What do you think?


Puisi Mbeling
Inilah buku pertama yang memuat puisi-puisi mbeling karya Remy Sylado, pencetus gerakan puisi mbeling, dari 1971 sampai 2003.Dipilih sendiri oleh sang penyair, 143 puisi dalam buku ini akan membuat kita tersenyum, tertawa terbahak-bahak, atau merenung. Namun jangan salah sangka, di dalam kelakarnya Remy serius. Dia menelanjangi sikap feodal dan munafik masyarakat kita, terutama di kalangan pemimpin bangsa.
kesemenaan sekarang siapa yang bisa larang
yang dulu lembut sudah berubah jadi garang
dalam kampanye partai orang bawa parang
seperti penyamun bopeng keluar dari sarang
....
betapapun cerita ini tidak kamu suka
mengungkapnya berarti mencoreng muka
tapi coba kenang itu pengalaman duka
bahwa kedua orde memang membawa luka
inilah waktu paling pantas kita buka
satu kecut belimbing satu kecut cuka
254 pages, Paperback
First published January 1, 2004
About the author
Remy Sylado
39 books148 followersRemy Sylado lahir di Makassar 12 Juli 1945. Dia salah satu sastrawan Indonesia. Nama sebenarnya adalah Yapi Panda Abdiel Tambayong (Jampi Tambajong). Ia menghabiskan masa kecil dan remaja di Solo dan Semarang. Sejak usia 18 tahun dia sudah menulis kritik, puisi, cerpen, novel, drama, kolom, esai, sajak, roman popular, juga buku-buku musikologi, dramaturgi, bahasa, dan teologi. Ia memiliki sejumlah nama samaran seperti Dova Zila, Alif Dana Munsyi, Juliana C. Panda, Jubal Anak Perang Imanuel. Dibalik kegiatannya di bidang musik, seni rupa, teater, dan film, dia juga menguasai sejumlah bahasa.
Remy Sylado memulai karir sebagai wartawan majalah Tempo (Semarang, 1965), redaktur majalah Aktuil Bandung (1970), dosen Akademi Sinematografi Bandung (1971), ketua Teater Yayasan Pusat Kebudayaan Bandung. Remy terkenal karena sikap beraninya menghadapi pandangan umum melalui pertunjukan-pertunjukan drama yang dipimpinnya.
Selain menulis banyak novel, ia juga dikenal piawai melukis, dan tahu banyak akan dunia perfilman. Saat ini ia bermukim di Bandung. Remy pernah dianugerahi hadiah Sastra Khatulistiwa 2002 untuk novelnya Kerudung Merah Kirmizi.
Dalam karya fisiknya, sastrawan ini suka mengenalkan kata-kata Indonesia lama yang sudah jarang dipakai. Hal ini membuat karya sastranya unik dan istimewa, selain kualitas tulisannya yang sudah tidak diragukan lagi. Penulisan novelnya didukung dengan riset yang tidak tanggung-tanggung. Seniman ini rajin ke Perpustakaan Nasional untuk membongkar arsip tua, dan menelusuri pasar buku tua. Pengarang yang masih menulis karyanya dengan mesin ketik ini juga banyak melahirkan karya berlatar budaya di luar budayanya. Di luar kegiatan penulisan kreatif, ia juga kerap diundang berceramah teologi.
Karya yang pernah dihasilkan olehnya antara lain : Orexas, Gali Lobang Gila Lobang, Siau Ling, Kerudung Merah Kirmizi (2002). Kembang Jepun (2003), Matahari Melbourne, Sam Po Kong (2004), Rumahku di Atas Bukit, 9 dari 10 Kata Bahasa Indonesia adalah Bahasa Asing, dan Drama Musikalisasi Tarragon “ Born To Win “, dan lain-lain.
Remy Sylado pernah dan masih mengajar di beberapa perguruan di Bandung dan Jakarta seperti Akademi Sinematografi, Institut Teater dan Film, dan Sekolah Tinggi Teologi.
Remy Sylado memulai karir sebagai wartawan majalah Tempo (Semarang, 1965), redaktur majalah Aktuil Bandung (1970), dosen Akademi Sinematografi Bandung (1971), ketua Teater Yayasan Pusat Kebudayaan Bandung. Remy terkenal karena sikap beraninya menghadapi pandangan umum melalui pertunjukan-pertunjukan drama yang dipimpinnya.
Selain menulis banyak novel, ia juga dikenal piawai melukis, dan tahu banyak akan dunia perfilman. Saat ini ia bermukim di Bandung. Remy pernah dianugerahi hadiah Sastra Khatulistiwa 2002 untuk novelnya Kerudung Merah Kirmizi.
Dalam karya fisiknya, sastrawan ini suka mengenalkan kata-kata Indonesia lama yang sudah jarang dipakai. Hal ini membuat karya sastranya unik dan istimewa, selain kualitas tulisannya yang sudah tidak diragukan lagi. Penulisan novelnya didukung dengan riset yang tidak tanggung-tanggung. Seniman ini rajin ke Perpustakaan Nasional untuk membongkar arsip tua, dan menelusuri pasar buku tua. Pengarang yang masih menulis karyanya dengan mesin ketik ini juga banyak melahirkan karya berlatar budaya di luar budayanya. Di luar kegiatan penulisan kreatif, ia juga kerap diundang berceramah teologi.
Karya yang pernah dihasilkan olehnya antara lain : Orexas, Gali Lobang Gila Lobang, Siau Ling, Kerudung Merah Kirmizi (2002). Kembang Jepun (2003), Matahari Melbourne, Sam Po Kong (2004), Rumahku di Atas Bukit, 9 dari 10 Kata Bahasa Indonesia adalah Bahasa Asing, dan Drama Musikalisasi Tarragon “ Born To Win “, dan lain-lain.
Remy Sylado pernah dan masih mengajar di beberapa perguruan di Bandung dan Jakarta seperti Akademi Sinematografi, Institut Teater dan Film, dan Sekolah Tinggi Teologi.
Ratings & Reviews
Friends & Following
Create a free account to discover what your friends think of this book!
Community Reviews
Displaying 1 - 30 of 41 reviews
May 17, 2026
In May 2026, for the first time in my life, I randomly discovered what I would call a masterpiece, the kind of hidden artistic work that not everyone even knows exists.
