Black comedy novel tentang persahabatan empat fashionista dan seorang metroseksual dalam mencari pasangan hidup yang ambur adul! Mereka eksekutif muda yang cantik, tampan, kaya, terhormat, dan generous. Gila kerja namun juga gila belanja, gila pesta, dan gila clubbing! Namun satu yang sulit mereka dapatkan...jodoh! Bagi kelima sahabat ini mencari jodoh tak semudah membeli gaun Christian Dior atau Prada. Memilih pacar tak semudah menyuntik wajah dengan Botox atau Collagen. Mendapatkan calon pasangan hidup tak segampang menikmati caviar atau red wine dari balai lelang Sotheby's! So untuk urusan jodoh bisa membuat mereka gemetar dan panas dingin! Penampilan mewah suntik botox atau sedot lemak cukupkah untuk tampil cantik dan ideal? Untuk mendapatkan pasangan hidup haruskah mereka mengumbar kecantikan semu/beauty for sale?! Ternyata uang bukan segalanya kalau memang jodoh belum di depan mata! Sebuah perjalanan menggapai angan-angan cinta sampai ke penjuru London, Sydney Singapura Bangkok bahkan lintas Dubai Berawal dengan sebuah rhapsody dan berakhir tanpa terduga Sebuah penggalan kehidupan para lajang kosmopolitan Jakarta dalam bentuk novel metropop dengan bahasa yang santai dan gaul akan membawa pengalaman emosional mengesankan bagi para pembaca dan juga memberikan wawasan luas tentang kehidupan kelas atas serta informasi kesehatan saat masa kritis di umur 30an yang rawan kanker! Rawan depresi! Rawan karir ! Dan rawan seksualitas!
jadi begini ripyunya darling bling-bling... BAAAAH..!! ini buku bener2 bikin gw bertekyuk lyutut syaking pyusing ama myumet bacana. kuduna di cover buku ini ditulis pake huruf gede "UNTUK KALANGAN SENDIRI", maksudnya kalangan jetset gitu loh. Soalna ini buku bercerita tentang orang-orang super tajir dan dunia tajir mereka. tokoh2nya bener kinclong baik penampilan dan kekayaannya. Semua karakter cewe dibuku ini tampangnya cuantik dan lakinya cakra birawa semua. pokona blasteran semua, entah blasteran brazil, italia, prancis, arab,dll. samasekali gak ada "citarasa" lokal. Blom "pameran" barang2 branded yang berhamburan nyaris disetiap halaman. sang malaikat berbulu sepertinya ingin memamerkan pengetahuannya tentang semua merk2 fashion terkenal yang dipakai di tiap karakter2nya, mulai dari piama, kemeja, payung, sepatu, pokoknya semuanya lah berikut harga-harganya yang terus terang aja bikin geleng2 kepala. menyebalkan. BAAAH..!!
ini beberapa contoh bagaimana katakter2nya menghabiskan duit dan harga barang2 branded yang gw bikin geleng2 kepala gak mudeng. ~dalam satu adegan mereka kongkow dan dinner di resto mahal, begitu beres bill nya 8 juta bow buat lima orang ~ada karakter yang dengan "cuek" beli gantungan konci prada buat kakaknya seharga 9 juta ~beli satu set piring yang harga sebijinya 2,8 juta ~handuk versace seharga 8 juta ~payung aigner (lagi obral) 4 juta *gimana kalo gak obral?* ~sepatu kulit buaya gucci seharga 85 juta *buayanya masih idup kali ya?* ~jamuan wine dinner seharga 350 juta ~menginap di hotel yang bertarif 3000 dollar semalam etc barang2 maharani semuanya gak ada yang mursidah bow. BAAAH..!!
ada apa sih dengan barang branded? jadi inget cerita tentang bokap dengan barang "branded" beberapa taun yang lalu. bokap gue orangnya gak pedulian sama merk, yang penting enak dipake. baju beli di pasar baru, sepatu beli di cibaduyut. sekali waktu bokap dengan jumawanya bilang kalo dia lagi pesen sepatu tenis Nike ama temennya, bukan cuman sepatu tapi sekalian dengan raket tenisnya dalam rangka pertandingan tenis antar aki2 dikomplek yang kabarnya ditantang oleh kelompok aki2 lain diluar komplek. Pagi2nya bokap tampak bersemangat dengan raket, baju dan sepatu barunya. Raketnya sih merk Wilson, "biar maennya paten seperti pete sampras." gitu katanya. Dan dengan bangganya bokap memamerkan sepatu Nike barunya kepada gw dan adik laki gue. "nih, sepatu yang dipake andre agassi." katanya bangga sambil menambahkan,"harganya cuman 150 rebu!" adik gw langsung ngakak denger sepatu yang dipake andre agassi harganya segitu. "mustahil" gitu komennya sambil iseng meriksa itu sepatu. setelah meriksa sebentar adik gue langsung meledak ketawa sambil ngacung2in itu Nike ke gue. "sepatu ajaib!" katanya sambil terus ketawa. gw penasaran sambil meriksa sepatu yang diserahkan adik gue. "tampangnya" emang Nike sih, meski ketauan gak terlalu rapi tp gue masih blom ngerti apa yang bikin dia ngakak. "priksa solnya" kata adik gue sambil tetep guling2. dan setelah di priksa gue pun ikut guling2 sebelah adik gue. ternyata sol sepatu Nike itu capnya Reebok!!! "sejak kapan Nike merger ama Reebok?" komen gue sambil ngakak. Bokap ikutan meriksa sepatu itu dan sambil manyun bersungut-sungut, "sialan! ditipu neh." Tapi sepatu ajaib itu tetep dipake buat pertandingan. "kapan lagi punya sepatu Nike dan Reebok seharga 150 rebu." katanya sambil cengar cengir cuek. gue masih ketawa ama adik gue ketika melihat memakai kaos baru pemberian temennya. Perut yang udah sakit tambah sakit ketika melihat tulisan di kaos yang di pake bokap. beliau samasekali gak sadar kalo itu baju ternyata "disponsori" oleh sebuah produk obat kuat dengan tulisan sangat provokatif di punggungnya yaitu "lebih keras lebih puas". mwahahaha... gw ama adik gue sepakat sambil sikut2an untuk ngejahilin bokap dan gak ngasi tau soal tulisan itu. maklum dalam setiap kesempatan bokap ama gue suka saling menjahili. jadi kalo ada orang bilang kalo gue orangnya jahil, ya.. maap2 aja, bukan kehendak gue itu mah, semata-mata faktor keturunan :D berangkatlah bokap menuju pertandingan tennis dengan sepatu branded ajaib dan baju provokatifnya. gak usah diceritain soal kejadian di lapangan lah, yang pasti begitu pulang maen tenis dan kepergok nyokap pake baju "porno" bokap langsung kena jewer sambil diomelin habis2an dan baju itu kena cekal gak boleh dipake lagi. gimana dengan sepatu "blasterannya"? setelah sebulan dipake langsung mendapat "perawatan" dari tukang sol sepatu dan bokap pun kembali ke sepatu "lokal"nya dan gak pernah menyatakan lagi hasratnya untuk memilki sepatu andre agassi lagi.
