Kisah-kisah dalam kumpulan cerpen Manusia Sore Hari diceritakan pada lanskap yang kabur, beberapa ceritanya mencampuradukkan antara yang realis dan surealis, lalu dibalut dengan gaya bercerita yang sederhana sekaligus penuh dengan keganjilan.
Mulai dari kisah persiapan pesta hari akhir, toko yang menjual kebahagiaan, tanaman-tanaman yang gemar bergosip. buku dengan petuah asal-asalan, sekelompok wartawan aneh, robot-robot yang membuat karya seni, hingga manusia-manusia yang hidup pada fase yang redup, seredup sore yang hendak ditinggalkan matahari.
Anju was born & raised in Mumbai, India. She started her career in HR and eventually developed skills in company operations. She has more than 8 years’ experience with core business operations & more than 15 years’ total experience in various industries like IT, Manufacturing etc. However, she ensures to devote some time for her love for writing & travelling.
Waktu sore yang jingga menuju gelap menjadi gambaran cerita-cerita di buku ini. Kisah yang muram, namun di sisi lainnya juga masih terdapat semburat harapan. Cerita yang memeluk untuk manusia-manusia yang berjuang di Ibu kota, namun juga tetap mendekap bagi siapapun yang suka menikmati senja. Empat cerita menjelang terbenam, terasa makin sentimentil karena “ya begitulah hidup”. Suka sekali dengan penulisan Mba Anju dan ilustrasi Mas Sarkodit.
Imajinatif & banyak cerita yang bercorak surealis. Beberapa cerita bernada sarkastis namun gemas dan beberapa cerita lainnya terasa kelam. Buku yang menyenangkan untuk di baca di sela-sela waktu luang atau sebelum tidur.
Horee kelar!! Buku ini merupakan kumpulan cerpen. Totalnya ada 12 cerpen dan semuanya berlatar sore hari—makanya judulnya "Manusia Sore Hari". Apakah semua ceritanya bertokoh manusia? Gak juga dan disitulah uniknya.
Menurutku semua cerpen disini unik. Masih bingung sekaligus kagum ngeliat penulis bisa aja kepikiran cerita begini. Ada cerita tentang dunia yang isinya robot semua, misfortune cookies yang beneran sial (dan sialan karena yang makan beneran jadi bernasib sesuai kalimat di cookies-nya), cerita berlatar pandemi dari sudut pandang tumbuhan, rumah yang bisa jalan, banyaak deh! Beneran ini 12 cerpen ga ada yang sama jadi kalian ga akan bosenn.
Tentunya tiap review kumcer aku akan nyebutin cerpen favoritkuu! Tanpa berurutan, cerpen favoritku adalah '2020', 'Pengantar Tidur', dan 'Langit Oranye'. Tambahan dikit lagi dehh, kujuga suka sedikit plot twist pada cerpen 'Mesin Manusia' dan 'Randevu'.
Untuk urusan ilustrasi aku no comment dehh. Aku suka color palette-nya (senja abis!!😎) dan ilustrasi yang jadi pembatas tiap cerpen juga baguus. Buku ini well-crafted banget sih untuk urusan visual. Bahkan pembatasnya juga cakep heheheh.
Memang ga semua cerpen dapat kumengerti. Tapi mungkin ga semua cerita harus kita pahami maksud penulisnya apa. Just let it flow and enjoy the ride :D
"Manusia Sore Hari" cocok buat kalian yang pengen baca sesuatu yang beda. Bukunya tipis, pas banget buat selingan!
Manusia Sore hari berisi 12 cerpen dengan gaya realis dan surealis. Wah, apa tuh?, nah bisa dibilang mirip-mirip tulisan Danarto atau Memburu Muhammad-nya Feby Indirani. Kalo kamu belum pernah baca karya tersebut berati ini wajib jadi buku pertama perkenalan mu dengan tulisan surealis.
Ke-12 cerpen tersebut meninggalkan kesan sendiri buatku, seperti
Oiya Itu sih interpretasiku ya, kalau kamu baca mungkin akan beda lagi. Karna hanya penulis dan Tuhan yang tahu makna sesungguhnya!. Hehehe
Ilustrasi di buku juga membantu memvisualisasi masing-masing cerpen, dengan dominan warna oren dan biru cocok sebagai penggambaran manusia dan sore hari.
Cerita Pendek yang unik, kadang kelam, sebagian menyentuh, sangat menarik, ringan, pas menemani di tengah2 kesibukan karena bab nya yang cukup pendek2. Dan ilustrasi dari Sarkodit benar2 meggambarkan bagian bab nya dengan sempurna, sangat bagus.
Buku berwarna oranye seperti langit sore, dengan beragam ilustrasi cantik dan juga 12 cerita pendek di dalamnya.
Berbagai hal absurd yang “hidup” dalam Manusia Sore Hari selalu bisa memberikan kejutan untuk pembacanya. Kamu akan bertemu balon tiup yang galau tentang pasangannya, manusia mesin, sales penjual kebahagiaan, rumah yang mencoba kabur, tanaman di saat pandemi, hingga misfortune cookies di hari ketiga belas saat berkunjung ke kafe misterius.
Sebagian besar surealis, dan bikin aku yakin bahwa tak semua hal (atau semua cerita) harus dipahami. Tapi, aku bisa mengatakan bahwa cerita-cerita pendek dalam buku ini cukup untuk menghangatkan akhir pekanmu. Cocok untuk dibaca sebelum tidur, atau dibaca saat naik kereta.
Catatan: 3 bintang untuk bukunya 1 bintang tambahan untuk mengapresiasi ilustrasi cover dan ilustrasi bukunya yang cantik abis 🧡
dari penceritaan anju dan perpaduan ilustrasi gambar sarkodit jadi satu kesatuan utuh disetiap ceritanya, disini mungkin Anju melakukan eksperimen penceritaan disetiap tulisannya, yang bikin menyesakkan hati di cerita 2020, anju mencoba memahami dan melihat kondisi sebagai tanaman, yang menurut sang tanaman tahun 2020 adalah tahun terbaik Mereka, padahal dari sisi manusia tidak, Anju berhasil menangkap momen sebuah kepolosan sebuah tanaman. untuk sarkodit gambar gambar mu seakan berisi spoiler disetiap ceritanya.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Cerita-cerita Anju dalam cerpennya ini ditulis dengan menarik. Banyak ending cerita yang mengejutkan. Namun, dalam eksekusi beberapa tulisan masih ada yang kurang. Walau begitu, secara keseluruhan cerpen ini bagus, terutama untuk pilihan tema dan gaya penceritaannya yang cukup unik.
Kumpulan cerpen ini awalnya saya kira cerita yang cenderung ringan dan rada manis dari tampilan luarnya yang ngejreng oranye dengan sentuhan biru tua, tahunya, tidak demikian.
Beberapa cerpennya mengajak kita merenung dan sedikit berkontemplasi perihal hal-hal yang pernah kita khawatirkan atau pun yang pernah kita lalui, dan bahkan kita bisa menemukan cerpen rasa fiksi ilmiah yang berlatar waktu covid 19 yang berlalu (meski ancamannya tidak sepenuhnya surut).
Kak Anju ngasih kita banyak perspektif sudut pandang di beberapa cerpennya entah dari bangunan, tanaman dan dari dua orang (kalau tidak salah), dan ini tentu saja jadi hal menarik di jagad cerpen tanah air.
Dan ilustrasinya bang Sarkodit ikut memberi warna lain dari ceritanya yang terkadang bikin agak ngeri dan kagum di saat bersamaan.