Jump to ratings and reviews
Rate this book

Hibiscus: samaran, misteri, dan balas dendam

Rate this book
Bali gempar. Pierre Villeneuve, wisatawan asal Perancis, ditemukan tewas terbunuh di sebuah kamar hotel mewah. Tangannya menggenggam bunga sepatu dan tak ada yang bisa memecahkan arti dari bunga itu.

Bagaskara, seorang detektif yang menyamar menjadi pemandu wisata, adalah pemandu yang mengantar Pierre dan keluarganya keliling Bali pada hari naas itu. Bagas gusar. Rasa keadilannya terpancing.

Kini yang bergerak bukan Bagas si pemandu wisata, tapi Detektif Bagaskara. Meski dengan mempertaruhkan misi dan samarannya, dia bertekad mengungkap kasus pembunuhan ini sampai tuntas. Semakin dia menyelidik, semakin dia menemukan banyak korban lain.

Dia kini harus mengerahkan semua kemampuannya untuk mencari si pembunuh sebelum jatuh korban berikutnya. Bagas sadar kini dia dikejar oleh waktu, tanggung jawab dan kematian.

252 pages, Paperback

First published September 1, 2013

3 people are currently reading
29 people want to read

About the author

Agnes Arina

1 book1 follower
Agnes Arina lahir di Yogyakarta. Lulusan Sastra Prancis UGM, bekerja di Bali Authentique selama tiga tahun. Desember 2009 memutuskan keluar karena ingin menjadi penulis.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
0 (0%)
4 stars
11 (17%)
3 stars
28 (44%)
2 stars
20 (31%)
1 star
4 (6%)
Displaying 1 - 25 of 25 reviews
Profile Image for Biondy.
Author 9 books236 followers
September 2, 2014
Judul: Hibiscus
Penulis: Agnes Arina
Penerbit: Bentang Pustaka
Halaman: 252 halaman
Terbitan: September 2013

Bali gempar. Pierre Villeneuve, wisatawan asal Perancis, ditemukan tewas terbunuh di sebuah kamar hotel mewah. Tangannya menggenggam bunga sepatu dan tak ada yang bisa memecahkan arti dari bunga itu.

Bagaskara, seorang detektif yang menyamar menjadi pemandu wisata, adalah pemandu yang mengantar Pierre dan keluarganya keliling Bali pada hari naas itu. Bagas gusar. Rasa keadilannya terpancing.

Review

Novel yang mengecewakan untuk saya. Belakangan saya banyak melihat novel thriller yang ditulis oleh penulis Indonesia, makanya saya pengin coba baca dan pilihan saya jatuh pada buku ini. Prolognya terdengar menarik dan juga karena saya pengin baca novel detektif lokal di luar karya S. Mara Gd dan V. Lestari.

Cuma sampai akhir, saya tidak menemukan sesuatu yang saya suka dari buku ini. Karakternya tidak menarik. Bagas, yang harusnya jadi tokoh utama, malah terasa seperti sampingan. Dia tidak terlalu mendapat sorotan karena POV-nya terlalu sibuk berpindah ke karakter lain. Selain itu, dia juga tidak punya 'sesuatu' yang khusus, selain rasa takutnya pada kucing, yang membuatnya memorable. Jujur saya tidak bisa melihat dia sebagai tokoh detektif dari sebuah serial.

Tokoh-tokoh tersangka dan saksinya juga terasa datar buat saya. Winih, side-kick-nya si Bagas, mungkin yang agak mendingan. Dia banyak menyamar keliling-keliling membuntuti tersangka, jadi ada lebih banyak aksi di dia.

Untuk karakternya, saya rasa terlalu banyak. Apalagi semakin ke belakang mereka semakin mirip. Kadang bikin bingung ini siapa yang mana.

Untuk ceritanya sendiri, yah, saya tidak melihat hibiscus sebagai sesuatu yang benar-benar penting di sini. Memang ada peranannya, tapi bukan sesuatu yang benar-benar utama. Kesimpulan akhir kasusnya kurang menggigit. Tidak ada bab kesimpulan khas novel detektif di sini, jadi pembaca harus menghubungkan sendiri semua benang merah yang ada.

