Aku dan adikku menghitung; setidaknya ada delapan sampai sembilan sosok ‘penghuni’ selain kami di rumah ini. ‘Mereka’ tak pernah jemu mengikuti kami, seolah hendak menyampaikan sesuatu tentang keluarga ini, yang semestinya sudah sejak lama kami ketahui.
Tiga hari menduduki rumah baru, kakak-beradik Bintang dan Gilang diadang penampakan berbagai wujud ‘makhluk penunggu’, hampir setiap waktu di setiap penjuru. Tak hanya interaksi intens dengan para hantu, rumor tak menyenangkan yang beredar di kalangan warga sekitar mengenai wisma yang kini mereka tinggali kian mendesak Bintang untuk mencari tahu apa yang sesungguhnya terjadi di 'rumah nomor tujuh-tujuh' bertahun-tahun lalu—sesuatu yang kemudian menyadarkannya bahwa kedatangan mereka sekeluarga ke sana merupakan awal mula dari segala malapetaka. Terlebih, kala musibah mulai menimpa salah seorang anggota keluarganya.
Mampukah Bintang menyelamatkan keluarganya dari belenggu teror alam astral sebelum jatuh tumbal?
I didn't expect the story to turn out that way. How tragic.
"Setiap orang memiliki 'hantu' di dalam dirinya masing-masing. 'Hantu-hantu' inilah yang jika dibiarkan akan memakan kemanusiaan. Dan manusia yang telah kehilangan kemanusiaan dapat menjadi lebih menakutkan ketimbang setan-setan dan jejadian yang selama ini kita kenal sebagai 'arwah penasaran'."
Setiap rumah pasti ada penghuninya. Saya setuju banget sama pendapat Kak Arin soal ini karena pernah mengalami kejadian mirip-mirip dengan buku yang ditulisnya.
Buku Pak Djoko ini awalnya saya baca saat masih mejeng di Wattpad Kak Arin. Sebagai penggemar horor tingkat tinggi, saya pasti nggak pernah menolak disuapi asupan horor baru apalagi gaya bahasa penulisnya sudah saya kenal dengan baik. Jadilah saya baca tulisan Kak Arin di Wattpad ini dan langsung suka. Nggak tanggung-tanggung, 2 hari tamat😅. Eh habis itu dapat kabar kalau ternyata tulisan ini mau dibukukan, keren!
Kisah Pak Djoko ini garis besarnya menceritakan sebuah keluarga yang menurut saya besar, terdiri dari 6 anggota yang adalah bapak, ibu, Winda, Bintang, Sinta, dan Gilang. Mereka ini pindah dari satu rumah ke rumah lain dan akhirnya dapat membeli rumah besar di Blok HH Nomor 77
Diceritakan dari sudut pandang orang pertama yang adalah Bintang, buku ini mengajak kita menyelami pengalaman seram Bintang saat bertemu ‘para penghuni’ di rumah yang ditempati mereka. Sebagai tambahan, di keluarga mereka ada dua orang yang bisa melihat ‘penghuni lain’, yaitu Bintang dan adik lelakinya Gilang.
Dan memang penghuninya banyak, ya, di mana-mana pasti ada😟 Jadi ingat rumah sendiri. Untungnya, saya nggak diberkahi penglihatan seperti Bintang.
Yang saya suka, jenis horor Kak Arin ini nggak seperti horor-horor Hollywood yang cuma bikin kaget, tapi kadang nggak masuk akal. Horor di Pak Djoko ini sangat lekat sama keseharian kita. Saya bahkan merasa relate sama ceritanya. Selain horor yang berkelas, saya suka suasana hangat keluarga Bintang yang ah, bikin iri… mereka ini kompak, nggak drama, dewasa. Sang Ibu pun bukan tokoh menye-menye, sama seperti karakter perempuan lain yang dibuat Kak Arin yang saya baca.
Gaya bahasa Kak Arin jelas saya suka. Narasi dan penjabaran pas membuat kita bisa menyelami atmosfer yang dibangun. Karena tanpa narasi, sebuah cerita menurut saya bakal hambar. Dan bonusnya, saya dapat ilmu tambahan kata-kata baru yang membuat saya kagum sama betapa baiknya bahasa Indonesia si penulis ini😭kok cakep, sih, Kak.
