Jump to ratings and reviews

Komedi Sepahit Kopi

Membaca kumpulan artikel Zaky Yamani, dengan warna literary journalism dan feature yang kuat, saya merasa wartawan punya daya greget. Subjektivitas, yang kerap dianulir dari jalur objektivitas-fakta, menjadi seberkas kebenaran yang sekuat tarikan objektivitas jurnalisme itu sendiri. Saya ingin menyatakan rasa iri. Penyajian dan kedalaman isi yang dipaparkan, saya kira sudah mencapai kemenarikan sebagaimana immersion karya jurnalistik terjadi.

(Septiawan Santana Kurnia, dosen Fikom Universitas Islam Bandung, penulis buku Jurnalisme Investigasi, Jurnalisme Kontemporer, dan Jurnalisme Sastra)

Berita yang menarik tentu dibuat melalui proses yang berliku. Proses itu terkadang tidak mudah dan sangat menantang, sehingga ceritanya tidak kalah menariknya dari hasil reportase itu sendiri. Kebanyakan wartawan lalai mencatat kisah-kisah di balik berita. Dalam buku ini saya melihat Zaky mendokumentasikan secara rapi liku-liku di balik sebuah produk reportase, dalam sebuah deskripsi dan narasi yang baik.
Jika membaca habis buku ini, kita akan mendapatkan informasi-informasi baru yang mengejutkan dan mencerahkan, sehingga bisa mengubah kesadaran lama kita tentang suatu peristiwa. Pada rentang kariernya, seorang jurnalis serius akan mengalami pengalaman puncak (journalist's epiphany), yaitu ketika karyanya memberikan kesadaran baru bagi dia dan pembaca/pemirsanya. Kumpulan reportase satu dekade ini menunjukkan Zaky mengalami berbagai peristiwa puncak dan memperkaya batinnya.

(Budhiana Kartawijaya, wartawan senior, Pemimpin Redaksi Pikiran Rakyat periode 2010-2013)

318 pages, Paperback

First published October 1, 2013

Loading...
Loading...

About the author

Zaky Yamani

22 books53 followers
Zaky Yamani was born in Bandung City, July 27th 1978. He worked as a journalist and editor for the Pikiran Rakyat daily from 2002 until 2016. He graduated with an MA in Journalism from Ateneo de Manila University assisted by a scholarship from the Konrad Adenauer Asian Center for Journalism (2006 - 2008). Zaky also writes fiction, in the form of novels and short-stories.

Books published include Johnny Mushroom and Other Stories (2011), Thirst in the Water Field (2012), Coffee-bitter Comedy (2013), Bandar: Family, Blood, and Inherited Sins (2014), and Running Amok (2016). All of his books were written in Indonesian language

In 2008, Zaky received the Developing Asia Journalism Award in Tokyo, Japan, for his investigative report about water in Bandung City. Then in 2009 he received the Adiwarta Award (Indonesia’s journalism award) for his investigative reports on Indonesia’s foreign debts. In 2010 he received a Mochtar Lubis Fellowship to write about water. The book was published with the title Thirst in Water Fields. Again in 2012 he received the Adiwarta Award for his in-depth article about graffiti.

His first novel, Bandar: Family, Blood and Inherited Sins, was long-listed for the 2014’s Kusala Sastra Khatulistiwa (a national award for fictional works in Indonesia). In 2015 he was invited to the Ubud Writers and Readers Festival in Bali. Zaky will publish a collection of novelletes titled Kepada Assad Aku Menitip Diri (To Assad I Entrusted Myself) in 2017.

Zaky is also working on a new novel, a historical romance with fifteenth century Indonesia and Portugal as background. For this novel, Zaky joined the residency program organized by National Book Committee. He will be conducting research in Portugal.

Ratings & Reviews

What do you think?

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
3 (37%)
4 stars
5 (62%)
3 stars
0 (0%)
2 stars
0 (0%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 1 of 1 review
Profile Image for Langit Amaravati.
Author 12 books25 followers
October 25, 2013
Komedi Sepahit Kopi (KSK), sesuai dengan judulnya, berisi 10 reportase penulis yang bisa diibaratkan seperti secangkir espresso double shoot; nendang, pahit, getir. No sugar allowed. No sugar at all.

Bab pertama masih bisa membuat saya tertawa ketika membayangkan dua orang jurnalis muda (Zaky dan Bangkit) mengencingi laut seperti dua bocah laki-laki bertemu dengan permainan baru. Saya masih bisa tersenyum membayangkan mereka nyaris mabuk laut meski setelah itu dipaksa merenung tentang betapa para nelayan di Santolo mempertaruhkan nyawa demi 'bayaran' tak seberapa untuk menyediakan ikan-ikan laut yang saya makan, yang Anda makan, yang kita makan.

Bab kedua, saya masih bisa tertawa, menertawakan kekonyolan penulis dan kawannya Bangkit. Tapi bersamaan dengan halaman demi halaman yang saya mamah kemudian, tawa itu kian hilang. Berganti dengan raut suram dan dada yang berdebur geram. Tidak pernah saya merasa sesedih itu ketika membaca sebuah buku nonfiksi. Mungkin karena tokoh-tokoh yang ada di KSK adalah nyata, karena orang-orang yang dibelit kemiskinan itu benar-benar ada, karena keanjingan pemerintah Indonesia juga sama-sama saya rasa.

Bab ketiga dan seterusnya, saya sama sekali tidak sanggup tertawa. Yang ada adalah rasa sedih dan marah. Bagaimana tidak, kemiskinan, kelaparan, ketidakadilan, ketimpangan sosial itu bukan terjadi jauh di belahan lain Indonesia sana melainkan di provinsi yang sekarang saya tinggali, bahkan di kota yang sekarang saya diami.
***

KSK, meski bertajuk kumpulan reportase, namun seperti yang ditulis oleh penulis dalam pengantarnya, adalah tulisan yang memangkas jarak antara objektivitas jurnalistik dengan pembacanya. Melalui KSK pula, kita akan diajak menelusuri jalan yang ditempuh oleh para jurnalis agar ada berita yang dapat kita santap di koran setiap pagi. Bukan jalan yang mudah memang ketika membayangkan mereka harus menyebrangi sungai dengan sepeda motor, atau berkutat dengan konflik psikologis di daerah-daerah bencana.

Melalui KSK, kita tidak hanya diajak untuk mencermati proses sebuah karya (dalam hal ini berita), tapi juga segala sesuatu di balik itu. Kita (terutama saya) jadi tahu bagaimana potret sebetulnya masyarakat Garut pedalaman; para petani yang kelaparan, para nelayan yang menggunakan ban untuk menangkap ikan, para peternak transmigrasi lokal (translok) yang dikebiri janji demi janji tanpa ditepati.

Potret suram masyarakat marjinal inilah yang menjadi garis merah KSK. Potret yang mengerucut ke sumber yang sama; kelalaian pemerintah.

KSK membawa kesadaran tak terbantahkan; bahwa Indonesia masih menjadi negeri terbelakang.
***
Dengan sampul buku bergaya vintage yang sedang inn karya Domus, buku ini tentu dapat menarik pembeli jika dipajang di rak toko buku manapun. Sayangnya masih ada beberapa (lebih dari 3) typo yang menjadikan kenyamanan membaca berkurang. Di cetakan berikutnya, saya harap proof reader-nya bekerja lebih keras lagi.


Kebun Seni, 25 Oktober 2013
Displaying 1 - 1 of 1 review