Banyak orang mengaku kenal dekat dengan Pramoedya Ananta Toer dan punya pengalaman pribadi dengan sosok ini. Tapi, tidak semua di antara mereka mencatat dengan rapi dan membukukan pengalaman mereka. Tak heran bila kisah-kisah seputar kehidupan pribadi Pramoedya tersebar mirip gosip ketimbang berita. Tapi ada seorang yang kenal Pramoedya dari dekat sekali dan mencatatnya dengan rapi, ialah Koesalah Soebagyo Toer, adik kandung Pramoedya. Buku ini diterbitkan, tulis Koesalah, .. sebagai pernyataan tanggungjawab saya terhadap pembaca karya-karya Mas Pram, terhadap khalayak Indonesia khususnya, dan dunia umumnya. Saya catat semua ini sebagai kenyataan, bahwa di samping semua yang sudah pernah ataupun sedang ditulis mengenai Mas Pram, masih ada hal-hal lain yang harus dikemukakan. Saya merasa, sayalah yang harus mengemukakan hal-hal ini, karena sayalah keranjang sampah Mas Pram untuk hal-hal yang tidak dapat, tidak tepat, atau tidak pantas dikemukakannya kepada orang lain. Dengan demikian orang dapat memahami Mas Pram sebagai sosok yang nyata, bukan manusia di angan-angan atau lamunan.
Koesalah Soebagyo Toer, lahir di Blora, Jawa Tengah, 27 Januari 1935. Setamat SMP di Blora beliau meneruskan pendidikan di Taman Dewasa dan Taman Madya, Kemayoran, Jakarta, dan Jurusan Bahasa Inggris Fakultas Sastra UI (tidak tamat). Pada 1960-1965 beliau belajar di Fakultas Sejarah dan Filologi Univ Persahabatan Banga-bangsa, Moskwa.
Pada 1965-1967 dia menjadi dosen bahasa Rusia di Akademi Bahasa Asing (ABA) Kementerian Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan (PPK). Pada 1968-1978 menjadi tahanan politik Pemerintah Orde Baru.
Sekarang berprofesi sebagai penerjemah bahasa Inggris, Belanda, Rusia, dan Jawa. Buku-buku yang diterjemahlan antara lain: Jiwa Jiwa Mati (Nikolai Gogol), Anna Karenina (Leo Tolstoi), Musashi (Eiji Yoshikawa), Perdagangan Awal Indonesia (O.W. Wolters), Menjinakkan Sang Kuli (Jan Breman), serta sekumpulan serpen Anton Chekov, Pengakuan (KPG, 2004). Beliau menulis buku Kampus Kabelnaya: Menjadi Mahasiswa di Uni Soviet (KPG, 2003). dan bersama Pramoedya Ananta Toer serta Ediati Kamil menyusun buku Kronik Revolusi Indonesia, yang juga diterbitkan oleh KPG . Buku yang disuntingnya antara lain, Pergaulan Orang Buangan di Boven Digoel karya Mas Marco Kartodikromo (KPG 2002).
Selain menerjemahkan buku, sekarang aktif menulis artikel tentang masalah-masalah bahasa, Sejarah, foklor, dan sedang menyusun kronik-kronik lain serta ensiklopedi sejarah Indonesia dan ensiklopedi foklor Jawa.
Selalu menyenangkan membaca memoar kenangan tentang seseorang, banyaknya informasi-informasi yang bersifat privat nan personal menjadi kekuatan buku ini. Informasi yang hanya bisa didapat dari orang terdekat inilah yang menguntungkan pembaca, tanpa harus mengalami hal tersebut namun sudah merasa dekat dengan sosok yang dibicarakan.
Dalam setiap memoar kenangan terhadap seseorang, sisi emosional sangatlah berperan penting untuk membangun imajinasi rekaan pembaca terhadap apa yang dibicarakan. Pak Koesalah menulis itu dengan sangat natural, semuanya dibuat sealamiah mungkin, yang menjadikan buku ini terasa sangat mengalir dengan kronologis yang sangat detail.
Judulnya sangat tepat! Pram dari dekat sekali.. karena di buku ini, kita akan menemui kontraproduktif dari apa yang selama ini kita dengar dari media mengenai sosok Pram. Buku ini membuat kita merasa lebih dekat dengan Pram secara pribadi. Pram memang sangat membumi dan 'humoris'..
