What do you think?


S&M series #1
すべてがFになる THE PERFECT INSIDER
孤島のハイテク研究所で、少女時代から完全に隔離された生活を送る天才工学博士・真賀田四季。彼女の部屋からウエディング・ドレスをまとい両手両足を切断された死体が現れた。偶然、島を訪れていたN大助教授・犀川創平と女子学生・西之園萌絵が、この不可思議な密室殺人に挑む。新しい形の本格ミステリィ登場。
434 pages, Kindle Edition
First published January 1, 1996
Ratings & Reviews
Friends & Following
Create a free account to discover what your friends think of this book!
Community Reviews
Displaying 1 - 30 of 63 reviews
May 27, 2025
Sebagai asisten profesor, Saikawa mengajak asisten dosen dan para mahasiswanya untuk berwisata ke sebuah pulau terpencil. Pulau itu sebenarnya memiliki sebuah pusat riset termuka. Sambil menyelam minum air, Saikawa ingin ke sana untuk bertemu Profesor Magata Shiki yang terkenal dengan kejeniusannya. Masuk ke pusat riset itu tidak mudah, tapi Moe—yang punya banyak jaringan—bisa masuk ke sana bersama Saikawa. Namun, ternyata ada pembunuhan terjadi di sana. Saikawa bersama Moe pun berusaha memecahkan teka-teki pembunuhan di ruang tertutup yang sempurna.
4.5⭐️
Dari profil Prof Magata Shiki yang sangat di luar nalar, ya 11 tahun sudah bergelar doktor, di usia 12 tahun sudah jadi kepala engineer, dan di usia 14 tahun dia [redacted] kedua orang tuanya, ku sudah menebak bahwa buku ini bakal out of mind, mind blowing, mission impossible, beyond of my imagination, dan ternyata tepat sekali dugaan itu :""
Buku ini pertama terbit tahun 1996, tetapi sungguh sangat futuristik. Kecanggihan robot, virtual reality, konsep pusat riset, bahkan beberapa bagian sangat saintis. Sampai penyelesaian dan pengungkapan apa arti F itu pun membuatku membuka buku sistem informasi dulu agar bisa lebih memahami.
Ketimbang thriller-mystery, buku ini lebih banyak menyajikan segi sci-fiction. Dari mulai pelaku, cara, motif, Saikawa sendiri, itu semua dibalut dengan science. Keren sih, tapi beberapa bagian kadang perlu beberapa kali baca agar bisa paham.
Karakter Saikawa dan Moe sendiri cukup eksentrik—dan nyebelin. Saikawa di sini selain berpikir memecahkan kasus, juga sibuk ngerokok dan ngopi. Itu aja repeat track 24 hours in loop. Sementara Moe, karena masih muda, jadi gejolak kawula mudanya masih tinggi. Somehow agak ngeselin sama sifatnya yang ngotot dan kadang ga lihat sikon. Tapi, di satu sisi dibuat kagum juga sama pemikirannya. Moe ini tipe nepo baby yang bisa memanfaatkan privilege-nya dengan baik. Lucu pas part Moe yang selalu salah sangka sama Gido yang seperti ada hubungan dengan Saikawa.
Ps. Ini romance-nya tipis banget. Tapi, aku malah condong ke Saikawa dengan [redacted]. Sayang, mereka terhalang genre, haha.
Plot twist-nya dibalut dengan twist lain. Jadi, ketika dikira sudah selesai twist-nya, ternyata ada lagi dan semakin mind blowing dan beyond of my imagination.
Dan buku ini tuh banyak banget typo-nya. Bahkan ada yang nggak ngerti ini maksud typo-nya apa. Perlu di-proofread ulang kalau buku ini cetul. Karena sayang banget udah seru bacanya, tapi jadi kurang paham karena typo. Terus banyak dialog yang kelupaan dialog tag-nya juga.
Okay, kalau mau baca buku sci-fiction dengan bumbu thriller dan mystery, bisa baca buku ini.
4.5⭐️
Dari profil Prof Magata Shiki yang sangat di luar nalar, ya 11 tahun sudah bergelar doktor, di usia 12 tahun sudah jadi kepala engineer, dan di usia 14 tahun dia [redacted] kedua orang tuanya, ku sudah menebak bahwa buku ini bakal out of mind, mind blowing, mission impossible, beyond of my imagination, dan ternyata tepat sekali dugaan itu :""
Buku ini pertama terbit tahun 1996, tetapi sungguh sangat futuristik. Kecanggihan robot, virtual reality, konsep pusat riset, bahkan beberapa bagian sangat saintis. Sampai penyelesaian dan pengungkapan apa arti F itu pun membuatku membuka buku sistem informasi dulu agar bisa lebih memahami.
Ketimbang thriller-mystery, buku ini lebih banyak menyajikan segi sci-fiction. Dari mulai pelaku, cara, motif, Saikawa sendiri, itu semua dibalut dengan science. Keren sih, tapi beberapa bagian kadang perlu beberapa kali baca agar bisa paham.
Karakter Saikawa dan Moe sendiri cukup eksentrik—dan nyebelin. Saikawa di sini selain berpikir memecahkan kasus, juga sibuk ngerokok dan ngopi. Itu aja repeat track 24 hours in loop. Sementara Moe, karena masih muda, jadi gejolak kawula mudanya masih tinggi. Somehow agak ngeselin sama sifatnya yang ngotot dan kadang ga lihat sikon. Tapi, di satu sisi dibuat kagum juga sama pemikirannya. Moe ini tipe nepo baby yang bisa memanfaatkan privilege-nya dengan baik. Lucu pas part Moe yang selalu salah sangka sama Gido yang seperti ada hubungan dengan Saikawa.
Ps. Ini romance-nya tipis banget. Tapi, aku malah condong ke Saikawa dengan [redacted]. Sayang, mereka terhalang genre, haha.
Plot twist-nya dibalut dengan twist lain. Jadi, ketika dikira sudah selesai twist-nya, ternyata ada lagi dan semakin mind blowing dan beyond of my imagination.
Dan buku ini tuh banyak banget typo-nya. Bahkan ada yang nggak ngerti ini maksud typo-nya apa. Perlu di-proofread ulang kalau buku ini cetul. Karena sayang banget udah seru bacanya, tapi jadi kurang paham karena typo. Terus banyak dialog yang kelupaan dialog tag-nya juga.
Okay, kalau mau baca buku sci-fiction dengan bumbu thriller dan mystery, bisa baca buku ini.
July 27, 2025
Saikawa Sohei dan beberapa mahasiswanya termasuk Moe Noshinono (atau semacam itulah namanya susah 😭) mengadakan camping di Pulau Himaga, pulau yang sama dengan lokasi pusat riset tertutup milik Prof Magata, genius komputer yang 15 tahun lalu dituduh membunuh kedua orangtuanya. Dengan alasan itu jugalah Saikawa dan Moe memilih lokasi pulau itu - karena kepo dengan sosok Prof Magata Shiki yang katanya selama 15 tahun nggak pernah keluar dari ruangannya ataupun bertemu orang lain. Sayangnya, ketika Saikawa dan Moe berkunjung ke pusat riset, sebuah keanehan terjadi. Sistem di pusat riset yang serba terkomputasi eror, pintu ruangam Prof Magata yang nggak pernah bisa dibuka mendadak terbuka, lalu dari sana keluar mayat Prof Magata yang sudah dimutilasi tangan dan kakinya. Kekacauan nggak berhenti di sana, karena setelah itu satu demi satu korban lain berjatuhan. Masalahnya, siapa yang bisa merancang pembunuhan dengan sangat sempurna di ruangan tertutup tiga lapis begini?
Ceritanya aku ini sedang ngebut review buku-buku yang kubaca selama bulan Juli. Jadinya beruntun begini. Hahaha. Nggak tahu kenapa belakangan aku males banget update review buku, tapi kalau nggal segera direview nanti keburu lupa juga sih.
Balik lagi ke buku ini. Satu kata yang cocok menggambarkan keseluruhan buku: berat.
Jujur aja ini bukan tipe buku yang bisa nge-hook di 10 halaman pertama. Malahan, nyaris aku drop karena 10 halaman pertama itu harus kubaca 3x baru bisa kupahami. Baru 10 halaman sudah disuguhi diskusi alot tentang realitas virtual, kan bikin nanges 😭
Tapi setelah 50 halaman pertama terlampaui, sudah lumayan nyaman sih. Memang sepertinya intro untuk menuju ke cerita intinya itu agak kepanjangan 🤔 BTW yang adegan mayat keluar dari pintu kuning itu lumayan menakutkan 🥶
Topik-topik yang dibicarakan di buku ini sangat berat (tentang realitas virtual, sistem komputer, dll) dan karena aku orang awam, aku cuma sekadar baca aja. Tapi untuk kasusnya sendiri sangat menarik, karena dilihat dari mana pun kayaknya mustahil gitu.
Tokoh Saikawa jadi magnet yang menarik di sini. Dosen arsitektur yang nyentrik banget. Gerak-gerik dan pola pikirnya Saikawa ini nggak tertebak banget. Aneh. Yah, seperti dia yang mengomentari soal sikap Prof Magata yang genius sering susah dipahami oleh orang awam, dia sendiri juga kayaknya termasuk si orang genius itu 😂 Satu hal yang pengin aku katakan ke Saikawa: Sensei, udahan dong ngerokoknya, masa sepanjang buku digambarkan Saikawa ini nyalain rokok mulu. Apa nggak engap itu paru-paru? 😭
Satu hal yang paling menarik dari novel ini, dan baru kusadari menjelang selesai baca, adalah ternyata novel ini terbit pertama kali tahum 1996. Jujur aja, bagaimana penulis menggambarkan kehidupan di pusat riset yang serba komputer dan digital itu mencengangkan, mengingat tahun 1996 tentunya kemajuan dunia komputer belum seperti sekarang.
Oh, satu hal yang mengganjal, latar belakang Saikawa sebagai dosen jurusan arsitektur tuh rasanya nggak menyumbang apa-apa ke cerita. Maksudnya, sepanjang cerita Saikawa lebih terlihat sebagai ahli komputer ketimbang arsitektur. Makanya aku penasaran kenapa background Saikawa ini nggak dibuat dosen ilmu komputer aja gitu.
Ceritanya aku ini sedang ngebut review buku-buku yang kubaca selama bulan Juli. Jadinya beruntun begini. Hahaha. Nggak tahu kenapa belakangan aku males banget update review buku, tapi kalau nggal segera direview nanti keburu lupa juga sih.
Balik lagi ke buku ini. Satu kata yang cocok menggambarkan keseluruhan buku: berat.
Jujur aja ini bukan tipe buku yang bisa nge-hook di 10 halaman pertama. Malahan, nyaris aku drop karena 10 halaman pertama itu harus kubaca 3x baru bisa kupahami. Baru 10 halaman sudah disuguhi diskusi alot tentang realitas virtual, kan bikin nanges 😭
Tapi setelah 50 halaman pertama terlampaui, sudah lumayan nyaman sih. Memang sepertinya intro untuk menuju ke cerita intinya itu agak kepanjangan 🤔 BTW yang adegan mayat keluar dari pintu kuning itu lumayan menakutkan 🥶
Topik-topik yang dibicarakan di buku ini sangat berat (tentang realitas virtual, sistem komputer, dll) dan karena aku orang awam, aku cuma sekadar baca aja. Tapi untuk kasusnya sendiri sangat menarik, karena dilihat dari mana pun kayaknya mustahil gitu.
Tokoh Saikawa jadi magnet yang menarik di sini. Dosen arsitektur yang nyentrik banget. Gerak-gerik dan pola pikirnya Saikawa ini nggak tertebak banget. Aneh. Yah, seperti dia yang mengomentari soal sikap Prof Magata yang genius sering susah dipahami oleh orang awam, dia sendiri juga kayaknya termasuk si orang genius itu 😂 Satu hal yang pengin aku katakan ke Saikawa: Sensei, udahan dong ngerokoknya, masa sepanjang buku digambarkan Saikawa ini nyalain rokok mulu. Apa nggak engap itu paru-paru? 😭
Satu hal yang paling menarik dari novel ini, dan baru kusadari menjelang selesai baca, adalah ternyata novel ini terbit pertama kali tahum 1996. Jujur aja, bagaimana penulis menggambarkan kehidupan di pusat riset yang serba komputer dan digital itu mencengangkan, mengingat tahun 1996 tentunya kemajuan dunia komputer belum seperti sekarang.
