MIKAL tidak pernah mengerti kenapa ayahnya harus diambil secepat itu lewat sebuah peristiwa tragis. Ketika terperangkap di Son Nokta, Dunia Tanpa Titik Akhir, Mikal bertemu Princess, yang sekalipun bermata bolong sebelah, selalu ceria dan optimis.
AGUNG tidak pernah mengerti kenapa kemalangan dan nasib buruk selalu menyertai langkahnya sehingga kerap dirinya bertanya, "kenapa Tuhan benci sekali padaku?" Perjalanan berlikunya ternyata mempertemukannya dengan Bajak Laut dan sebuah kesempatan untuk menjadi yang berkuasa.
TROY tidak pernah mengerti kenapa sedari kecil keterasingan bak Alien tidak pernah meninggalkannya. Saat dipikirnya hidupnya mulai sempurna berkat cinta seorang sahabat sehidup sehati, tragedi merenggutnya seketika dan melempar Troy kembali dalam keterasingan yang lebih dalam disertai sesal yang mengekal.
Ibarat meneropong sebuah kaleidoskop, akankah ketiganya dapat melihat keindahan dari kegelapan yang menyertai langkah mereka?
Clara Ng adalah pengarang sejumlah novel dewasa dan juga buku anak-anak. Ibu muda berbintang Leo ini lahir di Jakarta tahun 1973. Lulusan di Ohio State University jurusan Interpersonal Comunication ini tidak pernah bercita-cita jadi penulis, namun kini karya-karyanya mengalir tanpa henti. Novel-novel dewasa yang sudah diterbitkan adalah Indiana Chronicle: Blues, Indiana Chronicle: Lipstick, Indiana Chronicle: Bridesmaid, The (Un)Reality Show, dan Utukki: Sayap Para Dewa. Buku anak-anaknya yang sudah terbit adalah Seri Berbagi Cerita Berbagi Cinta.
DNF padahal setelah penasaran dgn karya Clara Ng, saya angan-anganin buku ini. Pernah liat di gramed dan gak beli krn waktu itu belum pengen, trus liat lagi dan beli. Bisa dibilang nunggu juga bakal ketemu buku ini tp ternyata saya gak suka. Termasuk seram untuk buku anak (dan saya emang penakut) dan... saya gak bisa 'masuk' kedalam cerita ini. :'(
Saya awalnya mengetahui buku ini via salah satu bedah buku di FIB UI. Kedua penulisnya, Clara NG dan Icha Rahmanti. Bedah bukunya membahas mengenai novel yang satu ini, yang pada saat itu belum terbit. Blurb serta cuplikan novel yang dibacakan pada saat bedah buku tersebut berhasil menarik perhatian saya sehingga saya pun memasukka buku ini ke dalam daftar 'buku yang akan dibeli.' Beberapa minggu setelahnya, saya pun menemukan buku ini terpampang manis di depan salah satu toko buku besar di Indonesia. Tanpa segan-segan, saya memutuskan untuk membeli buku ini.
Oke, itu adalah prolog sebelum saya membahas buku ini. Sekarang, ayo kita masuk ke bagian pembahasannya.
Apa yang membuat saya tertarik membeli buku ini? Buku ini (sepertinya) adalah buku anak-anak yang berbeda dengan apa yang selama ini ada di pasar Indonesia. Karakter-karakter utama di novel ini juga bukan tipe 'good girl/boy' yang sempurna; mereka adalah karakter yang memiliki masalah sendiri-sendiri dan terkadang membuat kesalahan. Mereka juga tidak selamanya digambarkan memiliki kualitas 'sempurna', contohnya Princess yang matanya (eventually) bolong sebelah dan Agung yang cebol. Mbak Clara sendiri juga sempat mengatakan bahwa salah satu inspirasi mereka adalah Neil Gaiman yang ada sentuhan 'dark'-nya dimana...yaaay, saya tertarik membayangkan gimana 'dark-and-gothic' ini muncul di ceritanya! :)
...begitu saya membaca bukunya, saya sendiri tidak dikecewakan dengan ekspektasi saya mengenai apa isi buku ini. Saya cukup suka gaya para penulisnya menuliskan karakter dan konfliknya. Saya cukup suka bagaimana ketiga karakter yang nampak tidak berhubungan ini rupanya memiliki benang merah di antara cerita yang ada. Saya juga suka bagaimana penulis-penulis ini menghubungkan antara budaya Indonesia dengan kesan 'gothic' yang cukup Barat itu.