This collection contains many different forms of expression, ranging from visual art to poetry touching on themes of sex, politics, religion, and social conditions, all while becoming a living witness to the era of Suharto’s New Order regime.
What also makes Sylado such a remarkable artist here is the abundance of pop culture references, along with his use of Javanese, Sundanese, Betawi, and Batak languages throughout the work. I also looked into his life story and found him to be an extraordinary person, he formed a band and even acted in several films.
After finishing this poetry collection, I became genuinely interested in exploring more of his works.
Well, as a closing note, to all my fellow Indonesian readers: you guys really should read this work!!
This collection contains many different forms of expression, ranging from visual art to poetry touching on themes of sex, politics, religion, and social conditions, all while becoming a living witness to the era of Suharto’s New Order regime.
What also makes Sylado such a remarkable artist here is the abundance of pop culture references, along with his use of Javanese, Sundanese, Betawi, and Batak languages throughout the work. I also looked into his life story and found him to be an extraordinary person, he formed a band and even acted in several films.
After finishing this poetry collection, I became genuinely interested in exploring more of his works.
Well, as a closing note, to all my fellow Indonesian readers: you guys really should read this work!!
April 16, 2023
Siapa di sini yang suka keracunan rekomendasinya @awaywithbooks 😂
Sewaktu @penerbitkpg mengirimkanku dua eksemplar karya alm. Remy Sylado (Paris van Java dan Kerudung Merah Kirmizi), aku langsung mengirimkan pesan kepada mamaku. Menanyakan apakah mama mau membaca buku-buku tersebut.
Singkat cerita, mama bilang kalau tulisan beliau nggak sulit. Dan aku masih belum terdorong buat baca sampai menemukan postingannya Way ketika membaca Puisi Mbeling.
Ulasannya sangat menggoda. Katanya, puisinya bisa dinikmati begitu saja sambil mengingat zaman Orde Baru yang merupakan sasaran kritik Remy Sylado.
Rupanya Way benar. Aku bisa langsung memahami sebagian besar puisi dan sajak yang ditulis oleh Remy Sylado. Blak-blakan tanpa perlu menggunakan diksi "asing" tapi tetap saja terasa indah dan jenaka.
Diberi judul "Puisi Mbeling" juga ada alasannya sendiri. Di bagian pendahuluan, pembaca diberi tahu tentang kiprah Remy Sylado, termasuk dalam berpuisi. Bagiku ini menarik. Karena toh yang membaca Remy Sylado kini nggak cuma mereka yang sempat menyaksikan beliau muncul di media massa. Memberikan pendahuluan semacam itu setidaknya bisa memperkenalkan siapa sosok penulis kepada pembaca awam.
Puisi Mbeling memang bukan sekadar topiknya saja yang "mbeling". Melainkan juga format puisi yang "mendobrak pakem" saat itu. Ada salah satu puisi yang berbentuk spiral. Dan bentuk itu punya makna yang selaras dengan kata-kata yang dituangkan di sana.
Way berhasil "meyakinkanku" kalau Remy Sylado nggak sehoror apa yang kusangka selama ini. Mumpun dua buku lainnya belum kukirim ke rumah, sepertinya aku akan coba membaca satu novel dulu.
Kalau kamu juga penasaran dengan tulisan Remy Sylado tapi takut memulai, mungkin bisa mencoba membaca Puisi Mbeling. Berkenalan dengan "mbeling"-nya beliau.
Sewaktu @penerbitkpg mengirimkanku dua eksemplar karya alm. Remy Sylado (Paris van Java dan Kerudung Merah Kirmizi), aku langsung mengirimkan pesan kepada mamaku. Menanyakan apakah mama mau membaca buku-buku tersebut.
Singkat cerita, mama bilang kalau tulisan beliau nggak sulit. Dan aku masih belum terdorong buat baca sampai menemukan postingannya Way ketika membaca Puisi Mbeling.
Ulasannya sangat menggoda. Katanya, puisinya bisa dinikmati begitu saja sambil mengingat zaman Orde Baru yang merupakan sasaran kritik Remy Sylado.
Rupanya Way benar. Aku bisa langsung memahami sebagian besar puisi dan sajak yang ditulis oleh Remy Sylado. Blak-blakan tanpa perlu menggunakan diksi "asing" tapi tetap saja terasa indah dan jenaka.
Diberi judul "Puisi Mbeling" juga ada alasannya sendiri. Di bagian pendahuluan, pembaca diberi tahu tentang kiprah Remy Sylado, termasuk dalam berpuisi. Bagiku ini menarik. Karena toh yang membaca Remy Sylado kini nggak cuma mereka yang sempat menyaksikan beliau muncul di media massa. Memberikan pendahuluan semacam itu setidaknya bisa memperkenalkan siapa sosok penulis kepada pembaca awam.
Puisi Mbeling memang bukan sekadar topiknya saja yang "mbeling". Melainkan juga format puisi yang "mendobrak pakem" saat itu. Ada salah satu puisi yang berbentuk spiral. Dan bentuk itu punya makna yang selaras dengan kata-kata yang dituangkan di sana.
Way berhasil "meyakinkanku" kalau Remy Sylado nggak sehoror apa yang kusangka selama ini. Mumpun dua buku lainnya belum kukirim ke rumah, sepertinya aku akan coba membaca satu novel dulu.
Kalau kamu juga penasaran dengan tulisan Remy Sylado tapi takut memulai, mungkin bisa mencoba membaca Puisi Mbeling. Berkenalan dengan "mbeling"-nya beliau.
August 30, 2009
seruuuu
aku emang selalu suka kata-kata pilihan dia yang tepat dan .... nakal ;)
ANJING
Kalau kau memujiku awet muda
kau menyamakan aku bagai anjing
Sebab anjing dari kecil sampai tua
wajahnya hanya anjing dan tetap anjing
(p 5)
aku emang selalu suka kata-kata pilihan dia yang tepat dan .... nakal ;)
ANJING
Kalau kau memujiku awet muda
kau menyamakan aku bagai anjing
Sebab anjing dari kecil sampai tua
wajahnya hanya anjing dan tetap anjing
(p 5)
November 29, 2025
Majalah Horison, yang didirikan pada 1966, sempat menjadi barometer utama sastra Indonesia selama beberapa dekade. Dimuat di Horison sering kali dianggap sebagai stempel pengakuan "penyair" resmi. Dengan kriteria puisi yang cenderung mengutamakan topik-topik bernada serius, mendalam, dan terkadang gelap (mungkin dipengaruhi gaya kepenyairan Sapardi Djoko Damono atau Taufiq Ismail) seolah-olah menciptakan homogenitas estetika tertentu.