Oh, satu hal yang mengganjal, latar belakang Saikawa sebagai dosen jurusan arsitektur tuh rasanya nggak menyumbang apa-apa ke cerita. Maksudnya, sepanjang cerita Saikawa lebih terlihat sebagai ahli komputer ketimbang arsitektur. Makanya aku penasaran kenapa background Saikawa ini nggak dibuat dosen ilmu komputer aja gitu.
May 1, 2025
Emang harus baca buku-buku semacam ini buat mengalahkan reading slump.
Seru, tegangnya dapet banget, dan saya suka sekali blending antara hal-hal modern di sini dengan pola cerita detektif Jepang konvensional. Yang saya paling kagum adalah karena buku ini diterbitkan tahun 1998, sementara segala teknologi yang diceritakan ada di pusat riset adalah teknologi sehari-hari zaman sekarang..... visioner sekali Mori-sensei sampai bisa menuliskan teknologi 20++ tahun kemudian dengan tingkat presisi yang tinggi mendekati kenyataan. (Terus pas mencari tahu lagi, ternyata latar buku ini tahun 1994, yang membuat semua teknologi di buku ini terasa lebih wow lagi.)
Misteri kasusnya membuat penasaran, dan cara pengungkapannya sangat flashy karena dilakukan di dunia virtual. Berhubung saya bukan anak Teknik ataupun IT, penjelasan-penjelasan teknikal di buku ini terkait trik pembunuhannya nggak sepenuhnya bisa saya pahami, walaupun semuanya tentu masuk akal.
Karakter Saikawa-sensei cukup menarik, tapi kok saya rada sebel sama Moe ya haha. Mungkin karena dia masih remaja, jadi kadang sangat labil dan emosional, apalagi dia memang punya trauma. Tapi tindak-tanduknya tuh suka nyebelin... mungkin karena common sense dia sebagai nona kaya agak beda sama rakjel kebanyakan.
Terjemahan novel ini enak banget dibaca, sayangnya ada banyak banget typo (dan "banyak banget" di sini betul-betul berarti BANYAK BANGET), kayak salah ketik nama, salah ketik kata, dsb. Ada 1 hal lagi yang mengganjal buat saya: nama mahasiswa Saikawa yang dari Tiongkok itu diromajikan sebagai "Uh", tapi mungkin maksudnya "Wu" yah? Kayak jarang liat nama "Uh" menjadi romaji nama Tiongkok.
Yah terlepas dari itu, saya suka novel ini, dan bersyukur membacanya. Selalu menyenangkan mendapat asupan novel misteri yang bagus.
Seru, tegangnya dapet banget, dan saya suka sekali blending antara hal-hal modern di sini dengan pola cerita detektif Jepang konvensional. Yang saya paling kagum adalah karena buku ini diterbitkan tahun 1998, sementara segala teknologi yang diceritakan ada di pusat riset adalah teknologi sehari-hari zaman sekarang..... visioner sekali Mori-sensei sampai bisa menuliskan teknologi 20++ tahun kemudian dengan tingkat presisi yang tinggi mendekati kenyataan. (Terus pas mencari tahu lagi, ternyata latar buku ini tahun 1994, yang membuat semua teknologi di buku ini terasa lebih wow lagi.)
Misteri kasusnya membuat penasaran, dan cara pengungkapannya sangat flashy karena dilakukan di dunia virtual. Berhubung saya bukan anak Teknik ataupun IT, penjelasan-penjelasan teknikal di buku ini terkait trik pembunuhannya nggak sepenuhnya bisa saya pahami, walaupun semuanya tentu masuk akal.
Karakter Saikawa-sensei cukup menarik, tapi kok saya rada sebel sama Moe ya haha. Mungkin karena dia masih remaja, jadi kadang sangat labil dan emosional, apalagi dia memang punya trauma. Tapi tindak-tanduknya tuh suka nyebelin... mungkin karena common sense dia sebagai nona kaya agak beda sama rakjel kebanyakan.
Terjemahan novel ini enak banget dibaca, sayangnya ada banyak banget typo (dan "banyak banget" di sini betul-betul berarti BANYAK BANGET), kayak salah ketik nama, salah ketik kata, dsb. Ada 1 hal lagi yang mengganjal buat saya: nama mahasiswa Saikawa yang dari Tiongkok itu diromajikan sebagai "Uh", tapi mungkin maksudnya "Wu" yah? Kayak jarang liat nama "Uh" menjadi romaji nama Tiongkok.
Yah terlepas dari itu, saya suka novel ini, dan bersyukur membacanya. Selalu menyenangkan mendapat asupan novel misteri yang bagus.
July 25, 2023
I didnt expect the biggest change from the anime to involve VR mario kart. But all of the main characters are so good. Great book.
January 17, 2025
I mean I love this novel still but my god I did not remember the translation being this bad.
December 13, 2025
The premise is actually quite classic, a locked room mystery that immediately sets the tone for the story. What makes it feel fresh is the setting, a high tech research facility, paired with the presence of Dr. Magata Shiki. She is portrayed as a brilliant genius living in isolation and out of reach
What I personally enjoyed the most is the character's dynamic. Saikawa and Moe come from an Architecture background, yet the mystery they deal with is rooted deeply in computer science and engineering (?). Instead of focusing on building structures, they are faced with a kind of locked room built from logic and code, created by a programmer’s mind (tbh I'm an architecture graduate, so my brain is kinda not braining 🫠). But somehow, that contrast feels clever and oddly satisfying~
Despite the technical elements, the writing never feels too heavy. Even as a reader, you are guided to think alongside the characters. If you understand programming logic, the experience becomes even more rewarding, especially when the meaning behind the title "Everything Becomes F" finally clicks 🤭 That realization genuinely made me stop and reflect
The pace is slow and deliberate, driven by dialogue and logical discussions rather than action. It asks for patience, but it pays off! 🙂↕️ If you enjoy thoughtful mysteries that challenge how you think rather than just trying to surprise you, this book is absolutely worth reading 😊✨
What I personally enjoyed the most is the character's dynamic. Saikawa and Moe come from an Architecture background, yet the mystery they deal with is rooted deeply in computer science and engineering (?). Instead of focusing on building structures, they are faced with a kind of locked room built from logic and code, created by a programmer’s mind (tbh I'm an architecture graduate, so my brain is kinda not braining 🫠). But somehow, that contrast feels clever and oddly satisfying~
Despite the technical elements, the writing never feels too heavy. Even as a reader, you are guided to think alongside the characters. If you understand programming logic, the experience becomes even more rewarding, especially when the meaning behind the title "Everything Becomes F" finally clicks 🤭 That realization genuinely made me stop and reflect
The pace is slow and deliberate, driven by dialogue and logical discussions rather than action. It asks for patience, but it pays off! 🙂↕️ If you enjoy thoughtful mysteries that challenge how you think rather than just trying to surprise you, this book is absolutely worth reading 😊✨
December 18, 2025
--- Everything Becomes F ; The Perfect Insider ---
Plot: Misteri yang menarik dan dibumbui serpihan petunjuk yang sesuai. Atau... Paling tidak; agak sesuai. ....😈
Penokohan: Sepertinya penulis benar-benar ingin menyerukan dan menekankan pendapatnya mengenai teknologi melalui karakter si dosen ya...
Jawaban pertama yang tercetus di kepala saya adalah; Apakah F-nya mengacu pada kode hex warna? Maksudku... Emm... #FFFFFF mengacu pada warna putih. Apa itu yang dimaksud? Kover buku ini kan juga putih! 🤭✨ /ngueeenggg
...Gus senang dengan cocokologi ya wkwk XD.
Sebenarnya ada juga terpikir F berdiri sebagai singkatan. Tapi singkatan apa? Bahasa inggris?Everything Becomes F*ck? ୧( ಠ Д ಠ )୨ //ngueeeeengggg(2)
Saya belum pernah membaca judul ini. Sekalipun tahu ada versi komiknya yang pernah terbit dan tamat dalam dua vol.
Jujur saja, setelah membaca novelnya, saya malah jadi bingung...
*Apakah mampu memberikan bukti yang setara seperti di novelnya?
*Apakah ikut memberikan deskripsi sambil lalu yang patut dipertanyakan? //inimahkamusaja.
*Apakah mampu membuat pembacanya ikut berpikir di bawah kemungkinan yang ada? Di bawah pemahaman penulis yang ingin ia garis bawahi?
Apakah bisa??? 😈😈😈 *dhuarrr!!

....dan begitulah pendapat saya u w u.
Penceritaan novel ini bagus^^. Saking bagusnya, penulisnya sukses membuat saya kesal sendiri dengan tokohnya.
Bagaimana tidak, tokoh si dosen ini bisa sangat terbuka dengan kemajuan dengan teknologi, juga sangat tertutup. Ia memandang orang lain dengan begitu skeptis seolah dia saja yang bisa menerima teknologi.
Wat de fork ヽ(`д´;)/.
Pak dosen, dunia ini begitu luas!
Saya tidak akan mengatakan komputer sebagai ciptaan paling manusiawi, karena itu bersifat subjektif. Apalagi semua teknologi ada untuk membantu manusia. Tidakkah berarti semua hampir bisa dibilang manusiawi? Sesuatu yang diciptakan, diinovasikan, untuk manusia?
Lagipula memangnya kenapa jika ada manusia menganggap teknologi itu tidak manusiawi?
Pak dosen, semua manusia tanpa terkecuali, boleh memiliki pendapat yang berbeda. Biarlah waktu memahat pendapat mereka u w u. Yang terpenting pendapat Anda sendiri.
Begitulah, saya menyimpan kekesalan sampai setengah buku kepada pendapat yang menurut saya sangat 'katak-dalam-tempurung'. Tapi akhirnya saya sadar mengapa penulisnya berpendapat begitu.
Novel misteri ini membuat saya gregetan dalam notasi yang baik^^.
Meski ada juga bagian yang saya sayangkan dari pengupasan tokoh yang terasa sambil lalu... 😈
Tapi secara keseluruhan misterinya dipaparkan dengan baik, sehingga pembaca bisa menebak ini dan itunya.
Ada baiknya saya salah tebak pelaku. Karena sepanjang novel, saya jadi gregetan dan ikut berkeringat dingin; Apakah pelakunya seperti dugaanku? XD -> kalimat yang terus terngiang-ngiang.
Oh ya. Saya tidak suka dengan pendapat dosen mengenai pelakunya 🤔.
Maksudku... hmm... saya tidak bisa menerima tindakan pelakunya adalah karena dia seperti itu.
Menurut saya dia orang yang beeeeeeeeep dan tidak lebih. Sampai akhir, pelakunya tidak berbeda dengan pelaku lainnya yang hanya memandang dirinya sendiri.
U w U
Sebagai penutup, rasanya saya harus mengapresiasi terjemahannya.
Phiu! Saya lebih suka di sini daripada Your Name.. Paling tidak, meski ada salah typo nama (kurasa) dan ada inkonsistensi dalam terjemahannya, tetapi semuanya diterjemahkan dengan baik (?) (≧∇≦).
Bisa dibilang, tipe terjemahan yang saya minati.
[8.7/10]["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>
Plot: Misteri yang menarik dan dibumbui serpihan petunjuk yang sesuai. Atau... Paling tidak; agak sesuai. ....😈
Penokohan: Sepertinya penulis benar-benar ingin menyerukan dan menekankan pendapatnya mengenai teknologi melalui karakter si dosen ya...
Saat membaca judulnya, hal pertama yang terpikirkan adalah...F ini mengacu pada apa? q(❂‿❂)p ✨ //menjadibersemangat.![]()
Jawaban pertama yang tercetus di kepala saya adalah; Apakah F-nya mengacu pada kode hex warna? Maksudku... Emm... #FFFFFF mengacu pada warna putih. Apa itu yang dimaksud? Kover buku ini kan juga putih! 🤭✨ /ngueeenggg
...Gus senang dengan cocokologi ya wkwk XD.
Sebenarnya ada juga terpikir F berdiri sebagai singkatan. Tapi singkatan apa? Bahasa inggris?
Saya belum pernah membaca judul ini. Sekalipun tahu ada versi komiknya yang pernah terbit dan tamat dalam dua vol.
Jujur saja, setelah membaca novelnya, saya malah jadi bingung...
A-Apakah komiknya mampu mengompres cerita di buku ini dengan baik?
