Tetap berpikir positif! Prinsip itulah yang selalu mampu membuat Jasmine tersenyum. Bertahan menghadapi orangtua yang tak pernah ada untuknya, menghadapi kesepiannya, dan bertahan dari keinginan untuk dicintai seorang pria. Namun ketika Ryan muncul dan mulai mengusik ketenangannya, mampukah Jasmine bertahan dengan semua prinsip yang selama ini dipegangnya erat-erat?
Tidak ada lagi wanita ideal yang tersisa di dunia ini, itulah yang selalu ada dalam benak Ryan. Hidupnya penuh dengan petualangannya dengan banyak wanita. Hingga dia bertemu Jasmine yang amat sangat tidak ideal berdasarkan standarnya tentang wanita.
Jika Ryan terganggu dengan kehadiran Jasmine di rumahnya, mungkinkah suatu saat nanti dia bisa menerima cinta yang tumbuh perlahan di hatinya? Dan sebesar apa pengorbanan yang harus dia lakukan untuk meraih hati Jasmine yang telah disakitinya?
"Masa lalu memang indah untuk dikenang, karena hidup tidak selalu mendapatkan semua yang diinginkan."
Akhirnya selesai juga membaca novel ini, jujur melihat covernya aku sungguh tertarik. Membaca sinopsis di back cover, sedikit banyak aku sudah bisa mengira akan dibawa kemana kisah ini.
Membaca novel ini layaknya menonton sebuah drama percintaan yang mungkin sering banget kita tonton di televisi. Kisah tentang dua orang, pria dan wanita yang awalnya tidak saling respek malah akhirnya jatuh cinta karena keadaan. Sang Pria dikisahkan sebagai seorang playboy, hobby bergonta-ganti pasangan dan selalu berhasil memikat wanita-wanita cantik. Hingga hari itu, kehidupannya terusik oleh kehadiran seorang wanita yang sangat mengganggunya. Kesan pertama yang kurang baik, apalagi mereka ternyata harus hidup berdampingan dalam satu rumah.
Ini tentang kisah Jasmine, mahasiswi tingkat akhir yang sedang menyelesaikan skripsinya yang diharuskan tinggal di rumah sahabat keluarganya, yaitu keluarga Ryan. Ryan sejak awal melihat sosok Jasmine, entah kenapa sudah membuat benteng pertahanan dengan sikapnya yang dingin, ketus bahkan arogan. Ya, Ryan tidak ingin Jasmine tinggal dirumahnya. Apalagi penampilan Jasmine yang bukan seperti wanita yang selama ini mendekatinya yang cantik dan terawat.
Jasmine pun menjadi takut dengan sosok Ryan bahkan terkesan menghindar, tidak ingin berurusan dengan Ryan. Tapi entah kenapa ada saja alasan yang membuat dia harus berdekatan dengan Ryan. Hingga keadaan berbalik saat Ryan sakit, hubungan mereka pun semakin melunak. Sampai disitu hubungan mereka naik turun kayak roller-coaster tanpa arah yang jelas. Jatuh cinta dalam diam, tapi tidak ingin mengakui.
Kepergian Jasmine untuk kembali ke Surabaya, ke rumah keluarganya menyadarkan tentang rasa yang perlahan telah tumbuh dan berkembang. Tapi lagi dan lagi, masih saja hubungan mereka diuji oleh ketidaksetujuan orangtua Jasmine karena mereka telah menjodohkannya dengan orang lain, yang usianya jauh lebih tua bahkan lebih cocok menjadi ayahnya. Bagaimana akhir kisah mereka?
Sebenarnya aku cukup menikmati kisah Jasmine dan Ryan, tapi entahlah aku belum mendapatkan chemistry diantara keduanya. Aku malah lebih bisa merasakan chemistry keluarga Ryan yang hangat, yang membuat Jasmine serasa keluarganya sendiri. Penulis seakan terus menambah konflik demi konflik yang membuat novel ini menjadi layaknya "drama", padahal sosok Jasmine punya sesuatu yang cukup menarik. Kecintaannya akan bintang dan mitologi menjadi warna sendiri dalam novel ini, sayangnya kurang dibalut dengan kemasan yang memikat. Dan endingnya pun ya seperti yang kutebak, terlalu biasa.
