Capturing the many diverse images and perceptions of Java recorded over the last 600 years, this entertaining volume brings together accounts of this enchanting tropical island by thirty-five Western travellers, most of them English or American. Their writings span the years from the earliest European contacts with the island, beginning with the 1330 impressions of Friar Odoric, to Richard Crithfield's account of his return to Java in 1985. Through their eyes we see the island transformed from a distant realm of wealth and danger into an orderly and prosperous Dutch colony and then, in the twentieth century, into the center-piece of the Indonesian nation. Over the years, the "Java" that armchair travellers of the English-speaking world came to know was largely shaped by witnesses like Thomas Stamford Raffles, Alfred Russel Wallace, Elizah Ruhamah Scidmore, S.J. Perelman, Frank and Helen Schreider, V.S. Naipaul, and many others. With informative introductions that set each passage in context, these tales have much to tell us about the West itself and about its evolving relationship with this populous South-East Asian center of civilization and power, and it with its people.
Ada dualisme dan juga bias yang begitu kental ketika kita membaca literature-literatur sejarah Indonesia yang ditulis oleh para penulis asing, terutama penulis-penulis di era kolonial. Kepentingan menulis untuk pihak colonial yang tengah berkuasa tentunya tidak bisa diabaikan begitu saja. Baik atau buruk, sedikit atau banyak, selalu ada bias yang muncul dalam proses pendokumentasian aneka kisah atau peristiwa dan juga alam dari tanah Jawa di masa Hindia Belanda. Seperti yang bisa kita jumpai dalam penulisan artikel-artikel di buku ini, terasa sekali betapa kepentingan kaum kolonial terlampau dijunjung tinggi sementara bagian tentang Jawa di era kemendekaan seolah-olah adalah bentuk nostalgia dari kejayaan para penguasa Belanda di masa penjajahan.
Bagian pertama buku ini adalah lembar-lembar yang paling saya sukai karena menggambarkan Nusantara di era awal kontaknya dengan orang-orang Eropa. Catatan tertua tentang Jawa di buku ini berasal dari sebuah catatan perjalanan seorang biarawan Oderic yang berlayar ke China dan mampir ke Jawa tahun 1330-an. Digambarkan dalam catatan ini, Jawa adalah pulau yang luas namun ramai oleh kerajaan-kerajaan. Seluruh datarannya penuh cengkih dan hasil hutan, kecuali anggur. Istana-istana kerajaannya berlapiskan emas dan sangat makmur. Perjalanan Nicolo Conti tahun 1444 juga menjadi dokumentasi awal tentang Jawa di buku ini. Pengelana ini menyebut Jawa sebagai tanahnya bangsa barbar karena penduduknya suka berperang dan sabung ayam. Namun, para pengelana kuno sepakat bahwa Jawa adalah sebuah pulau yang sangat indah dan subur.
At first, I was pretty skeptical about this book. It’s basically a collection of excerpts from various writings about Java, covering everything from the era of kingdoms to colonial times and the early days of independence. But I was pleasantly surprised. The author managed to pull everything together into a well-curated and readable book. The references chosen are surprisingly detailed and thoughtfully selected, giving us a fresh perspective on how Westerners viewed Java.
The author keeps the original tone and language style of each source, which really helps capture the mindset of Western travelers and writers, especially during the pre-independence period and the early years of Indonesia. Some Westerners were absolutely enchanted by Java, calling it a paradise, while others were deeply critical of its social structures, people, and government.
For me personally, reading this book was an emotional rollercoaster. Java has gone through so many phases. There were peaceful times, then wars, colonial rule, more conflict, political instability, and so on. By the mid-1980s, the book starts to reflect a more modern Indonesia. But even now, Java isn’t always the most comfortable place for everyone. Political and social instability still exists to this day, at least at the time I'm writing this review.
Among all the time periods covered, the one that hit me the hardest was 1945 to 1965. That post-independence era was intense and terrifying. It’s the period my grandparents lived through and when my parents were born. Understanding that history gives us, the younger generation, more reason to be grateful. Sure, Indonesia still faces challenges, and prosperity isn’t evenly spread, but overall, the quality of life has gradually improved.
