Dia memiliki seluruh kekuatan untuk bertahan hidup, bahkan membunuh--kalau dia mau. Tetapi, kekuatan bukan penentu satu-satunya
Pendengar, satu suara dalam hati mengatakan dia harus pergi, suara lain memaksa kembali. Kini, bersama Cakrawala, petualangan perompak naga mengajari hal tersulit dalam hidupnya: cara bersikap bijaksana. Ada janji kepada orang-orang yang dia cintai, dan panggilan hidup yang harus dia penuhi.
Di atas kapal seribu tahun yang dipenuhi kekecewaan dan kematian, ke manakah ombak membawanya pergi?
Akhirnya sampai juga ke perjalanan terakhir Legenda Perompak Naga versi Bajra. (Mungkin). Untuk penutup cerita, buku ini memuaskan. Jujur, rasanya nggak rela banget pisah sama Kawanan Naga Hijau yang dinakhodai Bajra ini. Dan lagi, aku masih ingin lihat momen Bajra-Cakrawala. Kayaknya, Bajra emang harus selalu ngurus bocil, yak. Setelah di buk pertama ada Kelana, di buku tiga ini ada Cakrawala.
Pros:
Kalau di buku pertama lebih berfokus ke siapa itu perompak Naga dan eksplor cara kerja kapal, di buku dua mengekplor lautan, sekarang di buku tiga ini mengeksplor Kota Raja. Kalau tiga buku ini digabung, world building-nya jadi near to perfect. Memang dari buku pertama, yang paling kusuka adalah cara kerja sihir di dunia ini juga world building-nya. Kalau ada peta tambah seru lagi, wkwkwk.
Bajra selalu punya hubungan yang manis sama ank kecil, dan di cerita ini dia ditemani Cakrawala. Tiap ada momen meraka tuh manis banget.
Bajra adalah salah satu tokoh cerita yang banyak flaw-nya, tapi loveable. Padahal, biasanya aku kesel sama tokoh yang selalu mengulangi kesalahan yang sama, tapi karena Bajra ini punya backstory yang kuat dan dari buku pertama udah dikenalin banget Bajra ini orangnya seperti apa, aku memahami pilihan-pilihan yang dia ambil.
Cons:
Beberapa hal yang kurang menurutku adalah banyaknya hal seru yang harsnya disuguhkan lebih panjang. Salah satu keunggulan buku ini adalah action pack-nya, sayangnya di buku ini semuanya di skip. Pertempurannya banyak di-cut dan membuat ceritanya terasa terburu-buru ingin cepat selesai.
Karena hal di atas, ending bukunya nggak begitu asyik. Karena terkesan semudah itu dan begitu saja. Kayaknya, buku ketiga ini harus dibuat dua part, soalnya banyak banget hal terjadi di buku ini.
But overall, this book will be one of my favorite book this year.
Actual rating: 3.5 stars Buku konklusi yang menurut aku lumayan memuaskan. Perkembangan karakter yang worth it sampai akhir. Walaupun menurut aku ceritanya agak melebar kemana-mana dan ga fokus gitu. Tapi kalo dari segi aksi dan fantasi, buku ini layak untuk direkomendasikan.
Entah kenapa, aku merasa di buku ketiga ini ceritanya sedikit enggak terarah.
Banyak sekali tantangan yang dihadapi Sang Naga Empat Belas ini. Mulai dari kemunculan calon penggantinya yang terbaru di saat usianya masih sangat belia, konflik internal dengan hati nuraninya sendiri dan para awak kapal termasuk Kelana, konflik eksternal dengan pemerintah kerajaan dan penduduk yang tertindas, dan banyak sebagainya. Semua masalah ini diselesaikan dengan agak terlalu cepat dan seringkali melompat-lompat, jadi aku kurang bisa merasakan bagaimana gentingnya keadaan Kawanan Perompak Naga Hijau yang terus menerus jadi buronan ini. Terlebih ada tambahan beban baru yang harus dijaga agar tidak layu sebelum bertumbuh. Seharusnya ini bisa di-expand jadi dua buku, sih. Atau, jumlah halamannya ditambah lagi, supaya keseluruhan cerita bisa ter-cover dengan baik.
