Jump to ratings and reviews
Rate this book

This is America, Beibeh!

Rate this book
Jalan hidup baru Dian terbentang setelah memenangi undian Green Card yang dilakukan Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta. Ia memutuskan meninggalkan kehidupan yang relatif mapan di Indonesia dan memulai hidup baru di Amerika Serikat.

Ternyata perbedaan budaya, bahasa, dan kebiasaan membuatnya tergagap-gagap. Dian yang lulusan sarjana hukum perguruan tinggi negeri terkemuka harus berjuang sebagai pembuat sandwich di kedai roti lapis di sebuah kampus untuk menghidupi kedua anaknya.

Impian hidup di negeri orang tidak selalu seindah kenyataan. Ketekunan dan semangat meraih impian itu harus tetap ada menghiasi perjuangan. Cerita-cerita ringan penulis juga syarat dengan informasi berguna bagi siapa saja yang berencana, atau setidaknya menyimpan impian, berkunjung atau menetap di Amerika Serikat.

328 pages, Paperback

First published August 1, 2013

2 people are currently reading
24 people want to read

About the author

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
8 (21%)
4 stars
18 (47%)
3 stars
10 (26%)
2 stars
1 (2%)
1 star
1 (2%)
Displaying 1 - 13 of 13 reviews
Profile Image for Haryadi Yansyah.
Author 14 books62 followers
October 21, 2021
Butuh waktu 8 tahun untuk Mbak Dian berfikir untuk hijrah/berpindah dari Indonesia ke Amerika Serikat menyusul suaminya yang lebih dulu menjadi imigran di sana. Kegalauan itu dapat dipahami, sebab di Indonesia Mbak Dian sudah hidup mapan dan nyaman bersama kedua anaknya yang masih kecil.

“...kenapa semua aku enggan pindah ke AS. Aku sebelumnya sudah mendengar dari cerita suami, bahwa hidup di AS sebagai imigran, sangatlah keras, dan mungkin ijazah yang cuma lulus S1 di Indonesia, tidak akan diakui ketika kita mencari pekerjaan. Karena itu, kebanyakan orang Indonesia bekerja sebagai tenaga kasar atau buruh.” Hal.xiv.

Namun, akhirnya Mbak Dian memilih untuk pindah karena mendapatkan lotere green card yang diadakan oleh Kedutaan Besar Amerika Serikat. Bagi banyak orang, mendapatkan green card adalah satu hal yang diimpikan sebab akan mendapatkan status permanent resident sehingga boleh bekerja dan berkegiatan secara legal laiknya penduduk lain di sana (hanya tidak dapat ikut pemilu aja).

“Awal hidup di AS penuh tekanan batin dan keterkejutan karena melihar semua serba asing. Tapi, ketika mendengar pengakuan anak-anak bahwa mereka lebih senang sekolah di AS, maka sedikit demi sedikit aku menyisihkan ego pribadi dan berusaha menyesuaikan diri dengan kehidupan ala Amerika.” Hal xv.

Mbak Dian dan keluarga hidup di Virginia, sekitar 15 menit dari Washington DC, ibukota Amerika Serikat. Dan, benar saja, untuk menyokong kehidupan, beliau memilih untuk bekerja apa saja. Pekerjaan pertama yang beliau dapatkan ialah sebagai karyawan di perusahaan ritel.

Mbak Dian yang tadinya sudah menjadi pegawai pimpinan di Indonesia, kini menjadi pegawai biasa yang harus mengerjakan apa saja, sesuai instruksi manager di sana misalnya saja menjadi helper bagi calon pembeli (menemani mereka dari pintu masuk, memilih barang hingga pembayaran) termasuk harus mengupas berkarung-karung jagung di gudang.

Dari beberapa buku yang saya baca tentang kehidupan di Amerika Serikat, ada satu hal yang mengubah paradigma saya terhadap orang-orangnya. Dulu, saya kira orang Amerika itu kebanyakan cuek, kasar dan rasis. Namun, faktanya orang-orang di Amerika (yang kebanyakan juga pendatang) sangat ramah dan menjunjung tinggi kesetaraan.

Apa pun bentuk tubuhmu (mau gendut, kurus, tinggi, pendek) atau latar belakang kehidupanmu, semua dilakukan setara. Seorang manager di sana pun bahkan tak segan turun ke lapangan, memeriksa langsung atau bahkan menangani langsung kesulitan yang dihadapi oleh konsumennya.

