Aku tidak pernah mengira akan jatuh cinta kepada sosok dingin seperti kamu. Namun, semakin aku menyangkal, rasa itu malah semakin kuat. Dengan sikap manismu yang angin-anginan, kamu mengombang-ambing perasaanku seperti ombak. Sementara, dia hadir di antara aku dan tembok tinggimu.
Akal sehatku tahu harus melangkah ke mana. Lalu, apa yang mesti kulakukan bila hati malah menunjuk arah sebaliknya?
Gue baru baca buku ini. Meski agak lambat di awal alurnya tapi cerita cukup complicated ya untuk sebuah cerita remaja. Bagaimana seorang cewek harus menentukan cinta di antara 3 pria. Nilai lebih novel, penulis berusaha mengangkat citra lokal dengan seting indah, seperti tempat wisata pantai. Ending menurut gue cukup bagus... dan satu hal lagi di novel ini banyak adegan yang membuat kita tertawa.
Untuk ukuran teenlit, novel ini luar biasa... apalagi ada karakter Malabi yang mungkin membuat kita jengkel sekaligus suka. Karakter yang benar2 hidup. Trus dalam novel ini banyak tempat wisata yang diangkat ke dalam novel, jadi akunya gak bosan. Bahkan karena baca novel ini bikin aku pengin ke Ambon.
Tadinya mau kasih satu star aja, tapi tempat-tempat yang disebut di buku ini cukup bikin pengen main ke Ambon, jadi dikasih bonus satu star ekstra, deh.
Ampun. Nggak akan ada yang ngerti gimana leganya saya waktu bikin keputusan untuk pinjem buku ini dari taman bacaan aja instead of beli. Seperti biasa, tertarik cuma gara-gara covernya aja. Ternyata ceritanya...
Mungkin memang saya yang lagi sensi atau gimana, tapi nggak ada satupun karakter di novel ini yang saya suka. Iya saya ngerti mereka anak SMA, but it's not an excuse for them to behave kayak anak kecil. Nggak ada yang kerasa real, deh. Terlebih lagi, karakter yang paling saya nggak suka dari novel ini adalah karakter utamanya. I mean, kalo saya nggak bisa relate sama tokoh utamanya, gimana caranya saya bakal bisa menikmati cerita dia lewat her point of view?
Alasan lain saya nggak suka sama buku ini adalah pemilihan kata sang penulis. Kata-kata baku yang dipake dalam dialog malah bikin percakapannya berasa nggak ngalir. Awkward. Aneh. Nggak real. Masalah yang sama dengan yang saya temukan di banyak novel pop Indonesia. Kecuali sisipan bahasa Ambon sih, saya malah suka banget itu.
Terakhir, rasanya banyak banget kejadian atau tingkah laku karakter yang nggak dikasih penjelasan, yang akhirnya bikin nggak puas dan jadi flaw. Banyak juga happenings yang kesannya maksa cuma biar ceritanya ngalir. Jujur, I skimmed through the last half of the book cuma biar at least selesai bacanya, karena sayang uang yang saya bayar demi minjem buku ini. Haha.
Ih rasanya jahat banget ya review saya kali ini? Bukan maksud jahat sih, cuma emang bener-bener nggak menikmati buku ini aja. Semoga di buku selanjutnya, sang pengarang udah belajar lebih banyak supaya bisa nulis cerita yang lebih bisa bikin pembacanya enjoy. Sukses!
Nyeritain tentang Denta yang naksir Malabi temennya di majalah sekolah. Cowok yang dingin itu dijuluki Denta sebagai kulkas berjalan. Meski agak bertolak belakang dengannya, namun akhirnya Denta tertarik berat dengan Malabi dan memutuskan untuk jadian.
Cintanya agak rumit, saat Denta bingung dengan sikap dingin Malabi, muncul Sarka dari masa lalunya, yang memaksanya untuk memilih. Sarka datang dari Banten menemuinya di Ambon, dan usai menutarakan maksud hatinya, Sarka meninggalkan Denta lagi, karena sepertinya Denta lebih memilih Malabi. Sarka meninggalkan Denta ke Jerman, atas beasiswanya. Knflik terjadi saat Denta tak mampu mengucapkan selamat tinggal kepada Sarka, akibat Malabi yang terlalu keasikan lama mengantar Denta ke bandara. Hingga akhirnya hubungan mereka jadi seperti hubungan antar kata, merenggang.
Dalam keadaan sekalut itu, muncul Taro, cowok populer yang ternyata menaruh hati kepada Denta. Tapi akhirnya Denta memilih kembali kepada Malabi. Cinta itu memang membingungkan yah.
Deskripsi tentang tempatnya bagus. Lokalitasnya kerasa. 3 bintang lah buat buku ini.
tertarik baca karena covernya yang manis, tapi aku kecewa dengan isinya. gak ada karakter yang benar-benar menonjol di buku ini. kisah cintanya khas anak sekolahan tapi, kok rasanya terlalu janggal. aku gak suka dengan karakternya Malabi, like seriously.. cowok yang sedikit misterius memang oke tapi, kalau dia malas untuk bicara, gak peduli sama pasangannya, dan hanya mau diterima apa adanya sih bye bye sajalah. aku masih bingung kenapa Denta seakan head over heels of him, karena aku gak bisa merasakan chemistry yang ada pada pasangan ini. hubungan mereka pun terasa hambar dan seadanya. momen-momen mereka terasa kurang menempel di hati. luckily, ada lelaki bernama Taro yang membuat cerita ini jadi lumayan menarik :D
nilai tambah untuk novel ini (selain dari covernya yang cantik dan Taro hehe) adalah settingnya itu sendiri, kota Ambon. jujur saja, ini kali pertamanya aku membaca buku yang berlatarkan kota tersebut. aku juga suka kutipan-kutipan bahasa Maluku yang terselip di percakapan.
pada akhirnya, aku hanya bisa memberikan 2 bintang untuk novel ini :)