Seorang wartawan New York Times datang mencariku. Dia ingin menulis cerita tentangku dan Sooin, dengan headline "Harvard in Love Story" seperti Jennifer dan Oliver dalam novel Love Story karangan Erich Segal.
***
Hyunwoo dan Sooin bertemu secara tak sengaja di sebuah motel. Walaupun diwarnai kesalahpahaman, Hyunwoo merasa ada sesuatu yang menarik dari Sooin. Dia terkejut saat tahu bahwa Sooin mahasiswa Universitas Harvard sama seperti dirinya. Benih-benih cinta mulai tumbuh seiring seringnya mereka berdua bertemu. Namun, menjalin hubungan bukanlah sesuatu yang mudah. Ada pihak-pihak yang tidak rela Hyunwoo dan Sooin bersama.
Untuk dapat bersama Sooin, Hyunwoo harus bertengkar hebat dengan kakeknya yang telah menjodohkan Hyunwoo dengan orang lain. Dia harus bersitegang dengan pemuda yang menyukai Sooin, dan dia juga harus menyakiti perasaan gadis yang sejak kecil sudah dia anggap sebagai adik sendiri. Puncaknya, Hyunwoo dihadapkan pada pilihan yang sulit ketika Sooin bersikeras untuk pergi menjadi sukarelawan di Amerika Latin. Dapatkah mereka tetap bahagia dan saling mencinta meski tak bersama?
Menyedihkan, membuat siapapun yang membaca meneteskan air mata.. Mirip cerita drama korea lainnya.. walaupun mereka menikah tetapi di akhir cerita mereka terpisahkan oleh dunia yang berbeda...
Dikisahkan Hyunwo, seorang lelaki kaya dan pintar dari Korea Selatan melakukan perjalanan untuk kuliah di Harvard bagian hukum seperti halnya keluarganya yang lain. Ayah Hyunwo seorang pengacara handal dan terkenal di Korea, begitu pula paman dan bibinya juga bekerja dibidang hukum, apalagi kakeknya merupakan hakim Agung, yang namanya sudah terkenal sampai Boston.
Kisah cinta ini, dimulai dari pertemuan tidak sengaja, waktu tiba di hari pertama tiba di hotel, maklum kos Hyunwo baru akan siap keesokan harinya. Kesalah pahaman mewarnai pertemuan itu, begitu juga beberapa hari berikutnya. Sooin, gadis cantik yang imigrasi ke Amerika dengan ayahnya sejak usia 9 tahun, dia merupakan mahasiswa kedokteran tingkat 3 di Harvard.Tanpa sengaja Sooin masuk ke kamar Hyunwo saat dia baru selepas mandi, kemudian melihat Sooin berjalan dengan lelaki tua di depan hotel. Di hari berikutnya Hyunwo melihat Sooin di kamar Profesor Oh Yungjee, mereka berdua berhadapan dan Profesor Oh sedang melepas kancing bajunya di depan Sooin. Siangnya, saat Hyunwo penasaran dan mengikuti Sooin sampai ke kedai minum, Hyunwo melihat diberi sejumlah uang oleh lelaki di kedai itu. Kesalahpahaman muncul, Hyunwo menganggap Sooin bukan wanita baik, dia menghibur banyak laki-laki.
Kebenaran terbuka dihadapan Hyunwo, walau Sooin dari keluarga tidak mampu, tetapi dia sekolah kedokteran di Harvard dengan nilai selalu memuaskan. Untuk mahasiswa lain mungkin semua waktu banyak dihabiskan di perpustakaan, tetapi Sooin masih bisa kerja paruh waktu di kedai minum, kerja sosial dengan penderita AIDS, Charlotte dan Brat yang akhirnya meninggal, juga Sooin menyempatkan sebagai perawat penjaga untuk Profesor Oh.
