Jump to ratings and reviews
Rate this book

Emak

Rate this book
"Emak" buah karya Daoed Joesoef ini merupakan memoar ibunda dari mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI periode 1978-1983. Pasangan Muhammad Joesoef dan Siti Jasiah -orangtua Daoed Joesoef- hanyalah orang kampung yang buta huruf dan tidak berpendidikan formal. Namun kemampuannya membaca huruf Arab dengan baik serta pemahaman agama dan Al-Quran yang mendalam menjadi bekal kuat dalam mendidik anak-anaknya. Sungguh mengagumkan penggambaran Daoed Joesoef mengenai kebijakan sang Emak. Yang lebih mengagumkan lagi adalah falsafah hidup itu keluar dari hati seorang ibu wong kampung yang pada masanya perempuan secara umum pun masih terbelakang dalam urusan pendidikan. Saya rasa di jaman yang modern seperti ini saja akan sulit menemukan sosok ibu seperti Emaknya Daoed Joesoef ini. You'll learn many things by reading this. Terutama untuk kaum perempuan calon ibu, this is a must read book. Buku ini akan membuka wawasan dan mengubah cara pandang kita tentang kehidupan. Kalau orang bilang perempuan adalah tiang suatu bangsa, buku ini memperkuat hal tersebut.

408 pages, Paperback

First published January 1, 2003

21 people are currently reading
106 people want to read

About the author

Daoed Joesoef

12 books5 followers
Daoed Joesoef (lahir di Medan, Sumatera Utara, 8 Agustus 1926; umur 89 tahun) adalah Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia dari 1978 sampai 1983 dalam Kabinet Pembangunan III. Ia dilahirkan dari pasangan Moehammad Joesoef dan Siti Jasiah asal Jeron Beteng, Yogyakarta. Dia menikah dengan Sri Sulastri dan dikaruniai anak Sri Sulaksmi Damayanti.