Untuk gaya narasi, saya kurang sreg sama banyaknya pengandaian di sini. Seperti:

Banyak pengunjung makan enak, minum bir, merokok, bercakap-cakap, dan tertawa-tawa seperti merayakan kemenangan perang (hal. 22)


Malam itu angin bertiup kencang. Tanaman puring dan kamboja terus meronta seperti balita rewel pada malam hari. Bunganya berjatuhan bagai air mata. (hal. 46)


Butiran pasir mengerumuni sepatu mereka bagai gula halus pada donat. (hal. 202)


dan favorit saya:

Wajah cantik Anne pucat. Dadanya sesak seperti seorang Yahudi diburu Nazi. (hal. 33)


Kesimpulannya, saya tidak suka novel ini. Mungkin saya akan mencoba novel thriller Indonesia lain yang lebih banyak mendapat respon positifnya dulu untuk mengembalikan semangat saya membaca buku sejenis.

Buku ini untuk tantangan baca:
- 2013 New Authors Reading Challenge
Profile Image for Dhyn Hanarun .
329 reviews205 followers
October 27, 2015
"Bali Harmonie terancam bangkrut kalau pembunuhnya tidak segera tertangkap. Kami sulit yakinkan mereka kalau Bali aman. Pembunuhan itu hanya dendam pribadi yang kebetulan terpuaskan di sini. Bali tidak salah sama sekali, tapi siapa yang percaya?" – halaman 98

Detektif Bagaskara menyamar sebagai pemandu wisata agen perjalanan Bali Harmonie untuk bisa mengungkap kasus pencurian kayu di Bali. Tetapi dia malah dihadapkan dengan kasus pembunuhan yang terjadi pada keluarga yang dia pandu. Keluarga Villeneuve. yang berisi pasangan suami istri, Pierre dan Anne, putri mereka, Melanie, dan pacarnya, David Biguais, sebenarnya tidak begitu merepotkan sampai Pierre tidak setuju dengan hotel yang dipilih dan melayangkan protes kepada manajer pemasaran agen travel tersebut, Jean Clement. Pierre juga mendadak tidak ramah kepada pasangan Roland yang menjadi teman ngobrol beberapa jam yang lalu. Saat makan malam pun dia tidak setuju dengan rencana Melanie dan David untuk menikah. Tapi dia masih mau menolong masalah ekonomi keluarga Martine Le Coq dan anaknya, Christine.

Malamnya, Pierre ditemukan tewas dengan luka tusukan dan sedang mengenggam bunga sepatu. Anne menemukannya pertama kali, di susul oleh Melanie. Melanie menyangka pelakunya adalahnya ibunya. Dia mengamuk dan mencekik ibunya sendiri. Kabar itu menyebar dengan cepat. Bagas merasa terpanggil untuk memecahkan kasus itu. Di dekat TKP, Dia berjumpa dengan Jean, yang tampak babak belur, dan mengorek infomasi dari saksi-saksi yang ada.

--

Hibiscus menceritakan sebuah kasus pembunuhan misterius yang cukup seru. Sulit menebak siapa pelakunya karena TKP-nya membingungkan dan orang-orang yang dicurigai punya motif yang macam-macam. Mengambil setting di pulau Bali, banyak acara jalan-jalan ke berbagai tempat wisata. Banyak yang sudah sering aku dengar, banyak pula tempat yang baru aku tahu. Dan karena turis bulenya dari Prancis, ungkapan dan percakapannya dicampur dengan bahasa Inggris dan Prancis. Tenang, ada footnote yang menjelaskan artinya. Tapi kedua mataku sempet ‘ogah’ naik turun di halaman tertentu dan mencoba menebak-nebak sendiri artinya. Lumayan lah untuk belajar sedikit hehehe.

