Jump to ratings and reviews
Rate this book

Feminisme: Sebuah Kata Hati

Rate this book
Buku ini memuat tulisan-tulisan terpilih Gadis Arivia selama sepuluh tahun menggeluti bidang feminisme sejak tahun 1995 hingga tahun 2005. Kumpulan tulisan ini tersebut di berbagai jurnal, surat kabar, terbitan buku, seminar, lokakarya serta bahan-bahan pengajaran feminisme di berbagai universitas.

Ia menulis banyak hal yang berkaitan dengan masalah perempuan di Indonesia, dari persoalan budaya, sastra, politik, ekonomi, pendidikan hingga pemilihan Miss Universe.

Gadis Arivia mengeksplorasi dengan bebas antara teori dan praktik feminisme, menekankan pentingnya bahasa dan pemikiran perempuan di semua bidang baik privat maupun publik.

486 pages, Paperback

First published January 1, 2006

11 people are currently reading
138 people want to read

About the author

Gadis Arivia

8 books9 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
16 (26%)
4 stars
19 (31%)
3 stars
21 (34%)
2 stars
5 (8%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 6 of 6 reviews
Profile Image for Sylvia.
89 reviews32 followers
November 7, 2007
It's like a brief history on everything on feminism. What I love most about this article compilation is that it teaches me that by generating and applying gender mainstreaming you'll be able to mainstream any other marginalized party. What an absolutely delightful and applicable thought.
Profile Image for M Mushthafa.
145 reviews17 followers
May 16, 2009
URL: http://rindupulang.blogspot.com/2006/...

Jejak Refleksi Seorang (Aktivis) Feminis

Dalam jagad feminisme di Indonesia, tak banyak sosok yang dapat dikategorikan sebagai aktivis sekaligus pemikir, yang bergerak dan berjuang di lapangan sekaligus menggeluti diskursus teoretis feminisme. Di antara sedikit sosok semacam itu kita dapat menyebut nama Gadis Arivia, pengajar filsafat di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, yang juga bergiat mendirikan dan mengelola Yayasan Jurnal Perempuan di Jakarta sejak 1996.
Sebagai seorang akademisi, Gadis telah menerbitkan buku Filsafat Berperspektif Feminis (YJP, 2003), yang berasal dari disertasinya di UI. Dalam buku tersebut Gadis melakukan pembacaan dekonstruktif atas sejarah panjang Filsafat Barat yang maskulin dan menawarkan sebuah perspektif baru untuk lebih memberdayakan filsafat dalam kerangka keadilan dan pembebasan. Sebagai aktivis, berbagai kegiatan telah dilakukan Gadis, terutama bersama Yayasan Jurnal Perempuan, mulai dari penerbitan Jurnal Perempuan, siaran radio di berbagai daerah, hingga turun ke jalan pada 1998 memprotes kenaikan harga susu bersama Suara Ibu Peduli. Baru-baru ini, Gadis lantang menentang RUU APP yang dinilainya mengabaikan kepentingan kaum perempuan.
Buku ini adalah semacam antologi dan jejak refleksi di antara kiprah Gadis selama ini dalam ranah perjuangan untuk mengangkat harkat perempuan di Indonesia. Sementara Filsafat Berperspektif Feminis lebih memperlihatkan sosok Gadis sebagai seorang akademisi, buku ini merekam pergulatan panjang Gadis selama sepuluh tahun terakhir dalam ikhtiar kerasnya memulihkan martabat kaum perempuan di Indonesia. Dalam buku ini pembaca akan dapat melihat nuansa perjuangan Gadis yang begitu luas dan kaya; Gadis menulis tentang sejarah gerakan dan pemikiran perempuan, aborsi, pornografi, tentang kontroversi Inul, pemilihan Miss Universe, traficking, keterbelakangan perempuan dalam pendidikan, pekerja rumah tangga, dan sebagainya.
Cukup menarik jika pembaca memerhatikan judul buku ini: Feminisme: Sebuah Kata Hati. Judul ini menyiratkan bahwa feminisme yang disajikan dan dipotret dalam kumpulan tulisan ini bukan feminisme sebagai wacana atau pemikiran belaka; bukan feminisme yang diperdebatkan atau dibicarakan secara ilmiah, teoretis, dan akademis. Pemilihan judul ini seperti ingin mengundang pembaca untuk menatap isu-isu perempuan dari kacamata sensitivitas pengalaman yang lebih personal. Sampul buku ini, yang menampilkan gambar seorang bocah perempuan dengan latar dinding gubuk yang kumuh, yang merupakan foto karya Curt Carnemark berjudul “Girl in Pasar Ikan, Jakarta”, semakin mempertegas arah pendekatan yang diharapkan Gadis untuk melihat feminisme, dengan nuansa yang lebih menyentuh dan membangkitkan empati.
Sayangnya, jika menelaah semua tulisan dalam buku ini, kita tidak akan cukup yakin bahwa dalam buku ini Gadis menyajikan semua persoalan perempuan dengan gaya penyajian yang cukup konsisten dengan arah pendekatan yang diinginkannya itu. Dari segi teknis menulis, setidaknya yang terangkum dalam buku ini, Gadis tidak sepenuhnya bisa lepas dari statusnya sebagai seorang akademisi, sehingga beberapa cara penyajian Gadis atas sejumlah perangkat teori feminisme masih kurang mengalir, lincah dan mengesai, sehingga kurang mampu mengentalkan “kata hati” perempuan. Kita dapat menemukan ini saat Gadis mengulas sosok Kartini (hlm. 38-48), kekerasan negara atas perempuan (hlm. 207-225), atau undang-undang perkawinan (hlm. 434-446).
Meski demikian, dapat dikatakan bahwa kerangka teoretis umum yang secara implisit diajukan Gadis dalam buku ini cukup mengena dengan corak pendekatan yang diharapkannya itu. Gadis, yang lahir di New Delhi 8 September 1964, cukup percaya bahwa berhadapan dengan persoalan perempuan Indonesia yang rumit dan akut, kita tak dapat sepenuhnya mengandalkan pada dekonstruksi teoretis feminisme atas ketimpangan, marginalisasi, dan subordinasi yang dialami perempuan.
Dalam banyak tulisannya di buku ini, Gadis mendekati persoalan kaum perempuan dengan perspektif multikulturalisme. Secara umum dapat dikatakan bahwa pendekatan multikultural dalam feminisme menghendaki adanya penghargaan atas keragaman cara berada dan latar setiap kaum perempuan, sehingga hal ini memengaruhi cara mereka bersiasat menghadapi ketertindasan dalam beragam hal. Keunikan dan subjektivitas setiap perempuan diberi tempat yang lebih leluasa. Dalam memaparkan kontroversi Inul misalnya, Gadis menunjukkan bagaimana Inul yang merupakan seorang perempuan marjinal tampil dengan gayanya yang khas; Inul hadir dengan bahasa yang “lain”, yang kemudian dikoreksi oleh para pemegang otoritas agar dapat memenuhi tuntutan bahasa universal asumsi patriarki (hlm. 122-130). Pendekatan yang demikian ini terasa cukup berhasil untuk lebih menghadirkan kata hati kaum perempuan.
Demikian pula, dalam beberapa tulisan yang lain, Gadis menulis dengan penuh empati, saat bertutur tentang perdagangan perempuan dan anak (hlm. 249-262), menyajikan pleidoi saat ia diadili karena menggelar demonstrasi Suara Ibu Peduli pada Februari 1998 (hlm. 283-285), atau surat terbukanya kepada Presiden Megawati di tahun 2003 yang dimuat di Harian The Jakarta Post (hlm. 305-309).
Buku ini cukup menarik dan bernilai penting jika dilihat sebagai sebuah upaya dialektis Gadis Arivia untuk mempraktikkan lingkaran aksi dan refleksi atas perjuangannya selama ini—sesuatu yang patut diteladani terutama buat para aktivis dan pemikir. Dengan begitu, aksi dan refleksi ini akan dapat melahirkan sebuah cara pandang yang lebih baik dan utuh terhadap kebutuhan solusi konkret atas persoalan yang ada.

