Atas kehendaknya sendiri kehidupan sering memanjakan seseorang dengan cara memberinya kecantikan. Srintil, ronggeng Dukuh Paruk dan sekaligus daya hidup pedukuhan yang melarat itu, adalah salah seorang di antara mereka yang mendapat hadiah kecantikan.
Bagi Srintil, menjadi ronggeng adalah tugas hidup yang sudah ditentukan dalam cetak biru pakem hidupnya. Namun ketika status ronggeng ternyata mengantarkannya ke rumah penjara selama dua tahun, Srintil berupaya merayap menggapai makna kehidupan yang lebih terang. Dengan kemampuan nuraninya sendiri Srintil berhasil mencapai dataran di mana dia mendapat keyakinan baru. Bahwa menjadi perempuan milik umum tidak lebih berharga daripada menjadi perempuan rumah tangga. Keyakinan baru ini dibelanya dengan keras. Dan Srintil merasa hampir menanng ketika seoranng lelaki bermartabat kelihatan menaruh minat kepadanya. Sayang, kehidupan masih ingin membanting Srintil sekali lagi; bantingan dahsyat sehingga kemanusiaan Srintil hanya tersisa pada sosok dan namanya.
Srintil yang hancur jiwa dan raganya menggugah kesadaran Rasus, anak muda sepermainan Srintil ketika bocah. Rasus akhirnya mengerti, Srintil yang tinggal menjadi puing dan Dukuh Paruk yang melarat seumur-umur adalah amanat baginya. Srintil harus dibebaskan dari kegetiran dan Dukuh Paruk bersama puaknya tidak bisa lebih lama dibiarkan seperti apa adanya. Jentera Bianglala ini adalah buku ketiga dan terakhir dari urutan dua buku lain yang mendahuluinya, yakni Ronggeng Dukuh Paruk dan Lintang Kemukus Dini Hari
Ahmad Tohari is Indonesia well-knowned writer who can picture a typical village scenery very well in his writings. He has been everywhere, writings for magazines. He attended Fellowship International Writers Program at Iowa, United State on 1990 and received Southeast Asian Writers Award on 1995.
His famous works are trilogy of Srintil, a traditional dancer (ronggeng) of Paruk Village: "Ronggeng Dukuh Paruk", "Lintang Kemukus Dini Hari", and "Jantera Bianglala"
On 2007, he releases again "Ronggeng Dukuh Paruk" in Java-Banyumasan language which is claimed to be the first novel using Java-Banyumasan. Toward his effort, he receives Rancage Award 2007. The book is only printed 1,500 editions and sold out directly in the book launch.
Bibliography: * Kubah (novel, 1980) * Ronggeng Dukuh Paruk (novel, 1982) * Lintang Kemukus Dini Hari (novel, 1985) * Jantera Bianglala (novel, 1986) * Di Kaki Bukit Cibalak (novel, 1986) * Senyum Karyamin (short stories, 1989) * Bekisar Merah (novel, 1993) * Lingkar Tanah Lingkar Air (novel, 1995) * Nyanyian Malam (short stories, 2000) * Belantik (novel, 2001) * Orang Orang Proyek (novel, 2002) * Rusmi Ingin Pulang (kumpulan cerpen, 2004) * Mata yang Enak Dipandang (short stories, 2013)
I just finished the 3rd and final book of Ahmad Tohari's Ronggeng trilogy, about Srintil, the Javanese girl, who at a young age became the village's ronggeng. In the first book, we see how everybody manipulates Srintil for their own advantage and how Rasus, her childhood friend leaves her for the military. In the second book, Srintil unknowingly participates in activities and performances for leftist groups which leaves her imprisoned by the end of the book.
Now, we see Srintil return to her village. She won't talk about what happened to her during her two-year imprisonment. She's an ex-political prisoner now and only the child Goder can help her regain the energy to live. More than ever, Srintil is determined to leave her ronggeng past behind. All she wants is to become a housewife and mother. Rasus gets a few days off from the military and returns to Dukuh Paruk. Everybody expects them to marry, but I was already prepared for Rasus' bad decision of just leaving Srintil and telling the villagers that she can marry any good man who comes her way. That's when Bajus comes in. And economic, technological and infrastructural development. Things just get worse for Srintil and this time we don't have any hope of things ever improving for her.
