Jump to ratings and reviews
Rate this book

Hatta: Aku Datang karena Sejarah

Rate this book
"Aku telah memilih pergerakan sebagai jalan hidupku,
dan aku pun harus siap menerima segala konsekuensinya."

Beri Hatta lima pilihan, rendang, laut, buku, sekolah, dan Makkah, maka tanpa ragu dia akan memilih Makkah. Sebuah pilihan yang didasari pengaruh Pak Gaek, sang kakek yang menggantikan peran ayah, semenjak Hatta menjadi yatim. Tetapi, sang ibu tak ingin Hatta pergi ke Makkah. Alhasil, nasib pun membawa Hatta muda ke Jakarta kemudian ke Belanda. Bersinggungan dengan ketidakadilan penjajahan membuatnya bergabung dalam pergerakan nasional. Sebuah pilihan penuh risiko yang membuatnya terbuang ke Digul hingga Banda Neira.

Pilihan itu pula yang mengantarkannya bertemu dengan Soekarno, Sjahrir, dan orang hebat lainnya. Persahabatan dan pertukaran pikiran yang membentuk jalan hidup Hatta. Sjahrir yang suka pesta dan Soekarno yang melamarkan Rahmi untuknya. Meski akhirnya, Hatta terpaksa melihat bagaimana para sahabatnya ini berlintang jalan, dan dia sendiri pun tersingkir. Hatta tak pernah membenci. Di saat-saat terakhir Soekarno, dia sempat menjenguk dan menitikkan air mata melihat kondisi sahabat seperjuangannya itu.

Hatta: Aku Datang karena Sejarah, ditulis Sergius Sutanto yang telah menghasilkan sebuah film dokumenter tentang Hatta. Dengan landasan riset mendalam dan dukungan keluarga, novel ini akan membawa kita lebih dekat pada sosok pribadi bapak bangsa ini.

354 pages, Paperback

First published September 1, 2013

59 people are currently reading
623 people want to read

About the author

Sergius Sutanto

5 books6 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
101 (47%)
4 stars
75 (35%)
3 stars
26 (12%)
2 stars
6 (2%)
1 star
4 (1%)
Displaying 1 - 30 of 45 reviews
Profile Image for Reiza.
189 reviews7 followers
July 5, 2014
Membaca buku ini seakan menyadarkan saya akan ketidaktahuan saya tentang sejarah nasionalisme bangsa ini. Pun berikut orang-orang yang menyuburkan benih-benih nasionalisme tersebut. Penderitaan mereka, perjuangan mereka, perjalanan mereka, dan sebagainya, dan sebagainya.

Dan Hatta disini, menjadi salah satunya.

Saya cukup sering mendengar kisah-kisah kesederhanaan Bung Hatta sebelumnya. Dari kisah ia yang menabung membeli sepatu, hingga kisah istrinya, Rahmi Rachim, yang karena terkena imbas sanering (pemotongan uang) terpaksa menabung kembali demi membeli mesin jahit. Hatta, dalam posisinya saat itu tentu tahu perihal akan dilaksanakannya kebijakan sanering ini. Tetapi sebagai seorang yang berprinsip menjaga rahasia negara, ia pun tidak memberitahukannya kepada siapapun, termasuk istrinya sendiri. Kisah-kisah tersebut tak pelak memang menimbulkan decak kagum dalam diri saya.

Dan melalui buku inilah, decak kagum saya bertambah.

Saya mendapatkan banyak sekali kisah-kisah perjuangan Hatta. Tentang bagaimana ia selagi berada dalam organisasi PI (Perhimpoenan Indonesia), berada dalam penjara di Belanda, hingga menuju pengasingan di Digul dan Banda Neira. Sekaligus memberikan gambaran bagaimana kondisi yang harus diterima mereka yang memperjuangkan kemerdekaan dan kebebasan bagi kita-kita disini, anak cucu mereka. Kisah Hatta kecil yang saya dapatkan disini pun cukup dapat membangkitkan imajinasi saya.

Hanya saja, terdapat dua titik penting yang menurut saya cukup krusial yang menjadi kekurangan buku ini.

Pertama, mengenai awal mula kedekatannya dengan Soekarno. Saya kurang mendapatkan gambaran mengenai kenapa Hatta bisa menjadi Dwitunggal, yang menyebabkan pelekatan nama Hatta dan Soekarno.

