Halo, kami Tim Flame, dua mahasiswi yang bercita-cita menjadi jurnalis.
Persiapan lomba jurnalisme membawa kami menemukan artikel dan tautan yang mengarahkan kami ke sebuah chat room. Dalam ruangan tersebut, video eksploitasi seksual terhadap anak-anak dan perempuan—tanpa pandang usia dan suku bangsa—disebarkan. Kasus ini kemudian dikenal dengan nama Kasus Nth Room.
Buku ini berisi catatan investigasi yang mengungkap Kasus Nth room serta jurnal perjuangan kami untuk menyambung suara para korban pascainsiden.
Kasus ngeri yang memperbudak lebih dari seratus korban ini mungkin akan membuat Anda tersiksa ketika membacanya. Namun, kami harap buku ini bisa menyadarkan bahwa siapa saja bisa menjadi korban eksploitasi seksual dan supaya kita selalu waspada karena pelaku kejahatan itu bisa jadi siapa saja`.
⚠️TW cybersex, sexual abuse, suicide, self-harm, rape, manipulation, grooming, child abuse, pedophilia, sexual harassment, physical harassment
Belakangan membaca beberapa buku dengan topik berkaitan secara berbarengan yang ternyata membuatku terguncang. Bagaimana kehidupan perempuan yang tak punya ruang aman di dunia ini. Meski begitu, membaca buku semacam ini membuat pikiranku terbuka dan menjadi lebih peka.
Ketika Chat Room Menjadi Ruang Seksploitasi adalah buku nonfiksi dokumenter tentang perjalanan Tim flame (Bul & Dan) dari sebelum sampai setelah meliput kejahatan seksual digital NTH Room di telegram. Berawal dari ketidaksengajaan, saat mereka sedang mencari bahan materi untuk mengikuti Lomba Reportase Investigasi Mendalam, mereka menemukan chat room telegram yang berisi ratusan bahkan ribuan foto dan video tidak senonoh yang dikirimkan anggota grup.
Buku ini terdiri dari 3 bab
Bab 1 menceritakan awal mula tim flame menemukan NTH Room serta kegilaan pelaku melakukan aksi kejahatannya. Bab 2 menceritakan siapa itu Bul & Dan, bagaimana kehidupan mereka dan perjalanan, kondisi serta perasaan yang mereka lalui selama meliput kasus ini. Bab 3 tentang penangkapan pelaku.
Buku ini terasa seperti fiksi atau aku hanya menolak bahwa ada hal segila ini di dunia nyata. Salah satu pelaku (Baksa) memanfaatkan anak-anak hingga remaja yang butuh uang serta pekerjaan untuk menjadi budak, dipaksa dan diancam agar mengirim foto tak senonoh bahkan diperkosa, direkam dan disebar di grup telegram. Betapa korban merasa hidupnya berakhir, sesak tak bisa bernafas dan selalu diliputi kecemasan selain itu korban tak tahu harus meminta pertolongan kepada siapa karna lapor polisi diabaikan sulit ditindaklanjuti dengan alasan polisi tidak bisa menangkap pelaku.
Hukum kejahatan seksual digital sangatlah lemah. Selain itu, stigma masyarakat terhadap korban membuat kehidupan korban semakin sulit, alih- alih bersama mengecam pelaku, masyarakat justru menyalahkan korban. Sudah sulit melapor, mendapat stigma pula. Di buku ini ditekankaan bahwa tak ada seseorang pun yang pantas menjadi korban dan masalah kejahatan seksual ini adalah masalah serius yang harus dipecahkan bersama-sama. Lemahnya hukum dan ringannya masa tahanan bagi pelaku serta tidak seriusnya pemerintah menyikapi masalah ini membuat para pelaku tidak merasa takut tertangkap, Mereka justru meremehkan polisi.