Daoed memperoleh gelar sarjana ekonomi dari Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (1959). Setelah itu ia meneruskan studinya ke Sorbonne, Perancis dan meraih dua gelar doktor, yakni Ilmu Keuangan Internasional dan Hubungan Internasional (1967) serta Ilmu Ekonomi (1973). Daoed Joesoef adalah salah seorang tokoh yang ikut mendirikan CSIS (Centre for Strategic and International Studies), sebuah tangki pemikir yang banyak dimanfaatkan sumbangannya oleh pemerintahan Orde Baru. Dalam kehidupan sehari-harinya, Daoed Joesoef mempunyai kegemaran melukis.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
43 (34%)
4 stars
52 (41%)
3 stars
26 (20%)
2 stars
2 (1%)
1 star
2 (1%)
Displaying 1 - 30 of 32 reviews
Profile Image for Imas.
515 reviews1 follower
January 3, 2010
Ibu luarbiasa memang akan melahirkan anak yg luar biasa pula..Kisah kehidupan masa kecil dan perjalanan hidup Daoed Joesoef, mantan Menteri Pendidikan di era Soeharto. Kecerdasan memang tdk tergantung pengetahuan formal yg diperoleh, walaupun tak bisa membaca, emak bisa memberikan pelajaran2 berharga utk anak2nya...Daoed Joesoef tumbuh dilingkungan yang luar biasa....Sujud sembah kepada ibu2 yang telah memberikan putra2 terbaik untuk sejarah kemajuan bangsa kita...
Profile Image for Nanny SA.
343 reviews41 followers
December 26, 2010
'Emak' panggilan Daoed Joesoef pada ibunya yang bernama Siti Jasiah. Emak adalah sosok sentral dalam keluarga, pengaruhnya sangat terasa dalam setiap gerak kehidupan keluarga.
Daoed Joesoef menceritakan sosok emaknya dengan bahasa yang mengalir, kita diajak untuk mengenal sosok emak dari berbagai aspek kehidupan sejak dia kecil sampai dewasa. Emak adalah sosok seorang ibu yang luar biasa biarpun dia hidup di zaman dahulu kala ( Daud sebagai anak ke 4 dilahirkan thn 1926 ), tidak pernah mengecap pendidikan formal bahkan tidak bisa membaca huruf latin tapi kearifan dan kecerdasannya luarbiasa, dia mempunyai cara berpikir dan pandangan hidup jauh melampaui orang pada masanya.. Emak mengajarkan anak-anaknya dengan penuh kasih sayang tapi tegas tentang beragam arti kehidupan dari mulai hubungan kekeluargaan , persahabatan, alam dan lingkungan hidup, pendidikan , cara beragama, kesenian , bahkan ilmu pengetahuan, dll. Cara dia bertutur dan mengutarakan pendapat bagaikan seorang berilmu walaupun diucapkan dengan kata yang sederhana.Hal ini disadari Daoed ketika ia telah mencapai pendidikan yang lebih tinggi ketika ia membaca berbagai literatur dan mendengar ajaran gurunya maka teringatlah ia kata-kata yang telah diucapkan emaknya. Bahkan seorang kenalannya yaitu Mas Singgih (seorang aktivis pergerakan ) mengatakan bahwa emak adalah seorang ibu rumah tangga yang filosofis.
Membaca buku ini seperti mendapat pelajaran filosofi secara ringan tanpa terasa menggurui, kata-kata yang keluar sangat sederhana. Ketika emak ditanya tentang kehidupan beragama yang sering berebut menonjolkan simbol agama masing-masing atau menyombongkan kelebihan agama dan memamerkan bentuk keimanan. Emak berkata:"lebih baik membuat agama seperti garam saja, menyatu dan lebur dalam makanan, dapat dirasakan kebaikan dan manfaatnya serta ketepatan pemerataannya tanpa kelihatan sedikitpun kehadirannya".. -luar biasa. Hal ini berpengaruh pada cara beragama Daoed J yang selalu berusaha membuat Islam menjadi 'a religion of reason' bukan 'a religion of hate and fear'.
Saat yang paling menyedihkan tentulah ketika sang Emak berpulang ke rahmatullah dan hal ini terjadi ketika Daoed sedang berada jauh dari kampung halaman menjelang ujian Doctorat d'etat di Sorbone Paris. Tapi ia yakin emak pasti bangga melihat keberhasilannya.
'Tutur kata, perbuatan dan budi pekerti emak telah merajut hidupku.Ia terus berjalan, Mak lihatlah, bagai batang air yang terus mengalir dengan tak pernah memutuskan diri dari sumbernya barang sedetikpun. Kepergian emak, maut ini, pasti bukan merupakan akhir tetapi bagian dari hidup itu.
Inna lillahi wa inna ilaihi roji'un..
Profile Image for A. Moses Levitt.
193 reviews16 followers
January 7, 2012
Emak, sesuai dengan judulnya, menceritakan bagaimana seorang anak, Daoed Joesoef, yang memandang, menilai, menyanjung, belajar, dari emaknya yang orang kampung di Sumatra sana, yang hanya seorang ibu rumah tangga dengan banyak anak, namun berpikiran seperti wanita Eropa-Amerika zaman sekarang.

Emak mengajarkan agama tidak fanatik.Emak mengajarkan menabung untuk hari nanti. Emak mengajarkan kerja fisik dan pikiran agar seimbang. Emak mengajarkan toleransi. Emak tidak menghakimi orang. Emak memberikan teladan pada anak lelakinya. Emak mengajarkan keterampilan baik bagi anak perempuan dan lelaki--sekarang orang menyebut lelaki dengan keterampilan perempuan adalah banci--padahal justru lelaki yang hanya memiliki keterampilan lelaki, tidak seharusnya menyebut dirinya no 1, manusia kelas satu, superior dan menjajah wanita.

Seluruhnya tentang sepak terjang emak yang Daoed lihat, hidupi, resapi dan itu berbuah baik di kemudian hari. Pokoknya emak macam begini sudah berkurang sekarang ini--justru anak2 cenderung malu punya emak macam ini, mereka lebih suka punya emak yg ngajak makan di mall, nonton di mall, main di mall, jalan-jalan di mall, belajar di mall. Ah, emak zaman sekarang, dan ah, anak lelaki zaman sekarang!
Profile Image for Astri.
27 reviews4 followers
January 27, 2025
Emak. Begitulah Daoed Joesoef memanggil ibunya. Sosok yang diceritakannya dengan penuh cinta dalam 22 bab di buku ini. Semua judul bab diawali dengan kata “Emak”. Emak, Bapak, dan Kami. Emak dan Penataan Halaman. Emak dan Membaca. Emak dan Pendidikan.Emak dan Keindahan Pluralisme. Emak dan Keluhuran Budi. Emak dan Persahabatan. Emak dan Seni Lukis. Emak dan Seni Musik, dan lain-lain.