Gerakan Puisi Mbeling yang dipelopori oleh Remy Sylado pun muncul sebagai satu dari banyaknya tanggapan signifikan terhadap situasi tersebut. Istilah "mbeling" sendiri berasal dari bahasa Jawa yang berarti nakal, bandel, atau tidak menurut aturan. Puisi Mbeling memang secara eksplisit dihadirkan untuk menolak aturan dan hierarki yang telah dibuat oleh para sastrawan senior dalam media sastra arus utama.
Dalam kumpulan puisinya, yang ditulis dari tahun 1971 sampai 2003, Remy Sylado seakan bermain-main dengan bahasa syair yang lebih bebas, lugas, santai, dan sering kali memasukkan unsur bahasa gaul, prokem, atau kata-kata yang dianggap rendah dalam kamus sastra formal. Padahal menurutnya, menuliskan puisi sama saja dengan perkara membuang air liur atau lendir ingus—seharusnya bisa semerdeka itu untuk dilakukan.
Kenakalan Remy Sylado, misalnya, bisa dilihat dalam sajak berjudul “Antikorupsi Kepribadian Nasional” yang cuma menampilkan gambar bibir dengan ukuran yang bermacam-macam, atau dalam sajak “Ketika Kata Hilang Lafaz” yang hanya berisi bait berupa tanda tanya dan tanda seru. Bahkan, pada saja berjudul “Puisi yang Bebas dari Kata-kata”, ia tidak menuliskan teks apa-apa. Benar-benar mbeling!
Puisi Mbeling yang ditulis Remy pada periode awal kepenyairannya (sebelum dan sepanjang 1972), bisa dibilang hampir menyerupai format fiksimini yang sempat tren di kalangan anak muda Twitter pada circa 2010-an. Isinya kadang berupa kritik atas genotipe orang Indonesia, misalnya dalam puisi berikut:
TEKS ATAS DESCARTES
Orang Perancis
berpikir
maka mereka ada
Orang Indonesia
tidak berpikir
namun terus ada.
BISNIS PAMAN
Pamanku punya pabrik tahu
maka soal tahu ia tahu sekali
Se-tahu-ku membuat tahu
merupakan penge-tahu-an biasa
Bahwa yang saban hari makan tahu
beraknya bukan tahu tapi pasti tahi.
Kepiawaiannya berbahasa dan kritiknya atas pola pembentukan kata dalam bahasa Indonesia juga tersirat dari puisi “Kisah Vowel Rangkap Oo” (Kamus Umum Bahasa Indonesia memang siap dicem-oo-h, katanya).
Di samping jadi kritikus bahasa, ia juga sering kali menyinggung perihal kesenjangan budaya antardaerah seperti yang tertuang dalam “Kesibukan Kota-Kota “M”” dan juga puisi berikut:
SUNDANOLOGI
orang Jawa Timur
adalah orang Jawa
orang Jawa Tengah
adalah orang Jawa
orang Jawa Barat
tak mau disebut Jawa
palaina naon atuh neng?
Namun, puncak dari selera humor Remy Sylado yang paling gong tentu saja bisa ditemukan secara tersurat dari puisi-puisinya yang bernada sindiran politik, seperti pada judul “Legislatif”, “Papi Mewanti Anak”, dan juga sajak berikut:
INTIMIDASI DALAM DEMOKRASI
siapa
berani
melebihi kepala
terhadap kepala
pasti
bakal
hilang kepala
(1989)
Pada bab Cerita-Cerita antara 1970-2002, Remy juga menulis prosa yang relatif lebih panjang. Bisa dibilang, ini adalah bagian paling penting dalam buku ini. Sebagai puisi, formatnya memang tak umum, tapi untuk dianggap sebagai cerita pendek, ia lebih mirip anekdot. Tulisan-tulisannya di sini memperlihatkan dengan jelas posisi politik Remy Sylado yang ingin memprotes keras penindasan sistemik oleh pemerintah, terutama pada masa Orde Baru, saat cerita-cerita tersebut ditulis. Cerita favoritku tentu saja “Encek Peng Khun”, “Bupati Tigor”, dan “Mas Bang Bung”.
ENCEK PENG KUN
Encek Peng Kun lahir di Jakarta
dari kakek-nenek yang sudah membumi di Batavia
sejak Adriaen Velckenier membantai orang Cina
Walau sudah mengindonesia sekian lama
Encek Peng Kun belum punya surat warganegara
sebab dipersulit selama penjajahan Orde Baru
yang memakan waktu tiga setengah dasawarsa
dan tak sama dengan penjajahan Jepang
yang memakan waktu tiga setengah tahun
dan tak sama dengan penjajahan Belanda
yang memakan waktu tiga setengah abad
[...]
Sialnya, ini resmi menjadi salah satu buku kumpulan puisi terbaik dan ter-mbeling yang pernah saya baca!
Gerakan Puisi Mbeling yang dipelopori oleh Remy Sylado pun muncul sebagai satu dari banyaknya tanggapan signifikan terhadap situasi tersebut. Istilah "mbeling" sendiri berasal dari bahasa Jawa yang berarti nakal, bandel, atau tidak menurut aturan. Puisi Mbeling memang secara eksplisit dihadirkan untuk menolak aturan dan hierarki yang telah dibuat oleh para sastrawan senior dalam media sastra arus utama.
Dalam kumpulan puisinya, yang ditulis dari tahun 1971 sampai 2003, Remy Sylado seakan bermain-main dengan bahasa syair yang lebih bebas, lugas, santai, dan sering kali memasukkan unsur bahasa gaul, prokem, atau kata-kata yang dianggap rendah dalam kamus sastra formal. Padahal menurutnya, menuliskan puisi sama saja dengan perkara membuang air liur atau lendir ingus—seharusnya bisa semerdeka itu untuk dilakukan.
