Jump to ratings and reviews
Rate this book

Mata Mbeling

Rate this book
History and criticism on puisi mbeling, the non-conventional Indonesian poetry.

148 pages, Paperback

First published January 1, 2000

2 people want to read

About the author

Jeihan

1 book

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
5 (33%)
4 stars
3 (20%)
3 stars
5 (33%)
2 stars
2 (13%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 2 of 2 reviews
Profile Image for Dire.
14 reviews2 followers
June 5, 2022
Jeihan
yang kau sampaikan renung
yang kutanyakan
mata.

Begitulah serpihan puisi Taufiq Ismail pada cover belakang, yang barangkali mewakilkan isi buku yang berisi puisi dan lukisan wanita bermata bolong oleh Jeihan ini. Buku ini merupakan buku yang mengajak kita menziarahi jejak puisi Mbelling Jeihan. Jeihan meniupkan roh pada kata-kata, huruf, not, coretan juga tata letak yang tergolong tidak penting atau bahkan sampah oleh penulisan puisi pada umumnya. Kesinisan akan kehidupan, carut marut politik, dan sesuatu yang religius dihadirkan oleh Jeihan dari puisi yang terkesan bermain-main namun serat akan makna. Dari kelakar puisi Jeihan juga saya menjumpai keakrabannya dengan Remy Sylado (23761) dan dada Sutardji. Membaca karya Jeihan merupakan pengalaman estetis yang kelak tidak akan saya lupakan.

MALAM

langit malam
bumi malam
laut malam

tiba-tiba
terbakar
leleh!

-Jeihan
Profile Image for Tomi Pakei.
54 reviews2 followers
July 31, 2013
Kala Jeihan menatap dengan kata
"Puisi itu mahluk seperti apa?" (Lihat saja karya Taufiq Ismail yang berjudul 'jeihan' pada backcover buku ini)

"Lalu, puisi mbeling?" (Silakan intip 'Pesan seorang Ibu kepada Putranya' karya Remy Sylado pada halaman 114)

Jeihan adalah pelukis yang kebilang pelit menggambar mata—paling tidak dari segi detail. Tetapi, selalu, jika mata adalah pintu jiwa, 'tatapan' lukisan-lukisannya serasa merenggut sukma, menggoda masuk ke kedalamannya.

Puisi-puisi mbeling Jeihan mungkin tidak se-'magis' karya lukisnya, toh tetap saja, betapapun 'asal' tampaknya, ada kedalaman yang hadir terasa, Misalnya:

Panggilan

NARKO
TIKNO
NARKOTIK
NO!


Keluarga Berencana, 2

Ata
Adi
Aga

astaga
anakku sudah tiga!
biar saja


Atau, dua 'puisi transendental' yang jelas-jelas beda mood ini:

Nelayan

di tengah laut
seorang nelayan berseru
Tuhan bikin laut
beta bikin perahu
Tuhan bikin angin
beta bikin layar

tiba-tiba perahunya terguling

akh,
beta main-main
Tuhan sungguh-sungguh!


Syukur dan Tafakur
-pro: Kita

mari kita cuci
diri kita dengan
peluh sendiri
di siang hari

dan
mari kita basuh
hati kita dengan
air mata sendiri
di malam hari

Jika Anda beruntung mendapatkan buku ini, mungkin ada baiknya langsung ke bagian inti terlebih dahulu (bab 'Mata mBeling'). Setelah itu baru bagian 'Sekapur Sirih' serta telaah oleh Soni Farid Maulana dan Jakob Sumardjo.


Displaying 1 - 2 of 2 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.