IN A COUNTRY where talk of conspiracies is often a national pastime, the deepest, sometimes darkest, secrets have long been held by Indonesia’s State Intelligence Agency (Badan Intelijen Negara, or BIN). Whether targeting communist diplomats, foreign terrorists, or domestic dissidents, BIN and its precursor organizations have been the covert spearhead of the nation’s security policy.
Here, for the first time, this secretive agency is exposed in INTEL: Inside Indonesia’s Intelligence Service by noted author Ken Conboy. Drawing from exclusive access to BIN’s personnel and operational archives, Conboy examines the agents and their operations since BIN’s founding fifty years ago, and sheds new light on Indonesia’s role in the Cold War with case studies of North Korean, Soviet, and Vietnamese operations across the archipelago and BIN’s current position at the forefront on the war against terrorism. From the activities and subsequent captures of both Faruq and Hambali to the Indonesian operations of al-Qaeda, this book provides far more detail and insight than previously available.
Understanding BIN is an integral part of understanding the politics and security of Indonesia, and INTEL is essential reading for anyone interested in intelligence operations, contemporary Indonesian history, and international terrorism.
KEN CONBOY is country manager for Risk Management Advisory, a private security consultancy in Jakarta. Prior to that, he served as deputy director at the Asian Studies Center, an influential Washington-based think tank, where his duties including writing policy papers for the U.S. Congress and Executive on economic and strategic relations with the nations of South and Southeast Asia. The author of a dozen books about Asian military history and intelligence operations, Conboy’s most recent title, Spies in the Himalayas, has earned praise as an intriguing account of high-altitude mountaineering and covert missions. A graduate of Georgetown University’s School of Foreign Service and of Johns Hopkins’ School of Advanced International Studies, Conboy was also a visiting fellow at Chulalongkorn University in Bangkok and has lived in Indonesia since 1992.
Kenneth J. Conboy is a former policy analyst and deputy director at the Asian Studies Center in Washington, D.C., and author or coauthor of seventeen books, including The CIA’s Secret War in Tibet and Spies and Commandos: How America Lost the Secret War in North Vietnam and, most recently, FANK: A History of the Cambodian Armed Forces.
Saya cuma merekomendasi, try googling the author's name! the name seem well acquinted with Indonesia and the rest of SEA region. After that, you will then notice eventhough the content seems shallow, the author himself gives you as a reader, a room for your own fantasy. The spymaster then not always james bond and tom clancy. there is 3rd world spymaster, but this one have been blured with only surveilance. Howcome intelligence be simplified with only such "tukang nguping" thing. akhirnya, selamat membaca dan mengurai tanda baca! Be Smart as the word "intelligence" suppose to mean!
Tentang sepak terjang intelijen di Indonesia. Walau cuma sedikit dibahas, Timor Timur seru. Paling penting adalah pembaca bisa berhati-hati menilai isu-isu yang dapat memecah belah persatuan, apalagi menjelang Pemilihan Umum. Indonesia kuat!
Klaimnya sih buku pertama dalam bahasa Indonesia yang menguak dunia intelijen Indonesia. Cukup detil menggambarkan sejarah dan seluk-beluk intel sejak kemerdekaan hingga era perang melawan terorisme, khususnya jaringan Jemaah Islamiyah yang konon merupakan Al-Qaidah cabang Asia Tenggara. Khas buku-buku tentang intelijen, ada detil-detil operasinya, nama sandi operasi, teknik-teknik penyadapan, pengintaian, membuntuti orang, kontra-spionase, dan tarik-menarik agen-agen lokal yang coba direkrut sama intelijen asing.
Kalau zaman Orde Lama, Subandrio memimpin organisasi intel BPI yang mendukung politik anti-Nekolim-nya Soekarno, zaman Orde Baru berubah drastis menjadi pendukung Barat dalam konteks Perang Dingin. BAKIN sasaran utamanya negara-negara Blok Timur (Vietnam, Korea Utara, Soviet), dan negara-negara "radikal" di Timur Tengah (Libya). Di dalam negeri, cerita tentang Komando Jihad dan penyusupan ke NII diungkap cukup jelas. Sejak lama memang diindikasikan bahwa kelompok fundamentalis adalah target utama intelijen, bahkan boleh jadi intelijenlah yang sebetulnya menunggangi, mengendalikan, atau bahkan yang membentuk mereka. Ingat bahwa Osama bin Laden dibesarkan oleh Amerika sendiri dalam Perang Afghanistan, dengan dukungan utama CIA dan ISI (badan intelijen Pakistan).
Tapi, kalau berharap ada cerita bagaimana kiprah intelijen menyusupi kalangan aktivis prodemokrasi menjelang kejatuhan Suharto, tak akan ditemukan di buku ini. Dibilang sih pada waktu itu BAKIN dalam posisi sangat lemah, tersingkir oleh saingannya BIA (Badan Intelijen ABRI, militer punya). Apalagi kisah kontemporer pembunuhan Munir, mungkin akan tetap gelap sampai beberapa tahun mendatang.