Cukup. Bukan berarti lantas saya tidak punya masalah dengan buku ini, sih. Mari kita bahas satu-per-satu berdasarkan 'kitab'-nya.
Kitab Princess merupakan bagian yang saya paling kurang suka diantara bab-bab lain. Bukan berarti cerita di bab ini jelek, ataupun saya tidak menikmati karakternya. Hanya saja, mungkin karena ini bab 'pengenalan', sehingga saya kurang bisa menikmati ceritanya karena masih banyak PR worldbuilding di sini? Entahlah. Saya sendiri juga merasa bahwa karakter utama di cerita ini, Mikal dan Princess, enggak semenarik tokoh fokus di bagian lain (Agung di Bajak Laut dan Troy di Alien. Princess-nya sendiri terlalu 'cute' dan sempurna, sementara karakterisasi Mikal seakan-akan terbatas sebagai 'anak yang sedih karena orangtuanya meninggal dan dia tersasar'. Tidak banyak informasi lain, ataupun range karakter yang luas. Mungkin itu sebabnya saya kurang bisa simpatik dengan tokoh utamanya dibandingkan dengan bagian selanjutnya, dan pada akhirnya membuat saya enggak bisa menikmati bagian ini seperti bagian lain.
Kitab Bajak Laut ialah bagian favorit saya! Agung sendiri merupakan karakter yang (menurut pendapat saya) paling menarik diantara karakter-karakter yang lain. Agung buat saya ialah karakter yang paling terasa 'komplit' dibandingkan karakter yang lain. Cerita hidupnya terasa paling mengalir dan lengkap, entah kenapa. Saya rasa karena memang dalam cerita ini dijelaskan Agung dalam berbagai keadaan, aksi-dan-reaksi dalam berbagai kondisi, yang membuatnya lebih 'bulat' ketimbang karakter lain. Agung adalah karakter yang memuaskan kesukaan saya dengan 'grey moral', yeaaay! Beberapa tindakannya bisa dibilang 'melanggar garis', tapi berhasil digambarkan dengan simpatik, dimana itu cukup langka di buku anak-anak :p. Plus, plus, banyak subversi tropes yang cukup menarik, seperti ibu tiri yang baik, misalnya. Yay yay yay.
Nggg, saya pribadi tapi punya masalah dengan konklusinya Saya ngeh bahwa salah satu masalah Agung adalah ia haus perhatian sehingga dia bakal melakukan apapun untuk mendapatkan perhatian/pengakuan. Tapiiii, entah kenapa, saya merasa bahwa pernyataan itu....problematis, apalagi mengetahu seberapa mengerikannya ilmu hitam Guru Slamet. Plus, posisi Agung memang lebih 'rendah', sehingga kemungkinan melawan itu tipis, kan? Mungkin lebih baik dibuat lebih 'abu-abu'? Entahlah.
Meski saya suka dengan bagaimana cara Agung menemukan jalan keluar dari permasalahannya, sih, jadi, yeay. Saya cuma menemukan pernyataan tersebut problematis, sih. Bukan urusan besar juga.
Kitab Alien sendiri cukup menarik, sebagai 'side B' dari cerita Son Nokta, melengkapi kisah Mikal :). Troy sendiri merupakan karakter yang (sebenarnya) lumayan menarik, dengan segala permasalahannya, walaupun masalah Troy yang merasa 'asing' itu penyelesaiannya terasa terlalu simpel, sih, dimana ini membuat saya agak aneh saat membacanya. Ceritanya sendiri, seperti yang dibilang, terasa seperti side B-nya Kitab Princess, yang menceritakan banyak hal yang disinggung di bagian pertama tersebut, mulai dari asal-usul Pohon Neden dan Princess, sampai Cerita ini terasa seperti 'pelengkap', dimana mungkin ini yang membuat cerita ini enggak semenarik Bajak Laut.
Terus, saya menemukan konklusi terakhir di bagian Kitab Alien terasa....hngggg, awkward. Saya ngerti plotnya, tapi di satu sisi saya ngerasa bingung bagaimana konklusinya berhubungan dengan cerita sebelumnya.