Ada satu fakta yang selalu saya ingat.. Saat adiknya bertanya, kapan dan bagaimana dia mengawali hobinya menulis. Pram bilang, sejak kecil, karena ia tak terbiasa atau tidak dididik untuk jadi orang yang ekspresif secara verbal, maka ia terbiasa menumpahkan uneg-unegnya lewat tulisan. Lalu ia juga bercerita, pertama kali mengirim tulisannya ke penerbit saat ia berusia 12 tahun.
Judul manuskrip yang ia kirimkan itu kurang lebih : Kumpulan Khasiat Tanaman dan Ramuan Tradisional.
Buku yang ditulis oleh adik kandung Mas Moek, begitu panggilan keluarga besar Pramoedya memanggilnya, sangat jelas dan rinci menggambarkan sosok Pramoedya sebagai seorang manusia, diluar perannya sebagai penulis. Banyak informasi-informasi kecil namun menginspirasi mengenai hidup Pram yang saya dapat dari catatan-catatan di buku ini. Salah satunya kebiasaan Pram membuat kompilasi materi tentang apapun, tidak hanya sastra, dengan membuat klipingnya. Saya sangat kagum dengan catatan-catatan Koesalah ini yang sangat rinci mengenai hal-hal remeh sekalipun, tentunya ia mencatat segala momen-momen tersebut sehingga dapat diterbitkan menjadi sebuah buku ini.
gaada yang begitu istimewa, sekedar menampilkan sosok pramoedya dari kacamata keluarga. bikin gw jadi sadar seorang pramoedya ananta toer juga hanyalah bapak bapak ibukota tempo dulu pada umumnya. senang menyibukkan diri, gemar mengeluh dan sesekali berkelakar. ohya, merokok juga tentunya.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Pramoedya Ananta Toer, maestro sastra Indonesia telah berpulang di usianya yang ke 81. Sepanjang hidupnya nama dan kiprah-kiprahnya selalu menarik perhatian orang. Namanya semakin berkibar semenjak bebasnya Pram dari pulau Buru, apalagi setelah terbit karya monumentalnya Bumi Manusia (1980). Beberapa saat setelah bukunya beredar pemerintah segera melarang peredarannya. Setiap tulisannya dianggap berbahaya dan karya-karyanya harus dimusnahkan agar tak terbaca oleh siapapun. Namanya dihapus dari sejarah sastra nasional. Lain sikap pemerintah, lain pula sikap pembacanya. Bukunya tetap dibaca secara sembunyi-sembunyi dan menjadi buku yang wajib dibaca oleh para aktivis mahasiswa . Namanya dijadikan ikon perlawanan bagi mereka yang tertindas dan tak puas dengan keadaan negeri ini. Setelah era reformasi bergulir dan karya-karyanya diterbitkan ulang, nama Pram semakin melambung tinggi. Setiap kiprahnya selalu menarik perhatian orang, belum lagi ditambah dengan sejumlah penghargaan dari luar negeri yang terus menerus mengalir diberikan padanya. Setiap tahun namanya selalu dikait-kaitkan dengan anugerah Nobel Sastra. Berbagai media berlomba menyajikan berita dan wawancara mengenai dirinya. Hampir semua berkisar mengenai karya-karyanya, sikap politiknya, pandangan-pandangannya terhadap kondisi poilitik, sosial, dll.
Berbagai buku tentangnya telah ditulis, namun tak satupun menyentuh kehidupan pribadinya. Kehidupan pribadinya tenggelam dalam kebesaran namanya. Kini beberapa bulan setelah wafatanya, barulah muncul sebuah buku yang mencoba menghadirkan sosok Pram yang apa adanya dari kacamata Koesalah Soebagyo Toer selaku adik kandungnya yang memiliki hubungan yang paling dekat dengannya.
Buku yang ditulis oleh Koesalah ST ini merupakan catatan pribadinya mengenai persinggungannya dengan Pramoedya yang ia tulis dari tahun 1981 hingga 20 April 2006, sepuluh hari sebelum wafatnya Pram. Karena merupakan catatan pribadi, setiap catatannya bersifat personal, ada yang pendek (1/2 halaman) hingga yang panjang (5-6 halaman).