Overall, I have to say that Ahmad Tohari's work really touched upon quintessential truth regarding Indonesian society. Recently, I read this horrific news piece (here) in Jambi (southern Sumatra) of a brother who raped his own sister and she ended up going to jail! The cycle of poverty will always continue if nothing is done about the stupidity of the villagers. But sadly, I believe that the people who rule and govern have zero interest in educating the masses, because then they would become harder to control. In the ronggeng story, we see the exact same problem. The parents failed to raise their children properly because they didn't know how. Technology advances, but the people are not ready for the new challenges, creating even more problems.
Srintil is without a doubt one of the most tragic characters I have encountered in Indonesian literature. And Rasus is just a disappointment. His religious revival at the end of this book was just too late and meaningless to me. Religion alone won't be able to help the villagers. It really needs a lot of energy and effort to help them overcome their ignorance and superstition. Indonesia is still dealing with this problem today.
Tadinya mau ngasih 5 bintang tapi berkurang gara-gara Rasus. Agak kurang sreg aja menyimak cara bertuturnya yang terkesan ingin memanusiakan Dukuh Paruk :-(
Phiuuhhh... Gaya bahasa yang kuno sekali. Butuh usaha untuk terbiasa dengannya, Menurut saya, Ahmad Tohari masih kurang berani berterus terang dalam penuturannya tentang kehidupan dan pemberontakan di dalamnya. Malah terkesan tunduk pada hegemoni tradisional. Tapi "switching plot"-nya lumayan lah.
Words can’t describe how much I love this book. The emotions hit hard, the storytelling is incredible, and the feels are just right. That ending completely wrecked me.
Ya Gusti. Trilogi cerita ini selaras, dan aku mulai bertanya-tanya tentang asal usul kata "selaras" yang terdengar semakin manis dan menyerupai sejuk angin di dedaunan. Kupikir ini kisah cinta seperti biasa, ternyata sama sekali bukan. Mengait-ngaitkannya dengan pengalaman dan suasana hidupku cukup sulit, karena perenungan dan capaian kearifan seperti ini belum pernah aku rasakan. Aku semakin merasa dunia modern ini benar telah mengikis banyak hal: bahasa, rasa, pengalaman. Perenunganku terganggu oleh perabot dan suara mekanik jarum jam, cahaya artifisial dan suara-suara dari objek yang tidak perlu lainnya. Buku semacam ini paling pantas dibaca di atas tanah, di bawah langit, sehingga setelah habis cerita kita tidak segera disambut kekakuan sekitar. Aku butuh diam berjam-jam untuk meresapi semua sampai yakin aku tidak akan lupa sedikitpun. Tapi, tentu aku akan lupa. Dan itu sebenarnya tidak mengapa karena dari cerita ini pun aku belajar bahwa manusia tidak semerta-merta. Banyak gejolak dilalui walau sudah jelas arahnya. Kalau tidak begitu tidak akan ada cerita. Aku sendiri selalu berkonflik dengan diriku sendiri, tak terkecuali tentang pernikahan. Celoteh orang yang tidak habis mulai bising dan sering membuatku kehilangan arah, merevisi pandanganku berkali-kali. Aku khawatir aku akan terus tidak berpendirian sekalipun telah sampai pada dermaga. Aku pikir aku ini tidak bisa nrimo pandum. Dan aku sering merasa tidak bisa membayangkan hidupku di sini akan cukup lestari.
Dalam seri terakhir trilogi ini, sang pengarang Ahmad Tohari semakin menjadi. Banyak sekali makna dan pelajaran moral yg diangkatnya dan pembawaan dialektis baik dalam menawarkan suatu kasus individual maupun komunal tidak bisa dianggap sebagai sesuatu yg perlu dianggap biasa saja.
Penagarang menurut saya telah kelewatan, tuturan pengalaman demi pengalaman yg penuh kegetiran yg dialami tokoh utama sungguh merupakan kepedihan nan tak tertanggungkan, namun dari keruwetan itulah pembaca diajak untuk memahami seorang wanita sebagai seorang manusia.
