Jump to ratings and reviews
Rate this book

Get Lost

Rate this book
I need to get lost...
and get lost needs no itinerary...

Lana Sagitaria senang melakukan perjalanan sebagai selingan untuk mengatasi kejenuhannya menghadapi rutinitas sebagai karyawati. Alasan klasik, tetapi begitulah yang dia percaya selama ini. Hingga suatu ketika, dia memutuskan untuk berjalan mengikuti kata hatinya, tanpa itinerary, membiarkan dirinya hanyut dalam arus perjalanan. Siapa sangka, perjalanan ini justru membawanya pada jawaban penting atas pertanyaan yang selama ini terpendam jauh di lubuk hatinya. Jelajah kakinya ke beberapa kota dan negara, juga pertemuannya dengan orang-orang asing, membuatnya berkaca pada kenangan berbagai peristiwa penting dalam hidupnya, termasuk hilangnya seseorang yang sangat berarti bagi dirinya. Akankah kenangan itu tetap tinggal, ataukah sudah saatnya untuk dilepaskan?

198 pages, Paperback

First published November 1, 2013

1 person is currently reading
16 people want to read

About the author

Dini Novita Sari

2 books37 followers
Like to read, write, and travel.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
1 (2%)
4 stars
3 (7%)
3 stars
20 (52%)
2 stars
6 (15%)
1 star
8 (21%)
Displaying 1 - 18 of 18 reviews
Profile Image for Farah.
174 reviews36 followers
August 7, 2014
Dia bilang, "I need to get lost.."
Mungkin artinya, kayanya gue butuh nyasar deh..
Kenapa? Bukannya banyak yang bilang bahwa kalau kita dengan sengaja tersesat, kita bisa saja akan menemukan diri kita yang sesungguhnya?

Dia juga bilang, "and get lost needs no itinerary.."
Of course! Kita ngga butuh itinerary buat nyasar. Karena itinerary itu membatasi kita dengan waktu.
Tapi kita butuh orang buat ngecek grammar kita apakah udah bener atau belum apalagi kalo tulisan kita mau dicetak di buku dalam jumlah banyak dan disebar ke khalayak ramai.

Gue agak bingung menentukan jumlah bintangnya. This book was okay. But I did not like it. 1,5 deh. Yaudah dibuletin deh. Ke bawah.

Buku ini berusaha untuk menuliskan mengenai keseruan traveling.
Berkelana untuk mencari jati diri. Berkelana untuk mencari jawaban. Berkelana untuk mengenyahkan gundah hati. Berkelana untuk menyembuhkan jiwa. Dan berkelana untuk sekedar berkelana.

Mungkin buku ini berangkat dari pengalaman pribadi. Sehingga cerita yang berusaha dijalin terasa begitu tertutup dan hanya bisa dinikmati oleh penulisnya sendiri. Ini jurnal, ini diari, ini juga kisah yang diceritakan oleh seseorang yang sedang bercerita ala kadarnya.

Tidak semua buku mampu menarik pembacanya untuk rela terjun bebas, terhanyut dan terombang-ambing dalam arus emosi yang deras. Dan buku ini bagaikan seseorang yang tidak kita kenal yang sedang duduk di hadapan kita sambil bercerita tentang perjalanannya mengintip dunia dan yah, sesekali berusaha menggugah hati kita dengan pelajaran-pelajaran yang semoga, juga bisa berkenan di hati kita.

Lalu kenapa kita tidak beranjak dari hadapan orang ini?
Karena kita masih mampu tersenyum dengan sopan sambil sesekali menganggukkan kepala dengan maklum saat mendengarkan.
Tapi setelah cerita diselesaikan, tidak juga kita ingin berangkat ke Bali, Singapura, ataupun Korea Selatan karenanya.

Dan ada cinta di dalamnya. Cinta yang tidak kita tahu seperti apa rasanya. Yang tidak kita tahu sesakit apa atau sebahagia apa atau bahkan mengapa itu bisa disebut sebagai cinta.

Dan beberapa pelajaran yang dapat dipetik dari buku ini, adalah melalui hal-hal yang luput untuk dikisahkan di dalamnya.
Ingin tersesat di negeri orang?
Pastikan kita bisa pulang lagi ke tempat kita menginap. Peta, nomer telepon penting, kartu dengan alamat hotel/penginapan, petty cash, dan minimal alat untuk membela diri.

Bertemu dengan orang-orang asing di tempat yang juga asing? Stranger danger and safety first, please. Karena kita masih mau pulang dengan utuh duduk di kursi pesawat, bukan di peti mati. Seriously, psychopaths are known to actually be better at faking empathy than ordinary people. And they look exactly like any one of us.

Tapi maaf, saya tidak punya nasihat apa-apa tentang bagian percintaannya. Saya sendiri sedang menunggu untuk tersesat dan menemukan apa yang sebenarnya saya cari :)
Profile Image for htanzil.
379 reviews149 followers
December 30, 2013
Novel Get Lost karya Dini Novita Sari ini mengisahkan tentang Lana Sagitaria, seorang pegawai swasta yang dalam kesehariannya terjebak dalam ritme rutinitas kerja yang membosankan. Sebagai pengusir rasa jenuhnya Lana selalu menyempatkan diri melakukan perjalanan ke berbagai tempat, bertemu dengan orang-orang asing, memperhatikan situasi dimana dia berada yang membawanya pada pengalaman-pengalaman baru yang tentunya lebih indah dibanding terjebak dalam kursi kubikelnya sambil menatap layar komputer yang menampilkan file-file yang haru dikerjakannya.

"Aku senang merasakan atmosfer baru, senang mendengarkan percakapan orang-orang setempat dengan bahasa yang tak jamak kudengar dan logat yang walau di awal terasa aneh, tetapi akhirnya menjadi terbiasa layaknya nyanyian nan merdu. Aku senang memperhatikan sekelilingku."

