Jump to ratings and reviews
Rate this book

Surat-Surat Yang Pergi

Rate this book
Biru dan Loka saling mengirim kata untuk jadi teman kala dunia sedang bermain-main dengan senang dan sedih mereka. Biru dan Loka mengabaikan doa-doanya lewat kata, lalu saling bertemu lewat kata pula.

Biru bertanya-tanya perihal dunia yang kerap kali buat gelas di hatinya retak, Loka memberi jawab perihal apa-apa yang retak, bukan berarti rusak. Biru adalah bising yang selalu Loka cari keberadaannya, sedang Loka adalah hening yang selalu Biru idam-idamkan hadirnya.

135 pages, Paperback

Published January 1, 2022

2 people are currently reading
39 people want to read

About the author

R. Khoirotun

5 books46 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
16 (36%)
4 stars
20 (45%)
3 stars
8 (18%)
2 stars
0 (0%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 14 of 14 reviews
Profile Image for ileftmybookshere.
218 reviews84 followers
August 29, 2023
Tulisan kak Reen nggak pernah gagal, selalu hangat dan membuat pembaca merasakan sebuah pelukan lewat tulisannya.

Surat-Surat yang Pergi adalah kumpulan surat-surat yang ditulis oleh Loka dan Biru. Isi dari surat-surat itu seputar kehidupan yang jelas tidak selalu mulus, banyak sekali hal-hal yang tidak mengenakkan terjadi dan kita sebagai manusia hanya bisa menerima dan mengikhlaskan semua yang terjadi. Lewat surat-surat Biru dan Loka, kita diajarkan banyak hal. Tentang bagaimana kita berdoa ketika mengalami hal-hal berat, bagaimana kita harus bersyukur atas semua yang kita alami, dan banyak hal-hal lainnya yang bikin aku sebagai pembaca merenungi kata demi kata.

Aku baca buku ini sambil ditemeni suara merdunya Nadin Amizah, benar-benar terasa calming dan healingnya. Seperti buku ini dan lagu Nadin memiliki vibes yang sama. Dan lagi-lagi pada akhirnya, Surat-Surat yang Pergi satu suara dengan lagu Nadin yang berjudul Semua Aku Dirayakan, iya karena dalam hidup ini semua hal harus dirayakan, entah sedih atau senang, semuanya layak dirayakan. Untuk semua yang sudah, sedang, dan akan terjadi, mari kita rayakan semuanya karena hal-hal itulah yang akan membentuk kehidupan kita menjadi sebuah cerita yang indah yang dituliskan oleh Pencipta terhebat kita ❤️✨️
136 reviews
January 13, 2024
4,3/5🌟

Seperti biasa, diksinya cantik dan beneran serasa di peluk ketika bacanya. Nilima Sabiru adalah perwujudan dari riuhnya kepala kita, bagaimana selalu khawatir dan sesaknya dada kita akan segala masalah di dunia. Mahidara Lokasuma adalah perwujudan yang kita butuhkan, bahwa segala yang retak belum tentu rusak.

Isinya kalimat-kalimat afirmatif, menjadi penenang, pengingat, teman dan lain sebagainya untuk kita. Seperti kata Reen, Loka dan Biru adalah kita. Loka dan Biru ada di dalam raga kita
Profile Image for Hilivla.
22 reviews
January 15, 2024
☁"Barangkali kamu adalah Loka. Atau sebenarnya, kamu adalah Biru dan Loka di satu raga yang sama." ☁

🍂Surat Surat yang Pergi - R. Khoirotun
Buku termanis yang aku beli di tahun ini. Isinya hanya 136 halaman tapi aku terngiang-ngiang dikepala. Buku ini berisi kumpulan surat-surat dari Biru dan Loka, yang saling menceritakan tentang kehidupan dan perasaan mereka.

Percakapan lewat kata yang indah. Seperti melihat lukisan dalam bentuk paragraf, aku sampai bingung dan berfikir "apakah aku sedang baca buku puisi?". Tulisannya di rangkai indah sekali oleh penulis. (Mungkin agak berlebihan, tapi aku serius).

Dibeberapa bagian aku ingin menjadi Biru, tapi aku juga ingin seperti Loka. Pada akhirnya aku suka keduanya. Jika bertemu seseorang yang tepat, rasanya indah sekali bisa menyampaikan perasaan seperti Biru menuliskan puisi-puisi untuk Loka.

Ini tulisan R. Khoirotun pertama yang aku baca dan aku jatuh cinta dengan pemilihan katanya. Hangat sekali rasanya dikala hari-hari suntuk bisa membaca buku ini.
Profile Image for Kia.
53 reviews
December 7, 2025
"Benar katamu dulu, tidak semua orang di dunia ini bisa dirangkul kuat hadirnya. Tidak semua yang ada akan selamanya ada. Tidak semua yang berjanji akan terus di sini." [pg. 102]

"Kasih dan doaku akan selalu sertaimu tanpa kamu minta. Semoga semua menjelma jadi mudah untuk semua sukar harimu." [pg. 103]

---

Sejak pertama pengin beli SSYP, aku sudah tahu satu hal yang pasti: pandangan mataku pasti akan mengabur oleh tirai bening yang kemudian pasti akan merinai jika tidak lekas kuseka. Dan ya, saat akhirnya membaca, bulir pertama pun sudah turun dari sejak halaman 20-an, lalu berkali-kali lagi di sepanjang ratusan halaman berikutnya, haha.