Sampai pertengahan cerita, Bagas dan jajarannya belum juga menemukan titik terang. Tapi satu persatu saksi yang dicurigai mulai berguguran dengan sendirinya. Aku sangat lega karena agak susah menghafalkan nama-nama dan latar belakang mereka. Lalu tiba-tiba ada sedikit twist-nya yang mengejutkan. Sayangnya penjelasan selanjutnya tidak begitu memuaskan. Pelaku terungkap karena suatu barang yang sudah diamankan sebagai barang bukti sejak lama. Jadi pemecahan misteri ini tinggal menunggu waktu saja.

Baca review selengkapnya di http://dhynhanarun.blogspot.co.id/201...
Profile Image for Ayu Welirang.
Author 17 books93 followers
January 29, 2018
Oke. Buku ini menarik hati saya yang sedang iseng di TM Bookstore, Lebak Bulus. Kalau pertama kali melihat, orang-orang juga pasti akan langsung tertarik dengan desain covernya. Sebuah telapak tangan yang menggenggam bunga sepatu, dengan background warna pastel yang tidak terlalu mencolok.

Jadi, saya pun membawanya pulang. Hanya sekilas membaca sinopsis dan saya pastikan kalau isinya adalah sebuah cerita detektif.

Cerita ini bermula dari seorang pemandu sebuah agen pariwisata bernama Bagas yang bertugas untuk memandu keluarga Perancis, Pierre Villeneuve dan keluarga. Awal pertemuan dengan keluarga ini tak berlangsung buruk, sebab Pierre adalah orang tua yang ramah.

Tapi, beberapa pertemuan dengan orang Perancis lainnya, membuat Pierre tak nyaman, apalagi setelah anaknya menyusul ke Bali untuk berlibur bersama pacarnya, David Biguais.

Dan selang waktu, Pierre ditemukan tewas dengan dua luka tusukan. Tangannya menggenggam bunga sepatu yang sudah layu.

Dari sana, si pemandu bernama Bagas, melupakan tugasnya dan samarannya yang kala itu diperintahkan untuk membuka kasus penyelundupan kayu. Karena tertarik dengan kasus pembunuhan Pierre, maka Bagas pun mengambil bagian dalam kasus itu, tanpa membuka kedoknya sebagai pemandu. Perjalanannya di Bali, membuka beberapa petunjuk yang masih abu-abu.

Secara garis besar, buku ini mengalir seperti buku-buku detektif pada umumnya. Mengalir dan mengantar kita menuju petunjuk-petunjuk yang harus disusun ulang oleh pembaca bagai sebuah puzzle. Mungkin, kelemahan yang ada dan bisa menjangkiti para pembaca hanyalah permainan detail. Terlalu banyak nama dan detail yang membuat pembaca kadang kala lupa pada detail itu, dan harus mundur beberapa halaman, untuk membaca kepentingan tokoh-tokoh tambahan dan detail-detail yang kurang tergali itu. Saya saja sudah beberapa kali membolak-balik halaman, karena kerap lupa dengan Pauline Roland, keluarga Le Coq, keluarga ini, dan keluarga itu. Setelah menemukan fase detail tersebut, saya kembali ke depan, kembali ke pengumpulan puzzle yang dilakukan oleh Bagas dan teman-teman menyamarnya.

Kadang, saya juga bingung, kenapa harus begitu banyak samaran yang dilakukan? Sebegitu mengertikah si penjahat yang kelihatannya amatir ini terhadap penyamaran? Ah entahlah kalau itu. Mungkin, dengan tegas penulis ingin menampilkan sebuah kisah detektif yang penuh intrik dan samaran, agar pembaca pun tak bosan membaca tokoh-tokoh. Tapi, yang saya temui malah kemajemukan tokoh. Satu tokoh menjadi macam-macam wajah yang detailnya kerap saya lupakan.

Namun, pada akhirnya, penulis terlalu cepat menyimpulkan kasus pembunuhan. Terlalu buru-buru menarik alibi dan modus operandi pembunuh, sehingga dengan mudah, pembunuh Pierre pun ditemukan. Rasanya, setelah dibawa masuk ke dalam labirin rahasia, tiba-tiba saja pintu keluar itu terbuka di depan mata. Saya merasa, penjelajahan saya dalam mengumpulkan puzzle rahasia itu jadi biasa saja. Tidak wah.