Pengalaman Lana dalam melakukan berbagai perjalanan inilah yang dikisahkan penulis dalam novel perdananya ini. Ada 4 tempat yang Lana singgahi yaitu Bali, Singapura, Korea Selatan, dan Surabaya-Bromo, masing-masing tempat memiliki kisahnya sendiri yang menarik untuk disimak. Dari keempat kisah perjalannya ini, kenangannya akan Dharma, seorang pria yang Lana sayangi yang tiba-tiba saja menghilang dari kehidupannya menjadi benang merah yang membuat novel ini juga memiliki sisi romantisme

Dalam perjalanannya ke Bali dikisahkan Lana membiarkan dirinya berangkat tanpa persiapan yang mendetail. Salah satu yang telah direncanakannya hanyalah tanggal keberangkatan berdasarkan tiket yang pesawat yang telah ia pesan sebelumnya. Sedangkan tempat menginap, susuanan perjalanan, dll sama sekali tidak ia persiapkan karena ia ingin menantang dirinya sendiri yang selama ini serba terencana dan sering mengkhawatirkan hal-hal detail selama liburan. Intinya di perjalanannya kali ini Lana siap tersesat di tempat-tempat yang akan ia kunjungi.

Apa yang ia temui di Bali dengan perjalanan tanpa rencananya itu ternyata berbuahkan pengalaman-pengalaman yang tidak terduga dan menuntunnya untuk bertemu dengan orang-orang yang akan menngispirasi dirinya lewat percakapan-percakapan filosofis tentang kehidupan.

Lewat tuturan seorang teman yang baru dikenalnya, Lana mendapat pencerahan tentang kenangan akan masa lalunya yaiut kenangannya akan Dharma yang tiba-tiba saja menghilang dari kehidupannya.

"Tidak selamanya kenangan buruk itu hadir untuk menyakiti koq. Lan.Kadang itu ada untuk mengingatkan kita bahwa proses hidup itu sungguh nyata. Lo nggak perlu susah payah menyingkirkannya, sering kali yang kita butuhkan hanyalah iklhas" (hlm 34)

Sedangkan dari perkenalannya dengan seorang bapak yang menyediakan tempat baginya untuk menginap di Ubud Lana mendapat mencerahan akan pencarian jawaban dan tujuan hidup manusia.

"Manusia memang ditadirkan untuk mencari jawaban. Selalu ada pertanyaan yang menggelisahkan mereka. Yang tak kita ketahui, seringnya jawaban itu sudah tersedia di hadapan kita, tapi kita saja yang terlalu jauh mencarinya, hingga seolah tak tampak"
(hlm 36)

"Tapi bapak selalu bertanya, adakah tujuan hidup yang diberikan Tuhan kepada bapak sudah bapak capai? Pertanyaan itu yang lantas memacu semangat hidup bapak setiap hari, untuk menjadikan hari demi hari bapak berguna bagi diri sendiri dan juga orang lain, sehingga pertanyaan tentang tujuan hidup itu akan terjawab dengan sempurna secara perlahan-lahan"
(hlm 42)

Di perjalanannya yang kedua, Lana kini tersesat di Singapura. Dalam perjalanannya kali ini Lana kehilangan kertas tempat ia mencatat nama dan alamat apatemen milik kawan lamanya. Beruntung ia bertemu dan berkenalan dengan Paul, pemuda bule yang mengajaknya menginap di sebuah tempat bersama-sama kelompok turis lainnya. Paul ternyata memiliki kesamaan nasib dengan Lana yang ditinggal secara tiba-tiba oleh kekasihnya. Hal ini membuat mereka menjadi semakin akrab. Melalui persahabatannya dengan Paul di Singapura, Lana belajar bahwa cinta sejati sepasang anak manusia akan pada akhirnya berlabuh di sebuah tempat walau harus melalui jalan yang panjang dan berliku.

Jika di Singapura Lana berusaha membantu Paul menemukan kekasihnya yang hilang , maka di Seoul, Korea Lana membantu Kang Soo Jung, seorang kenalan sahabatnya dimana Lana menginap selama di Korea untuk mencari hanbok (pakaian tradisional Korea) warisan nenek buyutnya yang hilang dicuri mantan kekasih Jung. Mereka berdua bersama-sama menjelajah Busan demi menemukan hanbok tersebut.



Berbeda dengan pernjalanannya ke Bali, Singapura, yang memang diniatkan Lana untuk mengusir kejenuhannya dan kepergiannya ke Korea karena memenangkan tiket gratis dari sebuah quiz di internet, perjalanan berikutnya ke Surabaya dan Bromo dikarenakan sebuah telpon dari seseorang yang bernama Kresna yang mengaku memiliki pesan yang dititipkan Dharma kepadanya dan pesan itu harus disampaikan secara langsung kepada Lana. Dengan perasaan yang tak menentu Lana ditemani teman dekatnya, berangkat ke Surabaya lalu ke Bromo untuk menerima pesan dari kekasihnya. Di bagian ini juga melalui kisah Dharma kita akan diajak mengunjungi Tibet yang karena ketinggiannya berada di sekitar 4.500 meter di atas permukaan laut, membuat Tibet menyandang gelar sebagai atap dunia.

Satu hal yang menarik di bagian ini adalah ketika Dharma bercerita tentang desa di bukit Xishan, China yang dihuni oleh sekitar 100 orang bertubuh kerdil.



"Di sana ada sebuah desa yang bernama Dwarf Empire. Memasuki desa ini kami merasa bahwa diri kami adalah serupa raksaksa, kenapa? Karena segala sesuatu di desa ini bentuknya mini, kecil. Desa ini dihuni sekitar 100 orang bertubuh kerdil. Dan segala sesuatu yang ada di desa ini pun menyesuaikan dengan bentuk tubuh mereka. Rumah sampai fasilitas-fasilitas yang ada berukuran mini. Lalu, dalam dua hari sekali mereka membuat pertunjukan semacam karnaval untuk menarik para wisatawan... Aku senang melihat bentuk kepercayaan diri mereka, dan juga cara bergaul mereka dengan para wisatawan"
(hlm 174-175)

Keempat kisah diatas tersaji secara menarik, sebagai sebuah novel fiksi perjalanan penulis tidak hanya menyuguhkan deksripsi tentang lokasi, makanan, penduduk, dari masing-masing tempat yang disinggahi tokohnya melainkan mencoba menghidupkan kisahnya dengan sisi petualangan Lana lengkap dengan sisi romantisme kenangan dan pencariannya akan Dharma, kekasihnya.yang hilang.

Selain itu di setiap kisahnya juga penulis memberi muatan-muatan perenungan filosofis terlebih di perjalanan Lana ke Bali sehingga pembaca akan mendapat 'sesuatu' dari membaca novel ini. Dalam buku ini juga penulis mengungkap dan mempertanyakan perlakuan diskriminasi yang dilakukan orang Bali terhadap turis lokal dimana turis asing lebih dihargai dan diutamakan pelayanannya dibanding turis lokal.

