Wajah lonjong, kulit putih, mata bulat, kepala hampir botak, hanya ada jambul di bagian depan, dan kalau jalan masih bergoyang-goyang, tetapi selalu saja tertawa. Bagaimana aku bisa lupa?
Ia tertawa waktu kakinya kugelitik. Aku mengajaknya bermain dan ia sangat suka. Aku buat wajahku tampak lucu. Ia semakin tergelak-gelak. Sesekali, kusuapi ia dengan biskuit yang ada di tanganku. Kebisingan akibat teriakan anak-anak lain di sekitar kami, tak membuyarkan keakraban ini.
Kisah tersebut adalah potongan cerita Faiz. Semua cerita diangkat dari kisah Faiz sendiri! Menarik, kan? Bukan itu saja, kata Faiz, ada puluhan "Permen Cinta" yang bisa kamu dapatkan dalam setiap halamannya! Kamu enggak percaya? Yuk, kita baca! Hmmm... terasa "Permen-Permen Cinta" yang yummy, yang akan bikin hangat hari dan hatimu!
Abdurahman Faiz lahir di Jakarta, 15 November 1995. Ia telah menulis puisi sejak berusia 5 tahun. Namanya mulai dikenal publik ketika ia menjadi Juara I Lomba Menulis Surat untuk Presiden tingkat nasional yang diselenggarakan Dewan Kesenian Jakarta (2003). Pertama kali Faiz tampil membacakan puisi-puisinya yang pada waktu itu belum dibukukan, adalah atas undangan Nurcholish Majid pada acara peluncuran buku beliau yang mengundang ribuan tokoh nasional. Saat kelas II SD puisi Faiz “Sahabatku Buku” menjadi juara Lomba Cipta Puisi Tingkat SD seluruh Indonesia yang diadakan Pusat Bahasa Depdiknas (2004).
Buku kumpulan puisi pertama Faiz Untuk Bunda Dan Dunia (DAR! Mizan, Januari 2004) terbit saat ia berusia 8 tahun dan diberi pengantar oleh Taufiq Ismail. Buku tersebut meraih Anugerah Pena 2005 serta Buku Terpuji Adikarya IKAPI 2005. Sejak buku itu terbit Faiz kian sering diundang membacakan dan membicarakan karya-karyanya--- yang banyak mengetengahkan berbagai persoalan sosial kemasyarakatan dan politik--- dalam berbagai forum, termasuk di hadapan Presiden Megawati Soekarno Putri, Presiden SBY, mantan presiden Abdurrahman Wahid, Wakil Presiden Jusuf Kalla, Ketua MPR Hidayat Nur Wahid, sejumlah menteri dan tokoh-tokoh nasional lainnya. Ia pun pernah diundang sebagai salah satu panelis Debat Capres di stasiun televisi swasta, pada pemilu 2004 lalu.
Buku keduanya: Guru Matahari (DAR! Mizan 2004), terbit saat ia masih berusia 8 tahun pula, diberi pengantar Agus R. Sarjono mendapat nominasi Khatulistiwa Literary Award 2005. Buku ketiganya: Aku Ini Puisi Cinta (DAR! Mizan 2005) membawanya meraih penghargaan Penulis Cilik Berprestasi dari Yayasan Taman Bacaan Indonesia (2005).
Buku keempat Faiz adalah kumpulan esai berjudul: Permen-Permen Cinta Untukmu (DAR! Mizan 2005). Karyanya juga terdapat dalam antologi bersama: Matahari Tak Pernah Sendiri (1 dan 2), Jendela Cinta (GIP 2005), dan Antologi Puisi untuk Yogyakarta (2006). Puisinya pernah dimuat di sejumlah koran nasional antara lain Kompas dan Republika. Tahun 2006 Faiz dinobatkan sebagai Anak Kreatif Indonesia versi Yayasan Cerdas Kreatif Indonesia yang dipimpin Kak Seto.