Tapi, saya salut pada penulis, karena baru kali ini ada penulis perempuan yang mencoba untuk memunculkan kisah detektif ala Sherlock Holmes atau detektif Conan. Pembaca rasanya perlu disuguhkan novel yang memuat unsur seperti ini, setelah beberapa waktu lamanya para pembaca apalagi pembaca perempuan lebih banyak disuguhkan kisah romantis kota besar. Buku ini semacam jadi oase baru di dalam dunia literasi - sastra wangi.

Jadi, akhir kata saya rate 3 dari 5. :)

[Ayu]

Update log:
Reread finished at: 29/01/2018 Review: https://ayubacabaca.blogspot.co.id/20...
Profile Image for Indira Iljas.
206 reviews10 followers
August 31, 2016
Masih kalah sama Ruwi Meita, padahal ekspektasi sy tinggi ketika melihat cover ini buku hiksss....hikssss..... kenapa kau tega sekali mbak Agnes Arina.... :(

Keberatan dengan penyebutan "detektif" untuk seorang polisi yg tinggal di Indonesia. Klo Inspektur oklah... tapi klo detektif ?? mungkin penyidik kali ya tepatnya... klo di telinga saya kata2 "detektif" kyak berada di Amerika sana.

Tokohnya kebanyakan, jadi membuat yg baca beralih cepat. Belum jg dpt gambaran si tokoh A eh udh ganti ke tokoh B. Apa saya yg lemot ya ???

Di hal. 64. " Tim penyidik kesulitan membedakan sidik jari pegawai hotel, penghuni villa dll nya...". Bagi saya ini agak janggal ya.... sebagai pecinta film dan bacaan detektif (ceilee), cara kerja polisi yg saya tau, pertama mereka akan mengelompokkan orang2 yang akan dijadikan saksi, narsum ato tersangka. Jadi pastilah teratur bgt cara kerjanya... dan lagi se kupret2nya pulisi indonesia pastilah alat2nya udah canggih bgt, masa gak bs bedain sidik jari si ??

Ahhh sudahlah tidak usah dibahas lagi toh aku mah apah atuhh....

Mau cari bacaan lain ajah :(
Profile Image for Shannon.
47 reviews
February 17, 2014
Baik sampul depan maupun belakang menjanjikan cerita thriller yang dinamis. Terkesan bahwa Detektif Bagaskara akan terlibat dalam dua kasus yang saling berhubungan, atau dua kasus berbeda yang akan menyita seluruh waktunya.

Namun, walau menjadi bahan pembunuh waktu yang lumayan, ceritanya cukup mengecewakan.

Pertama, hampir semua tokoh mendapat porsi sorotan yang sama dalam novel. Padahal seharusnya sebagai tokoh utama, Detektif Bagas mendapat porsi lebih banyak, atau setidaknya aksi yang lebih banyak. Saya tak menemukan keduanya dalam novel ini.

Plot cerita pun menyeleweng. Kasus awal yang ditangani hampir tak ada kabarnya sama sekali.

Ketiga yang cukup memusingkan adalah hubungan antara para turis yang sedikit kompleks dan secara pribadi saya merasa terhambat dalam membaca novel karena harus mengingat-ingat hubungan antara para tokoh tersebut.