Namun, namanya juga bekerja dan bersinggungan dengan banyak orang, tentu gesekan juga tak selamanya dapat dihindari. Di kisah “Miss Lawyer Chocking the Corn” diceritakan bahwa Mbak Dian jadi bahan omongan sebab di Indonesia dia seorang pengacara namun saat di Amerika “hanya” jadi pengupas jagung.

“Rupanya mereka bergunjung, dan besoknya, beberapa dari mereka bermuka tidak ramah, malah dengan nada mengejek menyapaku, miss lawyer chocking the corn, ha? Kalau aku lulus kuliah lawyer, aku tak mau kerja begini.” Hal.23 yang langsung dijawab oleh Mbak Dian, “...sebagian dari kalian juga imigran yang melulu cari makan di sini, sebagian dari kalian adalah imigran yang sedang studi di sini. Jadi, apa masalahnya kalau aku lulusan sekolah hukum dan sekarang chocking the corn? Bagi aku sendiri, ini bukan masalah.” Hal.24.

Terlepas dari peristiwa itu, Mbak Dian kemudian keluar sebab mendapatkan pekerjaan baru di kedai burger yang berada di salah satu kampus. Di sana, kehidupan gambaran pekerja di Amerika Serikat lebih banyak saya dapatkan. Walaupun pekerjaannya cukup berat (karena jangan harap kerjanya leha-leha kayak kalau kerja di sebagian tempat di Indonesia), namun nilai-nilai kebersamaan antar imigran banyak terlihat di sini.

Di buku setebal 300 halaman ini Mbak Dian juga banyak bercerita tentang kehidupan dua anaknya yang saat pindah ke Amerika Serikat masih setingkat sekolah dasar. Informasi tentang pendidikan di sana juga banyak dibahas di buku ini. Lagi-lagi soal kesetaraan.

“Mereka masuk ke sekolah ini tanpa seleksi tertentu, sehingga benar-benar terasa keberagaman yang ada. Tentu saja ini kalah hebat dengan sekolah-sekolah internasional di Indonesia, murid-muridnya tentu adalah orang-orang kaya semua.” Hal 253.

Perhatian pemerintah US terhadap anak-anak imigran ini juga tinggi. Untuk memudahkan mereka menerima pembelajaran, anak-anak imigran dimasukkan dalam kategoi LEP (Limited English Proficient) dan mendapatkan kursus bahasa Inggris tiap hari di sekolah. Mereka akan dikelompokkan berdasarkan kemampuan bahasa Inggrisnya saat pertama datang.

“Para imigran yang sudah lama tinggal di sini mengatakan bahwa anak-anak yang sekolah dan mendapatkan kursus bahasa Inggris, nantinya pasti jauh lebih pintar daripada orang tuanya.” Dikutip seperlunya dari halaman 265.

Dan, itu benar jadi nyata, saat Mbak Dian dipanggil ke sekolah di waktu pembagian rapot, Alma, anak bungsunya malah bertindak sebagai interpreter dalam komunikasi yang seharusnya hanya terjadi antara orangtua dan guru itu hehe. Untungnya, sang guru kasih izin sebab Alma adalah murid yang sangat cerdas dan nilainya pun bagus.

Oke, ngomongin Amerika Serikat juga belum lengkap kalau nggak ngebahas tentang alam dan wisatanya ya. Nah, di buku ini juga ada bab khusus yang menceritakan soal itu. Tak melulu yang indah-indah, namun saat terjadi badai besar dan cara mereka menghadapinya juga diceritakan dengan baik di buku ini.

Wah, This is America, Beibeh sungguh buku yang menyenangkan. Siapa sangka, buku ini adalah kumpulan cerita Mbak Dian yang sebelumnya dibagikan di laman sosial medianya. Tak heran jika bahasanya pun ringan dan nggak berbelit-belit. Yang jelas, setelah baca buku ini, saya makin kepincut untuk datang ke Amerika Serikat haha. Ya, syukur-syukur kalau bisa dapetin green card juga, eh. Hehehe.

Itu sederet keunggulan buku ini. Jika mau senggol sedikit mana yang kurang, menurut saya ada pada layoutnya. Ntah kenapa layouternya nggak pakai rata kiri-kanan untuk buku ini sehingga terlihat berantakan. Beberapa typo juga masih ditemukan dan menurut saya kavernya kurang nendang. Tapi, terlepas dari itu, lagi-lagi, This is America, Beibeh adalah buku yang menyenangkan untuk dibaca. Dan, semoga kelak Mbak Dian akan menerbitkan sekuelnya.

