Untuk sesaat dua tak terjadi atau terlihat apa-apa.
Ardi sudah mulai cemas bahkan mendekati putus asa, sementara Agus waspada kala melihat Nyi Katon tampak berdiri mengangkang, menempatkan keris yang ia genggam di depan mulut. Sambil bibirnya sibuk merapal mantra.
Lukisan tua yang tergeletak terhampar pada bingkainya di lantai mendadak tampak bergetar. Dan terus bergetar semakin kuat. Membuat lantai maupun benda apa saja yang ada di ruang duduk itu––termasuk mayat Suherman serta Elisa, tampak ikut bergetar.
Seakan ada penghuni perut bumi yang mendadak terjaga dari tidur. Lalu bangkit dengan marah...!
Abdullah Harahap dikenal sebagai penulis horor Indonesia yang sangat produktif khususnya di era 1970 dan 1980-an. Ia mulai menerbitkan cerita pendek sejak kuliah di Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan bandung, Jurusan Civic Hukum (tidak tamat). Awalnya Abdullah banyak menulis novel populer bertema percintaan, namun sejak 1975 ia sepenuhnya meninggalkan tema tersebut dan menulis sekitar 70 judul cerita horor dan misteri. Novelnya, Dikejar Dosa, dimuat di Tabloid Stop dan diangkat ke layar lebar oleh sutradara Wim Umboh. Judul-judul buku Abdullah Harahap antara lain adalah Sumpah Leluhur, Manusia Serigala, Menebus Dosa Turunan, Dendam Berkarat dalam Kubur, Misteri Anak-anak Iblis, Langkah-langkah Iblis, Tarian Iblis, Panggilan Neraka, dan Babi Ngepet. Buku-buku tersebut dicetak dalam format buku saku setebal 100-300 halaman, dengan sampul yang sering tidak mencantumkan tahun terbit maupun ISBN.
Tahun 1990-an, ia mulai berhenti menulis novel, meski tidak total dan mulai beralih membuat skenario untuk siaran televisi, khususnya yang bertema roman dan horor. Sejak itu pula novelnya mulai langka di pasaran. Di tahun 2010 tiga orang pengarang yakni Intan Paramaditha, Eka Kurniawan dan Ugoran Prasad berkolaborasi membuat suatu proyek pembacaan kembali karya Abdullah melalui kumpulan cerpen Kumpulan Budak Setan. Gairah terhadap genre horor ini kemudian disambut pula oleh Paradoks, anggota Kelompok Kompas Gramedia, dengan meluncurkan Misteri Perawan Kubur, karya lama Abdullah.
Kocakk, endingnya super ngeselin. anti klimaks banget. as if all the horror and terror was all .... kudu baca sendiri biar paham. bikin kesel, tapi sangat menghibur.
Buku kedua karya Abdullah Harahap yang aku baca. Jujur, aku lebih suka Penunggu Jenazah karena lebih seram, mistisnya lebih terasa, karakternya lebih menarik dan ada unsur psikologisnya. Kalau di buku ini problemnya lebih bersifat kekeluargaan jadi lebih dramatis aja. Dendam dan kutukan keluarga gitu lah.
Memang sih ada adegan tusuk sana-sini yang berakhir berdarah-darah pastinya, cuman belum seberapa dibandingkan adegan adu ilmu di Penunggu Jenazah. Nah, kalau soal faktor S alias adegan 18+ nya masih ada dan lebih mending ya dari pada Penunggu Jenazah (lagi). Kenapa sih selalu dibandingin? Karena cuman dua buku itu yang baru aku baca dan juga aku merasa nggak adil kalau aku bandingin buku-buku karya beliau dengan buku-buku horror sekarang. Beda zaman woiiii, mending bandingin nya sama buku-buku beliau yang lain ya...
Novel misteri dari penulis lawas yang katanya bacaan Eka Kurniawan zaman dahulu kala. hahaha.. cmiiw. Not my cup of tea, tapi baca ceritanya asyik juga. Berasa lagi nonton film horor Indonesia jadul yang ada perdukunan dan arwah. Ceritanya klise, tapi penuturannya smooth, cukup bikin penasaran sampai akhir cerita. Jadilah bisa tamat baca novel ini. hehehe...
