Jump to ratings and reviews
Rate this book

Perkara-Perkara Nyaris Puitis

Rate this book

196 pages

Published July 6, 2023

1 person is currently reading
4 people want to read

About the author

Hilmi Faiq

5 books

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
4 (23%)
4 stars
6 (35%)
3 stars
7 (41%)
2 stars
0 (0%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 4 of 4 reviews
Profile Image for Kiky ☆.
140 reviews5 followers
February 12, 2024
Awalnya aku mau ngasih bintang 3 pada buku kumpulan puisi ini, karena dari awal sampai pertengahan belum ada puisi yang membuatku termenung.

Tapi pertengahan hingga akhir, ada puisi yang bagus.
Sekitar 4 puisi yang bagus menurutku di buku ini.

Di buku ini, puisi-puisinya memang mengupas kehidupan dari mata pengamat, semua yang bisa dilihat sehari-hari tanpa ada campur tangan bingkai atau framing yang dibuat-buat atau sudah dimodifikasi.

Dan, aku baru tau kalau penulis memang seorang jurnalis wkwk
Profile Image for Sintia Astarina.
Author 5 books359 followers
September 2, 2023
Buka berita 🗞️ dan nyalakan TV 📺. Tidakkah berita soal kemiskinan, kelaparan, dan kriminalitas malah membuat kita “kenyang” sehari-hari?

Cenderung bosan dan itu-itu saja, barangkali. Setiap hari ada isu baru, dengan cepatnya berlalu, dan terlupakan.

Namun di tangan Hilmi Faiq, beragam fenomena itu dibuatnya “berumur panjang”. Sederhananya, agar negeri ini tak mudah lupa.

Apalagi, ada banyak peristiwa lain pernah (dan masih terjadi): isu pendidikan yang rendah, perjuangan mencari nafkah di ibukota, ketidakadilan, bencana alam, disrupsi media sosial, korupsi, politik, sampai simpanan pejabat sekalipun dibahasnya.

Lihat saja sampul buku ini: lem aibon beraroma pekat berisi pohon tumbang 🌴, ponsel 📲, sandal 🩴, jeriken bensin 🛢️, ban 🛞, masker 😷, tergambar jelas apa yang ingin disampaikannya.

Yang menarik, tema virus corona 🦠 tetap mendapat sorotnya. Buatku yang merasa masa-masa itu (telah) berlalu, jadi mempertanyakan relevansinya dengan masa kini. Mungkin, ini cara kita mengenang 3 tahun kemarin yang diisi dengan masker, rajin cuci tangan, sirine ambulan, kehilangan orang tersayang, sekaligus merayakan kedekatan kita kembali kepada Tuhan.

Membaca antologi puisi Perkara-Perkara Nyaris Puitis seperti menghadirkan nostalgia di kepala. Tepatnya ke zaman bangku kuliah saat belajar Jurnalistik dan jadi wartawan dulu. Turun ke lapangan, bersentuhan langsung dengan masyarakat, melatih observasi dan intuisi, meningkatkan kepekaan, mengasah hati nurani, juga mengemukakan kebenaran.

Lewat sebentuk puisi, nyatanya ada emosi lain yang berhasil menjalari hati dan membikin kita berempati —perasaan yang jarang kudapat dari berita koran atau TV—.

Dan itu paling kudapatkan dari “Pengumuman”, “Di Bawah Lindungan Tuhan”, juga “Lingkaran”. Gundah, berkedok baris-baris indah.

Meski pembacaanku agak sedikit kedodoran di pertengahan lantaran puisi-puisinya yang panjang, esensinya tetap mudah dicerna. Bisa jadi, kita menemukan diri kita sendiri jadi subjek di dalamnya.

Begitulah asiknya berpuisi. Bukan cuma membuat hal-hal penting jadi tak terlupakan, melainkan juga awal perbincangan dan bentuk perlawanan.

Tertarik membaca buku puisi ini? 🤓
Displaying 1 - 4 of 4 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.