Dan makna tertinggi saat Rasus yg mulanya membiarkan dukuh paruk lestari dlm hal tatanan nilai kehidupan masyarakatnya sebagai ke khasan kebudayaan, mulai menyadari bahwa jalan hidup telah menunjukan dirinya untuk berbuat pada dukuhnya itu menuju jalan ilahi. Membuka pintu negeri bebal yg semula terkunci.
Baru saja menyelesaikan trilogi terakhir dari ronggeng dukuh paruk. Menceritakan tentang kehidupan Srintil setelah bebas dari penjara dan dilabeli sebagai eks tapol akibat perbuatan yang sama sekali tidak dimaksudkannya serta sebagai suatu konsekuensi atas keterbelakangan Dukuh Paruk. Setelah keluar dari tahanan, Srintil semakin merasa bahwa menjadi perempuan milik umum yang dapat mengendalikan laki-laki bukanlah nurani dan jiwa sesungguhnya dari dirinya. Mencoba mencari jati diri hingga akhirnya keyakinannya berlabuh pada keinginan untuk menjadi wanita yang hanya berpayung pada satu laki-laki dan mendedikasikan dirinya untuk rumah tangga. Menjalani kehidupan sebagai istri sekaligus ibu rumah tangga yang seperti hal biasa saja bagi perempuan lain namun suatu cita-cita yang amat berat bagi Srintil sebab barang siapa yang mau mengawini bekas ronggeng yang juga menjadi bekas tahanan politik. Srintil yang menjalani kehidupannya dengan selalu menunduk pada akhirnya menemukan lelaki proyek asal Jakarta bernama Bajus, dianggap sebagai priayi oleh warga Dukuh Paruk tetapi hanyalah kacung bagi priyayi yang sebenar-benarnya. Pada waktu yang sama Rasus, anak kandung Dukuh Paruk yang yang telah menjadi "wong gede" bersikap tidak jujur dan denial pada perasaannya sendiri hingga akhirnya tibalah saat Srintil harus dibunuh kemanusiaannya oleh Bajus dan meninggalkan raganya sendiri tanpa sorot kehidupan. Di saat Srintil sudah menjadi gila, disitulah akhirnya Rasus bermuara dan mengakhiri peperangan batinnya dengan mengakui bahwa pada dasarnya dia masih mencintai Srintil. Rasus, laki-laki masa lalu, masa sekarang, dan sepanjang masanya Srintil akhirnya bertanggungjawab dengan memikul dan menerima Srintil sepanjang hayatnya. Entah sebuah kekalahan atau kemenangan, yang pasti pada akhirnya Rasus merasa lega sekaligus tercekik oleh kehidupan. Membaca trilogi terakhir ini terasa begitu emosional, apalagi saat diceritakan bagaimana menderitanya Srintil, betapa kejamnya kehidupan ini menghujam Srintil, Srintil dan Rasus.. maybe in another life yaa kalian bisa bersama.
Jantera Bianglala adalah buku pamungkas dari trilogi Ronggeng Dukuh Paruk. Di buku kedua, cerita tentang Rasus hanya sekelumit. Di buku ini, Rasus kembali dominan bercerita seperti di buku pertama.
Buku ketiga ini menceritakan Dukuh Paruk setelah Srintil pulang dari tahanan selama dua tahun lamanya. Tidak pernah diceritakan detail yang jelas kurun waktu tersebut membuat Srintil terluka dan trauma. Srintil dengan traumanya menghiasi buku ketiga ini.
Di buku ketiga, Srintil tidak lagi menjadi ronggeng dan berusaha sekuat tenaga menjadi perempuan somahan dan menambatkan hati pada Bajus, karena Rasus menampik harapan cinta Srintil.
Jika dibandingkan dengan pertama dan kedua, buku ketiga ini lebih ringkas dan pendek, hanya empat bab dimana bab terakhir adalah anti klimaksnya. Mungkin banyak yang tidak menyukai penutup yang ditulis oleh Pak Ahmad Tohari ini. Tentu karena endingnya tidak bahagia padahal tokoh-tokoh ini sudah menderita sepanjang hayatnya. Penutup cerita ini sungguh membuat saya tergugu namun bagi saya, itulah ending terbaik dan paling masuk akal. Bukankah kehidupan seringkali memberikan pil-pil pahit pada orang-orang yang nestapa?