loh, koq jadi ngomongin bokap? kembali lagi ke buku bulu selain ceritanya yang bener2 ada di awang2 buat orang kek gue, ini buku sempet bikin gue mual karena memasukan adegan brokeback mountain! dua kali lagi! huaaah! ampooooon deh. trus yang parah yaitu pas masuk endingnya. sang malaikat berbulu sepertinya ingin memberikan semacam twisted ending buat endingnya. terus terang MAKSAAAAAAA BANGEEEET endingnya. BAAAAH..!! eh, tapi jangan salah, buat mereka yang membaca buku ini dengan perasaan "endang bambang jumendang bang toyip nendang-nendang" bisa jadi mereka akan berburu buku ke duanya karena penasaran berat dengan endingnya yang digantung yang malah bikin gue ngakak sambil jedotin pala ke tembok. BAAAH..!!
begitulah ripyu nya darling bling-bling. buku ini bikin akika soraya perucha. BAAAH..!! sutralah, akika lapangan banget neh, mo mawar macarena nasihat gorbachev yang mursidah tapi endang bambang.
duuuh jadi inget seseorang neh..
Jeanette sayang...
*ngaciiiiiiiiiiiiir takut disambit*
-------------------------------------------------- Gak brani naikin ke currently-read neh, masi ngintip dikit2 aja sambil garuk2 pala.
Dari hasil intipan sekitar 40 halaman aja sepertinya gue harus "setuju" dengan adik gue, yaitu masalah kosa kata gue yang bertambah dengan bahasa2 baru (ato gue aja yang kuper ya?). Misalnya untuk istilah2 kecantikan (plastic surgery) seperti.. Botox, Laser, Skin Filler dll
Botox berasal dari bakteri yang diambil serum toxin-nya, gunanya? untuk merelaksasi otot yang memiliki kontraksi tinggi. Lebih canggih dari botox yang disuntikan, ada teknologi laser non-ablative laser resurfacing atau photorejuvenation. Wuiiih, keren pan bahasana?. Ada teknologi yang lebih canggih lagi, laser Medlite IV. Sedangkan yang dinamakan Skin Filler itu semacam "benda" (biasana kolagen) yang dipake buat "mengganjal" kulit yang mulai kendor. Trus ada lagi yang disebut Intragastric Balloning, Aquapuncture, Laserpuncture, Sonopuncture dll. Trus gue juga baru tau kalo kosmetik night cream Cle de Peau harganya 9 juta *bengong*, pelembab Este Lauder Re nutrive SPF 15 harganya 11 juta perak *nyabutin jenggot karena kaget* Tuh pan! banyak elmu baru... :D *mendadak jadi ahli kecantikan*
pertanyaannya ialah.. berapa biaya yang dibutuhkan seekor kudanil buat ngebotox ato ngelaser kulitnya biar lebih terlihat kinclong dah penuh pesona? *satu suntikan botox yang cuman bisa bertahan 6 bulan harganya sekitar 6 juta*
Trus bahasa2 gaul yang juga baru gue temukan *ada kemungkinan gue dah mahluk jadul ama kuper jadi baru tau bahasa2 kek ginian* seperti.. malaysia ==> malas maharani ==> mahal mursidah ==> murah nepsong samse pere ==> napsu sama cewe binul sakit ==> bule gay les biola ==> lesbian takeshi ==> takut jojoba ==> jomblo-jomblo bahagia belenji di sindang ==> belanja di sini
lumayan, 40an halaman dah dapet kosa kata baru :D
baru ngeh kalo di cover belakangnya ada dua cewe seksiy lagi bertumpuk dengan mesra diatas sofa. duuuh, jadi mendadak pening. dah ah, segitu aja ngintipnya, mo nerusin dulu utang bacaan yang laen.
erie kudanil tuwir de la renta yang butuh aspirin pagi pagi
bahkan rate 1 bintang-pun gak pantes buat buku ini. Buku2 seperti ini membuat saya sedih, sementara banyak penulis yang bagus berjuang menerbitkan buku pertamanya, orang2 seperti FF ga bisa memanfaatkannya...poor guy, poor reader...
o iya, aku ga setuju kalau dibilang buku ini buat kalangan jetset..., soalnya penggambaran kalangan jetset disini bener2 norak. Glam Girls masih 100 kali lebih baik..
catatan menggelikan dari buku ini: 1. prolog buku ini norak abis 2. entah kenapa aku menangkap penulisannya berantakan 3. perpindahan gaya cerita dari orang ketiga, menjadi orang pertama secara tiba2 dalam 1 bab (editornya ngantuk sepertinya) 4. ide cerita 'tidak bertemu selama 3 bulan' untuk mencari pacar itu basi banget 5. begitu ketemu, ternyata 4 cewe dan 1 gay ini (keempatnya) berpacaran dengan cowo yang sama...hoooeeeekkkh
ok, jadi pesan moralnya: sayangi waktu anda dengan tidak membaca buku ini...:)
----------------------------- pertama-tama, dengan segala kerendahan hati saya ingin memberi selamat terlebih dahulu kepada diri saya sendiri yang telah berhasil membaca novel ini (berpenghargaan “buku pilihan” di sebuah perpustakaan di Australia & selama 2 tahun menjadi best seller di sebuah gramedia Jakarta) sampai tuntas tas tas tas. sungguh sebuah pencapaian yang luar biasa. *grin*
kedua, saya sampaikan terimakasih kepada bapak erie sf, sang hippo, afrit bergaun merah, miss phuket, & super-(hello kitty)-man in pink, aki2 penari tiang, and last but not least “tante”nya si kecil petra, yang meskipun dengan gahar menyatakan bahwa buku ini milik adiknya, tapi merasa berhak meminjamkannya kepada saya tanpa perlu persetujuan sang adik. i really do respect the denial statement, however, that act of lending without consent had spoken for itself of who’s the real owner of this book.
tidak lupa pula saya sampaikan rasa terimakasih kepada sodara jimmy simanungkalit, de spider dan jimmy neutron wannabe, yang telah berbaik hati mengirimkan novel ini melalui tiki jne, lengkap dengan nama dan nomor hape ybs di amplop coklat pembungkusnya. Percayalah, meskipun dirimu mengaku hanya skimming mencari referensi untuk buku yang sedang kau terjemahkan, tapi diriku lebih percaya bahwa dirimu sebenarnya sudah membacanya dengan teliti.
baiklah, tanpa berpanjang lebar lagi mari kita mulai membedah novel fenomenal (lihat paragraph 1 diatas) karya FF ini....
umm...hmm...oh well...setelah bersemedi cukup lama, saya putuskan bahwa saya tidak sanggup menuliskan sesuatu yang baik mengenai novel ini. berhubung saya menulis ini pada malam bulan puasa, & saya sedang mengikuti saran dari cuplikan lagu “gossip-gossip” berikut: “if you can’t say something nice, don’t talk at all is my advice” maka saya serahkan menulis review buku ini kepada para pembaca (=peminjam) buku ini selanjutnya. maapkeun yah...hehehehe...