Epilog sendiri....nggggg, entahlah. Saya sendiri agak bingung karena berdasarkan bagian di Alien, Begitu juga mengenai kabar Agung yang cuma muncul sekilas memberikan brosur. Apakah dia tetap ikut di sirkus Guru Slamet? Sepertinya sih, tidak (or so I hope). Tapi saya lumayan menikmati gimana di bagian Epilog digambarkan bahwa kehidupan terus berlangsung, mau keadaannya seburuk apapun.
Overall, ini salah satu novel anak-anak yang cukup menarik. Saya rasa anak-anak keas empat-sampai-enam SD bakal menikmatinya, deh :). Yang jelas, saya tahu kalau saya versi anak-anak akan menikmatinya :)
Terniat baca buku ini Krn ditulis Clara Ng. Baru tau kalo ini buku anak² Kalo aku anak² bakalan excited sekali sama buku ini. Penuh imajinasi fantasi. Karena aku yg emak² ini yg baca, maka menurut ku .. dalam buku ini ada Kitab Princess, kitab bajak Laut dan kitab Alien. Entah knp menurut ku yang paling nyambung Kitab bajak laut. Kitab bajak laut juga yg paling asyik dibaca. Karena semuanya terjadi gara² si Agung yang bercita-cita jadi bajak laut yang kemudian beralih haluan jadi penari. Endingnya Gwen kok ada, Buto juga ada tapi knp ayah mikal ttp g ada... Btw.. ceritanya tetap asyik sekali.
Buku yg buat aku jatuh cinta pada pandangan pertama. Awalnya kyak nemu harta karung dibalik "cuci gudang" gramedia sewaktu smp dlu. Buku ini akhirnya kubuat resensinya sebagai tugas bahasa indonesia. Suka banget sumpah bacanya, mainan2 di dalamnya, dismpulnya ada kek ular tangga gitu. Isinya walau berbobot untuk kalangan bacaan anak, tpi ttp yg terbaik.
Penyesalan terbesar saat aku dgn bodohnya ngumpulin nih novel dan sumbang ke perpus krna disuruh guru (bkn pelit akunya tp tuh buku gapernah sama sekali dipajang di perpus g tau kemana sekarang)
Nyari kesana-kemari tpi ga dapet2, cmn di online tp aku takut belinya krna udah prnah ketiupu buku bajakan.
Intinya ini rekomendasi bangettt sumpahhh kerennn, apalagi buat penikmat cerita fantasi gitu
THIS BOOK!! Where all of my reading journeys began, absolutely well written, was so mesmerizing you literally get sucked into the whole book, you’re IN it.
Bukan tanpa alasan saat saya memilih buku ini untuk menemani Januari. Pertama, tak banyak novel anak lokal yang memberi kepercayaan pada anak-anak dengan memasang cukup banyak halaman sebagai pagar cerita. Kedua, karena salah satu dari duo penulisnya adalah Clara Ng. Saya membaca beberapa bukunya –picbook- bersama anak-anak dan sejauh ini, Clara belum pernah mengecewakan kami. Gitu aja, sih. Riview singkatnya, di sini.
Ada segitiga cerita yang membangun ‘Princess, BajakLaut, dan Alien’. Kitab Princess, Kitab Bajak Laut, dan Kitab Alien. Kitab pertama dihuni Mikal. Bocah laki-laki yang dibayang-bayangi tragedi kematian ayahnya. Ketika berusaha menghindar dari kejaran geng anak nakal yang suka memalak, Mikal malah masuk ke Gang Siluman yang terkenal angker. Dia bertemu dengan pemuda cebol bernama Buto dan menemukan kaleidoskop di rumahnya. Saat mengintip ke kaleidoskop, Mikal tersedot masuk ke dunia yang kelak diketahuinya bernama Son Nokta. Bertemu dan bermain dengan gadis cilik bernama Princess juga pohon-pohon berwarna jambu yang dapat bergerak. Tapi Son Nokta bukan semata menyenangkan. Kato, penghuni lain berwujud kelebat putih transparan dan bermata bolong terus mengintai mereka. Selagi mencari jalan keluar dari tempat itu, Mikal menemukan pembunuh ayahnya.