Menurut saya, nggak ada yang berlebihan dalam buku ini. Semua pas porsinya. Bahasa yang pas, ketebalan pas, alur pas, dan penyelesaian yang pas. Cuma jadi penasaran, nih, apakah akan ada buku keduanya gitu, Kak? Mungkin soal Pak Djoko gitu, mengulik masa lalu si Bapak ini. Soalnya bukan apa, kok saya ngefans sama Pak Djoko (jangan datengin saya, Pak, saya cuma ngefans doangan).
Sinopsis Bintang dan keluarganya membeli rumah yang cukup mewah. Jika dibandingkan dari letak strategis, luas bangunan, dan fasilitas yang didapat harga tersebut terbilang tidak masuk akal. Rumah itu pastilah berhantu!! Tetapi setelah sekian lama belum punya rumah, akhirnya mereka tergiur dan membeli rumah tersebut tanpa berpikir ada yg aneh dari rumah itu. Maka pindahlah Bintang dan keluarganya ke rumah itu. Selama 3 bulan menempati rumah itu, Bintang dan adiknya bernama Gumilang selalu diperlihatkan penampakan demi penampakan. Pada dasarnya hanya mereka berdua yang 'peka' di keluarga mereka. Dibalik semua penampakan itu pastilah ada kisah masa lalu dibalik rumah itu. Tah hanya penampakan saja tetapi ada sesuatu yang mulai tidak biasa, mereka merasa ada yg tidak beres dan itu mengancam keselamatan keluarga mereka. Lantas apakah itu?
Baru pertama kali aku menemui buku dengan adanya pengulangan bunyi dalam setiap akhir kalimatnya. Ada banyak istilah dan penyebutan baru yang jarang digunakan. Tentunya dilengkapi dengan footnote agar memudahkan bagi pembaca. Mayan nambah kosa kata baru di otak xixi 😁
Alur dibuku ini terasa lambat diawal, dibagian pengenalan demit - demitnya terlalu mengambil banyak bagian dan sempat membuat aku bosan. Pembahasan tentang Pak Djoko sendiri malah hanya secuil aja. Menurutku kayak menyimpang dari judulnya. Jadi permasalahan yang dibahas di buku ini malah pesugihan pak Tegar. Jadi aku sendiri masih bertanya - tanya tentang kisahnya Pak Djoko ini gimana.
Menjelang halaman 130an, ritmenya mulai naik. Sempat ada adegan kejar - kejaran dan adu fisik antara Bintang, pak Tegar, kak Winda. Nah, disini aku suka. Karena Aku sendiri ikutan tegang 😂 . Aku juga suka detail penjelasan saat situasi interaksi Bintang dengan makhluk halus yang ada di rumah itu, memunculkan kesan horor dibuku ini tapi aku sendiri tidak sampai merinding ataupun ngeri.
Bagi kamu yang terlalu takut membaca buku bergenre horor, tapi penasaran ingin membacanya, jadi kurasa buku ini akan cocok dengan kamu, karena buku ini termasuk tipe horor yang tidak terlalu ngeri untuk dibaca saat sendirian di malam hari 👍🏻
Narasinya terasa seperti puisi yang tidak pada tempatnya. Beberapa diksi sangat mengganggu (dan inkonsisten). Hubungan sebab akibat dalam plot-nya sangat tidak jelas. Nama hantu di setiap judul sangat menghilangkan element of surprise - nya. Apakah ini fanfic The Shining? Apapun itu, sepertinya buku ini bukan buat saya. 🙏🏼
PS : tidak ada alasan perceraian karena pasangan cacat mental (tidak mgkn hakim mengabulkan alasan perceraian selain daripada yang sudah ditentukan), ketika manggil polisi ke nomor berapa? 😆 Ketika diperiksa untuk BAP, polisi tidak pernah minta saksi disumpah (kalau pengadilan iya). So, yeah it's not for me.
Setelah berpindah-pindah, akhirnya keluarga Bintang membeli rumah besar yang kebetulan dijual dengan harga murah. Awalnya, Bintang curiga jika rumah tersebut punya eksistensi dari dunia lain yang jahat, kalau tidak, mengapa rumahnya bisa dijual begitu murah padahal bertempat di tengah kota? Beberapa penghuni selain keluarga mereka mulai muncul satu per satu menampakkan diri. Namun, kemunculan mereka rupaya menyambut sesuatu yang lebih jahat dan bisa melukai para pemilik rumah.
