Jump to ratings and reviews
Rate this book

Kiai Bejo, Kiai Untung, Kiai Hoki

Rate this book
Melalui tulisannya ini, kita akan melihat sosok Cak Nun yang dekat dengan berbagai lapisan masyarakat. Hal ini tentu saja beralasan, karena Cak Nun selama lebih 20 tahun berkeliling Nusantara untuk berjumpa dengan berbagai forum rakyat dan segmen sosial. Seperti golongan politik, etnik, dan agama. Berjumpa dengan buruh pencuri kayu hutan, pelacur, kumpulan preman aktif, kaum buruh, santri, mahasiswa.

Pengalamannya ini tercermin melalui tulisannya yang bernada bijak dalam memandang berbagai persoalan. Seperti masalah TKI, santri teror, jihad, bencana di Indonesia, disintegrasi sosial, Aceh, termasuk masalah Inul “Ngebor” Daratista.

258 pages, Paperback

First published January 1, 2007

18 people are currently reading
544 people want to read

About the author

Emha Ainun Nadjib

93 books484 followers
Budayawan Emha Ainun Nadjib, kelahiran Jombang, Jawa Timur, 27 Mei 1953, ini seorang pelayan. Suami Novia Kolopaking dan pimpinan Grup Musik KiaiKanjeng, yang dipanggil akrab Cak Nun, itu memang dalam berbagai kegiatannya, lebih bersifat melayani yang merangkum dan memadukan dinamika kesenian, agama, pendidikan politik dan sinergi ekonomi. Semua kegiatan pelayannya ingin menumbuhkan potensialitas rakyat.

Bersama Grup Musik KiaiKanjeng, Cak Nun rata-rata 10-15 kali per bulan berkeliling ke berbagai wilayah nusantara, dengan acara massal yang umumnya dilakukan di area luar gedung. Di samping itu, secara rutin (bulanan) bersama komunitas Masyarakat Padang Bulan, aktif mengadakan pertemuan sosial melakukan berbagai dekonstruksi pemahaman atas nilai-nilai, pola-pola komunikasi, metoda perhubungan kultural, pendidikan cara berpikir, serta pengupayaan solusi-solusi masalah masyarakat.

Dia selalu berusaha meluruskan berbagai salah paham mengenai suatu hal, baik kesalahan makna etimologi maupun makna kontekstual. Salah satunya mengenai dakwah, dunia yang ia anggap sudah terpolusi. Menurutnya, sudah tidak ada parameter siapa yang pantas dan tidak untuk berdakwah. “Dakwah yang utama bukan dengan kata-kata, melainkan dengan perilaku. Orang yang berbuat baik sudah berdakwah,” katanya.

Karena itulah ia lebih senang bila kehadirannya bersama istri dan kelompok musik KiaiKanjeng di taman budaya, masjid, dan berbagai komunitas warga tak disebut sebagai kegiatan dakwah. “Itu hanya bentuk pelayanan. Pelayanan adalah ibadah dan harus dilakukan bukan hanya secara vertikal, tapi horizontal,” ujarnya.

Perihal pluralisme, sering muncul dalam diskusi Cak Nun bersama komunitasnya. “Ada apa dengan pluralisme?” katanya. Menurut dia, sejak zaman kerajaan Majapahit tidak pernah ada masalah dengan pluralisme. “Sejak zaman nenek moyang, bangsa ini sudah plural dan bisa hidup rukun. Mungkin sekarang ada intervensi dari negara luar,” ujar Emha. Dia dengan tegas menyatakan mendukung pluralisme. Menurutnya, pluralisme bukan menganggap semua agama itu sama. Islam beda dengan Kristen, dengan Buddha, dengan Katolik, dengan Hindu. “Tidak bisa disamakan, yang beda biar berbeda. Kita harus menghargai itu semua,” tutur budayawan intelektual itu.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
123 (47%)
4 stars
82 (31%)
3 stars
47 (18%)
2 stars
6 (2%)
1 star
3 (1%)
Displaying 1 - 21 of 21 reviews
Profile Image for Evan Dewangga.
303 reviews37 followers
April 17, 2020
Bagian pertama buku, "Santri Teror", langsung menjerumuskan ke dalam cara umat Islam sebaiknya memandang terorisme "atas nama Islam". Bagian terakhir, "Gunung Jangan Pula Meletus", menyikapi bencana tsunami Aceh dan dialektika azab yang selalu populer ketika mara terjadi di negeri ini. Tidak hanya menjawab "kekepoan" saya sebagai awam, tetapi juga menguliti prasangka yang saya asumsikan pada Islam. Topiknya yang "susah" tapi relevan, diolah dari perspektif Islam dan sensitivitas sosial budaya, meluruskan kembali bahwa nilai dasar Islam tetap kedamaian.