Kitab kedua adalah milik Agung. Ibunya meninggal saat melahirkannya. Ayahnya menuding bayi merah itu sebagai penyebab kematian istrinya sehingga Agung sekaligus kehilangan sosok ayah saat itu juga. Agung dirawat oleh dukun beranak yang melimpahinya dengan kasih sayang sebelum akhirnya bocah itu memutuskan pergi ke Jakarta karena hembusan seorang teman yang mengatakan, bahwa dengan postur kontetnya, Agung bisa menjadi penghibur di ibu kota. Bukannya, sampai ke Jakarta, Agung malah terdampar di sirkus yang dipenuhi orang-orang aneh. Perempuan berjenggot, penelan pedang, manusia kekar. Rombongan sirkus itu dipimpin oleh seorang dingin bernama Guru Slamet. Dengan bantuan –konon- makhluk gaib, manusia horor itu tega menyiksa siapa saja yang berani melawannya. Agung yang tidak tahan tinggal di sirkus, melarikan diri setelah mencuri benda paling berharga milik Guru Slamet. Agung sampai juga di Jakarta. Namun dengan perasaan terteror oleh kejaran Guru Slamet dan konsekuensi batin yang dipikulnya karena memanfaatkan benda curiannya.
Kitab Alien mempertemukan kita dengan Troy. Pemuda penyendiri yang hanya menyukai buku. Teman-temannya menyebut Troy anak aneh karena tidak bisa bergaul seperti yang lain. keterasingan Troy berakhir ketika dia bertemu dengan Gwen. Gadis itu menarik keluar sisi manusia dari diri alien Troy. Troy belajar bermain, bergaul, melihat dan merasa dunia dari sisi luar kertas lalu jatuh cinta. Kedengaran sempurna,kan? Tapi tunggu sampai sebuah kecelakaan beruntun merenggut Gwen lalu Troy terlempar ke Son Nokta.
Ketiga kitab tadi saling menyambung dan melengkapi jalan nasib ketiganya. Mikal, Agung, dan Troy saling terhubung lewat. Dan bagaimana duo penulisnya menjadikan ketiganya cukup kompleks namun tidak rumit bin njlimet adalah yang membuat ‘Princess, Bajak Laut dan Alien’ membuat saya seperti ingin mengejar halaman demi halamannya. Saya baru berhenti untuk mengambil napas pada bagian Troy. Ada beberapa kilas balik yang menurut saya, ngapain juga diceritain sepanjang ini? Dan endingnya, huff... sedikit membuat saya merasa terdampar. Maaf, saya di bawah pengawasan polisi spoiler, jadi baca saja sendiri. Meski begitu, titik kecil itu sama sekali tidak mengurangi minat saya untuk terus mengejar hingga halaman terakhir.
Jangan mengkhawatirkan cuplikannya yang terlihat terlalu gelap untuk anak-anak. Di buku ini, duet Clara dan Icha cukup berhasil menyajikan ironi dan tragedi menjadi hidangan yang layak bagi pembaca anak sekaligus menyenangkan bagi pembaca dewasa. That’s why I adore them.
Sebuah pengalaman yang meregang batas antara fiksi dan realita. Bloody imaginative. Mistis tapi fantastis.
Begitulah kesan yang saya dapatkan dari buku kolaborasi kedua Clara Ng dan Icha Rahmanti ini. Sepintas, saya pikir plotnya akan mirip seperti Pintu Harmonika, karya mereka sebelumnya. Bisa dilihat dari tiga tokoh utama (main character) di halaman sampul belakang. Namun, permainan plot disini lebih dinamis. Pembaca dibuat harus membebaskan imajinasi saat membaca tiga kitab disini. Kitab Princess, Kitab Bajak Laut, dan Kitab Alien.
Kitab pertama dan terakhir penuh dengan tuturan imajinatif dalam jagad tanpa batas. Cerita-cerita yang hanya terjadi dalam dunia khayal hadir dalam bentuk yang nyata dan malah jadi semacam permainan antara fiksi dan realita. Kitab kedua, Kitab Bajak Laut lah yang justru sangat dekat dengan keseharian dan realita kehidupan nyata. Cerita didalamnya menunjukkan alur perjalanan hidup seorang manusia. Mungkin saja, seseorang di dunia ini pernah mengalami hal yang demikian. Agaknya, itulah yang membuat kitab kedua tampil manusiawi.