Kesan horornya dapat, terlebih bagian Bintang yang bantu Sinta di jemuran malam-malam itu. Haduh, habis ini kayaknya mesti pikir ulang kalau mau jemur malam-malam.
Meskipun premisnya menjanjikan, aku nggak sreg dengan beberapa bagian di buku ini. Utamanya di cara penulis yang sengaja membuat semua kalimatnya berima. Yah, barangkali ini memang ciri khas penulis, tapi bagiku pribadi sangat mengganggu. Feel horornya jadi hilang karena tipe kalimat seperti di buku ini justru seperti puisi.
Satu atau dua kalimat masih okelah, tapi makin ke belakang makin banyak dan hampir selalu, deh. Setiap paragraf pasti ada. Ini yang bikin ketegangannya mengendur dan lama-lama hilang. Perburuan di momen of truth justru nggak tegang dan dramatis lagi karena kalimat berima lagi-lagi menghalangi penyampaian emosi adegan. Sangat disayangkan sebetulnya.
Lalu soal Pak Djoko yang dijadikan judul di buku ini. Rasanya si penunggu jemuran atau abang berkaus metal (sori nggak ingat namanya) itu justru yang pantas dijadikan judul sampul. Lebih oke lagi kalau eksistensi Pak Djoko ditambah, sih, alih-alih menonjolkan atau mengeluarkan karakter hantu baru.
Cara penulisan narasinya bukan mangkukku memang, tapi bagi yang suka setiap kalimat berima dan banyak kata-kata yang bisa menambah pembendaharaan kata, bisa coba baca.
Ceritanya sebenarnya seru, tapi frasanya kadang terlalu dipaksakan jadi agak capek bacanya. Halamannya sedikit tapi jadinya butuh seminggu sampai bisa selesai baca.
sebagai makhluk yang masih hidup,tentu rasanya tidak begitu familiar saat melihat bahkan berinteraksi dengan makhluk tak kasat mata. Dan ini yang harus dirasakan Bintang dan adiknya bernama Gilang,ketika mereka memiliki kemampuan untuk melihat makhluk tak kasat mata termasuk yang ada di rumah mereka.
Namun...
Cukup aneh ketika di rumah barunya, baik Gilang maupun Bintang,keduanya tidak langsung bertemu para penunggu di rumah yang berukuran cukup besar untuk keluarga dengan enam anggota namun dijual dengan harga yang terlampau murah untuk sebuah hunian yang letaknya berada di tengah kota...
Apakah 'hening' pada hari pertama tanpa ada perjumpaan dengan para 'penunggu' rumah merupakan hal baik atau justru... awal mula alarm tanda bahaya?
🖤 Pak Djoko merupakan salah satu dari banyak novel maupun cerita bernuansa horor yang judulnya Indonesia banget, membuat saya makin penasaran dengan kisah lengkapnya.
🖤 Kisah dalam novel Pak Djoko diceritakan dengan menggunakan POV tokoh utama. Dan kisahnya terasa lebih mendebarkan karena tokoh ini dan adiknya memiliki kelebihan, dapat 'melihat' ujud makhluk tak kasat mata. Kalau jadi Bintang...Rasanya mungkin saya tidak akan kuat dengan 'kelebihan' yang diberikanNya ini.
🖤 Selain para penunggu yang mulai bermunculan dan mengundang tanya setiap kali kemunculannya di dalam cerita, cukup banyak kosakata baru yang saya temukan dalam kisah Pak Djoko ini yang menggelitik rasa ingin tahu untuk mencari arti dari setiap kata. Rasanya cukup langka kesempatan untuk mendapat pengalaman baca fiksi yang menambah kosakata sekaligus bikin degdegan karena bertemu 👻 terutama dengan sosok pertama yang ditemui Bintang saat menjemur pakaian dan penghuni sumur tua di rumah barunya.
🖤 Sosok penunggu rumah baru keluarga Bintang bukan satu satunya yang memantik rasa penasaran saya untuk terus membaca,tetapi juga fakta dibalik perubahan sikap dari salah seorang anggota keluarga pemuda ini. Selain itu, unsur yang berkaitan dengan keyakinan tertentu dalam masyarakat Jawa terkait 'hari lahir' berdsarkan kalender Jawa membuat bulu kuduk saya berdiri sekaligus menggagas pendapat bahwa hingga hari ini, ketika banyak kepercayaan dan takhayul dapat terjelaskan dengan ilmu pengetahuan, masih ada manusia yang 'menggantungkan dirinya' kepada energi yang sejatinya disikapi dengan bijak dan tidak untuk diajak berkolaborasi untuk menyejahterakan hidup...