Kenakalan Remy Sylado, misalnya, bisa dilihat dalam sajak berjudul “Antikorupsi Kepribadian Nasional” yang cuma menampilkan gambar bibir dengan ukuran yang bermacam-macam, atau dalam sajak “Ketika Kata Hilang Lafaz” yang hanya berisi bait berupa tanda tanya dan tanda seru. Bahkan, pada saja berjudul “Puisi yang Bebas dari Kata-kata”, ia tidak menuliskan teks apa-apa. Benar-benar mbeling!
Puisi Mbeling yang ditulis Remy pada periode awal kepenyairannya (sebelum dan sepanjang 1972), bisa dibilang hampir menyerupai format fiksimini yang sempat tren di kalangan anak muda Twitter pada circa 2010-an. Isinya kadang berupa kritik atas genotipe orang Indonesia, misalnya dalam puisi berikut:
TEKS ATAS DESCARTES
Orang Perancis
berpikir
maka mereka ada
Orang Indonesia
tidak berpikir
namun terus ada.
BISNIS PAMAN
Pamanku punya pabrik tahu
maka soal tahu ia tahu sekali
Se-tahu-ku membuat tahu
merupakan penge-tahu-an biasa
Bahwa yang saban hari makan tahu
beraknya bukan tahu tapi pasti tahi.
Kepiawaiannya berbahasa dan kritiknya atas pola pembentukan kata dalam bahasa Indonesia juga tersirat dari puisi “Kisah Vowel Rangkap Oo” (Kamus Umum Bahasa Indonesia memang siap dicem-oo-h, katanya).
Di samping jadi kritikus bahasa, ia juga sering kali menyinggung perihal kesenjangan budaya antardaerah seperti yang tertuang dalam “Kesibukan Kota-Kota “M”” dan juga puisi berikut:
SUNDANOLOGI
orang Jawa Timur
adalah orang Jawa
orang Jawa Tengah
adalah orang Jawa
orang Jawa Barat
tak mau disebut Jawa
palaina naon atuh neng?
Namun, puncak dari selera humor Remy Sylado yang paling gong tentu saja bisa ditemukan secara tersurat dari puisi-puisinya yang bernada sindiran politik, seperti pada judul “Legislatif”, “Papi Mewanti Anak”, dan juga sajak berikut:
INTIMIDASI DALAM DEMOKRASI
siapa
berani
melebihi kepala
terhadap kepala
pasti
bakal
hilang kepala
(1989)
Pada bab Cerita-Cerita antara 1970-2002, Remy juga menulis prosa yang relatif lebih panjang. Bisa dibilang, ini adalah bagian paling penting dalam buku ini. Sebagai puisi, formatnya memang tak umum, tapi untuk dianggap sebagai cerita pendek, ia lebih mirip anekdot. Tulisan-tulisannya di sini memperlihatkan dengan jelas posisi politik Remy Sylado yang ingin memprotes keras penindasan sistemik oleh pemerintah, terutama pada masa Orde Baru, saat cerita-cerita tersebut ditulis. Cerita favoritku tentu saja “Encek Peng Khun”, “Bupati Tigor”, dan “Mas Bang Bung”.
ENCEK PENG KUN
Encek Peng Kun lahir di Jakarta
dari kakek-nenek yang sudah membumi di Batavia
sejak Adriaen Velckenier membantai orang Cina
Walau sudah mengindonesia sekian lama
Encek Peng Kun belum punya surat warganegara
sebab dipersulit selama penjajahan Orde Baru
yang memakan waktu tiga setengah dasawarsa
dan tak sama dengan penjajahan Jepang
yang memakan waktu tiga setengah tahun
dan tak sama dengan penjajahan Belanda
yang memakan waktu tiga setengah abad
[...]
Sialnya, ini resmi menjadi salah satu buku kumpulan puisi terbaik dan ter-mbeling yang pernah saya baca!
December 12, 2011
1292nd - 2011
Tidak seperti baca buku puisi lainnya, baca buku ini tidak perlu banyak memikirkan makna yang tersirat, karena sebagian besar sudah tersurat. Kumpulan puisi yang nakal, penuh permainan kata, atau malah tak perlu kata-kata.
Baca puisi di halaman 48 (1972) yang ini:
Judul puisi:
SEORANG PENYAIR LAPAR MENGIRIM PUISINYA KEPADA SEBUAH SURATKABAR PAGI LANTAS DIMUAT SETELAH ENAM BULAN MENUNGGU HONORNYA SELAMA TIGA BULAN PAS UNTUK BELI TAHU SUMEDANG DUA KERANJANG DAN SETELAH MEMAKANNYA SEMUA IA TEURAB SEBISANYA
Isi puisi:
Aaaa!
Jadi teringat flashfic Isman H. Suryaman di reviewku atas buku yang ini:
http://www.goodreads.com/review/show/...
Tidak seperti baca buku puisi lainnya, baca buku ini tidak perlu banyak memikirkan makna yang tersirat, karena sebagian besar sudah tersurat. Kumpulan puisi yang nakal, penuh permainan kata, atau malah tak perlu kata-kata.
Baca puisi di halaman 48 (1972) yang ini:
Judul puisi:
SEORANG PENYAIR LAPAR MENGIRIM PUISINYA KEPADA SEBUAH SURATKABAR PAGI LANTAS DIMUAT SETELAH ENAM BULAN MENUNGGU HONORNYA SELAMA TIGA BULAN PAS UNTUK BELI TAHU SUMEDANG DUA KERANJANG DAN SETELAH MEMAKANNYA SEMUA IA TEURAB SEBISANYA
Isi puisi:
Aaaa!
Jadi teringat flashfic Isman H. Suryaman di reviewku atas buku yang ini:
http://www.goodreads.com/review/show/...
April 20, 2025
kerennnnn, aku baru pertama kali kayanya baca puisi dengan kata-kata nakal dan frontal seperti ini 😅😅
dari judulnya pun "puisi mbeling" OVERALL sangat amat bagusssss, kata-kata yang mempunyai kekuatan.
dari judulnya pun "puisi mbeling" OVERALL sangat amat bagusssss, kata-kata yang mempunyai kekuatan.
October 12, 2023
BRILLIANT. I have never read poems as fun as his.
January 16, 2009
WAKTU DOA ULANGTAHUN
terima kasih tuhan atas hidangan ini
berhubung botty tiba-tiba kentut
terpaksa
amin kami ganti dengan
jancuk.
(hlm. 52)
terima kasih tuhan atas hidangan ini
berhubung botty tiba-tiba kentut
terpaksa
amin kami ganti dengan
jancuk.
