Betapa kagetnya Aras, cahaya merah tiba-tiba menyorot membelah langit saat ia menyentuh batu merah di pegangan sebuah pedang yang ditemukannya di rumah pamannya. Seluruh kerajaan Tolan menghentikan aktivitasnya, mereka ternganga menyaksikan cahaya merah yang jelas memberi pertanda.
Saat itu semua tahu bahwa Aras adalah seorang cardan. Tapi bagaimana mungkin, selama ini ia hanya berlatih menggunakan pedang kayu, dan ibunya sudah mendaftar ke universitas untuk mencari ilmu, untuk menjadi ilmuwan, bukan ksatria perang.
Menjadi cardan seperti nasib yang tidak dapat ditolak. Selama ini, tanpa Aras sadari, darah ksatria mengalir di tubuhnya. Ia seorang cardan, yang harus selalu siap bertempur. Melawan makhluk-makhluk yang selama ini tidak pernah ia jumpai. Pada saatnya nanti, ia harus melawan Siafrik, musuh besar kerajaan Tolan, yang dulu sudah pernah dikalahkan dan dipastikan mati. Lantas kenapa Siafrik sekarang hidup lagi? Apa yang akan terjadi dengan Tolan nantinya?
1. Jalan ceritanya (ide) sebenarnya menarik, setidaknya sampai 3/4 cerita.
2. Tokoh2nya banyak banget, tapi kok rasanya tak satupun yang terlihat menonjol. Ibarat dalam film, semuanya pemeran pembantu dan figuran, terus peran utamanya siapa? Aras kah? Divin? Siafrik? Monique? Nere? Fordit? Sonia? Tidak begitu jelas buat saya.
3. Saya suka kalimat2nya, tidak terlalu lebay seperti biasanya kalimat2 dalam novel fantasi. Karena biasanya akan membosankan kalau kepanjangan.
4. Saya ga tau, apakah penulisnya tiba-tiba kehabisan ide sehingga ceritanya terpaksa berakhir seperti ini. Berakhir sangat cepat. Ibarat lagi mendaki jalan mendaki dan tiba-tiba terpeleset dan jatuh berguling-guling. (ini saya yang lebay)
Kata CARDAN pada sinopsis di bagian belakang buku yang membuat saya tertarik untuk membaca. Apa itu cardan? Sejenis pejuang, raja atau seseorang yang terpilih untuk menyelamatkan manusia (sering sekali nemu tokoh seperti ini dalam kisah fantasi).
Keterangan mengenai apa itu cardan saya temukan di halaman 25. Cardan adalah orang-orang terpilih, dan buka manusia biasa. Mereka ditakdirkan menyatu dengan batu yang berasal dari bintang-bintang Garinka. Ok, tak beda jauh dengan makna manusia yang terpilih.
Banyak sekali tokoh dalam buku ini, setiap tokoh memiliki peranan yang cukup penting dalam membangun cerita. Bagi saya mungkin tokoh Aras bisa dikatakan tokoh utama, terutama sekali karena namanya yang disebut dalam sinopsis.
Ceritanya lumayan, tapi entah kenapa saat kisah sedang berlangsung mendadak penulis mengakhiri begitu saja tanpa ada kejelasan bagaimana akhirnya. Entah kehabisan ide atau sengaja dengan harapan bisa membuat buku kedua.
Kover dan warna sampul sungguh mampu membuat orang melirik. Perpaduan warna hitam dan emas memang sungguh kontrak. Sinopsis di bagian belakang dengan warna putih makin membuat buku ini menggoda mata.
Urusan penilaian kover tentunya tidak sama dengan isi. Kover saya beri bintang 3,5. Sementara isi cukup bintang 2. Ditotal menjadi 5,5 bintang, dibagi 2 menjadi sekitar 2,75 bintang. Baiklah kita genapkan menjadi 3 bintang.
Ceritanya biasa2 saja dan terlalu banyak adegan klise. Penokohan sangat lemah dan beberapa karakter terasa tidak ada bedanya. Ditambah lagi terlalu banyaknya plot-device dalam cerita tanpa alasan yang jelas. Unsur logika juga sangat lemah dalam novel ini.
Satu2nya yang membuat novel ini selamat dari rating bintang satu adalah keberanian pengarang untuk tidak mengikuti pakem ceirta Happy ending seperti yang biasa ada di novel Indonesia. Plotnya juga sebenarnya menarik diikuti kalau saja diberi lebih banyak alasan dan penulis lebih banyak belajar cara menulis deskripsi dan narasi.
awal ceritanya oke sih.. tapi lama-lama terlalu banyak tokoh, endingnya juga ga jelas. kalo tamat kok nanggung banget ceritanya, kalo dibilang serial ga ada tanda-tanda mau dilanjut.. Cardannya ada berapa juga jelas..