Si nenek dan si kakek punya masalah yang belum selesai semasa hidup sehingga mereka masih berurusan dengan cucunya—walau sudah berstatus almarhum(ah). Diawali dengan kematian Suharyadi. Dia mati ditikam dengan keris—entah oleh siapa.
Sepanjang membaca novel ini, rasanya saya seperti menonton film zaman dulu di mana "orang sakti" berbicara dengan naga masih sesuatu hal yang masuk akal. Jalan ceritanya terlalu mudah ditebak.
Buku tipis ini tidak saya baca hingga selesai, meskipun sebenarnya tinggal beberapa lembar lagi. Entahlah, meskipun Abdullah Harahap adalah legenda, tapi saya tidak begitu klop dengan cerita-ceritanya. Mungkin terlalu cepat untuk menilai, karena saya baru membaca dua buku karya beliau (Kolam Darah dan Misteri Sebuah Peti Mati).
Pada awal cerita, novel ini sebenarnya cukup menarik. Intro yang diwarnai adegan sureal-erotis khas Abdullah Harahap, kemunculan Sang Juragan Anggadireja (satu-satunya hal yang menurut saya lumayan horor), dan konflik antara Agus dan Rudi yang menarik sempat membuat saya bersemangat membaca. Sayang, hal itu tidak bertahan lama.
Tidak ada ketegangan atau suspense yang membuat saya penasaran untuk membaca hingga selesai. Unsur misteri yang awalnya saya kira akan mendominasi, ternyata gugur di tengah jalan dengan diberitahukannya identitas si "penjahat". Ditambah lagi dengan penggunaan sudut pandang konvensional "orang pertama serba tahu", plot cerita jadi terasa datar dan membosankan. Memang, beberapa tokoh digambarkan kebingungan atau penasaran dengan apa yang terjadi, tapi apa gunanya? Saya tidak begitu peduli dengan mereka.
Beberapa adegan mistis lumayan keren--meski tidak sampai tingkat "sinting" seperti adegan di Misteri Sebuah Peti Mati. Adegan-adegan yang melibatkan mantra, keris, dan semedi ini sebenarnya menarik sebagai unsur dalam cerita fantasi-supernatural.
Mungkin saya memilih buku yang salah. Mungkin dua novel yang saya baca ini bukan representasi yang baik untuk karya Abdullah Harahap. Atau mungkin, saya menilainya dari kacamata yang jauh berbeda dari target pembaca beliau (kebanyakan fans-nya yang saya kenal membaca karyanya saat mereka masih kecil atau remaja). Yang jelas, saya tidak berniat menyelesaikan Kolam Darah saat ini.
Dengan semua misteri dan konflik yang dibangun di paruh awal novel, endingnya terasa sangat menyebalkan. Ngambek2an pasutri yg sangat extreme ampe ngeganggu 2-3 generasi setelahnya? n ditutup dengan bujuk rayu suami utk meredakan amarah istri? ngeganggu khalayak bgt dah ini pasangan rempong sakti mandraguna. meresahkan.
Melihat buku ini tergeletak di area obralan, langsung pingin bernostalgia pada masa kecil. Ciri khas penulis yang satu ini adalah pada tema horor yang diusung. Horornya beda lho dengan honor ala penulis luas. Nuansa muatan lokalnya terasa sekali. Hanya, kadang suka sebal membaca sinopsis di halaman belakang, sering terdapat spoiler. Jika sudah tahu siapa yang bakalan bertahan dan siapa yang bakalanmati (biasanya ada korban jiwa), muncul rasa malas untuk menuntaskan membaca kisahnya. Tapi unsur penasaran sering menang he he he. Pesan moral yang bisa diambil adalah kita harus mawas diri dalam bersikap, karena bisa saja kesalahan yang kita buat akan berdampak pada anak keturunan kelak. Bersikap iri hati justru akan membawa petaka.
Abdullah Harahap is indeed the MAESTRO of Indonesia's horror genre. This latest work just makes me hunger and thirst for more. Bravo, Pak Abdullah Harahap!!!
Selalu suka dengan cerita-cerita horor karangan Abdullah Harahap yang dikombinasikan dengan bumbu seksual yang satire! Kalimatnya ceplas-ceplos dan sangat mudah dipahami.