini aku masukkan ke wishlist. Dan ketika bukunya sudah terbit, aku langsung ke Gramedia terdekat, lalu sukses jadi pembeli pertama. Proud of me! (lalu ingat dosa di bagian intro tadi; Nafsu beli buku nggak berbanding lurus dengan nafsu membacanya)
Berhubung Trave(love)ing jilid pertama dan kedua digarap oleh penulis-penulis yang berbeda--kecuali Roy Saputra yang notabene project leader, maka aku (berusaha) nggak akan membandingkan kedua buku tersebut.
Trave(love)ing 2 ditulis estafet oleh 4 penulis dengan gaya bercerita khas masing-masing. Tulisan Roy yang seperti biasa menghibur, walaupun porsinya sangat sedikit di sini. Tulisan Tirta yang penuh lelucon spontan. Tulisan Diar yang cewek banget dan penuh kegalauan. Dan, tulisan Eliysha yang (yang apa, ya?) menggambarkan sosok cewek petualang yang kuat dan optimistis. Halah.
Kisah perjalanan dan percintaan yang dibalut dalam 10 kota, 5 negara, 3 benua.
Paling suka bagiannya Tirta (apalagi adegan kissing yang fenomenal itu, haha). Untuk setting negara, paling suka deskripsi yang ditulis oleh Diar.
Premis yang diangkat di buku ini adalah "Why do you travel?" dan bagaimana alur yang dilalui untuk menjawab pertanyaan tersebut. Walaupun beberapa kali tersendat-sendat, makanya bacanya jadi lama, tapi over all eksekusinya berhasil.
Sebelum mengakhiri review kurang bertanggung jawab ini, aku mau kasih bocoran dikit. Ehm. Setelah sempat ketemu Kak Grahita (salah satu penulis di Trave(love)ing jilid pertama) di Palembang Trade Center dan sekian bulan setelahnya ngobrol bareng Roy Saputra di Palembang Square, aku sempat konfirmasi kalau bakal ada Trave(love)ing jilid ketiga (malah rencananya mau sampai 4). Katanya sih, penulis di jilid 1 & 2 bakal di-mix. Semoga jadi, ya!
Untuk Kak Tirta, aku masih nunggu buku solomu--yang gosipnya bakal terbit di GagasMedia itu! (bocor lagi)
Ketika membaca buku ini, mau tidak mau saya akan membandingkannya dengan buku Trave(love)ing 1. Buku dengan tema serupa yang merupakan cikal bakal terbitnya Trave(love)ing 2.
Secara umum saya sangat menikmati buku ini. Pilihan diksinya mudah dimengerti, saya tidak perlu memutar otak terlalu keras untuk sekedar memahami apa yang ingin disampaikan para penulis. Tema cerita yang diangkat juga merupakan hal yang hampir pasti akan dan pernah dialami setiap manusia.
Yang membuat buku ini menarik adalah walau berisi empat penulis dengan gaya penulisan serta cerita berbeda, transisi perpindahan kisah antar penulis cukup mulus. Sehingga pembaca tidak bingung atau merasa terdistraksi ketika menyelesaikan bab demi bab dalam buku ini. Penulis juga mampu mendeskripsikan lokasi wisata yang dikunjungi dengan detail, membuat saya seolah-olah ikut terbawa kedalam cerita.
Namun dengan segala kelebihan buku ini, jika dibanding dengan pendahulunya Trave(love)ing 1 ada satu hal yang terasa kurang, yakni 'hit' masing-masing penulis. Bagi yang telah membaca buku trave(love)ing 1 tentu masih mengingat betapa boomingnya istilah 'lempar koper dari burj khalifa-nya' Mya Haryono. atau 'Mr. Kopi' nya Grahita. Oh wait, ada satu 'hit' yang terlintas ketika saya menulis review ini, 'Ciumannya Tirta di Kebun Raya Bogor'! *spoiler alert* hahaha.
Overall, buku yang dibanderol dengan harga Rp.48,000. ini worth to read. Bravo buat Roy, Tirta, Diar dan Eliysha! semoga ada Trave(love)ing 3.
Suka!! Setelah membaca Trave(l0ve)ing yang pertama dan saya sukaaa banget sama buku tersebut, tanpa pikir panjang begitu Trave(love)ing 2 terbit saya langsung beli. Sayangnya, karena saya ini orang (sok) sibuk, jd buku yang udah terbit daru tahun 2013 ini baru sempat kebaca sekarang *salto* Ini juga karena tantangan membaca dari group Kampus Fiksi yang "memaksa" saya untuk bongkar bongkar rak buat cari 2 buku yang harus dibaca selama seminggu, dan yang gagal selesaikan bacaannya dan review, harus relain salah satu koleksinya ke pemenang reading challenge. No way!! Makanya saya putuskan untuk membaca buku ini, karena kebetulan lagi bosen banget mau baca novel dan saya lagi kangen banget jalan jalan tapi gak ada budget, ehm.