Dalam buku ini Koesalah menyajikan 75 catatan hariannya yang dibagi dalam 3 bagian besar yang dipilah berdasarkan urutan waktu ditulisnya catatan-catatan tersebut. Bagian Pertama (1981-1986), Bagian Kedua (1987-1992), dan bagian Ketiga (1992-2006). Seperti yang menjadi harapan pembacanya, buku ini banyak sekali memuat sisi-sisi menarik dari aktifitas kehidupan Pram sehari-hari baik yang menyangkut perannya sebagai penulis dan dokumentator maupun perannya sebagai kepala rumah tangga yang belum pernah terungkap selama ini.
Dalam hal Pram dan pekerjaannya, misalnya akan terungkap bagaimana gembiranya Pram ketika baru saja memperoleh dokumen yang berisi tulisan Soekarno kepada seorang bernama J.E. Stokvis di tahun 1931. Ternyata dalam dokumen tersebut terdapat pula surat-surat Dr. Tjipto, MH Thamrin yang sangat berharga bagi pengungkapan sejarah Indonesia yang pastinya tidak dipunyai oleh orang Indonesia manapun juga (hal 7). Karena itulah bagi Pram penemuan ini sangat menggembirakan hatinya seperti yang dicatat oleh Koesalah sbb : "Ini betul-betul bonanza! Kalau nanti kuumumkan semua pasti baca!". "Kalau bukti ini ada, bakal geger semuanya!" (hal 8)
Uniknya catatan harian ini tidak hanya berkisah mengenai keadaan Pram dimasa ketika catatan ini ditulis, melainkan merambah kemasa lalu Pram baik ketika masa kecilnya, masa revolusi kemerdekaan hingga masa-masa ketika Pram dalam tahanan.
Dimasa kecilnya, sebagai anak tertua, ternyata,Pram kerap membacakan dongeng bagi adik-adiknya yang ia dapatkan dari sebuah buku tebal dengan huruf Jawa, antara lain tentang dua ekor nyamuk yang masing-masing bernama Klentreng dan Gothang, lalu ada pula dongeng karyanya tentang kancil blangkonan (hal 128).
Siapa sangka di masa mudanya saat berada dalam penjara Bukitduri, Pram pernah berniat untuk bunuh diri ?. Hal ini terungkap di catatan harian Koesalah yang diberi judul Mas Pram dan Mati (hal 177). Menurut kisahnya yang dituturkan pada Koesalah saat itu Pram yang sedang dalam tahanan Belanda putusasa karena energinya yang begitu besar-membludak- tak tersalurkan karena tidak bisa berbuat apa-apa . Ia berniat melakukan ‘patiraga’ (mematikan raga). Hampir saja nyawanya lenyap. "Dan tiba-tiba kelihatan di mukaku, di atas sana, bangunan gedung Yunani dengan pilar-pilarnya yang besar, dan di atasnya atap segitiga itu. Di atas atap itu bersinar cahaya terang benderang melalap tubuhku…"Tiba-tiba…duarrr! Terdengar ledakan yang keras sekali. Begitu keras! Sampai sekujur tubuhku menggigil. Lalu nyawaku kembali… "(hal 178)
Pengalaman mencoba menghabisi nyawanya itu membuat Pram yakin bahwa jika belum waktunya mati, ia tak akan mati "Kalau mau mati, dari dulu-dulu aku sudah mati," katanya. "Buatku, mati itu bukan apa-apa. Aku nggak takut mati. Menghadapi pemerintah ini juga aku nggak takut." (hal 180)
Penglihatan Pram saat akan melakukan patiraga mungkin merupakansalah satu pengalaman adikodrati yang dialaminya, lalu bagaimana dengan kehidupan religiusnya? Hal ini mungkin yang paling jarang terungkap selama ini, dalam catatan hariannya yang berjudul Mas Pram dan Doa (hal 210), Koesalah mencatat bahwa ia pernah melihat Pram sembahyang sewaktu sama-sama ditahan di penjara Salemba ada tahun 1969. Dan ketika ditanya apakah Pram pernah mengaji ? Pram menjawab dengan mantap bahwa waktu kecil ia mengaji walau belum sempat katam.