Suatu malam saat saya sedang makan mi ayam, grup WA BBI Jabodetabek kasak kusuk membicarakan sesuatu yang penting (?). Saya sebenernya anteng-anteng saja karena mereka ngomong hal yang saya nggak ngerti. Ya siapalah saya ini yang cuma sebutir nasi kering. Waktu itu kan saya lagi nungguin abang gojek ya, jadi lah saya menyimak dengan lebih khusyuk (makan mi ayamnya udah kelar waktu itu, udah nambah roti dua ribu pula. Sedih banget deh roti abang-abang pinggiran sekarang nggak ada yang seribu doang apah?). Nyatalah adanya ternyata mereka ngomongin buku yang ceritanya reviewnya ini sedang saya tulis.
Entah gimana, Kak Yuska yang ngehitz itu kok ya nemu aja penjual onlinenya. Maka dibukalah kembali sesi pengumpulan dana sosial untuk membeli buku. Setelah sukses membeli buku Di*** ****o*, kali ini Jabo juga sukses mengumpulkan kebaikan hati para donaturnya. Terima kasih kepada Kak Yuska sang Malaikat Bulu, Mbadewkebangganku, Yeyenkeren, Anggun (Anggun Doang), Bun Nan yang baik hati, Eka dan Ci Astlid Idolaku, yang sudah meluangkan hartanya.
Jadi karena saya iseng pengin baca pertama, bukunya mendarat cepat di rumah (Terima kasih Kinanti Books :3 :3) dan saya baca langsung. Sayang, karena sibuk #pret saya gak bisa baca sekali duduk, dan baru kelar sekarang. Karena saya udah janji, bukunya musti di-review. Jadilah saya menulis ini.
Yuk mari kita mulai. Oh ya sebelumnya, saya mau bilang, saya ini orangnya serius (diseriusin juga boleh), jadi jangan harap reviewnya jadi lucu dan bikin geli geli gimana gitu macam reviewnya Si Aki Kuda Nil atau Huni-nya Kak Mute.
*tebar bulu*
Beauty For Sale dimulai dengan prolog yang sekaligus menggambarkan cerita macam apa yang akan diceritakan (yaiyalah, Pat). Percakapan antara Brandon, Debby, Kiyara, Venitta, dan Cantika. Sosialita Jakarta, punya kerjaan bagus dengan gaji yang mungkin kalo dibandingin gaji saya, mungkin gaji saya mungkin cuma cukup buat bensin mereka sehari (hitung berapa mungkin sudah saya tulis.)
Prolog ini isinya percakapan semua, jadinya saya macam denger radio rusak yang bahkan kalo dengerin radio sekarang saya ogah dengerin penyiarnya ngomong :(. Yang diomongin adalah seputar kesehatan dan kecantikan, sesuatu yang bagus yah.
Dengan bahasa gaul yang mungkin masih ngehitz pada jamannya, kelima sahabat ini berbicara soal laser non-ablative laser resurfacing, laser erbium dan laser lain-lain (kalo saya Cuma taunya mah laser disc). Soal pelembab 11 juta, night cream 9 juta, atau krim ditambah pemutih gigi 68 juta, merek-merek terkenal yang nggak usah saya sebutin soalnya saya males nyontek bukunya dan saya juga nggak hapal (siapalah saya Cuma kanebo kering, saya bahkan dulu ngira Fendi itu merek di Tanah Abang, soalnya tetangga saya ada yang namanya Bang Pendi). Juga soal krim microdermabration *nulisnya ngos-ngosan*. Dari segala merek yang disebutkan dan harganya yang wow, jelaslah seperti yang dikatakan Cantika “Beauty for sale start now!”
Petualangan kecantikan mereka dimulai di Bangkok. Para anak jutawan eh milyarder eh trilyunder eh apalah namanya pokoknya Bapak Emaknya tajir banget deh itu jalan-jalan ke Bangkok, pure murni untuk jalan-jalan. Mulai dari MBK Mall di Siam Square yang menjual barang-barang KW sampe mall apalah namanya (males nyontek juga) yang barang-barangnya bermerek dan mahal pastinya (Apa ya namanya? Siam Discovery? Maklum saya belon pernah ke sono). Tapi niat jalan-jalan semata menjadi gagal, karena hidup tanpa cintaaa bagai taman tak berbungaaa, jadi ada adegan mereka untuk sedikit cuci-cuci mata liat yang seger-seger, yang dadanya berbulu, yang wangi parfumnya semerbak merona #yha. Ada yang ketemu masa lalunya, ada yang ketemu orang baru, hingga juga “pengalaman baru”.
Intinya 2 bab itu gitu sih. Lalu beberapa bab selanjutnya adalah bab perkenalan tokoh *deep sigh* , dan apa yang membuat mereka menjadi seperti begitu. Seperti apa? Tua de la renta yang jomblo bling-bling -_____- Ada yang bermasa lalu kelam, melakukan hal yang dirasa berdosa, pelecehan, dan lain-lain endebray-endebray. Karakter mereka pun makin dikuatkan dengan penggambaran gaya dandan mereka. Intinya ya gitu-gitu doang, sampai saya nggak tau ini mau dibawa ke mana ceritanya?
Barulah saya mengerti pada Bab pertengahan, kenapa salah satu tokoh bernama Mae yang sempat disebutkan selintas ini diceritakan meninggal dunia. Ternyata kematian Mae yang sendiri di New York, baru ditemukan 2 hari kemudian, membawa efek besar bagi mereka. Mae yang selalu terlihat baik hati, ramah, tidak sombong, pengertian, ternyata sangat kosong (karena kosong adalah tidak berisi, dan kalau berisi itu tidak kosong).
Balik ke cerita, Mae kesepian karena ia sendiri. Seperti lagunya Novia Kolopaking, Aaasmaraaa ke mana laaagi akan kuuucariii. Siapa yang kan mengusiiir sepiii di saat kuu sendiriii. Ditambah SMS provokatif dari Brandon soal kenapa mereka masih ngejomblo, maka pencarian cinta dimulai. Tidak boleh ke tempat clubbing biasa mereka berkumpul, tidak boleh menghubungi sama sekali selama 3 bulan. Kalau ada yang melanggar dendanya 20juta per orang atau liburan ke Bali ditanggung. Cadas. Begitulah, apakah akhirnya mereka menemukan cinta??