Kedua, ini masih berkaitan dengan permasalahan pertama. Terdapat “celah waktu” yang tidak dibahas didalam buku ini, yang nampaknya justru sangat berkaitan dengan pembentukan pribadi Hatta dan kedekatannya dengan Soekarno. Bagian ketika Jepang datang ke Hindia Belanda (sesuatu yang sudah ‘diprediksi’ Hatta tahun 1930an sebagai Perang Pasifik – Perang yang akan menentukan jalannya kemerdekaan Indonesia), pembebasan para tapol Belanda (termasuk Hatta) dan waktu tiga serangkai (Soekarno-Hatta-Sjahrir) merumuskan strategi pergerakan, adalah celah waktu yang sayangnya tidak dibahas secara khusus dalam buku ini. “Celah waktu” ini – sayangnya lagi – kurang dikemas, sehingga yang terjadi adalah imajinasi pembaca yang sudah menikmati alur dan penggambaran yang ada, sontak dihancurkan dan dipaksa untuk berpindah tempat secara tiba-tiba.

Tidak hanya bercelah, tetapi juga meloncat. Dari penggambaran suasana yang damai antara Hatta dan Sjahrir yang sedang berbincang di pantai Banda Neira ditemani dengan anak-anak angkat Sjahrir yang sedang bermain-main, tiba-tiba pada halaman selanjutnya sudah berpindah secara drastis. ‘Meloncat’ ke tiga hari sebelum kemerdekaan, 14 Agustus 1945 dengan segala ‘ketegangan’ yang ada.

Sehubungan dengan itu, terdapat titik-titik krusial dalam kisah Hatta, seperti pertentangannya dengan Soekarno, pecahnya Dwitunggal dan keluarnya Hatta dari pemerintahan, yang kurang dibahas secara mendalam. Untuk bagian-bagian seperti ketika agresi militer Belanda dan bagaimana Hatta mewakili Indonesia dalam KMB, pun tidak mendapat bagian dalam buku ini.

Tetapi terlepas dari kurang komplitnya buku ini membahas kisah hidup Hatta, saya pribadi merasa nyaman membaca bukunya. Terdapat kisah-kisah yang pada akhirnya menyadarkan kita bahwa bahkan seorang Hatta sekalipun hanyalah rakyat biasa. Seperti rakyat biasa yang ia coba wakilkan, yang coba ia bangun, dengan beberapa kelebihan dan kelemahannya.

Hatta sendiri adalah rakyat.

Dan saya pribadi merasa diperkaya dengan buku ini.

Empat bintang untuk buku ini karena penggambarannya yang dapat membentuk imajinasi saya secara baik, pembentukan dan penggambaran karakter Hatta yang terasa, berikut pemikiran-pemikirannya yang juga dapat dihadirkan dengan baik oleh mas Sergius Susanto. Andaikata kisah Hatta digambarkan secara lebih komplit, dan juga tidak ada “celah waktu” yang mengganggu, mungkin saya akan memberikan lima bintang.

Ah, tetapi mau empat atau lima bintang pun, jika kisah Hatta ini difilmkan, maka saya akan jadi orang-orang yang ikut mengantri kok.

Jadi, selamat membaca sejarah, selamat merasakan sejarah. Semoga kita dapat meneruskan perjuangan beliau.

aamiin
Profile Image for Afifah.
Author 62 books222 followers
January 22, 2014
Saya adalah penggemar Bung Hatta. Maka ketika mendapatkan novel ini berada (terjepit) dengan tumpukan buku lain di toko buku langganan saya, seketika saya mengambil dan membelinya. Sempat ada sedikit nyeri melihat betapa tak proporsionalnya para insan perbukuan 'memperlakukan' salah satu orang terbaik bangsa ini. Minimal, ketika saya bandingkan dengan wajah-wajah tokoh yang biografinya menjadi sampul dari buku-buku yang banyak terpajang, saya merasakan betapa minimnya publikasi Bung Hatta. Seorang walikota yang saat ini menjadi gubernur, paling banyak mendominasi. Lalu beberapa tokoh yang saat ini sedang bergelut di dunia politik. Sahabat Bung Hatta, Bung Karno, jauh lebih baik, mungkin karena filmnya baru beredar, buku-bukunya pun banyak bermunculan.

Begitu saya bayar, langsung saya tenggelam membaca novel biografi ini. Novel dibuka dengan penceritaan flashback, yakni saat Bung Hatta mengundurkan diri dari jabatan sebagai Wakil Presiden. Itulah saat Dwi Tunggal Proklamator pecah. Kelindan emosi Bung Hatta yang merasa sedih dengan keputusan yang dia ambil sendiri, cukup apik digambarkan oleh penulis novel ini, Sergius Sutanto.