Dari esai "Sunnah Aceh dan Qudrah Nuh" misalnya, dijelaskan tentang qudrah, intervensi langsung Tuhan terhadap manusia melalui bencana, seperti zaman Nuh. Selain itu, juga ada "tradisi penciptaan Tuhan", sunnah, lengkapnya sunnatullah, berupa alam semesta dan hukum-hukumnya. Baik ada manusia atau tidak, gempa terus akan terjadi, gunung akan tetap meletus, pun dengan tsunami. Karena memang begitulah adanya. Manusia yang mempunyai akal justru dituntut untuk mempelajari tanda-tanda, terkait ini, dengan ilmu geologi. Jadi menyimpulkan bencana tak muluk langsung menunjuk Tuhan, justru dengan belajarlah, maka kita menyadari bahwa Indonesia memang berada di "ring of fire", jadi sangat wajar kalau itu terjadi. Ini menempatkan kembali, yang diciptakan Tuhan bukan hanya manusia, tapi juga alam dan hukum alamnya.

Esai "Generasi Kempong" sangat mengagetkan saya karena begitu relatable.

"... kalau makan kunyahlah 33 kali baru ditelan. Sekadar makan, harus dikunyah sampai sekian banyak kali agar usus tidak terancam dan badan jadi sehat. Lha kok tulisan, ilmu, informasi, wacana--maunya langsung ditelan sekali jadi."
Hal. 53

Menyindir budaya instan yang menjadi penyakit banyak orang Indonesia. Inginnya langsung mengerti, menyimpulkan, bahkan langsung solusi. Pantas saja, saat ini hoaks subur, ditambah orang-orang soktau menjadi makin banyak dan pede dengan ke-soktau-annya. Baru baca headline saja, langsung berasumsi ini itu, yang penting komentar dulu. Luar biasa memang, keresahan saya terwakilkan dan sudah sejak lama ditulis Cak Nun, ketika membacanya, sadar tak sadar saya selalu mengaitkan dengan masalah kontemporer.

Ada lagi esai yang analisis cadasnya begitu menggelitik. "Pantat Inul adalah Wajah Kita Semua" menohok kemunafikan bangsa ini. Sebab goyangnya Inul semata adalah produk budaya yang lahirnya pun memang dapat diprediksi melihat gelombang budaya dangdut yang semakin vulgar dan sensual. Disandingkan dengan kritik naif raja dangdut sendiri, Rhoma Irama.

Dan masih banyak lagi esai yang menggugah. Yang jelas, asyiknya membaca ini, semua istilah Islam ataupun Jawa langsung diberi penjelasan artinya. Tidak seperti "Slilit Sang Kiai", di mana saya selalu bolak-balik googling untuk bertanya arti istilah Islam ini itu. Saya menyadari, karena diterbitkan Kompas, maka memang dipasarkan untuk nasional, dan itu memudahkan saya sebagai awam mengakses buku ini. Terlebih lagi, buku ini kesannya tak menggurui, dan selalu self-aware kalau memang tak mau menggurui. Layaknya Cak Nun cerita dan curhat ke kita. Selalu menyisakan ruang untuk kita genapi sendiri. Ini luar biasa, karena memantik dialog batin kita. Cak Nun menyediakan alur berpikir, kita yang menjalaninya, kalau memang mau berpikir hehe. Tak jarang satu esai menggema di pikiran, butuh waktu beberapa saat untuk mengendapkan, baru saya membaca tulisan berikutnya. Memang lihai Cak Nun dalam menulis. Bintang 5/5 untuk buku ini.
Profile Image for Ahmad.
Author 8 books37 followers
September 11, 2008
Tulisannya khas. Menggelitik.

Merged review:

Tulisan Cak Nun selalu menarik. Tak lantas mengikuti arus, Cak Nun lebih suka membuka jalur sendiri, memandang dari lubangnya sendiri. Dan tentu saja, tanpa bermaksud menggurui. Keren!!
Profile Image for Ryan.
176 reviews10 followers
March 14, 2008
Sang Kyai Mbeling muncul kembali.
Setelah kumpulan esay Markesot dan Opless di awal tahun 90-an, dalam bukunya kali ini Emha masih mengangkat kritik sosial seputar budaya, politik, dan pemerintahan juga masalah kemasyarakatan lainnya.