Personally, saya suka bagaimana penulisnya membuat ending cerita. Itu bukan hal yang mudah karena harus menyambungkan benang merah dari setiap lompatan alur cerita. Rasanya seperti dalam film 'Click' (Adam Sandler, Kate Beckinsale; 2006) ketika tahu Troy terbangun setelah tidur selama tiga jam. Mirip Adam Sandler yang terbangun kaget dan mendapati dirinya di atas kasur dalam sebuah toko.
Harus diakui, kolaborasi penulisan antara Icha Rahmanti dan Clara Ng mewujudkan sebuah kisah yang fantastis. Keduanya mampu menulis cerita yang tidak terbatas pada dunia anak-anak saja. Kaum remaja, dan dewasa pun bisa mengikutinya tanpa harus memperolok diri mereka sendiri bahwa mereka menikmati sajian yang demikian. Kekuatan latar belakang bacaan mereka masing-masing serta didukung data riset dan fakta menjadikan siapapun yang membaca buku ini ibarat tersedot kaleidoskop, larut dan terhanyut ke alam dunia didalamnya.
Judul: Princess, Bajak Laut, & Alien Penulis: Clara Ng dan Icha Rahmanti Penerbit: PlotPoint Dimensi: x + 362 hlm, cetakan pertama November 2013 ISBN: 978 602 9481 525
Kehilangan yang dicintai, membuat Mikal dan Troy terperangkap dalam Son Noktah, Dunia Tanpa Titik Akhir. Tanpa mereka sadari peristiwa kecelakaan yang merenggut nyawa ayah Mikal dan kekasih Troy, juga kaleidoskop yang dimiliki Buto, merupakan kunci jawabannya.
Mikal yang berteman dengan Princess dalam Son Noktah, Buto yang mendapatkan miniatur bajak laut secara misterius, serta Troy yang selalu merasa seperti alien karena keterasingan dirinya membentuk jalinan kisah pada 3 kitab yang berbeda. Dengan satu musuh yang sama: Kato, penghisap kehidupan yang hanya kalah oleh kebahagiaan. Bisakah mereka keluar dari Son Noktah dan kembali pada kehidupan mereka?
Bergenre fantasi untuk anak-anak, namun membuat saya ikut asyik hanyut dalam ceritanya. Terbagi menjadi 3 part dengan sudut pandang yang berbeda: Mikal, Buto, dan Troy. Setiap potongan informasi dari tiap sudut pandang memberi gambaran utuh tentang cerita.
Dari tampilan bukunya pun menarik, di cover yang terbuat dari jenis kertas agak tebal, terlipat dua, ternyata saat dibentangkan bisa menjadi permainan semacam ular tangga. Bahkan ada pionnya juga, 4 karakter yang ada di cerita (awalnya saya kira pembatas buku).
Namun untuk ending, ada beberapa hal yang mengganjal bagi saya. Mengapa ayahnya Mikal tetap mati? Apa penyebabnya? Bukankah seharusnya semua kembali pada waktu dimulai? Bagaimana nasib Guru Slamet?
Saya apresiasi 4 dari 5 bintang.
"Sebab ingatan yang terjebak adalah waktu yang berjalan mundur." (H.68)
"Kadang-kadang, kepercayaan itu buta. Tidak perlu bukti segala. Kalau percaya ya, percaya aja." (H.320)
"Kedalaman laut seperti kedalaman pikiran. Semakin terbenam di sana, semakin dia terpesona dengan pikirannya sendiri. Alam bawah sadar adalah alam dasar lautan." (H.330)
"Setiap orang istimewa, sebab menjadi bagian dari denyut jantung kehidupan." (H.331)
Duuuhhh.. Saya harus bikin review yang gimana ya soal novel ini. Yang pasti saya harus bilang, bahwa saya penyuka dongeng-dongengnya Clara Ng, dan lagi-lagi senyum saya mengembang setelah membaca novel ini.
Tapi satu pertanyaan besar di kepala saya, seandainya memang bocah baca novel ini, apakah mereka benar-benar mengerti?
Entahlah, tapi saya pribadi sedikit tidak mudah mencerna novel ini. Alurnya yang maju mundur jelas membuat pembaca harus konsentrasi bukan? Belum lagi banyaknya banyaknya tokoh di dalam novel ini, walaupun kebanyakan hanya sekali lewat.