------
Hmm, gimana ya. Hahahaha *ketawa gila bawa bulu-bulu*. Oke *batuk*
Seperti yang sudah diperingatkan, buku ini akan memuat cap-cap barang ternama dengan harganya yang menyilaukan. Jadi saya sih nggak heran. Ditambah lagi saya kan nggak tahu harga barang-barang itu, jadi saya mah ho-oh ho-oh aja dengan cita rasa para jet setter itu. Jeans 16 juta, gantungan kunci 9 juta, piring sebiji hampir 3 juta, handuk 6 juta, atau payung 4 juta, saya mah iya-iya aja. Nggak masalah. Atau dengan nongkrong yang sekali dudukan di restoran menghabiskan 8 juta per orang, saya juga nggak masalah. Saya mah cuma anak kampung mepet Ciledug, jadi yaa mungkin saja harga itu bener (berhubung belum pernah ngerasain), jadi yaa intinya saya memaklumi.
Tapi... yang jadi masalah buat saya adalah... Jeng jeeeng...
Ini buku lho. Bukan diary atau curhatan orang. Ini novel, lho. Nggak, saya nggak rempong menuntut EYD yang diakui KBBI atau Cuma selingkung, tapi ini buku diedit nggak sih? Trus, ini buku mau dibawa ke mana sih? Baiklaaah ini soal membuka mata para orang awam begitulah kehidupan kaum atas, okeh, mata saya sudah terbuka, trus selanjutnya apa?
Saya sudah cukup membaca rentetan merek ternama yang banyaknya ngalah-ngalahin di bukunya Ik...ya si mbak itulah. Njuk ngopoo? Baiklah, mungkin misinya adalah ingin mengungkapkan bahwa barang mewah apalah artinya tanpa cinta, karena hidup tanpa cintaaa bagai taman tak berbungaaa (lagu itu lagi). Tapi... tapi... duh gimana ya. Saya jadi bingung sendiri *pegangan*
Mas penulis Fradhyt ini semacam menumpah ruahkan yang ada di kepalanya (again, hello, masih berfungsikah editor di sini?). Jalan cerita yang mengawang-ngawang memang masalah, tapi buat saya sih paling terganggu sama begitu banyaknya tokoh selintas yang sebenernya buat apa sih dikeluarin? Nyaris tidak ada jeda di waktu antara bertemu dengan satu cacar (calon pacar) ke cacar lainnya. Si A baru ketemu B terus B hilang trus ketemu C. Atau si X lagi mikirin Y, tiba-tiba di hadapannya ada Z eh jadi menghayal soal Z, telenji pula *mumet*.
Saya kagum banget sama tokoh-tokoh di sini, semuanya lulusan luar negeri kayaknya. Emang yaaa rakyat jelata emang nggak boleh main sama Yang Mulia, yaaa? Udah gitu, muka tokoh-tokohnya, bahkan yang Cuma numpang lewat kayak artis semua. Waah surga dunia kali yaa. Mulai dari Eric Benet, Beyonce, Takeshi Kaneshiro, Lorenzo Lamas, Cut Tari, mungkin waktu itu Kokoreaan belum booming ya, kalau udah, pasti ada yang mirip Lee Min Ho atau Jang Geun Suk.
Anyway, menurut saya, kalau memang cuma sekadar pengin menceritakan kehidupan mewah, nggak perlu lah ada lima tokoh utama. Lalu masing-masing tokoh punya dua bab khusus membahas dirinya. Satu bab untuk perkenalan dan masa lalu, satu bab soal perjalanan cintanya. Cerita nggak jelas mah ya sudahlah. Tapi cerita nggak jelas yang panjang banget udah bikin saya pengen nangis di bab-bab terakhir. Maaak ini kapan kelaar? Udahlah cepetan happy ending doong. Eh saya nggak mau ceritain endingnya, kalau mau tau liat aja reviewnya Mas Ijul :p Nggak mau tau? Yah pokoknya kayak lagunya Ikke Nurjanah deh. Hatiku senantiasaa selalu tercekaaam bagaikan disambar petir seepanjang maaalaaam. JEDERRRR.
Trus maksudmu piye, Paaat?
Yo Mboooh aku yo binguuung.
Aku yo bingung ono opo tho karo lanang wulunan. Kok yo seneng banget nulis lanang wulunan. Tak kiro mung dodone. Lha kok driji wulunan ae kok dicritaknoo ndeesss. Njuk saiki goro-goro bukune ono loro aku yo mesti moco sijine. Gustiii, sek aku tak selo sek seminggu po luwih lah. Iso edan aku maaak.
Eh trakhir, ada dicritakan kalau salah satu gaji mereka Cuma Rp 80 juta. Nggak, saya bukan mau cocokin nominal segitu dengan pekerjaan mereka. Tapi emang 80 juta cukup ya buat punya kehidupan gitu? Apalagi katanya si yang gajinya 80 juta ini nggak minta sama orang tuanya yang super tajir. Tapi ya sudahlah, nggak usah dipikirkan. Mana kusanggup memikirkan 80 juta kalo dibeliin permen sugus dapet berapa kantong?
Buku tentang 5 sahabat dair kaum socialite; Debby, Kiyara, Vennita, Cantika, dan Brando yang bertualang mencari cinta [halaaaahhhhh...] Well, at least itu yang berhasil gw tangkep dari cerita ini setelah 'mengais2' diantara tumpukan istilah2 dan merk2 mahal sebangsa LV, Miu2 etc [sori bowwww eike ga main sm yang beginiannn]. Di lembar2 pertama gw stengah mati mencerna cerita ini, sampe tiap kata harus gw baca berulang2...sebetulnya penggunaan bahasany cukup ringan, cuma ya gitu, gara2 gw kurang familiar dengan pembahsan mereka yang sangat gemerlap dan mahal itu [booooo moso ya sekali mamam ajah bisa abis 8 jeti dengan tenang tanpa complain...!!!! kasian otak nechan yang lemot ini harus mencerna logika seberat itu...] Tapi setelah gw BENAR2 memilah tulisan di buku --yang emnurut gw tebel gara2 seabrek daftar merk itu-- buku ini menceritakan kseuitan dan dilema 5 orang, dari sudut pandang masing2, dimana kelima-nya berada diambang usia2 rawan: 30-umthin [Rawan pernikahan, rawan kanker, rawan depresi, rawan karier, dan rawan.....gitu dehhhh =P]. Di usia penuh rawan itu, tambah lagi dengan status socialite dan sukses tajir, mereka benar2 kesulitan mencari pasangan hidup, sekali ketemu belum tentu beres, hingga suatu kali mereka membuat sebuah 'penelitian' yaitu dengan mengganti suasana bergaul mereka, mencari tempat baru, hingga 'teman' baru selama beberapa bulan.....dan akhirnya pencarian pasangan hidup pun dimulai.....sukses? pasti sukses...cuma tetep masih ada satu masalah yang menghadang bagi mereka.....