(hlm. 52)
September 7, 2010
puisi satir...
tentang kehidupan..
bahwasanya hidup tak selamanya indah...
begitu juga puisi...
tak selamanya bertutur runut dan berjalan pada pakem yang ada...
tentang kehidupan..
bahwasanya hidup tak selamanya indah...
begitu juga puisi...
tak selamanya bertutur runut dan berjalan pada pakem yang ada...
February 25, 2015
"nanti malam
aku pasti datang padamu
walaupun bumi diguncang gempa
walaupun kota dihanguskan api
tapi
asalkan tidak hujan."
hahahahaha.
aku pasti datang padamu
walaupun bumi diguncang gempa
walaupun kota dihanguskan api
tapi
asalkan tidak hujan."
hahahahaha.
January 28, 2026
doa
kala sadar
dosa
kala lupa.
— hlm. 109 (Mental Spiritual Orang Indonesia)
Buku keempat di tahun 2026, sebenarnya buku ini sudah kubaca sejak akhir tahun 2025 yang lalu. Tetapi baru bisa kuselesaikan karena tiba-tiba bukunya nggak bisa dipinjam + aplikasi iPusnas galat mulu. Tetapi yah syukurlah akhirnya sudah balik normal kembali hahaha (setelah 2-3 minggu lamanya menunggu).
Jujur sebuah kebahagiaan tersendiri bisa membaca karya beliau, terlebih lagi karya tersebut adalah Puisi Mbeling, yaitu suatu aliran puisi yang dipopulerkan oleh beliau sendiri di tahun 70-an. Sesuai dengan nama bukunya, puisi yang terdapat dalam buku ini bener-bener mbeling (nakal). Apa itu kata-kata puitis? Puisi mbeling nggak mengenal hal tersebut, atau mungkin kenal, tetapi memutuskan tutup mata dan berbicara lugu apa adanya.
(24)
berpolitik ibarat menarik tambang
siapa hadir ia lolos dari timbang
khalayak memujinya dengan tembang
lantas menghujatnya waktu tumbang
— hlm. 144 (Sajak Sanjak)
Hal yang aku sukai dari puisi mbeling adalah bagaimana puisi ini melawan pakem bahwa puisi harus selalu bermain dengan diksi-diksi manis. Puisi mbeling melawan kekakuan itu, mulai dari diksi yang santai, bait yang tak selalu serima, sampai tipografi yang terkadang lebih mirip gambar dan susunan huruf yang berbentuk. Puisi mbeling mengajarkanku alih-alih harus pusing-pusing memikirkan permainan diksi dan rima apa yang ingin diutarakan, bukankah lebih baik langsung straight to the point dan fokus pada pesannya. Biarkan dan lepaskanlah kelakar, rasa, kritik, arti dan makna dengan bebas, kemudian biarkanlah pembaca membacanya dengan senyum tipis terpampang di antara kumis dan janggutnya.
Walaupun pada akhirnya, tidak semua puisi mbeling dalam buku ini bisa kunikmati. Namun, bagi kalian yang ingin melihat dan merasakan puisi dalam perspektif atau sudut pandang yang aneh dang berbeda. Aku sangat merekomendasikan buku ini, terlebih khusus lagi bagi para penyair yang suka dan belajar menulis, buku ini chef kiss for me (lmao).
Presiden pertama
bermain mata dengan komunis
Presiden kedua
bermain mata dengan kapitalis
Presiden ketiga
bermain mata dengan presiden kedua
Presiden keempat
tidak mungkin bermain mata
— hlm. 163 (Presiden)
kala sadar
dosa
kala lupa.
— hlm. 109 (Mental Spiritual Orang Indonesia)
Buku keempat di tahun 2026, sebenarnya buku ini sudah kubaca sejak akhir tahun 2025 yang lalu. Tetapi baru bisa kuselesaikan karena tiba-tiba bukunya nggak bisa dipinjam + aplikasi iPusnas galat mulu. Tetapi yah syukurlah akhirnya sudah balik normal kembali hahaha (setelah 2-3 minggu lamanya menunggu).
Jujur sebuah kebahagiaan tersendiri bisa membaca karya beliau, terlebih lagi karya tersebut adalah Puisi Mbeling, yaitu suatu aliran puisi yang dipopulerkan oleh beliau sendiri di tahun 70-an. Sesuai dengan nama bukunya, puisi yang terdapat dalam buku ini bener-bener mbeling (nakal). Apa itu kata-kata puitis? Puisi mbeling nggak mengenal hal tersebut, atau mungkin kenal, tetapi memutuskan tutup mata dan berbicara lugu apa adanya.
(24)
berpolitik ibarat menarik tambang
siapa hadir ia lolos dari timbang
khalayak memujinya dengan tembang
lantas menghujatnya waktu tumbang
— hlm. 144 (Sajak Sanjak)
Hal yang aku sukai dari puisi mbeling adalah bagaimana puisi ini melawan pakem bahwa puisi harus selalu bermain dengan diksi-diksi manis. Puisi mbeling melawan kekakuan itu, mulai dari diksi yang santai, bait yang tak selalu serima, sampai tipografi yang terkadang lebih mirip gambar dan susunan huruf yang berbentuk. Puisi mbeling mengajarkanku alih-alih harus pusing-pusing memikirkan permainan diksi dan rima apa yang ingin diutarakan, bukankah lebih baik langsung straight to the point dan fokus pada pesannya. Biarkan dan lepaskanlah kelakar, rasa, kritik, arti dan makna dengan bebas, kemudian biarkanlah pembaca membacanya dengan senyum tipis terpampang di antara kumis dan janggutnya.
Walaupun pada akhirnya, tidak semua puisi mbeling dalam buku ini bisa kunikmati. Namun, bagi kalian yang ingin melihat dan merasakan puisi dalam perspektif atau sudut pandang yang aneh dang berbeda. Aku sangat merekomendasikan buku ini, terlebih khusus lagi bagi para penyair yang suka dan belajar menulis, buku ini chef kiss for me (lmao).
