Demi mencapai cita-cita, aku berjuang mengerahkan segenap kemampuan. Orang menyebutku sosialita karena nama besar, kekuasan, dan harta milik ayahku. Tapi tahukah mereka bahwa semua itu tak ada artinya. Semua pencapaianku kuperoleh dengan kerja keras. —Aisha Laetitia Setyo
Perempuan yang kucintai menikah dengan sahabatku sendiri. Wajar kalau aku ingin menghabiskan musim panas dengan bersenang-senang. Melakukan aktivitas di luar ruangan yang memacu adrenalin. Tapi bagaimana bisa, kalau aku harus menemani si Nona Besar Sosialita ke mana-mana? —Zeus Arach
Aisha dan Zeus, dua orang yang memendam luka masa silam dengan jenis berbeda. Ketika keelokan alam Tuathina menyatukan mereka, cintakah yang akan bersemi? Atau apakah mereka akan terjebak saling menyakiti?
Mumpung punya serienya lanjut aja leh yaa, dengan wishes semoga better dari prequelnya. Yah meski nggak lots better paling ngga ada sikit kemajuan lah... adegan sinetnya udah berkurang, mungkin karena kali ini soal liputan Tuathina saya fokusnya malah ke keindahan negeri itu daripada inti ceritanya wqwq.
Kali ini ceritanya tengang si Zeus, bukan Zeus yang dari Yunani onoh. Ini Zeus yang patah hati karena ditinggal rabi sama orang yang dia sayang—Sadira. ((Untungnya si Zeus ini ngga tinggal di Indo yes, kalo ga bakalan ikutan nangis-nangis sambil nyanyi Kartonyono Medot Janji yang sumpah booming banget itu, LOLs)). Nah saat lagi heartbroken itu ia kudu nemenin wartawan yang mo liputan soal Tuathina dan TES, ia pikir pihak Travel bla itu ngirim wartawan cowok yang menurut dia bakalan lebih bisa diajak seneng-seneng nikmatin extreme sport dan bukannya cewe mungil ringkih berkerudung merah yang kelihatan cuma betah jalan di mall aja—Aisha.
Meski keZel setengah mati karena pandangan Zeus pada dirinya, ya Aisha tau kalau Zeus underestimate dia sebagai wartawan tapi Aisha bersumpah bakal buktiin ke Zeus kalau ia seprofesional itu soal pekerjaannya. Karena photographer utama—William—baru nyampe 3hari berikutnya, Zeus memutuskan ngajakin Aisha buat ngecamp bedua, tujuan awalnya sih mau kasih lihat keindahan alam Tuathina sekalian doi mau lihat seberapa kuat gadis yang dipikirnya manja mampus ini di alam bebas.
Ngecamp 3hari dan cuma berdua? Well semuanya terjadi disini, Zeus yang awalnya cuek bebek dan cenderung meremehkan jadi lembek kaya bubur kertas dan Aisha pun nggak kalah, doi yang awalnya professional banget itu akhirnya luluh juga. Emang ada beberapa pemicu yang we males ceritain kenapa mereka secepat itu akhirnya jatuh cinta yes. Yang w sayangin malah setelah acara ngecamp itu banyak adegan sinet bertebaran, dari proses mereka saling jauh sampai akhirnya ikutan nikah juga kaya Dira & Varo.
Satu sih yang ngeselin, Zeus yang judgmental dan suka bikin asumsi berlebihan. Untungnya kelakuan doi yang kaya gitu nongolnya ga lama-lama disini, kalo nggak Aisha bakalan jadi Dira jilid 2 kali ya...
Buku ini ditulis 2014, 10 tahun lalu. Setelah membaca ‘Tentang Penulis’, ternyata ini buku kedua dari seri Tuathina, sebuah negara yang ajaibnya nggak bisa ditemukan di Google. Jadi, aku mulai paham bahwa mungkin Tuathina adalah negara fiktif yang diceritakan memiliki pesona alam seperti Indonesia.
Tanpa harus membaca buku pertama, pembaca akan dibuat mengerti keindahan alam Tuathina sampai membuat sebuah majalah asal Indonesia, Travel with Style, mengirimkan salah satu wartawati terbaiknya untuk melancong ke sana, demi menuliskan artikel wisata.
Selamat datang di Tuathina. Selamat datang di kehidupan Aisha Laetitia Setyo, wartawati cantik yang kemampuannya dianggap remeh oleh Zeus Arach, pemilik Tour Extreme Sports, rekan bisnis yang menjadi pemandu perjalanan. Mereka sama-sama terlilit masa lalu yang perlahan mulai membuka mata kalau rasa sakit hati harus disudahi.