"Jadi masih sebegitu superiorkah warga negara asing di mata penduduk Indonesia sendiri? Bukankah seharusnya saudara sendiri lebih diutamakan daripada orang asing?"
(hlm 15)

Yang agak disayangkan dari novel ini adalah ada banyak faktor keberuntungan dan kebetulan dalam petualangan Lana seperti misalnya keberuntungan Lana memenangkan kuiz di twitter yang akan membawanya ke Korea

"Iya, seingatku sih waktu itu iseng-iseng aja jawab pertanyaan dari akun @AwesomeKorea. Udah dua bulan lalu, bo dan aku aja udah lupa! Tahu-tahu muncul pengumuman ini satu jam yang lalu..." (hlm 91)

"..aku berhak atas atas hadiah tiket pesawat pulang pergi ke Seoul menggunakan maskapai berlayanan penuh! Lebih hebatnya lagi, aku juga diberi uang saku sejumlah lima juta rupiah untuk lima hari berada di Korea Selatan"
(hlm 92)

Betapa beruntungnya Lana yang hanya bermodalkan iseng-iseng saja akhirnya ia bisa berangkat ke Korea. Apakah memang ada quiz yang hanya menjawab pertanyaan lalu mendapat hadiah sebesar itu?

Lalu ada pula faktor kebetulan yang menunguntungkan lainnya seperti bertemunya tokoh-tokoh yang memang sedang dicari saat itu secara kebetulan (agar tidak menjadi spoiler saya sengaja tidak menyertakan contoh2nya). Faktor kebetulan dalam sebuah novel memang tidak salah dan sangat mungkin dialami kita semua di dunia nyata , namun jika dalam sebuah novel kita menemukan beberapa kali faktor kebetulan tentunya hal itu membuat kisah atau konflik yang sudah dibangun menjadi kurang 'greget' penyelesaiannya.

Kemudian ada hal yang menurut saya kurang bisa diterima yaitu tentang Dharma yang mencoba mendaki pegunungan Himalaya. Di sepanjang kisahnya tidak dikisahkan bahwa Dharma adalah juga seorang pendaki gunung, lalu ketika ia sampai di Tibet tiba-tiba saja ia memiliki keinginan untuk menaklukkan puncak Everest, puncak tertinggi di dunia dan mencobanya.

Mendaki puncak Everest, puncak tertinggi di dunia dengan ketinggian 6.199 meter di atas permuakaan laut tentu saja berbeda dengan mendaki gunung-gunung lainnya,dibutuhkan persiapan yang matang baik dari segi fisik, mental, maupun peralatan. Di sini penulis tidak menyinggung hal tersebut sama sekali sehingga apa yang dilakukan Dharma yang bukan seorang pendaki gunung menjadi seolah tidak masuk akal.

Kesalahan kecil juga terdapat dalam novel ini, yaitu soal penyebutan Jacky Chan sebagai artis yang bisa ditemui di Taiwan.

"Ke Taiwan," jawab Alvin sambil menoleh dari jok ke depan. "Dia mau ketemu Jacky Chan, Lan, mau berguru kungfu..."
(hlm 28)

Seperti yang kita ketahui, Jacky Chan itu bukan artis Taiwan, melainkan artis Hongkong.

Satu hal lagi adalah tentang hanbok (pakaian tradisional Korea) yang muncul dalam perjalanan Lana ke Seoul. Alangkah baiknya jika penulis mengeksplorasi lebih dalam tentang hanbok ini, pastinya ada sesuatu yang bisa kita ambil dari pakaian tradisional Korea ini lebih dari sekedar baju tradisional yang diwariskan secara turun temurun oleh nenek buyut Jung.

Terlepas dari kekurangannya novel ini patut diapresiasi dengan baik karena novel ini tidak hanya menghibur pembacanya saja melalui petualangan Lana yang tersesat di berbagai tempat. Seperti judulnya Get Lost, novel ini menantang pembacanya untuk keluar dari rutinitas, melakukan perjalanan seorang diri tanpa persiapan matang, membiarkan diri tersesat untuk dituntun oleh semesta untuk mendapat pengalaman hidup yang barui dalam setiap perjalanan, terbuka menerima kehadiran orang-orang asing yang masuk dalam kehidupan kita sambil belajar dan berkaca akan diri.

Dan seperti apa yang dialami Lana, dalam ketersesatan di tempat-tempat yang asing bukan tidak mungkin kita akan menemukan jawaban atas berbagai pertanyaan tentang kehidupan yang selama ini terpendam dalam lubuk hati kita masing-masing.

Berani mencoba?

@htanzil

http ://bukuygkubaca.blogspot.com
Profile Image for Sulis Peri Hutan.
1,056 reviews298 followers
June 1, 2015
Kata teman-teman, justru perjalanan yang tanpa panduan itulah yang akan memberikan banyak
kejutan.

Pernah tersesat? Saya sering sekali dan nggak kapok-kapok , untungnya selalu menemukan jalan keluar walau harus menyusuri beberapa jalan tak dikenal. Nggak ada manfaatnya? Salah, kita jadi tahu jalan yang tidak pernah kita lalui sebelumnya, mengenal medan yang baru bisa juga menjadi alternatif jalan yang lebih mudah dilalui daripada yang selama ini kita tempuh. Tersesat nggak melulu dengan jalan, banyak hal yang bisa masuk dalam makna tersesat.

Begitu pula dengan Lana Sagitaria, dia merasa tersesat dengan hidupnya dan harus membebaskan diri, salah satu cara yang dipilihnya adalah dengan travelling. Ada beberapa destinasi yang dia lalui dan tanpa sengaja menjadikan dia menemukan jati diri sebenarnya, passionnya, mencari jawaban atas pertanyaan terbesar dalam hidupnya. Perjalanan pertama adalah ke Bali, dia ingin menjadikan liburan tersebut tanpa rencana biar tidak kaku, ingin bersantai, seperti air yang mengalir, yang kemudian membawanya tersesat bersama lima orang asing untuk menikmati indahnya pulau dewata. Selain itu dia juga bertemu dengan seseorang yang mematahkan perkataan kalau WNI sering mendapatkan diskriminasi dari penduduk setempat, orang bule jauh dihargai daripada WNI, dan bertemu dengan orang yang mirip dengan masa lalunya.