Untuk kelebihan buku, mungkin gaya penulisan yang tak sulit dipahami, walau beberapa pengandaian terkesan ganjil.
Profile Image for Nurul.
83 reviews2 followers
July 11, 2017
Sorry to say, saya ga suka sama ceritanya. Bahkan saya ga berminat menyelesaikan membaca cerita hingga akhir. Saya hanya sanggup baca sampai halaman 80. Menurut saya, alur ceritanya ga rapi. Hmm terus suasana yang terjadi dari tokohnya berganti sangat cepat. Ditambah tokohnya banyak sekali, tanpa karakter yang kuat. Mulanya saya pikir, semakin saya baca lembar berikutnya, saya akan mengerti ceritanya, tetapi justru saya malah semakin bingung.
Profile Image for Mihael Kheel.
29 reviews11 followers
May 20, 2017
Apresiasi penulis Indonesia! jujur saja saya baru pertama kali menemukan novel detektif yang dikarang oleh orang Indonesia. Sebelumnya saya hanya membaca novel detektif dari penulis legendaris, Conan Doyle, Agatha Christie, dan kau tau sebagainya. Sungguh luar biasa! keep spirit!
Profile Image for Arintya Widodo.
60 reviews31 followers
February 5, 2017
Membaca novel ini seakan diajak bernapas dengan cepat, karena tiap detik berharga bagi Detektif Bagaskara untuk mengungkap kasus pembunuhan itu.

Latar khas Bali yang kental juga menambah kesan magis serta rasa deg-degan. Baru kali ini saya membaca novel detektif dengan latar Indonesia, khususnya Bali. Tidak bisa dipungkiri, begitu tahu bahwa novel ini kental dengan kisah detektif, terbesit di benak saya akan kisah detektif tersohor yang sampai sekarang masih menjadi idola, Sherlock Holmes. Namun, kisah setangkai bunga kembang sepatu dan Detektif Bagaskara mempunyai cita rasa tersendiri yang membuatnya berbeda.

Novel ini banyak ditaburi dengan dialog berbahasa Prancis dan bahasa Bali. Beberapa footnote membantu saya dalam memahami apa maksudnya. Tidak jarang, penulis menyisipkan maksud dari dialog berbahasa asing itu dalam dialog tokoh lain. Whatta good idea! Mata saya nggak melulu naik turun untuk ke footnote.

Belum usai dengan kasus Pierre, Detektif Bagaskara kembali mendapat “kejutan” dengan terbunuhnya Pauline Roland. Kini bukan lagi kembang sepatu yang menjadi barang bukti, melankan sebilah sabit yang menancap di leher korban yang nyaris putus itu.

Sumpah, bikin merinding!

Saya terperangah di akhir cerita. Kenapa sih harus tokoh yang saya anggap minor justru menjadi pelaku pembunuhan keji itu?

Well, saya cukup puas dengan jalan cerita yang menegangkan serta setting lokasi yang kaya akan kebudayaan Bali tersebut. Bagi kamu yang hobi membaca novel detektif, rasanya novel Hibiscus ini wajib menjadi bahan bacaan kamu selanjutnya.
Profile Image for Joy Agustian.
Author 3 books3 followers
February 16, 2015
Sengaja membeli buku ini lantaran lihat harganya di TB online yang nggak sampai 20ribu rupiah. Saya ingat waktu itu ada pesta buku akhir tahun. Jadi, banyak buku yang didiskon.
Oke, first thing first, saya penasaran terhadap jalan cerita sekaligus tema yang diangkat dari buku ini. Pembunuhan. Bisa jadi bercerita tentang detektif dan aksi selidik-menyelidik. Saya suka bagaimana Agnes mendeskripsikan suasana Bali dengan sangat tepat dan begitu detail. Saya harus angkat topi dengan kemampuan tersebut. Terlepas dari semua itu, ada beberapa poin yang bikin saya mengerutkan dahi sewaktu membaca buku ini lebih jauh. Contoh; tokoh yang terlalu banyak sehingga memusingkan, alur yang terlalu sering jumpy, dan cara penyelesaian masalah yang terlalu membosankan.

Kurang suka ketika si penulis menggunakan POV orang ketiha serbatahu. Akan lebih menarik ketika Bagas yang jadi central character dan melibatkan diri di sebagian aksi. Oke, barangkali penulis sengaja memakai pov orang ketiga supaya setiap kejadian bisa diterangkan lebih detail.