⋌༼ •̀ ⌂ •́ ༽⋋⋌༼ •̀ ⌂ •́ ༽⋋⋌༼ •̀ ⌂ •́ ༽⋋
*Apakah mampu memberikan bukti yang setara seperti di novelnya?
*Apakah ikut memberikan deskripsi sambil lalu yang patut dipertanyakan? //inimahkamusaja.
*Apakah mampu membuat pembacanya ikut berpikir di bawah kemungkinan yang ada? Di bawah pemahaman penulis yang ingin ia garis bawahi?
Apakah bisa??? 😈😈😈 *dhuarrr!!

....dan begitulah pendapat saya u w u.
Penceritaan novel ini bagus^^. Saking bagusnya, penulisnya sukses membuat saya kesal sendiri dengan tokohnya.
Bagaimana tidak, tokoh si dosen ini bisa sangat terbuka dengan kemajuan dengan teknologi, juga sangat tertutup. Ia memandang orang lain dengan begitu skeptis seolah dia saja yang bisa menerima teknologi.
Wat de fork ヽ(`д´;)/.
Pak dosen, dunia ini begitu luas!
Saya tidak akan mengatakan komputer sebagai ciptaan paling manusiawi, karena itu bersifat subjektif. Apalagi semua teknologi ada untuk membantu manusia. Tidakkah berarti semua hampir bisa dibilang manusiawi? Sesuatu yang diciptakan, diinovasikan, untuk manusia?
Lagipula memangnya kenapa jika ada manusia menganggap teknologi itu tidak manusiawi?
Pak dosen, semua manusia tanpa terkecuali, boleh memiliki pendapat yang berbeda. Biarlah waktu memahat pendapat mereka u w u. Yang terpenting pendapat Anda sendiri.
Begitulah, saya menyimpan kekesalan sampai setengah buku kepada pendapat yang menurut saya sangat 'katak-dalam-tempurung'. Tapi akhirnya saya sadar mengapa penulisnya berpendapat begitu.
Novel misteri ini membuat saya gregetan dalam notasi yang baik^^.
Meski ada juga bagian yang saya sayangkan dari pengupasan tokoh yang terasa sambil lalu... 😈
Tapi secara keseluruhan misterinya dipaparkan dengan baik, sehingga pembaca bisa menebak ini dan itunya.
Ada baiknya saya salah tebak pelaku. Karena sepanjang novel, saya jadi gregetan dan ikut berkeringat dingin; Apakah pelakunya seperti dugaanku? XD -> kalimat yang terus terngiang-ngiang.
Oh ya. Saya tidak suka dengan pendapat dosen mengenai pelakunya 🤔.
Maksudku... hmm... saya tidak bisa menerima tindakan pelakunya adalah karena dia seperti itu.
Menurut saya dia orang yang beeeeeeeeep dan tidak lebih. Sampai akhir, pelakunya tidak berbeda dengan pelaku lainnya yang hanya memandang dirinya sendiri.
U w U
Sebagai penutup, rasanya saya harus mengapresiasi terjemahannya.
Phiu! Saya lebih suka di sini daripada Your Name.. Paling tidak, meski ada salah typo nama (kurasa) dan ada inkonsistensi dalam terjemahannya, tetapi semuanya diterjemahkan dengan baik (?) (≧∇≦).
Bisa dibilang, tipe terjemahan yang saya minati.
[8.7/10]["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>["br"]>
March 7, 2021
Fun read. It was less of a mystery book and more of a philosophy book I felt like. The book was largely driven by dialogues which I’m a fan of.
November 6, 2025
❝Saya mengerti semua orang tidak percaya pada cerita ini. Tetapi, 'fakta' tidak bergantung pada kemampuan orang lain untuk paham.❞
actual rating: 4.5/5
Sama seperti kebanyakan orang, Saikawa Sohei—yang berprofesi sebagai asisten Profesor jurusan Arsitektur—begitu mengagumi Profesor Magata Shiki, sosok genius yang mendapatkan gelar Ph.D. dari MIT saat berusia 11 tahun dan keberadaannya saat ini bagai mitos meski tetap aktif menerbitkan buku dan paper penelitian setiap tahunnya.
Sosok Magata Shiki nyata adanya, terpenjara dalam salah satu ruangan dengan keamanan berlapis di pusat riset keluarganya selama 15 tahun, jauh dari jangkauan dunia luar sebagai ganjaran dari tindakan kriminal yang pernah dilakukannya. Namun, bagaimana jika "kebebasan" itu akhirnya bisa diraihnya, sebab jasadnya berhasil keluar dari pusat riset, walau dengan tangan dan kaki yang raib dimutilasi?
Kapan terakhir kali kalian BENGONG setelah menamatkan sebuah buku? Setelah kelarin buku ini, aku langsung bengong dan ngebatin, “Udah, klean aja semua yang genius, aku bagian jadi pembaca yang dibego-begoin aja.”
Pembunuhan ruang tertutup kali ini beneran mind blowing GILA! Shiki SELALU SENDIRIAN di ruangan tersebut, tapi justru dia tewas tanpa tangan dan kaki. Waktu tahu motif dan triknya, dibikin lemes saat menyadari how cruel the world can be 🥲💔
Efek kejutnya berlapis. Sebenarnya menurutku penulis udah menabur clue meski memang dibuat samar, walau pembaca justru terdistraksi karena rentetan peristiwa yang terjadi setelah kematian Shiki. Soalnya buku ini juga termasuk slow pace karena 200 halaman awal dibuat fokus ke berbagai teknologi yang digunakan di pusat riset.
Buku ini pertama kali terbit tahun 1996, tapi penulis begitu lihai menjabarkan penerapan AI dan realitas virtual di kehidupan manusia. Aku jadi merasa bahwa kita saat ini hidup di dunia yang dulu hanya bisa dibayangkan orang-orang dalam sebuah karya fiksi.
Aku suka para karakter perempuan yang mendominasi di buku ini. Shiki yang begitu genius, bahkan ketika dia melakukan hal terlarang, otaknya masih dibutuhkan meski harus terkurung dalam pusat riset. Ada pula Shimada Ayako, programmer hebat yang bekerja dengan cepat di kondisi kritis. Kalau Moe aku suka rasa ingin tahunya yang tinggi, meski agak ngotot karena dia spoiled princess banget, terbiasa mendapatkan apa yang dia mau, tapi aku suka dia yang bisa memanfaatkan privilege dengan baik.
Tapi aku nggak menemukan fungsi latar keilmuan Saikawa dan Moe di bidang teknik arsitektur. Padahal aku berharap latar keilmuannya bakal mengambil peran penting dalam pengungkapan kasus. Sebenarnya kalau mau tetap jadi akademisi, Saikawa sekalian dibikin jadi dosen informatika aja. OH! Dan Saikawa ini bisa nggak sih semenit aja nggak ngerokok??? Dikit-dikit nyalain rokok, dikit-dikit ngisap rokok, TELAN SENDIRI ASAPNYA SANA!! Ini juga yang bikin aku nggak bisa respect ke Saikawa meskipun dia memang cerdas.
Perihal typo aku rasa sudah ditekan oleh teman-teman pembaca lain ya. Ini pertama kalinya aku baca buku terbitan Haru yang typonya beneran sebanyak itu dan cukup mengganggu pengalaman membaca karena di beberapa bagian beneran dibikin mikir sebenarnya maksudnya/kata yang tepat itu apa. Ini jadi PR tersendiri bagi Haru untuk lebih teliti ke depannya.
July 16, 2025
3,9🌟
"Semua kenangan akan menjadi ingatan. Tetapi, tidak semua ingatan bisa kita kenang."
Pembunuhan terjadi di sebuah pusat riset berteknologi tinggi di sebuah pulau terpencil. Korbannya adalah Prof. Magata Shiki, seorang yg sangat jenius tapi di masa lalunya ia pernah membunuh kedua orang tuanya 15 tahun silam, sehingga ia harus hidup terisolasi disana.
Yg membuat makin mencekam, mayat Prof. Magata Shiki keluar dari ruangan yg selama ini terkunci dengan tangan dan kaki yg termutilasi dan diletakkan diatas sebuah robot.
Pada saat kejadian tsb, Saikawa Sohei seorang dosen jurusan arsitektur dan Nishinosono Moe mahasiswinya yg sedang berkunjung kesana pun terlibat dan akhirnya ikut mencari tahu siapa pelaku, motif dan bagaimana pembunuhan tsb terjadi. Dengan klu 'Semua menjadi F'. Kira-kira apa yg menjadi 'F' ?
Membaca novel ini buat aku merasakan sensasi merinding di beberapa bagian. Terutama saat pertama kali pintu ruangan isolasi Prof. Shiki terbuka dan keluarlah mayat diatas sebuah robot, ditambah terjadi mal fungsi di pusat riset tsb yg membuat mereka tidak bisa mengirimkan informasi keluar.
Ceritanya menurutku cukup seru, menggabungkan misteri pembunuhan dengn teknologi tingkat tinggi. Makanya disini banyak disinggung tentang kecerdasan intelegensi, VR, dan istilah-istilah pemprograman yg cukup rumit dan buat aku yg awam dengan hal tsb lumayan effort bacanya.
Meski ceritanya seru tapi ada bagian-bagian yg memang cukup lambat karena memang disini tokohnya lumayan banyak dan ada beberapa penjelasan tentang latar belakang mereka, tapi karena memang untuk kebutuhan cerita dan membangun vibes serta ada sebaran-sebaran hint juga disitu. Jadi pas udah tau nih siapa dan kenapa pelakunya berbuat begitu, membuat aku jadi 'oh ternyata begitu'.
Plot twistnya buat aku lumayan mengejutkan, memang aku ga nebak-nebak siapa pelakunya, karena memang penasaran banget sama gimana cara pelaku bisa melakukan hal yg dikatakan mustahil dengan segala kecanggihan yg ada di pusat riset tsb.
Dan pada saat semuanya terbongkar aku lumayan kaget, walaupun itu tadi karena pengungkapannya menggunakan istilah-istilah pemprograman jadi kayak mesti bener-bener fokus pas bacanya, tapi tetep bikin aku speechless kok bisa ya begitu.
🧩
Endingnya juga buat aku agak bikin melongo ya, ada istilah boneka Marionet, tentang yg tentang siapa yg mengendalikan siapa, itu menurutku gong banget sih.
🧩
Overall aku menikmati baca novel ini. Novel misteri yg bercampur dengan teknologi tingkat tinggi yg bikin kita mikir sepanjang baca dan ada sedikit sisipan romansa yg bikin novel ini jadi lebih greget. Recommended 👍👍
"Semua kenangan akan menjadi ingatan. Tetapi, tidak semua ingatan bisa kita kenang."
Pembunuhan terjadi di sebuah pusat riset berteknologi tinggi di sebuah pulau terpencil. Korbannya adalah Prof. Magata Shiki, seorang yg sangat jenius tapi di masa lalunya ia pernah membunuh kedua orang tuanya 15 tahun silam, sehingga ia harus hidup terisolasi disana.
Yg membuat makin mencekam, mayat Prof. Magata Shiki keluar dari ruangan yg selama ini terkunci dengan tangan dan kaki yg termutilasi dan diletakkan diatas sebuah robot.
Pada saat kejadian tsb, Saikawa Sohei seorang dosen jurusan arsitektur dan Nishinosono Moe mahasiswinya yg sedang berkunjung kesana pun terlibat dan akhirnya ikut mencari tahu siapa pelaku, motif dan bagaimana pembunuhan tsb terjadi. Dengan klu 'Semua menjadi F'. Kira-kira apa yg menjadi 'F' ?
Membaca novel ini buat aku merasakan sensasi merinding di beberapa bagian. Terutama saat pertama kali pintu ruangan isolasi Prof. Shiki terbuka dan keluarlah mayat diatas sebuah robot, ditambah terjadi mal fungsi di pusat riset tsb yg membuat mereka tidak bisa mengirimkan informasi keluar.
Ceritanya menurutku cukup seru, menggabungkan misteri pembunuhan dengn teknologi tingkat tinggi. Makanya disini banyak disinggung tentang kecerdasan intelegensi, VR, dan istilah-istilah pemprograman yg cukup rumit dan buat aku yg awam dengan hal tsb lumayan effort bacanya.