Presiden pertama
bermain mata dengan komunis
Presiden kedua
bermain mata dengan kapitalis
Presiden ketiga
bermain mata dengan presiden kedua
Presiden keempat
tidak mungkin bermain mata
— hlm. 163 (Presiden)
November 7, 2025
4/5
Membaca Remy Sylado seperti mengunjungi lembaran masa SMA. Di sebuah ruang kelas di salah satu sekolah swasta di Yogyakarta, saya berjumpa dengan karya beliau. Puisi-puisinya yang liar, mbeling, jenaka, dan cerdik dalam mengolah suara dan bahasa begitu memantik imajinasi saya. Ada bara rebel yang jelas memukau otak seorang remaja. Semacam jari tengah kepada institusi bahasa, pemerintah, dan agama.
Dan ya, membaca buku ini, saya kembali terpukau dengan kemahiran Remy Sylado dalam bermain rima, kata-kata, hingga rupa puisi; acapkali dengan nada jenaka dan jahil. Bahasa Batak, Jawa, Sunda, Manado, Hokkien, dan Belanda dapat bercengkrama begitu asyiknya dalam satu bait puisi yang sama. Huruf, suku kata, frasa dibolak-balik dengan begitu piawai.
Dan melihat rujukan nama-nama tempat dalam kumpulan puisi ini, jelas bahwa Remy Sylado adalah sastrawan yang telah melanglang buana. Ada semacam sensibilitas dalam puisi-puisi beliau yang hanya bisa ditemui pada pengelana kawakan. Ini bukan sekedar tentang daftar nama tempat tetapi juga perspektif dan kemampuan untuk membangun komedi dalam berbagai bahasa dan perspektif.
Di sisi lain, ada beberapa aspek puisi beliau yang terasa usang ketika dibaca di tahun 2025. Misalnya, running joke tentang prostitusi dan penyakit kelamin yang terasa seperti artifak atau fosil dari era 80an dan 90an. Dalam beberapa format yang cukup panjang menyerupai prosa, persenjataan bahasa yang dihunus Remy Sylado terasa tumpul dan bertele-tele.
Saya rasa, untuk jadi mbeling, sebuah puisi tidak perlu mengandalkan jumlah kata. Ia akan bersinar ketika dilepaskan seperti anak panah demi anak panah yang ramping, tajam, gesit, dan tepat sasaran.
Membaca Remy Sylado seperti mengunjungi lembaran masa SMA. Di sebuah ruang kelas di salah satu sekolah swasta di Yogyakarta, saya berjumpa dengan karya beliau. Puisi-puisinya yang liar, mbeling, jenaka, dan cerdik dalam mengolah suara dan bahasa begitu memantik imajinasi saya. Ada bara rebel yang jelas memukau otak seorang remaja. Semacam jari tengah kepada institusi bahasa, pemerintah, dan agama.
Dan ya, membaca buku ini, saya kembali terpukau dengan kemahiran Remy Sylado dalam bermain rima, kata-kata, hingga rupa puisi; acapkali dengan nada jenaka dan jahil. Bahasa Batak, Jawa, Sunda, Manado, Hokkien, dan Belanda dapat bercengkrama begitu asyiknya dalam satu bait puisi yang sama. Huruf, suku kata, frasa dibolak-balik dengan begitu piawai.
Dan melihat rujukan nama-nama tempat dalam kumpulan puisi ini, jelas bahwa Remy Sylado adalah sastrawan yang telah melanglang buana. Ada semacam sensibilitas dalam puisi-puisi beliau yang hanya bisa ditemui pada pengelana kawakan. Ini bukan sekedar tentang daftar nama tempat tetapi juga perspektif dan kemampuan untuk membangun komedi dalam berbagai bahasa dan perspektif.
Di sisi lain, ada beberapa aspek puisi beliau yang terasa usang ketika dibaca di tahun 2025. Misalnya, running joke tentang prostitusi dan penyakit kelamin yang terasa seperti artifak atau fosil dari era 80an dan 90an. Dalam beberapa format yang cukup panjang menyerupai prosa, persenjataan bahasa yang dihunus Remy Sylado terasa tumpul dan bertele-tele.
Saya rasa, untuk jadi mbeling, sebuah puisi tidak perlu mengandalkan jumlah kata. Ia akan bersinar ketika dilepaskan seperti anak panah demi anak panah yang ramping, tajam, gesit, dan tepat sasaran.
September 8, 2026
Mental Spiritual Orang Indonesia
doa
kala sadar
dosa
kala lupa
Hal.102.
Aku bukan penikmat puisi. Terlebih, puisi yang ditulis dengan super ribet sampai gak paham yang nulis tuh sebenarnya mau bicara apa di puisi-puisinya. Joko Pinurbo katanya (salah satu) pengecualian. Yang sering aku dengar, puisinya lebih sederhana walau sayangnya aku belum pernah membuktikan langsung (dengan cara membaca bukunya).
Lantas, kenapa aku bela-belain beli dan baca Puisi Mbeling ini? faktor utamanya: Remy Sylado, penulis Indonesia favoritku. Novel-novelnya aku suka banget dan nggak ada salahnya untuk mengenal beliau lewat puisi, bukan?
Dan rupanya sangat menyenangkan baca puisi-puisi mbeling aka nakal ini. Begitulah puisinya, ditulis apa adanya dan memang nakal. Walau begitu, puisi-puisi om Remy ini juga kental kritikannya. Terutama terhadap kehidupan para pejabat di Indonesia.
Nalam Tentang Tikus
Berfoya-foya dianggapnya harus
demikian gaya hidup bini pejabat
Sejak suami berhenti jadi tikus
Ia tak punya kesempatan mengerat
Hal.84.
Menarik! Dan buku ini membagi puisinya menjadi 4 bagian: Sebelum 1972, Sepanjang 1972, Setelah 1972, Cerita-cerita Antara 1970-2002. Aku pribadi sangat menikmati 3 bagian pertama puisinya. Yang antara 1970-2002 kebanyakan puisinya panjang banget bahkan ada yang udah kayak cerpen haha. Tapi secara keseluruhan, Puisi Mbeling ini menyenangkan untuk dibaca.
Skor 8,5/10
December 20, 2023
Aku cuma bisa senyum sambil haha hihi baca buku ini.
Berbicara dengan Bu Remy, aku cuma ingat jaman aku masih SMP. Saat itu guru Bahasa Indonesiaku memberiku nilai 98! Itu hal yang jauh diatas rata-rata nilai bahasa rekan sekelasku. Dapat 100 di ujian matematika itu biasa, tapi kalau di bahasa, itu diluar kebiasaan. Sejak itu aku punya hati yang besar dengan bahasa. Langkah pertama dan memiliki arti yang besar bagi hidupku adalah saat aku dikenalkan guru bahasaku saat itu dengan puisi mbeling-nya Remy Sylado.
