Saatirah, wanita cantik dan cerdas begitu bahagia menerima sebuah puisi yg dijadikan sebagai mas kawin oleh kekasihnya Andro. Mas kawin yang menjadi buah bibir dan cemooh bagi warga sekitar tetapi mengandung makna tak ternilai bagi Saatirah. Pada masa itu, pernikahan seakan merupakan solusi akan sebuah “happy ending” bagi seorang putri, Ibunda Saatirah telah mempersiapkan putrinya dengan dogma dan doktrin akan istri yang baik bagi suami. Saatirah saat itu merasa begitu tersanjung dan bahagia, Andro yang selama ini menjadi kekasih sekaligus mendukung Satiraah untuk meraih impiannya resmi menjadi pasangan untuk seumur hidupnya.
Pernikahan adalah sebuah lembar baru bukan akhir dari cerita, Tahun-tahun pertama dilalui Saatirah dan Andro dengan manis. Namun gejolak pengaruh ibu kota dan tuntutan hidup terus menerpa mahligai Saatirah yang berpagar akan doktrin sang Ibu. Apapun terpaan itu Saatirah melayani suaminya dengan tulus sampai badai -badai bernama Albertine, Siska dan nama-nama manis lainnya datang silih berganti.
Pangapunten sebelumnya kepada penulis. Saya nggak membenci penulis, hanya mengungkapkan kesan jujur setelah membaca karya ini.
Sebenernya bisa dibilang (kalo kuat baca sampe selesai) bahwa ada sebab akibat dalam perbuatan kita. Ya semacam karma gitu. Apa yg kita perbuat, itu yg kita tuai. Isu yg diangkat dalam buku ini adalah selingkuh. Andro, Didit, Apa, kang Jaka...hampir semua laki-laki yg disebut di novel ini selingkuh. Entah dengan alasan klise macam "atas nama cinta sejati" maupun "arus bawah", tentang kejantanan lelaki. Ada satu tokoh lelaki yg bisa dibilang mending daripada yg lain, yaitu Tora, karena mencintai Saatirah meskipun tau kalo Saatirah wanita bersuami dan beranak satu. Sempat terbersit di benak Saatirah, "Perempuan kalo selingkuh sadar sendiri, lelaki kalo selingkuh harus disadarkan." Iya ta, para lelaki? :p
Lalu ada bumbu klenik di sini. Poin plus-nya, (lagi-lagi kalo bisa baca sampe akhir) adalah sebagai pengingat terutama umat Muslim bahwa di jaman modern ini banyak klenik yg dibalut dengan ayat Al-Qur'an yg dipotong-potong. Saatirah punya ponakan bernama Anyelir yg mampu menerawang permasalahan hingga masa depan seseorang, dengan bantuan Mamak (ini jin kayaknya). Dalam prakteknya, mantra yg digunakan ada potongan dari ayat Al-Qur'an tapi sang "pasien" nantinya juga dikasih jimat-jimat gitu. Dari novel ini, gw ambil kesimpulan bahwa "dalam hubungannya dengan dunia perklenikan, selingkuh terjadi karena lelaki kena pelet atau perempuan yg terlihat mempesona karena auranya dipasangi susuk."
Meski pesannya cukup bagus di akhir cerita, gw pribadi sebel sama Saatirah. Kalo pas belum nikah aja suka dimaki sama calon suami, kenapa masih ngotot nikah? Tapi kadang cinta memang aneh :p
Terima kasih iJak atas peminjaman bukunya
N.B: agak bingung sama judulnya. Menurut KBBI [kerlingan/ker·ling·an/] n pandangan mata melirik; lirikan: sedangkan Saatirah nggak ngelirik siapa-siapa sih di novel ini.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Novel dengan tema perselingkuhan atau suami kawin lagi(lagi dan lagi)biasanya tak kuat saya selesaikan. Jiwa saya yang rapuh dan mudah baper ini, bisa berteriak kalo saya nekat baca novel jenis begitu. Tapi buku ini membuat saya penasaran. Bukan cuma cemilan yg menemani, air mata jg jadi teman saya di bab2 awal. Entahlah, mbak Saatirah ini mau saya sebut pasrah, bodoh atau cinta buta? nrimoooo bgt kelakuan suaminya yg seperti itu. Padahal Mbak Ra ini walaupun berasal dari kampung, tp berpendidikan dan dosen looh! Tapi ya begitulah, didikan "menyembah" suami telah melekat erat di otak mbak Ra, sampe2 dia buta. Buat aku, ketika laki2 melakukan kdrt, yg pertama bs jd khilaf. Namun jika terjadi kedua kalinya, itu adalah kesalahan qt sebagai perempuan krn membiarkan laki2 menyakiti kita. Kenapa saya kasi 2*, itu karena saya begah. gerah, enek ngeliat sikap mbak Ra. Sikap pasrah dan nrimonya bikin saya pengen guncang badan2 mbak Ra biar gegar otaknya sembuh. Apalagi saat dia pasraahh ketemu sama orang pinter bt "nyembuhin" suaminya yg katanya dipelet. meh, sebelum2nya lakinya udh brengsek jugaa toooh. oh iyaa, setelah baca sampe abis, garis tipis yg bisa saya ambil adalah tentang khilaf kita sebagai manusia yg kadang lebih mempercayakan nasib kita pada "orang pinter" ketimbang menangis dalam sujud dan mengadu pada Tuhan.