🖤 Perubahan tempo alur begitu terasa jelang puncak konfliknya. Jadi ikut degdegan pas bagian ini. Meski demikian namun perubahan kecepatan alur memberi kesempatan bagi kisah Pak Djoko untuk hadir dan terjelaskan, meskipun saya masih cukup menyimpan rasa ingin tahu tentang alasan dibalik cerita para penghuni di rumah nomor 77 ini.
🖤 Saya sependapat dengan salah satu pengulas tentang penggunaan dialog yang baku untuk tokoh yang berusia 20an dan tinggal di area perkotaan.
🖤 Adanya kebudayaan Jawa yg berkaitan dengan 'hari lahir' dan kehidupan masa kini jadi perpaduan yang menurut saya keren. Selain itu, novel ini memberi pandangan tentang makhluk tak kasat mata yang barangkali eksistensinya perlu kita iringi dengan proses identifikasi dan peka terhadap 'isyarat' mereka terutama bagi yang diberikan 'kelebihan' oleh sang Pencipta untuk menyadari keberadaan mereka...
🖤 Meskipun horror, bagi saya yang kurang menyukai genre ini (lebih karena takut) bisa menikmati bahkan tersentuh di bagian kemunculan Pak Djoko.
Pak Djoko - Arin T. 📎 208 hlm. 🏠 Elex Media Komputindo 📍 Panjalu E-Lib ★★★★☆
Bintang dan adiknya, Gilang, memiliki semacam kemampuan melihat mereka yang seharusnya tak terlihat. Pindah satu kontrakan ke kontrakan lain, tibalah di satu titik mereka punya rumah sendiri yang megah—rumah nomor tujuh-tujuh yang kelewat megah untuk harga yang ditawarkan. Meski biasa ditampaki puaka, entah kenapa yang kali ini berbeda. Mereka seakan ingin menunjukkan sesuatu, sesuatu yang mengganjal dari keanehan di rumah baru itu. Bersama-sama, Bintang dan Gilang coba mengungkap sekaligus mencegah malapetaka yang mengancam keselamatan keluarga mereka.
Jika dilihat sekilas dari blurb-nya, tentu kita akan berpikir kalau buku ini punya pola yang sama dengan tipikal film horor nusantara yang mulanya satu keluarga berpindah menempati rumah mewah nan murah tak masuk akal meski sudah diberi tanda berbagai keanehan dalam prosesnya. Menikmati plot klasik seperti itu dalam format tulisan tentu memberi sensasi tersendiri, tapi buku ini jauh lebih dari pada stereotipe itu. Jalur yang diambil penulis untuk menuntaskan cerita serta plot twist yang dibalut ketegangan konstan hingga akhir bisa membuat pembaca tak beranjak dari setiap katanya. Betul-betul melebihi ekspektasi.
Menurutku, penulisan Pak Djoko ini unik. Jika diperhatikan baik-baik, hampir setiap kalimat narasi sampai dialog di sini berima. Kita jadi seperti membaca hikayat lama hanya dari gaya tulisnya, klop sekali dengan genre horor nusantara. Bicara soal horor, judul ini masih bisa dinikmati olehku selaku orang yang anti horor. Hal-hal mistis di sini dibungkus dengan pelesetan dan humor sehingga tidak terlalu menakutkan, malah lebih cenderung ke misteri, petualangan, dan anehnya sedikit heartwarming jika dilihat dari cara pendekatan cerita ini dibuat.