Selebihnya, buku ini cukup segar untuk genre thriller-misteri di Indonesia. Masih sedikit penulis Indonesia yang menulis dengan genre seperti ini. Mbak Agnes beruntung sekali bisa menemukan editor yang sangat teliti dalam menyunting naskahnya.
Profile Image for Febrianti Pratiwi.
59 reviews7 followers
April 12, 2015
kalo aku pribadi sih suka novel ini. soalnya penulis berhasil bikin aku mencurigai semua orang yang alibinya nggak kuat di awal2 pengungkapan pembunuhan pierre. dan alurnya sukses bikin tegang.
di luar tokoh yang terlalu banyak dan kebanyakan orang prancis jadi namanya susah dihafal (bikin ketuker dan berkali-kali bolak-balik halaman buat nyari tau si ini siapa ya, hubungannya sama si ini apa ya) dan lumayan banyak tokoh yang sebenarnya nggak penting, menurutku nggak ada yang mengganggu.
*brb nyari novel genre sejenis*
Profile Image for Dita D. Palupi.
9 reviews1 follower
September 26, 2015
Baru kali ini saya membaca novel detektif yang tidak berasa detektif (hampir) sama sekali. Seharusnya novel ini bisa menjadi lebih baik lagi. Akan tetapi, alur cerita yang agak tidak jelas dan hambar membuat saya hampir tidak menyelesaikan novel ini karena tidak bisa dibuat penasaran dengan ceritanya. Yang lumayan bagus dari novel ini mungkin penggambaran tokohnya. Sisanya, saya berharap bahwa akhir cerita dari novel ini tidak seakan-akan mendadak dipaksa selesai dan seharusnya novel ini mengikuti genre nya yang seharusnya: genre misteri.
Profile Image for Ossy Firstan.
Author 2 books103 followers
December 10, 2013
Bagus,tapi rasanya kurang greget
Kita dibawa saja oleh penulis yang bercerita, tapi seakan tidak diberi kesempatan untuk menduga. Okey, mungkin hanya dari sudut pandang saya saja. Biasanya, kalo membaca buku genre ini kita kadang suka sok menduga-duga siapa pelakunya, tapi disini seperti kabur dan kurang jelas
Oke Mbak Agnes, maafkan saya dan saya tunggu karya selanjutnya, Saya cukup suka bukunya *)
Profile Image for Puput.
298 reviews144 followers
November 22, 2016
2.5 stars.

I was completely sold by the pretty cover! Gambar mozaik tangan menggenggam bunga sepatu di atas kertas krem. Sooo pretty! sayang konfliknya kurang greget, kurang menantang untuk menebak-nebak siapa pelakunya. Terus terlalu banyak karakter figuran yg fungsinya kurang jelas, dan banyak deskripsi yg sebenernya ga perlu... ga perlu kan setiap orang2nya makan disebutin makanan sm minuman apa yg dipesen terus sausnya saus cabai apa bukan.....
Profile Image for Vanda Kemala.
233 reviews69 followers
November 9, 2014
What kind of mystery novel is this?

Motifnya terlalu biasa, penyelesaiannya juga terkesan sederhana, ceritanya sering lompat terlalu jauh, terlalu banyak nama yang muncul tiba-tiba dan bikin pikiran "orang ini siapa?", penggambaran kejadian pembunuhannya juga nggak ada, kenapa korban kedua dibunuh juga nggak jelas, alat bukti yang udah ketauan tapi juga nggak dibuktikan ada dan dapat dari mana, dll dkk dsb.

Kecewa? Iya. Banget.
Profile Image for Akaigita.
Author 7 books241 followers
May 16, 2021
Tokoh detektifnya sangat keren. Prolog yang sangat bagus.

Sayangnya pembunuhan baru terjadi di bab 4. Seharusnya masalah utama muncul di bab 1.

POV orang ketiga, tapi seharusnya fokus pada kerja detektifnya daripada si korbannya.

Gak ada bab pengungkapan kasus yang menjelaskan seluruh keanehan kasus ini.