Selanjutnya, alur cerita mengalir dimulai dari ketika Hatta (kadang disebut Atta, kalau di beberapa referensi, Bung Hatta terlahir dengan nama Muhammad Athar), masih kecil. Betapa sejak awal sebenarnya dia sudah dipersiapkan untuk belajar agama di Mekkah atau Al-Azhar Kairo, namun ternyata takdir berbicara lain. Bung Hatta lulus ELS, lalu masuk ke MULO Padang, dan melanjutkan ke Prins Hendrik School--sebuah sekolah menengah dagang di Jakarta. Di Jakarta inilah, Hatta remaja mulai mengenal beberapa tokoh pergerakan, termasuk Agus Salim. Mulailah Hatta menyadari apa yang terjadi dengan bangsa ini.

Lulus PHS, Hatta melanjutkan sekolah di Handels Hoge School di Rotterdam. Di sana dia aktif di Perhimpunan Indonesia, bahkan menjadi ketua umum. Aktivitas memperjuangkan kemerdekaan itulah yang membuat dia sempat merasakan penjara Casuaristraat. Saat itu usianya baru 25 tahun!

Sejak itu, Hatta hidup dari penjara ke penjara. Bahkan sempat diasingkan di Boven Digoel dan Banda Neira. Perjuangan itulah yang membuat Hatta tak sempat menikmati hidup. Beliau bahkan baru menikah pada tahun 1945, tiga bulan setelah kemerdekaan, saat itu Bung Hatta berusia 43 tahun. Istrinya, Rahmi, berjarak usia 24 tahun lebih muda dari beliau.

Novel ini sangat menarik. Sayang, entah mengapa, saya merasa kurang detil. Penggambaran setting masih kurang memadai. Padahal, salah satu yang membuat saya tertarik untuk membeli novel ini adalah karena ingin mencari referensi tentang Boven Digoel. Saat ini, saya memang sedang menyusun sebuah novel ber-setting Digoel. Tetapi, informasi yang saya dapat dari novel ini malah kalah detil dibandingkan dengan artikel-artikel yang saya dapatkan dari hasil 'googling.'

Paham Sosialisme vs Islam, serta ekonomi kerakyatan/koperasi yang menjadi intisari ajaran Hatta juga kurang dibahasa secara serius. Padahal, jika mau dikatakan, salah satu peninggalan Bung Hatta yang paling berharga adalah konsep tersebut.

Saya juga agak ragu dengan dramatisasi penulis tentang betapa berharganya kopi untuk Bung Hatta, sampai-sampai penulis khusus memberi judul bab 16 dengan "Tuhan dan Kopi", serta membuka bab yang menceritakan bagaimana Hatta dipenjara itu dengan "Mahabesar Tuhan yang telah menciptakan kopi" (Hal 119).

Lepas dari itu, ikhtiar penulis untuk menovelkan Kisah Bung Hatta, patut diacungi jempol. Semoga masih ada buku-buku tentang Bung Hatta, baik biografi maupun ajarannya. Karena saya pernah mendengar bahwa Bung Hatta sebenarnya seorang penulis produktif, tetapi sangat jarang saya dapati karya beliau terpajang di toko-toko buku. Ada di mana buah pemikiran beliau itu?

Profile Image for Bina Izzatu Dini.
99 reviews4 followers
January 13, 2018
Mengenal Bung Hatta lebih dalam. Sosok inspiratif, idealis, dan sederhana. Kesejahteraan rakyat adalah hal yang tak pernah lepas dari perhatian dan fokus utamanya.

Memahami konflik dwitunggal dengan lebih detail, dari sudut pandang Bung Hatta.

Cara penulisannya cukup mengalir dan enak dibaca, dengan bumbu berbagai peribahasa Minang dan puisi yang indah.
Profile Image for Fachrur Rifqi.
12 reviews
June 4, 2018
Jarang saya mendengar cerita tentang Bung Hatta. Melalui buku ini, pembaca dibawa untuk mengenal sosok Bung hatta lebih dalam. Bagaimana kecintaannya terhadap ilmu dan perjuangannya demi Bangsa Indonesia.
Profile Image for tia.
239 reviews7 followers
July 29, 2022
Keseluruhan 4.75 dari 5🌟

Terlalu banyak hal keren di buku ini. Dan terima kasih pada penulis. Meski singkat dan ringkas, kesan kuat dari perjalanan menapaki kehidupan seorang Bung Hatta, membekas di saya.
10 reviews
December 22, 2017
Novel yang mengajak kita menyelami kehidupan sang proklamator lebih dalam, tak lupa yang dengan kesederhanaannya membius kita untuk kembali berpikir bagaimana sosok seperti Bung Hatta dapat kembali bereinkarnasi ke negeri kita yang sedang kering dari sosok berintegritas.
Profile Image for Nidamia.
25 reviews31 followers
May 9, 2022
buku ini mengajarkan kita hidup sederhana dan lapang dada. sosok bung hatta yg begitu sangat mencintai buku sungguh membuat kita termotivasi untuk turut mengikuti kecintaannya kepada buku.