Akhirnya, aku hanya bisa menyematkan 2 bintang untuk kisah Ryan-Jasmine ini. Semoga di karya berikutnya aku bisa lebih menikmatinya.
Sebelum membuat review, saya ingin menjelaskan dahulu bagaimana bisa memutuskan untuk membeli buku ini. Pertama, karena genre amore memang bukan selera saya. Ini adalah buku amore kedua yang saya beli setelah Mahogany Hills. Saat itu saya sedang berkeliling di rak buku Gramedia, melihat-lihat buku yang hendak saya baca. Entahlah, mungkin saya terdengar berlebihan, tetapi saya memang sangat pemilih dalam membeli sebuah buku. Saya seperti harus memiliki sebuah chemistry dahulu dengan buku tersebut. Kalau ingin divisualisasikan seperti dalam hati saya ada sebuah suara “Klik! Ini dia!” Dan, biasanya feeling saya itu selalu tepat, sehingga buku yang saya pilih jarang sekali mengecewakan saya. Akan tetapi, hari itu tidak ada suara sama sekali (hantu kaleee). Tapi, saya ingin sekali membeli sebuah buku. Jadi dengan berbekal mata yang berkeliling melihat beberapa cover, jadilah saya membeli buku ini.
Okay, here’s the review : Pertemuan Ryan dan Jasmine memang tidak mengesankan. Bahkan bisa dibilang sebuah ‘polusi mata’ bagi Ryan. Bagaimana tidak, seorang gadis muda berpakaian layaknya tante-tante tahun 70-80an. Jasmine adalah seorang gadis pecinta astronomi yang harus menyelesaikan skripsinya di rumah kenalan orang tuanya yang tak lain dan tak bukan adalah orang tua Ryan. Ryan yang tidak suka Jasmine berada di rumahnya selalu berusaha ‘menindas’ Jasmine dengan sifatnya yang ketus. Tapi, pada akhirnya muncul benih-benih cinta terhadap keduanya. End. Serius itu aja reviewnya? Iya, itu aja ni yang saya bisa review.
Sejujurnya, saya sedikit menyesal. Buku ini seakan kembali membuktikan kalau genre amore memang tidak cocok dengan saya. Alur ceritanya lambat dan agak dipaksakan. Ide ceritanya sudah cukup banyak saya temui di buku-buku lain. Yang sangat disayangkan disini adalah tidak adanya chemistry yang saya rasakan antara Ryan dan Jasmine. Padahal seharusnya kedua tokoh utama yang akan menjadi pasangan memiliki chemistry kuat. Karakter mereka pun nanggung menurut saya. Contoh : Ryan yang seorang playboy. Seharusnya memunculkan mantan-mantannya yang lain yang bisa menambah alur dan konflik cerita. Tidak hanya Naila yang bahkan tidak berdampak apapun pada cerita. Karakter Playboynya justru sama sekali tidak dieksplore. Jasmine yang terkesan tegar, harus menerima seluruh permintaan orang tua yang super rese dan mengorbankan anaknya demi harta belaka tanpa sedikitpun penolakan. Setidaknya, ia harus membuat orang tuanya sadar atas apa yang ia lakukan pada anaknya. Itu juga bisa jadi pesan moral untuk para orang tua kan (maaf saya agak emosi pada bagian ini). Saya malah lebih menyukai karakter Mel dan Elang disini. Konflik yang terjadi pun sangat sederhana (khas sinetron) ditambah penyelesaian yang terkesan gampang sekali. Saya juga kurang suka endingnya. Kurang make sense aja. Satu yang membuat saya memberikan bintang tambahan adalah tentang perbincangan astronomi dan mitologi Yunani yang memang saya sukai. Overall, sebenarnya konflik dan karakter mereka bisa diperkuat lagi, seharusnya endingnya pun memiliki jalan keluar yang lain. Terkesan penyelesaian masalah mereka terlalu gampang. Sangat gampang malah menurut saya. 2 bintang saja untuk Ryan dan Jasmine.