Membaca novel ini membutuhkan kesabaran berkali-kali lipat sambil terus mengusap dada mengucap 'nauzdubillah'. Novel sejenis inilah yang bikin perempuan paranoid untuk menikah. Apalagi perempuan konservatif dan penuh pertimbangan seperti saya.
Meski begitu, saya suka cara mbak Ninik mengekseskusi ending-nya. Seandainya bisa, saya ingin sekali bertemu sama penulisnya kemudian menanyakan apa gerangan motivasinya menulis novel 'mengerikan' seperti ini? Ya Allah, novel ini bahkan lebih horor dari semua film horor yang saya tonton.
Membaca novel ini butuh kesabaran ekstra, helaan napas panjang, kepala dingin untuk mencerna alur pikiran tokoh utama. Saya bukan penyuka tema perselingkuhan alias puber kedua. Dari awal, diksi-diksi menohok yang dipakai oleh penulis jelas membuat pembaca tidak tegaan seperti saya langsung mundur. Namun, mengingat deskripsi teman saya yang menggebu-gebu ketika menceritakan pengalaman membacanya, mau tak mau membuat saya menyelesaikannya. Dipadukan dengan puisi jelas membuat novel ini semakin istimewa. Jalan pikiran Saatirah mungkin tidak bisa saya pahami hingga saat ini, tetapi secara keseluruhan saya bisa menangkap inti cerita dan pengajaran di dalamnya. Cukup bagus. Hanya sayang ending-nya dirasa terlalu menggantung.
First, i wanna kindly remember you all that this review is my opinion. Peoples have a different opinion so don't take it too seriously.
Menurutku temanya lumayan bagus, aku cukup suka dengan gaya bahasa ceritanya. Tema dari buku ini pun menurut saya cukup greget, di buku ini aku "greget" dengan sifat Saatirah yang terlalu bodoh dan terlalu menganggungkan suaminya. Tapi yang saya kurang suka dari buku ini alurnya yang terkadang bertele-tele (well, it's just my opinion) dan apa ya, ada sesuatu yang kurang dari buku ini, the things that i can't explain through the words
Walau melihat rating buku ini yang cukup rendah, gue malah suka buku ini.
Baca jalan pikiran dan keputusan-keputusan Saatirah memang bikin emosi. Bayangkan saja, dia punya suami yang terang-terangan mengaku punya perempuan idaman lain dan meminta izin Saatirah untuk berpacaran dengan Shintia, si perempuan lain. Eeh bukannya ngamuk-ngamuk, Saatirah malah mengizinkan walau dengan berat hati!
Selanjutnya, derita seakan tiada akhir untuk Saatirah. Suaminya semakin nempel dengan Shintia dan bahkan bisa-bisanya mengasari Saatirah yang dinilai kurang ajar karena beraninya menghardik Shintia. Karena pertemuannya dengan keponakannya yang punya bakat menerawang, Anyelir, Saatirah pun mengetahui kalau ternyata Andro, suaminya, telah dipelet Shintia. Maka kemudian, Saatirah pun terlibat praktik perdukunan untuk merebut kembali hati Andro, suami yang dicintainya.
Agak ribet memang ya... Dan mungkin untuk banyak orang terlihat tidak masuk akal. Tapi serius, hal yang mirip pernah terjadi pada orang yang saya kenal dan memang, tipe orang seperti Saatirah memang ada (walau saya bingung, biasa yang nrimo begini kan perempuan Jawa, Saatirah kan Sunda) dan penggunaan dukun dalam urusan manipulasi rasa cinta memang benar ada juga (biasanya buntut2nya urusannya harta siiih). Saya mau cerita tapi nanti kepanjangan dan terkait privasi kenalan saya juga siiih. Untungnya, tidak seperti Saatirah yang malah tercebur dalam praktik perdukunan, kenalan saya memilih mendekatkan diri pada Tuhan dan mengalah saja demi kedamaian hatinya, yang terbukti merupakan pilihan yang tepat.
Di buku ini banyak dijelaskan mengenai praktik perdukunan dan bagaimana sebenarnya walau terkesan praktik tersebut bisa menyelesaikan masalah, hal itu tidak benar. Hanya kepada Tuhanlah seharusnya manusia membawa segala masalahnya dan memohon kekuatan untuk melaluinya.
Karya yang menarik. Yang menghalangi saya memberikan bintang 5 adalah judul di cover yang menggunakan "Di balik kerling" padahal judul di cover dalam hanya "Saatirah" dan gaya bercerita yang "tua" banget. Berasa baca novel Marga T. Hahahaha!
Yaaa...bolehlaah... Seengganya masih bisa ambil pelajaran dari buku ini, walaupun rasanya mau maki-maki tokoh utamanya "Kok bodoh banget?!" Saya kalo jadi Saatirah mending cerain suaminya dari awal. Tapi yaaa, kalo Saatirah cerain dari awal nggak bakal ada novel ini, dong? :D