Y.B. Mangunwijaya, arsitek terkenal sekaligus penulis berkaliber sastrawan-budayawan, lewat bukunya ini, ingin menggumuli hal-hal yang lebih dalam dari dunia arsitektural. Sebagaimana manusia bisa dipandang dari segi fisik maupun dari segi rohani, begitu pula bangunan arsitektural dapat dipandang dari dua segi itu. Ada segi wastu widya, yang menyangkut masalah teknis dan praktis, disamping segi wastu citra, juga menyangkut hal-hal yang lebih dalam, lebih rohani.
Buku ini diperkaya dengan banyak ilustrasi untuk membantu anda menangkap sendi-sendi filsafatnya, lewat contoh dan latihan praktis. Sebuah buku yang sangat bermanfaat bagi arsitek dan calon-calonnya, serta semua orang yang menunjukan apresiasi tinggi dalam bidang arsitektur.
Yusuf Bilyarta Mangunwijaya was an architect, writer, Catholic priest, and activist. Romo Mangun (Father Mangun) was publicly known by his novel "Burung-Burung Manyar" which was awarded Ramon Magsaysay Award for South-East Asia Writings on 1996.
Not only active in the fiction genre, Romo Mangun also wrote many non-fiction and architectural works such as "Sastra dan Religiositas" [tr.: Literature and Religiosity] which won The Best Non-Fiction prize in 1982.
Bibliography: * Balada Becak, novel, 1985 * Balada dara-dara Mendut, novel, 1993 * Burung-Burung Rantau, novel, 1992 * Burung-Burung Manyar, novel, 1981 * Di Bawah Bayang-Bayang Adikuasa, 1987 * Durga Umayi, novel, 1985 * Esei-esei orang Republik, 1987 * Fisika Bangunan, buku Arsitektur, 1980 * Gereja Diaspora, 1999 * Gerundelan Orang Republik, 1995 * Ikan-Ikan Hiu, Ido, Homa, novel, 1983 * Impian Dari Yogyakarta, 2003 * Kita Lebih Bodoh dari Generasi Soekarno-Hatta, 2000 * Manusia Pascamodern, Semesta, dan Tuhan: renungan filsafat hidup, manusia modern, 1999 * Memuliakan Allah, Mengangkat Manusia, 1999 * Menjadi generasi pasca-Indonesia: kegelisahan Y.B. Mangunwijaya, 1999 * Menuju Indonesia Serba Baru, 1998 * Menuju Republik Indonesia Serikat, 1998 * Merintis RI Yang Manusiawi: Republik yang adil dan beradab, 1999 * Pasca-Indonesia, Pasca-Einstein, 1999 * Pemasyarakatan susastra dipandang dari sudut budaya, 1986 * Pohon-Pohon Sesawi, novel, 1999 * Politik Hati Nurani * Puntung-Puntung Roro Mendut, 1978 * Putri duyung yang mendamba: renungan filsafat hidup manusia modern * Ragawidya, 1986 * Romo Rahadi, novel, 1981 (he used alias as Y. Wastu Wijaya) * Roro Mendut, Genduk Duku, Lusi Lindri, novel trilogi, 1983-1987 * Rumah Bambu, 2000 * Sastra dan Religiositas, 1982 * Saya Ingin Membayar Utang Kepada Rakyat, 1999 * Soeharto dalam Cerpen Indonesia, 2001 * Spiritualitas Baru * Tentara dan Kaum Bersenjata, 1999 * Tumbal: kumpulan tulisan tentang kebudayaan, perikemanusiaan dan kemasyarakatan, 1994 * Wastu Citra, buku Arsitektur, 1988
Buku ini mengajarkan bagaimana sesuatu, khususnya bangunan (wastu) semestinya tidak hanya mempunyai fungsi guna tapi juga citra (estetika, keindahan), dan tentunya mempunyai nilai filosofis tertentu. Benar dari segi tempat dan waktu. Mengindahkan keakraban dan manusiawi, sehingga otak dan hati tidak terlantar. Maka, yang benar akan menjadi indah.
Indah Karena Benar
Romo Mangun menyebut beberapa hal penting dalam kaitannya dengan sebuah bangunan.
1). Bentuk Arsitektur Selaku Simbol Kosmologis
Sebut saja sebuah candi (memuncak, bagian kecil di atas)atau gerbang bentar (tanpa atap) bukan melulu dibangun atas pertimbangan keindahan, tapi lebih tuntutan agama dan asas-asas rohani. Meru yang memuncak menyimbolkan hubungan dunia fana dengan dunia gaib dan kosmis.
