Kau berkas biru langit di jendelaku. Tetapi kau pergi, hari-hariku pun kembali diisi sunyi. Kini kau kembali, tapi tak lagi kulihat biru. Langit yang mengiringi langkahmu mendung dan penuh badai.
Sejak sakit merampas pendengarannya, dunia Rahani menjadi sunyi dan sepi. Tuli dan tak lagi bisa bermain cello untuk mengejar kegeniusan sang kakak, dia tersingkir dari pandangan sang ibu yang memuja sang kakak. Pelarian Rahani adalah Bayu, yang selalu membawanya menikmati berkas biru langit di balik Jendela Leiden di rumah seberang jalan.
Tetapi, tragedi datang beruntun. Bayu pergi, kakak dan ayahnya meninggal dalam kebakaran. Tinggallah Rahani sendirian, merawat ibunya yang sakit akibat beban duka. Pelarian Rahani hanyalah menatap langit di Jendela Leiden rumah Bayu, sembari memainkan cello peninggalan sang kakak, meski musiknya tak bisa dia nikmati lagi.
Lalu, seorang pemuda misterius muncul ketika Rahani memainkan cello. Dia mengenalkan Rahani pada langit malam. Langit yang tak biru, tetapi menyajikan kilauan bintang. Bayukah dia? Dan mampukah dia mengusir mendung kesunyian di hati Rahani?
“Kau tak akan pernah menemukan Orion dan Scorpio berdampingan di satu langit malam.”
Aku baca buku ini tuh pinjam dari teman dan alasan pinjamnya cukup klasik dan sederhana: covernya memikat dan cantik.
Setelah kubaca aku cukup suka dengan gaya penceritaannya yang sebegitu mudahnya sehingga aku sebagai pembaca dengan mudah tersedot ke dalam ceritanya dan tidak sadar sudah memakan banyak halaman. Ceritanya cukup sederhana, manis, dan konflik yang disuguhkan juga tidak bertele-tele.
Aku juga suka bagaimana penulis melakukan riset sepertinya terhadap beberapa bagian di dalam sini. Penulis bisa dengan lihai mendeskripsikan sebuah tempat dan juga makanan. Penyusunan alurnya menurutku juga rapi dan cukup unik dengan menggunakan dua point of view yang membuat alurnya seolah ditata sedemikian rupa untuk mempercantik ceritanya.
Bahasa yang dipakai juga ringan banget dan bisa kubilang salah satu romance yang sweet.
Kekurangannya di sini menurutku: mungkin karena menggunakan dua sudut pandang yang berbeda, penulis terkadang terbalik menggunakan kata ganti orang untuk tokoh satu dan tokoh lainnya. Sehingga menurutku agak sedikit menjengkelkan kadang kali. Mengapa tidak dibuat semacam pembatas dengan menyebutkan nama tokoh sehingga kita para pembaca bisa tahu cerita ini sedang berjalan berdasarkan sudut pandang siapa. Dan pergantian sudut pandang itu sometimes di-switch dengan cepat dalam satu bab sehingga itu juga yang membuatku bingung.
Namun untuk bacaan ringan aku sangat suka. Fresh. Manis. Dan memberikan pesan moral yang apik. Baca buku ini secara menemukan hidden gems tersendiri. Mungkin di e-commerce ada yang jual secara preloved tapi aku belum cek, sih.
… Kadang aku jengkel dan marah pada kehidupan. Juga pada Bunda. Dia tak lagi peduli. Bunda seharian hanya memandangi harpa yang tergolek di dalam kamar. Bunda ingin seseorang memainkannya. Kadang dia berteriak-teriak dan menangis sendiri. Ketika itu terjadi, aku lebih memilih menulikan kedua telinga. Kulepas hearing aid dan kubiarkan dunia berubah menjadi bisu.