beberapa komen2 di dialognya cukup sarkas dan kocak bgt [tipikal dalog yang gw suka] walaupun sering nyerempet2 wilayah....'selangkangan' [vulgar abeeessss] Cuma satu yaa...gw heran, kenapa semuanya dibuat cantik2 dan ganteng2 betebaran dimana2 udah kayak kacang goreng...apa gara2 mereka golongan elite? jadi seolah semuanya tampak terbuat dari emas? apa di dunia socialite-real-life seperti itu? terus yah, yang pasti, gw sempet mual pas masuk ke ceritanya Brando -which is Gay- tentang pengalaman 'liar'nya dengan seorang letnan di Thailand *merinding.....* sorry for those gay[s] who read this review, no offense tp gw sangat2 tidak terbiasa harus membayangkan adegan cowok dan cowok.....mana ceritanya detail pulllllaaaa.....
oia satu lagi, mengenai endingnya...cuma ada satu komen yang terlintas di kepala gw setelah membacanya: "apa seeeeeeehhhhh....?"
buku yang cukup fenomenal ttg kehidupan kelas atas jet set/sosialista indoensia...banyak yang shock dan kaget akan kehidupan kelas atas yang sarat hedonist ini, bahkan kontent buku ini ada yang mencaci maki [mungkin iri?:] akan feminisme, narsisme, dan matrialistis! [ untuk hal ini dari pembaca ekonomi kelas pas-pasan:] harusnya membaca buku ini dengan tenang tanpa terprovokasi atas lubernya barang-barang dan tempat-tempat mahal yang dikemukakan penulis fradhyt fahrenheit secara gamblang dan detail, bahkan lengkap dengan harganya yang mencengangkan! itu dia yang membuat para pembaca kelas bawah yang merasa tidak nyaman...perlu kedewasaan dalam melihat sisi realistik kehidupan kelas atas yang galmor namun penuh dengan kepalsuan! banyak dapat pujian dari berbagai media kelas atas! salut!
Masuk Daftar Buku Asia Pilihan di Perpustakan Nasional AUSTRALIA!
2nd winner and the best selling indonesian lifestyle novel of the year 2007 & 2008 : BEAUTY FOR SALE and BEAUTY FOR KILLING....
kompas/com '08 :
PENULIS BARU YANG MEMBAWA ANGIN BARU LIFESTYLE FIKSI MODERN INDONESIA : FRADHYT FAHRENHEIT
"Fiksi topikal atau novel ‘situasi’ yang ditulis Fradhyt Fahrenheit dengan niat untuk ikut bicara dalam persoalan sosial yang sedang hangat dalam setting internasional. Khususnya kaum young urban yang sekarang penuh kompetisi dan intrik dalam pekerjaan maupun urusan mencari jodoh! Beberapa tokoh yang sangat kontras pada sequel2 novel BEAUTY FOR SALE dan BEAUTY FOR KILLING, memiliki area realistik, sedikit demi sedikit pembaca akan tahu bahwa mereka semua terlibat dalam suatu kompetisi kehidupan, penuh pertentangan, yang dideskripsikan melalui persahabatan, kehidupan di tempat kerja, kilas balik masa lalu yang getir dan menyakitkan, konflik penculikan penuh amarah, namun tetap dalam fokus cerita tanpa menganggu suspense, tak banyak pretensi. Sebuah kisah pencarian cinta dan pelarian pada kebencian akan hidup hingga ke pelosok Barcelona, Milan, Paris, Sydney, New Zealand, Bangkok, Singapura, hingga New York!
----------------------------------------
CLEO MAGAZINE '08
Novelnya adalah sebuah potret bersahaja tentang persahabatan yang sibuk di kota besar yang terjebak rutinitas dan terasa makin membosankan karena tak kunjung mendapatkan pasangan hidup. Sebuah deskripsi dengan perbandingan yang plastis dan orisinal, tak mengada-ada. Penuh berbagai konflik dan masalah yang sangat akrab dengan latar cerita para eksekutif muda saat ini. Kadang mengharukan kadang ada sesuatu yang kocak karena obsesi beberapa tokoh yang tak masuk akal. Ada suspense dan pula gairah yang terbentuk oleh ketegangan antara cinta biasa, cinta platonis hingga cinta kelamin sejenis!
----------------------------------------
MEN'S HEALTH MAGAZINE '08
Impilkasinya menampakkan kemampuan verbal penulis, pada novel BEAUTY FOR KILLING ini tidak terlalu mendeskripsikan tapi membangkitkan elemen-elemen suasana dengan intensitas yang tinggi. Kisah ini tidak statis karena digerakkan oleh dialog bahasa gaul, namun tetap penuh imajiner oleh keseimbangan ekspresi perasaan yang ketat, kuat, dan memukau dalam setiap penokohan para socialista yang memiliki mood berubah-ubah namun kisahnya sangat padu dan menggugah seperti sirkuit. Dan memorable!"
----------------------------------------
ESQUIRE MAGAZINE '08 :
"Pada sequel novel Fradhyt Fahrenheit memiliki sisipan suspense sejak saat pembaca dibawa mengikuti perjalanan penculikkan gadis seorang konglomerat yang dibelum diketahui ke mana dan harus berbuat apa, dan akhir tragedi penculikan sahabat mereka yang benar-benar tak terduga. Komposisi jalan cerita Beauty For Killing ini sengaja dibangun melalui ‘juxtaposition’ dan montase tapi efeknya tidak menyebabkan jadi cerita horor pembunuhan."
----------------------------------------
COSMOPOLITAN MAGAZINE ’08 :
"Gemerlap kehidupan para single kaum jet set Jakarta dan Singapura yang penuh kilauan berlian, bergelimangan barang-barang branded desainer kelas dunia, club super hip diantara kemewahan aroma wine vintage dan symbolic beraura selebritas dunia, digambarkan dalam bahasa ringan, penuh nyata, dan inspiring oleh Fradhyt Fahrenheit, penulis bestseller novel Beauty For Sale!"
----------------------------------------
EVE MAGAZINE '08 :
Beauty For Sale dan Beauty For Killing karya fenomenal fiksi para urban jakarta dengan penggalan-penggalan kehidupan para lajang kosmopolitan Jakarta dalam bentuk novel metropop dengan bahasa yang santai dan gaul, akan membawa pengalaman emosional mengesankan bagi para pembaca dan juga memberikan wawasan luas tentang kehidupan kelas atas serta informasi kesehatan saat masa kritis di umur 30an yang rawan kanker! Rawan depresi! Rawan karir ! Dan rawan seksualitas…!"