Contoh lain adalah kuil di India yang berpola memusat "pusering jagat", ada satu bangunan utama diantara bangunan lain, yang terletak di tengah sebagai pusat/inti bangunan. Kemudian bentuk kuil juga memuncak seperti gunung. Gunung dihayati masyarakat India sebagai tempat yang dekat dengan Nirvana, sebut saja Gunung Mahameru, yang mempunyai nilai penting bagi masyarakat India
Lain lagi pada Kota Terlarang, Beijing, yang mempunyai model poros dan gunung hirarki, bagian penting di paling belakang (atas), hampir sama dengan konsep tribuwana, membagi dunia dalam 3 lapis. Dunia atas (surga, khayangan), dunia tengah (yang didiami manusia) dan dunia bawah (dunia maut)
Akan tetapi, juga harus diperhatikan bahwa apakah sebuah bangunan betul-betul didirikan atas dasar tuntutan agama atau karena pengaruh kebudayaan. Kita mengenal "mustaka" masjid sebagai ciri khas bangunan islam, padahal di Jerman banyak sekali gereja dengan model hampir sama dengan masjid.
maka bisa dikatakan bahwa masjid di Jawa, khususnya, sangat dipengaruhi oleh unsur lokal. Karena umumnya masyarakat Indonesia bersifat eklektik (campuran) antara Hindu, India, Turki.
2). Arsitektur Selaku Sikap Hidup
Rumah Jawa, joglo, terbagi dari dua komponen yaitu dalem dan pelataran. Dalem lebih bersifat privat bagi pemilik rumah. Di bagian Dalem terdapat sentong tengah (kamar tengah) lengkap dengan kasur, bantal dll tetapi tidak ditempati, ini merujuk pada peristiwa kosmis, tempat terhormat bagi Dewi Kamajaya dan Kama Ratih, manunggalnya semesta tunggal. Juga terdapat petanen, tempat Petani, penghormatan untuk Dewi Sri. Sedang si empu rumah tinggal di bagian tambahan, gandok. hal ini menunjukkan bahwa empu rumah sebagai abdi bagi Petani (Dewi Sri)
Teladan dari Yunani
Bangunan di Yunani didominasi oleh balok dan pilar-pilar besar kokoh yang komposisinya sangat teratur, dan terbuat dari batu alam. Hal ini menunjuk pada masyarakat Yunani yang berpendapat bahwa ada 2 prinsip, yaitu ada yang ditopang dan menopang, dimana jika si penopang dan yang ditopang seimbang maka akan terwujud keharmonisan dalam keseimbangan yang kokoh. Sesuai dengan karakteristik Yunani yang serba teratur, tata kelola yang baik, kritis dan rasional.
Teladan dari Jepang
Jepang dikenal dengan bangunannya yang sederhana. Terbuat dari bahan bambu, kayu, jerami, kertas dan sutra. Hal ini menunjuk pada jiwa Jepang yang mencari ketenangan jiwa dan keheningan cipta. Semakin sederhana semakin indah, semakin sedikit semakin baik, sesuai dengan prinsip Shinto dan Zen, keyakinan yang banyak dianut oleh masyarakat Jepang.
Akhirnya, mengutip tulisan Rm. Mangun, menciptakan arsitektur adalah memanfaatkan dan menjunjung martabat alam. Menurut kebutuhan dan situasi kondisi. Perpaduan antara logika, cita rasa yang sehat, wajar, jika hal-hal tersebut terpenuhi maka keindahan akan tercipta.
Masih banyak sekali hal yang tidak bisa saya tulis di review ini. Tentang makna sumbangan India, dunia barat, pemikiran para filosof Yunani. Kalau pingin tahu lebih banyak baca bukunya sendiri dong, keren kok ... tidak rugi, sumpaahhhh ...
wihhhh, saya jadi ngidam pingin rumah seperti model Jepang. Oh ya, dirimu adalah tempat yang kamu tinggali, karena setiap bangunan selalu mencerminkan karakteristik orang yang tinggal di dalamnya. sudah ihhh ... :)
* alesan nih padahal karena capek ngetik dan terutama saking banyaknya hal yang penting yang perlu dicatat, saya jadi bingung .... :D
Segelintir arsitek yang berani menulis pandangannya pada arsitektur, salah satunya Mangunwijaya. Membaca (lagi) buku ini, seperti menimbang-nimbang komitmen Mangunwijaya pada soal-soal kemanusiaan, arsitektur menurut buku ini hanya bagian kecil dari soal yang dia pikirkan & karyakan. Edisi lama buku ini dicetak pada kertas buram, dengan gambar bw.