Pak Djoko bukan termasuk judul yang ingin kubaca, tapi entah bagaimana perpus digital mempertemukanku dengannya dan berakhir dengan aku sangat merekomendasikan ini untuk bacaan ringan kalian semua, sebab ingat:
❝Alpa bukan berarti tiada. Tak kasatmata bukan berarti tidak nyata.❞ —p 197
"Alpa bukan berarti tiada. Tak kasatmata bukan berarti tidak nyata, yang sudah tak bernyawa terkadang belum bisa meninggalkan semesta." Hal 197 _ Pak Djoko Arin. T @elex.novels 208 Halaman Edisi Digital 2023 Gramedia Digital - Kali pertama baca karya penulis satu ini dan tertarik dengan genrenya. Cover berwarna merah yang memunculkan vibes tersendiri. Dan aku cukup menikmati gaya bercerita sang penulis. Seperti berirama dan asyik. - Di buka dengan judul bab awal. 'Semua Rumah Pasti Ada Penunggunya' dan aku setuju dengan kalimat tersebut. Karena sejak awal tentu saja para mahkluk astral yang lebih dulu menempati bukan? barulah manusia. Maka sudah sewajarnya saling berdampingan. - Konfliknya pun sederhana sekali, dan mungkin juga acap kali terjadi, akan tetapi hanya segelintir orang yang mampu menceritakan pengalamannya sendiri. Sama seperti Bintang dan Gilang yang lebih memilih bungkam akan apa yang meraka temui dan alami. Biarlah jadi cerita sendiri. - Aku sebagai pembaca jujur menunggu sosok utama setelah dikenalkan oleh sang penulis dengan semua penghuni rumah 77 yang ditempati keluarga Bintang. Karena bagian ini pasti epik sekali. Hingga terjadi plot twist yang bikin aku berkata. "Pantas aja bisa dapat rumah dengan harga segitu." Hingga akhir tokoh utama hanya diceritakan sesekali. Andaikan jadi series, aku rasa bisa dieksplorasi lebih dalam. Karena jujur saja aku suka ide sang penulis. Dan untuk para penghuni lama tersebut bisa dikatakan mereka mungkin adalah sosok pelindung rumah. Jadi ketika ada hawa jahat muncul, seketika mereka membuat tameng yang perlahan dapat dimengerti oleh Bintang. - Untuk ketegangan dan rasa mencekam belum bisa kurasakan. Dan menurutku, mungkin saja penulis ingin fokus pada misteri hunian HH/77 ini. So ditunggu kak Arin karya-karya berikutnya dan sukses selalu. Aku rekomendasikan horor satu ini untuk kalian baca dalam sekali duduk 👻🥰 Personal rate 3,8/5
I let out a deep sigh the moment I finished this book. Not gonna lie—it drained me. How can a book with fewer than 250 pages feel this exhausting?
It tells the story of Bintang and Gilang, two siblings with indigo abilities who can see ghosts. It all begins when they move into a seemingly luxurious, fully furnished house labeled 77H. The catch? They bought it for less than half its market price. One by one, the secrets unravel—eight ghosts live there, each with a story to tell.
First of all, major kudos for the diction. Reading this felt like flipping through a freshly reimagined Indonesian dictionary—beautiful, poetic, and captivating. But, like a double-edged sword, the words sometimes overwhelmed me. It became too flowery, too dramatic, and somewhere along the way… it lost me. The emotions felt drowned in heavy prose.
Second, I didn’t quite grasp the purpose behind dedicating a whole chapter to each ghost. What was the goal? Honestly, I felt like it could’ve been wrapped up neatly in a single chapter.
Third, I was hooked by page 138—the messy heartbeat, the build-up, the anticipation. I truly thought, "Okay, this is it! It's getting real!" But then… nope. Suddenly, it jumps into the story of Bintang’s dad without warning. It felt rushed—like we missed a whole bridge between scenes. If only the writer had dug deeper there, it could’ve been fire.
And honestly, the lack of research stood out. During official police questioning for BAP, witnesses aren’t asked to take an oath unless it’s in court. These little inaccuracies took me out of the story.
Lastly, I struggled to find a climax. And the title? I couldn’t feel the connection to the story. It felt forced, like an afterthought.
That being said, I still want to appreciate language's fresh, enchanting use. Some sentences truly lit up my soul. But as a whole? I’m left with more sighs than satisfaction.
"Alpa bukan berarti tiada. Tak kasatmata bukan berarti tidak nyata. Yang sudah tak bernyawa terkadang belum bisa meninggalkan semesta. Percaya tidak percaya, tidak semua yang ada di dunia dapat dijelaskan melalui kata-kata dan dinalarkan dengan menggunakan logika." - Pg. 197
Bintang dan adiknya Gilang dapat merasakan dan melihat mereka yang tak kasatmata. Mereka berenam, bersama Winda–si sulung, Sinta, ibu, dan ayah, akhirnya akan pindah ke sebuah rumah blok HH nomor 77 di Perumahan Permata Tirta Permai setelah bertahun-tahun hidup berpindah-pindah.