Meliput kasus NTH room tidaklah mudah bagi Bul & Dan, mereka terguncang melihat video korban ratusan kali, merasa frustrasi dan keinginan untuk menyerah selalu datang, sedangkan para pelaku tetap menyerang korban. Ketika aktivitas mereka diungkap ke publik beberapa orang bahkan mencemooh mereka dengan mengatakan bahwa Tim Flame mengumpulkan bukti seperti anak kecil yang sedang main detektif-detektifan. Mental mereka juga tidak baik-baik saja hingga harus melakukan konseling, hari-hari mereka diliputi kecemasan bahkan Bul pernah merasa diintai. Tapi Mereka saling menguatkan. Kekuatan dan tekad dua mahasiswa ini menurutku keren sekali! Oh iya aku merekomendasikan buku dengan topik bagus untuk dikulik ini kepada teman-teman, tapi perlu diperhatikan TW-nya, ya! Meskipun nonfiksi, secara narasi buku ini gak berat untuk dibaca dan dipahami tapi dari segi isi di beberapa bagian pasti bikin kita ingin berhenti sejenak untuk istirahat atau merenung. Aku merasakan itu, bahkan sempat gemetar dan perlu waktu lebih lama menyelesaikan bukunya.
Terakhir, terima kasih Tim Flame dan Penerbit Haru sebagai perpanjangan tangan dan semoga setiap orang, baik itu perempuan atau laki-laki punya ruang aman untuk menjalani kehidupan sehari-hari karna tak ada yang pantas mendapatkannya.
Buku ini membahas kasus yg terjadi di korea tentang penyebaran video ilegal yg terjadi di chat room sebuah aplikasi bernama Telegram. Kasus ini sudah di angkat menjadi sebuah documentary berjudul Cyber Hell: Exposing an Internet Horror di Netflix.
Di awali dengan penelitian dua orang reporter yg disebut Tim Flame, menelusuri internet untuk mencari sarang penyebaran foto-foto ilegal. Ternyata meraka banyak menemukan situs-situs ilegal dengan mudah yg kemudian membawa mereka memasuki sebuah chat room diaplikasi telegram.
Chat room tersebut merupaka neraka bagi mereka, dengan anggota yg berjumlah ribuan orang dan terdiri dari puluhan chat room berbeda yg bercabang. Chat room tersebut merupakan tempat penyebaran foto dan video ilegal. Para operator dan anggota saling mengunggah foto-foto ilegal, dari foto orang asing hingga foto kenalan mereka.
Tentu saja foto itu merupakan foto yg tanpa ijin di ambil secara diam-diam, melalui hp dan kamera tersembunyi. Entah di toilet umum, transportasi umum, disekolah, kampus, kantor, dll. Mereka saling membanggakan unggahan mereka dan menghinanya. Bahkan tak segan mereka bersekongkol mencari orang di foto tersebut untuk di perkosa.
Pengambilan video ilegal juga dilakukan dengan cara mengancam para wanita yg sudah terlebih dahulu di “grooming”, dengan menjebak mereka terlebih dahulu hingga menjadikan mereka seperti budak, menyuruh mereka membuat banyak video tak senonoh untuk di unggah di chat room itu.
Korbannya dari berbagai kalangan dan negara. Dari yg dewasa hingga anak kecil (pedofil). Dan banyak korban yg tidak tau bahwa foto dan videonya disebar di chat room tersebut. Tim flame berusaha untuk melaporkan kejadian ini ke polisi namun polisi tidak bisa menerimanya karena mereka bukanlah korban.
Hingga akhirnya tim flame bersusah payah mencari informasi untuk mengontak beberapa korban dan memberitahukan kejadian ini untuk segera dilaporkan. Tim flame setiap hari harus melihat dan menonton ratusan foto dan video ilegal hingga mereka mengalami trauma dan mengalami gangguan kecemasan. Beratnya kasus ini berdampak juga bagi mereka yg bekerja keras mengungkapnya. Mereka sungguh-sungguh ingin menangkap semua pelaku dalam kasus ini terutama ketuanya yg disebut GodGod.