I really recommend this book to anyone who wants a deeper understanding of Java’s past. As of now, Java is still the center of government and the busiest region in Indonesia, and it likely will be for some years to come.
Buku ini berisi nukilan-nukilan dari laporan perjalanan para penjelajah barat yang mengunjungi Jawa dari pertengahan abad 14 sampai menjelang akhir abad 20. Ada 35 artikel yang disajikan oleh buku ini, salah satunya ditulis oleh penjelajah terkenal, Sir Thomas Stamford Raffles. Membaca buku ini memberikan gambaran tentang Jawa masa lalu, ketika Jawa masih dikuasai raja atau sultan, lalu bergerak ke zaman kumpeni dan kolonial, dan berakhir di jaman Orba-nya Soeharto. Beberapa laporan perjalanan ini memberikan apresiasi tinggi terhadap kebudayaan Jawa, terutama yang terlihat melalui candi-candi besar seperti Prambanan dan Borobudur, yang sering sekali disinggung dalam buku ini. Walau di sisi lain, beberapa penjelajah kerap menyebut orang Jawa sebagai seorang yang 'hitam legam, pemalas, dan kotor'. Ada hal menarik yang saya temukan di buku ini. Misalnya, pada artikel paling pertama disebutkan bahwa biarawan Katolik dari ordo Fransiskan telah mengunjungi Jawa pada tahun 1330, lebih dari 200 tahun sebelum kedatangan Santo Fransiskus Xaverius ke Maluku. Yang kedua, tentang perjumpaan Maslyn Williams pada tahun 1965 dengan Presiden Soekarno di suatu lapangan desa di Sukabumi, di mana ia sangat takzim akan kharisma sang Pemimpin Besar Revolusi itu saat berinteraksi dengan rakyatnya. Anda bisa membaca lengkap nukilan ini mulai halaman 339.
Jawa itu tidak homogen. Sangat beragam dari sisi budaya ataupun sub-etniknya. Begitu pula dengan sejarahnya. Pun dengan persepsi tentangnya.
Buku ini bisa mewakili pendapat tersebut. Tentang bagaimana Jawa sebagai lokasi dan etnis dilihat oleh para penulis asing dari tahun 1330 hingga 1984.
Menyenangkan sekali membaca cerita-cerita dari orang Amerika Serikat, Australia, dan Inggris dalam buku ini. Ada tentang budaya, sosial, politik, makanan, agama. Serunya karena bisa melihat perubahan Jawa dari masa ke masa. Bagus untuk mengenal Jawa sebagai pulau dan etnis utama di negeri ini. Atau sekadar Jawa sebagai masa lalu.
Melihat jawa dari kacamata turis asing, serasa kembali dengan mesin waktu melihat landmark2 terkenal jawa di masa lampau.
Menarik, cerita yang disajikan seolah menyadarkanku bahwa masa lalu itu ada dengan dinamikanya yang unik.
Walau begitu, gaya bahasa ala reportase dan minim konflik membuat beberapa bagian terasa membosankan, aku sendiri sampai skip² beberapa bagian yang menurutku kurang menarik.
Begitulah jodoh buku, unik. Semula saya mencari buku bacaan ringan sebagai upaya menyembuhkan minat baca yang mendadak menurun jauh. Entah kenapa malah berakhir dengan membeli buku ini dan teman-temannya.
Membaca buku ini, membuat saya malu sebagai orang Jawa. Penulis bisa dikatakan lebih menunjukkan kecintaan pada Jawa dibanding saya.
Jika seseorang ingin melihat perubahan maka buku ini secara kasar menggambarkan perubahan Jawa secara cepat, dalam ratusan tahun dan bagaimana kita atau orang luar melihat bahwa Indonesia masih perlu belajar. Orang2nya terutama.
Tulisan pengelanaan tentang Jawa yang tak lekang waktu. paliing suka menyimak narasi "balap kuda di tjianjoer" dan "berburu rusa di Bandoeng" ditahun 1868. otak kanan pun mendadak bervisualisasi sesuai narasi pengelana J. W. B. Money. hatuur nuuhuun aah..
"Membuka mata wawasan akan perkembangan Jawa yang sangat fantastis, melalui catatan-catatan perjalanan yang ditulis dengan menarik oleh para pengelana hebat..."