Seperti biasa, tulisan Kak Reen selalu cantik, walau pasti untuk yang tidak terbiasa atau tidak nyaman dengan diksi bersayap dan metafora berlapis itu akan merasa risih bacanya. Kunci menikmati buku ini adalah memang harus sedari awal tidak berekspektasi apa-apa, kurasa.

SSYP sendiri memang sudah dapat perhatian khusus dariku sejak pertama baca preview-nya, dan setelah baca full-nya memang aku tidak salah; banyak sekali untaian kata yang rasanya ingin aku cetak dengan tinta emas di dalam hati, hahaha.

Dan setelah baca full juga, ya, aku makin sadar, aku juga adalah Biru. Iya, walau kata Kak Reen tuh Loka dan Biru ada pada kita semua, bagiku sepertinya porsi Biru pada diriku itu >80%, hihi. Dan makanya dengan itu, kata-kata Loka seakan jadi pelipur dari laraku pula.

Tapi makin jauh membaca, kata-kata Biru-lah yang jadi terasa lebih menghujam hati, lantas menjelma menjadi taburan garam di atas luka yang hadir bukan karena kekecewaan, tapi karena ketidakberdayaan. Menjalarkan perih, menghidupkan lagi ruang-ruang yang pernah lupa caranya merasa. Yah, itulah kenapa kubilang, aku adalah Biru. :)

Tapi walau jalaran perih tadi memang jadi menyengat sepanjang membaca, aku tetap berterima kasih untuk itu. Terima kasih Biru, dan juga Loka, untuk segenap teduh dan hangat yang dihadirkan melalui surat-surat kalian. Karena dengan itu sekali lagi aku diingatkan, bahwa hati yang luas pasti akan menemukan tenangnya.

Tanpa harus kehilangan dirinya.

Pun, tanpa perlu melunturkan kasihnya. ♡
Profile Image for Ifa Inziati.
Author 3 books60 followers
Read
December 14, 2024
I picked the wrong book.

Saya pikir buku ini serupa buku penulis yang pernah saya baca, Selaras, dan pas banget lagi pengin baca yang vibe-nya kayak lagi mengunjungi kedai teh. Di buku itu, takarannya kira-kira 70% cerita 30% kutipan. Surat-Surat yang Pergi memuat sebaliknya. Dengan porsi puitisasi sebanyak itu dan plot yang hanya memberitahu dua tokoh utama ~sepertinya~ sedang LDR, rasanya bagaikan dibanjiri gombalan tak berkesudahan, tanpa jeda, bagai bentangan laut yang memantulkan pelita sang dewi malam. The purple prose is so purple it puts violets to shame. And I like purple! I just don't want it to overly dominate my eyesight in flairest hue possible.

Seperti ini gambaran seberapa ungunya:

Air mata berderai dari tubuh perempuan tempatku berasal, kuseka satu-satu yang jatuh, kupeluk pelan-pelan sampai utuh.

Dunia tak selalu baik hati. Tapi, kamu harus jadi selalunya, ya? Jadi baik, Biru. Miliki hati yang luas. Agar untuk apa-apa yang mungkin lukaimu tanpa ampun, kamu masih bisa berjalan dengan anggun.


Actually, not only the getekness. Kalimatnya memang indah, tapi kurang terang. Kenapa memakai istilah perempuan tempatku berasal kalau bisa langsung sebut ibunda? Atau kenapa menghilangkan me- dari melukaimu? Dan selalunya untuk mengganti selalu baik? Kalimat cantik dalam puisi dan sajak bisa sangat terang. Surat-surat mereka juga bukan lirik lagu yang terbatas melodi dan kadang-kadang harus menyingkat kata. Apa karena buku ini terinspirasi lagu dengan lirik-lirik seperti itu, yang disebutkan beberapa di sini? Tapi lirik di lagu dilengkapi kejelasannya dengan musik, sedangkan pada buku kata-katalah musik itu sendiri.

I wish Biru and Loka put more trust in their words by communicating straight. I was genuinely concerned that Biru's mom is a DV victim, and Loka's response is just ✿be kind always✿.
Profile Image for Amaya.
748 reviews58 followers
September 12, 2025
Ini kali pertama baca novel yang alurnya digerakkan oleh kumpulan surat antara dua orang yang saling suka. Satunya menemukan kebahagiaan ketika bertemu, satunya sangat cherish kebahagiaan yang lain, tapi masih nggak yakin sama perasaannya.