Catatan perjalanan sequel dari Trave(love)ing pertama ini sama menariknya dari buku pertamanya. Ke empat penulisnya, yaitu Roy, Tirta, Diar, dan Sasha bercerita tentang perjalanan mereka ke Hanoi, Ha Long Bay, Chicago, Washington, Philadelphia, New York, Roma, Venice, Lucerne, hingga Paris untuk sebuah pencarian jawaban tentang kisah cinta mereka masing-masing, ini yang membedakan buku ini dengan buku pertamanya yang lebih berkisah tentang perjalanan dan move on. Kisah yang disuguhkan ga kalah menarik dan jleb. Apalagi Roy dan Tirta menulis ceritanya dengan asik dan saya banyak dibikin terharu sekaligus tertawa.
Sangat telat banget baca buku ini. Tapi ga mengecewakan. Malah nyesel krn baru baca. Btw, 4 bintang untuk Roy, Tirta, Diar dan Sasha :)
Sebuah buku yang pada awalnya (maaf) saya lirik sebelah mata. Apa ini buku travel tapi kok ada cecintaannya? Kalau novel dengan latar belakang traveling dan dibumbui roman kan jelas. Lha ini? Ini kan travelogue? Alias kisah nyata? Apanya yang akan menarik? Apakah akan jadi roman picisan atau bagaimana?
Tapi pertanyaan-pertanyaan itu langsung menguap begitu saya membaca lembar demi lembar buku ini. Semua pertanyaan itu termentahkan! Saya terhisap ke dalam rangkaian kata yang ternyata manis. Walau disusun oleh empat orang penulis namun ada benang merah yang terlihat dari setiap babnya. Dan dengan cantiknya di dalam setiap bab yang ditulis oleh beberapa orang tersebut ada puzzle yang disisipkan dengan apik sehingga saya seakan ketagihan untuk membaca terus.
Isi buku sendiri jelas menggambarkan keindahan 10 kota, 5 negara dan 3 benua. Ditulis dengan apik penuh deskripsi menarik yang tidak membosankan namun juga tidak menggurui. Manis! (Ini kali kedua saya bilang buku ini manis, sekali lagi dapat piring, ndak? :mrgreen: ). Jadi saat membaca buku ini saya dapat membayangkan suasana klasik Ha Long Bay di Vietnam, romantisnya Paris bahkan hiruk pikuknya New York.
Boleh dibilang saya jarang membaca novel atau kumpulan cerita pop cinta lokal. Bukannya sombong atau sok Inggris, namun saya sering nggak merasa nyaman saat membacanya. Entah dilebih-lebihkan, entah mengada-ada, atau bahasanya aja yang nggak 'genah'.
Namun Trave(Love)ing sejak buku pertamanya berhasil membuat saya terus membalik lembarannnya tanpa bosan. Tersusun atas 3.5 cerita (well, bagian Roy kurang banyak! Namun dengan brilian Roy berperan sebagai benang merah yang menghubungkan Trave(love)ing part 1 dengan tiga cerita lainnya), Trave(love)ing 2 menyuguhkan kisah cinta yang dikemas dalam cerita perjalanan di 3 benua; Asia (Tirta), Eropa (Diar), dan Amerika (Sasha).
Saya suka cara Tirta, Diar, dan Sasha menyuguhkan kegalauan tentang perjalanan dan arti 'pulang' dengan caranya masing-masing. Dengan alternating appearance, semua berhasil membuat saya tertawa, gemes, dan lupa bahwa saya sedang menanti-nanti juga kelanjutan dari dua cerita yang lainnya.
Kalau dulu saya membaca Trave(love)ing part 1 tanpa ekspektasi dan ternyata saya suka banget, ternyata Trave(love)ing 2 ini memenuhi ekpekstasi saya :D
i read the Trave(love)ing 1, and i'm in love with it.. so, ketika melihat Trave(Love)ing 2 di rak buku Gramedia,, langsung kegirangan dan tak hitung tiga langsung membelinya.. i just read this book in just one night,, ketika waiting list novel yang mau dibaca se abrek abrek, tapi karena rasa penasaran alhasil novel ini di dahulukan.. hohoho.. ;) membacanya seakan membuka halaman kisah yang lalu, ketika hati ini masih labil menentukan di hati mana dia akan berlabuh.. but, i finally found my home.. so, ngerti banget deh rasanya,, another thing, buku ini mengasah jiwa petualangan gw, yang emang juga suka traveling.. (anyone's not??) ;) the fav positive thing that i can take is a bad experience is still an experience.. there's nothing we can do but just go through it :)
gue kasih bintang empat ya :) gue suka ceritanya mesipun gue belum baca buku pertamanya. empat penulis dengan cerita yang berbeda tapi benang merahnya yaitu 2 pilihan dan pada akhirnya berakhir di 1 jawaban.