“Di dalam kopi susu, kandungan utamanya jelas cuma ada dua: kopi dan susu,” lanjut Gandhi tanpa menunggu jawabanku, “dalam hidup lo, lo sering banget merasa bimbang untuk menentukan pilihan. Buat lo, hidup itu sering antara hitam dan putih, benar dan salah, baik ataupun buruk. Sayangnya, hal itu sering membuat lo terjebak dalam dilema. Lo nggak mau berada dalam area abu-abu, tapi untuk menentukan berada di sisi kopi atau susu, lo pun butuh waktu yang sangat lama untuk berpikir. Lo ada di sini untuk mencari jawaban itu kan? Di sisi mana lo hendak berpijak selanjutnya? Dan satu lagi, tidak selamanya kenangan buruk hadir untuk menyakiti kok, Lan. Kadang itu ada untuk mengingatkan kita bahwa proses hidup itu sungguh nyata. Lo nggak perlu susah payah menyingkirkannya, sering kali yang kita butuhkan hanyalah ikhlas.”

“Manusia memang hidup ditakdirkan untuk mencari jawaban. Selalu ada pertanyaan yang menggelisahkan mereka. Yang tak kita ketahui, seringnya jawaban itu sudah tersedia di hadapan kita, tapi kita saja yang terlalu jauh mencarinya, hingga seolah tak tampak.”

Di Singapura, negeri seribu denda, dia tersesat bersama bule yang baru patah hati, yang berpura-pura menjadi pacarnya, seorang bule yang seharusnya melakukan perjalanan bersama istrinya, menjadikan Lana sebagai istri pura-puranya. Di Seoul, Lana menghadapi petualangan seru dengan gadis Korea, di mana seseorang telah mencuri hanbok warisan turun temurun dari nenek buyut gadis Korea tersebut dan tanpa sengaja malah ditolong oleh salah satu boyband ternama di Korea, 4AM. Di Surabaya, Lana ingin menyelesaikan masalah yang selama ini belum ketemu ujungnya, perasaannya sendiri. Dia mendapat telepon dari seseorang yang mengatakan kalau dia mempunyai jawaban yang Lana inginkan, bersama Robin temannya, dari Surabaya mereka menuju ke Probolinggo, mencari jawaban di Gunung Bromo sampai ke Tibet.

Seorang bijak pernah berkata bahwa perjalanan diukur bukan dari berapa jauh jarak yang telah kita tempuh, tetapi dari berapa banyak teman yang kita peroleh darinya.

“Apa saja bisa terjadi saat kita jatuh cinta, Paul. Entah itu cinta pertama, kedua, ataupun pada pandangan kesekian. Bagiku, cinta itu bukan untuk dipertanyakan, melainkan dirasakan.”

Tahun lalu genre travelling cukup merajalela di toko buku, sedangkan tahun ini bergeser sedikit, fiksi travelling. Contoh yang pernah saya baca sebelumnya adalah Traveler's Tale: Belok Kiri Barcelona, Labirin Rasa dan tentu saja seri STPC . Novel debut penulis yang sebelumnya lebih sering 'membersihkan kotoran' di buku ini menambah deretan buku dengan tema yang lagi booming akhir-akhir ini. Saya merasa terhormat ketika menjadi salah satu first readernya, semoga saja review saya tidak mengecewakan .

Kalau bicara soal fiksi travelling ada dua komponen yang sangat penting, cerita dan setting. Saya rasa buku ini kuat di keduanya. Buku ini bercerita tentang seorang perempuan yang ingin mencari jawaban di mana masa lalunya berada, alasan kenapa dia meninggalkannya tanpa kalimat perpisahan, dalam prosesnya dia mengunjungi berbagai tempat yang malah membuat dia tersesat dan bertemu dengan orang-orang yang menorehkan pengalaman berharga, membuat dia menyadari passion terbesar dalam hidupnya. Sedangkan untuk setting, penulis cukup menjabarkannya dengan jelas, tidak hanya berkunjung ke tempat itu dan selesai, tetapi juga menuliskan apa yang menarik dari tempat tersebut, membuat kita ingin mengunjunginya juga. Bahasa yang digunakan pun sederhana, menggunakan bahasa sehari-hari, tidak terlalu formal tetapi tidak ada kalimat yang rancu atau susah dimengerti. Saya sangat menikmatinya, rasanya penulis seperti bercerita langsung kepada saya akan pengalaman yang pernah dia alami. Menjadi salah satu kelebihan buku ini.

Kelebihan kedua adalah cover dan minim typo. Saya sangat suka dengan cover finalnya, sangat menggambarkan cerita buku ini, seorang perempuan yang membawa tas punggung, mempunyai makna suka berpetualang, dengan peta destinasi yang dia kunjungi dan plakat arah sebagai judul, menunjukkan ke mana langkah kaki menuju, jempol buat yang bikin cover. Buku ini juga dilengkapi dengan foot note kalimat asing seperti bahasa Korea atau bahasa daerah, tidak terlalu mengganggu karena penggunaannya tidak berlebihan. Pastinya nggak ada masalah buat kakak sepuh untuk mengedit sendiri bukunya dan membersihkan typo, secara pekerjaannya sehari-hari

Untuk karakternya sendiri, saya cukup menyukai Lana, seorang perempuan mandiri yang menyenangkan, mudah akrab dengan orang lain, tidak takut mencoba sesuatu yang baru dan pergi ke suatu tempat sendirian, berbeda sekali dengan saya yang cupu kalau pergi ke suatu tempat yang belum pernah disinggahi . Sedangkan untuk Dharma, di awal cerita keberadaan cukup samar, malah membuat penasaran dengan masa lalu mereka berdua, kalau melihat dari surat yang dikirimkan kepada Lana, bisa diambil kesimpulan kalau Dharma adalah tipe cowok yang teguh pada pendiriannya, nggak peduli orang mau ngomong apa kalau udah berkeyakinan pada sesuatu dia akan mengikuti kata hatinya. Agak mirip dengan Lana. Sebenarnya ada satu tokoh lagi yang keberadaannya cukup saya harapkan, Rio, teman kerja Lana yang menyukainya, sayangnya penulis hanya membuat dia menjadi salah satu tokoh figuran yang perannya tidak banyak dimunculkan, padahal kehadirannya cukup berarti loh.