Membaca buku ini mudah. Saran saya, jangan mengikuti tulisan Mangunwijaya yang mbulet & berputar2, tp dimulai dengan gambar/foto ilustrasi. Garis, arsir, bentuk, ruang, massa & manusia akan bercerita banyak. Saya kagum dengan cara Mangunwijaya memilih ilustrasi. Buku ini melangkah jauh dari masanya.
Beberapa hari lalu saya sibuk lagi membaca-baca buku ini. Entah sudah berapa kali saya membacanya, sejak jaman kuliah dulu disekitaran tahun '99. Gaya bahasa yang puitis sepertinya sengaja Romo Mangun pakai pada buku ini, untuk mempersilahkan pembaca memperdalam lagi makna kata-katanya. Tampak sekali kekaguman beliau pada banyak variasi arsitektur di berbagai belahan dunia. Yunani, Romawi, Jepang, China, Amerika, Prancis, Ingris, Mesir, Indonesia, dst.
Sayangnya banyak yang salah memahami maksud buku ini. Kutipan dalam buku ini sering djadikan pembenaran untuk bertahan pada arsitektur lama dan atau tradisional. Padahal buku ini disusun sebenarnya sebagai panduan untuk merancang arsitektur baru yang baik. Yang beliau inginkan adalah agar arsitek memahami arsitektur sedalam-dalamnya, untuk mencari pemecahan yang tepatguna. Jadi bukan hanya tenggelam dalam romantika kemasyuran arsitektur lama, dan kemudian main aman saja saat merancang.
Dalam berbagai karyanya, beliau tak pernah terkukungkung dalam kulit arsitektur tradisional atau konservatif. Buku ini adalah pengingat untuk arsitek agar mencari jawaban permasalahan arsitektur yang sesuai dengan "tempat" dan "waktu". Dan agaknya masalah "waktu" ini yang sering salah dimengerti. "Waktu" untuk leluhur kita beda dengan "waktu" kita. dan konsekwensinya "waktu" kitapun beda dengan "waktu" anak cucu kita nanti. Silakan anda membaca lagi (khususnya)bab terakhir buku ini.
Dan sekarang, ketika malpraktek arsitektur oleh orang bukan arsitek masih saja dibiarkan, bolehlah arsitek seperti saya bertanya kepada anda sekalian, "Sudah benarkah pemahaman anda dan saya terhadap Wastu Citra yang sangat hebat ini?".
Ada soal dikotomi yang terlalu rapi antara “yang baik” dan “yang buruk”. Dalam semangat kritiknya terhadap modernitas dan pembangunan yang serampangan, Wastu Citra cenderung menyederhanakan realitas. Tradisional digambarkan hampir selalu bijaksana, harmonis, dan manusiawi. Sementara modernitas—ya, tentu saja—dituduh dingin, rakus, dan merusak. Masalahnya, dunia nyata tidak sehitam-putih itu. Tapi buku ini tampaknya tidak terlalu tertarik pada kerumitan; ia lebih suka berdiri di mimbar dan menunjuk mana yang salah.
Yang lebih menarik lagi adalah romantisasi terhadap “kearifan lokal”. Buku ini seolah percaya bahwa masa lalu adalah taman eden yang hilang—tempat manusia hidup selaras dengan alam tanpa konflik berarti. Padahal, kalau kita sedikit lebih jujur pada sejarah, masyarakat tradisional juga penuh dengan masalah: hierarki sosial, keterbatasan teknologi, dan konflik internal. Tapi tentu saja, detail-detail semacam itu tidak terlalu membantu narasi idealistik, jadi ya… lebih baik diabaikan saja.
Semua problem—moralistik, simplistik, romantik, dan sedikit elitis—adalah bagian dari daya tariknya buku ini. Wastu Citra tidak ingin netral, dan memang tidak pernah berniat demikian. Ia ingin menggugat, bahkan kalau itu berarti harus terdengar keras kepala. Ia ingin mengoreksi arah peradaban, meskipun caranya kadang terasa seperti orang yang terlalu yakin bahwa hanya dia yang membaca peta dengan benar.
Buku ini sangat saya rekomendasi untuk semua praktisi arsitek Indonesia. Pendalaman Romo Mangun terhadap filosofi arsitektur dalam hal estetika dan fungsional sungguh menjawab kebingungan terhadap penjabaran penilaian dari kualitas meruang. Romo mangun menjabarkan adanya keterikatan romantisme manusia dan semesta yang digambarkan dalam penciptaan sebuah ruang dan bentuk. Sehingga kita diajak untuk mendalami esensi dari keberadaan bentuk dari masa lampau.