If you love someone, say it! Jangan sampai nggak, daripada nanti hubungan kamu akan menjadi ruwet seperti hunbungan Jasmine-Ryan :P.
Tokoh utama di novel ini adalah Jasmine dan Ryan. Hubungan mereka berdua dimulai dengan ketidaknyamanan, tepatnya Ryan tidak nyaman dengan adanya gadis itu yang tiba2 tinggal di rumahnya dan menempati kamar adik kesayangannya. Karena itu lah Ryan bersikap dingin pada Jasmine, bahkan galak. Sedangkan Jasmine, dia pecinta ketenangan, dan memilih untuk tidak berkontak langsung dengan Ryan, bahkan meminimalisir pertemuan dengan Ryan, dia takut pada Ryan yang pemarah. Semua orang di rumah Ryan menyukai gadis itu, terlebih mamanya, bahkan Mel, adik nya. Sampai suatu saat, ketika tiba2 Ryan jatuh sakit, Jasmine dengan sigap menolong Ryan, dan lelaki itu memutuskan untuk berteman dengan Jasmine. Dari hubungan pertemanan itupula, Jasmine mulai menyadari bahwa Ryan adalah orang yang baik dan penuh perhatian. Well, bagaimana hubungan Jasmine-Ryan selanjut nya? apakah mereka akan bersatu? Bagaimana pula perasaan Ryan, ketika Naila, gadis masa lalunya, kembali mengusik hatinya, dan apakah Jasmine akan mempercayai cinta yang dirasakan Ryan, padahal lelaki itu tidak pernah mengatakan nya secara gamblang?just read this novel :)
Pertama, saya akan mengomentari cover nya, saya sukaa :). Nah yang saya nggak ngerti adalah korelasi antara judul novel dengan cerita di dalamnya, sampai sekarang saya masih nggak ngeh apa maksud dari judul novel ini, atau mungkin hanya karena tokoh Jasmine yang sangat menyukai bintang, atau alasan lainnya saya nggak tau >.<. Novel ini sangat kental dengan suasana kekeluargaan, saya bisa merasakan kehangatan keluarga Ryan, mama Ryan sangat baik dan penuh perhatian. Interaksi antara Jasmine, Ryan, Mel dengan mama nya sangat hangat, saya suka. Feel tokoh utama nya saya kurang dapet sih, saya masih nggak ngerti kenapa Ryan yang awal nya nggak suka banget dengan Jasmine, bisa memutuskan untuk berteman dengan Jasmine, bahkan menurut saya sikap Ryan ini sangat kekanakan. Tiba2 suka berubah2 sendiri, tanpa alasan yang jelas. Jasmine juga, dia kok gampang sekali berubah pikiran, dan lemah sekali. Tidak bisa konsisten dengan keputusan yang dia buat. Di awal cerita, saya sedikit bosan, terlalu banyak narasi, dan penuturan yang dialami si tokoh utama, bukannya percakapan. Di bagian tengah cerita, saya masih bisa mengikuti, senyum2 saat membaca interksi antara Jasmine dan Ryan yang mulai intens. Tapi, bagian akhir cerita saya berasa down lagi, karena tercipta konflik baru yang menurut saya agak berlebihan, dan penyelesaiannya pun kurang nendang buat saya.