Aku juga merasa terbitan yang ini agak sedikit berantakan. Banyak salah ketik tanda baca dan kata yang tidak diedit, sehingga terkadang kurang nyaman membacanya.
Tetapi, aku senang bisa ketemu sama Bajra, Kelana, Juru Bintang, Juru Mudi, Juru Peta, Tabib Ramuan, Awani, Laravi, dan terutama Cakrawala yang unyu-unyu. Mereka semua benar-benar satu kesatuan yang enggak terpatahkan.
Entah kenapa, ini akhir yang seolah bukan akhir (LOL). Ditunggu petualangan selanjutnya!
P.S. Kok aku kasihan sama si gadis pembeli telur asin :(
Harus kuakui, buku ketiga lebih mencengangkan dari buku kedua dan pertama. Idk, apakah seri ini punya konsep ending yang mengangetkan, tapi antara ending buku sebelumnya dengan awal buku selanjutnya joko sembung banget.
Setelah menjalani kehidupan baru sebagai seorang Naga, Bajra mendapat kabar mengejutkan mengenai kedatangan Naga baru yang usia jauh lebih muda dari ketika dirinya diangkat menjadi seorang naga. Semenjak kejadian yang menghadapkannya dengan dilema kematian, Bajra memutuskan rehat menjadi seorang perompak dan melipir ke salah satu desa, membaur bersama masyarakat, dan menjadi rakyat biasa.
Sampai kabar bahwa adiknya, Kelana, dan para awak Naga Hijau ditangkap oleh Tentara Kerajaan serta akan menjalani hukuman mati. Bajra sekali lagi berada di persimpangan; mengembalikan jati dirinya dan melindungi Cakrawala--calon Naga Kelima Belas--atau menutup mata serta telinga terhadap nasib para awak kapalnya.
Perubahan ceritanya jelas masih menyisakan syok serta tanda tanya besar. Mengapa Bajra memilih memutar balik kemudi sampai melepaskan kodratnya sebagai seorang naga? Apakah itu pantas dan mungkin? Lebih jauh lagi, keadaan Bajra jelas tidak punya pilihan selain menjadi Naga.
Jadi ingat perkataan Naga Keempat Belas, Bajra tidak pantas menjadi seorang perompak karena terlalu lemah lembut dan selalu memakai hati. Yang mana ini merujuk ke keputusan ekstrem di buku ketiga ini. Kurang yakin Bajra bisa mengenyahkan jati dirinya begitu saja. Agak mustahil, sih.
Buku ketiga ini jujur nggak bikin aku terkesan. Mood belum membaik ditambah narasi penuh makna filosofis alih-alih fokus ke jalannya alur malah bikin ruwet isi kepala. Konflik Bajra bisa aja dijelaskan dengan lebih runut. Maksudku, kenyataan yang di-reveal di tengah nggak menyelamatkan asumsiku bahwa Bajra ini ngawur.
Kenyataan mengenai kondisi pulau temuannya di buku kedua juga nggak bertambah baik. Rasanya kayak kepengin jedotin kepalanya terus arahin biar dia bisa lihat akibat keputusan sepihaknya. Kepalang emosi kalau diingat-ingat. Apalagi dia ninggalin awaknya begitu aja. Jelas mangkel.
Banyak yang mau kuocehkan soal buku ketiga ini, tapi takutnya malah kebanyakan lalu jadi spoiler. Yang paling mengganggu itu plot pentingnya dipotong. Misal soal penyerangan ke istana atau kuil itu rasanya kayak selewat pandang aja, padahal perencanaannya udah oke banget. Ibarat udah pasang kuda-kuda tinggal lari, eh, lintasannya banyak yang bolong jadi terpaksa dipotong. Tahu-tahu udah finish aja.
Walaupun memang agak menghadeh, tetap bakal baca buku selanjutnya (kalau ada dan kalau ada kesempatan).
Perjalanan Bajra sebagai Naga yang diprediksi akan menjalankan nubuat sangat diuji dikisah ini. Dengan segala ke-galau-an Bajra dan pilihan pilihan yang dia ambil, pada akhirnya naga selalu memenuhi takdirnya.
Cakrawala mencuri perhatian karena se lucu ituuuu, si bocah jago gambar. Menggemaskan.
Kisah lama berakhir, kisah baru dimulai. Ayo lanjutkan pelayaran!