"Banyak konflik yang menghadang hingga ending yang cukup mengejutkan.Sejak halaman awal, pengarang buku ini tak lupa melengkapi ceritanya dengan bumbu-bumbu kehidupan glamor dan jetset. Mulai dari merek pakaian mahal yang dikenakan, parfum, sampai total jumlah belanjaan mereka
Membaca novel ini memang serasa melihat lihat katalog merk merk kelas atas , kamus bahasa Debby Sahertian dan majalah selebritis dunia yang digabung menjadi satu, dengan gaya chic literature yang enak. Kehidupan manusia pemuja fashion dan dunia kosmopolitan ini sebenarnya masih menjadi issue yang menarik dalam novel ini, kalau saja Adit tidak terjebak terus menerus dalam rujukan rujukan merk dan nama nama selebritis dalam mendeskripsikan karakter tokoh. Karena membuat novel ini menjadi sangat ‘ market segmented ‘ dan hanya bisa dimengerti oleh kalangan tertentu. Namun bagaimanapun juga Adit berhasil dalam menuturkan vignyet vignyet kehidupan sambil memberikan mimpi mimpi mengenai kota besar, yang mungkin masih menjadi aspirasi manusia Indonesia."
Iman Brotoseno(AddictionMagz)" ____________________________________________________________________
Novel karya Fradhyt Fahrenheit ini unik dan menarik. Enak dibaca, mengalir, dan menghibur. Membaca novel kosmopolit ini serasa berada di dunia antah-berantah yang mengagungkan hedonisme dan materialisme. "(s.azhar@indosat.net.id)
Dari segi isi, walau bahasa dan pendekatan yang digunakan cenderung santai dan dengan istilah-istilah bahasa gaul dan fashion, isi yang saya ingin sampaikan tidak hanya bicara sesuatu yang galmour dan hura-hura saja, tapi juga meliputi masalah sosial dengan tujuan untuk membuka mata dan hati para pembaca," tambah Fradhyt. Izabel Jahja yang mewakili kaum fashionista Jakarta memberikan komentar seputar novel metropop yang akan hadir dalam tiga sequel ini `,`Buku ini menarik untuk dibaca, dengan gaya bahasa yang ringan dan santai sehingga mudah dicerna terutama bagi mereka yang mencari hiburan dalam bentuk buku.
Secara materi, walau bahasa dan pendekatan yang digunakan cenderung santai dengan istilah-istilah bahasa gaul dan fashion. Sepertinya, penulis ingin menyampaikan seputar kehidupan kaum urban itu tidak hanya bicara yang galmour dan hura-hura saja, tapi juga meliputi masalah sosial dengan tujuan untuk membuka mata dan hati para pembaca.
Model cantik, Izabel Jahja yang hadir dalam peluncuran novel itu mengatakan bahwa Beauty For Sale memang menarik untuk dibaca, dengan gaya bahasa yang ringan dan santai sehingga mudah dicerna terutama bagi mereka yang mencari hiburan dalam bentuk buku. “Novel ini juga memberikan banyak referensi tempat-tempat yang dapat dikunjungi di beberapa negara,” katanya.
Penulis Fradhyt Fahrenheit Adhyatmand menulis dengan bahasa gaul khas anak muda Jakarta. Fradhyt mengaku melakukan berbagai wawancara hingga menyamar untuk mencari bahan tulisan. Pengalaman pribadi dan teman-teman merupakan sumber inspirasi utama novel ini. Boleh dibilang 70% pengalaman nyata dan 30% rekaan. Setelah Beauty for Sale, rencananya penulis akan membuat sekuelnya Beuty for Killing.
Dalam alur cerita, BFS bertutur tentang kehidupan persahabatan 4 fashionista dan seorang metroseksual dalam mencari pasangan hidup. Merupakan gamabaran masyarakat perkotaan modern, eksekutif muda yang gila kerja dan juga gila bekerja, gila pesta, dan gila clubbing. Dalam segala hal yang mereka miliki, uang dan kesuksesan maupun semboyan work hard, play hard, mereka masih mengharapkan sesuatu hal yang diinginkan orang kebanyakan….jodoh! Fradhyt juga mengatakan bahwa buku ini akan dibuat dalam 3 sequel dengan teknik penulisan yang lebih dalam, dari kehidupan nyata. Bahkan cerita di buku ini akan segera dilayar lebarkan.
Membaca novel ini membuat saya teringat pada empat sekawan Sex And The City dengan versi yang sedikit beda. Kasus-kasus cinta yang dihadirkan pun dekat dengan keseharian para high quality jomblo pada umumnya yang takut komitmen. Meskipun termasuk bacaan ringan yang menghibur, namun tak bisa dipungkiri kalau novel ini adalah bacaan segmented, dan Anda akan lebih bisa menikmatinya jika Anda adalah pengikut setia lifestyle dan entertainment terdepan.
I learned so many things.. from this books... I'm not a Fashionista or a Trendsetter Followers... but from this book I can add my knowledge from... Gayish Life, Diasease that often women got after 30es....
So many.. beautiful places that author mentioned that's make me want to travel into that country...
Ceritanya cukup menarik. Meski kelihatannya 'ketinggian' banget ya gaya hidup para tokoh di dalemnya (jika ngeliat kenyataan, masih byk masyarakat miskin di indonesia). Tapi gue pikir2, ini bisa saja terjadi. Saat ini udh mulai banyak kok kelompok high socialite seperti ini di Indonesia.
Overall, I found the writing excellent and witty, but the format rather disjointing. It's a fun read with colorful characters. There is no depth to them, but shallow seems to be the key theme in FRadhyt’s examination of the Asian [Jakarta and Singapore:] single scene. If you are looking for love in the Big City, you may find this book either a) full of helpful hints or b) so depressing you want to run home to. I enjoyed it!
COSMOPOLITAN MAGAZINE mei'08 :
"Gemerlap kehidupan para single kaum jet set Jakarta dan Singapura yang penuh kilauan berlian, bergelimangan barang-barang branded desainer kelas dunia, club super hip diantara kemewahan aroma wine vintage dan symbolic beraura selebritas dunia, digambarkan dalam bahasa ringan, penuh nyata, dan inspiring oleh Fradhyt Fahrenheit, penulis bestseller novel Beauty For Sale!"
----------------------------------------
EVE MAGAZINE juni'08 :
Beauty For Sale dan Beauty For Killing karya fenomenal fiksi para urban jakarta dengan penggalan-penggalan kehidupan para lajang kosmopolitan Jakarta dalam bentuk novel metropop dengan bahasa yang santai dan gaul, akan membawa pengalaman emosional mengesankan bagi para pembaca dan juga memberikan wawasan luas tentang kehidupan kelas atas serta informasi kesehatan saat masa kritis di umur 30an yang rawan kanker! Rawan depresi! Rawan karir ! Dan rawan seksualitas…!"
Gue dapet buku ini dari teman. Setelah gue baca gue ngerti kenapa dia ga mau keep di koleksi buku dia, demikian halnya juga dengan gue... setelah membacanya.
Buku ini jadi semacam ajang pamer bagi pengarangnya yg ingin menunjukan dirinya itu 'super-duper-fabulous'. Dari awal sampai akhir, ga habis2nya si pengarang memamerkan pengetahuannya akan barang-barang bermerk dan mahal. Okeeeyyyyy... We got it!!! You mention it once more, just kill us please!
