Mana lebih sakit, ditinggal putus pacar setelah delapan tahun pacaran atau ditinggal rusak laptop setelah empat tahun berteman? Andare Putri Avanti ngalamin dua-duanya dalam satu bulan. Cuma beda dua hari.
Andare adalah salah satu dari 124 tokoh dalam buku kumpulan cerita ini. Ada juga kisah tentang ASih yang walau punya bibir sumbing, namun tetap pede ikutan lomba karaoke di kampungnya. Go ASih go!
Cinta, karakter lain lagi, nekat nyamperin artis yang namanya Rangga ke tempat pemotretan. "Mana Rangga? Mana Rangga yang nggak mau diwawancara?!"
Pun ada Tribuana Mentari, yang walau sebenarnya tahu apa yang dilakukannya melanggar aturan, tapi dia bodo amatan. Kadang manusia bisa jadi dewasa untuk masalah orang lain, tapi tidak untuk masalah sendiri. Karena itulah kita butuh teman yang mendengarkan.
Tulus Ciptadi Akib, sang pendongeng mida yang kadang-kadang 'sok tua' bilang, "Hidup manusia memiliki banyak sisi yang berwarna-warni. Kadang menyentuh, kadang menyentak, tetapi selalu familier." Seperti itulah karakter-karakter yang bermunculan dalam kumpulan cerita (sangat) pendek, yang ditulisnya dengan tulus.
Maka, jangan lupa berkenalan juga dan siap-siap jatuh sayang pada Mere Matdevi dan karakter-karakter lainnya. Siapa tahu, dengan mengenal mereka, kamu justru lebih mengenal dirimu sendiri.
Walaupun ini adalah kumpulan cerita pendek, ada satu kesamaan dalam temanya: cerita warna-warni dari kaum-kaum yang 'terpinggirkan' (orang yang ngarep terus, orang patah hati, orang miskin, lansia, anak perantauan, etc.).
Kadang manis, kadang getir. Cerita-ceritanya ditulis dengan jujur, menyentuh hati dan tidak pretensius. Membaca ini tidak membuat saya kasihan, malahan hormat dan salut terhadap kaum-kaum 'terpinggirkan' ini.
Buku ini cocok untuk semua orang, terutama orang-orang yang butuh harapan.
124 tokoh, beragam sudut pandang, satu benang merah: kehidupan. . . Perihal sakit hati, kesedihan, kebahagiaan sederhana, dan perjuangan hidup menjadi tema yang menghiasi buku bersampul manis ini. 124 tokoh yang disebutkan ditulis secara alfabet, dikenalkan secara singkat mengenai umur dan perawakannya, tetapi cukup dalam perihal naik turun kehidupannya. . Dimulai dari tokoh bernama Abi Lukas yang sedang menikmati waktu senja bersama istrinya. Lalu ada pula Asih yang sumbing bibirnya namun bersemangat mengikuti lomba karaoke supaya kelak bisa jadi penyanyi besar seperti idolanya, Ayu Ting Ting. Ada pula adik kecil bernama Dede yang kehilangan ibunda tersayang yang meninggal saat ke pasar membeli kue mangkok kesukaannya. Lain lagi cerita Ulin, petugas loket parkir di Mall Kelapa Gading yang kepincut sama salah satu pengunjung mal. Karakter favorit saya sih si Otto, joki 3 in 1 yang sangat periang walaupun mobil-mobil yang setiap hari ditumpanginya bukan miliknya sendiri. Buat apa pusing cuma karena gak punya mobil ya, To? . Buku ini teramat sederhana dan unik. Dengan hanya dituliskan dalam satu atau dua lembar saja, penokohan karakternya sudah cukup maksimal. Seperti sebuah perkenalan singkat ditambah dengan latar belakang kehidupan tiap tokoh. Mungkin seperti ini ya rasanya menjadi konsultan atau psikiater? Setiap hari selalu ada kemungkinan untuk bertemu dan mendengar permasalahan manusia yang berbeda-beda. . Mungkin, pesan yang ingin disampaikan penulisnya, Tulus Ciptadi Akib, adalah pembaca bisa lebih mengenal dirinya sendiri melalui beragam kehidupan dalam buku ini. Bahwa kita bukan seorang yang mengalami sedih, bahagia, kecewa, marah, dan frutrasi. Di sekeliling, banyak mereka yang berdarah-darah untuk tetap berdiri, tetap hidup, tetap ada. Sebelum semua menjadi tiada. ***
Penyajian cerita yang unik. 124 karakter yang berbeda di dalam 124 cerita pendek --sangat pendek yang berbeda. Dibuka dengan menyebutkan umur si karakter, dan berakhir dengan plot twist yang greget. Isinya nano-nano dan absurd. Ada yang bikin ngakak, sedih, baper, horor, ada pula yang agak hambar. Isi dan covernya lucuuu ijo tosca gitu. Ada beberapa gambar ilustrasinya pula. 4 stars in enough ya.