This entire review has been hidden because of spoilers.
Yaaa meski ini 38 minggu yang lalu, but akhirnya, buku ketiga dari trilogi Ronggeng Dukuh Paruk. AJLJDAJDAGFAGSSAGGA!!! NGGA BISA BERUCAP APAPUN MENGENAI KONTEMPLASI DAN AKHIR KISAH SRINTIL SANG MAHKOTA DUKUH PARUK. Asli, ini berakhir dengan kegetiran yang tragis. Begitu tragis. Sempet mewek mega-megap saking kerasa sakitnya pas lagi baca, harus dijeda beberapa kali karena overwhelmed banget menjelang bagian akhir. Ini sungguh masterpiece dari seorang Ahmad Tohari dan yang ini kudu banget dibaca oleh setiap insan perempuan!!! Ajegile, kudu, wajib!! Saat itu setelah membaca buku ini aku merasa harus memberikan jeda terlebih dahulu untuk diri membaca buku yang mengandung kegetiran tokoh perempuannya. Yes, selesai membaca buku ini relung dan mentalku begitu tergoncang kesakitan, ikut merasa kesakitan atas apa yang dibuat si penulis terhadap tokoh fiksinya, gila.
"Nestapa apa namanya ketika Dukuh Paruk merasa seakan tidak boleh lagi ikut merasa memiliki matahari, bumi, dan langit? Nestapa apa namanya ketika Dukuh Paruk merasa segala cicak dan tokek ikut mencibir dan menertawakannya? Dan nestapa apa namanya ketika Dukuh Paruk hanya merasa sebagai tinja kehidupan? Tinja yang harus ada pada diri orang paling bermartabat sekalipun, namun tinja sendiri jauh dari segala martabat."
konfliknya lebih seru di sini, dan menurutku dari seluruh triloginya emang jantera bianglala ini yang paling ngena. sayang sekali apa ini enggak ada lanjutannya lagi?? 😭😭 soalnya akhirnya kek nanggung gitu iya gasih 😭. personal opinion about ahmad tohari: aku engga begitu suka gaya nulisnya karena lumayan bertele-tele, TAPI deskripsi alamnya ... keadaannya, itu dapet banget jadi kek pembaca somehow bisa ngerasain objek-objek apa aja yang ada di dalamnya, à su corazón.
Buku ketiga ini menurutku agak sedikit gantung ya akhirnya. Tapi overall aku suka sekali karena buku ini bener-bener bikin emosiku naik turun. Dari yang sedih sampai kesal. Aku bener-bener mau marah waktu bagian-bagian Bajus mendapatkan kepercayaan Srintil sepenuhnya. Aku merasa ikut terkhianati alias aku kesel bukan main huhu. Akhir yang cukup tragis tapi entah kenapa kaya menggantung. Overall seru bgtTTTTTTT!!
This entire review has been hidden because of spoilers.
menurutku ideologi orang jawa yang tak mau berusaha mengubah nasib mereka adalah salah satu ideologi buatan kolonialisme. sampai sekarang pun masih ada dan mempengaruhi kehidupan mereka sendiri.
Buku terakhir dari trilogi Ronggeng Dukuh Paruk. Rasus, anak binaan Dukuh Paruk yang sekarang menjadi tentara kembali ke dusunnya yang renta dan miskin, demi menemui sang nenek yang akan menghadap Sang Khalik. Namun ia tidak menemukan Srintil, yang memang masih ditahan di Eling-Eling. Setelah beberapa lama Rasus kembali ke markas tentaranya, Srintil kembali ke Dukuh Paruk setelah dibebaskan oleh pihak tentara. Srintil sadar ia sekarang bukan perempuan biasa lagi: ia adalah perempuan bekas tahanan; perempuan mantan PKI. Senyum khas ronggengnya sudah tidak terbentuk di bibirnya lagi. Mukanya kuyu, tidak bergairah seperti halnya sewaktu ia menjadi ronggeng. Dan Srintil bertekad ia hanya ingin menjadi seorang ibu rumah tangga saja, itupun kalau ada lelaki yang bersedia menikahi mantan tahanan. Srintil berharap lelaki itu adalah Rasus, namun apa daya Rasus tak kunjung kembali ke dusunnya. Ia tidak ingin lagi menjadi milik semua laki-laki, ia tidak ingin memuaskan hasrat semua laki-laki, ia ingin dirinya, jiwa dan raganya hanya menjadi milik seorang lelaki yang menjadi suaminya kelak.