Emak yang diceritakan Daoed Joesoef dalam buku ini adalah sosok seorang Ibu yang bisa dikatakan punya kemampuan komplit. Cinta keluarga, berbakti pada suaminya, tapi tetap mandiri, kritis, dan pandai. Semua itu sangat berguna dalam mendidik anak-anaknya.

Bagiku, itu adalah sebuah pelajaran mahal. Seorang Ibu sangat menentukan bagaimana perkembangan anak-anaknya nanti. Emak menunjukkan bahwa mendidik anak tak cuma semata urusan sekolah, tapi juga mendidik dalam bidang lain, terutama dalam hidup sehari-hari. Dia mengajarkan cara berbagi dengan sesama, dia juga mengajarkan cara untuk selalu rendah hati.

Profile Image for Beni Suryadi.
2 reviews6 followers
July 24, 2010
"Kau lihat sungat ini Daoed? Kau harus tetap berlaku seperti batang air ini. Walau ia tetap terus mengalir mencapai tujuannya, semakin lama semakin menjauhi sumber asalnya, ia tidak pernah memutuskan diri barang sedetik dari sumbernya, ia tetap setia padanya." (Bab 7: Emak dan Membaca.


Daoed Joesof menceritakan dengan detil dan sederhana dari peran si Emak dalam hidupnya. Saya begitu menikmatinya, mengingatkan akan Ibu Saya sendiri.

Namun, kesederhanaan cerita itu terhenti ketika bukunya mulai berkisah tentang politik dan perjuangan bangsa, di Bab 11 Emak dan Orang Indekos.

Saya memutuskan untuk tidak melanjutkan membacanya.

Tapi toh, Saya sudah mendapatkan pelajaran berharga akan betapa begitu berartinya Ibu dalam hidup Saya.
Profile Image for avizena zen.
209 reviews5 followers
March 17, 2023
Actually I read the English version, MAMA.

Pertama kali baca penggalan buku ini ketika dimuat di salah satu majalah wanita. Bersyukur beberapa tahun kemudian bisa baca buku lengkapnya, walau edisi terjemahan bahasa Inggris.

Emak adalah jantung di rumah Pak Daoed. Ibunya mungkin tidak berkesempatan mendapatkan pendidikan formal (karena saat itu masih masa penjajahan). Namun beliau tidak illiterate karena bisa membaca huruf arab dan jawi.

Emak adalah wanita yang suka belajar dari orang-orang di sekitarnya, seperti belajar tentang tanaman herbal dari sinshe.

Beliau mendidik anak-anaknya untuk terus maju dan berpikiran ke depan. Emak juga tak ragu belajar naik sepeda dan bersepeda sendiri ke pasar (dan dipelototi oleh tetangga karena di masa itu, di Andalas, belum ada wanita yang naik sepeda).

Buku ini bagus banget, menggambarkan Indonesia di masa kolonial (dengan setting tahun 30-an sampai masa awal kemerdekaan).

Kalau belum ada listrik, hiburan orang-orang di malam hari adalah mengobrol dengan tetangga, apalagi ketika ada bulan purnama, suasananya sangat guyub.

Ilustrasi dalam buku ini digambar oleh Pak Daoed.
Profile Image for Muhammad Fachreza Rahmadian.
25 reviews
November 1, 2024
Buku ini bisa dibilang merupakan kronik masa kecil Daoed Joesoef yang lahir dan besar di Medan, dengan sedikit kisah masa ia merantau di Jakarta dan kuliah di Sorbonne. Emak/ibu memiliki peran besar dalam memupuk sikap Daoed, namun tokoh lain juga memiliki peran dan ditulis secara apik. Sayangnya buku ini tidak menulis terjemahan bahasa-bahasa asing, sehingga pembaca menjadi kebingungan.

Catatan: buku ini juga tidak membahas latar kebijakan Normalisasi Kehidupan Kampus yang menjadi warisan Daoed dan dianggap biang kerok kemunduran kehidupan politik di lingkungan kampus.
Profile Image for Rista.
4 reviews
October 4, 2017
'Emak' tokoh sentral yang selalu ada dalam keseluruhan cerita. Karakternya yang amat kental dengan berbagai pembahasan, pantas dikagumi oleh siapa saja.