Aisha selalu merasa kurang kasih sayang karena ditelantarkan oleh sosok ayah yang nggak pernah menganggapnya sebagai anak. Sifatnya menjadi dingin dan menjauhi kisah percintaan. Citra anak manja kaya raya juga melekat pada namanya, jadi dia berusaha membuktikan diri pada Zeus kalau AL Setyo nggak selemah itu buat diajak mendaki dan berkemah.
Ketangguhan Aisha bikin Zeus yang awalnya pengen mengusir tamu agung dari Tuathina, berubah menjadi rasa sayang dan ingin melindungi. Sakit hati karena perempuan yang dia cinta nikah sama sahabatnya sendiri, pelan-pelan dia jadikan sebagai pelajaran supaya nggak melakukan kesalahan yang sama.
Menurutku, kisah cinta di antara mereka terlalu cepat. Cuma dalam hitungan hari. Aisha yang diceritakan sebagai sosok perempuan keren, tiba-tiba terkesan ‘gampangan’ karena luluh pada pesona Zeus yang walaupun nyebelin, tapi penuh perhatian. Sesuatu yang Aisha inginkan sejak dulu.
Dalam rentang 10 tahun sejak buku ini dirilis sampai sekarang, mungkin sudah banyak perubahan dalam tata penulisan novel. Kadang-kadang, narasinya formal yang di paragraf atau halaman berikutnya jadi seperti ditulis menggunakan POV 1. Dialognya juga begitu. Kadang kaku, kadang friendly.
Meskipun begitu, kita akan membayangkan bagaimana Tuathina melalui deskripsinya yang detail soal flora dan fauna di sana. Sejujurnya, agak kurang puas karena kegigihan Aisha dalam meliput Tuathina kurang detail. Tiba-tiba dia sudah wawancara ini dan itu, lalu draft artikel jadi. Berharap banget ada satu atau dua artikel singkat yang dimuat di bukunya, jadi bisa tahu Tuathina dari sudut pandang Aisha.
Salah satu poin yang bikin betah adalah kosa kata Penulis yang nggak pernah mampir di otakku. Contoh : menggebah, pepat, mengganyang aspal, derak kayu, kandelir, dll. Ada banyak peribahasa dan perumpamaan yang terasa lucu, tapi menunjukkan betapa Penulis ‘melahap’ banyak kamus untuk menciptakan kalimat-kalimat yang artinya bikin penasaran. Jadi, selain menginspirasi, buku ini juga bisa menjadi sumber pelajaran mempelajari hal-hal baru.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Secara keseluruhan karya-karyanya Mimosa Q. ini punya daya tariknya masing-masing dengan karakter tokohnya yang berbeda dan profesi yang berbeda pula. Dan yang menjadi tetap sama adalah latar belakang kota yang menjadi setting cerita, masih sama di Tuathina. Tetap seru dan romance nya bikin lumerr :D
"Apakah cinta bisa hadir begitu cepat? Mengendap dalam bayangan tak tersampaikan, tak terperhatikan, menyaru sebagai hal lain atau malah beralih rupa sehingga saat ia hadir, dirimu hanya bisa terkesima karena sama sekali tidak menyadarinya?"
Pertanyaan ini yang bermain di benak Zeus, kehadiran Aisha, wartawati "Travel In Style" yang akan meliput bisnisnya, "Tuathina Extreme Sports" sekaligus wisata di Tuathina, telah mengubah kehidupannya. Awalnya, Zeus tidak menyangka bahwa yang akan dikirim adalah seorang wanita, karena yang akan diliput adalah bisnis "extreme sports"nya. Pertemuan awal yang kurang begitu menyenangkan, karena Zeus benar-benar tidak menyukai kehadiran Aisha yang dianggap "tidak cocok", sehingga Zeus pun merencanakan untuk menguji Aisha.
Ternyata Aisha bukanlah wanita manja seperti yang diduga oleh Zeus, Zeus yang mengajak Aisha untuk berkemah dan menjelajah hutan malah mendapati bahwa Aisha adalah wanita "sosialita" yang tidak manja, bahkan bisa tetap survive. Kedekatan mereka malah menimbulkan ketertarikan fisik diantara keduanya, 2 makhluk berlain jenis dengan keindahan Tuathina yang begitu memikat dan menggoda, tapi ada keraguan yang menyelinap apakah ini hanya sekedar nafsu atau mereka telah saling jatuh cinta?