HIBISCUS sendiri tidak memiliki andil apa-apa dalam pengungkapan kasus.
Profile Image for Nunik Kartikarini.
352 reviews3 followers
February 17, 2015
Alurnya biasa saja, tapi pengembangan karakter dan konfliknya sudah bagus dibanding penulis lokal lain. Buildup ketegangan dan rasa penasaran sangat kurang, pembaca jadi tidak berselera membaca buku secara runut
Profile Image for Ryan.
Author 2 books17 followers
June 18, 2016
Hampir sama dengan kebanyakan pembaca, buku bertema detektif ini tidak berasa seperti buku detektif pada umumnya. Agak hambar dengan beberapa chapter terasa kurang terhubung satu sama lain. Endingnya juga begitu saja. Meskipun demikian, buku ini cukup membuat penasaran hingga akhir
Profile Image for Ayu Fitri.
Author 8 books12 followers
July 24, 2016
2 bintang dari aku.
Meh, ini apa sik?
Cerita detektif kok begini amat ya.
Aku merasa semua terkesan dipaksakan, bukti-bukti sampai alibi rasanya kayak tempelan aja, diada-adain.
Komik Det. Conan menurutku lebih nyata dan alami.
Maaf ya, mbak Agnes.
Profile Image for Abdul Azis.
127 reviews13 followers
November 27, 2013
terlalu banyak karakter didalamnya yang menjadikan cerita seperti benang kusut, ditambah pembagian adegan cerita sangat singkat.
Profile Image for Mario.
74 reviews6 followers
May 3, 2015
Alur hanya bagus di awal, menjelang akhir semua berantakan.
Profile Image for Yonna Hutagalung.
17 reviews2 followers
February 26, 2016
Dari awal sebenernya sudah seru, menegangkan, ga mudah ketebak. Sayangnya, dibagian akhir pas pelakunya ketauan kurang feel klimaksnya.
Profile Image for Adinda Putri.
13 reviews1 follower
June 14, 2016
Akhirnya dapet lagi novel dari penulis indonesia tentang detective. sejenis misteri pembunuhan yang emang dicari-cari banget cerita kayak gini. aaahh sukaaaa. tapi kurang tebel novelnya :p
Profile Image for Izza.
394 reviews8 followers
December 2, 2014
good story.... but a little bit jumpy at the end of the story
Profile Image for Nadytia KS.
68 reviews6 followers
July 5, 2018
Pertama kali melihat sampul depannya, saya sudah tertarik, apalagi ditambah dengan penjelasan di sampul belakang. Kisah detektif, wah, sesuatu yang harus dibaca!

Berlatar belakang di Pulau Bali, novel ini bercerita mengenai pembunuhan seorang wisatawan asal Prancis. Detektif kita, Bagaskara, saat itu sedang menyamar menjadi pemandu wisata sang turis, langsung tersentil untuk mencari pelaku pembunuhannya, meskipun dia punya misi yang lain.

Secara keseluruhan, novel ini seru, sampai di akhir saya kebingungan untuk mengira-ngira siapa pelakunya. Nebak si A, eh bukan. Nebak si B, eh bukan juga. Ditambah dengan beberapa percakapan dalam Bahasa Prancis dan lokasi-lokasi di Bali, pembaca jadi mudah terbawa suasana.

Ada beberapa poin yang ngambang, padahal mungkin sebenarnya bisa dipakai untuk lebih membingungkan pembaca. Misal, saat ada yang mengira Melanie pernah ke Bali sebelumnya. Bagian itu, menurut saya, bisa dikembangkan lagi, tapi ya nanti jadi makin tebal ya halamannya :))

Ada beberapa kesalahan teknis. Saya memang tidak terlalu fasih Bahasa Prancis, tapi saya bisa mengenali bahwa beberapa kata-kata Prancis dalam percakapan, ditulis tanpa ada spasinya. Jadi kata-katanya dempet-dempet. Untuk saya, hal ini lumayan mengganggu.

Kesimpulan penyelesaian kasus tidak disampaikan. Pembaca harus menghubungkan teka-tekinya sendiri, antara pembunuhan-pembunuhan yang terjadi, serta motifnya. Alangkah lebih memuaskan jika kesimpulannya tertulis.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Displaying 1 - 25 of 25 reviews