Digambarkan selalu, bagaimana Emak menggambarkan segala sesuatu serumit apapun dengan perumpamaan yang langsung mudah di cerna.
Profile Image for Vita Wulandari.
18 reviews6 followers
May 27, 2012
Read from May 23 to 27, 2012

Judul: Emak, Penuntunku dari Kampung Darat sampai Sorbonne
Penulis: Daoed Joesoef
Penerbit: Kompas
Edisi: Soft Cover
Rilis: April 2010 (cetakan 3)
Tebal: 304 hlm
ISBN: 9789797094867
Harga: Rp. 40.800,-


"Kau lihat sungat ini Daoed? Kau harus tetap berlaku seperti batang air ini. Walau ia tetap terus mengalir mencapai tujuannya, semakin lama semakin menjauhi sumber asalnya, ia tidak pernah memutuskan diri barang sedetik dari sumbernya, ia tetap setia padanya."

Pepatah mengatakan, di belakang setiap pria hebat pasti ada seorang wanita hebat. Benarkah? Bisa jadi di belakang setiap pria hebat ada seorang wanita yang jauh lebih hebat. Hal inilah yang Daoed Joesoef paparkan dalam buku ini, menggambarkan kecintaan dan kekaguman pada sang ibunda yang luar biasa. Sosok wanita yang diceritakan penulis dengan penuh cinta, terangkum dalam 22 bab yang semuanya diawali dengan kata "Emak".

Siti Jasiah atau yang biasa dipanggil emak adalah orang kampung yang buta huruf dan tidak berpendidikan formal. Emak berasal dari keluarga petani, yang lahir dan dibesarkan di lingkungan pertanian. Dia digambarkan sebagai sosok yang lembut dan penuh kasih sayang. Disatu sisi dia juga bisa menjadi orang yang tegas dan keras dalam memperjuangkan prinsipnya. Meskipun tidak menempuh pendidikan formal, emak berusaha menanamkan nilai pendidikan dan agama kepada anak-anaknya. Hubungan antar saudara yang rukun, ikatan keluarga harmonis sampai kebiasaan-kebiasaan sederhana yang diajarkannya menjadi seberkas cerita yang menakjubkan.

Kelebihan buku ini adalah cara penulis mengolah adegan menjadi demikian hidup, selayaknya sedang mendongeng dan menceritaan masa lalunya. Sulit untuk tidak menjadi terhanyut dan terbawa arus yang diciptakan penulis. Begitu banyak cerita humanis yang menyajikan beragam falsafah dan pegalaman hidup yang bisa kita ambil hikmahnya. Ambil contoh tentang filosofi buah kemiri.

"Untuk menanam kemiri ini kita tidak perlu menjadi dewa atau orang pintar. Kita hanya memerlukan niat, kemauan, ingatan pada anak cucu dan sebuah cangkul atau sekop."

Buku ini bernuansa religius yang kental. Sekecil apapun pelajaran yang ditanamkan emak dalam ranah keluarga ditampilkan dengan bersahaja. Dan tentu saja, saya menemukan begitu banyak kalimat-kalimat indah yang mampu mendamaikan hati dan menyejukkan nurani. Salah satu yang paling menyentuh saya adalah yang ini:

“Mengingat Allah dan agama kita sangat memujikan kedamaian dan kekhusyukan.”

Bicara setting, dalam buku ini di jelaskan bahwa mereka tinggal di Kampung Darat, Medan. Penulis menggambarkan suasana hutan dengan apik, lengkap dengan binatang buasnya yang mengerikan. Bahkan dia menuliskan nama-nama jalannya dengan detail. Saya jadi penasaran dengan Sungai Putih yang konon katanya airnya begitu jernih sampai ikan-ikan kecil kelihatan jelas berenang kian kemari. Hanya saja, saya menemukan beberapa cerita plot-nya membingungkan. Terkadang perpindahan satu adegan ke adegan yang lain berjalan kurang mulus. Dengan point of view orang pertama (penulis sendiri) untuk menceritakan banyak tokoh, saya harus berkonsentrasi agar tidak lupa. Dan beberapa dialog berbahasa Belanda cukup mengganggu.