Tidak hanya Hyunwo yang mencintai Sooin, masih ada Jungmin yang juga mencintainya. Jungmin juga sekolah hukum di Harvard. Jungmin dan Hyunwo tidak hanya bersaing tentang cinta, juga sekolahnya, terutama kuliah yang dipimpin profesor Keynes, dosen paling ditakuti di fakultas hukum Harvard. John Ford teman mereka karena ketakutannya sering sakit perut. Mereka berdua bersaing di uji coba pengadilan untuk kasus banding seorang perempuan kulit hitam yang meninggal sehabis minum wiski karena dia dituduh telah mencuri barang elektronik. Kasus banding tersebut susah payah dimenangkan oleh Hyunwo. Di akhir tahun, tiga lulusan terbaik adalah Hyundai, Jungmin dan John Ford.
Jungmin menyimpan dendam kepada Hyunwo karena ayahnya meninggal bunuh diri karena perusahaannya bangkrut, oleh perusahaan lain, tetapi saat di pengadilan kalah, karena pengacara yang dipilih lawan lebih bagus, pengacara tersebut adalah ayah Hyunwo.
Kisah cinta Hyunwo terhalang banyak hal, dia sejak kecil dijodohkan dengan Selagi, keponakan profesor Oh oleh kakeknya Hakim Kim. Tidak hanya itu Sooin juga sakit parah tanpa dia sadari, ALS (Anggraeni Lateral Sirosis), suatu penyakit motorik, dengan gejala pusing, mata berkurang, sembelit, persendian kaku yang kelamaan menjadi lumpuh, tetapi masih tersadar dan kelamaan meninggal.
Sooin berencana kerja sosial di negara lain, tetapi Hyunwo menghentikan niatnya, dia akan selalu berada di sampingnya, bahkan setelah menikahpun, dan kondisi Sooin memburuk, Hyunwo masih bisa berkata. Aku merasa tidak pernah menjaga Soon, tetapi dia yang selalu menjagaku...
Selain kepedihan yang dialami Hyunwo, semua mendapat kebahagiaan, Jungmin menikah dengan anak pengacara Yu tempat dia bekerja, sedangkan Seulgi, perempuan yang dijodohkan dengan Hyunwo akhirnya menambatkan hatinya ke John Ford.
Sebenarnya 3.5 bintang, tapi yah, lama deh kalo mau nunggu Goodreads mengadakan fitur half-star. :D
Udah lama banget nggak baca novel terjemahan Korea. Novel ini menghasilkan sensasi yang sama seperti novel-novel terjemahan Korea lain (khususnya terbitan Qanita) yang saya baca. :)
Rasanya kayak nonton drama Korea, haha. (sayang, walaupun saya belum nonton drama Love Story in Harvard ini, sepertinya cerita drama dan novelnya memiliki perbedaan yang cukup signifikan. #fyuh)
Saya suka novel ini karena:
1. Akademis! Oke, saya bukan mahasiswi Hukum, tapi saya suka banget adegan-adegan kuliah, persidangan uji coba, dan berbagai istilah serta kasus Hukum di sini, karena menjadikan novel ini "berisi"--bukan cuma cerita cinta kacangan doang.
2. Setting-nya di Harvard. Saya memang lebih memimpikan kuliah di Oxford daripada Harvard, tapi begitu membaca novel ini, Harvard terasa keren. Apalagi setting-nya terasa begitu riil.
3. Bahasanya. Seperti khasnya novel terjemahan Korea, bahasanya "novel terjemahan Korea banget". Banyak dialog, sering kali tidak dikasih tahu yang ngomong siapa tapi pembaca ngerti. Terus, walaupun deskripsinya kurang detail sehingga banyak adegan dramatis yang jadi kurang dramatis, saya tetap suka gaya penceritaannya yang ngalir, ringan, enak diikuti.