Walau enggan, saya harus jujur. Ada dua hal yang mengganggu saya. Pertama adalah faktor kebetulan, banyak sekali adegan di mana Lana tak sengaja bertemu seseorang atau menggunjungi sebuah tempat. Contohnya adalah bertemu dengan cowok yang mirip dengan Dharma atau menang kuis ke Korea. Nggak salah sih dengan kebetulan, tapi kalau bisa dibuat lebih halus, maksudnya nggak terlalu ketara, sehingga nggak merasa aneh kok Lana beruntung terus ya? Saya juga pengen kayak gitu #loh . Kedua adalah bagian ketika Lana mengobrol dengan Paul, bule yang meminta Lana untuk menjadi istri pura-puranya, saya rasa agak nggak konsisten, saya lebih sreg kalau percakapannya memakai bahasa Indonesia saja, tidak campur-campur, lebih ke kenyamanan aja

Hanya itu saja keluhan saya, lainya nggak ada masalah, saya cukup menikmati petualangan Lana, tidak perlu waktu lama menyelesaikan buku ini, sehari saja sebenarnya bisa karena bukunya tipis dan ceritanya pun juga tidak membosankan. Saya berharap untuk kedepanya lagi, kisah Lana-Lana yang lain akan memiliki halaman yang lebih tebal .

Get Lost mengajarkan kepada kita kalau jangan pernah takut untuk tersesat, justru ketika tersesat kita akan mendapatkan pengalaman yang seru dan orang-orang yang sangat menakjubkan, kita bisa belajar dari pemikiran mereka.

Buku ini saya rekomendasikan buat yang suka tersesat, dalam masalah apa pun .

3 sayap untuk get lost needs no itinerary.
Profile Image for Yovano N..
239 reviews14 followers
September 5, 2014
Bisa juga dibaca di sini: http://kandangbaca.blogspot.com/2014/...


Pertama kali membaca judulnya, reaksi saya adalah, "Aduh, kasar sekali..." Kayak orang yang sedang kesal kemudian ngomong, "Get lost!" Hehe, tenang saja wahai para pembaca. Novel ini bukan tentang orang yang lagi marah-marah kok. Get Lost di sini maksudnya adalah "tersesat", sesuai dengan isi bukunya: seorang gadis penyuka traveling yang membiarkan dirinya tersesat dan membiarkan langkah kakinya dituntun oleh takdir. Melalui traveling, ia juga berharap menemukan jawaban atas apa yang dicarinya selama ini.

Lana, seorang karyawati yang memutuskan melakukan traveling sebagi bentuk refreshing agar tidak jenuh dengan lingkungan pekerjaan. Bila sebelumnya ia selalu menentukan itinerary (detail rencana perjalanan) sebelum melakukan traveling, kali ini ia mencoba hal baru: melakukan traveling tanpa itinerary sama sekali! Kejadian seru apa saja yang menanti Lana dalam ketersesatannya?

Pada kunjungannya di Pulau Dewata, Lana bertemu beberapa orang yang awalnya asing, namun melalui merekalah Lana memperoleh semacam petunjuk atas pertanyaan-pertanyaan yang mengusik benaknya. Mulai dari seorang dari seorang pria yang memiliki kisah hidup yang mirip dengannya; perjalanan ke Ubud bersama lima teman yang baru dikenalnya dan membuatnya semakin memahami dirinya sendiri; hingga pertemuan dengan seorang pria yang wajahnya mirip dengan... Dharma, seorang pria yang membuatnya jatuh cinta pada traveling. Seorang pria yang kemudian mengilang dari hidupnya tanpa jejak sama sekali. Apakah lelaki Ubud itu memang Dharma, ataukah hanya sekadar mirip?

Sebulan kemudian Lana berkunjung ke Singapura. Lana mengalami masalah di bagian keimigrasian yang membuatnya terancam tak dapat memasuki negara seribu denda tersebut. Beruntung ia diselamatkan oleh seorang pria Kanada yang mengaku kepada petugas imigrasi bahwa mereka datang bersama-sama. Untuk sesaat Lana selamat, tapi kemudian keadaan tak berjalan sesuai rencana saat Lana mendapati bahwa ia tak dapat menginap di apartemen temannya. Paul, si pria Kanada kembali menawari bantuan. Meski awalnya ragu, namun Lana akhirnya membiarkan dirinya 'tersesat' bersama Paul setelah yakin bahwa bule itu adalah pria baik-baik. Di Negeri Singa ini, Lana menjadi saksi atas kisah cinta Paul yang mengharu biru. Terbersit sebuah pertanyaan, akankah kisah Lana dan Dharma berakhir indah seperti kisah Paul?

Kemudian, sebuah keberuntungan membawa Lana ke Korea Selatan. Di negeri asal boyband Super Jonior tersebut, Lana terlibat petualangan seru. Bersama Kang Soo Jung—gadis Korea yang rumahnya ditumpangi Lana, mereka mengejar seorang pemuda yang mencuri hanbok warisan turun-temurun keluarga Jung. Sebenarnya Lana tidak wajib melibatkan diri lebih jauh dengan urusan pribadi Jung. Namun, keinginan untuk membantu Jung membuat Lana merelakan dirinya ‘tersesat’ bersamanya. Pengejaran sebuah hanbok warisan yang melibatkan anggota boyband terkenal Korea, 4AM, berujung pada akhir yang sama sekali tidak diduga oleh Lana maupun Jung.

Setelah mengalami banyak petualangan seru akibat ‘menyesatkan diri’, Lana akhirnya tiba pada sebuah pejalanan yang melibatkan keindahan gunung Bromo, dan sebuah titik terang tentang Dharma, pria yang selama ini memenuhi benaknya. Apa yang sebenarnya terjadi kepada Dharma? Masih hidupkah Dharma? Bagaimana akhir dari kisah perjalanan Lana?

Temukan jawabannya dalam Get Lost karya Dini Novita Sari.

Pertama-tama, saya ingin mengucapkan selamat kepada teman saya ini atas keberhasilannya menerbitkan sebuah novel yang selama ini menjadi cita-citanya. Sebagai sebuah novel solo perdana, saya langsung jatuh cinta pada novel ini. Saya sangat menyukai gaya menulis dalam novel ini. Penulis menggunakan bahasa sehari-hari yang sederhana dan tidak bertele-tele. Sebagai pembaca, saya merasa seolah Lana sendiri yang bercerita kepada saya, layaknya seorang teman yang sedang menceritakan kisah hidupnya dengan penuh semangat. Siapa yang tidak ikut excited bila seorang teman berkisah dengan seru dan bersemangat?