Tapi saya tetap takjub pada penciptaan cerita yang diramu Clara Ng dan Icha Rahmanti. Kok bisa ya bikin cerita dan tokoh-tokoh yang begitu hidup seperti itu. Di satu bagian ceritanya begitu pilu dan bikin sedih. Tapi tiba-tiba kita bisa tersenyum sambil membayangkan keluguan tokohnya. Lalu juga merasa ngeri, takut, cemas, silih berganti. Hebat!
Hanya saja, yang membuat saya urung menyempurnakan rate menjadi bintang lima, adalah endingnya. Entah ya, saya belum mengerti. Apa mungkin saya harus membaca buku ini sekali lagi dengan konsentrasi penuh? Haha... :D
Ini adalah kali pertama saya membaca karya Clara Ng dan Icha Rahamanti. Awalnya, saya mengenal Princess, Bajak Laut, dan Alien dari promosi film layar lebarnya. Sama sekali tidak tahu kalau ada bukunya juga. Pas ke toko buku, eh, ketemu novel ini dan tertarik karena ilustrasi sampulnya yang menurut saya menarik.
Lepas dari komentar mengenai buku yang terlalu tebal dan ilustrasi yang kurang banyak, SAYA SUKA CERITANYA! Imajinatif sekali.
Ya, meskipun buku ini tidak luput dari beberapa typo, saya mengapresiasi usaha kedua penulis di atas untuk menghidupkan lagi cerita dongeng di negeri sendiri dengan cara mereka sendiri.
Saya paling suka dengan tokoh Troy. Oh, entah mengapa, akhir cerita di buku ini terasa sangat terburu-buru, njelimet gitu. Mungkin cuma saya yang merasakannya?
Apa lagi ya? Bahasannya udah diambil sama review-review yang lain, sih.
Oh iya, karena buku ini, saya jadi tertarik membaca buku anak dan sekalian mengambil mata kuliah Sastra Anak di kampus. Terima kasih, Clara dan Icha!
" See yonder, lo, the Galaxyë Which men depeth the Milky Wey, For hit is whyt."
Saya membeli buku ini karena ada nama Icha Rahmanti di sana, sudah lama Icha tidak menulis buku, jadi begitu melihat buku ini penulisnya Icha tanpa berpikir banyak saya langsung membelinya.
Alasan kedua ini katanya novel anak-anak, makin penasaran, karena di Indonesia sendiri jarang ada novel anak-anak.
Oke, berikut review tentang buku ini
Untuk kategori novel anak-anak novel ini terlalu tebal dan kurang berwarna, cerita fiksinya cukup anak-anak tapi tetap sajah menurut saya novel ini agak sedikit berat untuk dibaca oleh anak-anak.
Tapi ceritanya sangat menarik dan ada pelajaran tersendiri yang bisa dijadikan contoh buat anak-anak.
Novel ini ditujukan buat anak-anak tetapi cukup menarik untuk dibaca oleh orang dewasa.
Kisah yang mengagumkan! Sama seperti novel sebelumnya, tersirat pesan-pesan penulis dalam novel ini. Membaca novel ini membuat kita terus berimajinasi dari halaman pertama hingga akhir. Ending-nya pun tidak seperti yang aku duga. Sungguh mengejutkan. Ceritanya pun menarik dan membuat penasaran. Ini pertama kalinya aku membaca novel science-fiction anak dan membuatku ingin membaca novel science-fiction lainnya.
Yes, It's a children book. But, this book is amazing. Imaginatif banget! Pas buat anak-anak yang lagi seneng-senengnya berimaginasi yang aneh-aneh. Alurnya bagus, ada romance nya sedikit but it's okay, dan sekali lagi aku menemukan buku bagus yang cocok untuk dibaca anak-anak dan sarat dorongan untuk terus mengembangkan diri. Everybody is unique! Thank you so much Iffah for your recommendation!
Berat sebenarnya apabila dikategorikan sebagai bacaan anak-anak, dan saya agak missed di bagian ending, kayak kurang kuat twistnya. Cuma sebagai bacaan orang gede, saya menikmati fantasinya:)
Daannn...(ini masih misteri juga), kok di halaman sesudah sampul, ada tanda tangan lengkap, Clara dan Icha ya? Apa semua bukunya memang bertanda tangan, padahal saya beli di toko buku, asal comot saja :)
semacam cerita fantasi gitu. awal-awal agak susah masuk sama ceritanya. tapi pas masuk ke cerita agung dan troy mulai ngerti tapi endingnya agak gimana gitu