Overall, saya suka debut buku Daoed Sang Menteri ini. Moral of the story novel ini berhasil menyentuh relung terdalam hati saya. Mengingatkan saya dengan sosok ibunda tercinta. Mengingatkan umur saya yang tak lagi muda. Menyadarkan bahwa saya masih belum sepenuhnya mendengarkan petuahnya. Dan parahnya, menghujam batin saya karena belum mampu membahagiakan dan membanggakan beliau.

"Tutur kata, perbuatan dan budi pekerti emak telah merajut hidupku. Ia terus berjalan. Mak, lihatlah, bagai batang air yang terus mengalir dengan tak pernah memutuskan diri dari sumbernya barang sedetik pun. Kepergian emak, maut ini, pasti bukan merupakan akhir tetapi bagian dari hidup itu."

Rate: 3 of 5 star
Profile Image for Fatiya Amelia.
29 reviews
February 11, 2023
Buku ini mengisahkan tentang emak (panggilan ibu) dengan interaksinya terhadap kehidupan yang diceritakan oleh anaknya (penulis). Interaksi ini berupa hubungan emak dengan keluarga, dengan lingkungan, dengan sesama manusia, serta pengetahuan emak yang digunakan dalam berdialog dengan anak-anaknya. Latar cerita buku ini bergantung pada masing-masing bab, tapi lebih banyak di Deli (Sumatera Utara), tempat tinggal penulis saat kecil dan keluarganya. Alur kejadian didominasi saat penjajahan Belanda (akhir) dan Jepang di Indonesia hingga kemerdekaan, bahan saat penulis menjadi menteri.

Emak diperlihatkan sebagai sosok ibu yang sangat terpelajar, berbudi luhur dan memiliki prinsip. Emak mengajak kita untuk meilihat gaya pengasuhan zaman dulu yang masih relevan hingga saat ini. Sebagai sesama ibu, saya sangat kagum dengan sosok emak terutama pada caranya bertutur kata dan menyelesaikan masalah. Saat penulis menangkap kupu-kupu dan capung memakai getah, hingga tidak lagi bisa terbang. Sontak emak kaget, namun tetap tenang tanpa menghakimi anaknya. Emak bertanya untuk apa anaknya melakukan itu, ternyata si anak senang mengamati kupu-kupu dan capung karena sayapnya lembut seperti sutera, bergaris hitam dan putih. Lalu emak memberitahu anaknya bahwa untuk menikmati keindahan kupu-kupu dan capung, dia bisa melakukan dua cara. Pertama, mengejar dan menangkapnya lalu mengamati keindahan bangkainya yang semakin memudar. Kedua, mengamati dengan duduk diam-diam melihat serangga-serangga bergerak lincah, lompat di antara bunga-bunga, bergerak dengan serasi bersama serangga lainnya. Penulis pun memilih untuk mengamati keindahan yang hidup.

Buku dengan tebal 292 halaman ini akan sangat ringan untuk dinikmati oleh semua kalangan. Meskipun emak lebih mirip autobiografi singkat dari penulis, tapi buku ini banyak mengajarkan nilai-nilai kehidupan yang juga sangat kita butuhkan. Selayaknya seorang ibu dan ayah yang memberi nasehat kehidupan, begitulah buku emak ini merangkul pembaca sebagai anak-anaknya.
Profile Image for Roswitha Muntiyarso.
118 reviews7 followers
May 22, 2012
Buku pertama yang kubaca mengenai kedekatan batin antara seorang anak dengan Ibunya.

Daoed Joesoef menceritakan keintiman hubungan antara ibu dan anak secara mendetil. Bagaimana seorang ibu memberikan wejangan-wejangan untuk bekal anaknya di saat dewasa kelak. Bahwa tugas seorang Ibu tidaklah dinyana sebuah tugas besar yang seharusnya digenggam oleh orang yang bertanggung jawab besar dan berkompetensi tinggi.

Di buku ini, sang penulis menggambarkan ibunya bak penulis-penulis romantisme menggambarkan pujaan hatinya. Penuh puja-puji dan keindahan bahasa. Segala kenangan indah dan wejangan yang bermanfaat dari sang ibunda dibahas dengan gamblang. Gaya penceritaan sang penulis membuat saya juga terinspirasi akan wejangan-wejangan ibunda dan ayahanda penulis. Betapa indah akhlak sang ibunda, kecantikan hati dan kecantikan paras dan kearifan budi benar-benar disanjung-sanjungnya dari halaman awal hingga epilog akhir.