Selain itu di pertengahan kita akan diberikan pov kedua reporter dan cerita mereka masing-masing selama mereka meliput kasus ini. Perasaan marah, ketakutan, dan luapan emosi mereka dicurahkan didalamnya.
Menurutku buku ini sangat berat, aku sampe pusing dan mual bacanya karena emosi dan tekanan didalamnya. Namun dibalik itu semua buku ini bikin aku aware dengan kejahatan digital yg terjadi di era yg modern ini. Dimanapun kita berada kita harus waspada, bisa saja orang terdekat kita sendiri yg menjadi pelakunya.
My rate is 4.5 of 5 stars to Ketika Chat Room Menjadi Ruang Seksploitasi by Tim Flame
Siapa yang perlu ditakuti dalam kejahatan eksploitasi seksual, apakah memang cuma pelaku? Buku “Ketika Chat Room Menjadi Ruang Seksploitasi” membahas tentang upaya dua mahasiswi (Tim Flame) dalam mengungkap kasus Nth Room yang mengorbankan anak-anak dan perempuan dengan melakukan penyebaran video eksploitasi seksual (atau selanjutnya disingkat seksploitasi) di Telegram. Pelaku memanfaatkan video tersebut demi kepentingan pribadi seperti kepuasaan hingga uang yang diperoleh secara paksa terhadap korban. Sebelumnya, mohon pertimbangannya karena buku ini dapat memuat hal yang sensitif dan bertarget pembaca usia 21 ke atas.
Nth Room berisi ribuan anggota dengan puluhan ruang obrolan.Tindakan yang terlingkup di sana tidak hanya terkait dengan penyebaran video seksploitasi semata. Dalam mendapatkan video, pelaku tidak segan-segan melakukan ancaman dan memanipulasi korban. Terutama ketika berhadapan dengan anak-anak, pelaku tanpa acuh memanfaatkan kondisi mental mereka yang pada masanya masih dalam tahap perkembangan dengan segala gejolak yang (seharusnya) perlu dibimbing bukan dihancurkan. Pelaku pun bisa memeras secara emosional dengan ancaman-ancaman yang memojokkan korban. Lebih jauh, pelaku dapat memancing peserta ruang obrolan untuk melakukan tindakan di dunia nyata pada korban. Belum jika kita membayangkan sejauh mana isi kepala pelaku dapat “bermain”. Kita semua tahu setiap orang bisa mencapai titik tergelap yang tak terbatas dalam pikirannya. Lupakan anggapan mendapatkan “kegilaan” tersebut dalam situs tersembunyi. Kengerian demikian bisa didapatkan melalui aplikasi Telegram yang dapat dipakai siapa saja tanpa kesulitan dalam aksesnya.
Kita memiliki pengerem untuk bertindak melalui agama, hukum, norma sosial, hingga batin diri sendiri. Tapi, dalam kasus ini, pelaku sudah dengan terbuka dan sadar menikmati tindakan mereka.
Jika kita adalah orang yang belum terbayang sengeri apa kasus Nth Room (pun serupa dengannya), kita perlu membaca buku ini.
Aku merasa kasus Nth Room masih perlu dijelaskan secara rinci, tapi buku ini sepertinya berusaha 𝘴𝘦𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬𝘯𝘺𝘢 membuat pembaca paham kasus secara umum lalu membagi bagian lain buku ke topik-topik lainnya. Setangkapku, buku ini bukan bertujuan untuk menjelaskan kasus dari segi pengusutan maupun penindakkan, tapi membuat pembaca sadar betapa gentingnya masalah ini. Kasus seksploitasi tidak hanya berkaitan dengan sudut pandang korban, tapi juga masyarakat secara luas dan penegakan hukum. Kita seringkali tak sadar urgensi dan bahayanya. Buku ini tidak hanya menjelaskan tentang penemuan Tim Flame, tapi juga motivasi serta kesulitan yang dialami Tim Flame, dampak kasus terhadap korban, masyarakat, bahkan Tim Flame sendiri, wujud nyata oknum penegak serta hukumnya, cermin keberpihakkan media, hingga imbauan yang dapat kita lakukan tentang hal ini (selengkapnya bisa tergambar di daftar isi yang aku unggah). Kasus ini memiliki dokumenter berjudul, 𝘊𝘺𝘣𝘦𝘳 𝘏𝘦𝘭𝘭: 𝘌𝘹𝘱𝘰𝘴𝘪𝘯𝘨 𝘢𝘯 𝘐𝘯𝘵𝘦𝘳𝘯𝘦𝘵 𝘏𝘰𝘳𝘳𝘰𝘳. Sayang, aku belum menontonnya. Tapi, semoga lain kali bisa. Mungkin, dokumenter tersebut dapat menambah gambaran lebih jauh.