Salah satu kegemaran Pram selepas dari P. Buru adalah kebiasaannya membakar sampah, Koesalah mencatat bahwa Pram setiap hari membakar sampah. Tepat di rumahnya di Jl. Multikarya – Utan Kayu, ada rumah yang telah ditinggalkan penghuninya hingga rumah tersebut menjadi bobrok. Di situlah surga bagi Mas Pram. Tiap hari ia "bekerja" di tempat sampah…Ia tampak bahagia apabila sampah sudah mengonggok dan api melalapnya. (hal 225). Selepas membakar sampah Pram tak pulang dengan tangan kosong, terkadang ia membawa pecahan-pecahan keramik, di rumahnya pecahan keramik itu ia "lukis" menjadi mozaik tegel yang menarik dan bercita rasa seni. Tegel-tegel dikerjakannya sendiri dan ketika sudah banyak Pram memasangnya sendiri di sebagian teritis rumahnya (hal 226).
Yang menarik di ‘tempat sampah’ itu Pram juga pernah menemukan buku Peristiwa coup Berdarah P.K.I. September 1948 di Madiun, tulisan Pinardi, terbitan 1967. Tentu saja ini merupakan harta karun bagi Pram selaku penulis dan pendokumenter. Buku yg sudah rusak dan kotor itu ia tata kembali dan diberi sampul baru dan diberikan pada Koesalah. "Ini bahan bagus buat Kronik," katanya. (hal 226). Buku termuannya itu memang akhirnya menjadi salah satu sumber bagi Koesalah, Pram, dan Ediati Kamil dalam menyusun buku "Kronik Revolusi Indonesia jilid IV yang berisi peristiwa-peristiwa penting di tahun 1948.
Saat-saat terakhir hidup Pram dimana berbagai penyakit mulai menggerogot, dan Pram yang sudah mulai pikun juga terungkap dalam buku ini, beberapa kali pada Koesalah Pram mengeluhkan soal diabetesnya, dadanya yang sakit, otaknya yang tidak mampu lagi bekerja dengan baik, dll. Sayang, buku ini tak memuat catatan mengenai hari-hari terakhir Pram menjelang dirinya menghembuskan nafas terakhirnya. Padahal buku ini diterbitkan satu bulan setelah wafatnya Pram, dan tentunya cukup waktu untuk memberi catatan saat Pram berjuang melawan maut dan bagaimana suasana saat-saat Pram dikebumikan
Selain catatan-catatan yang dibuat secara narasi, buku ini memuat pula sejumlah tulisan berupa wawancara/percakapan antara Koesalah dengan Pram sehingga pembaca seakan membaca tuturan langsung dari Pram mengenai hal-hal yang ditanyakan oleh adiknya.
Masih banyak kisah-kisah menarik mengenai keseharian Pram dicatat dalam buku ini. Ada yang lucu, unik, mengharukan, menjengkelkan dan sebagainya. Semua disampaikan oleh Koesalah secara jujur dan apa adanya. Beberapa catatan membuat kita bangga dengan sikap dan pandangan Pram dalam menanggapi persoalan-persoalan negeri ini, kadang tertawa oleh anekdot-anekdot Pram, namun ketika menjumpai kisahnya yang mengungkap bagaimana keras kepalanya Pram dan sikap cueknya terhadap keluarga besarnya kitapun akan dibuat jengkel dan sebal pada sikapnya. Bisa dikatakan buku ini merupakan buku pertama mengenai Pram yang memuat segala aspek kehidupan Pram, mulai dari masa kecil, dewasa, perkawinannya, pandangan-pandangan hidupnya, masa tuanya, harapan-harapan dan mimpi-mimpinya, dan sebagainya.