Meski ceritanya seru tapi ada bagian-bagian yg memang cukup lambat karena memang disini tokohnya lumayan banyak dan ada beberapa penjelasan tentang latar belakang mereka, tapi karena memang untuk kebutuhan cerita dan membangun vibes serta ada sebaran-sebaran hint juga disitu. Jadi pas udah tau nih siapa dan kenapa pelakunya berbuat begitu, membuat aku jadi 'oh ternyata begitu'.
Plot twistnya buat aku lumayan mengejutkan, memang aku ga nebak-nebak siapa pelakunya, karena memang penasaran banget sama gimana cara pelaku bisa melakukan hal yg dikatakan mustahil dengan segala kecanggihan yg ada di pusat riset tsb.
Dan pada saat semuanya terbongkar aku lumayan kaget, walaupun itu tadi karena pengungkapannya menggunakan istilah-istilah pemprograman jadi kayak mesti bener-bener fokus pas bacanya, tapi tetep bikin aku speechless kok bisa ya begitu.
🧩
Endingnya juga buat aku agak bikin melongo ya, ada istilah boneka Marionet, tentang yg tentang siapa yg mengendalikan siapa, itu menurutku gong banget sih.
🧩
Overall aku menikmati baca novel ini. Novel misteri yg bercampur dengan teknologi tingkat tinggi yg bikin kita mikir sepanjang baca dan ada sedikit sisipan romansa yg bikin novel ini jadi lebih greget. Recommended 👍👍
May 8, 2026
as i posted on my story before, i got this book bcs i watched the anime years ago (which surprisingly, some of you guys didn’t know had been adapted into an anime before the translation came out). despite already watching the anime, i was still determined to read the book bcs i wanted to know more about saikawa’s pov. as an intp myself, i don’t often see intp representation in literature, so i personally get really excited whenever i do, even though almost all of them have to be geniuses, bcs otherwise, intps would prob be too boring to become lead characters 😭
what i vaguely remember from the anime is that the plot was almost the same, but i think there were slight differences in how the virtual reality world was portrayed. the character designs in the anime were done by inio asano. after reading the novel, i think choosing him as the designer was the best decision bcs the unsettling and eerie atmosphere of the novel really matches his art style.
i might not be completely objective reviewing this book bcs i watched the anime first, but if i were to point out one flaw, it would be that there’s no map of the building where the murder took place. i might have been confused if i hadn’t watched the anime beforehand, esp considering that saikawa himself is an architecture graduate. it feels a bit strange not to include any illustration of the building.
smth that made me uncomfortable was the age gap between saikawa and moe (11 years). like, wdym he’s known her since her school days? alt i understand that from saikawa’s perspective, the first thing he noticed about both moe and shiki wasn’t physical beauty, but their intelligence. and by the end, all of them are already adults. well.. after all, this novel leans more toward the shinhonkaku genre rather than the shakai genre. i didn't expect for some social ethics here.
speaking of shinhonkaku, honestly there were some tricks used in this book that i wasn’t really fond of, but considering this was the first book to win the memphisto prize, it was very ahead of its time (it was originally published in 1994), so i can still appreciate it.
what i vaguely remember from the anime is that the plot was almost the same, but i think there were slight differences in how the virtual reality world was portrayed. the character designs in the anime were done by inio asano. after reading the novel, i think choosing him as the designer was the best decision bcs the unsettling and eerie atmosphere of the novel really matches his art style.
i might not be completely objective reviewing this book bcs i watched the anime first, but if i were to point out one flaw, it would be that there’s no map of the building where the murder took place. i might have been confused if i hadn’t watched the anime beforehand, esp considering that saikawa himself is an architecture graduate. it feels a bit strange not to include any illustration of the building.
smth that made me uncomfortable was the age gap between saikawa and moe (11 years). like, wdym he’s known her since her school days? alt i understand that from saikawa’s perspective, the first thing he noticed about both moe and shiki wasn’t physical beauty, but their intelligence. and by the end, all of them are already adults. well.. after all, this novel leans more toward the shinhonkaku genre rather than the shakai genre. i didn't expect for some social ethics here.
speaking of shinhonkaku, honestly there were some tricks used in this book that i wasn’t really fond of, but considering this was the first book to win the memphisto prize, it was very ahead of its time (it was originally published in 1994), so i can still appreciate it.
April 28, 2026
Apa judul buku paling GILA yang pernah kamu baca??
Profesor Magata Shiki telah mendapatkan gelar doktor di usia 11 tahun. Namun pada usia 14 tahun ia diisolasi di ruang bawah tanah pusat riset. Diisolasi hingga 15 tahun. Dia tak pernah bertemu siapapun secara langsung, semua pertemuan hanya melalui video call. Suatu hari Saikawa dan Moe, seorang dosen dan mahasiswanya ingin menemui Shiki. Tapi hal tak terduga terjadi! 👩🏻💻✴️
Bukannya bertemu Shiki, Saikawa dan Moe justru melihat sesosok m*yat bergaun pengantin keluar dari ruangan Shiki, menggelinding di atas robot! Tak hanya itu, beberapa menit kemudian Kepala Pusat Riset juga ditemukan tak bernyawa. Siapa dalang dari pembunuh*n ini? Mengapa sistem super canggih pusat riset tiba-tiba mengalami malfungsi? Apakah Saikawa dan Moe bisa memecahkan kasus ini?🧩
🧩👩🏻💻🧩 Baca review buku lainnya di IG ku tika_nia
Ku pikir ini adalah salah satu novel paling gila yang pernah ku baca! Butuh lebih dari 2 minggu untuk menamatkannya. Sama sekali nggak bisa dibilang ringan. Petunjuknya dibuat sangat menyebar, di awal alurnya terasa agak lambat dan aku tidak sabaran 🙃 Di bagian tengah aku semakin pusing karena muncul petunjuk² baru tapi tidak bisa menemukan motif pembunuh*nnya. Tapi di bagian akhir aku sangat puas dengan semuanya 🥳 Plot twist-nya mencengangkan dan di luar nalar 😏😌
Ngomongin soal novel thriller, aku selalu bertanya-tanya tentang motifnya! Dan begitu tau motifnya, rasanya beneran GILA YA?! Ini kok tiba-tiba filosofis gini? 🤣💥 Atau emang orang-orang cerdas selalu ada "gila-gilaannya" gitu? 😎
Satu lagi yang membuatku sangat kagum adalah detail tentang digitalisasi pusat riset yang modern, melampaui zamannya! Ditulis tahun 1996 tapi sudah ada semacam finger print, video call, bahkan virtual reality. Keren bangeet 🥳✨
Profesor Magata Shiki telah mendapatkan gelar doktor di usia 11 tahun. Namun pada usia 14 tahun ia diisolasi di ruang bawah tanah pusat riset. Diisolasi hingga 15 tahun. Dia tak pernah bertemu siapapun secara langsung, semua pertemuan hanya melalui video call. Suatu hari Saikawa dan Moe, seorang dosen dan mahasiswanya ingin menemui Shiki. Tapi hal tak terduga terjadi! 👩🏻💻✴️
Bukannya bertemu Shiki, Saikawa dan Moe justru melihat sesosok m*yat bergaun pengantin keluar dari ruangan Shiki, menggelinding di atas robot! Tak hanya itu, beberapa menit kemudian Kepala Pusat Riset juga ditemukan tak bernyawa. Siapa dalang dari pembunuh*n ini? Mengapa sistem super canggih pusat riset tiba-tiba mengalami malfungsi? Apakah Saikawa dan Moe bisa memecahkan kasus ini?🧩
🧩👩🏻💻🧩 Baca review buku lainnya di IG ku tika_nia
Ku pikir ini adalah salah satu novel paling gila yang pernah ku baca! Butuh lebih dari 2 minggu untuk menamatkannya. Sama sekali nggak bisa dibilang ringan. Petunjuknya dibuat sangat menyebar, di awal alurnya terasa agak lambat dan aku tidak sabaran 🙃 Di bagian tengah aku semakin pusing karena muncul petunjuk² baru tapi tidak bisa menemukan motif pembunuh*nnya. Tapi di bagian akhir aku sangat puas dengan semuanya 🥳 Plot twist-nya mencengangkan dan di luar nalar 😏😌
Ngomongin soal novel thriller, aku selalu bertanya-tanya tentang motifnya! Dan begitu tau motifnya, rasanya beneran GILA YA?! Ini kok tiba-tiba filosofis gini? 🤣💥 Atau emang orang-orang cerdas selalu ada "gila-gilaannya" gitu? 😎
Satu lagi yang membuatku sangat kagum adalah detail tentang digitalisasi pusat riset yang modern, melampaui zamannya! Ditulis tahun 1996 tapi sudah ada semacam finger print, video call, bahkan virtual reality. Keren bangeet 🥳✨
July 22, 2026
Một quyển trinh thám suy luận điển hình có bối cảnh lạ nhất trong tất cả các tác phẩm mình từng đọc. Vẫn là trên hòn đảo biệt lập nhưng trong 1 cơ sở nghiên cứu không có lấy một cửa sổ, được điều khiển bởi hệ thống máy tính siêu cấp, đúng nghĩa nội bất xuất ngoại bất nhập. Thủ pháp và động cơ gây án hay và khó đoán (lúc tiết lộ sự thật mình đã rất sốc, mọi thứ quá khó tin), hung thủ cực khó đối phó, bản thân bối cảnh kín đáo đó cũng ảnh hưởng tới quá trình trình phá án ít nhiều. Điểm mình không thích nhất là cặp đôi nhân vật chính, đúng kiểu "trên tình bạn dưới tình yêu" xong lâu lâu bên nữ còn ghen bóng ghen gió wtf. Nói chung cũng hay nhưng vì cặp chính nên chắc mình không đu theo series này nữa đâu 🤣
June 28, 2016
I haven't read many mystery books but I felt like this one is bit different. The biggest characteristic of this book is probably its inconsistency: it does contain choppy conversations which seem like they have little to do with what is happening in the book that moment. When Mr Saikawa has something like a panic attack - the author writes the voice inside his head yet the voice itself is a one big ramble. The ending or rather revealing of the logic was not as satisfying as I expected it to be since it seems like it's got some holes. But generally I enjoyed this book - it's a page turner and great for killing time.
April 13, 2015
Clever and worth a read. The plot twists are not as thrilling or tight as that of Agatha Christie's works, and the aha moment is not satisfying because there are holes, at least to me. But the moral and existential discussions are the highlights and provide lots of food for thought. In the digital age, what is the new definition of "living"? How far can we stretch virtual reality? What do we do with digital waste? No one chooses to be born, and human non-existence is infinitely greater than existence, so what do we make of life and death?
This entire review has been hidden because of spoilers.
March 13, 2026
Buku gila, i do understand kenapa ada yang bilang buku ini mirip holy mother versi lebih kompleks.
Definitely kalo ada karya Hiroshi Mori lain yang diterjemahkan bakal auto borong
Definitely kalo ada karya Hiroshi Mori lain yang diterjemahkan bakal auto borong
This entire review has been hidden because of spoilers.
August 15, 2026
Everything Becomes F: The Perfect Insider
oleh Hiroshi Mori
3.5 dari 5 bintang
Salah satu hal yang aku apresiasi dari Penerbit Haru adalah bagaimana penerbit satu ini menjadi trendsetter untuk genre CTM, termasuk dengan menerjemahkan karya Mori Hiroshi ini. Dengan cover yang cantik, serta blurb yang menarik, mau tak mau Everything Becomes F menjadi salah satu buku yang ingin segera kubaca.
Petualangan di Pulau Terpencil
Cerita dimulai dari sesi wawancara yang dilakukan oleh Nishinosono Moe dengan Profesor Magata Shiki. Prof Magata dikenal sebagai programmer genius. Ia meraih PhD saat berusia sebelas tahun dari MIT. Sayangnya, suatu kejadian yang membuat kedua orang tuanya meninggal, membuat Prof Magata diisolasi di sebuah pusat riset berteknologi tinggi.
Satu bulan setelah wawancara itu, Saikawa Sohei, seorang dosen arsitektur dari Universitas N, mengadakan karyawisata untuk mengunjungi pulau tempat pusat riset Prof Magata berada. Tentu saja ide ini juga muncul dari Nishinosono. Keduanya ternyata masih penasaran dengan kehidupan Prof Magata yang tak pernah melihat dunia luar selama 15 tahun terakhir.