Jadi, siapa yang perlu ditakuti dalam sebuah kejahatan seksploitasi? pelaku sudah pasti. Tapi, orang-orang yang berada di sekitar kasus termasuk penegak hukum, masyarakat, media, bahkan keluarga sekalipun dapat menjadi monster bertaring yang bisa menerkam korban sedemikian rupa baik secara langsung maupun tidak yang efeknya bukan main bisa tak kalah mengancam. Sekaligus, bagaimana ini berkaitan dengan sudut pandang seseorang (yang dapat menjadi sekelompok orang) terhadap perempuan.
Beberapa pihak mungkin menganggap 𝘬𝘰𝘳𝘣𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩 dengan argumen 𝘵𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘢 𝘢𝘴𝘢𝘱 𝘵𝘢𝘯𝘱𝘢 𝘢𝘥𝘢 𝘢𝘱𝘪. Meski segalanya memang selalu ada sebab-akibat, bukankah 𝐩𝐞𝐥𝐚𝐤𝐮 (𝐛𝐚𝐡𝐤𝐚𝐧 𝐬𝐞𝐭𝐢𝐚𝐩 𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠) 𝐛𝐞𝐫𝐝𝐚𝐮𝐥𝐚𝐭 terhadap dirinya sendiri? Bukankah ia bisa memilih tindakan yang dilakukan atau tidak? Ada pula yang mempermasalahkan ini sebagai 𝘬𝘢𝘴𝘶𝘴 𝘳𝘦𝘤𝘦𝘩. Bagaimana bisa tidak memanusiakan manusia dianggap sebagai hal yang 𝘣𝘪𝘢𝘴𝘢 𝘴𝘢𝘫𝘢? Banyak lagi yang bisa terlontar secara tak bertanggung jawab terhadap kondisi seperti ini. Buatku, itulah suara-suara yang tak kalah penting berusaha disampaikan oleh Tim Flame.
Apa yang bisa kita lakukan sebagai salah satu bagiannya? Itu adalah tugas yang harus kita pikirkan bersama.
Goosebumps might become the perfect word to describe the experience when reading this book. I was shocked about the digital sexual assault that is discussed in this book. I cannot imagine how a group of people working together to produce, consume, and spread illegal mature videos. Not to mention, their targets/victims were underage girls. It’s crazy.
Previously, I had never thought to read this book until I read a footnote in a novel that I previously read called “Confessions” where there’s a bit of explanation about a digital sexual crime that happened in South Korea called “Nth Room”. Fortunately, there's a book discussing this topic, and thank god when I checked the book in the local library here in Jakarta. I noticed a copy of this book translated into Bahasa Indonesia. Then, I excitedly grabbed the book and borrowed it from the library.
Long story short, this book talked about the journey of two campus journalists who investigated digital sexual assault. They initially wanted to join a journalist competition and planned to take a sexual assault in the messaging app. However, as they dig deeper, they notice a very SHOCKING fact, there’s a massive sexual assault happening digitally in a messaging app called Telegram. In this app, there’s a group created as a place for people to join, where their main activities are to consume, produce, and spread illegal mature videos where the actors in the video are girl underage.