Ceritanya sendiri sih sebenarnya dangkal dan terlalu mempermudah dengan ending yg amat sangat dipaksakan. Seolah menghina nalar kita.
Pokoknya ga banget deh!
Kesimpulan: cari buku lain deh buat dibaca, ngabisin waktu aja sekalipun itu cuma pinjaman.
Membaca novel ini memang serasa melihat lihat katalog merk merk kelas atas , kamus bahasa Debby Sahertian dan majalah selebritis dunia yang digabung menjadi satu, dengan gaya chic literature yang enak. Kehidupan manusia pemuja fashion dan dunia kosmopolitan ini sebenarnya masih menjadi issue yang menarik dalam novel ini, kalau saja Adit tidak terjebak terus menerus dalam rujukan rujukan merk dan nama nama selebritis dalam mendeskripsikan karakter tokoh. Karena membuat novel ini menjadi sangat ‘ market segmented ‘ dan hanya bisa dimengerti oleh kalangan tertentu. Namun bagaimanapun juga Adit berhasil dalam menuturkan vignyet vignyet kehidupan sambil memberikan mimpi mimpi mengenai kota besar, yang mungkin masih menjadi aspirasi manusia Indonesia
hanya memaparkan, tanpa garis bawah. pembaca umum (yg bukan dari kalangan jet set) hanya membaca, tp gagal memetik apapun yg bermanfaat. wajar kalo banyak dikritik, karna sebagian besar pembaca seperti hanya dipamer2in. dan wajar to? karna 90% masyarakat kita nggak hidup dg cara seroyal itu. 9 juta untuk gantungan kunci?? dan duitku hari ini hanya 40 ribu... ugh! sebenernye tema apapun bebas ditawarkan pengarang (mau bling bling kek, ato dunia orang miskin bawah jembatan kek). so, daku tantang fradhyt untuk membuat novel yg berada di luar comfort zone-nya. ttg bulutangkis, ttg dunia karyawan PNS, tentang remaja abege di pedesaan Mojokerto, apapun... karna kita pengarang hidup dg imajinasi, bukan hanya keseharian dunia kita masing2...
A DEPRESSING one, a REALISTIC one, but not a lesser one, and one that also sucks away the soul of the story. It was interesting to me that it so fits the idea of Hard women, of what women are supposedly becoming; it questions the meaning/loss of love for a generation more in search of Romance than any other in a long time, while still cynical of ever finding it. These questions are what makes this a good book and worth that extra star.
gw pikir cuma bacaan ringan anak-anak gaul jakarta, ternyata setelah dapet anugrah buku pilihan di perpustakaan australia, setelah gw lihat bercokol selama dua tahun bercokol di counter bestseller gramedia jakarta akhirnya gw jadi penasaran baca....ternyata asyik juga, nambah wawasan ttg kelas strata sosial atas/jet set di indonesia yang gak kalah hedonist sama sosialista hongkong maupun new york, perlu kedewasaan untuk membacanya, bikin ngiri dengan berbagai barang branded internasional yang super mahal! salut dan bangga punya penulis sekelas sex and the city ala jakarta!
-----'ending'nya mengejutkan, sayang aku terlampau terpaku pada typo dan segala macam atribut kemewahan yang begitu mengganggu sehingga terlupa merunut kelogisan cerita dan hubungan kausalitas di antara satu peristiwa dengan peristiwa yang lainnya....
Oke...satu bintang kupersembahkan untuk ending-nya dan tak ada tambahan bintang lain karena setelah dipikir-pikir kayaknya aku nggak nemu inti masalah yang diusung novel ini, dari awal hanya bercerita soal segala rupa hedonisme (is it real? I mean, VERY REAL?) lalu berlanjut pada traveling dari kelima sahabat dalam rangka menemukan tambatan hati untuk menghilangkan ketakutan mengalami nasib tragis seperti yang dialami salah satu sahabat mereka yang terenggut nyawanya dalam kesendirian yang sepi (yang ini pun nggak ada isinya, sekadar potret hura-hura), hingga cerita digeret pada akhir yang...mengejutkan (meski sekali lagi aku terlupa kesahihannya)
Oke....next antrean mungkin akan menemukan kejutan tersendiri (mencaci atau memuji, up to you guys...)
cover dan judul buku ini membuat gue berharap banyak dengan isinya. Tapi, begitu buka halaman pertama, sempat menyeringai karena hurufnya yang besar2. Makin besar, pasti makin gak ada isinya. Dan emang iya...
I don’t even know where to start. This book is so badly written (whatever happens to the people we know as editors?) it’s not worth your time, money, and sanity. The book is saturated with shallow characters which the authors vainly try to make looking so hip, trendy, cool, whatever. And oh yeah, rich, sickly rich, don’t forget that. The author should be thankful there isn’t any law punishing people for writing such horrible books.
Sickenning and shallow, mohon maaf beribu maaf jika ada yang ga setuju, membaca buku ini layaknya membaca katalog barang2 highclass berikut juga dengan deskripsi dan tahun pembuatannya. Ceritanya tidak se-oke yang saya bayangin, anti-klimaks. Perlu ya mencantumkan merk air mineral apa yang harus diminum kalangan high society? atau membeli gantungan kunci prada seharga 9 juta?
Isi buku ini tentang kekayaan, kehidupan glamour,barang-barang mewah, barang-barang bermerk dengan harga-harga wah dengan wanita-wanita cantik, pria-pria keren nan sukses namun tidak bahagia dengan semua itu tadi.
Yang mau disampaikan penulis dibuku ini adalah...mmmmmm.....mmmmm....mmmm... ya itu tadi...ya gitu deh...
Udah, udah cukup ahaha Halaman 15 udah gak kuat bacanya. Udah dikasih tahu dari review pembaca, tetap aja ngeyel pengen baca karena penasaran seburuk apa sih?
Susah banget ngerti ceritanya, kebanyakan dialog, berantakan juga tata letak kalimatnya. Tahu sih buku ini punya maksud untuk kalangan atas tapi baiknya ada narasi dan pemisahan antar kalimat dong !
Paperback, 398 pages Published January 2007 by fOu Media Bahasa Indonesia Format: Paperback Penulis : Fradhyt Fahrenheit Reading level : dewasa Rating : 2 bintang
Sinopsis Apa yang sesungguhnya menjadi pencaharian jiwa bagi manusia manusia modern saat ini ? karier, kekayaan, wajah cantik dan ganteng, gemerlap pergaulan kelas atas atau bisa keliling dunia ?. Jawabannya bukan semua itu, ternyata ada sisi terdalam dari manusia manusia sibuk untuk mencari dan menemukan pasangan jiwanya..”