Well 3 bintang untuk novel ini karena masih ada bagian yang bikin saya senyum2, juga untuk part astronomi di novel ini :). Saya suka bintang...:)
Buku ke3 mbak Rini yang gue baca. Dan yaa memang selama ini cuma bisa kasih rating 2,5 - 3 bintang aja. Khusus untuk cerita ini gk segan2 gue kasih 3 bintang ^^
Inti ceritanya sederhana dan memang enak dibaca. Jasmine yang sedang menyelesaikan skripsinya terpaksa harus tinggal di rumah sahabat orang tuanya. Karena orang tuanya gk kasih doi buat kost gitu. Nah, temen orang tua Jasmine ini punya anak cowok bernama Ryan. Sikapnya dingin dan galak banget dah ke si Jasmine. Tapi ya lama kelamaan akhirnya si Ryan ini kena senjata mata tuan. Yap, dia jadi suka sama Jasmine walau gk terang2an nunjukin perasaannya.
Hingga akhirnya, sewaktu Jasmine sudah kembali ke rumah orang tuanya, Ryan sadar dia kehilangan Jasmine. Hanya saja Jasmine udah dijodohin sama orang tuanya dengan pria berumur 4oan jarena ayahnya terlibat utang. Terus gimana kelanjutannya? Silakan baca sendiri ya.
Untuk ceritanya gue suka. Hanya aja banyak kejadian yang terlalu dipercepat dan gk terlalu jelas apa maksudnya. Huaahhh padahal untuk ceritanya sendiri gue suka. Konfliknya juga gk terlalu berat dan lebay. Suka juga sama sosok Mel, kakak Ryan yang bikin suasana jadi hidup. Well, gue maunya sih Mel dan Elang, suaminya ini dibikin cerita sendiri ya *ngarep* (dan ternyata gue baru ngeh kalo novel mbak Rini yang pertama kali gue baca judulnya Yang Tak Terlupakan yang adalah ngebahas Mel dan Elang) #jambakrambutsendiri
Dan cukup bikin ketawa juga baca ini. Cukup menghibur ^^
Novel ini masih menarik untuk dibaca. Begitu tiba di halaman 216, cerita langsung turun menukik dan senyum saya selama membaca novel ini sirna sudah. Jasmine di novel ini begitu menarik. Pendiam yang menyenangkan. Tapi selalu bermasalah dengan Ryan yang tidak suka dengan Jasmine tanpa alasan yang jelas. Jasmine ini karakter yang nyenengin loh sampai kemudian dia menangisi Ryan. Ryan ini marah-marahnya gahar dan pedas sampai dia tahu-tahu galau setelah Jasmine pergi. Akhir cerita ini terlalu mudah ditebak.
Yang menarik dari penceritaan Rini Zabirudin justru tentang keluarganya Ryan. Harusnya dia cukup membuat cerita Happy Bramantyo Family. Suasana keluarga Ryan benar-benar apa yang disebut kekeluargaan. Justru karakter Mel, adik Ryan dan Elang, suami Mel tampil lebih mencuri perhatian. Mel yang nyablak bagaimana bisa berjodoh dengan Elang yang cool.
Butuh waktu cukup lama buat gw slsin buku ini. Masih spt buku sebelumnya yg berjudul Yang Tak Terlupakan (crt ttg Mel & Elang) crt di buku ini super cheesy & klise. Sinetron banget. Karakter si Jasmine jg kurang kuat, malah karakter Mel yang terkesan lbh menonjol. Konfliknya biasa2 aja, penyelesaiannya jg terkesan apa adanya. Kurang menarik. Overall yah 2 bintang deh.
Ceritanya lumayan menarik,tapi butuh waktu lama buat bacanya. Ga to the point,terlalu panjang di bagian awal jadi agak bosen tp ya seru sih. Masih ada kata-kata yang salah ketik,bahasa yang keliatannya agak baku gitu ya? Ah ya pokoknya 3 bintang :)
Sebenarnya saya tertarik baca karena ada kata 'bintang' mungkin saya juga mengisi waktu senggang dengan membaca bacaan ringan dan juga menonton drama korea haha, jadi yang harusnya selesai 3 jam jadi berjam-jam
This entire review has been hidden because of spoilers.