Buku ini sesungguhnya sudah direkomendasi oleh dosen sejak masa kuliah semester 1. Menurut saya, buku ini kurang relevan dan sulit difahami bagi yang belum berpraktik.
Waktu kuliah dulu, gak sempat baca buku ini. Sebegitu terkenalnya buku ini dikalangan arsitek, dan aku tak pernah menyentuh apalagi membacanya masa kuliah...tapi memang buku ini susah dicari saat itu ya.. Sekarang ada edisi barunya. Hasil dokumentasi Erwinthon Napitupulu. Alhamdulillah, akhirnya bisa juga kumiliki. ^_^
Cuplikan isinya kurang lebih begini: "Bangunan memang benda mati, (siapa pula yang bilang benda hidup, bisa makan dan tidur?). Namun karena bangunan adalah tempat manusia...sekali lagi MANUSIA, maka bangunan juga dinafasi oleh kehidupan manusia, oleh watak dan kecenderungan-kecenderungan, oleh napsu dan cita-citanya.
Bangunan, biar benda mati, namun tidak berarti tidak "berjiwa".
Tak berbeda dari pakaian, rumah mem-BAHASA-kan diri kita." -Bab 3, Guna dan Citra-
Buku ini dekat dengan filsafat estetika. Kenapa bangunan harus berbentuk ini itu Karena dekat dengan filsafat, dan penuh gambar, buku ini dibaca untuk dihayati, dinikmati arti-arti bentuknya. Kupikir pun, tak harus arsitek yang membacanya, tapi orang2 yang bergelut di kebudayaan dan birokrasi yang sering berakal pendek itu...
Siapa sangka Romo Jesuit ini juga memiliki pemahaman arsitektur yang mendalam? Buku ini membuat saya berkeliling Jawa Tengah dan Jogjakarta di tahun 2006, untuk melakukan riset tentang gagasan filsafat Romo Mangun dalam ruang-ruang advokasi, kemanusiaan, dan konsep pembangunan yang ia usung. Melalui buku ini saya pergi keluar masuk ke beberapa bangunan, khususnya gereja, untuk mengamati bagaimana ia merancang sebuah bangunan yang memiliki kedekatan spiritual dengan umat. Buku yang kaya dengan ilustrasi ini nampaknya ingin menegaskan bahwa sebuah bangunan tidak hanya memiliki fungsi, tapi juga elemen citra yang bisa direpresentasikan di dalamnya.
Selain Relativitas Adi Purnomo, Wastu Citra Romo Mangun ini juga harus saya akui mengubah arah arsitektur saya, terlebih ketika melihat foto di bagian akhir buku memperlihatkan perkampungan kumuh di tepi sungai. Di bawah foto itu ada keterangan yang sangat menampar saya : "Ini pun sebentuk arsitektur yang faktual nyata terdapat banyak di negeri kita. Bukan Splendor veritatis tetapi lacrimae veritatis, airmata kebenaran bahkan ketidak-adilan. Pecinta arsitektur yang sejati dihimbau dan ditantang untuk berbuat sesuatu, agar arus airmata semacam ini dikeringkan, demi generasi serta hari depan yang lebih baik dan benar."
Lebih dari sekedar buku arsitektur. Romo Mangun — sang penulis, menyajikan bahasa sastra yang indah, lembut; menceritakan tentang keluhuran budaya yang dijunjung tinggi oleh pendahulu kita (Indonesia: tradisional) dalam bentuk ruang dan tatanan. Dapat dinikmati lintas disiplin ilmu, dan akan sangat mencerahkan setelah membacanya. Karena perspektif pengkajian objek dalam buku ini sangat luas — tidak melulu dari segi arsitektur, namun lebih kepada wastu widya dan citra. Pada bentuk praktis dan teknis, juga tentang keluhuran rohani yang lebih dalam.
Sukaaa sama buku ini. Walau saya bukan seorang arsitek, tapi sebagai penikmat awam kebudayaan khusunya jawa kuno membuat saya tahu soal filosofi dari detail suatu bangunan, misalnya rumah adat, candi, dan pura. Tidak lupa ada sisipan filosofi ajaran Buddha yang membuat saya semakin senang membacanya.
very recommended for architecture student literature! You can find out what architecture actually is beyond the stereotypes that said architecture is about building. architecture is really not just about building! and how should you behave as an architect. It really open our insight
dengan ilustrasi gambar desain karya Romomangun sendiri, penjelasannya menjadi lebih terbayang. salah satu buku arsitektur indonesia yang patut diperhitungkan.