Awalnya sih semuanya berjalan baik-baik saja. Sampai saat Saikawa dan Nishinosono berkunjung ke pusat riset, ternyata diketahui kalau Prof Magata tidak dapat dihubungi selama satu minggu terakhir. Menyadari keanehan itu, akhirnya Wakil Pusat Riset Yamane Yukihiro memutuskan untuk membuka paksa pintu menuju unit kediaman Prof Magata. Sayangnya, ternyata yang muncul adalah mayat bergaun pengantin dengan tangan dan kakinya yang termutilasi. Siapakah sebetulnya dalang di balik pembunuhan ini? Bagaimana Saikawa dan Nishinosono bisa membantu memecahkan misteri di baliknya?
Pemanfaatan Teknologi yang Mindblowing
Sedari awal aku membaca buku ini, aku terus mengingatkan diri kalau buku ini ditulis pada tahun 1996. Jadi, seperti yang sudah dijelaskan oleh pembaca yang lain, buku ini berhasil menggambarkan berbagai macam teknologi, mulai dari sistem komputasi, virtual reality, atau bahkan cikal-bakal kecerdasan artifisial—seperti yang dilakukan Debora, dengan sangat detail. Bahkan aku sampai bertanya-tanya, sejauh mana perkembangan teknologi di Jepang pada saat itu. Apakah lebih karena imajinasi Mori sensei yang sangat out of the box bisa menghasilkan penggambaran kisah yang sangat futuristik begini?
Bisa dibilang, salah satu daya tarik dari Everything Becomes F adalah misteri yang melingkupi kasusnya. Pasalnya, ternyata tak cuma satu orang saja yang menjadi korban. Hal itu membuat pembaca bakal bertanya-tanya, apa hubungan korban pertama dengan korban selanjutnya? Lalu, bagaimana cara si pelaku membunuh korbannya? Jawabannya pun ternyata sangat sialan-dalam artian memang tak terduga. Yang pasti, Prof Magata Shiki memang amat genius dalam hal ini.
Meski demikian, aku juga setuju dengan pendapat teman-teman kalau alur buku ini cukup lambat. Banyak penjelasan yang cukup bertele-tele menurutku. Alhasil, 100 halaman pertama hanya fokus di penjelasan soal teknologi yang digunakan di pusat riset. Meski betul itu akan menjadi kunci untuk memahami bagaimana si pelaku beraksi, tapi aku rasa bagian tersebut masih bisa dipangkas.
Lalu, entah mengapa aku merasa sangat mudah sekali bagi Saikawa dan Nishinosono diizinkan untuk masuk ke pusat riset, dan bahkan menyelidiki kasus Magata Shiki. Mengapa Yamane dan orang-orang di pusat riset semudah itu percaya dengan Saikawa dan Nishinosono? Memang betul Nishinosono punya privilese karena punya koneksi, tapi pada dasarnya mereka berdua ini stranger, ya. Itu sih yang menurutku agak mengganggu. Apalagi mereka juga tak memiliki bidang yang cukup relevan dari kasusnya.
Fakta latar belakang yang nggak nyambung itu juga yang aku sayangkan. Aku pikir, latar belakang Saikawa dan Nishinosono di bidang arsitektur akan memberikan sumbangsih ke penyelesaian kasus. Apalagi, desain bangunan pusat riset itu kan unik banget. Ternyata enggak, sih. Lebih ke kemampuan Saikawa dalam bidang komputer yang akhirnya menjadi kunci.
Untuk twist-nya sendiri, aku memang sudah menaruh curiga dengan petunjuk yang ditebarkan oleh Mori sensei. Ternyata kecurigaanku benar, meski sensei kayaknya demen banget membawa pembaca berputar-putar terlebih dahulu. Mungkin buat beberapa orang hal ini bakal terasa membosankan.
Kalau untuk catatan editorial sendiri, sepertinya banyak banget yang udah share, ya. Banyak typo bertebaran di buku ini. Yang mengganggu tuh kalau beneran jadi ada kalimat yang nggak bisa dipahamin. Sigh. Mudah-mudahan Haru bisa do better next time.
Overall, aku suka dengan premis kisahnya. Meski berjalan lambat, misterinya memang tetep bikin penasaran. Aku juga jadi penasaran dengan buku-buku lain di series yang sama. Kalau aku cek, ternyata sudah ada 10 buku lho yang diterbitkan. Jadi, apakah Haru akan lanjut menerjemahkan karya Mori sensei lagi ke depannya? Kalau iya, aku tunggu🥹
oleh Hiroshi Mori
3.5 dari 5 bintang
“Artinya, realitas adalah sebuah ilusi yang baru diakui kemudian, dibentuk oleh persepsi dan konteks.” — Prof Magata, hlm. 16.
Salah satu hal yang aku apresiasi dari Penerbit Haru adalah bagaimana penerbit satu ini menjadi trendsetter untuk genre CTM, termasuk dengan menerjemahkan karya Mori Hiroshi ini. Dengan cover yang cantik, serta blurb yang menarik, mau tak mau Everything Becomes F menjadi salah satu buku yang ingin segera kubaca.
Petualangan di Pulau Terpencil
Cerita dimulai dari sesi wawancara yang dilakukan oleh Nishinosono Moe dengan Profesor Magata Shiki. Prof Magata dikenal sebagai programmer genius. Ia meraih PhD saat berusia sebelas tahun dari MIT. Sayangnya, suatu kejadian yang membuat kedua orang tuanya meninggal, membuat Prof Magata diisolasi di sebuah pusat riset berteknologi tinggi.
Satu bulan setelah wawancara itu, Saikawa Sohei, seorang dosen arsitektur dari Universitas N, mengadakan karyawisata untuk mengunjungi pulau tempat pusat riset Prof Magata berada. Tentu saja ide ini juga muncul dari Nishinosono. Keduanya ternyata masih penasaran dengan kehidupan Prof Magata yang tak pernah melihat dunia luar selama 15 tahun terakhir.
Awalnya sih semuanya berjalan baik-baik saja. Sampai saat Saikawa dan Nishinosono berkunjung ke pusat riset, ternyata diketahui kalau Prof Magata tidak dapat dihubungi selama satu minggu terakhir. Menyadari keanehan itu, akhirnya Wakil Pusat Riset Yamane Yukihiro memutuskan untuk membuka paksa pintu menuju unit kediaman Prof Magata. Sayangnya, ternyata yang muncul adalah mayat bergaun pengantin dengan tangan dan kakinya yang termutilasi. Siapakah sebetulnya dalang di balik pembunuhan ini? Bagaimana Saikawa dan Nishinosono bisa membantu memecahkan misteri di baliknya?
Pemanfaatan Teknologi yang Mindblowing
Sedari awal aku membaca buku ini, aku terus mengingatkan diri kalau buku ini ditulis pada tahun 1996. Jadi, seperti yang sudah dijelaskan oleh pembaca yang lain, buku ini berhasil menggambarkan berbagai macam teknologi, mulai dari sistem komputasi, virtual reality, atau bahkan cikal-bakal kecerdasan artifisial—seperti yang dilakukan Debora, dengan sangat detail. Bahkan aku sampai bertanya-tanya, sejauh mana perkembangan teknologi di Jepang pada saat itu. Apakah lebih karena imajinasi Mori sensei yang sangat out of the box bisa menghasilkan penggambaran kisah yang sangat futuristik begini?
Bisa dibilang, salah satu daya tarik dari Everything Becomes F adalah misteri yang melingkupi kasusnya. Pasalnya, ternyata tak cuma satu orang saja yang menjadi korban. Hal itu membuat pembaca bakal bertanya-tanya, apa hubungan korban pertama dengan korban selanjutnya? Lalu, bagaimana cara si pelaku membunuh korbannya? Jawabannya pun ternyata sangat sialan-dalam artian memang tak terduga. Yang pasti, Prof Magata Shiki memang amat genius dalam hal ini.
Meski demikian, aku juga setuju dengan pendapat teman-teman kalau alur buku ini cukup lambat. Banyak penjelasan yang cukup bertele-tele menurutku. Alhasil, 100 halaman pertama hanya fokus di penjelasan soal teknologi yang digunakan di pusat riset. Meski betul itu akan menjadi kunci untuk memahami bagaimana si pelaku beraksi, tapi aku rasa bagian tersebut masih bisa dipangkas.
Lalu, entah mengapa aku merasa sangat mudah sekali bagi Saikawa dan Nishinosono diizinkan untuk masuk ke pusat riset, dan bahkan menyelidiki kasus Magata Shiki. Mengapa Yamane dan orang-orang di pusat riset semudah itu percaya dengan Saikawa dan Nishinosono? Memang betul Nishinosono punya privilese karena punya koneksi, tapi pada dasarnya mereka berdua ini stranger, ya. Itu sih yang menurutku agak mengganggu. Apalagi mereka juga tak memiliki bidang yang cukup relevan dari kasusnya.
Fakta latar belakang yang nggak nyambung itu juga yang aku sayangkan. Aku pikir, latar belakang Saikawa dan Nishinosono di bidang arsitektur akan memberikan sumbangsih ke penyelesaian kasus. Apalagi, desain bangunan pusat riset itu kan unik banget. Ternyata enggak, sih. Lebih ke kemampuan Saikawa dalam bidang komputer yang akhirnya menjadi kunci.
Untuk twist-nya sendiri, aku memang sudah menaruh curiga dengan petunjuk yang ditebarkan oleh Mori sensei. Ternyata kecurigaanku benar, meski sensei kayaknya demen banget membawa pembaca berputar-putar terlebih dahulu. Mungkin buat beberapa orang hal ini bakal terasa membosankan.
Kalau untuk catatan editorial sendiri, sepertinya banyak banget yang udah share, ya. Banyak typo bertebaran di buku ini. Yang mengganggu tuh kalau beneran jadi ada kalimat yang nggak bisa dipahamin. Sigh. Mudah-mudahan Haru bisa do better next time.
Overall, aku suka dengan premis kisahnya. Meski berjalan lambat, misterinya memang tetep bikin penasaran. Aku juga jadi penasaran dengan buku-buku lain di series yang sama. Kalau aku cek, ternyata sudah ada 10 buku lho yang diterbitkan. Jadi, apakah Haru akan lanjut menerjemahkan karya Mori sensei lagi ke depannya? Kalau iya, aku tunggu🥹
May 5, 2025
Sejak diumumkan bahwa buku ini akan diterbitkan oleh Penerbit Haru, saya sangat bersemangat. Saya pernah menonton animenya, karena itu sangat ingin tahu novelnya seperti apa. Dan jujur saja, setelah tuntas membaca buku ini, saya kira kalau saya tidak menonton animenya duluan, saya akan agak kesulitan memahami novel yang ditulis oleh seorang doktor teknik ini. Apalagi, banyak istilah teknis komputer dan pemrograman, ditambah lagi berasal dari tahun 1990-an. Yah, pada dasarnya semua itu adalah bungkus bagi sebuah kisah misteri pembunuhan yang mempertanyakan apa itu 'kebebasan'. Misteri itu berlangsung di ruang tertutup yang saking anehnya agak sulit saya bayangkan (oleh karena itulah animenya sangat membantu).
Sayangnya, kenikmatan membaca agak terganggu oleh terjemahannya (dan yang berarti juga penyuntingannya). Kalau dari segi makna dan flow, secara umum tetap enak lah, meskipun terpikirkan oleh saya bahwa buku ini mungkin sudah agak lama diterjemahkan oleh Mas Andry. Kualitasnya tidak sementereng terjemahan Mas Andry lainnya yang terbit dan saya baca belakangan ini. Ada sejumlah pilihan kata yang menimbulkan pertanyaan 'mengapa'—misalnya, mengapa pakai butter, bukan mentega? Mengapa penerjemah tidak sadar bahwa nama marga mahasiswi yang berasal dari Tiongkok itu lazimnya ditulis 'Wu', bukan 'Uh'? Dan yang lebih parah, banyak sekali typo atau kesalahan eja yang membuat buku ini diwarnai kata-kata ajaib yang tidak ada di kamus bahasa Indonesia mana pun, seperti gedya, kemudya, compiya (serius saya tidak bisa menebak ini seharusnya kata apa, dilihat dalam konteks sekalipun), byaama, yagannya, seyag, yadak, dan banyak lagi, sampai saya berhenti mencatatnya. Moga-moga kesalahan-kesalahan ini akan diperbaiki di edisi-edisi selanjutnya.
Tapi saya tetap senang sekali, kok, buku Mori Hiroshi akhirnya ada yang terbit di Indonesia. Semoga ini artinya akan lebih banyak lagi karya beliau yang diterjemahkan dan diterbitkan di sini!