Buku ini juga membuka pandangan mengenai pengertian muslim dan Islam pada saya. Kedua orang tua sang penulis memiliki penafsiran Islam yang kurang lebih sama dengan diri saya. Evolusi agama dan tiadanya pemaksaan dalam praktik beragama menjadi pendapat utama. Buku ini juga membuka pikiran saya mengenai keberanian untuk menjadi non-conformist. Bahwa mengikuti hati adalah keutamaan karena hati yang bersih dan dijaga sesungguhnya adalah cerminan dari petunjuk Tuhan.

Buku ini patut dibaca untuk bekal inspiratif bagi para perantau seperti layaknya saya. Buku ini juga memberikan sedikit lecut untuk kembali mengenang jasa ibunda masing-masing dalam mempengaruhi dan membangun hidup anaknya. Mengingat segala nasehat dan wejangannya. Sungguh surga berada di telapak kaki ibu. Mungkin tidak semua ibu searif ibunda Pak Daoed Joesoef, tapi dibalik kasihnya sungguh ibu pasti ingin yang terbaik untuk anaknya. Sedikit banyak ada pelajaran yang dapat diambil dari perkataan dan nasihat ibu. Seorang yang setidaknya dalam periode awal kehidupan kita adalah satu-satunya idola dan contoh. Buku ini juga memberikan lecut bagi calon ibu, bahwa menjadi ibu bukanlah pekerjaan enteng. Dibelakang orang sukses pasti ada seorang wanita hebat. Siapakah wanita itu? Ibu dan nantinya kelak akan diteruskan oleh seorang istri sholihah.
Profile Image for Darnia.
769 reviews113 followers
January 9, 2012
Anak yang hebat terlahir dari ibu yang hebat. Petuah itu nampaknya cocok sekali dengan gambaran kehidupan mantan Menteri Luar Negeri RI era Soeharto (1978-1983). Daoed Joesoef dibesarkan di sebuah kampung di Medan dengan sederhana. Namun, beliau mampu "memandang" dunia dengan begitu bijak.

Hal ini tak lepas dari peranan Siti Jasiah, sang Ibunda. Wanita ini buta huruf dan tidak berpendidikan formal. Namun, beliau mampu membaca huruf arab dengan baik, serta pengetahuan agamanya begitu luas, sehingga hal tersebut menjadi dasar kuat membesarkan anak-anaknya. Emak ini memiliki falsafah hidup yang kuat dan cukup modern, terutama dalam kehidupan masa itu.

Emak mengajarkan untuk beragama kepada anak-anaknya dengan tidak fanatik. Emak juga mengajarkan bahwa kerja keras fisik pun diperlukan dalam hidup, selain bekerja dengan pikiran. Dan Emak juga mengajarkan, apabila sedang benar-benar mencari Tuhan di sekitar kita, segala upaya perbaikan hidup di setaip saat adalah doa.

Semuanya dituturkan dengan bahasa yang sederhana dan mudah dimengerti. Bahkan dalam bertoleransi dengan orang lain, terutama dalam kehidupan beragama. "lebih baik membuat agama seperti garam saja, menyatu dan lebur dalam makanan, dapat dirasakan kebaikan dan manfaatnya serta ketepatan pemerataannya tanpa kelihatan sedikitpun kehadirannya"--sungguh Emak ini luar biasa

Kehidupan keluarga Mohammad Joesoef juga sedikit mengingatkan akan kisah Little House on The Prairie. Tapi yang ini dengan rasa lokal. Sebuah buku yang A VERY RECOMMENDED, terutama untuk para ibu, karena perempuan adalah tiang suatu bangsa.
Profile Image for Edy.
273 reviews37 followers
November 29, 2009
Sebuah novel yang menggambarkan potret keindahan dan ketulusan budi seorang ibu rumah tangga biasa. Walaupun mereka tidak berpendidikan formal, namun mereka sanggup memberikan kasih sayang utuh, menanamkan kemandirian, keteguhan jiwa dan mendidik budi pekerti luhur bagi anak-anaknya. Walaupun tidak se-perfect tokoh Emak di novel ini, novel ini mengingatkan aku pada figur ibuku yang tinggal di desa.