Hanya bisa membatin, bisa ya puisi dan bahasa selucu dan sekuat ini efeknya.
Berbicara dengan Bu Remy, aku cuma ingat jaman aku masih SMP. Saat itu guru Bahasa Indonesiaku memberiku nilai 98! Itu hal yang jauh diatas rata-rata nilai bahasa rekan sekelasku. Dapat 100 di ujian matematika itu biasa, tapi kalau di bahasa, itu diluar kebiasaan. Sejak itu aku punya hati yang besar dengan bahasa. Langkah pertama dan memiliki arti yang besar bagi hidupku adalah saat aku dikenalkan guru bahasaku saat itu dengan puisi mbeling-nya Remy Sylado.
Hanya bisa membatin, bisa ya puisi dan bahasa selucu dan sekuat ini efeknya.
June 6, 2026
Lampau tapi tak usang. 23761 di sini meramu kemarahannya menjadi banyak wujud: kenyerian, ratapan, renungan, dan bahkan banyolan.
Kalau benar sastra itu, meminjam istilahnya Taufik Abdullah, sebagai pantulan historis suatu masa, maka pembaca Puisi Mbeling akan mendapati tak terlalu banyak perubahan antara masanya 23761 dengan kiwari. Pembaca bisa baca, misalnya:
Di depan berpenampilan nabi / di belakang berpenampilan babi / Di depan alim beradab / di belakang lalim biadab / Apakah kau tidak sanggup melihat kebenaran / yang kau sangka nyata itu / sama seperti tahi, mubazir, dan busuk? //
Kalau benar sastra itu, meminjam istilahnya Taufik Abdullah, sebagai pantulan historis suatu masa, maka pembaca Puisi Mbeling akan mendapati tak terlalu banyak perubahan antara masanya 23761 dengan kiwari. Pembaca bisa baca, misalnya:
Di depan berpenampilan nabi / di belakang berpenampilan babi / Di depan alim beradab / di belakang lalim biadab / Apakah kau tidak sanggup melihat kebenaran / yang kau sangka nyata itu / sama seperti tahi, mubazir, dan busuk? //
December 23, 2025
ternyata kertas dan deretan huruf bisa jadi wahana permainan yang tak terduga. gak cuma puisi, bahkan pengetikan juga bisa jadi eksploratif. bagian awal ke tengah adalah bukti nyata ke-mbelingan itu. sangat menyenangkan.
March 25, 2023
Ini aneh
April 8, 2023
25 - 2023
June 10, 2023
⭐4.75 so silly but bold and brave
September 25, 2023
Saya membaca versi cetakan terbaru. Puisinya memang mbeling. Tapi syukurlah, yang mbeling itu lebih jujur menyingkap kebenaran yang dibedaki kepalsuan.
Buku apik, tajam, mbeling!
Buku apik, tajam, mbeling!
October 12, 2023
bagus bangettt
October 30, 2023
lumayan, bold dan berani. kata-katanya bikin melek dan sesekali bikin nyengir
June 19, 2024
Got the rare hardback [first] edition of this. Extraordinary!
June 2, 2025
Puisi penuh satir dan sindiran. Mantap!
Read
July 26, 2025Jangan
Bilang
Bilang
September 9, 2026
brutal
betul
haha
betul
haha
December 7, 2007
Baca buku puisi ini serasa baca buku komik....kata-katanya ringan dan mudah dipahami tapi itu justru adalah yang menyenangkan buatku, karena tidak perlu bersusah payah memikirkan apa yang dipikirkan sang penyair kita langsung mengerti apa maksudnya....gamblang...
Cara penulisannya-pun bervariasi ( tidak monoton ) ada tulisan judul saja tanpa ada kata-kata... seperti dalam puisi " PUISI YANG BEBAS DARI KATA-KATA ". Terus ada juga beberapa simbol, lambang dan huruf-huruf asing yang mendeskripsikan isi puisi tersebut.
Paling suka puisi:
LEBIH BAIK MATI MUDA
Jika usia menua kapan waktu
dan aku tak berani menulis puisi
dengan jendela yang dibuka lebar
melihat kenyataan diluar rumah
tentang kebusukan yang memerintah
tentang kesemenaan yang berkuasa
tentang kotupsi yang memimpin
tentang penindasan hak asasi
Lebih baik aku mati muda
Jika puisi berhenti berpihak
pada keperkasaan hati nurani
yang lahirkan kemauan mengasihi
tapi hanya umpatan-umpatan kesumat
dan pernyataan-pernyataan benci
dan ungkapan-ungkapan palsu
dan kalimat-kalimat marah
dan sumpah-serapah culas
Lebih baik aku mati muda
Jika tiada lagi hakekat cinta
yang mukim dalam hati manusia
sebagai harta kekayaan rohani
sebagai rahim dari sejati puisi
apa guna memanjang-manjang usia
tanpa memberi warisan pekerti
kecuali hanya menggantang asap
berharap yang kemarin kembali
Lebih baik aku mati muda
Jika puisi kehilangan kesungguhan
dan tidak punya kepercayaan diri
untuk menyatakan cinta
untuk menyatakan peduli
untuk menyatakan hormat
untuk menyatakan syukur
untuk manyatakan maaf
untuk menyatakan iba
Lebih baik aku mati muda.
(1971)
Cara penulisannya-pun bervariasi ( tidak monoton ) ada tulisan judul saja tanpa ada kata-kata... seperti dalam puisi " PUISI YANG BEBAS DARI KATA-KATA ". Terus ada juga beberapa simbol, lambang dan huruf-huruf asing yang mendeskripsikan isi puisi tersebut.
