Buku ini adalah buku terakhir dari Pentalogi fiksi sejarah Tariq Ali yang berlatar peradaban Islam. Keempat buku sebelumnya adalah: Shadows of the Pomegranate Tree, The Book of Saladin, The Stone Woman, A Sultan in Palermo. Night of the Golden Butterfly berlatar di banyak tempat di masa kini, mulai dari Lahore, Punjabi, Fatherland (Pakistan), dan London, serta sisipan cerita yang berlatar China akhir abad sembilan belas, semasa terjadinya pemberontakan Panthay di masa kesultanan islam Dali di China.
Dara, narator buku ini suatu ketika ditelepon oleh sahabat masa remajanya di Lahore, yang bernama Mohammed Aflatun, atau lebih sering dipanggil dengan Plato. Plato mengingatkan dirinya bahwa Dara memiliki hutang budi masa kecil. Demi melunasi hutang budi tersebut, Plato menginginkan Dara untuk menuliskan biografi tentang dirinya dan ulasan tentang karya-karya Plato. Plato adalah seorang pelukis berbakat.
Dara menyanggupi tawaran Plato, namun dia tidak ingin membuat biografi yang hanya mengambil dari satu sudut pandang saja. Dia ingin menuliskan biografi Plato yang dari kacamata teman-teman masa kecilnya di Lahore dan dari kacamata orang-orang yang pernah bersinggungan dengan pelukis berbakat itu. Maka mulailah Dara menelusuri satu persatu teman-teman masa lalu mereka. Penelusuran ini mau tidak mau membuat Dara juga menelusuri kisah-kisah masa lalu dirinya sendiri, persahabatannya dengan Plato, Zahid, Hanif dan Jindie serta Zaynab.
Jindie –kupu-kupu emas dalam buku ini –adalah perempuan muslim China keturunan dari Du Wenxiu, pemimpin pemberontakan etnis islam Hui di Yunan pada masa dinasti Qing, abad ke-19. Dari surat-surat Jindie kepada Dara, sejarah kesultanan Dali dituturkan dalam buku ini, terutama menjelang akhir kesultanan Dali dan nasib para keturunannya yang terpencar ke beberapa negara. Juga tentang peristiwa pembantaian orang-orang Islam di Kunming dan sentimen Hui-phobia yang sampai sekarang masih melanda China. Jindie juga menyelipkan tentang kesusasteraan klasik china : Dream of the Red Chamber dan Jin Ping Mei yang terkenal erotik itu. Jindie bahkan mengidentikkan dirinya dengan salah satu tokohnya. Hanif adalah kakak Jindie, oleh Zahid, Plato dan Dara, lebih sering dipanggil dengan nama Konfusius.
Jindie adalah cinta pertama Dara yang tak terbalas. Penelusuran data-data tentang Plato mengharuskan Dara untuk berhubungan kembali dengannya, juga dengan Zahid –dokter bedah yang tinggal di Washington DS (District of Satan, demikian ditulis dalam buku ini) –yang akhirnya menjadi suami Jindie. Sementara itu, Plato, yang tengah menjalin hubungan dengan Alice Stepford, kritikus musik di London, sedang jatuh cinta di puber keduanya dengan Zaynab, seorang wanita yang dipaksa oleh keluarganya untuk menikahi Al-Quran. Seiring berkembangnya cerita, Dara juga bertemu dengan Naughty Lateef, perempuan Pakistan yang menulis memoar tentang skandalnya dengan beberapa jenderal dan petinggi Pakistan.
Sekilas, novel ini seperti sebuah cerita nostalgia, beberapa orang lelaki dan perempuan yang telah berada di masa tua mereka berkumpul dan mengenang kembali masa-masa muda mereka di tanah kelahiran. Namun, apa yang dituliskan oleh Ali adalah kritik dan sindiran terhadap situasi politik terkini di Fatherland, nama yang dipakai Ali untuk menyebut Pakistan. Bagaimana orang-orang yang telah meninggalkan tanah kelahiran, tetap membaca dan mengikuti perkembangan terkini dan bereaksi dengan caranya sendiri-sendiri. Salah satu mahakarya lukisan Plato diberi judul “Four Cancer of Fatherland” menjelaskan, bahwa empat kanker yang tengah menggerogoti Fatherland adalah : Amerika, Militer, Mullah dan Politik yang korup.
Night of the Golden Butterfly, tidak seseru dan semenarik Book of Saladin. Namun, tetap ada hal-hal menarik yang kita dapatkan. Persahabatan antara Dara, Plato, Zahid dan Hanif, serta perempuan-perempuan yang berada di sekeliling mereka, adalah salah satu hal yang menarik untuk diikuti. Seperti misalnya, perempuan-perempuan yang dekat dekat Plato, selalu berakhir di tempat tidur bersama Dara, karena Plato ternyata impotent. Bahasa yang digunakan dalam dialog antar-sahabat tersebut, meski terkesan kasar, saling memaki dan mencela, namun terasa dekat. Barangkali, seperti percakapan antar-teman dalam bahasa Jawa Timur-an yang penuh dengan kalimat "cok" atau "jancok".
Nuansa internasionalisme sangat terasa dalam novel ini. Tokoh-tokohnya dengan mudah berpindah dari satu negara ke negara lain. Wajar, karena tokoh-tokoh dalam novel ini adalah mereka yang telah berada dalam kematangan usia dan kesuksesan. Meski demikian, tarikan-tarikan terhadap Fatherland sebagai tanah kelahiran yang dibenci sekaligus dirindukan, selalu menghampiri setiap tokoh-tokohnya.
Saya berharap, setelah novel ini, Tariq Ali akan menulis kembali novel berlatar sejarah Islam, namun kali ini dengan mengambil latar sejarah peradaban Islam di Indonesia, yang juga tidak kalah kayanya dengan sejarah peradaban di Timur Tengah, Eropa dan China.[]