The author highlighted couple things that become challenges in dealing with this issue. Firstly, the criminals often threaten the victim by saying these girls' actions would be reported to their parents or teachers. It prevented more victims from reporting the problems they encountered. Secondly, the police have difficulty finding the criminals because this sexual harassment happened in apps managed by foreign countries. There will be a long bureaucracy waiting for them to get permission from the app for further investigation. Third, South Korea does not have regulations/laws that specifically explain the sanctions for criminals who are involved in digital sexual harassment. The authors argued that the government policy failed to understand the urgency of this problem. The governments also failed to differentiate the digital crime and sexual crime. This digital sexual crime is most likely put in trial based on digital crime.
Reading this book also gave me a bit of perspective on the authors’ investigation and how difficult the investigation is. They even experienced an anxiety disorder and delusional disorder. Appreciate their effort. I mean they working tirelessly to build awareness about the urgency of this issue to the public, and even need to deal with the side effects of this investigation.
I cannot believe that I’ve written a long paragraph, but this book was so GOOD in my opinion. It’s very detailed not only about the problem but also about the quest that authors needed to face while investigating the problem. One note, you need to prepare a note and pen to read the details of the topics, like the date, the terminology, and so on, you name it. But, don’t worry the writing style was really good. There will be no difficulty in reading/understanding this book (at least the book that has been translated to Bahasa Indonesia by “Penerbit Haru”).
Satu hal yang saya ingin tekankan ketika membaca buku ini adalah "Andai saja semua ini fiksi namun nyatanya ini non fiksi". Kejadian menjijikkan dan menyeramkan ini benar-benar terjadi di kehidupan kita dibahas tuntas dan jelas dalam penulisan Tim Flame.
Penyelidikan yang dilakukan dengan keberlanjutan memberikan dampak yang positif untuk korban seperti mendapatkan penanganan mental meskipun trauma yang diterima susah hilang. Nyatanya mereka selalu hidup dalam bayang2 bagaimana kalau video mereka terus menyebar dari tangan ke tangan. Bagaimana mereka bisa hidup tenang sementara tidak ada kepastian jelas mengenai penghapusan konten vulgar mereka.
Buku ini disertai catatan kaki untuk menjelaskan istilah2 baru yang mungkin beberapa di antara kita masih belum familiar seperti sebutan untuk sebuah komunitas atau kejahatan baru. Selain itu, kita juga akan diberikan cuplikan tangkapan layar chat Telegram dari room yang dimaksud. Sebenarnya saya jijik ketika membaca bagian tersebut.
Di bagian akhir kita akan mendapatkan data pendukung lengkap melalui 2 lampiran berisikan kejelasan peradilan dan juga artikel yang ditulis oleh Tim Flame. Buku yang lumayan menguras emosi namun lekat dengan pesan dan makna mengenai perkembangan teknologi yang tidak semua orang mampu memanfaatkannya. Teknologi yang menjamin privasi seperti ruang chat di Telegram memang susah dilacak mengenai data penggunanya. Namun nyatanya privasi yang terjamin ini justru disalahgunakan oleh komplotan mesum untuk membuat grup pelecehan seksual dengan mengirim video atau editan gambar tidak senonoh kemudian dinikmatin oleh semua anggota di dalamnya.
Bahayanya kejahatan berbasis online ini tidak berhenti di chat saja namun mereka memanfaatkan video yang beredar untuk mengancam korban memenuhi nafsu bejat pelaku. Mereka menggunakan teknik grooming dan ancaman sehingga korban yang basiknya masih di bawah umur merasa tidak punya pilihan lain selain mengikuti kemauan pelaku.
Aku yakin beberapa dari kalian udah pernah liat, baca, atau sekedar tahu mengenai kasus Nth Room yang terjadi di Korea Selatan. Kasus ini merupakan salah satu kasus kejahatan seksual digital yang terorganisir di Korea Selatan. Dimana korbannya tidak hanya perempuan dewasa melainkan anak2 juga --tanpa pandang usia/ras/bangsa.
