Pada akhirnya, dibandingkan buku-buku lain yang harusnya ada di reading list saat ini, buku ini justru berhasil kuhabiskan duluan bahkan sebelum novelku yang nggak kelar-kelar itu. Yah, gimana ya.. karena lagi suka banget mantengin Levi gara-gara nonton attack on titan, jadi utk hiburan saat ini harus milih: baca atau nonton.
Hanya saja kalau buku seperti ini emang udah diwajibkan dibaca, jadi ini satu-satunya buku yang belakangan ini kubaca setiap hari.
Sejenak Hening ini adalah sebuah buku yang kudapati menggunakan teknik LOA yang sama seperti buku-buku pengembangan diri lain yang sebelumnya aku baca.
Bedanya, Adjie mendiskripsikan segalanya menjadi jauh lebih ringan daripada aku saat membaca bukunya Erbe Sentanu atau Rhonda Byrne. Meskipun buku mereka masih favoritku sih secara pribadi.
Ini buku adalah pemberian temanku dan I'm so happy, namanya Ana dia kasih buku ini ke aku, ada 2 sih bukunya dan aku nggak tau kenapa dia kasih dengan judul ini, dan bertepatan ketika aku lagi suka-sukanya sama tema-tema ini. Sebelumnya teman-temanku cenderung kasih aku kado dalam bentuk novel, waktu itu dikasih buku lanjutannya Dee Lestari karena belum baca, trus juga bukunya Paulo Coelho dan semua belum aku baca saat ini. Secepatnya sih tapi akan kuhabiskan buku-buku ini, kalau demam Levi sudah sembuh hahaha.
Nah, kembali ke Sejenak Hening. Buku ini mengangkat tema hukum tarik-menarik tanpa menyebutkan mengenai hukum tersebut. Jadi, kurasa, dibandingkan buku LOA lainnya, buku ini lebih ramah secara umum yang bisa dibaca bahkan untuk anak SMP sekalipun, karena memang sangat mudah diserap. Ringan bahasanya, tetapi sampai tepat kepada maksudnya.
Babnya juga tidak panjang, jadi mudah untuk diikuti setiap maksud dari setiap chapternya. Buku ini cocok sebagai buku pendamping untuk hari-hari kita, ketika kita merasa buruk, ketika kita merasa tidak bahagia, buku ini bisa kamu buka dan menjadi penyejuk hari-hari untuk ketenangan pikiranmu.
Ada bagian yang aku sukai di bagian tanya jawab di akhir, jawaban-jawaban yang diberikan sangat beragam tetapi tidak satupun dari jawaban mereka mengenai kebahagiaan berasal dari sesuatu yang materiil. Sehingga rasa-rasanya itu sangat menginspirasi kita bahwa segala hal di dunia ini yang bisa buat kita bahagia memiliki kekuatan lebih dari secara materi saja, tetapi lebih dari itu.
Buku ini jelas wajib dibaca dan menjadi rekomendasiku untuk teman-teman yang baru awal-awal ingin membaca buku-buku pengembangan diri. Secara keseluruhan buku ini mengajarkan pada mindset dan pola pikir.
Kamu akan diajarkan bagaimana caranya untuk meluangkan sedikit waktumu berhenti, melambatkan waktu, mengheningkan pikiran, dan merasakan semua nikmat yang Tuhan berikan untuk kita. Selalu merayakan apa yang kita punya, berbahagia dengan apa yang kita punya. Sehingga untuk merasa tenang, tidak perlu ke pantai, tidak perlu ke kafe, cukup berhenti sebentar, sebentar sajaa.. dan ambil sedikit waktu untuk menyadari semuanya dan berada di saat ini. Dan aku suka dengan ini, karena aku jadi merasa bebas untuk merasa bahagia dimanapun aku berada.
Bahkan yang membuatku senang adalah bagian bagaimana cara berkawan dengan setiap emosi kita, bahkan dengan yang negatif sekalipun. Tidak berusaha menyingkirkan perasaan-perasaan itu, tetapi menerimanya dengan ikhlas seperti seorang ibu yang berusaha menenangkan bayi yang menangis. Kita tidak akan meninggalkannya di luar rumah agar tidak mendengar rengekannya, tidak memukulnya, tetapi memeluknya. Dan itulah yang terjadi pada emosi kita. Seringkali kita marah, menyalahkan, berusaha melupakan, tapi tidak mau menerima dan merengkuh perasaan itu. Bahwa ternyata jika memperlakukan perasaan kita dengan lembut, perasaan ini akan tenang dengan sendirinya.
Dan ada banyaaak lagi cara-cara bersifat praktikal yang ditunjukkan Adjie dalam buku ini. Jadi, tidak sebatas teori saja. Semua yang ditulis sesungguhnya bisa diaplikasikan dalam kehiduapan kita.