Yuu Yabuuchi ( やぶうち優) is a Japanese manga artist who specializes in shōjo manga. Yu Yabuchi's most famous works are Mizuiro Jidai, Shōjo-Shōnen, and Naisho no Tsubomi. The main focus of her manga are the emotional and psychological growth of pre-teen girls and boys and early romances between them. Her works are popular among pre-teen and teenage girls. She received the 2009 Shogakukan Manga Award for children's manga for Naisho no Tsubomi.
Her favorites subjects to draw are trains and birds (especially the Java Sparrow).
Yang dimaksud Aqua Age ini tampaknya rentang masa middle grade buat seorang anak. Lalu kenapa dinamakan "Aqua Age"? Tidak terlalu dijelaskan. Hanya saja di prolog ditulis bahwa "saat itu hidup sejernih air". Mungkin ada hubungannya. Cerita ini memang mengisahkan tentang kepolosan para tokohnya yang berusia 12 tahun (kelas 6 SD) di awal cerita, hingga masa SMP.
Yuko Kawai punya teman sepermainan sejak kecil bernama Hiroshi Naganuma. Saat kelas 6 SD, Hiroshi ini masih terkesan culun dengan kacamata besarnya. Namun begitu masuk SMP, Hiroshi jadi lebih tinggi dan mengganti kacamatanya dengan lensa kontak. Teman-teman Yuko jadi menganggapnya ganteng dan menyukainya. Namun, Yuko merasa agak canggung dengan perubahan itu. Yuko tak sadar kalau Hiroshi menyukainya sejak dulu.
Yuko baru mengetahui soal perasaan Hiroshi saat SMP. Sebenarnya saat itu Yuko dimintai tolong temannya, Takako, untuk bertanya apa Hiroshi sedang menyukai gadis lain. Hiroshi mengatakan bahwa ia menyukai Yuko. Mereka berdua tak tahu bahwa saat itu Takako menguping. Yuko lalu mengatakan pada Takako bahwa Hiroshi tidak sedang menyukai siapa pun karena tidak ingin menyakiti hati sahabatnya itu. Takako marah karena Yuko berbohong. Tapi Takako setelah itu malah menjelek-jelekkan Yuko di depan teman-teman cewek lainnya di kelas. Yang lebih menyebalkan, Takako mengata-ngatai Yuko dengan sifat-sifat jelek yang sebenarnya adalah sifat Takako sendiri.
Setelah bicara dengan Hiroshi, Yuko akhirnya memutuskan menulis surat berdasarkan perasaan yang sebenarnya pada Takako. Selain meminta maaf, dia juga mengkritik sikap Takako yang menjelek-jelekkannya di depan orang lain. Rupanya Takako menghargai kejujuran Yuko. Akhirnya mereka berbaikan.
Takako ini karakter yang unik sebenarnya. Saat masih kelas 6 SD, dia digambarkan Yuko sebagai anak dengan sifat sok yang sangat menyebalkan. Sampai suatu hari Hiroshi tak sengaja mempermalukannya dengan bertanya apakah noda flek merah di bagian belakang rok Takako disebabkan karena luka. Meski pintar, Hiroshi tak tahu bahwa anak perempuan bisa menstruasi. Sedangkan teman-teman cowok lainnya tahu karena mereka tahu isi video pelajaran dasar sistem reproduksi yang ditonton para cewek secara terpisah saat jam olahraga di suatu hari. Sejak itu tampaknya Takako jadi tidak sesok biasanya.
Aku baru tahu kalau anak kelas 6 SD di Jepang sudah diajari soal sistem reproduksi manusia. Kita diajarinnya pas kelas berapa, ya? Lupa. Seingatku aku belajarnya dari sumber lain selain pelajaran sekolah deh. Kayak koran, buku, dan pamflet produk pembalut yang dibagikan di sekolah.
*
Cerita yang berkesan buatku adalah cerita soal senioritas di klub-klub ekskul sekolah. Jepang memang atmosfer senioritasnya kuat, sih. Hiroshi yang masuk klub sepak bola tidak boleh ikut berlatih dan cuma disuruh memungut bola serta menyiapkan lapangan untuk latihan karena dia masih kelas 1. Sedangkan Yuko yang masuk klub musik karena ajakan Takako, cuma boleh memukul meja dengan stik sambil mengikuti metronome. Anak-anak kelas 1 seperti dirinya juga disuruh menyiapkan dan membereskan ruang latihan, tapi para seniornya malah ongkang-ongkang kaki saja. Rambut panjang Takako dan Yuko juga dikomentari para senior karena dianggap melanggar peraturan, padahal gaya rambut para senior itu sendiri sebenarnya rambutnya juga tidak mengikuti peraturan. Sungguh ngeselin. Untungnya pas masa sekolah dulu aku sama sekali gak pernah ngerasain senioritas. Dikirim ikut lomba-lomba juga bareng kakak kelas. Perlakuannya sama.
*
Cerita The Aqua Age ini bisa dibilang sangat realis dan membumi. Tapi jujur saja buatku enggak terlalu istimewa. Mungkin karena aku membandingkannya dengan cerita-cerita Hai Miiko yang lebih lucu dan berkesan.
I thought this was a great read for middle schooler. Even years after my middle school days, reading this brought me back to that time. Such a realistic read.