Jeihan yang kau sampaikan renung yang kutanyakan mata.
Begitulah serpihan puisi Taufiq Ismail pada cover belakang, yang barangkali mewakilkan isi buku yang berisi puisi dan lukisan wanita bermata bolong oleh Jeihan ini. Buku ini merupakan buku yang mengajak kita menziarahi jejak puisi Mbelling Jeihan. Jeihan meniupkan roh pada kata-kata, huruf, not, coretan juga tata letak yang tergolong tidak penting atau bahkan sampah oleh penulisan puisi pada umumnya. Kesinisan akan kehidupan, carut marut politik, dan sesuatu yang religius dihadirkan oleh Jeihan dari puisi yang terkesan bermain-main namun serat akan makna. Dari kelakar puisi Jeihan juga saya menjumpai keakrabannya dengan Remy Sylado (23761) dan dada Sutardji. Membaca karya Jeihan merupakan pengalaman estetis yang kelak tidak akan saya lupakan.
Kala Jeihan menatap dengan kata "Puisi itu mahluk seperti apa?" (Lihat saja karya Taufiq Ismail yang berjudul 'jeihan' pada backcover buku ini)
"Lalu, puisi mbeling?" (Silakan intip 'Pesan seorang Ibu kepada Putranya' karya Remy Sylado pada halaman 114)
Jeihan adalah pelukis yang kebilang pelit menggambar mata—paling tidak dari segi detail. Tetapi, selalu, jika mata adalah pintu jiwa, 'tatapan' lukisan-lukisannya serasa merenggut sukma, menggoda masuk ke kedalamannya.
Puisi-puisi mbeling Jeihan mungkin tidak se-'magis' karya lukisnya, toh tetap saja, betapapun 'asal' tampaknya, ada kedalaman yang hadir terasa, Misalnya:
Panggilan
NARKO TIKNO NARKOTIK NO!
Keluarga Berencana, 2
Ata Adi Aga
astaga anakku sudah tiga! biar saja
Atau, dua 'puisi transendental' yang jelas-jelas beda mood ini:
Nelayan
di tengah laut seorang nelayan berseru Tuhan bikin laut beta bikin perahu Tuhan bikin angin beta bikin layar
tiba-tiba perahunya terguling
akh, beta main-main Tuhan sungguh-sungguh!
Syukur dan Tafakur -pro: Kita
mari kita cuci diri kita dengan peluh sendiri di siang hari
dan mari kita basuh hati kita dengan air mata sendiri di malam hari
Jika Anda beruntung mendapatkan buku ini, mungkin ada baiknya langsung ke bagian inti terlebih dahulu (bab 'Mata mBeling'). Setelah itu baru bagian 'Sekapur Sirih' serta telaah oleh Soni Farid Maulana dan Jakob Sumardjo.