Membaca novel ini mengingatkanku seperti novel "Harlequin" walau memang adegan dewasa disini hanya disebutkan secara eksplisit saja, tapi sepanjang aku membaca novel ini, entah kenapa aku merasakan bahwa penulis sengaja menunjukkan fisik yang sempurna baik Zeus maupun Aisha yang membuat mereka saling tertarik, bahkan rasanya alurnya pun begitu cepat sekali, baru bertemu besoknya sudah "melakukan hubungan pria-wanita". Rasanya terlalu cepat sekali...
Dengan menggunakan sudut pandang Zeus maupun Aisha, sebenarnya kita bisa menyelami pikiran dan perasaan keduanya secara bergantian, tapi entah kenapa makin lama aku membaca penulis malah membiarkan hubungan Zeus dan Aisha hanya berputar di masalah itu..itu saja kesalahpahaman, keraguan, kecemburuan, tidak ada konflik yang berarti. Kehadiran wanita lain, Sophie maupun Morena pun hanya sekedar tempelan saja, tidak dieksplor lebih jauh. Sehingga aku pun menjadi bosan membaca novel ini.
Walau memang aku tertarik sekali dengan deskripsi Tuathina yang begitu memikat, aku berharap seharusnya penulis lebih mengeksplor mengenai "extreme sports" yang menjadi benang merah alasan Aisha hadir di Tuathina, tapi hingga akhir hanya disebutkan secara sekilas. Tidak ada chemistry yang kuat antara Zeus dan Aisha, lebih ke ketertarikan fisik yang memang sengaja ditonjolkan sejak awal aku membaca novel ini.
Sorry to say, aku kurang bisa menikmati novel ini, it's not cup of my tea...
Mau kasih 3 Bintang tapi gk rela. Mau kasih 4 juga gk rela. Jadi yauda 3,5 aja dibanding pada berantem :p
Dengan ini selesai sudah seri Tuathina yang saya baca. Awalnya langsung baca buku ke 3, lalu buku ke 1, dan terakhir ini buku ke 2. Iya emang tebolak-tebolak ya baca nya..
Kali ini mengisahkan Zeus dan Aisha. Zeus yang lagi patah hati karena perempuan yang disayangi nya, Dira, menikah dengan sahabatnya sendiri, Varo. Oke untuk lebih jelasnya silakan baca buku pertama nya ya :p
Aisha, seorang wartawati Indonesia sengaja datang ke Tuathina untuk meliput usaha bisnis Zeus. Awal perkenalan mereka tidak bisa dibilang bagus. Zeus yang sejak awal melihat Ai mengira Ai hanya cewek manja yg gk bisa kerja dan tau nya cuma leha2 aja. Tapi demi berjalannya waktu, Zeus bisa melihat kalau Ai gk seperti perkiraannga, dan malah bisa dibilang, mereka jatuh cinta pada pandangan pertama.
Hanya saja Zeus si ganteng tapi brengsek ini banyak fans nya. Itu yang bikin Ai jadi merasa kalah Zeus cuma mempermainkannya. Sampai akhirnya, Ai menghilang dari Zeus. Dan ini bikin Zeus kebingungan, dan bikin skenario busuk supaya Ai mau menemui nya *silakan baca sendiri*
Ya inti nya seperti itu ya. Entah kenapa, ada sesuatu yang kurang dari cerita ini. Dari seri Tuathina, bisa dibilang buku ke 3 lah yang paling gue suka cerita nya. Karakter Ai kurang jelas, bikin bingung aja. Tapi for all, gue tetep suka sama alur cerita nya. Dan gk sabar menanti buku ke 4 :p
Actually, buku ini masih dalam proses membaca, masih 40 halaman lagi sebelum menuju ending, tapi entah kenapa, aku merasa 4 bintang sudah akan kusematkan untuk buku kedua yang selesai di awal Januari 2014 ini. XD Bukunya gemesin! Muekeekk. Oke punya. :))
I'm done! Akhirnya menamatkan buku ini setelah membawanya ke kantor dan melanjutkan di jam makan siang. Meski harus diakui tidak semenggemaskan yang dibayangkan. Tapi epilognya manis banget! :)) Dan akhirnya dapat konklusi yang baik untuk Zeus, lelaki yang memang tidak pantas untuk mendapatkan akhir menyedihkan setelah ditinggal Dira-Alvaro di buku sebelumnya. Dan aku punya firasat kalau buku selanjutnya adalah kisah Will di tanah Tuathina. Hmm, dan semoga berhubungan dengan Rena. :))
aku ga tau kalau novel ini ternyata sequel dari Cnderella tuathina.. sepertinya aku harus baca itu novel. *noted
kerudung merah, si cantik sosialita yg tiba2 dtg untuk meliput tuathina bertemu dg pemandu yg memandang remeh kemampuannya hanya karna dia seoorang wanita mungil yg dikenal sbg seorang sosialita. tp Aisha tak membantah, krna memang tak banyak yg tahu siapa dia sebenarnya. sampai pada kahirnya perjalanan berkemah mereka berdua membuktikan kepada Zeus sang pemandu sekaligus pemilik usaha travil di tuathina itu bertekuk lutut.