telah banyak yg mengulas secara epic ttg buku ini. kucoba ambil beberapa kutipan yg keren dr dalam buku ini:

"ikhtiar dijalani, takdir menyudahi" (hlm. 25),

"karena masyarakat hanya akan menjadi baik karena bimbingan agama" (hlm. 57),

"apalah arti kekerasan hati jika sudah berhadapan dengan air mata seorang ibunda. aku mencoba mengambil hikmahnya mungkin itu memang jalan terbaik untukku" - Hatta (hlm. 74),

"memang, membaca dan mempelajari adalah 2 hal yg berbeda. tetapi apa yg dibaca tak akan hilang begitu saja dr kepala. bahkan banyak yg menyangkut di otak sehingga bisa menjadi modal besar u/ memahami masalah hidup" (hlm. 83),

"proses pembelajaran mampu membukakan mata hati terhadap banyak aspek dalam kehidupan ini" (hlm. 163),

"pahlawan yg tak bernama. itulah makna perjuangan yg tulus" (hlm. 174),

"apa jadinya hidup ini bila tak ada buku?" (hlm. 178)

"menurut pendapatku, tidak ada yg tetap di dunia ini. semuanya berubah. apa yg tidak bisa sekarang, di kemudian hari bisa terjadi, sebab itu, aku tetap pada pendirianku" - Hatta (hlm. 194)

"keterasingan kadang bisa menyuburkan satu ruang, tempat segala inspirasi beranak-pinak" (hlm. 213)

"rasa tidak suka pd seseorang kadang bisa menyarukan kebenaran" - Hatta (hlm. 278)

"menanggapi segala tuduhan tanpa bukti yg kuat sama dengan menampar angin di udara. sia-sia" (hlm. 282)

"kita selalu menggembar-gemborkan, bahwa negara kita berdasarkan pancasila, tetapi di mana keadilan, peri kemanusiaan, dan demokrasi yg sebenarnya. adakah demokrasi, kalau orang merasa takut, harus tutup mulut, kritik tidak diperbolehkan, sehingga berbagi hal yg tidak dapat dipertanggungjawabkan berlaku leluasa?" (hlm. 286),

"republik Indonesia berdasarkan pancasila pada hakikatnya harus meninggikan kebenaran, keadilan dan perikemanusiaan guna mencapai keselamatan, kebahagiaan dan keadilan sosial bagu rakyat" - Hatta (hlm. 318),

"seringkali penderitaan berubah menjadi sebuah keberanian u/ terus hidup dan memaafkan" (hlm. 342)
Profile Image for Ana Indriyani.
87 reviews18 followers
April 9, 2019
ini adalah novel biografi yang pertama saya baca.
Saya menyempatkan diri untuk membaca bagian pengantar untuk memilah dan memilih sebatas mana yang "fakta" dan batas mana yang "fiksi" agar tidak ada yang salah atau menyalahi pemahaman saya tentang "sejarah" yang selama ini saya pelajari.
Novel ini berawal dari kekecewaan Moh. Hatta terhadap sahabatnya sendiri Bung Karno. Kekecewaan yang membuatnya kembali mengenang masa lalunya. Saya melihat sekaligus belajar bahwa sosok Atta (Moh Hatta ketika masih muda), tumbuh atas dasar kekecewaannya terhadap banyak hal. Mulai dari janji belajar di Makkah yang gugur ditenggah jalan, janji pendidikan yang tidak sesuai dengan harapannya, sampai kekecewaan pada sahabatnya sendiri. Tapi kecewa dalam hal ini dianggap positif oleh Atta untuk belajar menerima, berikhtiar, menghargai dan yang jelas memahaminya dari sudut yang paling sederhana. Atta hanya menyakini bahwa semua yang telah ditakdirkan untuknya adalah yang terbaik. Ia cukup untuk bersabar.

Novel biografi ini tidak hanya berkisah tentang Atta namun juga rekan-rekan seperjuangannya. Membuat kita kembali menengok sejarah kita. Saya pribadi merasakan pergulatan batin saya ketika membaca narasi novel ini. Perjuangan, keteguhan hati, dan prinsip dimana melaksanakannya tidak semudah mengucapkannya. Banyak sekali yang harus di korbankan untuk kebenaran. Saya juga sempat meneteskan air mata saat membaca beberapa bab yang penuh dengan makna perpisahan.