Menurut kakak-beradik ini, semua bangunan memiliki 'penghuni', termasuk dengan rumah yang mereka akan tinggali nanti. Namun, setelah tinggal di sana, banyak hal yang terjadi dengan 'penghuni' di sana. Berbagai peristiwa menegangkan menuntun Bintang dan Gilang pada sesuatu yang mengejutkan dalan hidup mereka. . Awalnya, aku nggak begitu paham kenapa buku ini diberi judul Pak Djoko hingga aku sampai pada pertengahan cerita. Di bab-bab akhir aku semakin mengenal sosok Pak Djoko ini.
Untuk aku yang penakut dan nggak berani baca kisah ini di malam hari, siang hari pun horrornya tetap ada, apalagi saat Bintang dan Gilang bertemu dengan si penjaga tiang jemuran. Kejutan yang dihadirkan penulis juga luar biasa mengejutkan apalagi hal tersebut dilakukan oleh orang terdekat. Rasanya mau marah-marah aja deh.
Walau horror, ini buku yang page turner buatku. Dari cover hingga isi buku aura seram dan ngerinya dapet banget. Pesan soal berbagai macam 'hantu' dalam diri manusia itu juga on point. Buat kalian pecinta horror, boleh banget jadi salah satu tambahan koleksi nih!
Bintang tinggal dengan ketiga saudara serta kedua orang tuanya di kontrakan sempit. Ketika ada hunian luas dengan harga sangat murah diiklankan, keluarganya memutuskan untuk membeli dan pindah ke sana.
Bintang dan adiknya, Gilang memiliki kemampuan istimewa. Ga cuma sekadar bisa melihat hantu, juga bisa melihat kejadian masa lalu dari suatu benda.
Ketika hal hal aneh terjadi di rumah barunya, Bintang dan Gilang mencoba mencari tau apa yang terjadi demi melindungi keluarganya.
Pertama, ada sesuatu yang menarik perhatianku. Cara menulisnya. Dalam satu paragraf, banyak kata dalam tiap kalimat tuh ditulis dengan berima. A a a a gitu, jadi bahasanya asik banget, terus walau itu sebenarnya kalimat yang panjang, jadi kerasa pendek dan enggak ngebosenin.
Alurnya cepet, tapi runtut jadi enggak kehilangan momennya.
Aku juga suka karena latar nya tuh kerasa dekat sama dunia nyata, jadi lebih mudah buat ngerasa masuk dapat feel nya.
Terus, mungkin ini bukan disebut plot twist, tapi klimaks, konflik utama nya cukup diluar dugaan walau begitu ada clue langsung ketebak.
Tapi, tetep GONG!! Jujur pas bagian ini seru nya mulai kerasa, gregetnya ada dan EMOSI nya berasa.
Sebel bangeettt. Emosi banget MMMMAAAARRRRAAAHHHH!! Aku merasa dikhianati, sakit banget saat figur yang selama ini melindungi keluarga malah berbalik menyakiti keluarga ( T_T)\(^-^ )
Puas sama endingnya. Tapi peringatannya tuh ... "Setiap rumah ada penghuninya." Aku ga berani tidur lampu mati sekarang.
Ini buku seru, ringan, dan well written kok. Horor nya kerasa walau bukunya tipis.
2.75 jujur lumayan emosi (banget) sama vocab2 yang rasanya nggak sesuai tempat. Kaya, bilang aja kendaraan kenapa harus "tunggangan" Sih???? aneh banget 😭😭😭 jadi rasanya dipaksain banget nyari sinonim kendaraan😭 Dan masih banyak lagi dan jadinya mengurangi kenikmatan membaca.
Tapi tapi tapii, jalan ceritanya sebenarnya lumayan menarik meski idenya biasa aja, eksekusinya kureng. (Pendapatku sama lah yang review 2 bintang) Aku yang nggak suka horor karna penakut malah menemukan buku ini nggak ada ngerinya sama sekali, yang mana sebenarnya aku nggak keberatan sih huahahaha. Cuman kaget aja kok aku yang penakut bahkan bisa baca buku ini pas lagi sepi.