Saya juga menyukai karakter utama dalam novel ini. Tentu saja yang saya maksud di sini adalah Lana. Ia adalah perempuan yang kuat. Padahal dalam cerita ini dapat dikatakan ia setengah galau ketika membiarkan dirinya ‘tersesat’ dalam perjalanannya. Akan tetapi, hal tersebut tidak membuatnya murung, malah selalu tampil ceria, optimis, dan penuh percaya diri. Saya suka sifatnya yang terbuka dan mudah bergaul dengan orang lain. Diam-diam, saya iri kepada Lana. Sungguh, saya ingin sekali mempunyai kepribadian dan keberanian yang dimiliki Lana. Saya ingin bisa akrab dengan siapa saja di dunia nyata, terutama saat pertama kali bertemu dengan orang baru. Jujur, saya bukan orang yang gampang akrab dengan orang lain. Bila bertemu dengan orang baru, saya lebih banyak diam dan bersikap pasif. Bila tidak diajak mengobrol, maka dapat dipastikan saya dan orang tersebut akan terjebak dalam keheningan yang tidak mengenakkan (awkward silence). Saat ingin mengajak bicara, basa-basi yang keluar dari mulut saya malah cenderung garing. Itulah mengapa saya mengangumi Lana yang berani melakukan solo traveling, bertemu orang-orang baru, dan mengalami petualangan seru. Ah, maaf, saya curhat. Hehe.

Tentang ceritanya, sebenarnya cukup menarik, terutama ide cerita tentang menyesatkan diri. Akan tetapi, saya merasa banyak hal yang masih bisa dieksplorasi lebih banyak lagi oleh penulis, misalnya karakter-karakter yang tampil dalam buku ini. Sebab selain Lana (dan Jung) saya merasa tokoh lain dalam buku ini mudah untuk dilupakan (er… atau saya yang pelupa ya? Haha). Tentang deskripsi tempat di buku ini cukup detail dan sanggup membuat saya merasa seolah sedang ‘tersesat’ bersama Lana. Meski demikian, (lagi-lagi) saya merasa seharusnya bisa lebih dieksplorasi lagi. Apakah penulis terhalang jumlah halaman yang sudah ditetapkan oleh penerbit? Saya kurang tahu. Tapi bila benar demikin, yah, sayang sekali. Bagian cerita yang paling saya sukai di buku ini adalah petulangan di Korea. Saya suka unsur humor yang disisipkan oleh penulis. Misalnya, plesetan nama-nama personel boyband yang bila diperhatikan ternyata berhubungan dengan makanan. Jelas saya ngakak di bagian ini. :D

Secara keseluruhan, novel ini ditulis dengan baik. Apalagi dalam novel ini saya hampir tidak menemukan typo yang dapat menganggu kenikmatan membaca. Saya sangat yakin penulis punya potensi untuk menghasilkan karya yang jauh lebih baik di masa yang akan datang. Dan, yeah, saya sangat menantikan karya-karyanya Dini Novita Sari selanjutnya. Buat kamu yang menyukai traveling dan kisah tentang jalan-jalan, buku ini wajib masuk daftar bacaan kalian.
Profile Image for Dian Putu.
232 reviews9 followers
March 9, 2014
“Entah kenapa aku semakin merasakan gejolak yang hebat untuk berpergian. Sial! Inilah akibanya kalau terus meracuni diri dengan hal-hal yang kuketahui telah menjadi passion-ku.” Hlm. 88

Aku tersenyum, ya itu juga yang aku rasakan. Sejak awal membuka bab pertama Get Lost, aku tahu novel ini akan cocok denganku. Karena aku juga seorang traveler.
Lana, si cewek kantoran yang terobsesi dengan traveling selalu meluangkan waktunya untuk menuntaskan hobinya. Awalnya, alasannya hanya sekedar untuk menghilangkan kejenuhan dari rutinitasnya di Jakarta.
Namun, perjalanan itu ternyata lebih dari semua yang dia inginkan. Banyak ilmu hidup yang dia dapat, banyak teman baru yang bisa dia kenal, dan ada beberapa hal dalam hidupnya yang mulai terkuak. Yaitu, ternyata tujuan traveling-nya selama ini tak sesederhana itu. Ada hal lain yang ingin dia tuntaskan.
“… aku menyadari bahwa traveling bukan lagi sekedar sarana untuk melepas stres, atau refreshing. Ada sesuatu yang lebih dari pada itu, yang membuatku ketagihan untuk melakukan kegiatan ini.” Hlm. 89

Dharma, adalah pria yang membuat Lana tertular asiknya berpergian. Dia juga yang membuat Lana merasakan ketergantungan akan hadirnya, dan membuatnya jatuh cinta. Namun akhirnya, dia juga yang membuat Lana kecewa, karena saat Lana sudah memutuskan mencintai pria itu, dia malah pergi tanpa jejak. Dan, sejak saat itu, muncul pertanyaan-pertanyaan dalam diri Lana yang tidak bisa dijawabnya. Namun, di tempat-tempat yang disinggahinya itulah pertanyaannya sedikit demi sedikit mulai mendapatkan pencerahan.
“Lo ada di sini untuk mencari jawaban itu kan? Di sisi mana lo hendak berpijak?” hlm. 46
“Manusia memang hidup ditakdirkan untuk mencari jawaban… yang tak kita ketahui, seringnya jawaban itu sudah tersedia di hadapan kita, kita saja yang terlalu jauh mencarinya, hingga seolah tak tampak.” Hlm. 46

Baca selengkapnya disini >> http://dianputu26.blogspot.com/2014/0...
Profile Image for Rose Gold Unicorn.
Author 1 book143 followers
December 4, 2013
sebenarnya rating 2,5.

agak datar di awal-awal. apa karena saya barusan baca buku yang nyastra sehingga pas baca ini berasa kayak drop ajah. tapi menjelang akhir lumayan terasa konfliknya.

kayaknya bakal ada sekuel. tapi kalau memang benar ada sekuel, semoga penulis bisa mengeksplor konfliknya dan memperkaya diksi yang digunakan sehingga ga terlalu terasa kayak cerita "Percikan" di Majalah Gadis.

catatan besar buat penerbit dan editor. duh, gimana yah. bahasanya gak konsisten dan hal itu luput dari pengamatan editor. kadang casual, kadang baku banget. eh, saya nggak yakin ini sebenarnya tanggung jawab editor atau penulis. heuheuheh

mengenai footnote, ga terlalu masalah sih, informatif soalnya. cuma memasuki ending, banyak footnote yang sebenarnya nggak perlu.

pun semisal footnote "gundulmu kuwi!" di halaman 153 yang diterjemahkan secara harfiah menjadi "kepalamu itu". kalau saya bukan orang jawa, saya pasti mikir: ada apa dengan kepala? jadi gini, mungkin sebaiknya keterangan footnote menerangkan bahwa gundulmu kuwi itu termasuk bahasa slang jawa buat menyatakan semacam makian, dsb.

lalu saya agak terganggu dengan penggunaan huruf miring pada surat Dharma dimulai dari halaman 165. well, kenapa ga dicetak dengan font yang beda alih-alih dicetak miring? bikin bingung pembaca.

kalau dari segi isinya sendiri, saya merasa kayak lagi baca kisah pribadi saya. hahahaha, dekat tapi ga jadian, terus ditinggal pergi. huahahaha, bedanya saya sampai sekarang nggak tahu apa alasan dia pergi. nggak seperti dharma yang masih sudi mengabarkan lana melalui suratnya yang panjang dan detail.