cara penulisan alur maju mundurnya juga jelas. ngga banyak typo, jadi bacanya enak. sepertinya ini kisah nyata dari empat penulisnya ya. soalnya cara berceritanya itu mengalir dan apa adanya. kisah Tirta Prayudha ini bener-bener nohok, karena gue pernah di posisi Denira dan itu tuh bener banget sakitnya di saat pilihan sudah dijatuhkan. (sori jadi curcol hehehe)
Keren! Lagi-lagi hoki banget, nemu buku ini dalam rak diskonan gramedia. Cerita tentang jalan-jalan yang nggak hanya bercerita tentang jalan-jalan. Tentang tujuan, keberangkatan, alasan-alasan, pencarian jawaban, cinta (cieee), the feeling of getting lost sampe beneran get lost. berbeda dengan traveling note kebanyakan, buku ini diramu dengan gaya novel. Ada alur, konflik dan penyelesaian, (beberapa) tokoh, dan (beberapa) sudut pandang cerita. Yang menarik juga, di setiap bab ada definisi dari kosa kata yang berhubungan dengan traveling. Kayaknya, seru kalo dijadiin caption buat ig #eh.
Tirta HARUS terbitin kisahnya sendiri! hehe, paling suka part-nya dia soalnyaaa(h)! Lucu, saking lucunya nggak nyangka pas adegan di kebun raya bogor bisa romantis gitu. Nggak romantis-romantis banget siiih, tapi PAS ajaaa(h)! nggak kurang, nggak lebih.
Dan, saking sukanya saya sama part-nya Tirta, saya hampir aja lupa kalo dia sebenarnya lagi ngelakuin 'kesalahan'. Mungkin buat Tirta, kesalahannya itu adalah kesalahan terindah (tsahh!) tapi.. tapi...
Ya udahlah pokoknya novel ini bagus! Kualitas cover-nya aja yang agak disayangkan, gampang 'meringkel-meringkel' gitu :(
Empat cerita dari empat penulis digabung menjadi satu. Bertema perjalanan untuk menemukan sebuah jawabab bagi dilema masing-masing traveller. Buku yang sangat ringan dari segi tema, cerita, maupun penyampaian. Tapi alur keempat ceritanya mengalir lembut, terhubung satu sama lain dengan baik. Konflik-konfliknya meskipun sederhana bisa membuat kita berpikir 'yeah, I know that feeling'. Dan yang jelas lumayan buat menambah informasi tentang negara-negara yang dijadikan setting. Fave quote: Why do you travel? So I can come home.
Saya tidak begitu suka cerita kedua ini. Cerita Roy disini dangkal, hanya menceritakan perjalanan pulang hingga ke rumah. Begitu pula dengan penulis lain, tidak seluwes Trave(love)ing yang pertama. Apakah saya terlalu mencintai yang pertama?
Atau karena ada embel-embel 2 sehingga saya mengira buku ini adalah lanjutan dari buku pertamanya. Namun, visualisasi penulis pada daerah-daerah yang mereka lewati cukup meyakinkan.
selalu menyenangkan membaca buku ttg traveling apalagi terselip banyak kisah di dalamnya. Jokes dlm cerita Tirta menjadi pengobat rindu akan hadirnya humor spt buku sebelumnya (my fav story). Kisah Diar dan Sasha yg 'cewek' juga mjd kisah romansa yg asyik. Nikmatilah buku ini sembari ikut melanglang buana bersama cerita di dalam nya :)
kata-kata 'the boyfriend' ganggu banget menurutku.. di tengah tengah kata-kata dalam bahasa Indonesia tiba-tiba ada kata bahasa Inggris nongol sendiri sebaiknya sih sebutin nama aja langsung gak usah pake the boyfriend the boyfriend-an :)
paling suka bagiannya Tirta, bikin ketawa-ketawa sendiri baca kata-katanya :)
buku yg menarik. sebagai seseorang yang suka jalan2, buku ini asyik buat dibaca. berdasarkan pengalaman pribadi masing2 penulisnya. buku ini gak melulu soal jalan2 ke kota2 ato tempat2 baru, tapi juga perjalan hati. awalnya sih saya kira bukubya bakal membahas soal jalan2 aja, ternyata diselingi perjalanan hati dan keputusan hati buat memilih yg terbaik. boleh juga buat bacaan santai.
Empat penulis, dengan cerita yang berbeda, berhasil digabungkan dengan pas tanpa terkesan 'memaksa'. Sejumlah pertanyaan keluar, setiap kali mengakhiri suatu chapter, bagaimanakah korelasi dengan cerita selanjutnya. Hal ini yang mungkin menjadi salah satu daya tarik dari novel ini.
at least seri yang ini lebih "ok" daripada yang sebelumnya. Mungkin karena konfliknya lebih "ril" kali ya... jadi gak menye2 bgt. Penggambaran untuk travellingnya jg ok..