Ini tentang harpa, kincir angin, dan pesawat. Ini tentang Rahani Nugraha, gadis yang tak bisa memainkan harpa dengan sempurna itu, tentang Bayu Narendra yang dulu selalu menghidupkan impian tentang negeri kincir angin, dan tentang Antariksa Ganidar si penggila pesawat yang sekaligus juga fobia naik pesawat. Rahani dan Bayu memiliki hubungan baik sewaktu kecil. Mereka bersahabat dengan cara mereka sendiri. Sedangkan Antariksa sendiri hanyalah seorang pemuda asing dengan segala masa lalu panjangnya yang tak terduga. Efek penyakit meningitis membuat Rahani tak bisa mendengar dengan normal, sehingga ia harus menggunakan alat bantu pendengaran (hearing aid) untuk bisa mendengar suara. Kenyataan itu membuatnya semakin tak bisa mengejar kegeniusan kakaknya untuk menjadi seorang harpist. Sejak kecil, bundanya memang menuntut gadis itu bisa sesempurna sang kakak. Dan dunia seolah melengkapi penderitaannya ketika ayah dan kakaknya meninggal dalam sebuah kebakaran sebelum tampil dalam sebuah resital. Musibah itu membuat bunda Rahani depresi berat hingga akhirnya hanya bisa menghabiskan sekian tahun hidupnya dalam duka yang tak terobati. Kehidupan Rahani jadi semakin berubah sejak Bayu kembali dari Yogyakarta setelah perpisahan panjang keduanya. Bayu menjadi sosok yang berbeda, yang tak lagi sama dengan sahabat masa kecilnya dulu. Di waktu yang sama, pemuda lain muncul lebih dari seorang sahabat yang dirindukan Rahani. Antariksa, seorang laki-laki keturunan Belanda yang ditinggalkan ayahnya dalam sebuah kecelakaan pesawat sewaktu masih kecil dan tinggal di kota budaya. Rahani dan Riksa memiliki satu impian yang sama, terbang ke Leiden, dengan tujuan yang berbeda. Rahani ingin melanjutkan studinya, sedangkan Riksa memiliki tujuan yang lebih penting. Laki-laki itu ingin bertemu dengan mama dan adik perempuannya yang sudah lama tidak tinggal bersamanya. Impian keduanya tercapai, namun Rahani mendapat sebuah ujian yang tak terduga di kota impiannya itu. Yang membuat Rahani bisa bertahan hanyalah sikap Riksa yang bisa menerima gadis itu apa adanya. Penulis novel yang masih tercatat sebagai mahasiswa Sastra Inggris FIB UB ini berhasil menggambarkan setiap potongan ceritanya dalam detail yang rapi. Deskripsi tentang rumah dengan Jendela Leiden-nya, tentang negeri tulip, bahkan juga tentang penghuni langit malam dapat disajikan dengan sempurna. Hanya saja, pengolahan alur cerita masih kurang bagus karena beberapa sub-plot yang belum terselesaikan dengan utuh. Novel ini bukan sekadar cerita fiksi pada umumnya. Melalui genre romance, penulis bisa menyampaikan sesuatu yang “lebih” pada pembaca. Membaca novel ini seperti didongengi ilmu dan tempat baru dengan cara yang menyenangkan. Diajak menyadari satu hal penting bahwa cahaya justru akan tampak lebih terang dalam gelap.
Sebenarnya saya bisa kasih 4 bintang kalau saja penulis menuliskan alasan untuk beberapa scenes yang memang menyisakan tanda tanya. Keganjilan yang sama dengan yang ditemukan oleh seorang reviewer goodreads yang sudah mereview novel ini. Tentang Bayu yang membawa sketsa pesawat milik Riksa, tentang perubahan sikap Bayu (mungkin karena kematian Rihan karena dalam salah satu dialog, Bayu mengatakan bahwa ia mencintai Rihan bukan adiknya. Namun, ini tak dijelaskan sehingga tetap menyisakan tanda tanya besar).
This novel is my cup of tea. Saya selalu suka cerita sederhana yang dibalut oleh diksi indah dan manis juga kaya akan ilmu pengetahuan. Penilaian ini tentu saja objektif, bukan karena penulis merupakan saudara kandung Tyas Effendi which is one of my fav author. Tapi, karena kalimat-kalimat yang penulis rangkai benar-benar mampu membuat saya menamatkan buku ini hanya dalam waktu satu hari. Ditunggu karya selanjutnya. :)
Kesimpulan saya adalah, judulnya sedikit kurang pas dengan isi secara menyeluruh. Mengapa tidak Leiden sekalian yang menjadi judulnya, atau mungkin Kisah Rahani. #JustMyOpinion