Apa alasan Koesalah menyebarluaskan catatan-catatan hariannya yang menyangkut persinggungan dirinya dengan Pram ? Dalam kata pengantarnya Koesalah menulis bahwa hal ini sebagai pernyataan tanggung jawab dirinya terhadap pembaca karya-karya Pram, masyarakat Indonesia dan dunia. Ia mencatat semua ini sebagai kenyataan bahwa disamping semua yang sudah pernah ataupun sedang ditulis tentang Pram, masih ada hal-hal lain yang harus dikemukakannya. Dengan demikian orang dapat memahami Pram sebagai sosok nyata, bukan manusia dalam angan-angan atau lamunan (hal xvi)
Sayang Koesalah tak menjelaskan mengapa ia mulai mencatat di tahun 1981 ? Apakah sebelum tahun itu ia memang tak memiliki catatan tentang kakaknya ? Ataukah di tahun 1981 ia memiliki visi bahwa kelak kakaknya akan menjadi orang terkenal sehingga ia mulai mencatat pengalamannya dengan Pram agar kelak bisa diterbitkan ? Juga tak dijelaskan atas dasar apa dan mengapa buku ini dibagi menurut pembagian waktu seperti yang tercetak di buku ini. Padahal jika saja pembagiannya berdasarkan tema-tema tertentu yang muncul seperti Pram dan Karya-karyanya, Pram dan Keluarga, Pram dan kesehatannya, dll, tentunya ini akan memudahkan pembaca dalam memahami Pram dari sudut pandang tema-tema tersebut.
Secara keseluruhan, bagi pembaca karya-karya Pram buku ini akan sangat menarik karena berhasil mengungkap sisi-sisi kehidupan Pram yang selama ini tersembunyi oleh kebesaran namanya. Selain itu beberapa aspek politis dan historis juga akan kita temui dalam buku ini. Karena keragaman dan kelengkapan tema yang terdapat didalamnya bukan tak mungkin buku ini akan dijadikan pijakan awal atau buku pegangan bagi mereka yang kelak akan menulis biografi Pramoedya secara utuh dan komprehensif. Atau mungkin kelak Koesalah sendiri yang akan menulis Biografi kakaknya secara runut dan mendalam ?
Ya! Sudah saatnya maestro sastra Indonesia Pramoedya Ananta Toer dibuatkan biografinya!
This is a very intimate biography of Pramoedya Ananta Toer; told from the perspectives of his closest little brother, Koesalah Soebagyo Toer, the person who Pramoedya tells almost everything to.
The book consist of short chapters that provide many new angles for Pramoedya's life story, his everyday personality, his hopes and worries, and his rants over many things. It shows, above all things, that Pramoedya is a strong-headed, principled, and eccentric character full of passion and emotions.
Indeed he can be difficult at times, but overall he's a kind hearted person who likes to have snarky comments and the occasional dad jokes. He's also stubborn over health issues too, which is endearing and reminds me of my late dad.
The book shows all of this through stories about his family structure, his name changes, his two marriages, the difficulties during his many times in prison, suicide thoughts during exile, money matters, family affairs that make him look like a normal family person, or what he's like as the oldest brother that took care of his siblings after their parents died.
Moreover, the book also discusses about his difficult relationship with his father, the fact that it took him 10 years to finish elementary school, his youth era when he was in a military fighting against the Dutch and allied forces (which inspired several of his books), or many other random stories like his bizarre experience with black magic.
And of course it discusses his many books, where he got the inspirations from, a glimpse of his research process, his diligent habit of reading historical books and documents, on government censorship towards his work, the stressfulness of publishing books, that one time he was being cheated by his publisher, on being nominated for a Nobel Prize, and many others, including his story with fellow writers like Sandjaja, A. K. Hadi, and Asrul Sani.
It is truly a side of Pramoedya that I haven't seen before, the human side. And it is a great addition to the puzzle piece of knowledge about Pramoedya the sage and the legendary Indonesian writer.
