“Kenapa kamu sangat suka bermain bisbol?” Coba berikan pertanyaan itu kepada Aditya, pitcher tim, maka dia akan teringat seseorang di masa kecilnya. Tapi sudah lama dia tidak merasakan gairah saat bertanding karena tim mereka selalu kalah!
“Kenapa kamu sangat bersemangat menjadi manajer tim?” Berikan pertanyaan itu kepada Abby, si manajer baru. Dia akan menjawab bahwa bisbol adalah hidupnya. Tapi dia benci pada pemain yang tidak serius berlatih atau bertanding setengah hati.
***
Seperti sepasang pitcher dan batter dalam pertandingan, mereka berhadapan. Bayangkan lemparan bola seperti sebuah perasaan: bola melayang di udara dan tongkat berayun. Jika terpukul, mungkin bola akan kembali ditangkap dengan senang hati. Jika meleset, rasanya seperti cinta tak berbalas. Namun, pertandingan tidak hanya satu inning saja, masih ada kesempatan bagi hati untuk menentukan siapa pemenangnya.
Saya menunggu novel ini cukup lama--sejak diceritain Evi--karena tentang baseball. Unik. Oh iya, review ini SPOILER. Untuk yang gak suka SPOILER, saya minta maaf.
1. Riyan memiliki kekayaan diksi dan kosakata yang banyak. Riyan bisa membuat kalimat-kalimat berima yang tepat, indah, dan enggak maksa. Simak aja ini:
Andai waktu dapat diputar kembali. Sayang, waktu hanyak berdetik ke depan dan meninggalkan apa yang telah dia lewatkan, tanpa memberikan kesempatan untuk menjemput yang tertinggal. -Halaman 40-
2. Mengangkat cerita tentang baseball, unik. Cerita-cerita tentang klub sekolah selalu membuat saya tertarik. Rasanya menyenangkan membaca kisah persahabatan, perjuangan, dan cinta dalam sebuah klub sekolah. Karena sekolah mengajarkan banyak hal, juga lewat ekskulnya.
3. Meskipun suka menyimak jalannya pertandingan, saya agak puyeng dengan istilah-istilah baseball-nya, kayak "Inning", "Mound", dll. Mungkin yang disampaikan istilah umumnya saja, tapi buat saya yang buta baseball, saya hanya menerka-nerka saja apa yang dimaksud penulis. Memang sih kalau kebanyakan catetan kaki itu bikin kenikmatan baca berkurang, tapi kayaknya bisa diakali dengan memberi glosarium atau dijabarkan dengan narasi dan dialog.
4. Membaca bab-bab awalnya saya sulit sekali untuk masuk ke dalam cerita. Karena saya merasa penceritaan Riyan terlalu kaku di awal.
5. Baru kali ini saya enggak suka dengan tipe cowok agak bad boy. Biasanya saya langsung tergila-gila dengan tokoh seperti itu. Tapi pada Aditya, sampai akhir pun saya enggak menyukai tokoh ini sedikit pun. Huuuft. Saya malah lebih suka pada Ravan. Tokoh lainnya lovable, cuman Aditya-nya aja. Setiap tokoh kuat pengkarakterannya dan konsisten sampai akhir. Keren ^_^
6. Sebel sama hubungan gantung Ravan dan Morie. Karena saya paling suka kedua tokoh ini.
7. Di bab tengah sampai akhir, penceritaan Riyan mulai cair, enggak sekaku di awal-awal. Munculnya lelucon-lelucon dari trio kwek-kwek mencairkan suasana.
8. Beberapa hal enggak terjelaskan dengan baik. Mungkin karena saya kurang baik menangkapnya, atau memang begitu adanya. Seperti kenapa Aditya tiba-tiba berlaku kasar pada Abby dan menanyakan apa yang sudah dia lakukan pada Morie. Padahal sih sikap Morie biasa aja, enggak ada tanda-tanda dia marah pada Aditya karena dekat dengan Abby. Kemarahannya kan hanya diperlihatkan pada Abby. Malah kekesalan Morie ditunjukkan pada Ravan, jelas dia protes karena Ravan dekat dengan Abby. Jadi apa alasan Aditya berbuat begitu? Awalnya saya berpikir "Wow, keren nih puzzle-nya", banyak hal dirahasiakan yang nantinya akan dibuka di akhir, termasuk soal kenapa si Adit ini berbuat begitu sama Abby karena Morie. Ternyata... sampai akhir gak ada penjelasan sama sekali. Lalu soal adegan Adit dan ibunya. Ini maksudnya penyelesaian masalah mereka ya? Kok gampang bener? Katanya ibunya tuh dingin banget? Tapi udah aja cair begitu aja antara mereka. Lalu saya merasa seperti di PHP akan ada kelanjutan cerita mereka ketika pembantu mereka mengabarkan soal pertandingan Adit, kirain ibunya dateng atau apa, ternyata enggak ada sama sekali tuh. Intinya yang saya kira puzzle yang nantinya akan terangkai itu,ternyata puzzle yang tercecer dan enggak punya tempat dalam gambar.