Saya menyukai gaya bahasa renyah namun sarat makna khas Emha.
Profile Image for Idham.
11 reviews
October 4, 2007
kumpulan tulisan cak nun, dulu waktu kuliah sering aku mendengarkan kajiannya di komunitas padang mbulan, cukup mencerahkan... walau kadang kata2nya cuman menentramkan jiwa ttp tdk menyelesaikan masalah...
Profile Image for Andri.
137 reviews
October 11, 2008
Kumpulan kolom Emha yang lebih baru, kumpulan tulisan sekitar periode tahun 2005-2996
Profile Image for Putra.
8 reviews2 followers
January 7, 2009
lagi2 menantang kita untuk berpikir lebih luas...
gaya tulisannya khas...
Profile Image for Kasembadan.
11 reviews
January 5, 2009
kocak menggelitik, sederhana, komplek, intelek sekaligus ndeso dan yang paling penting : isnpiratif
Profile Image for Bagus.
21 reviews
September 17, 2017
Bagaimana jika ternyata rakyat itu tidak perlu pemerintah? Bagaimana jika rakyatlah sebenarnya yang harus memerintah. Tapi ketika seorang rakyat menjadi pemerintah, ia sudah bukan lagi rakyat. Ia telah menjadi "pemerintah" yang tak lagi sepandangan dengan rakyat. Lewat buku ini, Cak Nun menggarap kado untuk segenap orang di Indonesia. Kado-kado ini ia istimewakan dan ia kumpulkan menjadi sebuah bacaan yang menggugah.
Profile Image for Giffar Masabih.
10 reviews
March 8, 2017
Sangat bagus.

Buku ini merupakan buku kedua Cak Nun yang saya baca setelah Slilit Sang Kiai. Namun saya juga mengenalnya melalui tulisan di website Cak Nun serta ceramah-ceramahnya yang bisa dengan mudah ditemukan di Youtube.
Di buku ini masih akan dijumpai karakter Cak Nun yang sejuk, penengah, sekaligus pecicilan; atau neko-neko dalam bahasa Indonesia.
Namun di tulisan yang berjudul Kiai Bejo, Kiai Untung, Kiai Hoki, saya sebagai pembaca menemui sisi yang berbeda dari Cak Nun yang selama ini saya kenal. Yang saya temui dalam tulisan tersebut adalah akumulasi amarah dari seorang yang sudah tak terhitung terjun dan berkecimpung di dalam masyarakat. Kiai Bejo, Kiai Untung, Kiai Hoki lebih dari sekedar sarkas, tulisan itu adalah palu godam yang memukul saya tepat di muka dan menjadikan saya babak belur. Untuk kemudian sadar dan mengamini segala yang tertulis disana.
Profile Image for Ginan Aulia Rahman.
221 reviews23 followers
April 3, 2015
ini buku tulisan Emha Ainun Nadjib yang pertama kali saya punya dan saya baca. Saat pertama kali membacanya saya tidak langsung paham dan mengerti. Dulu ketika SMA otak saya dodol. Setelah saya baca kedua kalinya, saya baru jatuh cinta pada tulisan Emha.

Emha sangat cerdas melakukan akrobat kata. Kalimat dan kata yang ia tulis ajaib, seringkali indah. Gaya menulisnya seru dan menjadi petualangan bahasa yang asyik.

Emha pernah berkata, apa yang ia tulis adalah hal yang sudah selesai. Tulisannya dokumentasi dan bahan pelajaran untuk hari esok.

Emha seorang pemikir dan menulis sedari muda. Akal pikiran dan nalarnya berjalan. Semua yang lewat dalam kehidupan ia pikirkan. luarbiasa.
8 reviews
September 20, 2007
ini merupakan kumpulan tulisan dari Emha di media massa/Kompas. satu tulisan yang paling saya suka, " Gunung Jangan Pula Meletus" yang kebetulan tulisan pernah saya baca di harian Kompas, pada saat media massa tengah banyak menulis tulisan tentang gempabumi dan tsunami yang melanda Aceh, Desember 2004.

buku ini masih kalah bagus dari Slilit Sang Kyai.
Profile Image for pit onthel.
4 reviews
July 14, 2008
ra dong..
tp asyik bwt nambah wawawsan sosial religi...

lucu tur nylekit..
2 reviews1 follower
January 23, 2009
through this book, u will learn hw unique,brittle n patience our society. u will find laugh at yourself though;D
Profile Image for Yusnida Aziza.
4 reviews86 followers
June 8, 2014
Bijaksana yang sederhana :). Try it, you'll see. "Do not let what I've told you hear becomes guidance".
Displaying 1 - 21 of 21 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.