Profile Image for miaaa.
482 reviews421 followers
April 8, 2009
Menarik. Topik-topik yang diangkat Gadis dalam setiap tulisannya ini menyinggung banyak hal. Perkembangan kelompok feminis, budaya patriarki dan kekerasan yang selalu merugikan perempuan, politik 'susu' yang bukan sekedar tentang susu untuk bayi, lingkungan, pekerja rumah tangga hingga pemilihan ratu kecantikan.

Namun aku bertanya, lalu bagaimana tentang perempuan dalam olah raga? Yang aku maksud di sini tentunya bukan tentang para WAGS tapi para perempuan yang secara profesional menjadi atlit. Masa iya tidak ada bias jender dalam olah raga? Aku ingat pertengahan 90-an ketika Serie A Italia sedang berjaya (Zidane di Juventus, Nedved di Lazio, Totti baru jadi pangeran Roma, Nesta yang digadang menjadi the next Baresi) sebuah klub (Sampdoria??) berencana menunjuk seorang perempuan menjadi pelatih.

Yang terjadi adalah hujatan, caci maki, bahkan ada semacam tindak pelecehan dengan mengatakan, "berarti kami tidak bisa lagi bebas berkeliaran tanpa busana di ruang ganti karena ada dia di sana!" Ujicoba wasit perempuan juga jalan di tempat karena hanya beberapa kali ada perempuan di lapangan, itu pun kebanyakan mentok jadi hakim garis.

Kepopuleran Mia Hamm di timnas Amerika Serikat sedikit banyak menarik perhatian orang, terutama mereka yang selama ini menganggap sepakbola bukan untuk perempuan. Tapi sering juga yang ditunggu dari aksi-aksi para perempuan di lapangan hijau adalah selebrasi melepas kausnya (bahkan ada iklan produk mengenai ini!).

Gadis benar, lawan kaum feminis bukan laki-laki tetapi budaya patriarki yang telah berjalan kurang lebih 3.000 tahun. Dan yang paling menyakitkan negara yang dikuasai budaya patriarki ini juga menjadi musuh perempuan karena banyak tindak kekerasan terhadap perempuan dibiarkan oleh negara dan aparatnya dengan alasan itu ranah privat bukan publik!
Profile Image for Melinda.
174 reviews5 followers
October 25, 2009
saat mulai membaca bukunya...
saya mulai menyadari bahwa beliau (Gadis Arivia) pasti seorang jenius dan pekerja keras..

setelah selesai membaca bukunya...
saya tahu terdapat perbedaan yang sangat nyata antara feminisme dan feminist....

buku ini mengajarkan banyak hal..

buku yang wajib dibaca oleh semua perempuan di dunia dan juga para pria yang belum memahami apa arti sebuah kata "feminisme"..
Profile Image for Jeng Nana.
38 reviews2 followers
July 14, 2010
Memutuskan milih buku ini dari rak pertama simply because of the title :) Nggak rugi banget dibaca. Do I put it in literature shelve? Hmmm... Iya untuk Indonesia kali ya.
Profile Image for Asthariea Shanthy.
1 review
Read
June 19, 2014
feminisme pelajaran baru buat gue, belajar feminisme bukan buat pikiran jadi liar tapi membuat kita belajaar bagaiaman orang berfikir tentang perempuan
Displaying 1 - 6 of 6 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.