Setelah membaca buku ini, semakin ku tertarik pada pribadi yang unik menggelitik ini. Pram selalu apa adanya. Maka aku bisa memaklumi cerita Bu Dini soal Pram yang selalu minta kentang goreng jika melihat lauk di meja makan tidak menarik seleranya. Lalu soal mahasiswa UI yang di-DO karena mengundang Pram di acara UI. Bukan salah Pram lah menurutku. Apa salahnya berbicara? Justru kasian dia yang selalu dikekang cuma untuk berpikir sehat dan mengungkapkan pendapat. Soal kentang goreng lagi, menurutku itu hanya salah satu prilaku uniknya aja. Macam suka ngemil bawang putih. Toh menjelang akhir hidupnya, ada cerita dia makan nasi rendang dan juga ayam goreng. Duh, kenapa jadi yang begini-begini yang kubahas yak. Abis gemes juga ama Bu Dini. Apa iya sebab kentang goreng lalu penerbitan buku Dari Rue Saint Simon ke Jalan Lembang ditunda? Menurutku walaupun tetep terbit sebelum Pondok Baca, Pak Pram akan baik-baik aja :">. Soal perseteruan dengan Mochtar Lubis juga di buku ini jadi lucu-lucu aja. Menurutnya sebab iri, Mochtar Lubis mengkritiknya, wkwkwk. Juga dengan Taufik Ismail, dari sudut pandang Pram sepertinya itu bukan masalah besar. Masalah besar adalah soal menulis. Baginya, untuk bangsa ini sampai saat ini, menulis sastra itu bukan untuk hiburan namun sebuah kewajiban. Mungkin Pram ingin seperti Multatuli, yang memberikan pencerahan bahwa kita ini sedang dijajah. Sebelum Multatuli, orang ga nyadar kalau sedang dijajah. Dan klo ngeliat suasana gaduh negeri ini, kita memang masih butuh pencerahan.
Dari buku ini kita bisa melihat seorang penulis besar seperti Pram bisa juga menjadi manusia seutuhnya dengan menjadi diri sendiri. Contohnya seperti tidak mau diajak ke rmh sakit, krn percaya tubuhnya bs menyembuhkan dirinya sendiri atau kesulitan keuangan sementara buku-bukunya dibajak orang di mana-mana. Sungguh sebuah cerita yang miris dan kurang menyenangkan bagi seorang penulis pemberani seperti beliau. Begitu tegas dan jujur pd diri sendiri. Tulisan ini dikumpulkan oleh adiknya Koesalah yg selalu dianggapnya sebagai adik kesayangannya. Bersamanyalah bnyk cerita2 unik yang muncul tentang Pram. Salah satu yg menurut saya kurang dr kumpulan kisah ini adalah tentang bgmn penulis kurang bs memberikan jarak antara dirinya dengan kisah pram sendiri. Sehingga saya sendiri kadang bingung, 'saya' yg dimaksud dlm cerita itu penulis atau Pram sendiri. Kdg terlihat jelas kdg kabur. Well, itu penilaian pribadi saya sendiri saja sih. Secara keseluruhan buku ini bagus terutama bagi penggemar Pram, sebuah sisi lain dari penulis yg paling kontroversial sekaligus dikagumi ini.
alasan utama membaca buku ini adalah: mencari penjelasan hubungan batin yg spt apa antara pram dng sang ayah. menyimak tulisan2 pram. tampak sekali tidak ada gambaran ayah yg ideal/positif dalam novel maupun cerpen2 pram.
pertanyaan ini cukup lama menganggu pikiran. saya membaca 'di tepi kali bekasi' waktu masih SD. di buku, hubungan Amir dng ayahnya sudah mengundang pertanyaan. ada apa ? lalu ketika novel2 lama diterbitkan kembali satu persatu, puncak kerisauan muncul saat membaca novel 'perburuan'. jelas sekali hubungan rindu-dendam dng tokoh ayah sangat dominan. buku tsb ditulis sewaktu pram berada di penjara jatinegara. rasanya sulit membayangkan kisah tsb ditulis hanya berdasarkan imajinasi. penulis tentunya berangkat dari inspirasi yg hidup dan intens atau bahkan telah menjadi semacam trauma. di buku 'bukan pasar malam' yg ditulis sbg kenangan saat terakhir ayahnya, pram memberi gambaran yg jauh berbeda. disitu si aku, dalam cerita tsb, adalah seorang anak yg sepenuhnya menunjukan darma bakti, perhatian kepada orang tua, disaat-saat akhir hayat. sosok ayah yg sempat mengalami gejolak kejiwaan hebat oleh sebab kekecewaan thd perjuangan, kemiskinan, tergambar jelas. jika ia pejuang pendidikan di masa lalu, kenapa ia hanyut terseret cara hidup malam -judi- sedemikian jauh. namun itu gambaran subyektif dan lahiriah dari sebuah cerita, yg belum tentu menyatakan sebenarnya.. di catatan koesalah ini, 'misteri' itu terkuak.