Ujian masih datang dalam hidup Srintil. Marsusi kembali menagih janji lama untuk bermalam bersama Srintil dan datangnya orang Jakarta yang terpesona akan kecantikan Srintil. Namun si orang Jakarta ini memberikan kesan mendalam pada hati Srintil. Ketika Srintil sedang menyiapkan diri untuk kedatangan si orang Jakarta - Bajus namanya - beberapa hari sebelumnya, Srintil diharuskan untuk kembali menata hatinya melihat pujaan hatinya kembali ke desa kuyu itu. Rasus dan Srintil kembali dipertemukan dan untuk pertemuan kali ini pun mereka harus terpisah lagi.
Kembali malang tidak dapat ditolak. Srintil sudah yakin ia akan diperistri oleh Bajus. Alih-alih diperistri, Bajus malah meminta Srintil tidur dengan Blengur, salah seorang atasan Bajus.
Well, kisah setelah itu bikin saya hampir nangis. Penyesalan tiada henti ketika Rasus melihat keadaan Srintil. Semua orang menyayangkan kisah hidup Srintil yang menjadi kelam begini. Semua orang menyayangkan mengapa dulu Rasus tidak mengambil Srintil menjadi istrinya. Kisah Jantera Bianglala ini sering memukul-mukul hati saya ketika membacanya. Merasakan kegugupan Srintil ketika harus bertemu Rasus lagi, merasa sedih ketika Rasus tak kunjung menginginkannya, merasa pedih ketika Srintil "ditawar" lagi.
Ngenes, ngenes, ngenes. Rasus dan Srintil, they were meant to be together. Sakit rasanya ketika tahu Srintil menjadi tidak normal dan pengen nangis rasanya ketika Rasus menerima Srintil apa adanya, dalam keadaan apapun.
5 bintang untuk perasaan yang tidak bisa terungkapkan.
Dukuh Paruk berupa karang abang lemah ireng pada awal tahun 1966 hampir semua dari kedua puluh tiga rumah di sana menjadi abu. Waktu itu banyak orang mengira kiamat bagi pedukuhan kecil itu telah tiba. Hanya satu rumah yang tersisa rumah nenek Rasus yang selamat karena terlindung pepohanan..
Dukuh Paruk tertatih-tatih menata kehidupannya kembali..tanpa ronggeng..tanpa suara calung yang telah menjadi identitasnya. Sebagai pihak yang dianggap mempunyai kesalahan historis yang tidak kepalang maka Dukuh Paruk tidak boleh tertawa. Dukuh Paruk mesti diam dan merunduk. Srintil kembali..tidak bersama dengan indang ronggengnya lagi..
Musim dan tahun berganti.. Pada tahun 1970 kehidupan di wilayah kecamatan Dawuan berubah gemuruh oleh deru truk-truk besar berwarna kuning serta buldoser dari berbagai jenis dan ukuran. Begitu pula dengan warga Dukuh Paruk mereka tidak lagi tertunduk, tetapi juga berubah mengikuti perubahan zaman..
Srintil berubah menjadi perempuan baik-baik..mendamba menjadi seorang istri bagi Bajul..tetapi khayalan tidak seindah kenyataan..sekali lagi Dukuh Paruk harus kehilangan, bukan hanya Ronggeng, tetapi juga jiwa seorang wanita bernama Srintil..
Dukuh Paruk yang tua dan masih naif, langit di atas kelihatan bersih. Hanya kabut yang gaib, dan baru kasat mata setelah dia membuat jantera bianglala di seputar bulan. Bulan berkalang bianglala di atas sana kuanggap sebagai sasmita bagi diriku sendiri, untuk mengambil wilayah kecil yang terkalang sebagai sasaran mencari makna hidup. Dukuh Paruk harus dibantu menemukan dirinya kembali, lalu diajak mencari keselarasan di hadapan Sang Wujud yang serba tanpa batas.