As an avid Tom Clancy reader who read Bob Woodward during high school years and was very impressed by Peter Wright's "Spy Catcher: The Candid Autobiography of a Senior Intelligence Officer", I didn't quickly grabbed Conboy's book when it was published in 2004. My being hesitant was due to my thick skepticism on Conboy's ability to deliver good percentage of truth in his writing. I mean, despite a change of ruling regime, how in the heck would he got all the resources needed to write about Indonesia's intelligence agency??
Not until last weekend, when I thought I needed some diversion after the mind-bending and mental-draining McCormack's "The Road". I wanted to grab "Prep" but it cost a bit too much. I wanted something different that Murakami's crazy fantasy in "Hard Boiled Wonderland and the End of the World". Conboy's credentials were pretty interesting, though I've never heard of "Asian Studies Center" before.
Anyways, the book isn't written in a "cloak and dagger" style, but more like a history book. I learned that Indonesia's first James Bond is an Acehnese. I learned that (if it's turned into a movie) back in mid 60s-70s Jakarta's (the country's capital) atmosphere resembled any scene that Clancy wrote in his novels. Pretty amusing for me, as this is my light reading of the month.
Pada malam hari di tanggal 11 September 2001, Hendropriyono kebetulan sedang berada di kantornya di lantai teratas markas BIN di Pejaten, Jakarta. Kebetulan dia tengah menyiapkan bahan presentasi kertas kerja di hadapan Direktur CIA George Tenet, berbarengan dengan rencana kunjungan Presiden Megawati pekan berikutnya ke negeri Paman Sam.
Di antara kertas kerja itu, ada laporan setebal 20 halaman berisi temuan BIN mengenai alumni Afghanistan asal Indonesia, serta kelompok Islam radikal dalam negeri, seperti Jamaah Islamiyah (JI) dan Majelis Mujahidin Indonesia (MMI). Di dalam laporan itu tertulis nama-nama seperi Syeh Hussein dan Umar al Faruq, yang belakangan tertangkap dan kabarnya dibawa ke sebuah ‘negara ketiga” oleh Pemerintah AS.
Penggalan cerita tersebut merupakan kisah dari kerja intelijen Indonesia dalam mengungkap jaringan terorisme yang semakin menggencarkan operasinya melalui serangkaian aksi teror dan konflik SARA di Tanah Air, sejak awal era tahun 2000-an. Kerja keras ini belakangan berbuah manis, dengan tertangkapnya anggota-anggota jaringan teroris yang secara estafet direkrut dan diyakini kuat memiliki keterkaitan dengan organisasi besutan Osama bin Laden.
Dalam buku berjudul asli Intel: Inside Indonesia’s Intelligence Service, Ken Conboy menceritakan perjalanan panjang badan intelijen di negeri ini, sejak dirintis oleh spymaster (kepala badan intelijen) pertama Indonesia Zulkifli Lubis.
Dengan alur yang runtut sejak masa kemerdekaan, Ken Conboy menuturkan jatuh bangun Badan Koordinasi Intelijen Negara (Bakin), hingga menemukan kebangkitannya kembali di era kepemimpinan Presiden Abdurrahman Wahid dan berubah nama menjadi Badan Intelijen Negara (BIN).
Dalam kisah "Durna" Ken Conboy menuturkan pemanfaatan intelijen untuk perebutan kekuasaan. Saat itu Badan Pusat Intelijen (BPI) dipimpin oleh Subandrio yang dilecehkan dengan sebutan Durna, dan digambarkan sebagai penasihat raja yang penuh tipu daya dalam mitos wayang kulit Jawa. Diceritakan pula bagaimana keterlibatan Subandrio menjelang peristiwa G30S/PKI 1965, dengan munculnya ‘Dokumen Gilchrist’ yang memuat dugaan konspirasi terhadap Sukarno oleh para jenderal Angkatan Darat, termasuk keterlibatan AS dan Inggris. Dokumen ini dibantah keras oleh Panglima Angkatan Darat Achmad Yani, termasuk tuduhan adanya Dewan Jenderal.
Pada Bab Tiga “Satsus Intel”, Ken Conboy bercerita tentang pembentukan unit khusus Satuan Khusus Intelijen (Satsus Intel) yang dibentuk dengan dana operasi dan pelatihan dari CIA. Selain CIA, dukungan operasi juga datang dari Dinas Intelijen Luar Negeri Inggris M16 dan badan intelijen Israel Mossad. Saat itu mendapatkan izin mendatangkan instruktur dari Israel bukan perkara mudah, mengingat Indonesia adalah negara dengan mayoritas penduduk Muslim dan tidak memiliki hubungan diplomatik dengan negeri Yahudi itu. “Kita akan mendatangakan istruktur Israel karena mereka yang terbaik di dunia,” tutur pejabat Satsus Intel saat itu.
Dalam tugasnya, Satsus Intel tidak melulu melakukan kerja-kerja kontra intelijen, khususnya menghadapi mata-mata dari negeri-negeri komunis yang sempat berkeliaran di Tanah Air. Kisah-kisah ini dibeberkan Ken dalam “Atraksi Sampingan”.