Sepertinya itu yang coba disampaikan oleh Fradhyt Fahrenheit atau Adit dalam bukunya, “ Beauty for Sale “, Ini cerita tentang lima orang sahabat, sosok sosok yang cantik dan ganteng ini berasal dari keluarga kaya raya , mereka juga sukses dalam karier pekerjaannya. Semuanya memiliki hobby yang sama belanja barang barang branded, jalan jalan keliling dunia, larut dalam sosialisasi kehidupan glamour kelas atas dan yang paling utama semua tokoh memiliki kenangan pengalaman percintaan yang pahit dan kekosongan jiwa, alias jomblo. Debby , yang bekerja sebagai Marketing Director perusahaan beverage. Kiyara, seorang produser film iklan sekaligus menjadi fashion stylist di berbagai majalah Jakarta dan Singapore. Kemudian, Venitta,cenderung lesbian, anak seorang keluarga konglomerat terpandang yang bekerja sebagai Creative group head di sebuah advertising agency. Cantika, berasal dari keluarga Jawa berdarah biru juga seorang creative director di perusahaan advertising milik Jepang. Terakhir Brando, satu satunya pria yang memiliki kelainan orientasi seksual, sebagai gay, bekerja di sebuah bank swasta terbesar di Indonesia.
Dikisahkan mereka semua sepakat untuk tidak bertemu beberapa bulan untuk mencari pasangan jiwa masing masing. Setelah melewati berapa pengalaman hidup, pada hari yang ditentukan mereka bertemu. Namun apa yang terjadi ? ternyata kekasih yang dibawa Kiyara pada pertemuan itu adalah orang yang sama yang juga menjadi kekasih Debby, Venitta, Cantika dan Brando.
Membaca novel ini memang serasa melihat lihat katalog merk merk kelas atas , kamus bahasa Debby Sahertian dan majalah selebritis dunia yang digabung menjadi satu, dengan gaya chic literature yang enak. Kehidupan manusia pemuja fashion dan dunia kosmopolitan ini sebenarnya masih menjadi issue yang menarik dalam novel ini, kalau saja Adit tidak terjebak terus menerus dalam rujukan rujukan merk dan nama nama selebritis dalam mendeskripsikan karakter tokoh. Karena membuat novel ini menjadi sangat ‘ market segmented ‘ dan hanya bisa dimengerti oleh kalangan tertentu. Namun bagaimanapun juga Adit berhasil dalam menuturkan vignyet vignyet kehidupan sambil memberikan mimpi mimpi mengenai kota besar, yang mungkin masih menjadi aspirasi manusia Indonesia.(Goodreads)
Review Tampilan fisik Dari sampulnya saja sudah terbayang apa yang Akan disampaikan penulisnya. Covernya hot memungkinkan pembaca yang nakal mengasumsikan yang tidak tidak. Selain itu font yang digunakan cukup besar sehingga mata ga mudah lelah.Namanya juga mata tua. Hehehe!
Isi cerita Inti ceritanya sih mengenai 4 Sahabat cewek dan 1 cowok yang haus Akan Cinta Dan kasih sayang. Semuanya ga Ada yang miskin, super kaya, mendengar apa yang mereka obrolkan bisa bikin kepala pusing. Memang novel ini menggambarkan kehidupan hedonisme sosialita yang super tajir dengan enteng beli gantungan kunci seharga 9 juta.
Gaya bahasa Selain itu dengan membaca novel ini dapat kosa kata bahasa gaul contohnya : malaysia ==> malas maharani ==> mahal mursidah ==> murah nepsong samse pere ==> napsu sama cewe binul sakit ==> bule gay les biola ==> lesbian takeshi ==> takut jojoba ==> jomblo-jomblo bahagia belenji di sindang ==> belanja di sini
Kenyamanan membaca bener deh baca buku ini geli geli sebel. Pusing liat pameran barang mahal dalam novel ini. Dan akhir ceritanya ndak banget bikin saya ga puas.
Pesan moral Untung dalam buku ini masih Ada Pesan moral yang disampaikan yaitu kebahagian tidak dapat dinilai dengan materi Dan ada sisi terdalam dari manusia manusia sibuk untuk mencari dan menemukan pasangan jiwanya
Penilaian saya karena lagi baik hati ehm.. 2 Bintang untuk sampul dan pesan moral
Kok ya nggak kapok -_____- #tendangbokongsendiri Berhenti di bab 3 karena puyeng dan mataku hampir copot karena kebanyakan muter. Lompat ke bagian ending (mulaaaaai kebiasaan jeleknya) No star, because half-a-star isn't available.
Intinya setuju sama kata Aki dan Kakpat dan bang Ijul. Udah gitu aja deh, gak mau bahas. Agak nggak ngerti sama plot dan cerita buku ini, aku ngerasa cuma kayak baca katalog barang mahal. Kalau mau baca katalog, aku baca aja katalog Harrods :|
Aku jarang dan sulit terkesan sama 'penghargaan' yang diterima sama seorang penulis (kecuali jika emang udah terbukti). Title NYT Bestseller di ***zon juga kadang aku abaikan. Mungkin yang dipuji dan dipuja itu penulisnya, bukan bukunya.
Somebody please give me a great recommendation for Indonesian novels *nangis darah*
Ini gara-gara temen-temen Jabo nih jadi mulai iseng nyariin buku-buku kacrut. Habis ini cari buku apa lagi ya? XD #dikeplak
cerita tentang gaya hidup 5 orang fashionista, debby, kiyara, venita, cantika, dan brando. bercerita tentang perjalanan mereka mencari jodoh setelah sadar kalo mereka gak mau di akhir hidupnya merasa kesepian. sapet sih akhirnya, tapi... di buku ini, banyak banget bertebaran barang2 yg high clas banget. semua digambarin detail di sini. apa yg dipake oleh setiap tokoh. hhmm...jadi tau produk2 mahal. lumayan buat pengetahuan tambahan. tapi gak minat deh kalo beli. bikin miskin seumur idup. kecuali dikasih. gw terima deh...
Ketika membaca sinopsis buku ini saya tertarik karena ehm...kurang lebih mirip dengan kehidupan saya sekarang versi skala menengahnya *secara kehidupan orang2 buku ini sangat jet set*
5 orang wanita cantik, modis, dengan karir yang gemilang, tapi sulit mencari pasangan hidup..hehe..
Sampai pertengahan, beneran buku ini bagus. Tapi endingnya ampuuun..100% bikin saya kecewa, dan saya yakin sebagian pembaca juga berpendapat demikian. Bener2 antiklimaks.
Saya tidak akan jadi spoiler disini, tapi saya menyarankan kalau penasaran pinjam saja sama yang sudah punya;)
Hmm,, agak menyesal beli buku ini. ceritanya kaya bukan satu narasi cerita, ini kaya cuma berpenggal-penggal paragraf pengalaman orang yang dijadiin satu cerita. dan kesannya niru banget sama novel luar, masalahnya di sini ga da inti ceritanya cuma belanja2 barang selangit dan ga cocok sama kalangan indo. aduuhhh * uda gt, endingnya ternyata mereka suka sama cowok yg sama which is didnt make sense at all!