Mungkin saya terlalu lebay, berlebihan, namun novel ini termasuk buku yang saya rekomendasikan untuk dibaca semua generasi. Walau saya sadari masih banyaknya peristiwa yang perlu saya cari literasi pendukungnya tapi setidaknya buku ini bisa dijadika pembuka untuk belajar mengenai negeri kita ini, Indonesia.

Terimakasih
Profile Image for Marina.
2,042 reviews359 followers
February 27, 2015
** Books 61 - 2015 **

Buku ini untuk memenuhi New Author Reading Challenge 2015 dan Yuk Baca Buku Non Fiksi 2015

3,4 dari 5 bintang!


Baru kali ini saya membaca buku yang mengisahkan tentang biografi Mohammad Hatta.. Salah satu tokoh dibalik proklamasi Indonesia yang berasal dari Sumatera Barat. Setelah membaca buku ini saya jadi mendapat pemahaman lebih dalam dan mengagumi sosok beliau

Bayangkan saja sejak kecil beliau dididik dengan ilmu agama yang sangat kuat sehingga memiliki pondasi yang kuat ketika memegang jabatan di pemerintahan. Saya terharu ketika membaca saat beliau memutuskan berhenti menjadi wakil presiden Republik Indonesia karena beliau tidak ingin terbawa arus budaya korupsi, menolak jabatan apapun yang ditawarkan oleh perusahaan asing dan tetep memegang teguh nilai-nilai yang dia anut.

Apalagi disaat Demokrasi Terpimpin berkuasa, dimana ia terbuang dan terkucilkan dari negara. Berhenti mengajar di UGM karena dianggap pahamnya tidak sealiran, bersebrangan pendapat oleh rekannya Ir. Soekarno, dibenci oleh PKI karena keteguhan hatinya..

Ia berusaha berteriak dan bertahan dengan menulis dan membaca buku-bukunya tapi apa daya ia tenggelam dengan keserakahan pemerintah akan kekuasaan.. Pahlawan yang harusnya dihargai tapi entah kenapa malah terlupakan >__<
Profile Image for Cindhi Cintokowati.
23 reviews1 follower
August 26, 2015
Suka dengan cara penulisnya membawakan cerita ini macam novel. Mengajak pembaca untuk kenal Bung Hatta secara personal.
Kelemahannya: penulis kurang memberikan konteks sejarah, terutama di akhir2 buku seakan2 ingin cepat selesai. Beberapa tokoh sejarah yang berinteraksi dengan beliau juga kurang dielaborate (ga menuntut untuk rinci sih, ini kan biografi Bung Hatta bukan yang lainnya) jadi pembaca yang buta sejarah macam saya ini agak kesulitan untuk tahu dia siapa.
Profile Image for Nina Silvia.
39 reviews10 followers
September 2, 2014
Buku yang sangat-sangat mudah dipahami, karena tulisannya yang mengalir, bisa dipahami dgn cepat karena awal penulisannya adalah dari skenario film, buku yang tepat untuk di baca saat rasa nasionalismu sedang turun atau saat kamu muak dengan laku pejabat indonesia.
Saya berharap buku ini akan menginspirasi banyak orang untuk menjadi manusia yang lebih baik. Bagi saya buku ini ngefek sekali.
Profile Image for Alfa.
203 reviews8 followers
August 2, 2017

“Satu hal yang dianggap Hatta sangat mendasar sampai akhirnya memilih mundur dari jabatan. Dia enggan menjadi penonton sirkus yang dipaksa bersorak usai pentas, padahal pentas itu sama sekali tidak menyenangkan hati .... “ hal.19

Mengikuti perjalan Bung Hatta dari masa kecilnya hingga menjadi wakil presiden mendampingi Soekarno membuat saya semakin kagum dan hormat pada Beliau. Pemikiran, gagasan, cita-cita yang selalu Beliau pegang adalah untuk negeri dan rakyat yang Beliau cintai. Bung Hatta terus memegang prinsip yang diyakininya meski pada akhirnya hal itulah yang membuat Beliau akhirnya mengundurkan diri dari jabatan wakil presiden.

Semangat perjuangan Bung Hatta untuk kemerdekaan Indonesia membuatnya berkenalan dengan banyak tokoh penting diantaranya Soekarno, Sjahrir dan banyak orang hebat lainnya. Sjahrir menjadi sahabat yang penting bagi Bung Hatta, kesamaan paham dan prinsip menjadikan Sjahrir teman seperjuangan yang selalu Bung Hatta dapat andalkan. (saya secara pribadi menikmati bagaimana penulis menceritakan persahabatan dua tokoh ini, sempat tertawa menikmati interaksi dua sahabat ini, juga saya merasakan kehilangan yang dirasakan Bung Hatta ketika Sjahrir meninggal dunia).