4. Sampulnya. Dari pertama kali ngeliat pun udah suka; manis sekali. :) Kover novel terjemahan Korea Qanita memang bagus-bagus. :)
5. Jalan ceritanya. Terjalin ala drama banget, dan kebetulan saya memang suka hubungan-hubungan njelimet antarkarakter, haha. Tapi jadi seru diikutinnya; adegannya sepotong-sepotong tapi semuanya memiliki makna: wah ternyata begini, ternyata begitu; eh tadi kan dia udah ketemu dia di sini, tadi kan mereka udah ketemu di situ. Karena pakai POV pengarang serbatahu, jadi pembaca bisa melihat berbagai adegan, mengikuti keping demi keping puzzle itu ditemukan dan perlahan-lahan ditaruh di tempatnya. It was fun. ;)
6. Sebagian besar setting novel ini di Perpustakaan Harvard, ahahahay~
Dan yang saya kurang suka:
1. Endingnyaaa. Astagah, bagai langit dan bumi sama dramanya (hasil browsing; belum nonton sendiri). T_T Jadi sedih. Yes I'm sad ... wo nan guo. #salahbahasa
2. Terus ... sensornya? =)) Sebagai orang yang juga pernah freelance menyunting novel terjemahan Korea, saya tahu memang banyak yang mesti disensor dari novel-novel ini. :p Tapi terkadang sensor itu terasa mengganggu, karena jadi ngilangin bagian yang kayaknya seru, hahaha~ #plak
3. Agak risih dengan penulisan nama Korea yang cuma dijadikan satu kata. Mungkin karena saya terbiasa membaca novel terjemahan Korea yang namanya dua kata, ya--Hae Yong, Jung Min, Hye Chan, Han Gyeol--makanya jadi aneh ngeliat nama Hyunwoo, Sooin, Seulgi dll ditulis dengan cara digabung.
4. Sudah saya sebutkan tentang kurang deskripsi, kan? Jadinya pembaca kurang bisa membayangkan dengan detail, terutama mengenai tampilan fisik karakter. Tapi bisa dimaklumi, soalnya sebagian besar novel terjemahan Korea yang saya baca emang begitu.
5. (Ini bukan kekurangan bukunya sih, tapi pengin saya tulis aja ....) Cuplikan foto dari drama yang ada di bagian dalam kover bikin saya rada sebel, karena pemeran Hyunwoo, Jungmin dan Sooin yang ada di situ agak merusak imej mereka yang saya bayangkan .... -_-;;
Mungkin begitu aja. Secara umum saya suka novel ini; menyenangkan sekali membacanya. :)
Life is about choice. To love is also a choice. When you have to face many obstacles just to love someone, will you give up or will you keep going forward, even though the future is still not known? Maybe you'll have the happy ending you always hope to have, or maybe you won't.
Love Story in Harvard has already made into a drama, but I haven't watched it. Still, the book gives me a nice reading experience. I feel like I'm drawn into the everyday life of Hyunwoo and Sooin--their struggles to live in a country far away from their hometown, their effort to cope with the different lifestyle, and their dream of success. This story has so much emotions in it; they drown my heart.
" Sakit pun aku tetap akan mencintaimu. Sulit pun aku tetap akan mencintaimu. Selama aku tetap akan mencintaimu. Tanpa bicara pun, aku sudah tahu. Sinar mata kita saat kita bertatapan dengan jelas mengungkapkannya."