Saya menduga, novel ini merupakan rangkuman cerita masa lalu Pak Daoed Joesoef yang mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan di jaman Orba. Rangkuman tersebut nampaknya sudah dibumbui dengan beberapa cerita agar lebih menggigit…khusunya pada bagian-bagian yang menceritakan filosofi perjuangan dan Negara Kesatuan. Kayaknya topic dan pembahasannya ”terlalu tinggi” untuk konsumsi pembicaraan orang desa/ibu rumah tangga.

Secara umum novel ini menarik dan semakin berarti untuk menumbuh kembangkan perasaan cinta kasih pada ibunda kita. Kami menyayangi bunda untujk selamanya.….….

Profile Image for Upik.
13 reviews3 followers
July 14, 2009
membaca emak, bagi saya merupakan nikmat tersendiri. saya pikir setiap orang mesti membaca buku ini. kala membaca buku ini saya merasa diajak pak daud untuk bertamasya dengan masa kecil, dimana kedekatan dengan sosok seorang ibu sangat tersa. emak bercerita tentang bagaimana seorang ibu menyayangi anaknya, meski saya pikir kita punya cara menyayangi yang berbeda. dengan setting desa yang hampir sama d3engan asal saya, saya merasa menemukan sesuatu tepatnya kasih sayang seorang ibu yang tak hanya tertuang dalam kata-kata tapi juga ingatan tentang sosok ibu
Profile Image for Zuhra Sofyan.
1 review1 follower
April 17, 2016
what a pleasant journey. bring me back to my childhood when everything so simple. playing with friends, praying and learning Quran in Meunasah (small mosque in the village), and receiving endless precious life lessons from my parents. I kept smiling and it absolutely makes me miss my mom.. Daoed Joesoef is one of my inspiration to pursue the higher education abroad. This book is not for everyone, but for some people, it is a book that they should at least read once in a lifetime.
5 reviews
August 28, 2008
sungguh sangat piawai pa daud dalam menulis,,,,gw sampai hanyut dalam cerita...jika benar emak ni ada...sungguh beruntung...memiliki ibu yang cerdas dan baik hati sekaligus bijaksana seperti emak....di jaman penjajahan....ada juga seseorang, wanita yang berpikiran maju...tidak konservatif....dan elegan...buku ini wajib di baca....bisa membuat kita merasa dewasa....dalam arti yang sebenarnya....
Profile Image for Victoria Ariwita.
19 reviews1 follower
October 9, 2008
My sister brought this book home. And at first, I feel like not read it. But she recommend me to read. I fell in love with Daoed Joesoef described the time, condition, how his parents look alike.

Good to read, good to learn. Many things that we never thought before, are in this book. How to respect, how to be a good citizen, and to grow our nationalism.

Profile Image for Nurul .
24 reviews5 followers
February 19, 2012
Wuaaaaaa....sebenarnya dah dua tahun lalu beli buku ini, dan nangkring terus di perpustakaan Pers Kampus tempat ku berorganisasi ria. Ternyata eh ternyata Kisah Emak membawaku ke suasana Medan masa lalu serta nasihat2 bijak Emak. Berasa mendengarkan nasihat Emak sendiri.

a must read book! ^_*

Baru sampe BAB berapa tu ya... Emak dan Keretaangin hehehehe... lanjotttt
Profile Image for Adriani Zulivan.
61 reviews5 followers
June 1, 2014
Alur maju-mundur membingungkan, sejumlah kalimat dibolak-balik menjengkelkan, bahasa tokoh yang 'tidak Medan' terdengar aneh (sih, "pan hari minggu", iler, dll).

Namun itu semua mampu tertutupi oleh cerita yang kuat: Gambaran Kota Medan di masa lalu (hey, itu kampungku!), hubungan anak-ibu yang harmonis, kisah perempuan luar biasa...

Satu di antara sedikit novel ber-setting Sumatra...
Profile Image for Dina.
33 reviews8 followers
December 5, 2008
Novel yang membuat pembacanya bersemangat dalam meraih kesuksesan.
Don't miss it!
Profile Image for Zaenul.
23 reviews2 followers
January 4, 2009
The one that I read was the first edition, published by Kompas
Profile Image for Kamal.
23 reviews2 followers
April 18, 2016
... wujud nilai-nilai keibuan yang sangat tinggi!
8 reviews2 followers
Currently reading
July 11, 2008
ceritanya kyknya seru..
Displaying 1 - 30 of 32 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.