9. Penceritaan masa lalunya unik, dengan menyimpannya di awal tiap bab.
10. Pemilihan tagline novelnya kurang pas: Tak perlu lagi takut untuk bermimpi. Karena fokus konfliknya bukan sulitnya menggapai impian, atau ketakutan akan sebuah pencapaian, atau ketakutan impian enggak tergapai, atau ketakutan memiliki mimpi.
11. Protes saya banyak ya? Tapi liat bintangnya: 4! Berarti novel ini bagus buat saya. Menunggu karya Riyan yang lain ^_^
Oke, jadi setelah saya selesai, cuma ada satu hal yang saya tangkep: scene pertandingan bisbolnya oke.
Kenapa saya mem-pinpoint pertandingan dan bukan cerita? Sederhananya, dari segi plot-wise maupun character-wise, saya merasa tidak ada yang istimewa. Inti utama dari buku ini adalah romance animesque yang berada di setting bisbol. Lebih tepatnya, romance animesque bertema osananajimi (childhood friend). Jika kita membandingkan dengan osananajimi-themed romance yang lain, maka bisa dilihat jika cerita ini mengambil formula yang mirip: 1. Boy met girl when they were children, and made some kind of agreement/promise. 2. One of them had to make sudden and abrupt leave. 3. Years later, (s)he returned, only to forgot about the childhood friend or found out that the childhood friend had changed a lot. 4. Series of obstacle insued, but in the end, both were dating.
Motif dan konflik karakter juga kurang dielab menurut saya. Buku ini terlalu banyak meng-hold pengungkapan, sehingga porsi pengungkapan motif juga terasa terlambat, jagged, dan tidak impactful. Semisal ketika tidak dijelaskan lagi mengenai dampak dari kejadian itu terhadap Abby. Atau . Pengarang tampak ingin membuat backstory ("arc") bagi tiap karakter, tapi eksekusinya kurang penuh, sehingga banyak memunculkadm pertanyaan seperti why, how, dan how come.
In the end, tiga bintang. 1,75 untuk bisbol, sisanya untuk naratif.
Mungkin ini baru pertama yang saya temui (mungkin sudah yang kesekian bagi pembaca lainnya) di Indonesia. Tema olahraga membuat novel ini berani tampil beda di tengah menjamurnya novel romance (yang hanya mengandalkan bumbu romance) di Indonesia.
Di sini saya nggak akan membedah terlalu banyak. Intinya, novel ini cukup enak untuk dinikmati -- buktinya saya bisa menyelesaikannya tanpa dipaksa (biasanya saya memilih stop dan meninggalkan sebuah novel jika saya ngerasa bener-bener bosan sama jalan ceritanya). Plot secara umum menarik, sayangnya karakter yang bermain dalam novel ini kurang berkesan. Ketika selesai membaca novelnya, tak ada satu pun karakter yang membuat saya terus ingat atau merindukannya (ceilah, he he). Menurut saya, dibanding menghadirkan ikon kocak Trio Kwek-Kwek yang garing (menurut saya) akan lebih ok kalau mengeksplor sisi-sisi tokoh utamanya. Sebenarnya sebelum membaca novel ini saya sempat berharap: ketika membaca novel ini saya penasaran dengan olahraga baseball. Namun, sampai selesai kesan tersebut belum berhasil menyerang saya. Jadi, baseball yang diceritakan sekadar lewat begitu saja saat membaca. Begitu selesai, ya sudah.
Seperti janji saya, saya nggak akan mebedah panjang lebar. Jadi cukup sekian. Satu hal yang harus saya apresiasi. Riyan berani mengangkat olahraga yang jarang dibicarakan di Indonesia menjadi fokus novelnya. Saya berharap, Riyan akan menghasilkan karya-karya selanjutnya yang lebih baik dari debutnya ini :)
Sejak pertama membaca draft novel ini, saya tidak sabar menantikannya menjadi novel. Akhirnya, novel ini berhasil saya baca utuh.
Keunggulan novel ini terletak di latar belakang olah raga baseballnya. Cool!
Nuansa yang dihadirkan mengantarkan saya pada komik-komik serial cantik. Beberapa adegannya pun mirip dengan adegan komik. Riyan berhasil mentransformasikannya menjadi kata-kata yang cukup tepat.
Sayangnya, chemistry antar karakternya kurang terbangun. Penokohannya juga kurang kuat.
Misalnya, bagaimana tokoh Abby ini menjadi begitu dekat dengan trio kwek-kwek. Kenapa Ravan menyukai Abby? Kenapa Abby menyukai Aditya, begitu sebaliknya? Saya tidak merasakan nostalgia antar mereka. Adegan apa yang membuat mereka merasakan masa lalu satu sama lain?
Tidak ada satu pun tokoh dalam novel ini yang saya sukai. Mungkin hampir menyukai Ravan, tapi itu pun terpatahkan dengan lemahnya karakter ini.