Skor 8,7/10

Profile Image for Dyah Muawiyah.
16 reviews23 followers
April 26, 2014
Enggak hanya berisi "curhatan" mbak Dian ketika berada di Amerika, tapi selalu ada nilai moral yang bisa diambil dari setiap cerita :)) Gaya berceritanya mengalir dan mudah dipahami, blak-blakan dan terkesan polos. Suka banget sama buku ini! x)

4.5 / 5 bintang. Minus 0.5 karena tulisan di dalamnya tidak rata kanan-kiri. Jadi terkesan berantakan..
Profile Image for Aguspratama.
33 reviews1 follower
October 20, 2020
The book was enjoyable to read at first, but it feels repetitive. Cause it's fun to know other people's live, the book deserved 3 rating. The book is great to tell you how she live in America, but i am at lost to feel related with the MC.

Mba dian bagus banget menceritakan hidupnya ini dalam memoir yang merupakan kumpulan cerita di Fb. Tiap bagian membuat ku merasa apa lagi nih yang mau dibahas oleh Dian. Akantetapi, bila dibaca secara cepat akan terasa repetitip sehingga nilai 4 ku tangguhkan menjadi tiga. Secara kesluruhan, buku ini layak dibaca untuk mendalami hidup di Amerika sebagai imigran Indonesia pada zaman tersebut.
72 reviews1 follower
November 30, 2018
Mbak dian yang menceritakan kehidupannya yang dulunya mapan di indonesia dan ketika di Amerika dia harus bekerja lebih keras untuk menghidupi kehidupannya. Ia mencerirakan bagaimana sebagian kehidupannya di Amerika sana. Jadi makin berminat untuk pergi k negeri Paman Sam
Profile Image for Weedy Koshino.
2 reviews2 followers
January 17, 2019
Cerita yang sangat menarik dan tidak membosankan. Ditunggu buku selanjutnya mbak dian.
10 reviews
March 27, 2022
For me, she writes her story of her life on a very honest way. I love how she didn't feel ashamed to tell us what she had experienced back then.
Profile Image for Truly.
2,763 reviews12 followers
June 13, 2015
Buku ini berjodoh dengan saya dengan cara yang unik. Pertama gambar hamburger yang menggoda perut saya, apalagi saat itu pukul 11.30 WIB pas khan. Kedua kata yang membuatku teringat pada dua perempuan hebat yang aku kenal, MD dan DKW, mereka sama-sama perempuan berasal dari serta tinggal di daerah yang sama. Tentunya akan memberi inspirasi membaca tentang bagaimana perjuangan Dian menjalani hidup. Tak butuh waktu lama guna menuntaskan buku ini tapi efek yang ditinggalkan saya yakin akan bertahan lama.

http://trulyrudiono.blogspot.com/2015...
Profile Image for Christina.
29 reviews2 followers
August 3, 2016
Membaca buku ini seperti membaca diary seseorang. Dengan bahasa sederhananya, penulis bertutur seluk beluk hidup sebagai imigran di negara adidaya milik Paman Sam itu. Justru dari hal-hal sederahana di keseharian penulis, kita bisa tau bagaimana perjuangan seorang imigran untuk survive di negara adidaya. selamat membaca.
Profile Image for Ginan Aulia Rahman.
221 reviews23 followers
June 19, 2016
Ya apalah yang bisa diharapkan dari kumpulan status facebook? Meski yang diceritakan adalah pengalaman di Amerika sebagai warga baru yang mendapatkan Green card. tapi sayang pemaparannya kurang kontemplatif. Kalau penulisnya orang yang unik dan nyeleneh seperti Pidi Baiq, mungkin hasilnya akan lain
Profile Image for Steven S.
697 reviews67 followers
December 20, 2013
#1. Kisah mbak Dian inspiratif banget
#2. Nice story to become US Citizen.
#3. Banyak pelajaran dan makna dari perjalanan hidup mbak Dian di US, soal kerja keras, anak, dll.
Profile Image for Annisasutarli.
12 reviews
April 11, 2017
I bought it at the book fair a week ago. I was happy to buy it. It turned out that it has inspired me in the other way around. Once again. The book poked me to always work hard, be thankful. Terima kasih mba Dian.
Profile Image for Sigit Revolusioner.
24 reviews
November 18, 2017
Mbak dian melihat Amerika dgn presepsinya inilah bukunya. Banyak hal yg dulu saya ketahui tentang Amerika, serasa pupus dgn sendirinya saat membaca buku ini. Amerika dream yg dulu saya mimpikan dgn banyak ekspetasi nya, berasa tak ada gunanya... Great bookkk
Displaying 1 - 13 of 13 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.