Kejahatan baru di era digital ini berbasis di aplikasi2 yang menyediakan chat room dengan kapasitas audiens yang cukup banyak. Nth Room sendiri berbasis di Telegram. Untuk mengakses chat room2 ini pun sangat mudah, hanya tinggal mengklik tautan yang disebarkan melalui sosial media atau blog.
Buku ini menceritakan perjuangan 2 orang mahasiswi (Tim Flame) yang berusaha menguak kasus kejahatan seksual digital, yang dikenal sebagai Nth Room. Awalnya mereka hanya berniat melakukan riset untuk menulis artikel lomba investigasi. Berakhir menyisir perjalanan berat dan menyesakkan di sisi gelap dunia digital.
Selain cerita mengenai perjalanan menguak kasus kejahatan seksual digital Nth Room. Tim Flame juga menceritakan seringnya kasus kejahatan seksual terjadi di kehidupan sehari-hari. Mulai dari kebiasaan2 buruk kecil yang dinormalisasi hingga hal2 kriminal yang dibiarkan begitu saja karena sudah terlalu sering terjadi.
Buku ini menyadarkan pembacanya akan fakta mengenai rendahnya kewaspadaan atau kepedulian orang2 terhadap kejahatan seksual di sekitar kita, bahkan kebanyakan mereka menormalisasi hal2 tersebut. Sehingga banyak sekali korban yang memilih bungkam bahkan merasa malu setelah mereka menjadi korban. Pelaku kejahatan seksual semakin besar kepala, korban semakin banyak.
Rate 4,75/5⭐
*Buku sudah bisa di pra-pesan mulai dari sore ini di toko2 online yang tersedia. Untuk linknya akan aku update di bio nanti (17 Maret)
⚠️TW : Sexual crimes including sexual abuse, sexual harrasement, child pornography, rape, etc⚠️
Meskipun buku ini buku non fiksi investigasi, tapi menurutku pribadi, penulis menjelaskannya dengan bahasa yang tidak sulit sehingga membuatku membacanya mudah mengerti dengan apa yang sudah mereka jelaskan.
Di dalam buku ini juga tertera bagan yang mempermudah kita mengetahui bagaimana bentuk chat room tersebut. (Which is crazy! because lots of people consume those contents).
Awalnya aku pikir di buku ini hanya fokus di investigasinya dan bakal bener-bener ngejelasin gimana korban dan pelaku setelah Kasus Nth Room ini terungkap, tapi ternyata enggak, mungkin karena karena satu dan lain hal yaa.. jadinya ga mereka jelasin secara detail hal-hal sesudahnya.
Jujur, lewat buku ini aku jadi ngerecall hal-hal yang terjadi pada aku dan orang-orang sekitarku. Rasanya aku beneran mau peluk semua korban, mau bilang terima kasih sama Tim Flame, dan mau marah sama para pelaku; ya meskipun ga bisa dan ga guna.
Buat kalian yang cari buku yang demikian, atau memang penasaran sama kasus tentang cybersex trafficking, you guys can give it a try to reading this! But I warn you, it's okay to take a break when this book starts to trigger you.
Kalau kamu mau baca buku ini, kamu harus siap-siap dengan banyak trigger warning: seks, cybersex, sexual abuse, rape, manipulation, grooming, pedophilia, sexual harrasment, physical harrasment, self-harm.
Buku ini adalah hasil investigasi dari Tim Flame tentang Nth Room—yang menyediakan video dan foto para perempuan secara tidak senonoh dari hampir seluruh dunia. Bahkan, ada beberapa perempuan yang identitasnya dibongkar. Tidak hanya itu, kejahatan seksual ini juga sampai ke tahap perbudakan. Anak-anak dan remaja dipaksa untuk merekam dan mengirim foto telanjang yang kemudian hasilnya disebarluaskan.
Buku ini dengan cukup detail menceritakan bagaimana Nth Room beroperasi dan apa saja yang ada di dalamnya. Cukup triggering dan aku rasa kamu perlu baca sendiri secara langsung.