Sayangnya, kenikmatan membaca agak terganggu oleh terjemahannya (dan yang berarti juga penyuntingannya). Kalau dari segi makna dan flow, secara umum tetap enak lah, meskipun terpikirkan oleh saya bahwa buku ini mungkin sudah agak lama diterjemahkan oleh Mas Andry. Kualitasnya tidak sementereng terjemahan Mas Andry lainnya yang terbit dan saya baca belakangan ini. Ada sejumlah pilihan kata yang menimbulkan pertanyaan 'mengapa'—misalnya, mengapa pakai butter, bukan mentega? Mengapa penerjemah tidak sadar bahwa nama marga mahasiswi yang berasal dari Tiongkok itu lazimnya ditulis 'Wu', bukan 'Uh'? Dan yang lebih parah, banyak sekali typo atau kesalahan eja yang membuat buku ini diwarnai kata-kata ajaib yang tidak ada di kamus bahasa Indonesia mana pun, seperti gedya, kemudya, compiya (serius saya tidak bisa menebak ini seharusnya kata apa, dilihat dalam konteks sekalipun), byaama, yagannya, seyag, yadak, dan banyak lagi, sampai saya berhenti mencatatnya. Moga-moga kesalahan-kesalahan ini akan diperbaiki di edisi-edisi selanjutnya.
Tapi saya tetap senang sekali, kok, buku Mori Hiroshi akhirnya ada yang terbit di Indonesia. Semoga ini artinya akan lebih banyak lagi karya beliau yang diterjemahkan dan diterbitkan di sini!
July 15, 2025
Pas pertama kali tahu Penerbit Haru mau terbitin "Everything Becomes F", aku langsung hooked banget. Judulnya misterius, dan waktu baca premisnya—pembunuhan di ruang tertutup, tokoh jenius, dan ada unsur teknologi/AI—aku langsung ngerasa ini bakal jadi bacaan yang mind-twisting dan beda dari yang lain. Dan ternyata… ya, ekspektasi aku mostly terpenuhi.
Buku ini tuh tipe misteri yang gak buru-buru. Alurnya pelan banget, dan jujur aja, banyak bagian yang kayaknya gak perlu-perlu amat buat diceritain. Tapi somehow, semua disusun dengan rapi, dan akhirnya terhubung juga ke klimaks yang bikin puas. Jadi walaupun sempat ngedumel dalam hati, “ini kapan serunya?”, tetep aku terusin baca karena penasaran.
Yang paling standout sih jelas karakternya, terutama Magata Shiki. Dia tuh jenius banget tapi dingin dan menyeramkan. Bener-bener karakter yang bikin gak nyaman tapi gak bisa berhenti ngamatin. Saikawa juga menarik, cuman kadang pola pikirnya tuh bikin otakku nge-lag. Terus satu lagi yang agak ganggu... dia ngudud mulu, kayak... plis bang, stop bentar 😭
Nah, bagian yang paling aku suka dari buku ini udah pasti ending-nya. Plot twist-nya sukses banget bikin aku bengong, terus buka-buka ulang halaman sebelumnya buat mastiin clue-nya beneran ada. Reaksiku waktu itu literally: “HAH??!!” terus “Oh... gila sih ini…” 🤯 Magata Shiki makin jadi karakter favoritku setelah twist itu kebongkar.
Emang masih ada beberapa kekurangan kecil—kayak pacing yang lambat atau bagian teknis yang bertele-tele—tapi pas tahu ini novel pertamanya Mori Hiroshi, dan untuk debut sekompleks ini, menurutku udah keren banget. Yang bikin aku makin amazed, novel ini terbit tahun 1998 tapi bahasan soal AI dan teknologi di dalamnya masih super relate sama zaman sekarang. Visioner banget gak sih?
Kalau kamu suka misteri yang mikir, penuh detail, dan gak melulu soal aksi tapi lebih ke adu logika, Everything Becomes F wajib banget kamu baca. Cuman... siap-siap aja otak dibikin meledak, wkwkwk
Buku ini tuh tipe misteri yang gak buru-buru. Alurnya pelan banget, dan jujur aja, banyak bagian yang kayaknya gak perlu-perlu amat buat diceritain. Tapi somehow, semua disusun dengan rapi, dan akhirnya terhubung juga ke klimaks yang bikin puas. Jadi walaupun sempat ngedumel dalam hati, “ini kapan serunya?”, tetep aku terusin baca karena penasaran.
Yang paling standout sih jelas karakternya, terutama Magata Shiki. Dia tuh jenius banget tapi dingin dan menyeramkan. Bener-bener karakter yang bikin gak nyaman tapi gak bisa berhenti ngamatin. Saikawa juga menarik, cuman kadang pola pikirnya tuh bikin otakku nge-lag. Terus satu lagi yang agak ganggu... dia ngudud mulu, kayak... plis bang, stop bentar 😭
Nah, bagian yang paling aku suka dari buku ini udah pasti ending-nya. Plot twist-nya sukses banget bikin aku bengong, terus buka-buka ulang halaman sebelumnya buat mastiin clue-nya beneran ada. Reaksiku waktu itu literally: “HAH??!!” terus “Oh... gila sih ini…” 🤯 Magata Shiki makin jadi karakter favoritku setelah twist itu kebongkar.
Emang masih ada beberapa kekurangan kecil—kayak pacing yang lambat atau bagian teknis yang bertele-tele—tapi pas tahu ini novel pertamanya Mori Hiroshi, dan untuk debut sekompleks ini, menurutku udah keren banget. Yang bikin aku makin amazed, novel ini terbit tahun 1998 tapi bahasan soal AI dan teknologi di dalamnya masih super relate sama zaman sekarang. Visioner banget gak sih?
Kalau kamu suka misteri yang mikir, penuh detail, dan gak melulu soal aksi tapi lebih ke adu logika, Everything Becomes F wajib banget kamu baca. Cuman... siap-siap aja otak dibikin meledak, wkwkwk
May 24, 2026
Judul: Everything becomes F
Penulis: Mori Hiroshi
Penerbit: Haru
Dimensi: 448 hal, cetakan pertama Maret 2025
ISBN: 9786235467351
Profesor Magata Shiki dicurigai sebagai pembunuh orangtuanya, hingga ia harus diisolasi di sebuah pusat riset berteknologi tinggi. Kecerdasan otaknya yang melampaui zaman, kekayaan keluarga, dan split personality yang dialaminya membuat perlakuan itu lazim padanya. Hingga 15 tahun berlalu, di malam saat Saikawa dan Nishinosono bertamu ke pusat riset itu, ruangan isolasi terbuka dan muncul sebuah robot dengan mayat wanita bergaun pengantin serta tangan dan kaki yang dimutilasi. Siapa pelakunya? Apa motifnya? Bagaimana caranya, padahal ruangan itu adalah ruang tertutup canggih yang mustahil diselundupi?
Jujur saja 95 halaman pertama (hingga awal chapter 3), alurnya terasa lambat dan lama orientasinya bagi saya. Hingga butuh waktu sepekan untuk bertahan melanjutkan. Tapi ketika robot mayat keluar dan teka-teki tersajikan, saya tidak bisa berhenti membaca dan selesailah buku ini dalam 3 jam. Bahkan saya sampai membaca ulang penuturan Michiru serta kasus pembunuhan orangtua Shiki untuk memastikan info sebenarnya. Ada ekspektasi sekuelnya macam Holmes ketemu Moriarty, tapi ga berharap banyak, sih pada Saikawa! After tastenya, saya malah berpendapat gila juga sih. Ketika kaya dan pintar tapi tak bertuhan, moral pun dipertanyakan.
Yang bikin aku takjub juga, novel ini rilis pertama di Jepang tahun 1996, sebelum ditranslate ke bahasa Maret 2025. Padahal isu yang dibicarakan kecanggihan zaman now banget! Wah, penulisnya pintar dan visioner sekali ya!
Cocok untuk yang suka thriller, misteri, dan teknologi tingkat tinggi milik orang kaya yang jenius.
Saya apresiasi 4 dari 5 bintang.
Meta Morfillah
#bookstagram #oneweekonebook #ulasbukuberjalan #jalaninbukumu #reviewbuku
Penulis: Mori Hiroshi
Penerbit: Haru
Dimensi: 448 hal, cetakan pertama Maret 2025
ISBN: 9786235467351
Profesor Magata Shiki dicurigai sebagai pembunuh orangtuanya, hingga ia harus diisolasi di sebuah pusat riset berteknologi tinggi. Kecerdasan otaknya yang melampaui zaman, kekayaan keluarga, dan split personality yang dialaminya membuat perlakuan itu lazim padanya. Hingga 15 tahun berlalu, di malam saat Saikawa dan Nishinosono bertamu ke pusat riset itu, ruangan isolasi terbuka dan muncul sebuah robot dengan mayat wanita bergaun pengantin serta tangan dan kaki yang dimutilasi. Siapa pelakunya? Apa motifnya? Bagaimana caranya, padahal ruangan itu adalah ruang tertutup canggih yang mustahil diselundupi?
Jujur saja 95 halaman pertama (hingga awal chapter 3), alurnya terasa lambat dan lama orientasinya bagi saya. Hingga butuh waktu sepekan untuk bertahan melanjutkan. Tapi ketika robot mayat keluar dan teka-teki tersajikan, saya tidak bisa berhenti membaca dan selesailah buku ini dalam 3 jam. Bahkan saya sampai membaca ulang penuturan Michiru serta kasus pembunuhan orangtua Shiki untuk memastikan info sebenarnya. Ada ekspektasi sekuelnya macam Holmes ketemu Moriarty, tapi ga berharap banyak, sih pada Saikawa! After tastenya, saya malah berpendapat gila juga sih. Ketika kaya dan pintar tapi tak bertuhan, moral pun dipertanyakan.
Yang bikin aku takjub juga, novel ini rilis pertama di Jepang tahun 1996, sebelum ditranslate ke bahasa Maret 2025. Padahal isu yang dibicarakan kecanggihan zaman now banget! Wah, penulisnya pintar dan visioner sekali ya!
Cocok untuk yang suka thriller, misteri, dan teknologi tingkat tinggi milik orang kaya yang jenius.
Saya apresiasi 4 dari 5 bintang.
Meta Morfillah
#bookstagram #oneweekonebook #ulasbukuberjalan #jalaninbukumu #reviewbuku
May 11, 2025
SATU LAGI BUKU YANG DESERVE BINTANG 5!!!
GILA BANGET KASUSNYA 😵😵 PROFESOR MAGATA SHIKI 😍😍 (biarpun kelakuannya sxsjxshaui)
DITAMBAH LAGI INI NOVEL DEBUT PENULISNYA!!!
Ini pertama kalinya aku baca karyanya Mori Hiroshi. Alasanku beli soalnya cover bukunya cantik 😂 Jadi kepincut buat beli deh, dan ternyata nggak nyesel belinya. Soalnya buku ini sampe bikin aku sakit kepala. Bukan karena sebel sama salah satu karakter atau sama jalan ceritanya, tapi lebih karena kok bisa si penulis kepikiran kayak gitu sihh. Soalnya aksi kejahatannya nggak kebayang sama sekali. Emang otak orang jenius beda ya.
Pas Saikawa jelasin motif dan cara pelakunya melakukan kejahatan tuh kayak plot twist berlapis gitu. Jadi selama baca tuh kepalaku kayak "hah, gimana" "astaga" "GILAAAA". Pokoknya semua ungkapan terkejut tuh keluar 🤯 Soalnya kalau di novel detektif kebanyakan kan orang pintar vs orang pintar ya, nah di sini tuh levelnya orang jenius vs orang jenius. Jadi udah di luar nalar orang pada umumnya.
Di buku ini ada sedikit hint romance antara Saikawa dan Moe (baru sinyal-sinyalnya aja sih). Si Mori Hiroshi itu lulusan teknik, so ada banyak istilah teknik dan program komputer di novel ini. Karakter di sini juga cukup banyak, jadi pas awal-awal bakal sering bolak-balik lihat daftar para tokoh. Kalau kekurangan paling aku lumayan sering ketemu typo pas baca. Nggak parah sih cuma jadi ganggu aja selama baca.
Overall, novel Everything Becomes F: The Perfect Insider WAJIB BANGET dibaca pencinta novel detektif J-Lit. Soalnya seru banget dan mind blowing parah!!