Baca buku ini juga sebagai palate cleanser aja sih jadi aku nggak punya ekspektasi tinggi jadi sebenarnya OKAY aja ini buku Bisa 3 bintang, tapi karena banyak vocab yang menurut aku menganggu kenikmatan membaca aku aja sih. Tapi jadinya penasaran sama buku lain penulis, kaget ternyata cewek penulisnya dan katanya suka tulis thriller which my fav genre jadi pasti aku bakal baca buku lainnya buat jadi palate cleanser lagi hehehe. Dan aku tetap apresiasi penulisnya karna aku lumayan suka storytellingnya. Pas aku baca review lainnya lumayan ada yang kurang srek, dan emang berirama gitu tapi nggak semenggangu kenikmatan baca aku dibandingkan si vocab2 tadi😃, cuman yah balik lagi selera masing2 kan. Aku juga review sangat subjektif jadi ya udah sih. Bye 😛
Sebenarnya punya materi yang bagus, tapi pemilihan sudut pandangnya bukan yang paling menarik. Selain itu jumlah hantu yang nongol kebanyakan. Mereka makan halaman yang harusnya bisa dipakai untuk mengolah misteri cerita. Kalau jumlah hantunya dikurangi jadi cuma satu atau dua pun, rasanya tidak akan mengubah isi cerita.
Sedikit catatan tentang salah satu tokoh dan akhir cerita. Peringatan spoiler akhir cerita!
Kuakui, meski bukan penikmat bacaan horor supernatural (aku benci glorifikasi setan lokal), buku ini cukup bisa dinikmati. Meski premisnya klise, kemampuan Arin menggambarkan kengerian rumah nomor 77 patut diacungi jempol. Sepanjang cerita aku betulan merasa bertualang bersama Bintang di rumah barunya. Plotnya pun cukup OK, dengan alur sederhana dan mudah dicerna. Karakternya cukup kuat, dengan latar belakang yang lumayan beragam.
Sayangnya, satu hal yang aku nggak tahan adalah pemaksaan rima pada mayoritas potongan cerita dan dialognya. Betulan menyebalkan. Dialog adegan tegang nan melankolis malah jadi ajang seleksi akting klub drama. Hadeh ... Pun, kurangnya konsistensi penggunaan bahasa Inggris dan bahasa Indonesia menambahkan kejengahanku.
Positifnya, aku mengapresiasi sekali penggunaan banyak kosakata klasik dalam buku ini. Lumayan buat nambah pikiran--eh maksudku pengetahuan. Kemunculan sosok Pak Djoko yang hanya sepintas justru menambah daya tarik tersendiri. Kadang, benang merah cerita memang hanya perlu eksis seperlunya. Secukupnya, karena dengan begitu, Ia menjahit para lakon utama dengan sendirinya.
Apresiasi banget buat penulis karena memasukkan vocab2 baru disertai dengan footnote, nambah deh perbendaharaan kata saya. Saya kasi bintang 3 karena itu.
Walaupun sebenernya pisau bermata dua sih, karena vocab2 cantik ini jadinya ga sesuai tempat dalam novelnya. Saat part conversation pun bahasanya terlalu poetic, jadinya agak aneh, canggung dan ga natural 🥹
secara cerita? Yah, harusnya bukan "Pak Djoko" sih judulnya, "Misteri Rumah Hantu Kolonial mungkin?" Atau "Bapakku menumbal adikku?"
Ini personal sih, tapi menurut aku plot twist bapak as the main villain ga smooth. Terlalu dadakan. Ga ada indikasi jahat yg mencurigakan atau bridging kalau bapaknya adalah si antagonis selain "Gudang". Diskripsi mencurigakannya cuma Dateng di mendekati akhir, terkesan buru-buru aja gituh.
Beberapa adegan di buku pun jujur terasa agak klise TBH.
But it's okay. Congratulations buat author 👏
Penasaran deh kalo authorny nulis novel yang lebih "klasik", karena perbendaharaan katanya kaya banget :))
This entire review has been hidden because of spoilers.