“... sejarah dunia memberi petunjuk pula bahwa diktator yang bergantung kepada kewibawaan orang seorang tidak lama umurnya. Sebab itu pula sistem yang dilahirkan Soekarno itu tidak akan lebih panjang umurnya dari Soekarno sendiri. Umur manusia terbatas. Apabila Soekarno tidak ada lagi, maka sistemnya itu akan roboh dengan sendirinya seperti rumah dari kartu “ hal. 275-276

Sejak awal prinsip dan jalan perjuangan yang ditempuh oleh Bung Hatta dan Soekarno sudah berbeda, namun kebutuhan negerilah yang menyatukan mereka. Pada tanggal 17 Angustus 1945 Bung Hatta mendampingi Soekarno membacakan text proklamasi, menyatakan kemerdekaan Indonesia. Banyak hal yang membuat Bung Hatta akhirnya mengundurkan diri dari jabatannya, korupsi yang semakin merajalela dikalangan pejabat, sistem demokrasi terpimpin yang diusung Soekarno, juga kedekatannya dengan PKI. Bung Hatta sendiri sering memperingatkan Soekarno tentang hal ini, namun sepertinya Soekarno tidak mengindahkan peringatan yang disampaikan oleh Bung Hatta.

Hal lain yang saya suka dari Bung Hatta adalah kecintaannya kepada buku, bahkan ketika menikahi Rahmi mas kawinnya adalah sebuah buku yang ditulis sendiri oleh Bung Hatta dengan judul Alam Pikiran Yunani.
“ Hatta mencintai buku seperti penari gandrung irama lagu.... Buku adalah kawan setianya, kawan sepenanggungan yang menyimpan banyak rahasia dan cerita... “ hal. 23

4/5*

nb. Baca buku ini jadi pengen baca tentang Sjahrir jg
Profile Image for Muara Marbun.
3 reviews1 follower
June 15, 2020
"Buku ini adalah sebuah novel sejarah yang paling fantastis yang pernah saya baca dalam dekade ini, saya bisa mengikuti kisah hidup Hatta dengan mudah bagaikan meluncur begitu saja"
------
Pertama saya membeli buku ini di sebuah acara diskonan buku dan buku tersebut hanya tampak satu diantara buku-buku lain yang berbeda kategori, atau bisa saya katakan buku ini "tersesat". Karena saya sudah tertarik dengan judulnya (karena saya penggemar Hatta), maka tak ragu untuk membeli buku yang harganya saat itu cuma 32.000 Rupiah. Suatu keberuntungan yang hebat dan makin hebat bilamana saya membaca isinya.
Isinya diawali dari kisah Hatta pasca pengunduran diri dari posisi Wakil Presiden, dan selanjutnya adalah pemaparan kisah Hatta dari kecil yang masih diasuh oleh Pak Gaek (pamannya) dan Siti Saleha (ibunya) hingga pertemuan kembali Dwitunggal semasa sakit. Pak Sergius Sutanto sebagai pengarangnya berhasil membuat suatu novel yang tidak membuat saya membantah isinya, tapi selalu dibuat penasaran akan lembaran berikutnya. Jika kalian ingin memiliki dasar atau rasa historis dari seorang tokoh yang dituangkan dalam bentuk novel, buku ini mungkin bisa menjadi referensi yang menarik untuk para pembaca.
Hal itulah yang membuat saya tertarik dengan pak Sutanto mengingat dibagian terakhir buku ini membahas secara singkat tentang penulis serta karyanya. Menurut saya, dia berhasil menyulap kisah seorang pahlawan dengan elegan dan saya menikmatinya.
Profile Image for Agung Wicaksono.
1,093 reviews17 followers
December 9, 2020
Perjalanan Mohammad Hatta untuk menjadi salah satu pendiri Republik Indonesia memang penuh hambatan dan perjuangan; dari mulai menjadi tawanan politik Kolonial Belanda sehingga ia diasingkan di Digul dan Banda Neira, sampai ketika ia berbeda pendapat dengan Sukarno yang menyebabkan ia mengundurkan diri sebagai wakil presiden pada 1956. Selain itu, diceritakan juga di novel ini, karena Hatta memegang teguh prinsipnya, ia tidak mau menerima jabatan atau uang yang dirasa bukan miliknya. Tak jarang, istri dan ketiga anaknya harus menjalani hidup yang pas-pasan, padahal Hatta adalah salah satu orang yang berjasa di negerinya sendiri.