TERUSSS AJA CURHAT SEEELLL!!!

review selengkapnya akan saya tulis di blog buku saya. so far, it is a nice debut. keep writing, keep learning, Mbak Noy!!!
Profile Image for Virginia Natalia Joo.
33 reviews
January 4, 2014
Untuk novel ini, aku kasih rate 3 dari 5. Hehehe, novel ini bagus dengan menjelaskan beberapa objek wisata di setiap tempat yang di bahas. Aku suka alurnya, dan cara kak Dini membuat novel ini. Unik, dan sepertinya memang gaya bahasa beliau sekali (aku membayangkan kak Dini menuangkan ceritanya sendiri dan mengemas namanya ulang menjadi Lana :p)

Aku suka sama novel ini karena alurnya yang tidak datar dan pas untuk orang yang suka baca buku travelling, termasuk aku :) Dan, aku juga suka adegan di Singapore dimana teman yang baru saja Lana kenal, Paul, bertemu kembali dengan kekasihnya. So sweeeeeeeet! Menurutku kelebihan novel ini adalah kak Dini tidak membuat pembaca bingung dengan alurnya karena lurus-lurus saja tapi tidak datar, nggak seperti novel lainnya yang kalau lurus tapi hambar :) Apalagi, catatan perjalanan yang lengkap juga menjadi nilai plus untuk novel ini!

Kekurangan dalam novel ini, terletak pada masih ada typo yang aku tangkap mata.. seperti di halaman 56 kalimat terakhir, saat Rio seharusnya menyebut “contact” namun tertulis “concact”. Juga, kata yang digunakan masih belum konsisten. Maksudku, di bagian depan pakai kata “kau”, di bagian tengah pakai kata “kamu” dan begitu sebaliknya.. Tapi itu tidak begitu masalah sih :)

Nah, overall sih itu aja kekurangan dan kelebihan yang bisa aku sebutkan ^^

oh ya, temans, jangan lupa ikutan give away ku disini ya... hanya sampai tanggal 12 Jan... semangat! ^^ http://jvbooksreviews.wordpress.com/2...
Profile Image for Stefanie Sugia.
731 reviews178 followers
November 18, 2013
"Keputusanku untuk pergi sendiri tanpa rencana juga telah memberikan catatan yang baik. Bahwa hidup terus berjalan, dan kenangan ada sebagai bagian dari proses. Selanjutnya, aku siap tersesat di tempat-tempat lainnya."

Lana membutuhkan sebuah perjalanan yang akan membiarkan dirinya menjadi seorang pengelana yang tersesat di suatu tempat. Oleh karena itulah ia akan melakukan perjalanan tanpa rencana dan panduan - sesuatu yang terasa amat menantang baginya. Ia menyukai petualangan sejak ia kenal dengan Dharma, lelaki yang selalu bisa membuatnya nyaman dan selalu ia rindukan. Dan tiba-tiba saja Dharma pergi tanpa mengucapkan kata perpisahan. Lewat perjalanan-perjalanan yang dilalui oleh Lana, ia menemui jawaban atas banyak pertanyaan dalam hidupnya - dan juga tentang Dharma.

Perjalanan Lana yang pertama adalah ke Bali, dan tanpa tujuan yang jelas ia berkeliling dengan menaiki ojek motor. Banyak hal tak terduga terjadi; salah satunya adalah pertemuannya dengan seorang lelaki tak dikenal di pantai. Entah mengapa, lelaki itu sedang mengalami hal yang sama persis dengannya dalam masalah cinta. Di Bali, Lana juga bergabung dengan sekelompok orang yang menjadi rekan seperjalanannya di Bali. Bersama mereka menikmati keindahan Ubud. Dan keputusan Lana yang impulsif, membuatnya menemukan pemikiran yang baru...

Baca review selengkapnya di:
http://www.thebookielooker.com/2013/1...
Profile Image for Zelie.
Author 2 books13 followers
December 1, 2014
Mencari kesenangan baru. Mencari pengalaman baru. Lana memutuskan untuk menyiapkan diri untuk mendapatkan kejutan demi kejutan yang baru dalam perjalanannya.

Total ada empat kota yang menjadi tujuan perjalanan Lana dalam kisah kali ini: Bali, Singapore, Seoul dan Surabaya.

Tiap kota membawa cerita tersendiri. Lewat ‘ketersesatannya’, Lana bertemu dengan berbagai orang yang menyenangkan. Belajar hal baru dari orang yang juga baru dia temui. Menularkan energi positif untuk teman seperjalanannya. Juga, akhirnya, ‘menemukan’ dirinya sendiri.

Cerita Lana membawa kita tersadar bahwa tersesat bukanlah suatu hal yang menakutkan. Selalu ada hal yang bisa kita temukan, kita pelajari, tergantung dari bagaimana cara kita melihatnya.

Review lengkap ,silahkan lihat di blog saya ya -> http://goo.gl/gxIKp5
Profile Image for Fadhilatul.
Author 1 book23 followers
December 24, 2013
selesai dalam hitungan jam!
lumayan kok kak dinoy... hihi
ini aku baca disambi tiduran, telponan sama temen, wasapan, makan bakso, minum es cincau cappuccino, dan nyeterika :)). hasilnya ada seikit robekan kecil pada satu halaman hikz.. ceroboh deh :(

ternyata buku ini drama banget yah.. jadi gimana gitu pas baca endingnya. tapi aku suka quote terakhir...
aku mengerti takdir setiap orang adalah indah. Dengan siapapun akhinya mereka bersama.

