Baiklah sodara-sodara, ini bukan novel cinta-cintaan seperti yg ditulis sebelum-sebelumnya oleh Robin Wijaya. Dari facebook penulis, udah ada bocorannya sebenernya, katanya tentang brotherhood. Saya nggak punya referensi lain tentang novel semacam ini karena lebih sering dicekokin drama korea. jadi tidak bisa membandingkan, kecuali film 9 Naga yang menurut saya bagus dan sarat makna.
Ada apa dibalik Versus?
Awalnya saya kira cuma cerita cowok-cowok aja yang temenan, terus muncul konflik dalam persahabatannya. But it's not. More than that. Versus mengangkat isu yang jarang disentuh penulis-penulis lain tapi kayaknya mulai marak ya. Sebut saja bullying. Dan itu baru satu dari beberapa konflik yang ada. Rasisme, permusuhan antar kampung, juga masalah anak dan orang tua juga keluarga.
Di dalam Versus kita akan dikenalkan oleh Amri, Bima dan Chandra (kali ini sinopsis di belakang novelnya berkata jujur, hehehehe). Ketiga tokoh tersebut bercerita lewat POV mereka masing-masing dengan porsi yang pas menurut saya. Dan mungkin itu yang membuat saya menaikkan rating novel ini yg awalnya cuma mau saya rating 4. Saya mendengar suara setiap tokoh dan perasaan mereka. Membuat saya melihat kasus dan cerita ini dari kacamata masing-masing dan akhirnya membentuk opini saya sebagai pribadi diluar cerita. Dan walaupun saya bukan penulis, saya tahu nulis dengan multi POV itu nggak gampang. Salut buat para penulis yg mau capek-capekan melakukan ini.
Lalu apalagi? saya suka dengan pandangan hidup Amri, Chandra dan Bima. Cerdas, kritis, punya idealisme, dan kepedulian pada sekitar. Paling enak waktu denger mereka ngobrol. Dialog-dialognya enteng tapi berisi, analogi-analogi yg kadang nggak penting, tapi kalo dipikir-pikir lagi emang bener sih.
Masih soal karakter. Kebetulan abis belajar tentang temperamen. Amri, Chandra dan Bima (ditambah Danu adiknya Amri) adalah paket lengkapnya Florence Lietaur. Amri si melankolis, Chandra si Sanguinis, Bima si Koleris, dan Danu yang plegmatis. Kebaca sih sama saya, dan mungkin itu yang bikin novel ini hidup. Karena tokohnya nggak seragam. Ibarat mata angin, mereka menunjuk arah masing-masing. Punya jati diri, tapi bersinggungan ke dalam satu pusat (walah, sok ngikutin analogi-analoginya Bima nih).
Bagian favorit saya adalah waktu Amri pergi dari rumah, galau, lalu datang ke makam Ibunya. Meski nggak sampai cengeng-cengeng nangis, tapi saya yg juga hidup dengan single parent tahu gimana rasanya cuma hidup dengan 1 orang tua. Dan bagian favorit lainnya tentu menjelang ending. Ketika masalah Amri, Chandra dan Bima diselesaikan satu-satu. Setelah membaca lebih dari 350 halaman, akhirnya saya bisa melepas nafas lega karena mereka berdamai dengan masalah (yang menurut Bima adalah diri mereka sendiri. Ya, masalah terbesar dalam hidup kita adalah diri kita sendiri kan?). Tapi sayang, epilognya bikin saya teriak 'what?????' ini kalo di film hollywood ceritanya penjahatnya udah mati tapi tahu2 bangkit lagi dari kubur. nyebelin!
Terakhir (baru kali ini bikin review panjang banget. iya, soalnya ceritanya juga panjang sih). Saya yang penggila cerita cinta-cintaan, tidak memasukkan Versus sebagai novel favorit saya dari Robin Wijaya. Tapi... menurut saya, dari cara nulis, cara bercerita, dan lain-lainnya, Versus adalah novel yang ditulis dengan baik, sangat baik malah menurut saya. Alurnya smooth tapi pasti, dialognya keren, tokohnya hidup, dan seperti biasa setting yang dibuat Robin Wijaya selalu detail. Dan saya rasa, Robin Wijaya sebagai penulis berkembang menjadi lebih baik di novel ini. Sekian.