ayah pram dalam benak koesalah memandang anak2nya, khususnya pram, inferior. disebutkan, ayahnnya tidak pernah bicara dng anak2nya dan mengangap Pram bodoh. ketika pram menyampaikan khabar baik kelulusannya, ayahnya menghardik pram "anak goblok, sana kembali.." maksudnya, pram diminta kembali ke sekolah lagi, mengulang.
pram memang mengaku bodoh. untuk jenjang pendidikan SD saja ia tempuh selama 10 tahun.
namun demikian, gurunya, bernama pak Amir, menyatakan " kamu itu sudah tamat. jadi tidak perlu lagi kamu belajar disini".
dng perasaan yg tercabik-cabik, amarah, dendam pram menangis di kuburan yg tak jauh dari sekolahnya. pengalaman itu membekas.
atas ajakan ibunya, ia diminta bekerja di sawah, menebas padi (ngoyang). dari pekerjaan itu ia bisa melanjutkan sekolah ke surabaya, di sekolah teknik radio. jepang datang, pram melarikan diri. sekolah tidak tamat. tidak mendapat ijasah. ia pulang, melaporkan kepada ayahnya dan mendapat jawaban ketus " ah, tahu apa kamu..."
selanjutnya, pram hidup dalam dendam-tekad untuk mengalahkan keberhasilan ayahnya.
gambaran yg kontras ia tuliskan ketika pram meninggalkan jawa, menuju p. buru sebagai pesakitan. luapan emosional perhatiannya kepada anak perempuan sulungnya, begitu hidup dan kontras dng masa lalunya.
pram -dari catatan buku tsb- tampaknya seorang yg temperamental, emosional, pendendam namun juga sangat perhatian dan humanis kepada mereka yg tersisihkan. ia tak segan2 melepaskan uang receh terakhirnya untuk orang yg lebih membutuhkan. ia tampak bukan orang bisa berhitung dagang, terhadap orang lain dan terutama terhadap diri sendiri. perhatian thd adik2nya, dimana ia paling dituakan dan menjadi pengganti ayahnya, adalah perhatian seorang yg bertanggungjawab. namun dmk, ia tetap sosok yg aneh dan 'kurang bersahabat' dng hal-hal yg tidak bisa ia tolerir. melankolik berat adalah gambaran temperamen yg tepat dan tampaknya, mungkinkah itu modal besar seorang seniman. menjadi aneh dan berbeda dari yg lainnya ? :)
tentunya, kita sepakat. kehidupan yg pram lalui. baik di tengah keluarga maupun kehidupan selanjutnya yg senantiasa berada ditengah pusaran konflik sejarah, mmg unik. tidak jepang, tidak belanda, tidak indonesia, pram selalu berada dalam posisi yg berhadapan dng kekuasaan.
buku ini saya selesaikan th 2009. sumbangan yg berharga utk memahami seniman besar yg mengharumkan nama indonesia, pram bener2 melebihi prestasi bapaknya, yg tidak pernah mengajaknya bicara, selalu menganggapnya bodoh dan dianggap tidak tahu apa2.
Ini adalah buku yang memperkenalkan sosok seorang Pramoedya Ananta Toer kedalam kehidupan gue, buku ini secara singkat mengisahkan beberapa penggalan kisah hidup Pram baik sebagai seorang laki-laki, ayah, kakak, suami, anggota masyarakat (yang tidak diakui oleh pemerintah), mantan tapol dan sebagai seorang penulis.
Buku ini juga merangkum pandangan seorang Koeslah Ananta Toer sebagai adik dari Pramoedya Ananta Toer, jadi kita bisa melihat citra Pram sebagai seorang kakak dimata adiknya, yang ternyata sangat melindungi keberadaan adik-adiknya, dan Koeslah bisa dibilang merupakan adik emas bagi Pram.
Bagi pembaca yang belum membaca buku-buku Pram yang lain, mungkin akan dibuat bingung dengan apa yang diceritakan di buku ini, karena cerita yang dikisahkan hanya kalau boleh dibilang nanggung, cuma setengah-setengah, hehehe...
Tapi gak ada salahnya untuk membaca buku ini, kita bisa dikasih sudut pandang yang baru mengenai Pram beserta keluarga besarnya.
Last but not least, enjoy this book, tipis dan bikin penasaran.