Lalu quote terakhir dalam novel ini: tidak perlu takut lagi bermimpi. Memangnya apa mimpi mereka? Memenangi pertandingan baseball? Itu tidak tersampaikan juga.
Istilah-istilah baseball juga membingungkan karena tidak ada catatan kaki. Atau setidaknya, istilah-istilahnya bisa diterangkan dengan narasi atau percakapan. Beberapa memang ada, lebih banyak tidak ada penjelasan dengan jelas.
Over all, novel ini layak dijadikan referensi untuk remaja, untuk memacu kegiatan positif :)
beberapa kelebihan yang terdapat dalam cerita ini yaitu penulis berani mengambil tema tentang bisbol, dimana sekali lagi aku katakan kalau bisbol masih belum terlalu dikenal masyarakat luas. Dan hal ini bisa menjadikan sebagai wacana bagi masyarakat umum ataupun pihak sekolah bahwa bisbol merupakan olahraga yang tidak kalah keren dengan basket ataupun sepak bola. Selain itu meskipun tokoh utama adalah anak SMA dengan kata lain novel ini bergenre teenlit tidak ada masalah jika memang harus dibaca oleh pembaca yang bukan lagi seorang remaja dan tidak perlu ada penyesuaian lagi, kisah cinta tidak alay jika di lihat dari kacamata pembaca yang sudah tidak remaja lagi. Desain covernya cukup unik dan bisa dibilang bagus apalagi nanti jika kalian membaca bakalan bertemu gambar gambar tentang bisbol, bisa dikatakan semacam manga bukan?
Kisah cinta segi banyak anak SMA, tentang bisbol dan kenangan masa kecil di taman bermain sewaktu senja. Untuk sebuah novel remaja, alur ceritanya lumayan menarik. Konflik yang dibangun juga cukup kompleks termasuk cara masing-masing tokoh buat menyelesaikan masalahnya udah rapih. Baru kali ini nemu novel indonesia latarnya bisbol, jadi langsung tertarik buat baca, karena pengen tahu sudut pandangnya kayak gimana
“Kenapa kamu sangat suka bermain bisbol?” Coba berikan pertanyaan itu kepada Aditya, pitcher tim, maka dia akan teringat seseorang di masa kecilnya. Tapi sudah lama dia tidak merasakan gairah saat bertanding karena tim mereka selalu kalah!
“Kenapa kamu sangat bersemangat menjadi manajer tim?” Berikan pertanyaan itu kepada Abby, si manajer baru. Dia akan menjawab bahwa bisbol adalah hidupnya. Tapi dia benci pada pemain yang tidak serius berlatih atau bertanding setengah hati.
***
Seperti sepasang pitcher dan batter dalam pertandingan, mereka berhadapan. Bayangkan lemparan bola seperti sebuah perasaan: bola melayang di udara dan tongkat berayun. Jika terpukul, mungkin bola akan kembali ditangkap dengan senang hati. Jika meleset, rasanya seperti cinta tak berbalas. Namun, pertandingan tidak hanya satu inning saja, masih ada kesempatan bagi hati untuk menentukan siapa pemenangnya.
Review
Awal saya melihat novel ini di rak toko buku, saya langsung berpikir, "Wah, kayaknya novelnya bagus nih."
Serius. Kovernya cantik, blurb di kover belakangnya menarik, dan tema bisbol yang diangkat tidak biasa.
Sayangnya, saya kecewa berat setelah menutup buku ini.
Narasinya aneh. Banyak bagian yang membuat saya berhenti baca karena merasa "lucu" dengan narasinya. Saya sempat catat beberapa di HP, cuma catatannya kehapus =_=". Penggunaan interjeksi satu kata pada dialog, seperti 'eh?' atau 'ah?'-nya juga agak kebanyakan dan itu cukup mengganggu buat saya.
Selain masalah narasi, saya juga punya masalah dengan karakter-karakternya. No likeable character at all. Tokoh utama ceweknya, Abby, tidak terlalu menonjol kepribadiannya. Cenderung membosankan malah. Tokoh cowoknya, si Aditya, kasar dan kalau bicara penuh tanda seru (alias hobi membentak). Terus di akhir
Karakter pendukungnya? Duh, sama aja. Si Revan gak jelas, si Morie dangkal khas cewek saingan cinta yang bitchy, si trio yang hobi ngelawak garing. Pada akhirnya, saya tidak punya satu karakter pun yang berkesan di hati.
Bisbol jadi satu-satunya bagian menarik di sini. Saya bahkan sempat skip ceritanya karena pengin lihat pertandingan selanjutnya seperti apa. Sayangnya porsi pertandingan di novel ini sedikit banget. Bahkan finalnya cuma makan 4 halaman.
Kesimpulan akhir? Kover cantik, blurb mengundang, narasi agak aneh, tokoh tidak menarik, bisbolnya oke tapi terlalu sedikit. Kalau dibanyakin saya pasti kasih 2 bintang deh.