"Lha lucu to Mas, masak setua ini masih disuruh menari? Nanti turis-turis pada lari."
"Seniwati itu tidak ada hari tua, Jeng. Selama jasmani masih kuat dan pikiran masih jalan, ia masih bisa berkarya. Usia Jeng Ruti itu kan masih belum setengah abad."
Maruti termangu. Ia hanyalah seorang penari lulusan sekolah tari, setingkat sekolah lanjutan atas yang tidak mampu meneruskan ke Akademi Tari karena tidak punya biaya. Dirinya kini hanyalah tukang pijat dari satu hotel ke hotel lainnya. Dari satu losmen ke losmen lainnya. Demi menghidupi kedua anaknya.
****
Memilih bercerai dengan suami yang materialistis dan hedonis rupanya tidak selamanya mendatangkan kedamaian bagi Maruti. Belenggu kini menanti untuk kembali menjerat hidupnya.
Pria kelahiran Jawa Timur ini dikenal sebagai penulis produktif. Setelah kuliah di Fak. Filsafat UGM, ia lalu berkecimpung di dunia jurnalistik dan penulisan hingga hari ini. Selama 20 tahun bekerja sebagai wartawan Kedaulatan Rakyat, dengan posisi terakhir Redaktur Pelaksana. Juga pernah menjadi staff desain produksi dan penulis skenario sinetron PT.Gatracipta Dwipantara dan Gagas Cipta Artivisual, Yogyakarta, redaktur opini dan budaya Yogya Post, serta editor/ penulis penerbit Navila dan Gitanagari.
Judul: Maruti: Jerit Hati Seorang Penari Penulis: Achmad Munif Penerbit: Narasi Halaman: 276 halaman Terbitan: Agustus 2005
Maruti, seorang ibu dua anak, penari, tukang pijat, sekaligus ibu asuh bagi anak-anak di rumah singgah yang dia kelola. Hidupnya penuh dengan lika-liku. Mulai dari kemiskinan, perceraiannya dengan suami yang materialistis, sampai masalah-masalah yang dialami anak-anaknya.
Taufik, anak laki-laki Maruti. Mahasiswa miskin yang pintar dan gila kerja. Dia merasa tidak layak ketika Grace, si mahasiswi cantik dan kaya, menyatakan cinta padanya. Tanpa dia sadari, ada sesuatu yang jauh lebih rumit antara dirinya dan Grace.
Fatim, anak gadis Maruti. Murid SMA yang rupawan dan cerdas. Ketika Zul yang tampan jatuh hati padanya, ada orang-orang yang dengki dan ingin mencelakakannya.
Sumi, salah satu anak asuh Maruti. Kembang yang sedang mekar dan menarik banyak kumbang ke arahnya. Tapi ketika salah satu kumbang itu adalah orang yang dulu pernah mau mencelakakan Maruti, apakah tindakan yang akan Maruti ambil?
Review
Membaca riwayat penulisnya, saya berdecak kagum. Di sana tertera beragam karya yang pernah dia terbitkan. Karya-karyanya bahkan ada yang dibeli oleh Depdiknas untuk disebarkan gratis di sekolah-sekolah. Berarti bisa dibilang, penulisnya sudah tidak perlu diragukan lagi kemampuannya.
Dan Goodreads, ya, saya memang sedang membicarakan penulisnya. Tapi dalam skala yang positif, jadi jangan hapus review ini.
Oke?
OKE?
Lanjut.
Novel ini sebenarnya dibuka dengan cukup baik. Saya cukup suka dengan Maruti. Tokoh perempuan yang tegar dan menjalani hidup bukan hanya berfokus pada dirinya sendiri. Bahkan dalam kemiskinannya, dia masih mampu mengelola rumah singgah bagi anak-anak terlantar.
Cerita di bagian awalnya juga berjalan dengan baik. Sayangnya hal ini tidak bertahan hingga akhir.
Saya mulai mengerutkan kening sejak masuk ke bagian Taufik. Drama ala remaja ditambah dengan dialog yang agak aneh langsung membuat saya kurang suka.
Hanya saja twist di tengah ceritanya berhasil menaikkan kembali semangat membaca saya... yang langsung kembali dijatuhkan dengan bagian Fatim.
Dari 4 plot yang saya tulis di bagian pertama review ini, menurut saya, bagiannya Fatim yang paling terasa gak penting. Plotnya terasa teenlit, bukan, sinetroniyah banget.
Cewek SMA miskin tapi cakep dan pintar, disukai oleh seorang cowok cakep di sekolahnya. Ada geng cewek kaya yang pemimpinnya suka sama si cowok. Si cewek kaya dengki bin iri sama si cewek miskin tapi cakep dan pintar. Akhirnya si cewek kaya menghalalkan segala cara untuk merebut si cowok, bahkan dengan menggunakan kekerasan.
Gak penting. Pakai banget.
Bagian ini terasa buang-buang halaman. Padahal harusnya bisa dipakai untuk mempertajam 3 konflik lainnya (khususnya bagian Maruti dan Sumi) yang lebih menarik.
Bagian plot Sumi lebih menarik ketimbang Fatim. Soalnya bagian ini menyinggung soal perdagangan perempuan dan ada hubungan yang kuat antara Sumi, Maruti, dan lelaki yang mengincar Sumi. Sayangnya karena bagian halamannya keambil sama Fatim, akhir ceritanya jadi terasa keburu-buru.
Ya, buku ini sebenarnya antara 1 dan 2 bintang. Hanya saja banyaknya typo dan karena ada bagian yang cetakannya hilang di salah satu halaman, saya memutuskan untuk memberi hanya 1 bintang.