satu hal yg kembali aku pahami dari novel ini adalah hubungan percintaan yg dijalin berahun-tahun belum tentu akan menjadi jodoh bagi, bisa jadi justru sesorang yg baru ditemui dalam waktu kurang dari 1 minggu bisa membuat jatuh mencinta dan rela mengobrankan apapun yg dimiliki agar yg dicintai bahagia, bahkan sekalipun untuk itu harus mati.
Demi mencapai cita-cita, aku berjuang mengerahkan segenap kemampuan. Orang menyebutku sosialita karena nama besar, kekuasan, dan harta milik ayahku. Tapi tahukah mereka bahwa semua itu tak ada artinya. Semua pencapaianku kuperoleh dengan kerja keras. —Aisha Laetitia Setyo
Perempuan yang kucintai menikah dengan sahabatku sendiri. Wajar kalau aku ingin menghabiskan musim panas dengan bersenang-senang. Melakukan aktivitas di luar ruangan yang memacu adrenalin. Tapi bagaimana bisa, kalau aku harus menemani si Nona Besar Sosialita ke mana-mana? —Zeus Arach
Aisha dan Zeus, dua orang yang memendam luka masa silam dengan jenis berbeda. Ketika keelokan alam Tuathina menyatukan mereka, cintakah yang akan bersemi? Atau apakah mereka akan terjebak saling menyakiti? (less)
Entahlah.. hanya bisa bilang ceritanya tidak segemas yang di harapkan. Beberapa tokoh utama kurang greget begitu juga kisah love hate nya. Karakter Zeus yang katanya sulit untuk menerima cinta terkesan tidak terlalu sulit. Dengan mudah bisa juga menerima pada akhirnya. Tapi suguhan gambaran lokasi jelas sangat details. Bahkan dengan mudah otak saya bisa menggambarkannya dengan jelas.. So tinggal ngelanjutin baca kisah selanjutnya " Putri Tidur Tuathina"
Awalnya aku waktu awal baca buku ini, langsung bertanya-tanya, "Negara bagian mana Tuathina ini?" Sampai pada akhir saya baca buku ini saya mulai mencari tahu Negara Tuathina lewat Om Gugel. Dan eng ing eng, ternyata Tuathina adalah negara fiksi karangan penulis.
Di awal saya baca buku Kerudung Merah Tuathina, saya dibuat jatuh cinta oleh diksinya. Susunan kata per katanya indah dan saya dibuat terus dan terus membuka tiap halamannya.
Saya menebak, seperti apa Zeus dan Aisha akan dibuat jatuh cinta, mengingat dua orang ini memiliki kepribadian yang keras. Dan akhirnya hutan Tuathina menyatukan mereka. Seperti kutipan dari Aisha, "Dua menjadi satu."
Saya agak kurang puas dengan proses mereka jatuh cinta, terlihat seperti dipaksakan. Terlihat klise dan konflik yang seperti dibuat atas keegoisan Aisha aaat salah mengambil kesimpulan atas dugaan Zeus menipu Aisha. Toh, Aisha sendiri yang menyodorkan dirinya sendiri pada Zeus, meski Zeus menolak.
Dan saya tercengang saat usaha Zeus untuk ingin mengajak bicara Aisha. Sorry, mirip adegan sinetron abegeh di stasiun televisi. Dan meski begitu, saya penasaran bagaimana atau dengan cara apa Zeus membujuk William?
Ah, jika Aisha marah karena Zeus berbohong (Ah, bukan berbohong tetapi telat menjelaskan pada Aisha) di hutan, mengapa Aisha tidak marah saat Zeus jelas-jelas berbohong saat di rumah sakit bagian akhir?