“Namik, nahisa, nahai anim, es anim, nahin, makan dimatab oleb. Mabateme, wanangga es hanid nanggo.” “Saudara-saudara, mama-mama, kakak-kakak, adik-adik, bapak-bapak, jangan jual tanah untuk perusahaan. Kasihan, itu milik kalian dan anak cucu di masa mendatang.” JEREMIAS NDIKEN, Kepala Distrik Okaba, 21 Maret 2011
****
Ada alternatif lain untuk kemajuan, selain pembangunan pertanian industrial yang hanya menguntungkan investor besar. Berbagai teladan yang ditunjukkan oleh komunitas di Makaling dan Selil, atau contoh keberanian dan ketekunan seorang bapa dan mama di tengah berbagai kondisi sulit, seperti di Zanegi dan Wayau, seakan memberikan harapan bahwa masih ada jalan lain menuju terang. Alternatif inilah yang selaiknya terus digali, diuji coba, dan dikembangkan sebagai upaya untuk memastikan proses perubahan yang mendudukkan orang Marind dan Papua pada umumnya sebagai penentu dan pemilik masa depan mereka sendiri.
buku ini mengenalkan saya pada orang-orang malind/marind di ujung negeri yang menghadapi gempuran sosial dan ekologis atas nama produktivitas. tragis dan ya, mengharukan.
Buku ini tipis. Sangat tipis. Dibanding buku buku serupa yang membahas tentang agraria. Buku tipis namun sarat akan nilai ini mengoyak-ngoyak perasaan saya ketika masuk membaca Bab kedua. Bab pertama menceritakan bagaimana sesungguhnya Orang Marind dilahirkan dengan segala kelebihannya yang kuat lagi perkasa, belum lagi anugerah berupa kekayaan alam yang dirampas oleh korporasi-korporasi melalui tangan serakah penguasa ! Baca buku ini maka kau akan tau bahwa tanah kita, dijual perlahan!