Novel yang ringan dan menarik untuk dibaca bagi para pengagum Bung Hatta. Ia adalah contoh pejabat yang jujur dan berprinsip teguh dalam membela rakyat. Ia pun juga dijuluki sebagai Bapak Koperasi karena gagasan-gagasannya tentang bagaimana sistem ekonomi seharusnya dilaksanakan di Indonesia yang memiliki sumber daya alam yang melimpah, sehingga masyarakat Indonesia bisa saling bergotong royong dan menikmati manfaat dari sumber daya alam tersebut secara merata. Karena ketika sistem ekonomi salah dikelola, akibatnya sekarang Indonesia terjebak pada sistem kapitalisme yang hanya menguntungkan para pemilik modal.
Profile Image for Edward.
45 reviews
July 21, 2024
Buku ini lebih menceritakan kisah Mohammad Hatta setelah melepaskan jabatan wakil presiden. Bung Hatta kembali mengenang kisah kehidupannya mulai dari masa kanak-kanak, aktivitas beliau dalam organisasi, kehidupan beliau selama dipenjara di Belanda, diasingkan di beberapa tempat, kemudian beliau juga mengenang perjuangan yang beliau lakukan hingga tercapai kemerdekaan Indonesia. Setelah mengenang kisah masa lalu Beliau, diceritakan juga tentang kehidupan Bung Hatta yang mengalami masa sulit selama pemerintahan demokrasi terpimpin. Buku ini mampu memberikan pesan, kesan dan hal-hal positif kepada pembaca walaupun ada kekurangan seperti masih terdapat beberapa kisah dari Bung Hatta yang tidak tertulis.
Profile Image for karè.
29 reviews
February 5, 2025
Benar-benar tokoh yang memberikan banyak keteladanan ke pembaca. Selama baca terus terusan merasa kagum dengan sikap dan pemikiran beliau. Banyak hal baru yang aku temukan di buku ini yang tentu saja tidak ditemukan di buku pelajaran saat sekolah dulu. Penulisan di buku ini juga cukup memuaskan karena alur rapi dan jelas serta pemahaman mudah dipahami. Hanya saja aku sedikit kesulitan memahami beberapa konteks seperti adanya beberapa istilah atau percakapan dalam bahasa lain seperti Belanda, Jepang, Perancis dll yang tidak diberi terjemahan. Namun hal tersebut tidak merusak cerita. Overall, buku ini bagus banget dan rekomen buat dibaca karena ngasih banyak pelajaran buat pembaca.
Profile Image for Alistya Dewi Esty.
21 reviews2 followers
December 11, 2019
Setelah membaca buku ini, satu hal yang saya sadari ialah; pengetahuan saya sebelumnya mengenai Bung Hatta tidaklah lebih dari sekadar mampu menjawab soal-soal materi pelajaran IPS kelas 5 SD.

Banyak sekali hal-hal yang saya dapat setelah membaca biografinya ini, terlebih di sini diceritakan perjalanan hidupnya sejak beliau kanak-kanak, kemudian peranannya sebagai salah satu pendiri bangsa, juga hingga pecahnya dwitunggal Hatta-Soekarno.

Rasanya hanya ingin berucap terima kasih pada Sang Bapak Bangsa.
Profile Image for Vish.
4 reviews
February 1, 2025
Novel ini benar - benar luar biasa, saya bisa merasakan perjalanan hidup seorang Drs. Hatta dari kecil hingga setelah proklamasi. Bagaimana saya ikut melihat dari sudut pandang beliau, kenyataan sejarah yang selama ini selalu diromantisasi, dan tokoh - tokoh yang terlibat membentuk seorang Hatta yang kita kenal. Saya sangat terhanyut membayangkan saat Hatta dan Sjahrir menikmati ombak Banda Neira dengan alunan nyanyi Indonesia Raya, itu sangat menggentarkan nasionalis saya. Saya sangat merekomendasikan novel ini untuk siapasaja, terutama generasi muda seperti saya.
Profile Image for Nad.
105 reviews2 followers
March 28, 2025
Sejujurnya, aku nggak banyak tahu cerita tentang Bung Hatta. Yang aku pelajari hanya sekilas, bahwa beliaulah salah seorang tokoh penting untuk kemerdekaan Indonesia. Dan membaca buku ini rasanya menyenangkan sekali.

Membawaku mengenal siapa Bung Hatta dan bagaimana pemikiran-pemikirannya untuk kemerdekaan bangsa Indonesia.