Baca buku ini karena tertarik dari covernya yang super bikin penasaran. Ternyata cara penulisan dan pembawaan penulis berhasil bikin betah. Kebetulan emang lagi kepengen baca cerita horror juga dan lagi ngeliat ini. Ga naro ekspetasi sama sekali pas baca bukunya, cuman yaudah ini buku horror dan pengen ngerasain hawa mencekam sama deg-degan pas bacanya. Tapi ternyata buku ini beneran di luar ekspetasi arahnya bakal ke mana, dapet banget deg-degan dan plot twistnya. Bagus banget kacau, apalagi sama moral yang mau dikasih tahu sama penulis. Langsung bikin ngga takut sama hantu wkwkwk. Cuman kurangnya memang ku pikir bakal ada plot twist yang gong banget dari sisi hantunya alias Pak Djoko, entah akhirnya mereka ngobrol terus ke ungkap masa lalunya atau bagaimana. Tapi di sisi lain, buku ini bener-bener bagus banget!
HUH HAH HUH HAH *masih terbayang bayang kejutan di akhir cerita* buku ini lumayannn page turner! Dan aku sukaa banget sama narasinya yang menggambarkan dengan jelas letak dan kondisi ruangan ruangan rumahnya. Pokoknya worth it buat dibaca lah apalagi ada kejutan yang menunggu di akhir cerita. Kekurangannya terletak pada narasi, menurut aku janggal aja terkadang ada kalimat yang memakai diksi tapi ada juga percakapan yang memakai bahasa inggris, terus ada paragraf yang dipaksakan sesuai rima. Sebetulnya bagus jika sesuai rima, tapi berhubung ini buku horror jadi rasanya kurang tepat. Tapi yaaaa selain itu buku ini bagus sekali!!!!
Berasa banget kalau ceritanya diangkat dari kisah nyata. Detil hantu, penampakan, atmosfir yang digambarkan dalam cerita sangat akurat. Ada aspek2 sastra dan budaya yang tidak hanya disematkan tapi juga menghidupkan jalannya cerita. Penokohan yang kuat dan gaya penceritaan yg padat, kreatif, namun konsisten. MERINDING. Bagi penggemar horor, buku ini paket lengkap. Semuanya ada. Dan yang terpenting, Syereeemmm...
Nanti bakal aq update lagi review lengkapnya di sini
Aku penikmat bacaan horor dan thriller. Tapi pada saat buku ini, fokusku bukan malah ke ceritanya. Tp penggunaan kata yg berima. Rasanya aneh, pas baca cerita tapi nadanya berima kayak puisi. Malah bikin ceritanya itu jd gimana ya, gak masuk aja. Padahal sebenernya jalan ceritanya yaaa lumayan oke, walaupun gak mencekam sama sekali sih. Jadi mungkin saran ke depannya, gak semua cerita bagus dengan ending yang berima. Malah hal itu yg bikin gak fokus sama inti ceritanya.
idenya b aja. tapi plotnya lumayan menariq. gue suka di bagian karakter bintang punya kemampuan kayak om hao, bisa melihat masa lalu. sayangnya, nggak begitu dieksplor. padahal gue pengen tau latar belakang sosok penghuni rumah baru bintang. terutama pak djoko. tentang flashback pak djoko hanya secuil. masih menyisakan tanya, jadi matinya pak djoko kenapa? seperti komen2 yang lain, nggak cocok pak djoko dijadiin judul utama.
Novel horor dengan gaya penulisan yang unik, dipenuhi dengan diksi dan penulis bisa konsisten dari awal hingga akhir. Ada banyak hantu yang disebutkan dalam cerita ini, tapi pada akhirnya manusialah yang menjadi biang masalah. Manusia yang tamak dan menghalalkan segala cara demi mencapai kekayaan dengan cara keji. Kekurangan novel ini cuma satu, ceritanya terlalu pendek. Mungkin kalau ditambah beberapa halaman lagi akan jauh lebih seru. Misalnya sejarah tentang hantu-hantu di rumah itu? Kisah tentang Pak Djoko sebelum beliau meninggal? Ini juga beliau porsinya dikit banget
not bad jujur,awal beli novel ini gergara kek sampulnya unik gtu dan pas pas di sekolah lgi di acarin event gramed di sekolaah.untuk harga worth it untuk alur cerita kek gtu not the best but worth a time. alurnya tentang pak djoko juga dikit kirain MC nya pak djoko gtu,feel horror nya juga agak kurang dapet but its okayy not the worst <3
Yang membuatku nyaman membaca cerita ini sampai selesai adalah bahasa penulis yang sangat nyaman. Selain itu, ada plot twist yang benar-benar tidak disangka-sangka.