Bersama beberapa penulis cilik lainnya, putra pertama Tomi Satryatomo dan Helvy Tiana Rosa ini menulis kumpulan cerpen Tangan-Tangan Mungil Melukis Langit (LPPH 2006), untuk membantu biaya sekolah bagi teman-teman kecil mereka yang tinggal di kolong jembatan tol. Bukunya: Nadya: Kisah dari Negeri yang Menggigil, dikatapengantari oleh Sapardi Djoko Damono (LPPH, Juli 2007). Tahun 2007, Faiz mendapat PKS Award sebagai Anak Indonesia Berprestasi. Tahun 2008 antologi bersamanya: Magic Cristal (Mizan) terbit. Faiz mendapat Anugerah Kebudayaan 2009 dari Presiden RI: Susilo Bambang Yudhoyono. Faiz juga menjadi Pemenang Sayembara Menulis Naskah Drama Federasi Teater Indonesia (2011) dan terpilih sebagai The Most Amazing Teen 2011 versi Student Globe.
Siswa SMA Pribadi Depok yang pernah dijuluki sebagai pelopor bagi lahirnya sejumlah sastrawan cilik ini juga merupakan founder dari akun twitter @mencobabelajar yang memiliki follower lebih dari 200.000 orang.
Buku yang saya jadikan bahasan di kelas bagi murid-murid saya. Sebuah kumpulan esai yang ditulis anak SD (waktu itu Faiz 9-10 th). Sangat bening dan merambah banyak hal. Menarik, ada banyak kejutan dari cara berpikirnya yang tak biasa! Buku anak Indonesia terbaik yang pernah saya baca sumur hidup saya dan masih sangat cocok untuk orang dewasa. Oooo Faiz....
Ini bukan kumpulan puisi, tapi kumpulan esai! Saya salut anak seusia Faiz (waktu itu kalau nggak salah 9 atau 10 tahun) bisa menulis sehebat ini. Essay2 Faiz sama bersahaja, bening, indahnya dengan puisi-puisinya. Buku yang perlu dibaca oleh siapapun dari segala umur. Saya belum menemukan buku anak dengan kriteria yang saya sebut sebelumnya yang seperti ini! Sangat mencerahkan batin dan pikiran!
Nggak nyangka!! Anak sekecil Faiz dengan beribu empatinya yang bikin hati tersentuh tiap kali membaca tulisannya. Plus jalinan kalimatnya yang puitis, keren abis. Cerita-cerita dalam buku ini sungguh memukau. Tak hanya untuk anak-anak, orang dewasa pun pasti menyukai kisah-kisah di dalamnya. Two thumbs for you, Faiz!
Berderet penulis dewasa menulis untuk anak-anak. Tapi baru kali ini saya merasa membaca tulisan seorang anak bagi pembaca dewasa. Meskipun tulisan Faiz ini cocok untuk semua umur, tapi tampaknya jauh lebih menyentuh bagi pembaca dewasa. Membuat sesak dada, mengingat dan berpikir 'apakah suatu saat yang lalu saya pernah merasa seperti dia?'
Aku sukaaaaaaaaaa banget buku ini. Dua jempol untuk orangtua faiz yang udah mendidik faiz selama ini. Pemikirannya keren banget! mungkin banyak anak seumuran dia yang berpikir seperti itu, tapi ga pernah ditulis.
Kumpulan esai seorang anak yang berpikiran layaknya orang dewasa. Puitis dan menyentuh hati. Buku terbaik dari dan untuk anak oleh penulis cilik terbaik Indonesia.
Lebih dalam dari chicken soup manapun yang pernah saya baca. Buku ini sangat menggugah ditulis dari sudut pandang anak-anak yang mencoba untuk memahami dan memberi di dunia yang hingar bingar ini.
buku yang ditulis dengan hati dan membuat anda tertawa. Bukan hanya karena kepolosan Faiz, tapi kita akan menertawakan diri sewndiri, karena ternyata anak2 begitu jujur dan polos