Kemajuan jaman berdampak dengan daya kreatifitas manusia. Salah satu contohnya buku ini. Buku ini saya temukan secara tidak sengaja, pemberian dari seorang editor penerbit yang menerbitkan buku ini. Untuk refrensi saya, katanya. Begitu saya melihat konsep yg dibuat sang penulis, saya terkesan dengan ide dan latar belakang ia menulis, hingga akhirnya dibukukan.
Jika kamu ingin membaca sebuah cerita dari berbagai sudut atau dengan berbagai macam trik layaknya novel, bukan buku ini yg kalian cari. Tapi setidaknya buku ini memberikan banyak warna, banyak genre, di dalamnya. Buku ini menyajikan kisah yang sering secara sadar kita tahu tapi dilupakan atau tersamarkan dengan lika-liku kehidupan sehari-hari, bahkan ada juga yang jarang kita perhatikan. Cerita yang disajikan tidak lebih dari dua halaman, bahkan ada pula yg hanya kurang dari setengah halaman.
Dan yang paling menarik perhatian saya adalah cara sang penulis memberikan judul dan membungkus cerita yang terdiri dari 123 cerita dengan cara yang menggelitik. Setiap judul diberi nama sesuai dengan toko utama yang mewakilkan kisahnya. Dan bukunya dikemas seperti buku telepon yg diawali oleh abjad namanya. Walaupun kisahnya saya sebut very short story, tapi tidak melupakan klimaks yang menjadi nyawa hingga bisa disebut sebuah cerita.
Salah satu kisahnya mengenai sudut pandang seorang anak yang berusia empat tahun terhadap keluarga heterogen atau dari lingkungan homoseksual. Atau kisah seorang gadis berusia 27 tahun yang harus meninggalkan Abangnya yang menjadi keluarga satu-satunya untuk memasuki hidup baru. Kisah misteri, kisah cinta usia remaja, kisah cinta usia tua, kisah cinta universal, bahkan kisah seorang anjing kampung. Warna-warni hidup dirangkum menjadi sebuah telepon yang apik oleh sang penulis.
* Kadang manusia bisa jadi dewasa untuk masalah orang lain, tapi tidak untuk masalah sendiri. * Tamu-tamu yang tidak sadar kalau mengenang kembali itu rasanya mengulang sakit. * Kangen boleh, menangis juga boleh, nak, tapi kalau sedih jangan. * Bus lainnya tiba. Kali ini penumpangnya lebih banyak. Capek-capke kerja lalu bayar pajak tapi masih harus desak-desakan.
Sesaat Mere Maktkadevi mengingatkan saya kepada Humans of New York. Sebuah proyek fotojurnalistik yang mengumpulkan foto penduduk kota New York dengan kisah hidup mereka sebagai caption. Singkat, hanya satu paragaf, tapi cukup menampar dan berhasil menunjukkan bahwa semua orang punya drama kehidupannya masing-masing. Dalam buku Mere Matkadevi tidak ada kumpulan foto selayaknya Humans of New York. Namun kepingan-kepingan kisah itu dikumpulkan dari 124 nama karakter.
Pada prinsipnya Mere Matkadevi ini adalah kumpulan cerpen. Namun dengan penampilan berbeda dari yang sudah-sudah. Cerpen dalam buku ini seperti memperkenalkan seorang tokoh satu persatu yang dirunut secara alfabetis. Diperkenalkan siapa namanya dan berapa usianya. Setelah itu plot dan rima kata akan bermain dengan cerdasnya.