Yang teraktual dari buku ini, Ken mencoba membeberkan keterlibatan mata-mata BIN untuk mengurai jaringan terorisme yang dilakukan kelompok militan, berikut jaringannya yang tersebar di Asia Tenggara, Pakistan, hingga Timur Tengah. Dalam bab “Faruq” Ken membeberkan kerja-kerja Tim Alfa yang akhirnya berhasil mengungkap sepak terjang warga Kuwait Umar Faruq dan membekuknya di sebuah masjid di Bogor, Jawa Barat.
Berbekal pengalamannya melakukan penelitian dan pengamatan seputar operasi militer di Asia serta operasi-operasi intelijen, Ken berhasil menembus sumber-sumber aktif maupun mantan pejabat di intelijen. Karya Ken ini juga ditulis berdasarkan sumber-sumber di media massa, dan juga berkas-berkas rahasia yang karena perjalanan waktu sudah bisa diungkap.
Meski sebagai orang awam tentunya akan sulit membuktikan apakah sumber-sumber yang digunakan Ken adalah faktual, namun setidaknya buku ini bisa memberikan gambaran mengenai kisah intel Melayu dalam perang adu pintar di dunia spionase.
Buku ini cukup memberikan informasi dan beberan di tengah minimnya dokumentasi mengenai sepak terjang organisasi intelijen di negara-negara berkembang seperti Indonesia.
as an historical book, this book is sufficient. but still, needed more thriller vision to make this book not only a fact-book. deep research is obviously needed to reveals past intelligence operations in Indonesia. check and re-check and relationship between the author and another intelligence services is important as prominent method on writing this kind of book.
overall, the author had a good interpretation and gave us a new perspective in reviewing the designation of the service. in another words, actually there are no James Bond or Ethan Hunt's IMF in the real-event of intelligence world. the radical-realistic interpretation in "Munich" (the Movie) is better.
Buku ini memaparkan secara menyeluruh tentang sejarah intelijen Indonesia di bawah pemerintahan Presiden Soeharto (alm.) berikut kegiatannya, sejak awal kemerdekaan hingga masa kini dan disusun berdasarkan wawancara langsung dengan para pejabat intelijen, serta dilengkapi berkas-berkas arsip yang diperoleh langsung dari sumbernya. Tak lupa disertai foto-foto, termasuk buku harian yang berkaitan dengan rencana pengeboman yang ditulis salah seorang teroris yang tertangkap.
Yang menarik dari sini, operasi intelijen di Indonesia selalu bergantung dari dana, tidak peduli sekalipun itu Amerika yang membiayai. Yang penting adalah hasil intelijen...
Buku ini benar-benar membuka mata saya mengenai seluk beluk tentang BIN. Bagaimana sebuah organisasi yang dulu lumayan perkasa pada masa-masa awal kemerdekaan dikebiri oleh orang yang tidak cakap, bangkit lagi karena kemunculan Orde Baru lalu karena paranoidnya Pak Harto, dikebiri lagi sampai nyaris tak berbentuk. Dicoba dibenahi ole Gus Dur dan baru menjadi badan yang benar-benar 'beres' di bawah pimpinan AM Hendropriyono saat kepemimpinan Bu Mega.
Buku ini juga sedikit menyingkap betapa intel-intel asing datang silih berganti ke negara kita dan kadang menyebabkan beberapa mahasiswa 'malang' jadi target militer kita karena dianggap sebagai pengkhianat.
This book give the real sory of Indonesian Intelegent Agency which is true fact as mention at original Bakin's document. The fact shown the history will renual. Like the story of Uang Palsu that is used by ex President Soeharto's people for money politics. And fact a naval colonel is being rest by police because include for UPAL mafia. Or how KGB ex Uni Sovyet intelegent agency, try to recruit some Indonesian citizen include some journalist only to have access to enter Indonesian Foreign Affair.
Beli di airport Juanda waktu nunggu pesawat delay, beberapa tahun lalu. Sebagian besar data yang dipapar di sana memang terbilang amat lawas, masa awal-awal Orde Baru, masih kental kontestasi ala perang dinginnya. Dan boleh dibilang data-datanya sebagian besar merujuk pada data CIA yang udah di-disclosure.
Yah... tetap bacaan yang menarik untuk mengisi waktu luang ketimbang termanggu-manggu menunggu di bandara.
Akhirnya ada juga buku tentang intelejen Indonesia. Patut disyukuri karena masak kita lebih kenal Mossad, CIA, KGB dan lainnya dibandingkan milik kita sendiri. Tapi di buku ini kok kesannya KGB itu musuh dan CIA itu teman yak. Apa karena faktor kewarganegaraan penulisnya? :D
I'm not sure how informative the book really is if you are super into intelligence, but there were some rather funny stories about various Cold War spys working in Indonesia which makes it worth a read.
This is not the first book about Indonesian intelligence service, because the Memoar of Yoga Sugama was published earlier, but this is the first book to deal about this thoroughly.