Well, tunggu reviewku di http://buku.dibaca.in yah pada 31 des 13. Coz novel ini buat posbar BBI bertema liburan :)
2 reviews1 follower
February 10, 2014
Novel ringan yang sedikit menghibur,itu pun hanya menghibur dibagian travelnya. pengarang juga tidak mencantumkan secara detail destinasi wisata sehingga tidak benar2 membawa pembaca masuk kedalam cerita tersebut. banyak cerita yg menurut saya klise sekali,kenapa pula boyband korea yang katanya terkenal itu mau membantu mereka di busan? secara schedule boyband gituan sangat padat. sorry to write this but keliatan bgt bgt kyk penulis pemula dan saya kcewa beli buku ini
Profile Image for Wenny.
134 reviews31 followers
August 28, 2016
"Namun, perjalanan ini mengajariku sesuatu. Keputusan untuk pergi sendiri tanpa rencana juga telah memberiku catatan yang baik. Bahwa hidup terus berjalan, dan kenangan ada sebagai bagian dari proses. Selanjutnya, aku siap tersesat di tempat-tempat lainnya."

review lengkap bisa dilihat di http://widybookie.blogspot.com/2014/0...
Profile Image for Anna Valerie.
186 reviews4 followers
August 8, 2022
Aku dihadiahin buku ini udah lama banget dan baru ada waktu sekarang buat baca. Di antara tbr yang lain, aku milih buku ini buat dibaca duluan soalnya ceritanya terlihat promising dan ringan kalo diliat dari sinopsisnya. Aku gak punya ekspektasi tinggi pas baca dan yak, kayaknya emang bukan taste aku, deh, bukunya. :")

Aku nggak dapet gambaran jelas tentang destinasi wisatanya--yang kukira justru akan dikulik banyak--karena lebih fokus ke pengalaman unik Lana yang ada-ada aja selama perjalanan. Ya gak apa-apa juga, sih. Pengalamannya emang fiksi banget jadi kalo mau nyari buku pelepas penat, kayaknya bisa coba baca buku ini aja.

Tbh aku gak suka sama karakternya Lana and that's one of the biggest reasons kenapa aku cuman kasih dua bintang. :")

Semangat nulisnya ya, Kak!
Profile Image for Biondy.
Author 9 books234 followers
April 8, 2015
Judul: Get Lost
Penulis: Dini Novita Sari
Penerbit: Bhuana Sastra
Halaman: 198 halaman
Terbitan: November 2013

Lana Sagitaria senang melakukan perjalanan sebagai selingan untuk mengatasi kejenuhannya menghadapi rutinitas sebagai karyawati. Alasan klasik, tetapi begitulah yang dia percaya selama ini. Hingga suatu ketika, dia memutuskan untuk berjalan mengikuti kata hatinya, tanpa itinerary, membiarkan dirinya hanyut dalam arus perjalanan. Siapa sangka, perjalanan ini justru membawanya pada jawaban penting atas pertanyaan yang selama ini terpendam jauh di lubuk hatinya. Jelajah kakinya ke beberapa kota dan negara, juga pertemuannya dengan orang-orang asing, membuatnya berkaca pada kenangan berbagai peristiwa penting dalam hidupnya, termasuk hilangnya seseorang yang sangat berarti bagi dirinya. Akankah kenangan itu tetap tinggal, ataukah sudah saatnya untuk dilepaskan?

Review

Seperti yang sudah diceritakan di blurb-nya, "Get Lost" ini bercerita tentang Lana, seorang karyawati yang hobinya jalan-jalan. Di novel ini Lana berkunjung ke empat tempat untuk menghilangkan kejenuhannya bekerja di kantor: Bali, Singapura, Korea Selatan, hingga akhirnya ke Gunung Bromo. Lana bertekad untuk 'get lost' dalam setiap perjalanannya. Alias pergi tanpa rencana perjalanan terlebih dahulu.

Membaca buku ini, saya merasa sedang membaca pelit, alias personal literature. Itu loh, buku yang isinya pengalaman pribadi penulisnya. Mungkin karena dibilang kalau penulisnya juga pekerja kantoran dan suka jalan-jalan kali, ya.

Untuk novel dengan tema 'get lost', saya merasa perjalanannya Lana ini termasuk mulus-mulus saja. Tidak ada terlalu banyak kesulitan yang dia alami dalam tiap perjalanannya. Mungkin masalah paling berat yang dia alami cuma waktu dia hampir gagal melewati imigrasi Singapura. Yah, mungkin karena saya selalu keingat sama bukunya Titik Nol: Makna Sebuah Perjalanan-nya Agustinus Wibowo waktu baca novel ini. Perjalanan di sana berat-berat dan penuh perjuangan banget kayaknya. *ya iyalah, negara yang dikunjungi kan beda jauh bingits.

Tapi, maksudnya gini: waktu saya baca "Titik Nol", saya bisa merasakan keseruan sebagai seorang backpacker. Susah senangnya masuk ke sebuah negara asing, bertemu orang-orang baru yang kadang bertolak belakang dengan kita, melihat kebudayaan serta kehidupan di negara itu, hingga mengalami berbagai jenis kesulitan, seperti: sakit, rindu rumah, hingga kejutan budaya. Poin-poin itu yang saya rasa hilang dari buku ini.

Untuk masalah percintaan yang dihadapi Lana, saya merasa kisah ini tidak begitu terintegrasi dengan perjalanannya. Bahkan di jeda antara satu perjalanan dengan perjalanan lainnya, kisah percintaan Lana hanya sepintas lalu.

Untungnya gaya bahasanya yang ringan membuat novel ini enak dibaca. Selain itu, perjalanan Lana lumayan seru untuk diikuti, walau beberapa elemen yang kusebutkan di atas kurang begitu terasa.

Selamat kepada Mbak Dini untuk novel perdananya ini. Dinantikan karya-karya yang berikutnya :D

Buku ini untuk tantangan baca:
- 2015 New Authors Reading Challenge
- 2015 Lucky No. 15 Reading Challenge
- 2015 100 Days of Asian Reads Reading Challenge
Profile Image for Kamela.
9 reviews1 follower
April 1, 2015
Ini orang saking bawel dan kayaknya paling tahu soal buku dan editing di twitter, gue sampai nyari bukunya. Ternyata gitu doang hahahhahaa. Dih, blajar nulis dulu kali mbak baru bacot.
Displaying 1 - 18 of 18 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.