Panjang satu cerita pada umumnya hanya terdiri dari satu halaman. Cerita paling panjang sebanyak lima halaman. Terlihat sederhana namun twist-nya selalu menendang di bagian akhir. Pengetahuan mendalam penulis tentang seorang karakter tidak dituangkan semua dalam tulisannya. Namun itulah yang membuat pembaca bisa merasakan kekuatan karakter-karakter dalam Mere Matkadevi. Kisah dan nama dari 124 karakter tersebut bisa jadi fiktif. Namun isu yang diangkat cukup mewakili problematika orang Indonesia sehingga terasa begitu dekat.
mungkin ada sekian puluh flashfiction di sini. yang unik, konsepnya memang. disusun berdasarkan nama dan karakter. kamu bakalan banyak menemukan karakter-karakter ini setiap harinya. atau mungkin salah satunya adalah kamu :))) ada beberapa cerita yang bikin saya berteriak asem tenan, buset dan bah! ;)) tapi tak kurang juga yang bikin saya bermuka lempeng karena ga berkesan. ada kesalahan yang terlalu fatal, yaitu nama-nama yang salah. :))) dem! tapi ga mengurangi kualitas cerita sih, meski ya mengganggu. banget. lah. makanya mustinya bisa bintang empat, tapi ini memang terlalu fatal. semacam apa ya editornya ga ngeh?
Read this since those super-petites stories were still posts on tumblr and fell for them ever since. They're so real, there're many times where I felt like they punched me right in the face. They shed my tears like a lot. I once sent a message to the writer, telling him how much I adore his stories and to keep on writing (hi, maybe you remember me?). Then I started working where I work right now then to call the writer back and publish those stories into a book was one of my missions. Turned out that I was late, this book has born already.
A bit disappointed that few stories I mark-as-faved didn't make it to the publisher. But anyway I gave my heart already to these stories, so 4 stars is.
dapat novel ini dari salah satu edisi LitBox-nya Ika Natassa. Baru mulai baca pagi ini dan selesai malam ini. hehehe.
page turner!!! baca kumpulan cerita (super) pendek ini serasa lagi duduk di suatu tempat ramai sambil melihat orang-orang yang lalu-lalang,memperhatikan mereka satu demi satu sambil berpikir ada cerita apa dibalik raut wajah mereka. cerita-ceritanya tidak bisa dibilang sempurna, pun masih bisa ditemukan sedikit kesalahan dan beda nama antara judul cerpen dan nama tokoh di dalam salah satu cerpennya. tapi cara berceritanya itu yang menurutku patut dikasih lima bintang.
such a light but (really) good read. ditunggu karya-karya berikutnya! :)
Penulisnya kebetulan adalah senior saya di kampus. Saya sudah mengikuti (beberapa) karakter-karakter ini sejak masih dalam berbentuk tulisan digital di tumblr. Terpesona sekaligus iri dengan deretan kata-katanya yang mengalir dan twist yang menyentil. Atau terkadang sekedar cerita pendek saja. I love watching people, this time more like reading people. :)
Karakter-karakternya yang sederhana dan bisa ditemukan di sekitar membuat saya familiar dengan cerita-cerita di dalamnya. Rasanya seperti ngobrol dengan tetangga, atau teman lama. Ceritanya pendek, tapi mengena.
"Kadang manusia bisa jadi dewasa untuk masalah orang lain, tapi tidak untuk masalah sendiri. Karena itulah kita butuh teman yang mendengarkan." -Tribuana Mentari (h.200)
Ah buku ini unik, serasa mengamati orang-orang yang berlalu-lalang di hadapanku sembari menunggu. Nice.
Belum pernah sebelumnya membaca buku yang seperti ini. Buku ini bercerita tentang 124 karakter yang memiliki latar belakang yang berbeda-beda. Ceritanya pun sangat heterogen, ada yang tentang cinta remaja, cinta di hari tua, masa kecil, sampai kehidupan seekor anjing. Karakter-karakter dalam buku ini disusun rapi sesuai abjad. Buku ini membuat saya sadar tentang seluk beluk kehidupan, bukan hanya manusia, tapi semua-mua makhluk Tuhan.