GILA BANGET KASUSNYA 😵😵 PROFESOR MAGATA SHIKI 😍😍 (biarpun kelakuannya sxsjxshaui)
DITAMBAH LAGI INI NOVEL DEBUT PENULISNYA!!!
Ini pertama kalinya aku baca karyanya Mori Hiroshi. Alasanku beli soalnya cover bukunya cantik 😂 Jadi kepincut buat beli deh, dan ternyata nggak nyesel belinya. Soalnya buku ini sampe bikin aku sakit kepala. Bukan karena sebel sama salah satu karakter atau sama jalan ceritanya, tapi lebih karena kok bisa si penulis kepikiran kayak gitu sihh. Soalnya aksi kejahatannya nggak kebayang sama sekali. Emang otak orang jenius beda ya.
Pas Saikawa jelasin motif dan cara pelakunya melakukan kejahatan tuh kayak plot twist berlapis gitu. Jadi selama baca tuh kepalaku kayak "hah, gimana" "astaga" "GILAAAA". Pokoknya semua ungkapan terkejut tuh keluar 🤯 Soalnya kalau di novel detektif kebanyakan kan orang pintar vs orang pintar ya, nah di sini tuh levelnya orang jenius vs orang jenius. Jadi udah di luar nalar orang pada umumnya.
Di buku ini ada sedikit hint romance antara Saikawa dan Moe (baru sinyal-sinyalnya aja sih). Si Mori Hiroshi itu lulusan teknik, so ada banyak istilah teknik dan program komputer di novel ini. Karakter di sini juga cukup banyak, jadi pas awal-awal bakal sering bolak-balik lihat daftar para tokoh. Kalau kekurangan paling aku lumayan sering ketemu typo pas baca. Nggak parah sih cuma jadi ganggu aja selama baca.
Overall, novel Everything Becomes F: The Perfect Insider WAJIB BANGET dibaca pencinta novel detektif J-Lit. Soalnya seru banget dan mind blowing parah!!
June 4, 2025
Oh I have a lot to say for this book!
For a book that's made in the 1990's is insane. It's really futuristic. And let's not forget about the thrilling sensation! Finished this book from 1 AM to 9 AM because leaving it won't make me sleep.
!! SPOILERS AHEAD !!
I really love how it just won't make me stop reading it. It keeps me intrigued and want to know until the end, I basically can't put this book down.
The plot twist itself is so amazing. Normally, I wouldn't be so surprised at these kind of murder mystery, but this one cuts it. It gives me chills of how cruel this "genius" Magata is. I could never understand her mindset. Which is cool and eerie at the same time.
I actually kinda guessed it right, it revolves around Magata Miki because she is looking for her "missing purse". I thought maybe Miki and Shiki replaced each other place, but there's no Miki in the first place! And I really wanted to know where she is in that ending. Those men who captured her, who are they and where did she end up? I want to know!!! (ノ`Д´)ノ彡┻━┻
The two main characters are pretty annoying. Saikawa, always smoking or drinking coffee, every single page. I kinda hate (and love) because it's pretty dramatic which makes it longer than it should be. Some things are pretty repetitive!
I'm reading the Indonesian version which is from Penerbit Haru and it has SO much typos. It seems almost like whoever typed this was drunk. I get it if there's just one or two or three, but there's even a mistake in names. This is pretty unacceptable but *sigh* I'll let that slide.
For a book that's made in the 1990's is insane. It's really futuristic. And let's not forget about the thrilling sensation! Finished this book from 1 AM to 9 AM because leaving it won't make me sleep.
!! SPOILERS AHEAD !!
I really love how it just won't make me stop reading it. It keeps me intrigued and want to know until the end, I basically can't put this book down.
The plot twist itself is so amazing. Normally, I wouldn't be so surprised at these kind of murder mystery, but this one cuts it. It gives me chills of how cruel this "genius" Magata is. I could never understand her mindset. Which is cool and eerie at the same time.
I actually kinda guessed it right, it revolves around Magata Miki because she is looking for her "missing purse". I thought maybe Miki and Shiki replaced each other place, but there's no Miki in the first place! And I really wanted to know where she is in that ending. Those men who captured her, who are they and where did she end up? I want to know!!! (ノ`Д´)ノ彡┻━┻
The two main characters are pretty annoying. Saikawa, always smoking or drinking coffee, every single page. I kinda hate (and love) because it's pretty dramatic which makes it longer than it should be. Some things are pretty repetitive!
I'm reading the Indonesian version which is from Penerbit Haru and it has SO much typos. It seems almost like whoever typed this was drunk. I get it if there's just one or two or three, but there's even a mistake in names. This is pretty unacceptable but *sigh* I'll let that slide.
March 10, 2026
Ceritain soal Saikawa Sensei yang ajak mahasiswanya termasuk Moe untuk ke pulau yang disitu ada pusat riset tempat Profesor Magata Shiki tinggal. Profesor Magata ini jenius banget! Tapi dia diisolasi di tempat itu selama 15 tahun karena membunuh kedua orang tuanya. Ternyata pas Saikawa dan Moe dateng ke pusat riset itu, Profesor Magata ditemukan terbunuh. Nah mereka mulai memecahkan misteri pembunuhan di ruang tertutup itu.
Cukup lama aku baca buku ini, 5 hari. Pertama karena halamannya cukup banyak: 444 halaman. Kedua karena genre bukunya sebenernya lebih ke scifi sih daripada misteri thriller. Keren sih ini buku keluaran tahun 1996 tapi teknologinya hampir mirip sama teknologi sekarang dan masa depan.
Agak ga masuk akal ya Saikawa kan dosen arsitektur tapi bisa ngerti tentang komputer2an dengan baik. Karakter Saikawa dan Moe juga cukup unik ya. Saikawa ngerokok dan ngopi 24/7 dan dia pinter untuk mecahin misteri. Moe punya keingintahuan yang tinggi. Kadang2 kalimatnya perlu dibaca berulang2 karena aku kurang nyampe. Plot twistnya oke lah cuma ga yang wow wow amat(?) udah ketebak sedikit hihi
Oh sama beberapa adegan dan tokoh2 yg menurutku tida perlu2 amat ada di cerita. Kek ngapain gitu ada tokoh para mahasiswa. Ga banyak berpengaruh juga ke cerita. Banyak banget tokohnya sampe harus bolak balik ke bagian awal perkenalan tokoh
Tapii okeee kok! Rate: 3.5/5 ✨
Cukup lama aku baca buku ini, 5 hari. Pertama karena halamannya cukup banyak: 444 halaman. Kedua karena genre bukunya sebenernya lebih ke scifi sih daripada misteri thriller. Keren sih ini buku keluaran tahun 1996 tapi teknologinya hampir mirip sama teknologi sekarang dan masa depan.
Agak ga masuk akal ya Saikawa kan dosen arsitektur tapi bisa ngerti tentang komputer2an dengan baik. Karakter Saikawa dan Moe juga cukup unik ya. Saikawa ngerokok dan ngopi 24/7 dan dia pinter untuk mecahin misteri. Moe punya keingintahuan yang tinggi. Kadang2 kalimatnya perlu dibaca berulang2 karena aku kurang nyampe. Plot twistnya oke lah cuma ga yang wow wow amat(?) udah ketebak sedikit hihi
Oh sama beberapa adegan dan tokoh2 yg menurutku tida perlu2 amat ada di cerita. Kek ngapain gitu ada tokoh para mahasiswa. Ga banyak berpengaruh juga ke cerita. Banyak banget tokohnya sampe harus bolak balik ke bagian awal perkenalan tokoh
Tapii okeee kok! Rate: 3.5/5 ✨
December 25, 2025
Nishinosono Moe mendapatkan kesempatan untuk bertemu dengan Profesor Magata Shiki, di sebuah pusat riset pribadi milik Profesor Shiki. Hasil pertemuannya itu disampaikannya kepada Saikawa Sohei, seorang asisten Profesor di Universitas N. Magata Shiki sendiri adalah seorang jenius muda yang terkurung di pusat riset-nya selama 15 tahun karena telah melakukan pembunuhan terhadap kedua orang tuanya.
Sebenarnya Saikawa Sohei juga penasaran ingin bertemu dengan Prof. Magata. Oleh karena itu dia merencanakan untuk melakukan perkemahan bersama dengan tim-nya di pulau tempat pusat riset itu. Dengan bantuan Moe, rencana itu berhasil dilaksanakan. Bahkan Moe membuat janji untuk bertemu dengan Prof. Magata. Sayangnya, ketika mereka berhasil masuk ke dalam pusat riset, Prof. Magata telah terbunuh dengan cara yang cukup mengerikan.
Novel misteri ini mengangkat kasus pembunuhan di ruangan tertutup terhadap Prof. Magata. Kemudian, bukan hanya satu orang korban, tetapi bertambah menjadi tiga orang. Biasanya saya menyukai novel misteri seperti ini, tapi khusus yang satu ini entah kenapa saya kurang suka. Cara mengungkapkan kasusnya terlalu bertele-tele, ditambah banyak istilah komputerisasi yang kurang saya pahami. Isi novelnya memang terlalu jenius untuk otak saya yang sedang lelah ini.
Sebenarnya Saikawa Sohei juga penasaran ingin bertemu dengan Prof. Magata. Oleh karena itu dia merencanakan untuk melakukan perkemahan bersama dengan tim-nya di pulau tempat pusat riset itu. Dengan bantuan Moe, rencana itu berhasil dilaksanakan. Bahkan Moe membuat janji untuk bertemu dengan Prof. Magata. Sayangnya, ketika mereka berhasil masuk ke dalam pusat riset, Prof. Magata telah terbunuh dengan cara yang cukup mengerikan.
Novel misteri ini mengangkat kasus pembunuhan di ruangan tertutup terhadap Prof. Magata. Kemudian, bukan hanya satu orang korban, tetapi bertambah menjadi tiga orang. Biasanya saya menyukai novel misteri seperti ini, tapi khusus yang satu ini entah kenapa saya kurang suka. Cara mengungkapkan kasusnya terlalu bertele-tele, ditambah banyak istilah komputerisasi yang kurang saya pahami. Isi novelnya memang terlalu jenius untuk otak saya yang sedang lelah ini.
March 20, 2026
A cold, brilliant novel that questions what it means to be human
At first glance, Everything Becomes F presents itself as a classic locked-room mystery: an isolated setting, an impossible case, and a brilliant mind at the center of it all.
But this book is doing something very different.
Rather than focusing purely on “who did it,” it slowly shifts your attention to something deeper: how people think, how they define identity, and what happens when logic is pushed to its extreme. The mystery is still there, but it almost feels secondary to the ideas underneath.
One of the most fascinating aspects is how the characters are written. Each of them represents a different way of approaching the world: logic, emotion, and something in between. The tension doesn’t just come from the case itself, but from how these perspectives collide.
What stayed with me the most is the atmosphere. It’s calm, almost detached, yet quietly unsettling. The kind of story that doesn’t try to overwhelm you, but instead lingers in your thoughts long after you finish.
At first glance, Everything Becomes F presents itself as a classic locked-room mystery: an isolated setting, an impossible case, and a brilliant mind at the center of it all.
But this book is doing something very different.
Rather than focusing purely on “who did it,” it slowly shifts your attention to something deeper: how people think, how they define identity, and what happens when logic is pushed to its extreme. The mystery is still there, but it almost feels secondary to the ideas underneath.
One of the most fascinating aspects is how the characters are written. Each of them represents a different way of approaching the world: logic, emotion, and something in between. The tension doesn’t just come from the case itself, but from how these perspectives collide.
What stayed with me the most is the atmosphere. It’s calm, almost detached, yet quietly unsettling. The kind of story that doesn’t try to overwhelm you, but instead lingers in your thoughts long after you finish.
July 16, 2025
Ada satu kesan kuat yang terus membekas setelah saya menyelesaikan novel ini:
“Kok bisa, ya, ada orang yang sejenius ini?”
Novel Everything Becomes F bukan sekadar kisah tentang pembunuhan di ruang tertutup. Ia adalah kisah yang jauh lebih dalam—tentang obsesi, kecerdasan ekstrem, manipulasi teknologi, pencarian kebenaran, dan pertanyaan eksistensial yang menggugah. Sejak halaman-halaman awal, pembaca diajak masuk ke dalam dunia yang terisolasi, penuh batas, namun kaya akan tanda-tanda yang belum tentu dapat langsung dimengerti.