Keadaan negara pasca kemerdekaan berpuluh-puluh tahun lalu rasanya sama seperti keadaan negara sekarang ini. Kira-kira, kalau Bung Hatta ada di zaman ini, beliau akan bilang apa ya?
Profile Image for Agnes Bemoe.
19 reviews2 followers
March 16, 2018
Ini novel biografi yang tidak membosankan. Sebaliknya sangat comforting dan menarik. Pembaca diajak menyusuri Bung Hatta dari sisi manusianya. Ini membuat novel ini terasa hangat dan berjiwa. Salut akan kekuatan riset yang mendukung novel ini.
Mengingat isinya yang sarat dengan sejarah negara Indonesia, tokoh besarnya (Bapak Bangsa), serta nilai yang diusungnya, sudah selayaknya novel ini jadi bacaan wajib generasi muda Indonesia.
Profile Image for Nursifa Aghnia.
82 reviews2 followers
September 26, 2019
"Anak muda harusnya baca sejarah."
Aku yang susah sekali baca buku semacam sejarah karena pelupa, cukup terbantu dengan tipe novel sejarah kayak gini. Ya ibarat baca novel aja, walaupun tidak seringan novel dan tidak sepresisi buku sejarah, tapi jadi cukup mengerti apa yang dulu terjadi.
Khusus tentang buku ini, ada beberapa bagian yang rasanya janggal aja penempatannya. Alurnya ngga pas. Tapi overall, yah bagus ngga bagus sih. Kalau mau baca boleh aja.
11 reviews
April 16, 2023
Terima kasih atas karyanya. Bagi sy yg mulai menyukai sejarah dan biografi pendiri Bangsa, novel ini menjadi sarana yg membantu sy. Dg kisah yg komprehensif, bahasa yang ringan telah berhasil membawa saya hanyut dalam gejolak dinamika perjalanan hidup Bung Hatta.

Saya harap akan banyak karya serupa kisah tokoh2 Bangsa kita yg disampaikan dengan bahasa ringan namun disusun dengan serius sehingga meningkatkan kecintaan dan wawasan anak Bangsa akan perjuangan para pendahulu Bangsa kita.
Profile Image for Lucy Yeomans.
95 reviews1 follower
January 14, 2026
Still learning a lot about Indonesian history and political views. Getting back in the swing of Indonesian after traveling home for Christmas. I think this book has a lot of good history, but might also be one sided. I'm not sure. I'm still thinking about it. Indonesia has an interesting history, and my existing biases about American politics get mixed in my reflections. Next book on Indo coming soon
Profile Image for Maulana.
9 reviews4 followers
September 18, 2017
Mohammad Hatta, orang Minang yang lahir dari keturunan ulama, dibesarkan dengan pemahaman hidup yang benar. Buku yang berasal dari memoar bung Hatta ini menceritakan kisahnya mulai dari kecil, konflik Hatta muda, persahabatan, hingga konsistensinya memegang prinsip dan keikhlasannya menerima konsekuensi. Hatta : Aku Datang karena Sejarah.
Profile Image for Said Agung.
7 reviews1 follower
November 4, 2019
Halus. Buku ini tidak nampak seperti novel, malah seperti buku biografi pada umumnya. Tidak banyak bunga-bunga yang mendramatisir cerita. alhasil lurus dari pakem sejarah M. Hatta. Buku ini cukup informatif untuk menyelami kisah sang bapak bangsa. Terlebih gaya penulisan yang ringan membuat buku ini lekas rampung dibaca.
Profile Image for Ilham Rusdiana.
157 reviews1 follower
January 2, 2020
Sebuah kisah hidup Bung Hatta yang ditulis dengan gaya penceritaan novel. Menggunakan bahasa yg cukup ringan, buku ini menceritakan perjalanan Bung Hatta dari masa kecilnya di Sumatera Barat, studinya di Belanda, pengasingan di Digul dan Banda, hingga perselisihannya dgn Bung Karno. Satu bacaan yang layak dicoba bagi yang ingin mengenal lebih dalam salah satu pendiri bangsa ini.

Rating: 3.5/5
21 reviews
November 1, 2024
Suka banget baca cerita tentang Bung Hatta. Kebetulan tumbuh di keluarga muslim minang dan kebetulan juga sempet kuliah dan ngekos di daerah cikini dan sering jalan2 di sekitar, jadi cukup bisa relate dan cukup tau tempat yg dimaksud. Terkadang jadi imagining how it was back then for him :)

Belajar banyak tentang sejarah dan sosok kesederhanaan beliau

#ReadAtPerpusCikini juga
13 reviews
June 5, 2017
Dengan buku ini saya tahu bahwa Hatta sangat mencintai buku, sampai-sampai dia lupa terhadap wanita, hahaha.
Profile Image for Pipa.
235 reviews3 followers
February 19, 2018
melihat sejarah dari kacamata yang berbeda
21 reviews
November 4, 2018
Sebuah buku dengan pembawaan dengan suasana yang bisa membawa pembaca untuk memahami pemikiran bung hatta. Memudahkan pembaca dalam menggali perjalanan hidup bung hatta
Displaying 1 - 30 of 45 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.