Bagian akhir dari trilogi Ronggeng Dukuh Paruk. Bagian ini diceritakan dari sudut pandang Srintil dan Rasus secara bergantian. Ada sedikit kemiripan antara hal yang dialami Srintil dengan apa yang dialami oleh Lasi di Bekisar Merah, juga sebuah novel dari Ahmad Tohari, namun nasib yang dialami Srintil lebih tragis, dengan dinamika emosionalnya yang kontras dengan bagian awal novel, himpitan cinta tak sampai, kesewenangan tradisi, serta pengkambinghitaman terhadap orang-orang yang disangka komunis. Saya suka dengan endingnya yang walau menyajikan getirnya sebuah tragedi, tetapi menyisakan secercah harapan, dengan tidak terjebak dalam klise dan melodrama. Secara keseluruhan novel ini sangat menggetarkan, kisah cinta yang berbeda dan khas dibalut dengan tradisi lokal kental, suasana alam yang dilukiskan dengan hidup, dan latar keberingasan massal di tahun 1965. Jadi ingin menonton filmnya, 'Sang Penari'.
Dia menemukan Dukuh Paruk yang murung, tak berdaya menyaksikan Srintil yang tidur bersama tahi dan kencingnya. Dan hatinya pun terbelah oleh kemanusiaan. Perjalanannya sebagai satu-satunya orang yang terdidik di Dukuh Paruk membangkitkan kesadarannya sebagai hakekat manusia sejati, yang ternyata bimbang oleh jaman bergerak. Namun, bagi penduduk Dukuh Paruk, Rasus adalah Ratu Adil yang bisa menyelamatkan desa dari nista geger 1965. Ironik...
Terkesan dengan Rasus.. di buku pertama dan buku ketiga ini Rasus tetap membuatku tersentuh. Dia adalah laki-laki sejati. Dia memperlihatkan seperti itulah yg namanya cinta yg sebenarnya, walau kadang kala karena cinta itu dia terluka. Walaupun terluka, dia tetap saja menjunjung tinggi cinta yg dia anut. Akhirnya, dari luka itu dia kembali ke dukuh paruk dengan ilmu kehidupan yg akan membawa dukuh paruk dari keterpurukan, dan kebodohan. Dia kembali untuk menerima Srintil, wanita yg dicintainya. walau dia tak menjadi Srintil ronggeng dukuh paruk yg normal, dia menerima sritil yg gila.
Rasus, muliakanlah sang ibu dari semua anak Dukuh Paruk. Jangan pedulikan siapapun bahkan dunia ini.
"Bagian yang paling menggetarkan hati adalah ketika Srintil bertemu Rasus dalam suasana yang paling mengharukan. Telah terjadi sebuah pertemuan agung antara dua orang kekasih yang telah terpisahkan oleh zaman, peristiwa dan bencana politik..."
Sadarlah Srintil... dunia masih membutuhkan belas kasih, pelukan dan belaianmu...
Bagian terakhir dari trilogi Ronggeng Dukuh Paruk. Menunjukkan perputaran roda kehidupan seorang anak manusia bernama Srintil. Menunjukkan bagaimana rapuhnya dia sebagai seorang perempuan, dengan segala kepolosan dan harapannya akan kebahagiaan. Menunjukkan bagaimana kerasnya kehidupan menghancurkan kerapuhan hati seorang perempuan.
Tapi menurut saya, endingnya sedikit hambar. tidak akan ditulis lebih jauh, takut jadi sop iler
Catatan Rasus di bagian akhir cerita ini rasanya antara bikin nyesek juga kagum. Panggilannya untuk kembali ke Dukuh Paruk, kecintaannya pada tanah airnya yg kecil. Seperti kembali ke kasih sayang yg mula-mula.
Satu lagi buku yang tamat dalam perjalanan, di busway. Maunya berceloteh banyak ttg trilogi Dukuh Paruk ini, tapi waktunya belum mengijinkan deh.
Banyak makna yang tersirat dan tersurat dari trilogi ini. Sudut pandang para burung, termasuk nama tokoh utamanya, Srintil. Simbolisme dari Dukuh Paruk sebagai tanah air. Aku yakin pasti sudah banyak yang menjadikan trilogi ini skripsi atau bahan telaah, dan itu sudah sepantasnya, karena kepiawaian Tohari merangkai kata dan makna.