Pramoedya Ananta Toer, karena pandangannya yang pro-komunis Tiongkok dicap sebagai komunis dan harus menjalani hukuman sampai 14 tahun tanpa proses pengadilan. Tapi Pram tidak pernah menyerah, tetap semangat menulis dan terus menghasilkan karya-karya yang mengharumkan nama Indonesia sampai ke mancanegara.
Lewat buku ini juga saya jadi tahu sosok pak Pram itu seperti apa, ternyata beliau itu tidak terlalu suka lama-lama bertamu, gemar membakar sampah, tidak suka ke dokter lebih baik mengobati secara tradisional daripada ke dokter dan setiap waktunya dihabiskan untuk menulis dan menulis. Tulisan-tulisan pak Pram itu dilatari dengan pengalaman-pengalaman pribadinya.
Pak Koesalah (Lilik) adalah "keranjang sampah" bagi pak Pram untuk hal-hal yang tidak dapat, tidak tepat atau tidak pantas dikemukakan kepada orang lain.
buku ini memuat kisah2 sisi lain dari pramoedya Ananta Toer dilihat dari sudut pandang adiknya Koesalah Soebagyo Toer. buku ini terbagi menjadi tiga bagian yaitu bagian pertama (1981-1986), bagian kedua (1987-1992), dan bagian ketiga (1992-2006).
Banyak sisi hidup sang maestro yang bisa menambah pengetahuan kita seperti seharusnya gadis pantai ada 3 jilid, panggil aku kartini saja ada 7 jilid (halaman 19-20), kisah beliau dengan blora, segan dengan G.J Resink soal untuk membantah bahwa indonesia benar dijajah 350 tahun oleh Belanda (halaman 85), kekeluhan beliau tentang prnyakit diabetes dan jantungnya. semuanya dibahas ada yang singkat cuma setengah halaman tapi ada juga yg membahas hingga 5-6 halaman.
buku ini lumayan menarik untuk dibaca saya berikan 3 dari 5 bintang!
Sebenernya pingin ngasih bintang 5 tapi entah kenapa ngerasa ada sesuatu yang kurang dari buku ini tapi bagaimanapun juga buku ini memberiku info tambahan tentang Pram dan hidupnya dari mata orang lain. Tentang islam abangannya, dukun, serba-serbi uang, sikap semacam cuek-apatis (padahal ndak sepenuhnya demikian), dan lain-lain. Untuk pertama kalinya, punya buku semacam ini,bener-bener menyenangkan ^^
ada banyak sekali informasi menarik yang bisa didapat dari buku ini, sayang beberapa (banyak info, sebenarnya) info dengan nuansa-nuansa tertentu, yang terasa kurang lengkap kalau pembacanya memang belum mengenal sejarah hidup mbah Pram secara lebih jauh dan detil (pembaca juga jadinya kekurangan konteks karena kurangnya pengenalan ini). tapi lumayan lah, selqin menarik, info-info yang ada di dalam buku ini dapat mencerahkan beberapa hal yang masih samar-samar tentang mbah Pram.
Merupakan sebuah karunia setelah bertahun-tahun mencari akhirnya menemukan buku ini di toko buku. Langsung dihabiskan meski agak lama karena masih banyak tanggungan bacaan yang cukup banyak. Seperti biasa, Pak Koesalah bercerita dengan gaya penulisan catatan harian mengenai si Bung. Banyak sisi lain kehidupan Bung Pram yang ternyata tidak diketahui khalayak ramai, khususnya para pemujanya.
Sisi PAT dari dekat, bagaimana sisi subyektifitasnya memandang setiap persoalan dan menyelesaikannya. Bagaimana karakter PAT yang cenderung prinsipiil dan emosional. Di tulis dari sang adik, Koesalah Soebagyo Toer.
Mengenali penulis dari sudut pandangan adiknya merupakan satu pembacaan yang lain dari membaca buku-buku penulis ini. Namun ia bersulam ketika membaca karya-karyanya. Saya baca buku ini terlebih dahulu sebelum membaca buku-buku Pram yang lainnya. Ternyata, beliau memang penulis yang punya sikap!
Taukah anda? Pramoedya Ananta Toer yg berkali kali mendapatkan nominasi nobel sastra dulunya dianggap bodoh oleh ayahnya. Tidak tamat Sekolah Teknik (setara SMK) dan pendidikan SD nya diselesaikannya 10 tahun.