Paling suka puisi:
LEBIH BAIK MATI MUDA
Jika usia menua kapan waktu
dan aku tak berani menulis puisi
dengan jendela yang dibuka lebar
melihat kenyataan diluar rumah
tentang kebusukan yang memerintah
tentang kesemenaan yang berkuasa
tentang kotupsi yang memimpin
tentang penindasan hak asasi
Lebih baik aku mati muda
Jika puisi berhenti berpihak
pada keperkasaan hati nurani
yang lahirkan kemauan mengasihi
tapi hanya umpatan-umpatan kesumat
dan pernyataan-pernyataan benci
dan ungkapan-ungkapan palsu
dan kalimat-kalimat marah
dan sumpah-serapah culas
Lebih baik aku mati muda
Jika tiada lagi hakekat cinta
yang mukim dalam hati manusia
sebagai harta kekayaan rohani
sebagai rahim dari sejati puisi
apa guna memanjang-manjang usia
tanpa memberi warisan pekerti
kecuali hanya menggantang asap
berharap yang kemarin kembali
Lebih baik aku mati muda
Jika puisi kehilangan kesungguhan
dan tidak punya kepercayaan diri
untuk menyatakan cinta
untuk menyatakan peduli
untuk menyatakan hormat
untuk menyatakan syukur
untuk manyatakan maaf
untuk menyatakan iba
Lebih baik aku mati muda.
(1971)
February 23, 2008
Membaca buku ini dan buku Remy Silado lainnya, betapa akhirnya kita melihat bahwa Remy setia dengan ke-nge-pop-annya. Kredo yang bisa jadi membuatnya menyentil sohibnya Almarhum Hari Roesli ketika akan berangkat studi doktoral di bidang musik. Konon ia menyentil, apa perlunya musik dibuat seserius akademisi membuatnya. Dialog di Braga itu memperlihatkan perbedaan kedua sohib akrab.
Puisi-puisi dalam buku ini pernah menyentak banyak tetua di bidang kepenyairan pada masanya. Sejauh mana tingkat "berkeseniannya" pun menurut sebagian orang layak didiskusikan terlebih dahulu. Tapi yang jelas puisi ini pernah begitu menggugah banyak orang untuk sekedar menorehkan kata lalu menduganya, "sudahkah saya berpusi?" atau "sekedar canda?" atau "lelucon tanpa makna?". Toh akhirnya Remy tidak bergeming kecuali tetap meneriakan, "seni atau sastra dan sebangsanya bukan cuma punya kaum kening berkerut saja." Ia bebas menghampiri dan terlahir dari sekedar kejenakaan yang juga tak lepas dari kedalaman pesan.
Begitukah? Ah entah! Mungkin Remy pun cuma akan bilang, "jelasnya karya saya tidak butuh komentar seserius ini." Baiknya baca saja dan nikmati puisi yang juga mengguratkan sebaris senyum di wajah pembacanya!
Puisi-puisi dalam buku ini pernah menyentak banyak tetua di bidang kepenyairan pada masanya. Sejauh mana tingkat "berkeseniannya" pun menurut sebagian orang layak didiskusikan terlebih dahulu. Tapi yang jelas puisi ini pernah begitu menggugah banyak orang untuk sekedar menorehkan kata lalu menduganya, "sudahkah saya berpusi?" atau "sekedar canda?" atau "lelucon tanpa makna?". Toh akhirnya Remy tidak bergeming kecuali tetap meneriakan, "seni atau sastra dan sebangsanya bukan cuma punya kaum kening berkerut saja." Ia bebas menghampiri dan terlahir dari sekedar kejenakaan yang juga tak lepas dari kedalaman pesan.
Begitukah? Ah entah! Mungkin Remy pun cuma akan bilang, "jelasnya karya saya tidak butuh komentar seserius ini." Baiknya baca saja dan nikmati puisi yang juga mengguratkan sebaris senyum di wajah pembacanya!
June 14, 2009
pertama kali tau buku ini pas ikutan acara di CCF,
anak-anak dari buma sempat membuat musikalisasi-nya... tapi gda niatan buat beli buku yg digelar (berdiskon) di muka ruang pertemuan
tapi dipinjemin dan dsruh baca buku ini,
pas melihat isinya ternyata bagus... tiap lantunan katanya lugas, berpasangan, saling mengait kuat, gda kesan vulgar walaupun berkali-kali ada selipan kisah 'selangkangan', gda kesan kasar meski sering disisipkan hujatan.
Remy Sylado yang datang hari itu
membaca slh satu puisi dalam buku ini, namun sayangnya dia bukan penggugah yang mahir dalam membawakan tidak secantik dan semenarik goresan tangannya, hehehe.. maaf Pak, alhasil kebacanya hasil pinjeman dan dah mayan lama pula sejak acara itu...
inget bgt tu pergantian kepala CCF,
acara di Salemba along with other Franchoponie ;p tp tetep salute bt Bapak!
anak-anak dari buma sempat membuat musikalisasi-nya... tapi gda niatan buat beli buku yg digelar (berdiskon) di muka ruang pertemuan
tapi dipinjemin dan dsruh baca buku ini,
pas melihat isinya ternyata bagus... tiap lantunan katanya lugas, berpasangan, saling mengait kuat, gda kesan vulgar walaupun berkali-kali ada selipan kisah 'selangkangan', gda kesan kasar meski sering disisipkan hujatan.
Remy Sylado yang datang hari itu
membaca slh satu puisi dalam buku ini, namun sayangnya dia bukan penggugah yang mahir dalam membawakan tidak secantik dan semenarik goresan tangannya, hehehe.. maaf Pak, alhasil kebacanya hasil pinjeman dan dah mayan lama pula sejak acara itu...
inget bgt tu pergantian kepala CCF,
acara di Salemba along with other Franchoponie ;p tp tetep salute bt Bapak!
June 5, 2008
Sebagai karya yang (unik) lahir pada tahun 70-an, puisi ini dianggap sebagai pemutusan hubungan antara Chairilisme dan Pujangga Baru, mengarah pada persoalan gaya, dianggap sebagai perubahan yang signifikan di antara karya-karya yang ada saat itu. Sylado memformulasikan karyanya ini demi mengupas kesepedanan karya yang bermunculan, sebagai pengutip dari Chairil. Bermain-main pada tutur dan bentuk, Syalado berhasil pada eranya. Mungkin akan mengundang tawa para pembaca. Keberadaannya yang hanya sebagai tren (budaya pop) tentu punah. Pergolakan puisi Indonesia terus dikendalikan oleh stir lirik Sapardi. Di sini lain Sutardji mencoba ke lain bentuk.
Displaying 1 - 30 of 41 reviews