Kalau dipikir lagi, ini pengalaman baca yang unik sekaligus baru. Soalnya kayak lagi ngintip baca dua sejoli yang saling kirim surat. Melalui surat pula, pembaca jadi tahu apa yang dialami Biru dan Loka. Keduanya sama-sama "luka". Biru (si FL) merasa Loka (si ML) adalah suaka baru, kebalikan dari apa yang dia rasakan di rumah. Perasaan hampa yang mendadak hilang ketika kita melakukan sesuatu yang membahagiakan begitulah. Sedangkan Loka suka segalanya soal Biru.

Sama seperti cerita pada umumnya, meski berisi kumpulan cerita, punya tahapan yang jelas. Perkenalan jelas ada. Enggak panjang, tapi cukup membantu memahami. Konfliknya juga ada, sepakat dengan penyelesaian. Oh iya, ini jumhalnya sedikit, cocok buat bacaan one-sitting-read.



"... untukmu aku ada, dan untukku kamu ada." --pg. 77
Profile Image for Keysha Putri.
71 reviews
December 26, 2024
Indah, hangat. Diksinya amat cantik, dan membuat perasaan lebih baik setelah membacanya. Kisahnya sederhana, dua orang kekasih, Biru dan Loka yang berkirim surat sebab jarak yang menghambat keduanya.

Bagaimana mereka berdua saling memberi cinta, yang termasuk di dalamnya rasa sayang, bangga, sedih, khawatir, bahagia, menenangkan, dan saling berterima kasih atas kehadiran masing-masing membuat kita ikut percaya, bahwa sebenarnya, kalimat-kalimat yang ditulis Biru maupun Loka mungkin saja dibutuhkan pada kehidupan sehari-hari. Terima kasih, Nilima Sabiru dan Mahidara Lokasina <3
Profile Image for Sari Marliana.
22 reviews
March 17, 2025
Wow!! Buku dengan banyak sajak di dalamnya dan banyak juga kalimat-kalimat favoritku!!

***

Ka, seperti katamu waktu itu, bumi ini cuma teater raksasa. Yang di dalamnya berdiri panggung megah dengan jutaan lakon yang memainkan perannya. Yang namanya sandiwara, tak mungkin hanya senang saja, kan, yang kita temui di dalamnya?

***

Barangkali puisi itu juga bisa ditafsirkan begini: untuk bisa mencintai sesuatu, kita harus bisa menjadi bagian dari apa yang kita cintai. Menerima kurang dan lebihnya, menerima rekah dan layunya, menerima utuh dan retaknya, menerima ia selayaknya ia.
Profile Image for Aquiellaz.
5 reviews
August 1, 2024
cantik banget setiap kata dan kalimat nya….. kaya puitis tapi masih bisa dipahamin. yg bikin aku suka buku ini tuh juga ada pengingat & lumayan banyak ilustrasi nya dan bagusss semua pls. it’s my comfort and heartwarming book sih, aku suka semua yg ada didalam buku ini terutama karakternya Biru dan Loka ini, pokonya i love this book so much! 🤍⭐️
34 reviews
April 17, 2024
LUCU DAN BIKIN NANGISSS
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for sanrillo.
5 reviews
February 16, 2025
narasinya selalu indah, banyak banget anotasi buku ini padahal tipis
Profile Image for Aninda Putri.
12 reviews
November 9, 2023
Terima kasih kepada Biru, terima kasih kepada Loka, dan terima kasih kepada Kak Reen. Terima kasih sudah mengenalkanku dengan makna puisi mendiang Eyang Sapardi untuk 'saling mencintai tanpa pula mengurangi rasa cinta yang berhak diterima oleh diri kita sendiri.'

Dengan kisah Biru dan Loka aku mengerti bentuk cinta yang sebenarnya, bahwa tidak akan ada riuh tanpa tenang. Tidak akan ada berani tanpa takut. Tidak akan ada senang tanpa sedih. Dan aku akan selalu ingat kata Biru, "Tuhan dekat sekali dengan orang² yang remuk jiwanya." Kalo nnti seisi bumi bergotong royong hujaniku dengan luka-lukanya, semoga aku bisa bertahan ya, Biru?

Sekali lagii terima kasih, Kak Reen💐 sukaa sekali dengan diksinya, jadi mau baca karya² lainnyaa 🌷
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for a y a .
5 reviews
May 11, 2025
dunia ini punya ganjil dan genapnya sendiri-sendiri biru. lantas bagiku, kamu adalah genap untuk setiap ganjil yang aku temui.
untukmu, aku ada.
dan untukku, kamu ada.

buku ini berisi kumpulan surat dari loka dan biru. mereka saling mengirim surat satu sama lain. ngobrolin tentang hidup yang nggak selalu mulus.kadang capek, kadang nyesek, dan sering bikin kita cuma bisa narik napas panjang sambil belajar ikhlas. didalam buku ini kita diajak mikir dan belajar tentang banyak hal, tentang gimana caranya bersyukur walau semuanya nggak sesuai harapan, dan tengang hal-hal kecil yang ternyata nyentuh banget.

puitis. tapi masih gampang dicerna, setiap kata dan kalimat dibuku ini tuh cantik banget.
love this book so much!!!!! <3
Displaying 1 - 14 of 14 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.