Teryata Korea bahkan mungkin dunia semengerikan itu.. Tidak ada tempat yg aman, walau kita berusaha membuat tempat yg aman bagi kita 💔💔 . Canggihnya teknologi serta media sosial sekarang, walau terbilang sudah menjadi kebutuhan namun siapa sangka penuh dengan misteri dan kekejaman. . Video atau photo illegal diperjual-belikan dan dia yg ada di video atau photo itu bahkan tidak tau datanya atau identitasnya sedang diperbincangkan. Anak kecil yg tak pernah mendapat edukasi mengenai hal ini dari irang dewasa menjadi korban. . Jika engkau orang dewasa, sayangilah anak di bawah usiamu. Ajar dan didiklah dia seks education dan menggunakan teknologi. . Terlalu banyak hal yg patut dipelajari dan aware akan masalah ini 💔💔
siapa yang paling patut disalahkan ketika terjadi hal-hal begini? korban? pelaku? hukum? atau aparat? hukuman selalu terasa tidak adil ketika ini menimpa diri kita. Jadi apa yang bisa kita lakukan unyuk mencegah hal-hal begini terjadi?
Sejak kecil kita harus di hadapkan dengan permasalahm begini. Kita tidak bisa berleha2. Takut ada orang2 yang tidak bertanggung jawab diluaran sana yang sesuka hati menggambil foto kita untuk dijadikan bahan pemuas nafsunya.
Aku rasa penulis sangat berani mempertaruhkan dirinya dalam mendalami kasus begini rupa untuk membela orang2 diluar sana dan memberi sanksi terhadap pelaku
Buku ini menceritakan bagaimana Tim Flame memulai penyelidikan mereka mengenai kejahatan seksual yang terjadi di ruang maya, khususnya Telegram. Berawal dari ketertarikan mereka untuk menulis perekaman ilegal, membawa mereka menemukan kejahatan yang lebih besar dan lebih sulit diatasi. Saya bisa membayangkan kelelahan yang mereka hadapi, karena bagaimana pun Tim Flame adalah dua perempuan yang dibayangi ketakutan kejahatan yang sama seperti yang sedang mereka tulis. Untuk detail kasus, kamu bisa menonton dokumenternya di Netflix.
Kamu bakal menemukan kengerian kejahatan seksual digital yang membuat sekujur tubuh bergidik pas bacanya. Membaca lembar fakta yang dipaparkan Tim Flame membuatku marah tetapi rasa sedih lebih mendominasi.
Aku sarankan bacanya pelan-pelan saja sambil diresapi maknanya. Jangan lupa check trigger warning!
triggering bgt....... gila ya orang-orang........ bul & dan (tim flame) keren bgt ya bisa kuat bertahan nyelidikin kasus-kasus kekerasan seksual berbasis online gini...... peluk jauh buat mereka, para korban, dan seluruh perempuan di dunia yang harus menjadi bahkan ga bisa merasa aman di dunia ini 🫂🤍
Satu reaksiku setelah baca buku ini. Geram. Man, you are a teacher, but the your way of thinking makes me want to vomit and slap your face really hard.
Gampang banget salah satu pelaku nyebarin foto dan video eksploitasi seksual anak-anak. Trus dengan entengnya ngomong “kenapa harus menikah kalau aku punya banyak anak di tempatku mengajar?”. Ga bermoral.
Yang bikin kesel lagi adalah masih banyak yang memandang pelecehan seksual sebagai masalah individu daripada masalah sosial. Kesadaran masyarakat masih rendah. Seakan Tindakan PS ini sudah jadi “budaya” yang lumrah di era digital sekarang ini.
Hal yg aku paling suka dari buku ini adalah di sub bab “Jangan Meminta Korban Bersikap Seperti Korban”. Banyak orang yg memaksakan ‘standar ketat’ pada korban. Seperti “bukankah anda yg lebih dahulu mem-posting fotonya?”
Yang paling penting dan harus kita ingat adalah tidak ada korban yg pantas mengalami pecelehan seksual.