Hyunwoo adalah salah satu mahasiswa baru di Universitas Harvard jurusan Hukum, tipe cowok yang akan kembali ke negaranya setelah menuntut ilmu dan memajukan kehidupan negaranya. Hyunwoo juga berasal dari keluarga yang sadar akan hukum; ayahnya pengacara terkenal di Korea dan kakeknya seorang jaksa membuatnya memiliki akses yang luas dalam bidang hukum. Pertemuannya dengan Sooin berawal dari sebuah kesalahpahaman--ia selalu bertemu dengan Sooin dalam situasi yang aneh, ya maksudnya kalau dijelaskan lebih lanjut terlihat kalau cewek bernama Sooin ini seperti pelacur. Namun, karena ada sebuah tugas tentang analisis hukum rumah sakit ia dikenalkan oleh gadis yang mengaku menyukainya dari dulu yaitu, Jina. Jina mengenalkan Hyunwoo dengan Sooin dan memperkenalkannya sebagai senior di fakultasnya. Hingga saat itulah ia tahu bahwa Sooin merupakan mahasiswi cerdas jurusan Kedokteran. Pertemuan keduanya pun berlanjut menjadi sebuah hubungan lebih dari sekedar 'rekan membantu tugas'.
Akan tetapi hubungan mereka tidak bisa dibilang lancar dan mudah, pertentangan pihak-pihak di sekitar mereka yang membuat hubungan terasa sulit. Rival Hyunwoo di fakultas Hukum, Jungmin pun ternyata menyukai Sooin--ya, semacam cinta segitiga. Sementara sang kakek yang diam-diam telah menjodohkan Hyunwoo dengan gadis lain, belum lagi masalah Jina yang sudah menyukai Hyunwoo sejak lama dan sudah ia anggap sebagai adik perempuannya sendiri. Dan masalah belum selesai, ternyata Sooin menderita penyakit yang langka yang memungkinkannya tidak dapat hidup lebih lama lagi. Diam-diam, Sooin mulai menjauhi Hyunwoo dan bahkan pergi ke Amerika Latin demi mengejar impiannya sebagai sukarelawan. Lantas, apakah Hyunwoo dan Sooin ini dapat bersama dan hidup bahagia?
*
Love story in Harvard ini gue temuin secara ngga sengaja di toko buku langganan, ya apalagi selain karena judulnya yang sangat familiar di mata gue. Lebih dulu sih tentu aja nonton dramanya yang walau sudah lupa sebagian besar -_- seri Ksarang terbitan Qanita hampir selalu gue beli, selain karena ceritanya yang berbobot dan nggak sekedar asal nerjemahin karena akhir-akhir ini booming tentang ko-Korea-an juga karena terjemahan mereka bagus dan mengalir. Penggunaan unsur-unsur partikel Bahasa dalam terjemahannya membuat bahasa terjemahan dari Korea ke Bahasa terasa begitu mengalir. Walaupun sebenarnya, gue masih kurang puas sama cerita ini--karena seperti biasa drama vs novel selalu ada perbedaan dan menurut gue versi novelnya terlalu singkat T_T
DAN gue sebel banget sama di bagian akhirnya, ya surat dari Hyunwoo ke Jungmin; yang ternyata dari rival cewek dan akademik pun bisa menjadi temen bahkan sahabat. Karena surat yang ditulis Hyunwoo ke Jungmin sukses bikin banjir air mata T_T
sebenarnya kisah ini sama dengan kisah cinta picisan ala love story - love storry yang lain... (pertemuan tak sengaja, kesalahpahaman, su'udhon, ga bisa berhenti mikirin si cewek karena meskipun setiap bertemu bertengkar bayang wajahnya selalu menari-nari di ingatan, saling jatuh cinta, si cewek sakit keras yang tak dapat disembuhkan, tapi anehnya kenapa sempat-sempatnya ia sembunyikan, dan si cowok yang berjuang untuk mempertahankan cinta mereka). kisah yang paling populer dari karya sejenis adalah A Walk to Remmembernya Nicholas Spark atau seperti yang disebutkan di buku ini, Love Story-nya Erich Segal. tapi ya.... karena settingnya di Harvard, tempat anak berotak Einstein kuliah di negeri ini, maka jadinya punya nilai tambah. :) hehehehe... well, added value yang lain ya karena gaya menulisnya bagus, enak dan lancar dibaca, komikal... (atau K-Dorama ya?) jadi bikin ga bosen ngebacanya. itu aja sih menurutku.