⸻
Latar Cerita dan Premis
Cerita berpusat pada Profesor Magata Shiki, seorang ilmuwan jenius yang telah menjalani kehidupan terkurung selama lima belas tahun di sebuah pusat riset berteknologi tinggi di pulau terpencil. Ia tidak diizinkan keluar dari ruangan tersebut dan hidup sepenuhnya dalam sistem yang tertutup—baik secara fisik maupun informasi.
Hingga pada suatu hari, ruangan yang selama ini tak pernah terbuka tiba-tiba terbuka. Di dalamnya ditemukan sesosok mayat termutilasi dalam keadaan mengenakan gaun pengantin. Penemuan itu langsung mengguncang para staf dan peneliti di sana—dan menjadi titik mula dari sebuah kasus pembunuhan yang nyaris tak mungkin dijelaskan dengan logika biasa.
Dua tokoh utama, Saikawa (seorang dosen arsitektur sistem) dan Moe (mahasiswa cerdas yang juga sangat ekspresif), menjadi saksi sekaligus bagian dari proses pengungkapan misteri ini. Ketika sistem komunikasi terputus dan semua pintu terkunci, mereka terpaksa menyelidiki kasus ini hanya dengan kemampuan analisis mereka sendiri—tanpa bantuan dunia luar.
⸻
Alur Lambat, Tapi Sarat Makna
Jujur, saya sempat merasa frustrasi di awal. Alurnya sangat pelan, bahkan nyaris terasa tidak bergerak. Novel ini dipenuhi dengan percakapan teknis, monolog batin, serta penjabaran detil-detil kecil yang awalnya tampak tidak signifikan.
Namun, justru di situlah kekuatan tersembunyi dari karya ini.
Ketika saya tetap bertahan dan menyerap semua informasi tersebut, perlahan saya menyadari bahwa setiap detil memiliki peran. Tidak ada yang sia-sia. Dan ketika lapisan-lapisan misteri mulai dikupas satu per satu, rasanya seperti menghadapi plot twist di balik plot twist—berulang kali, tanpa jeda.
Identitas pelaku sebenarnya bukanlah sesuatu yang “muncul tiba-tiba”. Ia justru telah hadir sejak awal cerita, namun disamarkan dengan sangat cermat. Keberadaannya makin kabur seiring jalannya cerita, hingga akhirnya terlupakan. Dan ketika namanya muncul lagi di akhir, saya mengalami semacam “kejutan diam”: bukan karena tak percaya, tapi karena saya merasa tertipu dengan cara yang begitu elegan.
⸻
Karakter-Karakter yang Tak Terlupakan
Magata Shiki adalah jantung dari cerita ini. Ia adalah potret jenius yang ekstrem—seseorang yang logikanya begitu tajam hingga terkadang menyingkirkan nilai-nilai kemanusiaan. Keputusannya, caranya berpikir, dan cara ia menciptakan dunia kecilnya sendiri di dalam ruang isolasi selama 15 tahun… sungguh mencengangkan. Ia mengaburkan batas antara kebebasan dan kurungan, antara realita dan simulasi.
Saikawa adalah tokoh yang memukau dengan ketenangan dan kejernihan pikirannya. Ia tidak banyak bicara, tapi selalu memiliki sudut pandang tajam dalam memahami peristiwa.
Sementara Moe, walaupun awalnya tampak seperti gadis muda biasa yang polos dan antusias, ternyata memiliki kemampuan analisis dan daya ingat yang sangat mengesankan. Interaksi keduanya menyajikan keseimbangan antara logika dan empati, antara hitung-hitungan sistem dan perasaan manusia.
Keduanya sebagai “duo detektif” non-formal memiliki dinamika yang unik dan menyenangkan untuk diikuti. Saya bahkan merasa chemistry mereka adalah salah satu kekuatan tersendiri dari novel ini.
⸻
Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Pertanyaan Filosofis
Salah satu aspek yang membuat novel ini berbeda adalah betapa seriusnya ia membawa pembaca ke ranah ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya dalam dunia pemrograman, sistem, dan realitas virtual. Beberapa penjelasan teknis mungkin akan terasa rumit jika pembaca tidak terbiasa dengan terminologi tersebut, tapi menurut saya itu justru menambah daya tarik tersendiri.
Sebagai seseorang yang pernah sedikit belajar pemrograman saat SMA, saya merasa beberapa bagian menjadi lebih “klik”. Ada rasa kepuasan tersendiri ketika bisa memahami walau hanya sebagian kecil dari kerumitan sistem yang digambarkan Saikawa dan Shiki.
Tapi bukan hanya teknologi yang dibahas. Novel ini juga membawa kita pada pertanyaan-pertanyaan eksistensial:
• Apakah realitas adalah hal yang pasti?
• Apakah kebebasan itu benar-benar ada, atau sekadar ilusi dalam sistem yang kita ciptakan sendiri?
• Dan lebih jauh lagi, apakah kejeniusan tanpa batas akan selalu membawa kebaikan?
⸻
Kesimpulan: Sebuah Bacaan yang Menuntut, Tapi Sangat Memuaskan
Everything Becomes F bukan novel untuk pembaca yang mencari ketegangan cepat atau misteri ringan. Ia menuntut kesabaran, perhatian, dan keterbukaan berpikir. Tapi sebagai imbalannya, novel ini memberikan pengalaman membaca yang sangat memuaskan—baik dari sisi naratif, psikologis, maupun intelektual.
Ketika semua rahasia akhirnya terungkap, saya hanya bisa diam… dan melongo. Rasanya seperti baru selesai menyaksikan sebuah pertunjukan yang brilian—menegangkan, mencekam, sekaligus menakjubkan.
Jika Anda menyukai misteri dengan alur lambat namun penuh lapisan, tertarik pada tema teknologi, kecerdasan ekstrem, dan pertanyaan tentang makna hidup, maka novel ini sangat saya rekomendasikan. Ini bukan hanya cerita tentang siapa yang membunuh siapa. Ini adalah refleksi tentang bagaimana kita memahami dunia—dan sejauh mana kecerdasan manusia bisa menciptakan sekaligus menghancurkan.
Sebuah novel yang membekas. Sebuah pengalaman membaca yang tak terlupakan.
January 17, 2026
Ceritanya bagus dan agak berat. Banyak istilah komputer yang aku sebagai orang awam gak paham 😅 Penokohan nya juga lumayan bagus, Moe yang banyak tanya tapi kurang lihat suasana (yah bayangin aja, pak kepala penelitian tempat Moe dan Saikawa berkunjung baru dibunuh Moe malah nanya-nanya kasus pembunuhan profesor Magata 15 tahun yang lalu) Saikawa sensei yang agak nyentrik dan perokok berat, hampir setiap halaman pasti ada adegan "Saikawa menyalakan rokoknya" 🤣 dan terakhir Profesor Magata. Misterius itu kesan pertamaku. Harusnya aku sadar sama narasinya Moe yang bilang profesor Magata di bab awal itu kayak lebih muda dari dia, tapi kukira Magata punya muka baby face. Ternyata yang diawal ketemu Moe bukan Profesor Magata, melainkan......
RAHASIA!! Hehe...
Pokoknya ini worth it buat dibaca. Dan untuk penerbit Haru, tolong terjemahkan seri S&M yang lainnya dong...Pasti aku beli😋
RAHASIA!! Hehe...
Pokoknya ini worth it buat dibaca. Dan untuk penerbit Haru, tolong terjemahkan seri S&M yang lainnya dong...Pasti aku beli😋
This entire review has been hidden because of spoilers.
March 14, 2026
The story is really exciting and tense, but honestly there were some parts I didn’t fully understand because they used a lot of IT-related terms. Saikawa-sensei was really cool for being able to find the clues and solve the case. I was actually a bit annoyed with the police officer because he seemed very condescending.
The culprit was such a huge plot twist, seriously. But when the story revealed the culprit’s dark past and what actually happened back then, it honestly made me think that the real bad people weren’t the culprit, but the people in the culprit’s past who treated the culprit badly and shaped the culprit into who they became.
The culprit was such a huge plot twist, seriously. But when the story revealed the culprit’s dark past and what actually happened back then, it honestly made me think that the real bad people weren’t the culprit, but the people in the culprit’s past who treated the culprit badly and shaped the culprit into who they became.
May 9, 2026
Sebenernya kasusnya seru menarik buat diulik, tapii tokoh utamanya Saikawa Sensei dosen arsi yg tiba² masuk ke pusat penelitian yg ekslusif dan kebetulan ada kasus pembunuhan/bunuh diri dan dia yg ngulik kasusnya? Ak masih bertanya² kenapa orang² didalem penelitian yg super duper cerdas² begitu memberi akses mudah dan diturut sertakan dalam pencarian pembunuhnya? Dia kan dosen arsi yg gada backround penyelidik (aku kurang setuju dibagian ini sih)
Diruang terjadinya pembunuhan jg kenapa ga disterilin sih, tiba² pusat penelitian yg harus ada akses khusus buat bisa masuk kemudian gampang banget dimasukin banyak polisi. Gatau di aku penyelidikannya berasa kurang masuk akaal sih meskipun novel ini jg fantasi, dah gt ajaa. Selera orang beda-beda mungkin ya terhadap buku ini.
Diruang terjadinya pembunuhan jg kenapa ga disterilin sih, tiba² pusat penelitian yg harus ada akses khusus buat bisa masuk kemudian gampang banget dimasukin banyak polisi. Gatau di aku penyelidikannya berasa kurang masuk akaal sih meskipun novel ini jg fantasi, dah gt ajaa. Selera orang beda-beda mungkin ya terhadap buku ini.
November 30, 2020
友人がほぼ強制的にオススメしてきた(訳:はい、読んで!とわざわざ手渡してきた)けれど、1年以上放ったらかしにしていた本。翌日相手に会うので、話題にしようと読んで見た。
まず感じたのが、「何か時代を感じる」という事。登場人物達が所構わずタバコを吸ってるし、コンピュータ関係の用語の説明が冗長(チャットの説明とか)だし、フロッピーディスクだし!
で、不思議に思って出版年を見て見たら1996年。(その辺り、多分我が家は初めてオンラインで旅行の予約をした。)そりゃ古いはずだ。
なので、使い古された感のある「理系教授と彼に想いを寄せる年下女子学生」的構造は、この本が始まりだったのかな、と思った。
(↑この構図、「ガリレオ」シリーズ等でも使われてる構図だし)
それ以外にも、特に目新しさは感じない。
殺人トリックもちょっと無理矢理感だし、変に「普通の人の思考」から如何に離れているかを強調することで、犯人の人間としての壊れ具合/人間離れ具合/天才さを描こうとしてるのかもしれんが、それも何か、安っぽく感じる。
もしかしたら、この本に影響を受けた他の作品を多く読んできたから、元祖となるこの本が逆につまらなく感じるのかも。
でも、page turnerではあった。
2章の終わりで、ぎゃーっとなったし。
でも、何度もいうが、特に目新しさは感じない。
シリーズを続けたいとも思わないので、星3つ。
(友人に話したら、「何で本押し付けたんだっけ?」と言ってた。それはこっちが聞きたい…)
まず感じたのが、「何か時代を感じる」という事。登場人物達が所構わずタバコを吸ってるし、コンピュータ関係の用語の説明が冗長(チャットの説明とか)だし、フロッピーディスクだし!
で、不思議に思って出版年を見て見たら1996年。(その辺り、多分我が家は初めてオンラインで旅行の予約をした。)そりゃ古いはずだ。
なので、使い古された感のある「理系教授と彼に想いを寄せる年下女子学生」的構造は、この本が始まりだったのかな、と思った。
(↑この構図、「ガリレオ」シリーズ等でも使われてる構図だし)
それ以外にも、特に目新しさは感じない。
殺人トリックもちょっと無理矢理感だし、変に「普通の人の思考」から如何に離れているかを強調することで、犯人の人間としての壊れ具合/人間離れ具合/天才さを描こうとしてるのかもしれんが、それも何か、安っぽく感じる。
もしかしたら、この本に影響を受けた他の作品を多く読んできたから、元祖となるこの本が逆につまらなく感じるのかも。
でも、page turnerではあった。
2章の終わりで、ぎゃーっとなったし。
でも、何度もいうが、特に目新しさは感じない。
シリーズを続けたいとも思わないので、星3つ。
(友人に話したら、「何で本押し付けたんだっけ?」と言ってた。それはこっちが聞きたい…)
Displaying 1 - 30 of 63 reviews






























