Kisah Yakumo memang selalu berhasil bikin penasaran dan merinding. Bagaimana di setiap bukunya selalu memiliki cerita yang berkembang dan secara tidak langsung saling berkaitan. Namun, untungnya kita masih bisa menikmati ceritanya secara terpisah. Seperti kali ini saya dibuat melongo dengan kecerdikan seorang Manabu Kaminaga. Bagaimana dia selalu berhasil memberikan cerita yang di luar dugaan pembacanya. Kaminaga selalu bisa menyembunyikan setiap fakta yang ada untuk disatukan dan diungkapkan di akhir cerita. Untuk sampul bukunya sendiri dibilang sangat berhasil menggambarkan situasi yang dihadapi oleh Yakumo. Gambar Yakumo yang sedang melambaikan tangannya seolah-olah menahan sesuatu sangat mencerminkan gejolak batin yang dialami oleh Yakuo. Apalagi jika kita jeli terlihat siluet sebatang pohon dengan pita polisi yang menunjukkan hutan Aokigahara.
Kali ini Yakumo harus memecahkan tiga kasus yang sepertinya terjadi secara terpisah, namun memiliki keterikatan antara satu sama lain. Di awali dengan kehadiran arwah Yuuka Aoi yang meminta tolong pada Yakumo hingga kasus ditemukannya mayat yang hagus di hutan Aokigahara. Bersama kedua sahabatnya, Haruka dan Gotou, Yakumo pun mencoba mengungkap kasus kali ini. Perbedaan yang saya sukai dalam kasus kali ini adalah dengan adanya tiga kasus yang saling berkaitan antara satu sama lain. Awalnya saya sempat skeptis dan ragu dengan keterkaitan ketiga kasus ini akan dipaksakan dan terkesan tidak masuk akal. Namun, saya salah besar. Kaminaga sukses menyatukan ketiga kasus itu dengan latar, alasan, dan fakta yang sangat kuat dan jelas. Bagaimana di akhir cerita saya hanya bisa geleng-geleng karena penulis seperti berhasil mengecoh saya dengan sempurna. Bagi saya sendiri sulit untuk menebak akan dibawa ke mana kasus kali ini. Karena penulis memang mengeksekusinya dengan cukup rumit dan berbelit-belit. Dan pada akhirnya saya seperti digampar dengan akhir ceritanya yang sama sekali tidak terduga.
Tokoh-tokoh yang terlibat dalam kasus kali ini tidak jauh berbeda dari buku sebelumnya. Masih ada Yakumo Saitou, Haruka Ozawa, Kazutoshi Gotou, Yuutaro Ishii, dan Eishin. Karakter mereka juga masih sangat terasa dan hidup. Apalagi interaksi yang diperlihatkan dari masing-masing tokoh menghangatkan hati saya sebagai pembaca. Namun, selain kelima tokoh inti ini ada pula tokoh yang cukup mengambil porsi peran yang menarik perhatian, yaitu Hideya Miyagawa. Mantan bos dari Ishii dan Gotou ini cukup banyak terlibat dalam kasus kali ini. Perawakan Miyagawa yang pendek, tapi galak sebenarnya tidak jauh berbeda dengan karakter Gotou. Hanya saja kehadiran Miyagawa ini seperti menggantikan posisi Gotou yang sudah dipecat dari kepolisian. Awalnya mungkin chemistry antara Ishii dan Miyagawa terkesan kaku, tapi lama-lama menjadi menyatu dan luwes. Setiap kali membaca novel Yakumo satu hal yang selalu saya suka adalah para tokohnya dan interaksi mereka. Bagaimana kedekatan Yakumo dengan Haruka dan Gotou yang di satu sisi terkadang bisa terlihat konyol, tapi di sisi lain juga sangat hangat dan menentramkan. Kaminaga berhasil membangun chemistry yang kuat pada setiap tokohnya sehingga pembaca tidak mudah bosan untuk menyimak dan mengingatnya.
Alur ceritanya berjalan dengan lumayan rumit dan berbelit-belit karena terdapat tiga kasus yang terjadi. Setiap kasus sebetulnya memiliki klue yang bisa menghubungkan ketiga kasus tersebut. Tapi, alasan dibalik setiap kasus berkaitan dengan kasus lainnya sulit untuk ditebak. Masih menggunakan sudut pandang orang ketiga melalui tokoh-tokoh yang ada di sekitar Yakumo. Melalui sudut pandang ini kita seakan diajak untuk menebak isi kepala Yakumo dan bagaiamana dia dalam melihat ketiga kasus ini. Gaya bahasanya masih menyenangkan dan mudah diikuti dengan terjemahan yang ringan sehingga mudah dimengerti. Terakhir latar tempat yang digunakan dan menarik perhatian saya adalah hutan Aokigahara. Penggunaan hutan Aokigahara sebagai tempat terjadinya salah satu kasus meningkatkan ketegangan dan kengerian yang intens terhadap jalan ceritanya.
Kaminaga ingin memberikan konflik yang tidak hanya sekadar mencengangkan, tapi juga ikut mengajak pembaca untuk menebak-nebak. Dan menurut saya ini berhasil. Bagaimana konflik yang diperlihatkan dari setiap kasus terlihat membingungkan jika harus disatukan. Padahal ketiga kasus ini memiliki satu benang merah yang sama. Mungkin untuk dua kasus awal kita masih bisa menghubungkannya, tapi untuk kasus ketiga rasanya cukup sulit. Setiap kasus memiliki daya tarik tersendiri yang membuat pembaca penasaran. Walaupun konflik yang terjadi memang lumayan rumit dan kusut, tapi saya suka dengan eksekusinya. Kaminaga seperti biasa selalu menyimpan pemikiran Yakumo di akhir cerita. Tidak jarang saya dibuat gemas dengan kelakuan Yakumo yang tak ingin mengungkapkan pemikirannya dan hanya ingin membuktikannya secara langsung.
Lagi-lagi Manabu Kaminaga sukses menyuguhkan kasus yang di luar perkiraan bisa sangat mengecoh pembacanya. Di sini terlihat jika di setiap bukunya Yakumo selalu menghadapi kasus-kasus baru yang berbeda dan semakin sulit untuk dipecahkan. Terlepas dari ceritanya yang bagus, saya masih sangat penasaran dengan sosok Miyuki Nanase yang di setiap cerita selalu berhasil meloloskan diri. Jujur saya ingin tahu latar belakang dari Nanase yang bisa mengakibatkan dirinya menjadi sosok yang jahat dan kejam. Kekurangan yang saya temukan mungkin hanya kemunculan Miyuki Nanase yang sudah bisa saya duga. Mungkin dibuku selanjutnya penulis bisa memunculkan Miyuki Nanase di saat yang tidak terduga dan menjadi fokus utama. Tiga kasus yang berbeda dihubungkan menjadi sebuah kasus yang saling berkaitan tidaklah mudah untuk ditulis. Saya salut akan kecerdikan penulis dalam meracik jalan cerita yang tidak monoton dan tidak mudah ditebak. Secara keseluruhan Psychic Detective Yakumo: The Spirit of Salvation menonjolkan misteri yang tidak hanya bikin bulu kuduk merinding, tapi juga bagaimana mengajak pembaca untuk ikut berpikir dan menebak-nebak akan motif dibaliknya.